DPR Mengoyak Nurani Rakyat; Hancurnya Etika Publik; Senja Kala Pemberantasan Korupsi? ; Anggodo dan Retorika Ganyang Mafia Hukum; Elegi Pemberantasan Korupsi; Bangkitnya Dunia Maya; Drama Kepolisian di Ruang Sidang; Kriminalisasi Kewenangan; Kriminalisasi, Kontroversi Dasar Pembenarannya; Ganyang Mafia Ganyang Kemunafikan
DPR Mengoyak Nurani Rakyat - Tamrin Amal Tomagola
Hancurnya Etika Publik - Gadis Arivia
Senja Kala Pemberantasan Korupsi? - Saldi Isra
Anggodo dan Retorika Ganyang Mafia Hukum - Laode Ida
Elegi Pemberantasan Korupsi - Achmad M Akung
TAJUK RENCANA KOMPAS : Bangkitnya Dunia Maya
Drama Kepolisian di Ruang Sidang - Bivitri Susanti
Kriminalisasi Kewenangan - Bambang Widjojanto
Kriminalisasi, Kontroversi Dasar Pembenarannya - Soetandyo Wignjosoebroto
EDITORIAL MI - Ganyang Mafia Ganyang Kemunafikan
selengkapnya
edisi 9 Nopember
edisi 7 Nopember
edisi 6 Nopember
edisi 5 Nopember
edisi 4 Nopember
edisi 30 Oktober -3 Nopember
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
posting yang anda cari ada dibawah gallery foto ini, salam
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”
“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.
dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)
Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya
8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI








KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!







KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!









KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!


















TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI










KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”
“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.
dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)
Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya
8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!
KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!
KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!
TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI
Senin, 09 November 2009
Kumpulan Artikel/Opini Tentang Kriminalisasi Chandra-Bibit dan KPK (Cicak Vs Buaya, Cicak vs Godzilla) 9 Nopember 2009
| Reaksi: |
Kami Ada! Lintas Warga Indonesia Sehat, Lawan Korupsi (Seri 4)
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
foto,
free
| Reaksi: |
Kami Ada! Anak Indonesia Sehat, Lawan Korupsi (Seri 3)
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
foto,
free
| Reaksi: |
Kami Ada! Massa Aksi Indonesia Sehat, Lawan Korupsi! (Seri 2)
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
foto,
free
| Reaksi: |
Kami Ada! Kami Tidak Takut! Indonesia Sehat, Lawan Korupsi! (SERI 1)
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
foto,
free
| Reaksi: |
Bangun Gerakan Kontrol Rakyat Pekerja Melawan Korupsi!
PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA
Nomor: 152/PS/KP-PRP/e/XI/09
Politik Korupsi bertanggung jawab atas kemiskinan rakyat Indonesia!
Bangun gerakan kontrol rakyat pekerja melawan korupsi!
Salam rakyat pekerja,
Akhir-akhir ini media massa selalu saja menggembar-gemborkan isu cicak versus buaya (konflik-katanya- antara KPK versus POLRI). Gonjang ganjing Cicak vs Buaya ini telah menyerap perhatian rakyat Indonesia hingga menjadi gerakan simbolis pendukungan terhadap keberadaan institusi KPK.
Jelas bahwa melawan korupsi di Indonesia bagai memblejeti mafia tikus got yang merajalela dalam fenomena urban kota. Ruwet dan tak ada habis-habisnya, karena korupsi berkembang biak dalam satupadan dengan kapitalisme.
Dalam masa perpolitikan di Indonesia saat ini, usai Pemilu yang dimenangkan sebuah mafia kekuasaan di bawah rezim SBY dan neoliberal, terjadilah penangkapan dan pencopotan jabatan terhadap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Penangkapan dan penahanan kedua pejabat KPK ini menuai tanggapan protes dari organisasi masyarakat —yang dinisiasi oleh kelompok pemantau korupsi— karena terdapat indikasi pemberangusan peran KPK disebabkan upayanya untuk mengusut kasus Bank Century. Kasus Bank Century sendiri diduga dibobol untuk biaya kemenangan mafia rezim SBY dalam Pemilu 2009.
Bahkan setelah diperdengarkan rekaman transkrip scenario pembukaman terhadap institusi KPK di Mahkamah Konstitusi, kekuatan dukungan publik terhadap upaya penyelamatan institusi semakin lebih besar lagi. Yang menarik dari rekaman tersebut disebutkan upaya skenario antara pemilik modal dan pejabat negara agar mengkriminalisasikan pimpinan KPK. Dalam hal ini sangat terlihat kekuatan pemilik modal untuk mengatur seluruh dimensi kehidupan rakyat Indonesia dengan cara berkolaborasi dengan para penguasa yang pro terhadap pemilik modal. Korupsi jelas merupakan kontradiksi yang inheren di dalam kapitalisme. Di satu pihak, korupsi memuluskan proses ekspansi modal dan akumulasi capital, tetapi di lain pihak, korupsi menyebabkan proses yang tidak efisien di dalam pelayanan kebutuhan publik (rakyat pekerja), sehingga korupsi merupakan model penghisapan rakyat pekerja dalam demokrasi ala kapitalisme.
Dengan kemenangan rezim SBY yang menguasai 64% kursi di DPR dan tanpa adanya partai politik oposisi, maka rezim ini dapat melenggang sebagai mafia kekuasaan yang dapat bertindak semena-mena —menggunakan alat hukum dan politik— untuk mengajegkan kolusi dengan rezim Neoliberal. Kasus Bibit dan Chandra harus kita baca sebagai pengenyahan pejabat negara yang dipandang menghalang-halangi mafia kekuasaan yang korup tersebut. Jika hal itu berhasil, maka otoritas KPK sebagai komisi negara pemberantasan korupsi telah dimandulkan sebagai lembaga korporatisme. Deskripsi ini menandaskan adanya pengulangan cara-cara rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto dalam membangun kekuasaan dan menata secara sistematis praktek korupsi. Sehingga dari aspek korupsi ini, kita dapat memblejeti apa yang berlanjut dari otoritarianisme rezim Orde Baru ala Soeharto dengan rezim SBY. Tetapi ada yang juga harus kita sadari, bahwa mudahnya penangkapan dan penahanan atas Bibit dan Chandra oleh lembaga Kepolisian dan Kejaksaan membuktikan lemahnya posisi KPK sebagai komisi negara, karena gerakan rakyat pekerja diputus mata rantainya dengan gerakan melawan korupsi.
Tanda-tanda rezim SBY-Boediono mengingatkan kita pada Orde Baru, yang demikian cerdik memainkan legitimasi kemenangan dari demokrasi prosedural untuk membangun kekuasaannya yang tak tergoyahkan secara berkelanjutan. Inilah kenyataan Indonesia setelah Pemilu yang di sana-sini digembar-gemborkan demokratis, ternyata berujung pada kebangkitan sebuah rezim. Bahkan rezim ini pun bergandengan erat dengan kekuatan bourjuasi yang mengatur lembaga-lembaga negara semacam Kepolisian, Kejaksaan, bahkan KPK sendiri. Hal ini tentunya telah dapat dilihat dan didengarkan dari rekaman transkrip skenario pembungkaman KPK, yang banyak sekali menyebutkan nama-nama pejabat negara. Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian menegaskan bahwa kekuatan pemilik modal sudah sedemikian mencengkeram seluruh sendi kehidupan rakyat dan telah membuat rakyat Indonesia sengsara. Hal ini dapat berjalan mulus hanya jika didukung oleh penguasa yang tunduk dan mendukung kekuatan pemilik modal di Indonesia.
Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap:
1. Pemberantasan korupsi harus dilakukan sekarang juga, dimulai dengan menangkap Anggodo Widjojo dan Anggoro Widjojo serta membersihkan koruptor di institusi Istana/Kepresidenan, DPR, Kepolisian dan Kejaksaan.
2. Copot dan ganti Bambang Hendarso Danuri dari posisinya sebagai Kepala Kepolisian RI dan Hendarman Supandji dari posisinya sebagai Jaksa Agung, karena telah gagal dalam menjaga dan membersihkan institusinya dari sarang koruptor.
3. Tuntaskan segara kasus Bank Century yang merupakan akar permasalahan munculnya kasus-kasus korupsi untuk memobilisasi dana kampanye pemilu yang ingin diusut oleh KPK.
4. Politik Korupsi yang dilakukan oleh rezim SBY, pejabat pemerintahan kapitalis dan partai politik borjuasi bersama rezim neoliberal telah menyengsarakan kehidupan rakyat pekerja Indonesia. Bahkan politik korupsi tersebut bertanggung jawab atas kebijakan privatisasi, outsourcing/kerja kontrak, upah murah, PHK sepihak, penggusuran, pencabutan subsidi dan lain-lain.
5. Menyerukan kepada seluruh rakyat untuk membangun gerakan kontrol rakyat pekerja melawan korupsi, dengan membentuk Dewan-dewan Buruh/Pekerja di daerah-daerah maupun nasional yang akan melakukan kontrol terhadap perputaran dan arus modal di perusahaan-perusahaan (swasta maupun BUMN) untuk mencegah terjadinya suap dan korupsi yang dilakukan oleh pemilik modal dan negara.
Jakarta, 7 Nopember 2009
Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP-PRP)
Ketua Nasional
(Anwar Ma'ruf)
Sekretaris Jenderal
(Rendro Prayogo)
Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja(KP PRP)
Jl. Kramat Sawah IV No. 26 RT04/RW 07, Paseban, Jakarta Pusat
Phone/Fax: (021) 391-7317
Email: komite.pusat@prp-http://www.facebook.com/l/877f8;indonesia.org /prppusat@gmail.com / prppusat@yahoo.comWebsite: http://www.facebook.com/l/877f8;www.prp-indonesia.org
TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA! BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI










*****
Nomor: 152/PS/KP-PRP/e/XI/09
Politik Korupsi bertanggung jawab atas kemiskinan rakyat Indonesia!
Bangun gerakan kontrol rakyat pekerja melawan korupsi!
Salam rakyat pekerja,
Akhir-akhir ini media massa selalu saja menggembar-gemborkan isu cicak versus buaya (konflik-katanya- antara KPK versus POLRI). Gonjang ganjing Cicak vs Buaya ini telah menyerap perhatian rakyat Indonesia hingga menjadi gerakan simbolis pendukungan terhadap keberadaan institusi KPK.
Jelas bahwa melawan korupsi di Indonesia bagai memblejeti mafia tikus got yang merajalela dalam fenomena urban kota. Ruwet dan tak ada habis-habisnya, karena korupsi berkembang biak dalam satupadan dengan kapitalisme.
Dalam masa perpolitikan di Indonesia saat ini, usai Pemilu yang dimenangkan sebuah mafia kekuasaan di bawah rezim SBY dan neoliberal, terjadilah penangkapan dan pencopotan jabatan terhadap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Penangkapan dan penahanan kedua pejabat KPK ini menuai tanggapan protes dari organisasi masyarakat —yang dinisiasi oleh kelompok pemantau korupsi— karena terdapat indikasi pemberangusan peran KPK disebabkan upayanya untuk mengusut kasus Bank Century. Kasus Bank Century sendiri diduga dibobol untuk biaya kemenangan mafia rezim SBY dalam Pemilu 2009.
Bahkan setelah diperdengarkan rekaman transkrip scenario pembukaman terhadap institusi KPK di Mahkamah Konstitusi, kekuatan dukungan publik terhadap upaya penyelamatan institusi semakin lebih besar lagi. Yang menarik dari rekaman tersebut disebutkan upaya skenario antara pemilik modal dan pejabat negara agar mengkriminalisasikan pimpinan KPK. Dalam hal ini sangat terlihat kekuatan pemilik modal untuk mengatur seluruh dimensi kehidupan rakyat Indonesia dengan cara berkolaborasi dengan para penguasa yang pro terhadap pemilik modal. Korupsi jelas merupakan kontradiksi yang inheren di dalam kapitalisme. Di satu pihak, korupsi memuluskan proses ekspansi modal dan akumulasi capital, tetapi di lain pihak, korupsi menyebabkan proses yang tidak efisien di dalam pelayanan kebutuhan publik (rakyat pekerja), sehingga korupsi merupakan model penghisapan rakyat pekerja dalam demokrasi ala kapitalisme.
Dengan kemenangan rezim SBY yang menguasai 64% kursi di DPR dan tanpa adanya partai politik oposisi, maka rezim ini dapat melenggang sebagai mafia kekuasaan yang dapat bertindak semena-mena —menggunakan alat hukum dan politik— untuk mengajegkan kolusi dengan rezim Neoliberal. Kasus Bibit dan Chandra harus kita baca sebagai pengenyahan pejabat negara yang dipandang menghalang-halangi mafia kekuasaan yang korup tersebut. Jika hal itu berhasil, maka otoritas KPK sebagai komisi negara pemberantasan korupsi telah dimandulkan sebagai lembaga korporatisme. Deskripsi ini menandaskan adanya pengulangan cara-cara rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto dalam membangun kekuasaan dan menata secara sistematis praktek korupsi. Sehingga dari aspek korupsi ini, kita dapat memblejeti apa yang berlanjut dari otoritarianisme rezim Orde Baru ala Soeharto dengan rezim SBY. Tetapi ada yang juga harus kita sadari, bahwa mudahnya penangkapan dan penahanan atas Bibit dan Chandra oleh lembaga Kepolisian dan Kejaksaan membuktikan lemahnya posisi KPK sebagai komisi negara, karena gerakan rakyat pekerja diputus mata rantainya dengan gerakan melawan korupsi.
Tanda-tanda rezim SBY-Boediono mengingatkan kita pada Orde Baru, yang demikian cerdik memainkan legitimasi kemenangan dari demokrasi prosedural untuk membangun kekuasaannya yang tak tergoyahkan secara berkelanjutan. Inilah kenyataan Indonesia setelah Pemilu yang di sana-sini digembar-gemborkan demokratis, ternyata berujung pada kebangkitan sebuah rezim. Bahkan rezim ini pun bergandengan erat dengan kekuatan bourjuasi yang mengatur lembaga-lembaga negara semacam Kepolisian, Kejaksaan, bahkan KPK sendiri. Hal ini tentunya telah dapat dilihat dan didengarkan dari rekaman transkrip skenario pembungkaman KPK, yang banyak sekali menyebutkan nama-nama pejabat negara. Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian menegaskan bahwa kekuatan pemilik modal sudah sedemikian mencengkeram seluruh sendi kehidupan rakyat dan telah membuat rakyat Indonesia sengsara. Hal ini dapat berjalan mulus hanya jika didukung oleh penguasa yang tunduk dan mendukung kekuatan pemilik modal di Indonesia.
Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap:
1. Pemberantasan korupsi harus dilakukan sekarang juga, dimulai dengan menangkap Anggodo Widjojo dan Anggoro Widjojo serta membersihkan koruptor di institusi Istana/Kepresidenan, DPR, Kepolisian dan Kejaksaan.
2. Copot dan ganti Bambang Hendarso Danuri dari posisinya sebagai Kepala Kepolisian RI dan Hendarman Supandji dari posisinya sebagai Jaksa Agung, karena telah gagal dalam menjaga dan membersihkan institusinya dari sarang koruptor.
3. Tuntaskan segara kasus Bank Century yang merupakan akar permasalahan munculnya kasus-kasus korupsi untuk memobilisasi dana kampanye pemilu yang ingin diusut oleh KPK.
4. Politik Korupsi yang dilakukan oleh rezim SBY, pejabat pemerintahan kapitalis dan partai politik borjuasi bersama rezim neoliberal telah menyengsarakan kehidupan rakyat pekerja Indonesia. Bahkan politik korupsi tersebut bertanggung jawab atas kebijakan privatisasi, outsourcing/kerja kontrak, upah murah, PHK sepihak, penggusuran, pencabutan subsidi dan lain-lain.
5. Menyerukan kepada seluruh rakyat untuk membangun gerakan kontrol rakyat pekerja melawan korupsi, dengan membentuk Dewan-dewan Buruh/Pekerja di daerah-daerah maupun nasional yang akan melakukan kontrol terhadap perputaran dan arus modal di perusahaan-perusahaan (swasta maupun BUMN) untuk mencegah terjadinya suap dan korupsi yang dilakukan oleh pemilik modal dan negara.
Jakarta, 7 Nopember 2009
Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP-PRP)
Ketua Nasional
(Anwar Ma'ruf)
Sekretaris Jenderal
(Rendro Prayogo)
Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja(KP PRP)
Jl. Kramat Sawah IV No. 26 RT04/RW 07, Paseban, Jakarta Pusat
Phone/Fax: (021) 391-7317
Email: komite.pusat@prp-http://www.facebook.com/l/877f8;indonesia.org /prppusat@gmail.com / prppusat@yahoo.comWebsite: http://www.facebook.com/l/877f8;www.prp-indonesia.org
TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA! BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI
*****
| Reaksi: |
Minggu, 08 November 2009
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
(File MP3 ini diperoleh dari Elshinta, News and Talk (4 November 2009))
Audio Pembuka oleh Prof. Mahfud MD (205 kB)
Percakapan Penyelesaian Kasus Masaro oleh Anggodo (1.7 MB)
Perincian Uang untuk Penyuapan KPK oleh Anggodo via Ari Muliadi. (1.4 MB)
Pencatutan nama SBY(2.4 Mb)
Minta Bantuan Kejaksaan Agung (1.6 Mb)
Minta Bantuan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) (2.0 Mb)
Lapor memenangkan kasus ’sementara’/pembukaan (74 Kb)
Lapor ‘kemenangan’ dan buat ancaman buat Candra M Hamzah (424 Kb)
Menyusun Strategi dari Suap menjadi Pemerasan (5.1 MB)
Perhitungan fee pihak terkait (2.08 MB)
Audio Pembuka oleh Prof. Mahfud MD (205 kB)
Percakapan Penyelesaian Kasus Masaro oleh Anggodo (1.7 MB)
Perincian Uang untuk Penyuapan KPK oleh Anggodo via Ari Muliadi. (1.4 MB)
Pencatutan nama SBY(2.4 Mb)
Minta Bantuan Kejaksaan Agung (1.6 Mb)
Minta Bantuan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) (2.0 Mb)
Lapor memenangkan kasus ’sementara’/pembukaan (74 Kb)
Lapor ‘kemenangan’ dan buat ancaman buat Candra M Hamzah (424 Kb)
Menyusun Strategi dari Suap menjadi Pemerasan (5.1 MB)
Perhitungan fee pihak terkait (2.08 MB)
| Reaksi: |
Puisi Cicak Lawan Buaya (2) : Negeri Para Bedebah
Negeri Para Bedebah
karya Adhie Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
baca ulasan Asep Sambodja Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
karya Adhie Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
baca ulasan Asep Sambodja Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
Puisi,
Sastra
| Reaksi: |
Puisi Cicak Lawan Buaya (1) : Sajak Perlawanan Kaum Cicak
Sajak Perlawanan Kaum Cicak
karya Tulus Wijanarko
Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati
Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling
Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal
Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang
Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot
Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri
Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara
karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti
kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!
28/09
baca ulasan Asep Sambodja Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
karya Tulus Wijanarko
Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati
Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling
Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal
Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang
Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot
Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri
Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara
karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti
kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!
28/09
baca ulasan Asep Sambodja Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
Label:
cicak-cicak bersatulah,
ekonomi-politik,
Puisi,
Sastra
| Reaksi: |
Sabtu, 07 November 2009
Kumpulan Artikel/Opini Tentang Kriminalisasi Chandra-Bibit dan KPK (Cicak Vs Buaya, Cicak vs Godzilla) 7 Nopember 2009
Para Pembangkang Mayantara; Gempa Politik; Tak Gendong Kemana-mana; Uang dan Kekuasaan; Pentas Wajah Tidak Bersalah; Ruang Publik Komunitas Virtual; Menakar People Power; Reality Show Penegakan Hukum; Pahlawan Huku
Para Pembangkang Mayantara - Ignatius Haryanto
Mencegah Pelemahan dan Pembubaran KPK - Roby Arya Brata
Pahlawan Hukum - Yonky Karman
Gempa Politik - Jaya Suprana
KOLOM POLITIK-EKONOMI "Tak Gendong ke Mana-mana" - Budiarto Shambazy
Uang dan Kekuasaan - Jakob Sumardjo
EDITORIAL MI - Pentas Wajah tidak Bersalah
Ruang Publik Komunitas Virtual - Gun Gun Heryanto
Menakar People Power - Prof Bachtiar Aly
Reality Show Penegakan Hukum - Adnan Topan Husodo
selengkapnya
edisi 9 Nopember
edisi 7 Nopember
edisi 6 Nopember
edisi 5 Nopember
edisi 4 Nopember
edisi 30 Oktober -3 Nopember
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
Para Pembangkang Mayantara - Ignatius Haryanto
Mencegah Pelemahan dan Pembubaran KPK - Roby Arya Brata
Pahlawan Hukum - Yonky Karman
Gempa Politik - Jaya Suprana
KOLOM POLITIK-EKONOMI "Tak Gendong ke Mana-mana" - Budiarto Shambazy
Uang dan Kekuasaan - Jakob Sumardjo
EDITORIAL MI - Pentas Wajah tidak Bersalah
Ruang Publik Komunitas Virtual - Gun Gun Heryanto
Menakar People Power - Prof Bachtiar Aly
Reality Show Penegakan Hukum - Adnan Topan Husodo
selengkapnya
edisi 9 Nopember
edisi 7 Nopember
edisi 6 Nopember
edisi 5 Nopember
edisi 4 Nopember
edisi 30 Oktober -3 Nopember
silah simak lagi rekaman audio (lengkap) persekongkolan para bedebah dibawah ini
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
| Reaksi: |
Langgan:
Entri (Atom)






