Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Minggu, 26 Februari 2012

Monumen Peringatan Wiji Thukul

Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul) (akan diunggah setiap hari mulai tanggal 24.2.2012 di blog Monumen Peringatan Wiji Thukul ). Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!







NARASI WIJI THUKUL
tujuan kita satu ibu : pembebasan

disini
kubaca kembali
: sejarah belum berubah!

tanah air digadaikan
masa depan rakyat di gelapkan
(dan)
derita sudah naik ke leher
kau
menindas
sampai di luar batas
(dan)
derita sudah matang
bahkan busuk
tetap ditelan?

maka hanya ada satu kata : lawan!

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu : pembebasan

satu mimpi, satu barisan
(maka)
jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau akan hancur!

(petikan2 puisi Wiji Thukul : kuburan purwoloyo, bunga dan tembok, peringatan, tujuan kita satu ibu, derita sudah naik seleher, busuk dan momok hiyong)





Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat di Indonesianesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendapat penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)

sila kunjung AKU INGIN JADI PELURU


Bookmark and Share

Kamis, 16 Februari 2012

e-book Sukarno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

RAKYAT MARHAEN. Bung Karno bersama Fatmawati Soekarno tengah mengunjungi rakyat, marhaen, di sebuah desa. “Kita tidak menghendaki satu masyarakat Indonesia yang beberapa orang Indonesia hidup mewah, tetapi sebagian orang terbesar daripada rakyat hidup papa-sengsara sebagai orang yang tertindas, sebagai orang yang menjadi korban daripada exploitation de l’homme par l’homme (eksploitasi manusia atas manusia). Kita tidak menghendaki hal itu, oleh karena itu maka kita hendak merobah sama sekali konstelasi yang sejati, masyarakat adil dan makmur yang sejati.”



sumber teks dan foto www.facebook.com/pemimpin.besar.revolusi


sila unduh
e-book Sukarno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
e-book Sukarno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
e-book Sukarno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
e-book Sukarno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia


Bookmark and Share

unduh e-book @aksi warga : pemetaaan aktivisme sipil kontemporer dan penggunan media sosial di indonesia

Buku ini menelaah secara empiris bagaimana organisasi dan kelompok masyarakat sipil di Indonesia terlibat dalam aktivisme sipil (civic activism) melalui penggunaan Internet dan media sosial; dan dampak keterlibatan mereka terhadap penguatan masyarakat sipil di Indonesia.

sila unduh di link ini
e-book @aksi warga : kolaborasi, demokrasi partisipatoris dan kebebasan informasi - memetakan aktivisme sipil kontemporer dan penggunan media sosial di Indonesia



Nugroho, Yanuar. 2011. @ksi Warga: Kolaborasi, demokrasi partisipatoris dan kebebasan informasi – Memetakan aktivisme sipil kontemporer dan penggunaan media sosial di Indonesia. Laporan. Kolaborasi penelitian antara Manchester Institute of Innovation Research, University of Manchester dan HIVOS Regional Office Southeast Asia. Manchester dan Jakarta: MIOIR dan HIVOS.


Bookmark and Share

Unduh E-Book Setahun Koin Keadilan (Koin Prita)

Buku ini menceritakan tentang dinamika dan suka-duka saat gagasan awal gerakan pengumpulan “koin prita” hingga akhirnya mendapatkan sorotan dan partisipasi yang sangat luas dari masyarakat Indonesia. License: Creative Commons. By: obrolanlangsat.com

sila unduh
e-book Setahun Koin Keadilan (Koin Prita)


Bookmark and Share

Selasa, 14 Februari 2012

lingkar doa, aksi dan pembebasan

nyalakan lentera di gelap negerimu - lingkar doa, aksi dan pembebasan (1)



nyalakan lentera di gelap negerimu - lingkar doa, aksi dan pembebasan (2)




karya : andreas iswinarto

Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)


Bookmark and Share

Kamis, 09 Februari 2012

Cap Go Meh, Barongsai dan Purnama

Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam. Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.


Cap Go Meh, Barongsai dan Purnama (1)

Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam. Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.



Cap Go Meh, Barongsai dan Purnama (2)

Bookmark and Share

Orang-Orang Miskin [WS.Rendra - Potret Pembangunan dalam Puisi ]

[Angin membawa bau baju mereka.Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah jalan raya.]







Orang-Orang Miskin

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

WS,Rendra

Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi







Bookmark and Share

Politik dan Perang Kelas di Jalan Raya

Jalan Raya adalah Benteng Status Quo (Kemapanan) dan Jalan Ekspansi (Perluasan) Penghisapan VS Jalan Raya sebagai Jalan Perubahan (Revolusi)

(terinspirasi dari unjuk kekuatan kaum buruh di tol cikampek beberapa waktu lalu dan ancaman pangdam jaya kepada gerakan buruh : "Saya persilakan anggota TNI untuk pukul. Saya juga wakafkan jasad saya di Kodam ini" http://www.detiknews.com/read/2012/02/01/105438/1831132/10/?992204topnews)






"Pernyataan Waris itu telah menempatkan buruh dan rakyat sebagai musuh. Terhadap musuh, kemungkinannya hanya dua, membunuh atau dibunuh. Namun karena tentara punya senjata, maka sudah pasti yang terbunuh adalah rakyat. Bukankah konstitusi menyebutkan tugas TNI adalah mempertahankan, memelihara, dan melindungi keutuhan dan kedaulatan negara? Kenapa justru buruh yang mereka jadikan musuh?" kata praktisi hukum Jhonson Panjaitan saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk "Penggunaan TNI untuk Menghadapi Demo: Pelanggaran UUD 45" yang diselenggarakan Rumah Perubahan 2.0, Jakarta (Selasa, 7/2). (Pangdam Jaya Sudah Jujur, Menempatkan Rakyat Sebagai Musuh! - http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=54128)







Bookmark and Share

Rabu, 01 Februari 2012

Seri Perlawanan Rakyat (1) : Seuntai Awan Kecil dari Hutan Lacondon Chiapas, Mexico

Sekilas mexico yang berlawan bersama Mural Sejarah Mexico karya Diego Rivera (1), karya-karya Rupa Diego Rivera (2) dan Frida Kahlo (3), EZLN – Himne Zapatista (4), Film Dokumentasi Emiliano Zapata (5), A Place Called Chiapas-EZLN (6), Manu Chao - EZLN... Para Todos Todo... Pesan EZLN ... Semuanya untuk Semua ... (7), musisi Rage against The Machine (Rage) - Zapata Blood (8), Kisah Seuntai Awan Kecil serta Riwayat Warna yang ditulis Subcomandante Marcos – EZLN Zapatista (9), AIKONISASI ZAPATISTA : Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas – Noer Fauzy Rahman (Mengenal lebih jauh Gerakan Zapatista dan sumbangan untuk gerakan sosial global.) (10).
Serial-serial perlawanan di berbagai Negara lain segera menyusul (termasuk Indonesia tentu)……..


karya diego rivera



sekilas mexico berlawan (1) - mural sejarah mexico oleh diego rivera




sekilas mexico berlawan (2) - karya-karya rupa diego rivera




sekilas mexico berlawan (3) : karya-karya rupa frida kahlo




sekilas mexico berlawan (4) : himne gerakan perlawanan zapatista




sekilas mexico berlawan (5) : emilio zapata pejuanga melawan kolonial sebagai sumber inspirasi gerakan perlawanan masyarakat adat zapatista




Sekilas mexico berlawan (6) A Place Called Chiapas-EZLN




Sekilas Mexico Berlawan (7) Manu Chao - EZLN... Para Todos Todo... Pesan EZLN ... Semuanya untuk Semua ...




sekilas mexico berlawan (8) : Zapata's Blood - Rage Against the Machine (RAM)


Battle of Mexico - Zapata's Blood

Zapata's blood
Wasn't spilt in vain
So now the most poor wage war
To reclaim their name
Zapata's blood Wasn't spilt in vain
So now the most poor wage war
To reclaim their terrain
On January 1st , 1994
The indigenous farmers of Southern Mexico
Declared war on an unjust
and illegitimate government
Out of the debt of the most wild, the most poor
Came a just arm struggle
for democracy, justice, and liberty
And it won't stop until that 65 year old dictatorship,
the Partido Revolucionario Institucional
(Institutional Revolutionary Party) is buried in the
ground
and the people's voice is heard once again
Yeah
So check it out:
On January 1st, of 94 they became known as
the Zapatista movement
And they have a saying, and I want you all to
sing along with me real quick.
It goes something like this
It goes everything for everyone...
and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Yeah, sing that shit...
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves...




sekilas mexico berlawan (9) : Kisah Seuntai Awan Kecil dan Riwayat Warna (ditulis Subcomandante Marcos - EZLN- Zapatista - 7 November 1997) dipetik dari kitab Kata Adalah Senjata, suntingan Ronny Agustinus (Resist Book 2005)

Kisah Seuntai Awan Kecil

lkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat keil dan
sangat kesepian dan bisa berkeliaran jauh-jauh dari
awan-awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai
seuntai. Dan manakala awan-awan besar menajdikan diri
mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan
kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya.
Tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.

"Kau tak punya apa-apa buat diberikan", awan-awan
besar biasa memberitahunya. "Alangkah kecilnya
dirimu".

Mereka mengoloknya menjadi-jadi. Lantas, dengan sangat
sedih si awan kecil mencoba menyingkir ketempat lain
untuk menjadikan dirinya hujan, tapi kemanapun dia
pergi, awan-awan besar mendesaknya minggir. Maka si
awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di
tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya
sampai tak satu pun dahan tumbuh, dan si awan
kecil berkata pada cerminnya (aku lupa memberitahumu
bahwa si awan kecil ini membawa-bawa cermin agar ia
bisa bicara dengan dirinya sendiri saat sedang
sendirian) :

"Ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan
karena tak seorang pun pernah datang kemari."

Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk
menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu
tetes kecil. Begitulah, si awan kacil lenyap dan
mengubah dirinya jadi setetes hujan kecil. Sedikit
demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan
kecil, jatuh meluncur. Dalam segenap kesepiannya, ia
jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang manantikannya di
bawah sana. Akhirnya, tetes hujan kecil itu menciprat
sendirian. Karena padang pasir itu begitu lengang, si
tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu
menciprat tepat di atas batu. Ia membangunkan bumi
yang bertanya:

"Ribut-ribut apa itu?"
"Tetes hujan jatuh," kata batu.
"Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas!
Bangun! Hujan akan turun!" ia mengingatkan tetumbuhan
yang sembunyi di bawah tanah dari terik mentari.

Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan
untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau,
dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari
kejauhan dan berkata:

"Lihat. Ada banyak hijau di sana. Ayo bikin hujan di
tempat itu. Kita tidak tahu disana bagitu hijau."

Maka pergilah mereka menjadikan dirinya hujan di
tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan
hujan dan hujan, dan tanaman pun tumbuh dan segala
sesuatu berubah hijau sekaligus.

"Mujur nian kita ada di sekitar sini," ucap awan-awan
besar. "Tanpa kita, tak bakal ada hijau."

Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai
awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang
cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.

Tak seorang pun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia
awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar
pertama itu pun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itu
pun mati. Dan batu, yang tak pernah mati, memberitahu
tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru
yang tiba kisah mengenai seuntai awan kecil yang
mengucurkan setetes hujan kecil.


RIWAYAT WARNA

Pak Tua Antonio menunjuk seekor kakatua yang terbang melintasi sore. ”Lihat,” katanya.Kulihat warna-warni menyala itu menentang latar kelabu badai yang
mengabarkan kedatangan dirinya. ”Mustahil rasanya begitu banyak warna datang dari cuma satu ekor burung,” kataku sambil menggapai puncak bukit. Pak Tua Antonio duduk di ceruk kecil yang bersih dari lumpur di jalur utama. Ia mengambil nafas sambil melinting rokok baru. Beberapa langkah ke depan, aku sadar ternyata ia masih tetap disitu. Aku kembali lalu duduk disampingnya. ”Menurutmu kita bakal sampai di kota
sebelum hujan?” tanyaku sambil menyalakan api. Pak Tua Antonio sepertinya tidak mendengar. Sekarang sekumpulan toucan menarik perhatiannya. Ditangannya, rokok menunggu nyala api melukis asap perlahan-lahan. Ia berdehem-dehem, menyalakan rokok dan duduk senyaman mungkin, lalu perlahan memulai.

”Kakatua tidak senantiasa seperti itu. Ia dulu hamper tak berwarna. Bulunya pendek-pendek, mirip ayam basah kuyup. Salah satu diantara begitu banyak burung yang
tak seorang pun tahu bagaimana mereka bisa sampai ke dunia, sebab para dewa pun tak tahu siapa yang mencipta mereka atau bagaimana mereka diciptakan. Ada begitu saja.

Para dewa membangunkan malam dan berkata kepada siang ”cukup disini dulu”, maka orang-orang lelaki dan perempuan pun pergi tidur dan bercinta – cara yang indah untuk membuatmu capek agar pulas terlelap. Dewa-dewa ini berkelahi, dewa-dewa ini
selalu berkelahi sebab mereka itu para petarung, bukan seperti dewa-dewa pertama itu, tujuh dewa yang melahirkan dunia, yang paling mula. Para dewa berkelahi sebab dunia begitu membosankan cuma dengan dua warna yang melukisinya. Dan kemarahan dewa itu ada benarnya sebab Cuma ada dua warna di dunia: yang satu hitam yang merajai malam dan satunya lagi putih yang menjalani siang, dan yang ketiga sama sekali tidak
bisa disebut warna, kelabu yang melukisi petang dan subuh agar hitam dan putih tidak anjlok terlalu keras. Namun selain gemar berkelahi, dewa-dewa ini juga penuh pengetahuan. Dalam suatu rapat, mereka memutuskan untuk membuat warna lebih panjang agar berjalan dan bercinta jadi lebih menyenangkan bagi orang-orang
lelaki dan perempuan itu. Salah satu dewa ini mulai berjalan untuk bisa
merenungkan pikirannya dalam-dalam dan ia berpikir begitu keras sampai tidak melihat kemana langkahnya. Ia tersandung batu sebesar ini dan kepalanya terantuk lalu darahpun mengalir keluar dari sana. Dan dewa itu, setelah mengaduhaduh sesaaat, ,menatap darahnya dan melihat warna yang berbeda dari dua warna tadi, maka ia pun lari ke tempat dewa-dewa lainnya dan menunjukkan pada mereka warna baru itu dan mereka menamainya ”merah”, maka warna ketiga lahirlah. Kemudian, dewa yang lain lagi sedang mencari-cari warna untuk melukisi harapan. Ia menemukannya sebentar
kemudian, ia pergi dan menunjukkannya pada sidang para dewa, dan mereka namai warna ini ”hijau”, yang keempat. Yang lain lagi mulai mengais-ngais bumi begitu rupa. ”Kau sedang apa?” dewa-dewa lain bertanya padanya. ”Mencari jantung bumi,” jawabnya sambil melempar lumpur ke sembarang tempat. Tak lama kemudian ia temukan jantung bumi dan menunjukkannya pada para dewa-dewa lainnya, dan mereka namai warna kelima ini ”coklat”. Dewa yang lainnya pergi setinggi yang ia bisa. ”Aku ingin tahu warna dunia,” katanya, dan ia mendaki dan terus mendaki sampai jauh ke atas sana.

Saat tiba nun jauh disana , ia memandang kebawah dan melihat dunia, tapi ia tidak tahu bagaimana membawanya turun ke tempat para dewa, maka ia terus menatapnya sampai sekian lama, sampai ia buta, sebab kini warna dunialah yang menempel dimatanya. ”Kubawa warna dunia di mataku.,” dan mereka menyebut yang keenam itu ”biru”. Dewa yang lain sedang mencari-cari warna saat ia dengar seorang anak tertawa, dan dengan hati-hati ia pun mendekat. Ketika anak itu lengah ia curi senyumnya dan membuatnya menangis. Konon tiu sebabnya anak kecil bisa mendadak tertawa mendadak menangis.
Dewa itu membawa tawa anak itu dan mereka namai warna ketujuh itu ”kuning”. Sampai disitu para dewa kelelahan dan pergi makan pozol lalu tertidur. Mereka tinggalkan warna tadi dalam kotak kecil yang dilempar ke bawah pohon kapuk.

Tapi kotak kecil itu tidak tertutup rapat dan warna-waran pun menyebar keluar dengan riang gembira bermain-main dan bercinta, lalu warna-warna baru yang berbeda-beda bermunculan. Pohon kapuk itu melihatnya. Ia tudungi mereka semua agar hujan tidak melibas aneka warna tersebut. Dan ketika para dewa tiba disana yang ada bukan Cuma tujuh warna namaun banyak sekali, dan mereka memandang pohon kapuk itu lalu berucap, ”Kau lahirkan warna-warna, kau asuh bumi ini sehingga dari kepalamulah kami akan melukisi dunia”.

Mereka pun memanjat sampai ke pucuk pohon kapuk dan dari sana mereka melemparkan warna seenaknya saja. Biru mendarat sebagian di langit sebagian di laut, hijau menjatuhi bumi, dan kuning-yang dulunya tawa seorang anak-terbang jauh melukisi matahari. Merah mendarat di mulut oarang dan binatang dan mereka pun memakannya sampai segal sesuatu di dalam diri mereka berwarna merah. Hitam dan putih sudah ada di dunia.
Sungguh kacau balau waktu itu ketika para dewa melempar-lempar warna, , mereka bahkan tak melihat ke arah mana mereka lempar, dan beberapa warna terpercik di tubuh orang-orang dan itu sebabnya orang punya warna berbeda-beda dan pikiran berbeda-beda (suku, agama, ras juga kan. cat saya)

Sejenak kemudian para dewa itu lelah dan ingin kembali tidur. Dewa-dewa ini, yang bukan dewa-dewa pertama yang melahirkan dunia, Cuma ingin tidur. Maka, agar tidak lupa dan kehilangan warna-warna itu, mereka mencari cara menyimpannya. Dan saat mereka renungkan dalam hati bagaimana melakukannya, seketika itulah mereka lihat seekor kakaktua. Mereka renggut ia dan menaruh semua warna disana. Mereka buat bulu-bulunya lebih panjang agar semua warna bisa masuk. Begitulah mulanya kakatua mendapat warna dan seperti itulah ia jadinya, agar orang-orang lelaki dan perempuan tidak lupa bahwa ada banyak warna dan banyak pikiran di dunia ini, agar dunia gembira saat semua warna dan semua pikiran punya tempatnya sendiri-sendiri.

(dikutip dari Bayang Tak Berwajah, Ronny Augustinus, Insist 2003)



karya diego rivera


Sekilas Mexico Berlawan (10) - Mengenal lebih jauh Gerakan Zapatista dan sumbangan untuk gerakan sosial global. AIKONISASI ZAPATISTA : Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas

AIKONISASI ZAPATISTA :

Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas*

(istilah dalam bahasa Spanyol yang kurang lebih bermakna praktik yang cerdas melakukan manuver-manuver dan siasat-siasat untuk membuka, menerobos, membuat dan memanfaatkan peluang politik. Tapi, dalam penggunaan lain bisa juga berarti terperangkap setelah melakukan pembukaan, penerbososan dan pemanfaatan peluang politik)

Pengantar Noer Fauzi untuk Buku Bayang Tak Berwajah (Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) Insist Press 2003

Ketahuilah! Bahwa tanah, hutan, dan air yang telah dirampas oleh para penguasa hacienda, cientifico, atau cacique melalui tirani kekuasaan dan tipuan hukum, akan dikembalikan dengan segera pada rakyat atau warga yang berhak atas kekayaan itu, sebab, se¬sungguhnya mereka itu dianiaya oleh kejahatan para penindas. Mereka mesti mempertahankan miliknya itu dengan sepenuh hati melalui kekuatan bersenjata. (Zapata, November 1911)

Setelah ditunda beberapa kali dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista memasuki San Cristobal beberapa menit sesudah tengah malam pada 1 Januari, 1994 ("Seperti biasa kami ter¬lambat," jelas Komandante Marcos), mengumumkan 'Deklarasi Hutan Lacondon' dari balkon istana pemerintah, memporak¬porandakan balai kota, menempelkan proklamasi perang mereka di dinding dinding kota kerajaan lama, menyerang instalasi mili¬ter di dekatnya, lalu berjalan ke gunung gunung, kembali ke basis mereka di hutan.

Dua puluh lima bulan setelah pernberontakan Zapatista mem¬bahana ke seluruh pelosok negeri dari pasar kampung sampai kamar kantor presiden, pada 16 Februari 1996, Tentara Pem¬bebasan Nasional Zapatista dan pemerintah Meksiko menanda¬tangani kesepakatan substantif pertama menuju perdamaian, yang terkenal dengan nama'Perjanjian perjanjian San Andres'. Dalam dokumen perjanjian itu, pemerintah federal menanggapi sebagian tuntutan Zapatista, utamanya hal yang berkaitan dengan hak hak dan budaya masyarakat adat, berupa pengakuan masya¬rakat Indian sebagai subjek sosial dan historis sebagai prinsip kewarganegaraan. Sesungguhnya, dokumen perjanjian itu baru berisikan 1 dari 6 topik yang dirundingkan. Satu topik itu berasal dari meja runding'hak hak budaya'. Selain meja runding 'hak hak budaya' (i), meja meja runding yang tidak berbasil mengeluarkan perjanjian adalah: (2) demokrasi dan keadilan; (3) pembangunan dan kesejahteraan; (4) masalah perempuan; (5) konflik regional; dan (6) demiliterisasi.

Selengkapnya




Bookmark and Share

Selasa, 31 Januari 2012

Antara (Tol) 'Karawang Bekasi' : Buruh Unjuk Kekuatan.

Buruh Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan! Antara (Tol) 'Karawang Bekasi' : Buruh Unjuk Kekuatan.






"Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup lebih layak dan sempurna.

Kita bergerak tidak karena ’ideal’saja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, (ingin cukup tanah), ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup meminum seni...-pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib didalam seluruh bagian-bagiannya dan cabang-cabangnya.

Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus persen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab sistem inilah yang sebagai kanker tumbuh diatas tubuh kita, hidup dan subur dari tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita"

Oleh karena itu, maka pergerakan kita janganlah pergerakan kecil-kecilan. Pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan yang ingin merubah samasekali sifatnya masyarakat.
(Soekarno)





Bookmark and Share

Sabtu, 21 Januari 2012

Penjajahan Masih Langgeng! (Siapa Menghisap, Siapa Menyusu?)

rakyat dan ibu pertiwi dihisap tandas, sedang elit politik, birokrasi dan aparat bersenjatanya (militer, polisi, paramiliter) disusui. (cermati : sesungguhnya betapa rapuhnya mereka)





Bookmark and Share

Jumat, 20 Januari 2012

Dewan Penista Rakyat!!

hormat kami untuk rakyat pulau padang baik di kampung maupun yang teguh bertahan menduduki pintu gerbang dpr yang berjuang menjaga pulaunya dari perampasan tanah dan penghancuran lingkungan oleh PT RAPP




silahkan bergabung juga di page facebook

Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)


Bookmark and Share

Selasa, 11 Oktober 2011

Perempuan Kekasih Malam (Puisi Ajeng Kesuma)

Perempuan Kekasih Malam




Perempuan itu rebah diatas hamparan pasir,
Dibawah langit bertabur sejuta bintang,
Pada malam dia bercerita,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,
Pada langit dia bertanya,
Tentang perempuan, rahim, janin dan kehidupan,

Perempuan itu rebah di tepian samudera,
Gemuruh ombak adalah nyanyiannya,
Matanya merah menyimpan bara,
Jiwanya adalah kesunyian telaga,
Dengan tubuh meringkuk dia memeluk perutnya,
Pada janin dalam rahimnya dia berkisah,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,

Perempuan itu rebah berselimut malam,
Pada sejarah kelam dia menyimpan bara,
Pada masa depan dia menggenggam asa,
Dia akan melahirkan anak sejuta bintang,
anak yang bermandikan cahaya bulan,
bapaknya adalah kehidupan,
yang mengajarkannya berjuang, melawan juga memafkan,

Perempuan itu rebah dengan luka yang menganga,
Dia masih menyimpan amarah,
Pada laki-laki yang menorehkan sejarah,
Yang mengenalkannya pada malam,
Dan meninggalkannya saat malam,
Seperti seorang pengecut,
Yang menyelinap saat peluh lepas bercinta,
Menghantarkannya pada lelap dan mimpi panjang,





Perempuan yang rebah itu,
Tertidur dalam dekapan malam,
Janin di rahimnya meringkuk dengan tangan terkatup,
Mengirimkan pesan pada kehidupan,
Agar cinta kembali dilahirkan,
untuk perempuan yang meminjamkan rahimnya,
dan memberinya makan lewat seutas tali pusar,
sambil terus bertanya;
‘’harus kusebut apakah perempuan, kekasih sang malam ini..?’’
‘’lukakah hatinya, jika aku memanggilnya IBU…?’’


Ajeng Kesuma, Bgr, 11.07.11

*lukisan andreas iswinarto

Bookmark and Share

Option For The Poor (Mengenang Romo Mangunwijaya)

Gereja Pembebasan, Gereja Kaum Miskin





[aku berada di jalan ini karena dibukakan oleh rasa terpukau dan rasa haru (puluhan tahun lalu) pada kasihnya yang luar biasa untuk kaum hina papa, warga kedung ombo, warga kali code, para tukang becak jakarta.....]





lukisan oleh andreas iswinarto

Bookmark and Share

Senin, 10 Oktober 2011

Ooohh, Anak-anak Kami (Puisi Ajeng Kesuma)

Anak-anak kami meringkuk dalam periuk berjelaga,
Lelah dan lelap selepas mengais butiran nasi yang mengerak,
Tak tahu mereka rasanya lapar,
Sebab kenyang tak pernah singgah ke perut kami.


Anak-anak kami berenang di tengah pusaran air beracun,
Membersihkan tubuh dengan air limbah menambah hitamnya daki,
Tak tahu mereka beningnya air,
Sebab kami tak mampu membayar air jernih dalam pipa dan galon-galon.


Anak-anak kami bergaris mata hitam, cekung dan kosong,
menatap lekat yang sangat dekat,
Tak dapat mereka memandang jauh ke depan,
Sebab kami tak punya sesuatu untuk masa depan.



karya rupa oleh andreas iswinarto - galeri rupa lentera di atas bukit


Anak-anak kami nakal, bengal dan melawan,
Dengan makian dan sumpah serapah mereka bicara,
Tak dapat mereka bicara santun,
Sebab kami terbiasa mendapat hadiah caci, maki dan hujatan.


Anak-anak kami lahir dari jenis spesies yang sama,
Janin mereka tumbuh dalam rahim dari sperma manusia,
Tak pernah kami menyakiti binatang,
Tapi kami dipandang jijik, diperlakukan keji, seperti binatang.


Ooooohhhh…….,
Anak-anak kami,
Anak-anak kami,
Mari memandang bulan dan matahari,
Agar kita masih bisa menikmati keindahan,
Dan merasakan kehangatan,
Sekalipun kita tahu,
kehangatan jiwa dan keindahan hati kita
melebihi matahari dan rembulan.

(Sepoci Seduhan Puisi untuk pojok hati yang tersayat)



Ajeng Kesuma, Bgr, 210911.







Bookmark and Share

Selasa, 16 Agustus 2011

Tanah Air, Tumpah Darah. Tanpa Api, Tanpa Suci, Mampuslah Mampus!

puisi u. mengenang proklamasi 17.8.45 (indonesia merdeka yang dihilangkan) dan Wiji Thukul (penyair merdeka yang dihilangkan 26.8.1963 - .....)





langit
yang putih
garing
asing
tak sengaja
mengabarkan matinya seorang buruh panggul*
(silahkan diganti dengan buruh tani, buruh pabrik dll)
tbc
muntah darah
tanpa rumah sakit
tanpa sanak saudara
tanpa tempat berteduh
tanpa perut
tanpa ktp
tanpa kartu raskin
tanpa npwp
tanpa agama
tanpa negara

siang
yang putih
garing
asing
dengan semburat merah muntah darah tbc itu
terperanjat
tergopoh-gopoh
dari lamunan merdekanya
berteriak tergagap dalam senyapnya
‘tanah air tumpah darah, tanpa api, tanpa suci, mampuslah mampus.....!’

malam
yang putih
garing
asing
tiba kemudian tanpa setitik hitam pun,
hanya gelegar geledar bola pijar api raksasa dengan lidah-lidah kilatnya
bertalu-talu-talu berderak-derak retakkan bumi....
maka genap sudah
butalah mata kita, tulilah telinga kita

lalu kita yang buta
tuli
dan bisu
terseok-seok
menghantarkan jenasah almarhum tanpa nama
ke pemakaman liar
dengan tertib, manis, santun, tanpa isak tangis...

bapak tua itu kemudian berbisik
‘sudah lumrah’
‘yang tidak lumrah adalah
kalian yang menusuk bola mata dan gendang telinganya sendiri
memotong lidahnya sendiri
menguburkan kata hatinya sendiri
dengan bilah-bilah bambu runcing
berbendera merah putih tanda berkabung dan menyerah'

bapak tua itu terisak teramat dalam
kemudian tersedak megap-megap
sekejab tanganya menggapai-gapai langit
lantas mati dengan raut sedih dan mengerikan
lalu menghilang begitu saja
ya, menghilang begitu saja

lama kemudian koran-koran kuning mengabarkan
seorang pejuang tua
bunuh diri di pemakaman liar itu
dengan bambu runcing kegetirannya
sambil memekik ‘merdeka’.
lalu secara misterius, ajaib, gaib, mistis
jasad pejuang tua itu terangkat
ke langit
hingga langitnya langit terakhir
yang putih
garing
asing

......................




cukup sudah
bakar-bakarlah puisi kelam ini
bangkit, bersatu, bersarekat, berlawan
merdekalah merdeka
a luta continua*
the struggle continues

berjuang tanpa lelah
berlawan hingga akhir


13 agustus 2011- andreas iswinarto

*a luta continua dipetik dari puisi Wiji Thukul berikut ini





TUJUAN KITA SATU IBU

kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."

kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan

kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak ankmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!

kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997


50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup










Bookmark and Share

Selasa, 09 Agustus 2011

Syair Keadaan - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan (6)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) dalam rangka sebulan penuh mengenang atau sebagai penghormatan kepada Wiji Thukul (yang berulang tahun 26 Agustus) dan memperingati hari Anti Penghilangan Paksa Internasional (30 Agustus).

salam hangat, salam pembebasan

dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa....




Syair Keadaan - Wiji Thukul

kalimat-kalimat kotor
menghambur dalam gelap
membawa bau minuman
keringat tengik
dan kesumpekan

ibu-ibu megap-megap
mengurus dapur suami dan anaknya
harga barang-barang kebutuhan makin tinggi
kaum penganggur sambung-menyambung
berbaris setiap hari
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa

leleran keringat dan kacaunya pikiran
keputusasaan dan harapan
yang dipompakan iklan-iklan
siang malam membikin tegang

dan disana kaum tani
dipaksakan menyerahkan tanahnya
dan disana pabrik-pabrik memecat
buruhnya, memanggil tentara
karena ada aksi mogok
di depan kantornya
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa

hujan turun
got-got meluap
banjir datang
bingunglah rakyat

gunung-gunung digunduli
hutan-hutan dibabati
cukong-cukong kongkalikong
para birokrat mengantongi uang komisi
karena memberi lisensi
dan para pemilik modal besar
terus mengaduk-aduk
menguras mengisap isi perut bumi
dan parpol-parpol

halo!
selamat pagi!

hujan turun
got-got meluap banjir datang
menenggelamkan rumah-rumah rakyat
dan parpol-parpol

hallo!
kita nanti ketemu
dalam Pemilu
lima tahun lagi!

Solo, Jagalan
Kalangan, 02-02, 1989.






Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)
Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)

Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Bookmark and Share

Senin, 08 Agustus 2011

Rumput Ilalang - Puisi Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan (5)





Rumput Ilalang (Wiji Thukul)

hijau hijau
tumbuh lagi
walau kaubabat berulang kali
walau kaubakar berulangkali
hijau hijau
tumbuh lagi
sudah seratus kali kaucabut
kausemburkan api kerusuhan
hijau hijau
tumbuh lagi
harapanku
menaklukan
ketakutan
yang kauternakkan
lewat pidato
dan laras senapan

aku melihat ilalang
o sia-sialah
kekuasaan memasang
palang penghalang
ilalang





Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)


Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)




Bookmark and Share

Kemerdekaan - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan. (4)





Kemerdekaan

Wiji Thukul


kemerdekaan

mengajarkan aku berbahasa

membangun kata-kata

dan mengucapkan kepentingan



kemerdekaan

mengajar aku menuntut

dan menulis surat selebaran

kemerdekaanlah

yang membongkar kuburan ketakutan

dan menunjukkan jalan



kemerdekaan

adalah gerakan

yang tak terpatahkan

kemerdekaan

selalu di garis depan*



Solo, 27-12-1988





Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)


Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)



Bookmark and Share