SERUAN AKSI
Dukung Deklarasi Klimaforum 2009 (Forum TandIngan COP 15)
Kami membutuhkan dukungan anda menjadi penandatangan deklarasi Klimaforum, cantumkan dukungan anda di
http://spreadsheets.google.com/viewform?hl=da&formkey=dHdJS0dWM2ZoUE1zM0xVM3BRXzlQU0E6MA
selengkapnya Deklarasi Klimaforum 2009 (Edisi Indonesia)
Aksi Kampung Pengungsi Keadilan Iklim di Kedubes AS : US is Carbon Mafia Leader
Cicak-cicak Bersatulah!
Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi
Pidato Presiden Terkait Kasus Century dan Bibit-Chandra
Laporan Lengkap Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK Atas Kasus PT Bank Century, Tbk
Kumpulan Artikel Opini Terkait di Media Massa (Sejak 30 Oktober),
Skandal Century, Disfungsi Presiden & Turbulensi Politik : Menakar Potensi Gerakan Ekstra Parlementer, People’s Power dan Lahirnya Kekuatan Politik Alternatif (Artikel Pilihan)
Politik Pelemahan KPK di Era Presiden SBY (+ Identifikasi 13 Jurus Melumpuhkan KPK)
Mahkamah Rakyat : NEGARA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PELANGGARAN HAM DAN PENYELEWENGAN UANG RAKYAT
KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)
KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)
baca juga
BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI
Kumpulan 80 Artikel Opini dan E-Book Tentang (Lawan) Neoliberalisme
Senin, 27 Oktober 2008
Pergulatan Demokrasi Liberal (Sepenggal Sejarah RI Dalam Liputan Tempo)
simak pula biografi : Muhammad Natsir, Muhammad Hatta, Tan Malaka, DN Aidit
Berikut adalah link-link artikel "Pergulatan Demokrasi Liberal", edisi khusus Tempo menyambut ulang tahun Republik Indonesia yang ke-62.
semoga masih bermanfaat
Demokrasi Liberal tahun 1950-an adalah era paling kontroversial dalam perjalanan Republik Indonesia. Ada yang bilang ini sistem impor dari Barat dan bukan keinginan mayoritas rakyat. Banyak pula yang mengenangnya sebagai masa paling demokratis. Mahkamah Agung masih berwibawa. Jaksa dan hakim amat dihormati. Atas dasar apa Soekarno membubarkannya?
Edisi khusus Tempo menyambut ulang tahun Republik Indonesia yang ke-62 mencoba membaca ulang masa ini. Dilengkapi kolom-kolom khusus, kesaksian para pelaku sejarah, dokumen, memoar, serta catatan dari Indonesianis Ben Anderson dan Boyd R.Compton
Ada Revolusi di Bulan Agustus 1945
Menimbang Demokrasi Liberal
Lahirnya Sebuah Optimisme
Pelajaran dari Dunia yang Hiruk-Pikuk
Demokrasi Parlementer, Optimisme yang Terabaikan
Nasi Uduk di Lapangan Kremlin
Panas di Sidang, Akrab di Luar
Tersesat di Jalan yang Benar
Pemberontakan Separuh Jalan
Tarikan Konstitusionalisme + Jebakan Tradisionalisme = RI
Menguji Kemandirian Mahkamah
Tak Pasti Karena Si Bung
Menghalau Korupsi di Awal Republik
Menjerat dengan Aturan Devisa
Misteri Si Jalak Harupat
Tak Mempan Katabelece
"The Golden 1950s": Hasil Memori Terbatas
Kisah Asa Bafagih
Demi Martabat Peradilan
Demokrasi dan Rule of Law, Pelajaran dari 1950-an
Demokrasi di Ujung Senapan
Empat Meriam Setelah Rinai Hujan
Cobra Menyerbu Istana
Nasionalisasi Berakhir Buntung
Berkah Kecil dari Shell
Nasution, Jalan Tengah, dan Politik Militer
Peraturan yang Menggusur Tionghoa
Terusir dari Kampung Sendiri
Empat Masa ’Persoalan Cina’
Kartun: Roh Demokrasi Liberal
Hatta: Serigala, Rasuna Said: Kucing Garong
Sebuah Indonesia Idaman Mereka
Seandainya
Sabtu, 25 Oktober 2008
1,5 juta Buku Online (E-Book) Gratis Dari The Universal Digital Library
Proyek bersama Universitas Carnegie Mellon di AS, Universitas Zhejiang China, Institut Sains India, dan Perpustakaan Alexandria Mesir telah selesai melakukan digitalisasi lebih dari 1,5 juta judul buku dan kini publikasi onlinenya sudah dapat di akses di di www.ulib.org.
Memang dari jumlah itu baru 50% diantaranya yang dapat diakses secara penuh, Sedangkan 50% sisanya masih dilindungi hak cipta. Baru sekitar 10% buku dengan hak cipta, didapatkan ijinnya untuk diakses secara penuh.
Adapun buku-buku tersebut mencakup bidang Astonomi, Biologi, Kimia, Pendidikan, Ekonomi, Teknik, Geografi, Kesehatan, Sejarah, Hukum, Matematika, Musik dan Agama. Berbagai literatur yang ditulis dalam rentang waktu 1500-2007 ini mencakup literature dalam bahasa Chinese, English, Arabic, Bengali, Telugu, Kannada, Tamil, Hindi, Sanskrit, Persian, Marathi, dan Urdu. 972.513 literatur dalam bahasa Cina, Inggris 382.046, Arab 40.293, dan selebihnya terbagi dalam 12 bahasa lainnya.
Kapan ya Universitas Indonesia atau Universitas Gajah Mada mempelopori upaya serupa disini ?
Disarikan dari Kompas dan www.ulib.org
silahkan tengok pula
397 Free e-Book dari BUKU-e LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/11/397-free-e-book-dari-buku-e-lipi.html
180 E-Book Gratis untuk Transformasi Sosial
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/11/180-free-e-book-kritis-untuk.html
Rabu, 22 Oktober 2008
190 E-Book Bebas Untuk Pendidikan dan Transformasi Sosial
Terima kasih, untuk lembaga-lembaga dan para penulis yang telah memungkinkan penyebaran buku-buku/bacaan secara online dan gratis.
salam pembebasan
andreas iswinarto
kerja.pembebasan@gmail.com
Pendidikan Popular : Membangun Kesadaran Kritis
Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo
Kontributor : Russ Dilts Read Book 2000
Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis
Judul Asli:Stepping Forward
Penulis: Victoria Johnson, Edda Ivan-Smith, Gill Gordon, Pat Pridmore, Patta Scot
Penerjemah:Harry Prabowo dan Nur Cholis, Insist Press
Kampanye Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pendidikan yang Berperspektif HAM
Kampanye Komnas HAM
Modul Pelatihan Analisa Gender dan Anggaran Berkeadilan Gender
OLEH Edriana Noerdin, Dkk.
Pendidikan Pemberdayaan
OLEH Information and Consultations Women's Centers
Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi Sumber : Indoprogress
Land Reform Desa
Penulis: Irwan Nirwana, Boy Frido, Noer Fauzi, Dony Hendro
Dusta Industri Pangan
Judul Asli:Nourrir le Monde ou L'agrobusiness, Enquete Sur Monsanto
Penulis: Isabelle Delforge Penerjemah:Sonya Sondakh Sumber : Insist Press
Bisnis Kehidupan
Disunting oleh: Tim REaD Book
Ekologi, Kapitalisme, Sosialisasi Alam
Walhi
Politik Gerakan Buruh di Asia Tenggara
Naskah ini pernah dipublikasikan di Jurnal SEDANE dan kemudian dimuat kembali untuk IndoProgress, atas ijin penulis
Vedi R Hadiz
Tahun yang Tak Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65
Institut Sejarah Sosial Indonesia bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK)
© John Roosa, Ayu Ratih, Hilmar Farid
Cetakan Pertama: Januari 2004
ISBN 979-8981-26-X
=====================================================================================
Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia
## andreas iswinarto ##
silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua
==================================================================================
Hak Asasi Manusia Minim Dukungan Politik
Penerbit : Elsam
Pemberdayaan Hukum Bagi Masyarakat Miskin
Sumber : YLBHI Editor: Restu Mahyuni
HAK-HAK NORMATIF BURUH/PEKERJA DALAM TIGA PAKET UNDANG-UNDANG PERBURUHAN
OLEH Divisi Buruh Lembaga Bantuan Hukum - Bali
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas
James Petras (indoPROGRESS)
SATU DEKADE REFORMASI: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia
Studi DEMOS
DARI REPRESENTASI ELITIS MENUJU REPRESENTASI POPULAR
Studi DEMOS
Reason in Revolt
Alan Woods dan Ted Grant
Propaganda, Kuasa, Dan Pengetahuan
Genealogi Ilmu Komunikasi di Indonesia, Suatu Penelusuran Awal
Ignatius Haryanto Sumber : Indoprogress
Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial
Yanuar Nugroho
Konflik dan Ide Jurnalisme Perdamaian
OLEH Stanley
Media untuk Pengembangan Komunitas
OLEH Suranto, Hanif
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Radio Prima dan BMC
OLEH Errol Jonathan dan Tracy Pasaribu
BACAAn LIAR": BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN
oleh Razif
sumber : http://members.fortunecity.com/edicahy/
14 Buku Tan Malaka\
Karya-Karya Che Guevara
Kumpulan Catatan Pinggir Gunawan Muhamad
Dunia Puisi Joko Pinurbo
Kabar Berita-Kumpulan Tulisan tentang Pramoedya Ananta Tour
Semua Bisa Seperti Jembrana: Kisah Sukses sebuah Kabupaten Meningkatkan Kesejahteraan Rakyatnya
Fund Raising ala Media
OLEH Hamid Abidin, PIRAC
Bukan Perempuan Biasa (Majalah Tempo)
100 Tahun Kebangkitan Nasional : Indonesia Yang Kuimpikan dalam 100 Teks (Majalah Tempo)
G 30 S dan Peran Aidit (Majalah Tempo)
Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan : 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan (Kompas)
Buku Online – Terbitan Kontras
Konvensi Ham Internasional
mencakup :
Deklarasi HAM
Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kedua Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik, Untuk Penghapusan Hukuman Mati
Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Protokol Tambahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Protokol Tambahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Konvensi Hak-Hak Anak
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak-Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindak Penghilangan Secara Paksa
Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Orang Penyandang Cacat
Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindakan Penghilangan Paksa
Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi - Pengadilan Hak Asasi Manusia ad hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984
Tawaran Model Penyelesaian Pelanggaran Berat HAM di Aceh
HAM Belum Jadi Etika Politik
Aceh Damai Dengan Keadilan
Menolak Impunitas Serangkaian Prinsip perlindungan dan pemajuan HAK ASASI MANUSIA Melalui Upaya memerangi Impunitas Prinsip-prinsip hak korban
Politik Militer Dalam Transisi Demokrasi Indonesia
Laporan Penelitian Bisnis Militer di Perusahaan Minyak Bojonegoro-Jawa Timur
Ketika Moncong Senjata Ikut Berniaga : "Laporan Penelitian Ketelibatan Bisnis Militer Dalam Bisnis Di Bojoneogro bouven Digoel dan Poso"
MEREKA BILANG DI SINI TIDAK ADA TUHAN; SUARA KORBAN TRAGEDI PRIOK
Buku Online –Terbitan Yayasan Tanah Merdeka
Agama dan Suku:
Kepemilikan dan Penguasaan Usaha Pertanian Di Dataran Tinggi Sulawesi Tengah
Marmer, Migas, dan Militer
Di Ketiak Sulawesi Timur : Antara Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Investor
KETIKA PETANI ANGKAT BICARA, DENGAN SUARA DAN MASSA:
Belajar dari Sejarah Gerakan Petani di Indonesia dan Amerika Selatan
PEREDARAN ILEGAL SENJATA API DI SULAWESI TENGAH
INCO : RAHMAT ATAU PETAKA ?
Buku Online Terbitan JKPP
Buku Seri Panduan Pemetaan Partisipatif Pemetaan dengan Kompas : Terbitan JKPP
Buku Online – Terbitan IRE Jogjakarta
NEOLIBERALISME MENGGOYANG AGAMA
POLITIK PERLAWANAN
KRISIS DEMOKRASI LIBERAL
PRO POOR BUDGETING:
Politik Baru Reformasi Anggaran Daerah untuk Pengurangan Kemiskinan
DAERAH BUDIMAN: Prakarsa dan Inovasi Lokal Membangun Kesejahteraan
BENIH PERUBAHAN DI ATAS FONDASI POLITIK YANG RAPUH
(Studi tentang Politik Anggaran Daerah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara)
Buku Online : Terbitan ELSAM
Laporan Lengkap Komisi Kebenaran dan Penerimaan Timor Leste (CAVR)
Buku Online – Terbitan ICW
Roadmap KPK 2007-2011 : Menuju Pemberantasan Korupsi yang Lebih Efektif
Adnan Topan Husodo- ICW dan Koalisi Pemantau Peradilan, 2008
Utang yang Memiskinkan : Studi Kasus Proyek Bank Dunia di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah
Coen Husain Pontoh, Ade Irawan, Adnan Topan Husodo, Heni Yulianto, Sholihatun Kiptiyah ICW, April 2002
Berkah Proyek Hibah : Studi Kasus Proyek Dombo Sayung Floodway dan Punggur Irrigarion Project
Ade Irawan, Solihatun Kiptiyah, Denda Alamsyah ICW, Januari 2004
Eksaminasi Publik : Partisipasi Masyarakat Mengawasi Peradilan
Susanti Adi Nugroho [et al] ; editor : Emerson Yuntho [et al] ICW, 2003
Bisnis Militer Mencari Legitimasi
Danang Widoyoko, Irfan Muktiono (alm), Adnan Topan Husodo, Barly Haliem Noe, Agung WijayaICW, 2003
Mendagangkan Sekolah : Studi Kebijakan Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) di DKI Jakarta
Ade Irawan, Eriyanto, Luki Djani, Agus Sunaryanto ICW, Mei 2004
Buku Online – Terbitan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK)
Pengujian Undang-Undang dan Proses Legislasi
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Bobot Kurang Janji Masih Terutang
Panduan Hukum Di Indonesia 2006
Catatan Akhir tahun PSHK tentang Kinerja Legislasi tahun 2005
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Hak Masyarakat di Bidang Identitas, 2002
Diskursus tentang Civil Society
Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia
Manifesto Ekonomi Rakyat Pekerja
Gerakan Serikat Buruh : Dari Jaman Kolonial Hindia Belanda Hingga Orde Baru
Pekalongan Dari 1830-1970 : Transformasi Petani Menjadi Buruh Perkebunan
Mozaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe
Istrumen Kajian Hak-Hak Kesehatan Perempuan
Buku Panduan Perempuan di Parlemen: Bukan Sekedar Jumlah
Dari Desa Ke Desa - Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam
Perjuangan Perempuan Nelayan Morodemak untuk Keluarga dan Masyarakat Nelayan
Pembangunan untuk Siapa? Dampak Reklamasi Pantai terhadap Perempuan Nelayan dan Anak di Pantai Utara Jakarta
Warga Pesisir, Haruskah Tersingkir?
Tokalekaju - Di Bawah Kaki Langit Jantung Sulawesi
Raksasa Dasamuka: Kejahatan Kehutanan, Korupsi dan Ketidakadilan di Indonesia
Tau Taa Wana Bulang : Bergerak Untuk Berdaya
3 Seri Buku : Global Warming
Global Green Charter – Piagam Kaum Hijau Sedunia
3 E-Book Foum Desa (harus mendaftar dulu untuk login)
Modul APBDes Partisipatif, Buku Pintar Alokasi Dana Desa, Studi Alokasi Dana Desa
Buku-buku Prof Jimly Asshiddiqie
Pengantar Ilmu Hukum Tata negara jilid 1
Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang
Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi
Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung
Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional
Menentang Globalisme Imperialis : Pengantar Ekonomi-Politik Perburuhan
Kursus Pemula Untuk Buruh
Ideologi Politik Serikat Buruh
PAKTA SOSIAL BERBASIS BURUH: MUNGKINKAH?
Penguasaan Dan Pendistribusian Lahan Oleh Rakyat
BEKERJA BERSAMA ANGGOTA SERIKAT PETANI PASUNDAN DALAM MEMPENGARUHI KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA1
Perjuangan Federasi Serikat Tani Dunia La Via Campesina
TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAN TRANSFORMASI SOSIAL: SUATU PENDEKATAN BUDAYA
PEMBELAJARAN BUDIDAYA PADI EKOLOGIS BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT
“REVOLUSI BIJI MINYAK” : Dari Konversi Lahan Menuju Konversi Pangan
Ekonomi Politik Pembaruan Desa
PERBEDAAN PERSEPSI MENGENAI PENGUASAAN TANAH DAN AKIBATNYA TERHADAP MASYARAKAT PETANI DI SUMATERA TIMUR
KEMAJUAN EKONOMI, REFORMASI AGRARIA DAN LAND REFORM DI PEDESAAN
Kepemilikan Tanah Di Sumatera Utara Tahun 1950a
Kehidupan Tanpa Minyak: Masa Depan yang Nyata
Indonesia: Kemunduran Sebuah Rejim Karbon (Karbokrasi)1
Reformasi Hutan pasca era Suharto
Menjala Ikan Terakhir
Hukum Lokal Sebagai Media Perlawanan
Penggambaran GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan
KUNTILANAK WANGI: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950
Teori Feminis dan Pekerjaan Sosial
Feminisme Ilmu Pengetahuan
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan
Lekra vs Manikebu
Kebudayaan Kekuasaan atau Sosiologi Kekuasaan
Kekerasan Indonesia dalam Sastra Peristiwa
LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA: 1945-1949
Jurnalisme Patriotis: Solusi atau Kemunduran?!
Rajawali Berlumuran Darah : Karya-karya Eksil Utuy Tatang Sontani
Negara dan Klas di Bawah Kapitalis Pinggiran
Sejarah dan Struktur Sosial Dalam Kajian Indonesia Kontemporer
KRISIS DAN UNDERGROUND ECONOMY DI INDONESIA
Masalah Perdagangan Bebas
Globalisasi dan Perlawanan
Kolonialisme, Tahap-tahap Kolonialisme dan Negara Kolonial
Upah, Harga dan Laba
Negara, Masyarakat dan Ekonomi
Masalah Ekonomi Indonesia
Kapitalisme Serta Produksi Barang Dagangan Di Jawa
Penanaman Modal Asing Berarti Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Indonesia
Negara Kolonial dalam Baju Baru
MILITER DAN KAPITALISME ERSATZ: BISNIS ABRI PADA MASA ORDE BARU
Kebijakan Pemerintah atas Modal Asing Pasca Proklamasi
Kapitalisme, Golongan Menengah dan Negara : Sebuah Catatan Penelitian
Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an
Nomor Satu Amerika : Monopoli Merkantilis
Spektrum Kemerdekaan Indonesia: Sebuah tinjauan selektif
Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
Sosialisme Utopian
Pledoi Sudisman
Indonesiaku, Indonesiamu
Marxisme Ilmu dan Amalnya
Menjelang Seabad NU: Di Tengah Neoliberalisme Masyarakat Nahdliyin Mau ke Mana?
Perdagangan, Globalisasi dan Perjuangan Melawan Kemiskinan
Kerja Upahan dan Kapital
Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi
Dari Kiri Menjadi Kanan : Pergeseran Ideologi Semaoen dalam “Tenaga Manusia”
Demiliterisasi dan Keadilan Transisional dalam Proses Demokratisasi di Indonesia
Penilaian Demokratisasi di Indonesia (276 hal)
Mengkaji Ulang Good Governance
Badan Perwakilan Desa: Arena Baru Kekuasaan dan Demokrasi Desa1
Kewargaan, Partisipasi dan Akuntabilitas: Sebuah Pengantar
Partisipasi Politik Lokal di Sumatera Barat
Pilkada Langsung: Resiko Politik, Biaya Ekonomi, Akuntabilitas Politik & Demokrasi Lokal
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
Reformasi di Indonesia Sebagai Proyek Neoliberal
Politik Minyak Hegemoni Imperialis AS
Pembebasan Nasional atau Nasionalisme
Biografi Sutan Syahrir
Biografi M Natsir
Biografi Muhammad Hatta
Biografi DN Aidit
Bung Karno : 100 Tahun Dalam Sunyi
silah tengok pula url ini
397 Free e-Book dari BUKU-e LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Statistik : 588 penulis dari 397 judul buku di 60 bidang kajian dengan total 83.728 halaman
1,5 juta Buku Online (E-Book) Gratis Dari The Universal Digital Library
Senin, 20 Oktober 2008
190 E-Book Bebas Untuk Pendidikan danTransformasi Sosial : (DiantaranyaTerbitan Kontras, ICW, PSHK, Tanah Merdeka, IRE, Elsam, JKPP
Terima kasih, untuk lembaga-lembaga dan para penulis yang telah memungkinkan penyebaran buku-buku/bacaan secara online dan gratis.
salam pembebasan
andreas iswinarto
kerja.pembebasan@gmail.com
Pendidikan Popular : Membangun Kesadaran Kritis
Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo
Kontributor : Russ Dilts Read Book 2000
Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis
Judul Asli:Stepping Forward
Penulis: Victoria Johnson, Edda Ivan-Smith, Gill Gordon, Pat Pridmore, Patta Scot
Penerjemah:Harry Prabowo dan Nur Cholis, Insist Press
Kampanye Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pendidikan yang Berperspektif HAM
Kampanye Komnas HAM
Modul Pelatihan Analisa Gender dan Anggaran Berkeadilan Gender
OLEH Edriana Noerdin, Dkk.
Pendidikan Pemberdayaan
OLEH Information and Consultations Women's Centers
Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi Sumber : Indoprogress
Land Reform Desa
Penulis: Irwan Nirwana, Boy Frido, Noer Fauzi, Dony Hendro
Dusta Industri Pangan
Judul Asli:Nourrir le Monde ou L'agrobusiness, Enquete Sur Monsanto
Penulis: Isabelle Delforge Penerjemah:Sonya Sondakh Sumber : Insist Press
Bisnis Kehidupan
Disunting oleh: Tim REaD Book
Ekologi, Kapitalisme, Sosialisasi Alam
Walhi
Politik Gerakan Buruh di Asia Tenggara
Naskah ini pernah dipublikasikan di Jurnal SEDANE dan kemudian dimuat kembali untuk IndoProgress, atas ijin penulis
Vedi R Hadiz
Tahun yang Tak Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65
Institut Sejarah Sosial Indonesia bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK)
© John Roosa, Ayu Ratih, Hilmar Farid
Cetakan Pertama: Januari 2004
ISBN 979-8981-26-X
=====================================================================================
Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia
## andreas iswinarto ##
silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua
==================================================================================
Hak Asasi Manusia Minim Dukungan Politik
Penerbit : Elsam
Pemberdayaan Hukum Bagi Masyarakat Miskin
Sumber : YLBHI Editor: Restu Mahyuni
HAK-HAK NORMATIF BURUH/PEKERJA DALAM TIGA PAKET UNDANG-UNDANG PERBURUHAN
OLEH Divisi Buruh Lembaga Bantuan Hukum - Bali
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas
James Petras (indoPROGRESS)
SATU DEKADE REFORMASI: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia
Studi DEMOS
DARI REPRESENTASI ELITIS MENUJU REPRESENTASI POPULAR
Studi DEMOS
Reason in Revolt
Alan Woods dan Ted Grant
Propaganda, Kuasa, Dan Pengetahuan
Genealogi Ilmu Komunikasi di Indonesia, Suatu Penelusuran Awal
Ignatius Haryanto Sumber : Indoprogress
Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial
Yanuar Nugroho
Konflik dan Ide Jurnalisme Perdamaian
OLEH Stanley
Media untuk Pengembangan Komunitas
OLEH Suranto, Hanif
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Radio Prima dan BMC
OLEH Errol Jonathan dan Tracy Pasaribu
BACAAn LIAR": BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN
oleh Razif
sumber : http://members.fortunecity.com/edicahy/
14 Buku Tan Malaka\
Karya-Karya Che Guevara
Kumpulan Catatan Pinggir Gunawan Muhamad
Dunia Puisi Joko Pinurbo
Kabar Berita-Kumpulan Tulisan tentang Pramoedya Ananta Tour
Semua Bisa Seperti Jembrana: Kisah Sukses sebuah Kabupaten Meningkatkan Kesejahteraan Rakyatnya
Fund Raising ala Media
OLEH Hamid Abidin, PIRAC
Bukan Perempuan Biasa (Majalah Tempo)
100 Tahun Kebangkitan Nasional : Indonesia Yang Kuimpikan dalam 100 Teks (Majalah Tempo)
G 30 S dan Peran Aidit (Majalah Tempo)
Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan : 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan (Kompas)
Buku Online – Terbitan Kontras
Konvensi Ham Internasional
mencakup :
Deklarasi HAM
Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kedua Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik, Untuk Penghapusan Hukuman Mati
Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Protokol Tambahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Protokol Tambahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Konvensi Hak-Hak Anak
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak-Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindak Penghilangan Secara Paksa
Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Orang Penyandang Cacat
Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindakan Penghilangan Paksa
Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi - Pengadilan Hak Asasi Manusia ad hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984
Tawaran Model Penyelesaian Pelanggaran Berat HAM di Aceh
HAM Belum Jadi Etika Politik
Aceh Damai Dengan Keadilan
Menolak Impunitas Serangkaian Prinsip perlindungan dan pemajuan HAK ASASI MANUSIA Melalui Upaya memerangi Impunitas Prinsip-prinsip hak korban
Politik Militer Dalam Transisi Demokrasi Indonesia
Laporan Penelitian Bisnis Militer di Perusahaan Minyak Bojonegoro-Jawa Timur
Ketika Moncong Senjata Ikut Berniaga : "Laporan Penelitian Ketelibatan Bisnis Militer Dalam Bisnis Di Bojoneogro bouven Digoel dan Poso"
MEREKA BILANG DI SINI TIDAK ADA TUHAN; SUARA KORBAN TRAGEDI PRIOK
Buku Online –Terbitan Yayasan Tanah Merdeka
Agama dan Suku:
Kepemilikan dan Penguasaan Usaha Pertanian Di Dataran Tinggi Sulawesi Tengah
Marmer, Migas, dan Militer
Di Ketiak Sulawesi Timur : Antara Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Investor
KETIKA PETANI ANGKAT BICARA, DENGAN SUARA DAN MASSA:
Belajar dari Sejarah Gerakan Petani di Indonesia dan Amerika Selatan
PEREDARAN ILEGAL SENJATA API DI SULAWESI TENGAH
INCO : RAHMAT ATAU PETAKA ?
Buku Online Terbitan JKPP
Buku Seri Panduan Pemetaan Partisipatif Pemetaan dengan Kompas : Terbitan JKPP
Buku Online – Terbitan IRE Jogjakarta
NEOLIBERALISME MENGGOYANG AGAMA
POLITIK PERLAWANAN
KRISIS DEMOKRASI LIBERAL
PRO POOR BUDGETING:
Politik Baru Reformasi Anggaran Daerah untuk Pengurangan Kemiskinan
DAERAH BUDIMAN: Prakarsa dan Inovasi Lokal Membangun Kesejahteraan
BENIH PERUBAHAN DI ATAS FONDASI POLITIK YANG RAPUH
(Studi tentang Politik Anggaran Daerah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara)
Buku Online : Terbitan ELSAM
Laporan Lengkap Komisi Kebenaran dan Penerimaan Timor Leste (CAVR)
Buku Online – Terbitan ICW
Roadmap KPK 2007-2011 : Menuju Pemberantasan Korupsi yang Lebih Efektif
Adnan Topan Husodo- ICW dan Koalisi Pemantau Peradilan, 2008
Utang yang Memiskinkan : Studi Kasus Proyek Bank Dunia di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah
Coen Husain Pontoh, Ade Irawan, Adnan Topan Husodo, Heni Yulianto, Sholihatun Kiptiyah ICW, April 2002
Berkah Proyek Hibah : Studi Kasus Proyek Dombo Sayung Floodway dan Punggur Irrigarion Project
Ade Irawan, Solihatun Kiptiyah, Denda Alamsyah ICW, Januari 2004
Eksaminasi Publik : Partisipasi Masyarakat Mengawasi Peradilan
Susanti Adi Nugroho [et al] ; editor : Emerson Yuntho [et al] ICW, 2003
Bisnis Militer Mencari Legitimasi
Danang Widoyoko, Irfan Muktiono (alm), Adnan Topan Husodo, Barly Haliem Noe, Agung WijayaICW, 2003
Mendagangkan Sekolah : Studi Kebijakan Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) di DKI Jakarta
Ade Irawan, Eriyanto, Luki Djani, Agus Sunaryanto ICW, Mei 2004
Buku Online – Terbitan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK)
Pengujian Undang-Undang dan Proses Legislasi
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Bobot Kurang Janji Masih Terutang
Panduan Hukum Di Indonesia 2006
Catatan Akhir tahun PSHK tentang Kinerja Legislasi tahun 2005
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Hak Masyarakat di Bidang Identitas, 2002
Diskursus tentang Civil Society
Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia
Manifesto Ekonomi Rakyat Pekerja
Gerakan Serikat Buruh : Dari Jaman Kolonial Hindia Belanda Hingga Orde Baru
Pekalongan Dari 1830-1970 : Transformasi Petani Menjadi Buruh Perkebunan
Mozaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe
Istrumen Kajian Hak-Hak Kesehatan Perempuan
Buku Panduan Perempuan di Parlemen: Bukan Sekedar Jumlah
Dari Desa Ke Desa - Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam
Perjuangan Perempuan Nelayan Morodemak untuk Keluarga dan Masyarakat Nelayan
Pembangunan untuk Siapa? Dampak Reklamasi Pantai terhadap Perempuan Nelayan dan Anak di Pantai Utara Jakarta
Warga Pesisir, Haruskah Tersingkir?
Tokalekaju - Di Bawah Kaki Langit Jantung Sulawesi
Raksasa Dasamuka: Kejahatan Kehutanan, Korupsi dan Ketidakadilan di Indonesia
Tau Taa Wana Bulang : Bergerak Untuk Berdaya
3 Seri Buku : Global Warming
Global Green Charter – Piagam Kaum Hijau Sedunia
3 E-Book Foum Desa (harus mendaftar dulu untuk login)
Modul APBDes Partisipatif, Buku Pintar Alokasi Dana Desa, Studi Alokasi Dana Desa
Buku-buku Prof Jimly Asshiddiqie
Pengantar Ilmu Hukum Tata negara jilid 1
Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang
Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi
Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung
Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional
Menentang Globalisme Imperialis : Pengantar Ekonomi-Politik Perburuhan
Kursus Pemula Untuk Buruh
Ideologi Politik Serikat Buruh
PAKTA SOSIAL BERBASIS BURUH: MUNGKINKAH?
Penguasaan Dan Pendistribusian Lahan Oleh Rakyat
BEKERJA BERSAMA ANGGOTA SERIKAT PETANI PASUNDAN DALAM MEMPENGARUHI KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA1
Perjuangan Federasi Serikat Tani Dunia La Via Campesina
TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAN TRANSFORMASI SOSIAL: SUATU PENDEKATAN BUDAYA
PEMBELAJARAN BUDIDAYA PADI EKOLOGIS BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT
“REVOLUSI BIJI MINYAK” : Dari Konversi Lahan Menuju Konversi Pangan
Ekonomi Politik Pembaruan Desa
PERBEDAAN PERSEPSI MENGENAI PENGUASAAN TANAH DAN AKIBATNYA TERHADAP MASYARAKAT PETANI DI SUMATERA TIMUR
KEMAJUAN EKONOMI, REFORMASI AGRARIA DAN LAND REFORM DI PEDESAAN
Kepemilikan Tanah Di Sumatera Utara Tahun 1950a
Kehidupan Tanpa Minyak: Masa Depan yang Nyata
Indonesia: Kemunduran Sebuah Rejim Karbon (Karbokrasi)1
Reformasi Hutan pasca era Suharto
Menjala Ikan Terakhir
Hukum Lokal Sebagai Media Perlawanan
Penggambaran GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan
KUNTILANAK WANGI: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950
Teori Feminis dan Pekerjaan Sosial
Feminisme Ilmu Pengetahuan
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan
Lekra vs Manikebu
Kebudayaan Kekuasaan atau Sosiologi Kekuasaan
Kekerasan Indonesia dalam Sastra Peristiwa
LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA: 1945-1949
Jurnalisme Patriotis: Solusi atau Kemunduran?!
Rajawali Berlumuran Darah : Karya-karya Eksil Utuy Tatang Sontani
Negara dan Klas di Bawah Kapitalis Pinggiran
Sejarah dan Struktur Sosial Dalam Kajian Indonesia Kontemporer
KRISIS DAN UNDERGROUND ECONOMY DI INDONESIA
Masalah Perdagangan Bebas
Globalisasi dan Perlawanan
Kolonialisme, Tahap-tahap Kolonialisme dan Negara Kolonial
Upah, Harga dan Laba
Negara, Masyarakat dan Ekonomi
Masalah Ekonomi Indonesia
Kapitalisme Serta Produksi Barang Dagangan Di Jawa
Penanaman Modal Asing Berarti Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Indonesia
Negara Kolonial dalam Baju Baru
MILITER DAN KAPITALISME ERSATZ: BISNIS ABRI PADA MASA ORDE BARU
Kebijakan Pemerintah atas Modal Asing Pasca Proklamasi
Kapitalisme, Golongan Menengah dan Negara : Sebuah Catatan Penelitian
Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an
Nomor Satu Amerika : Monopoli Merkantilis
Spektrum Kemerdekaan Indonesia: Sebuah tinjauan selektif
Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
Sosialisme Utopian
Pledoi Sudisman
Indonesiaku, Indonesiamu
Marxisme Ilmu dan Amalnya
Menjelang Seabad NU: Di Tengah Neoliberalisme Masyarakat Nahdliyin Mau ke Mana?
Perdagangan, Globalisasi dan Perjuangan Melawan Kemiskinan
Kerja Upahan dan Kapital
Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi
Dari Kiri Menjadi Kanan : Pergeseran Ideologi Semaoen dalam “Tenaga Manusia”
Demiliterisasi dan Keadilan Transisional dalam Proses Demokratisasi di Indonesia
Penilaian Demokratisasi di Indonesia (276 hal)
Mengkaji Ulang Good Governance
Badan Perwakilan Desa: Arena Baru Kekuasaan dan Demokrasi Desa1
Kewargaan, Partisipasi dan Akuntabilitas: Sebuah Pengantar
Partisipasi Politik Lokal di Sumatera Barat
Pilkada Langsung: Resiko Politik, Biaya Ekonomi, Akuntabilitas Politik & Demokrasi Lokal
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
Reformasi di Indonesia Sebagai Proyek Neoliberal
Politik Minyak Hegemoni Imperialis AS
Pembebasan Nasional atau Nasionalisme
Biografi Sutan Syahrir
Biografi M Natsir
Biografi Muhammad Hatta
Biografi DN Aidit
Bung Karno : 100 Tahun Dalam Sunyi
silah tengok pula url ini
397 Free e-Book dari BUKU-e LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Statistik : 588 penulis dari 397 judul buku di 60 bidang kajian dengan total 83.728 halaman
1,5 juta Buku Online (E-Book) Gratis Dari The Universal Digital Library
Minggu, 19 Oktober 2008
Kata Adalah Senjata, Lalu Warna Senjata Juakah? : Perjumpaan Saya dan Dani Munggoro
Barangkali seri tulisan "Orkestrasi Pergerakan Yang Apik" berikut ini dapat menggambarkan karakter, visi, mimpi dan kegelisahan itu. Tapi sebenarnya melalui seri tulisan tersebut saya ingin mengajak anda untuk mengenal seorang teman. Dan rangkaian seri tulisan saya itu tak bisa dipungkiri diantaranya terinspirasi oleh gagasan-gagasan yang dilontarkan dan energi yang dipancarkan teman saya ini.
Let’s Jazz Together?
Donal Bebek, Wiji Thukul, Subcomandante Marcos Titik Koma Zapatista, PRD dan Walt Disney
Keajaiban Persaudaraan Para Kodok
Mengapa tawa dan tangis, bisa lahirkan air mata
Lao Tzu, de Mello dan Boneka Garam
Kata Adalah Senjata. Lalu Warna Adalah Senjata Juakah?
....bahwa Semua Ini Dimulai Dari Seekor Tikus
Ia adalah Dani Munggoro pendiri dan penggerak INSPIRIT INNOVATION CIRCLES. Seperti diperkenalkannya IIC is dedicated to promoting social innovation through vibrant communication skills and creative community initiatives in Indonesia. Gagasan yang 'dijual' oleh Dani Munggoro nampaknya menyebar cepat dikalangan gerakan sosial dan teristimewa gerakan lingkungan hidup dimana Bung Dani mengawali perjalanannya dalam dunia pergerakan. Gagasannya menurut saya sangat menyegarkan dan bisa mencairkan kebekuan. Meminjam satu serial terbitan buku kawan-kawan Resist Book, saya pikir Bung Dani akan bersepakat bahwa ada momen ketika gerakan-gerakan sosial kehabisan gagasan dan kekeringan imajinasi dan dari sanalah nampaknya Dani berangkat dengan Inspiritnya.
Selain itu untuk memperkenal Bung Dani yang luar biasa energik dan kreatif ini saya menemukan dua petikan tulisan tentang warna, yakni Subcomandante Marcos dan Musashi. . Riwayat Warna ini nampaknya sekaligus memberi gambar tentang relasi ide dan gagasan antara saya dan Dani. Bahwa disatu sisi ada watak dasar yang berbeda, tapi disisi lain bagi saya mimpi-mimpinya acapkali bersinggungan dengan mimpi-mimpi saya, dan pula menyumbangkan percikan dan sapuan warna yang memperkaya.
Berikut ini adalah beberapa tulisan bung Dani Munggoro. Secara sengaja dipilih untuk sebaik mungkin menampilkan potret-potret yang paling mewakilinya, walau itu dilakukan hanya melalui proses scanning arsip tulisan dan kepekaan intuisi saja.
Salam hangat
Andreas Iswinarto
INSPIRIT INNOVATION CIRCLES is dedicated to promoting social innovation through vibrant communication skills and creative community initiatives in Indonesia
Festive
Saya menempuh perjalanan menengok akar sepanjang 2000 km. Saya menikmati perjalanan sendiri. Membaca denyut hidup bumi manusia. "Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?" Idul Fitri bagi saya keberanian melihat masa lalu dan menatap masa depan.
Menarik lebaran kali ini saya membaca sketsa berbagai lapisan masyarakat dari balik kaca mobil. Sambil menemukan inspirasi yang bisa menjadi energi menangkap masa depan. Bertemu dengan beberapa teman di perjalanan. Mengasyikan. Berbicara tentang hidup yang lebih hidup.
http://www.inspiritinc.com/2008/10/festive.html
Democracy
Apa yang bisa Anda bayangkan bila negara Republik Indonesia lenyap dari muka bumi? Pentingkah kita menjadi warga Indonesia? Apa yang bisa kita banggakan menjadi Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini muncul dalam penulisan manual Menjadi Indonesia itu Bangga. Menulis buku panduan populer seperti ini harus ekstra hati-hati karena khawatir terperangkap pada perdebatan teoritik yang tak berkesudahan.
http://www.inspiritinc.com/2008/09/democracy.html
Art as Social Process
Process art is an artistic movement as well as a creative sentiment and world view where the end product of art and craft, the objet d’art, is not the principal focus
Kembali bertemu Ruang Rupa. Saya memperoleh cerita menarik. Mereka baru saja diundang dalam sebuah workhsop tentang New Institutionalism di Jepang. Kelompok peminat seni kontemporer memetakan sosok organisasi Ruang Rupa, sebagai "new institution" dalam memproduksi karya senirupa.
http://www.inspiritinc.com/2008/09/art-as-social-process.html
Subversive
Memang menarik mendiskusikan soal governance. Governance sering dilihat menjadi alat memperbaiki relasi antar pihak yang berkuasa. Dalam konteks liberalisasi perdagangani, governance adalah jalan tol pagi para investor. Dalam tesis ini, governance menjadii alat baru menjinakkan kekuasan lokal agar tunduk pada agenda pasar bebas. Bagaimana menyiasati governance supaya berhikmat bagi kaum marjinal?
http://www.inspiritinc.com/2008/09/governance-again.html
Obama Attack
Dua hari ini, kepala saya isinya cuma Obama. Saya tertarik mengamati bagaimana ia melakukan pendidikan politik kepada warga dunia. Saya melihat pemilihan umum lebih pada proses pendidikan dibandingkan dengan hasil pemenangnya. Siapa pun presidennya, dunia pasti tetap bergerak menurut hukumnya sendiri.
Kita bisa belajar bagaimana kaum progresif bekerja bahu membahu mempromosikan We Can Change. Kemudian, We Can Change. Believe it. Ini mantra luar biasa. Dan, mampu menghipnotis kaum progresif di Eropa, saat Obama berpidato di Berlin.
http://www.inspiritinc.com/2008/08/obama-attack.html
No More Green
Apa persepsi Anda saat mendengar kata "hijau"? Saya melihat kata "green" sudah mengalami inflasi. Terlalu banyak orang menggunakan kata "pertobatan manusia" ini. Semua iklan berlomba-lomba, paling hijau atau paling bertanggung jawab pada bumi. Lalu, kemana kata rakyat menghilang?
Sebenarnya popularitas kata "hijau" dalam konteks kelestarian lingkungan hidup patut dihargai. Perjuangan gerakan lingkungan menyelamatkan bumi pada akhir dijawab oleh kaum industrialis, politisi, birokrasi dan publik luas.
http://www.inspiritinc.com/2008/08/no-more-green.html
Kopi Renon
Setahun lalu, saya terlibat percakapan dengan Made Djapa dan Agus Krobo di Kopi Bali, Sanur. Kami membicarakan tentang Bali Impian. Bukan gagasan yang berupa bentuk melainkan proses. Bali Impian bukan milik sekelompok orang melainkan ia sebuah pertanyaan bagi semua orang. The Question is Answer.
Obrolan itu ternyata hidup, berkembang dan bermetamorfosa. Made dan kawan-kawan kini telah memiliki Kopi Renon, warung kopi, warung internet dan warung pengetahuan. Warung ini mudah dijangkau karena berada di pusat kota Denpasar di sebelah Cozy, tempat pijat refleksi yang bersih, murah dan ramah.
http://www.inspiritinc.com/2008/06/kopi-renon.html
Logic and Linguistic
Saya teringat ngobrol panjang lebar dengan beberapa kawan tentang asal muasal bahasa di sebuah pojok Sekolah Dasar Negeri Panjang Wetan 1 Pekalongan pada 1974, "Bagaimana bahasa diciptakan?" Itu diskusi masa kanak-kanak.
Kemudian, saat berdarmawisata ke Surabaya dan Malang bersama teman-teman SMP pada 1977, saya tertarik mengamati dialek bahasa Jawa mulai dari Pekalongan, Semarang, Surabaya dan Malang. Ternyata menarik mendengarkan perbedaan bunyi pada kata yang sama.
http://www.inspiritinc.com/2008/05/logic-and-linguistic.html
Appreciative Inquiry
The Average person looks without seeing, listens without hearing, touches without feeling, eats without tasting, moves without physical awareness.. talk without thinking.
Appreciative Inquiry adalah sebuah cara berfikir, melihat dan bertindak untuk melakukan perubahan organisasi yang luar biasa. Appreciative Inquiry percaya apa pun yang anda inginkan, pasti ada di dalam organisasi.
Bila pendekatan tradisional berupaya memilah organisasi menjadi kepingan-kepingan subsistem. Sebaliknya, appreciative inquiry menciptakan imajinasi untuk menghidupkan kembali keutuhan sistem.
http://www.inspiritinc.com/2008/04/appreciative-inquiry.html
Persuasion
Persuasion is an art of getting people to do something, they wouldn't ordinarily do if you didn't ask
Ini kutipan dari Aritotles dua milineum lalu. Ia mengamati, semua orang selalu melakukan persuasi kepada orang lain setiap hari. Menurutnya, persuasi adalah mendorong orang berubah dari titip A ke titip B.
Pada titik A biasanya audiens menolak gagasan Anda. Shifting attitude adalah persuasi dalam kacamata Aristotles. Karenanya, Anda harus menjelaskan maksud Anda dan yang paling penting Audiens percaya pada apa yang Anda katakan.
http://www.inspiritinc.com/2008/04/ethos.html
Opposable Mind
Pernahkah Anda perhatikan jemari Anda? Inilah rahasia beda manusia dan primata. Jemari kita dirancang sebagai opposable thumb. Coba perhatikan, jempol kita bisa berbutar 360 derajat. Desain inilah yang membuat kita bisa melakukan serangkaian kegiatan yang mustahil dilakukan mahluk lain seperti menulis, memasukan benang ke lubang jarum dan banyak lagi.
Bila tangan bisa melakukan hal-hal yang ajaib maka otak pun sebenarnya dirancang sebagai opposable mind. Artinya, kita bisa mengelola dua gagasan yang saling bertentangan di dalam benak dalam tensi yang kreatif.
http://www.inspiritinc.com/2008/02/opposable-mind.html
Font
Saya selalu tertarik dengan tipe dan jenis font. Saya punya teori sendiri soal font. Amburadul atau teraturnya sebuah negara atau organisasi bisa dilihat dari font yang mereka pakai.
Font bagi saya simbol bagaimana sistem bekerja atau tidak. Cara mengamati font, sederhana. Semisal, bila Anda ke Bandara International Soekarno Hatta, coba perhatikan jenis2 font yang dipakai pada papan-papan penunjuk mulai dari papan panduan yang raksasa atau petunjuk kecil di toilet.
http://www.inspiritinc.com/2008/02/font.html
On Perception
Apa itu organisasi? Saya membaca, organisasi hendaknya dipahami sebagai sistem sosial multidimensi yang punya dunianya sendiri dan ia akan eksis (dan hanya akan eksis) dengan bantuan subsistemnya serta mampu menjalin komunikasi dengan sistem2 lain.
Pandangan ini memberikan penegasan bahwa organisasi itu kompleks dan dinamis, penuh ambivalensi dan kontradiksi, kaya proses dan konflik. Pandangan tradisional senantiasa memandang organisasi sebagai sasaran, mesin dan terkonstruksi secara rasional. Pada pandangan tradisional, orang-orang yang bergabung dalam organisasi, selalu dipandang memiliki alasan rasional mengapa ia bergabung dengan organisasi.
http://www.inspiritinc.com/2008/01/on-perception.html
Suspend
Knowledge make us accountable
Ini sabda Che Guevara. Saya mengamini saja. Dan, saya akan menambahkan "Passion make us contagious". Pengalaman saya beberapa waktu lalu, bila sedang melatih di kalangan yang baru berkenalan, mereka selalu menyelidiki latar belakang saya.
Para pelatih vibran selalu disangka lulusan psikologi. Padahal para pelatih yang terakreditasi kebanyakan justru berlatar belakang hukum dan ekonomi atau public policy. Dan saya sendiri campursari antara kedokteran hewan dan antropologi. Inilah leher botol. Bagaimana orang belajar harus tahu dulu siapa yang akan menyampaikan materi?
http://www.inspiritinc.com/2007/12/knowledeg.html
The Shock Doctrine
Naomi Klein penulis buku No Logo kembali menerbitkan kumpulan essaynya, The Shock Doctrine : The Rise of Disaster Capitalism. Blank is Beautiful. Ia bilang neoliberalisme sedang menghapus dan membangun dunia yang "baru".
Saya tertarik dengan gagasan Blank is Beautiful. Menurutnya, yang membuat dunia shock, adalah riset dan pembangunan. Bagaimana dunia yang kompleks disederhanakan oleh kecerdasan otak-otak manusia (kita mengenalnya sebagia reduksionisme).
http://www.inspiritinc.com/2007/11/shock-doctrine.html
Monk(v)ement
Baru saja baca berita lima orang Monk ditembak mati oleh tentara Burma. Mengapa selalu harus menelan korban nyawa dulu setiap hendak berubah. Kita memang menanti Burma yang lebih baik.
Karena, Indonesia pun harus melalui jalan darah untuk menjadi negeri demokrasi. Sebuah pilihan yang kemudian kita tertatih-tatih mengamalkannya. Beberapa donor sekarang bicara soal konsolidasi demokrasi karena mereka khawatir tentara naik panggung lagi seperti di Thailand. Kok donor peduli?
http://www.inspiritinc.com/2007/09/blog-post_2555.html
Soldier of Fortune
Soldier of Fortune=tentara bayaran. Ini peran Danny Archier dalam film Blood Diamond. Ia serdadu bayaran dari Rhodesia, sebuah negara di Afrika Selatan yang kemudian menjadi Zimbabwe. Negara kecil ini unik karena berada di enclave dalam negara Afrika Selatan.
Ia membantu kaum pemberontak marxist dan juga militer pemerintah di Sierra Leone. Fasilitatorlah gambangnya. Caranya ia menyelundupkan senjata bagi kedua pihak yang bertikai. Ia pun dibayar oleh permata yang diselundupkan ke negara tetangga, Liberia. Karenanya. Liberia tak punya tambang intan tetapi menjadi eksportir permata terbesar kedua di dunia.
http://www.inspiritinc.com/2007/01/soldier-of-fortune.html
Jumat, 17 Oktober 2008
Laksanakan Pembaruan Agraria !
sumber foto : http://www.spi.or.id
Kaum Tani Indonesia bersama kekuatan gerakan rakyat lainnya, kembali memperingati Hari Tani Nasional (HTN) dan Hari Pangan Internasional melalui aksi massa. Hari Tani Nasional yang diperingati setiap tanggal 24 September, dan Hari Pangan Internasional yang peringatannya setiap tanggal 16 Oktober tiap tahunnya, menjadi momentum kaum tani, buruh, nelayan, masyarakat adat untuk menuntut pemerintah melaksanakan Pembaruan Agraria (Reforma Agraria)
Pembaruan Agraria (Reforma Agraria ) adalah amanat konstitusi RI yang tidak pernah dijalankan pasca pemerintahan Soekarno tumbang. Padahal Pembaruan agraria (Reforma Agraria) sesungguhnya adalah operasi lanjut dari proklamasi kemerdekaan, atau suatu operasi untuk mewujudkan cita-citra proklamasi, yakni mengubah struktur kolonial (dan struktur ketidakadilan), menjadi struktur baru, struktur nasional, yang mencerminkan keadilan, kesejahteraan dan kemajuan.
Sebagai akibat tidak dijalankannya Pembaruan Agraria, problem-problem agraria menjadi persoalan krusial bangsa Indonesia yang mencakup beberapa hal : (1) struktur perekonomian bangsa yang rapuh dan bangunan industrialisasi yang tidak memiliki dasar yang kokoh; (2) terjadinya akumulasi dan monopoli penguasaan tanah dan sumber-sumber agraria lainnya yang telah menciptakan ketimpangan yang sangat serius dalam struktur penguasaan tanah dan sumber-sumber agraria, yang pada gilirannya telah menciptakan kondisi ketidakadilan sosial dan menciptakan kemiskinan massal; (3) terjadinya konflik-konflik dan sengketa agraria yang berkepanjangan, meluas dan tidak terselesaikan dengan tuntas – apalagi terselesaikan dengan memenuhi rasa keadilan; (4) terbentuknya suatu sistem hukum agraria dan pengaturan soal penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang tumpang tindih, tidak berorientasi pada kepentingan rakyat, dan telah menjadi salah satu sumber penyebab dari merebaknya konflik-konflik dan sengketa agraria; dan (5) telah terbangunnya suatu struktur birokrasi dan kekuasaan negara yang menjalankan politik agraria yang tidak pernah berpihak kepada kepada kepentingan rakyat banyak melainkan hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi pengusaha besar dengan alasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan difungsikannya sistem politik agraria sebagai alat untuk memperkaya elit-elit kekuasaan itu sendiri.
Sampai dengan masa pemerintahan SBY-JK, berbagai persoalan agraria di atas tidak bisa diatasi. Hal ini ini menunjukkan bahwa strategi dasar pembangunan nasional tidak pernah berubah, yakni strategi pembangunan yang tidak menempatkan Pembaruan Agraria (Reforma Agraria) sebagai dasar dari pembangunan nasional.
Makanya melalui peringatan Hari Tani Nasional dan Hari Pangan Internasional 2008, kaum tani beserta gerakan rakyat lainnya yang tergabung dalam KOMITE BERSAMA PERINGATAN HARI TANI NASIONAL 2008 akan melakukan aksi massa di Jakarta dan di berbagai wilayah (seperti : Medan, Jambi, Riau, Bengkulu, Lampung, Bandung, Salatiga, Wonosobo, Jogyakarta, Bali, Mataram, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar, Palu dan Kendari) secara serentak pada 16 Oktober 2008.
Aksi nasional ini bertujuan untuk mendesak pemerintah RI untuk segera menjalankan Pembaruan Agraria (Reforma Agraria). Yakni suatu proses penataan ulang atau restrukturisasi pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, terutama tanah untuk kepentingan petani, buruh tani, dan rakyat kecil pada umumnya yang sekaligus menjadi landasan menuju proses industrialisasi nasional.
Aksi Nasional yang ber-temakan " Wujudkan Kedaulatan Pangan dan Hak Asasi Petani dengan Melaksanakan Agenda Reforma Agraria" akan diikuti oleh massa sekitar 12.500 (dua belas ribu lima ratus orang) yang berasal dari serikat tani yang ada di Jawa Barat, Serikat Buruh se-JABOTABEK, Organisasi Mahasiswa/Pemuda, dan NGO.
Anggota Komite Bersama:
SPI, AGRA, API, STN, PETANI MANDIRI, P3I, SPP, HPNP Sukabumi, STKS Sumendang, SPPU Subang, SEPETAK Karawang. PPC Cianjur, WALHI, KPA, PERGERAKAN, SAWIT WATCH, SHI, DTI, IHCS, AMAN, KONTRAS, BINA DESA, FPPI, PRP, LMND, SMI, KAU, FMN, FAM UI, PBHI, SOLIDARITAS PEREMPUAN, JKPP, ABM, SP PLN, KpSHK, AMP, Huma.
Kamis, 16 Oktober 2008
Krisis Finansial Global : Drama Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala
Tragis memang!
Barangkali artikel yang saya tulis 9 bulan lalu itu dan juga episode krisis BBM yang baru lalu melalui serial tulisan yang dihimpun Revrisond Baswir‘Amerikanisasi BBM” dapat menggenapi cerita tentang krisis keuangan-ekonomi global kali ini. Lagi-lagi masih babak drama Kambing Hitam, Bebek dan Raja Serigala.
Bangsaku Bangkitlah, sebelum kerusakan semakin dalam............
Krisis Keuangan Global (Bagian 1)
Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar (Bagian 1)
Krisis Keuangan Global (Bagian 2)
Pemerintah Amerika : Kaisar Telanjang Pesuruh Korporasi
IRONI COP 13 BALI :
Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala?
Vandhana Shiva seorang cendekiawan India terpandang dan seorang aktifis sosial tingkat dunia menyatakan “dengan menolak menandatangani Protokol Kyoto, Presiden Bush telah melakukan tindak terorisme ekologis pada sejumlah besar komunitas yang barangkali akan lenyap dari muka bumi karena pemanasan global. Sedangkan di Seattle, WTO dijuluki World Terorist Organisations (Organisasi Teroris Dunia) oleh para demostran, sebab kebijakan yang menyangkal hak kelangsungan hidup jutaan orang”..
Mempertahankan ‘gaya hidup’ Amerika lah yang menjadi dasar Presiden Bush untuk tetap bebal menolak menandatangi Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah tindak lanjut dari Konvensi Perubahan Iklim, yang menetapkan target penurunan emisi sebesar 5% untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca. Mempertahankan ‘gaya hidup’ ini jugalah yang menyebabkan rendahnya komitmen negara-negara maju untuk memecahkan persoalan genting ini.
Sesungguhnya di balik ‘gaya hidup’ Amerika inilah tersembunyi ketamakan dan keserakahan. Mahatma Gandhi memperingatkan “Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak”.
Selain itu dibalik kedigjayaan perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional di negara-negara utara yang mengontrol WTO, IMF, Bank Dunia, ADB dan lembaga keuangan internsional, berlangsung rumus akumulasi kekayaan segelintir orang hanya mungkin terperoleh melalui penghisapan, dan kesengsaran yang lain..
selanjutnya…..
Imperialisme Amerika di Sektor Migas Indonesia
Amerikanisasi BBM (artikel Revrisond Baswir)
Indonesia tampaknya benar-benar sedang menjadi sasaran empuk campur tangan Amerika. Ibarat adonan roti, melalui beberapa lembaga keuangan dan pendanaan internasional yang secara langsung dan tidak langsung berada di bawah kekuasaannya, Indonesia kini seperti sedang diremas-remas oleh Amerika untuk dibentuk menjadi donat atau roti keju.
Simak misalnya keributan di seputar kenaikan harga BBM yang terjadi belakangan. Jika ditelusuri ke belakang, boleh dikatakan hampir pada semua aspek perumusan kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM ini, sarat dengan campur tangan Amerika.
Memang benar, kenaikan harga BBM bukan hal baru bagi Indonesia. Tetapi bila disimak motivasinya, kenaikan harga BBM yang terjadi belakangan, motivasinya jelas sangat berbeda dari motivasi kenaikan harga BBM yang terjadi pada masa sebelumnya.
Sebab itu, para pejabat pemerintah boleh saja mengemukakan 1001 alasan mengenai penyebab ‘terpaksa’ dinaikkannya harga BBM. Tetapi sesuai dengan UU Migas No. 22/2001, kenaikan harga BBM yang terjadi belakangan mustahil dapat dipisahkan dari tengah berlangsungnya apa yang disebut sebagai liberalisasi industri migas di negeri ini.
Artinya, berbeda dengan kenaikan harga BBM sebelum 2001, kenaikkan harga BBM yang terjadi belakang secara tegas digerakkan oleh motivasi untuk menghapuskan subsidi BBM dan melepaskan harga BBM sesuai dengan harga pasar internasional.
Pertanyaannya, mengapa industri migas harus diliberalisasikan, dan mengapa pula harga BBM harus disesuaikan dengan harga pasar internasional?
Jawabannya sangat sederhana. Sebagaimana dikemukakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, tujuannya antara lain adalah untuk merangsang masuknya investasi asing ke sektor hilir industri migas di sini.
Sebagaimana dikatakannya, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas..... Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk,” (Kompas, 14 Mei 2003).
Karena diniatkan untuk mengundang masuknya investor asing, tidak aneh bila hampir semua aspek perumusan kebijakan pemerintah dalam melakukan liberalisasi industri migas dan menaikkan harga BBM, sarat dengan campur tangan asing, khususnya Amerika.
Simak, misalnya, pernyataan USAID (United States Agency for International Development), mengenai kegiatannya dalam reformasi sektor energi di Indonesia, “USAID has been the primary bilateral donor working on energy sector reform.…” Khusus mengenai penyusunan UU Migas, USAID secara terbuka menyatakan, “The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000,” (http://www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-013.html).
Berdasarkan kedua kutipan tersebut, dapat disaksikan betapa telah sangat jauhnya pihak asing, khsusunya Amerika, terlibat dalam penyusunan kebijakan industri migas di Indonesia. Selain itu, dapat disaksikan pula betapa telah sangat berkembangnya tradisi untuk menyerahkan penyusunan rancangan undang-undang (RUU) kepada pihak asing di negeri ini.
Selanjutnya
10 Years after the Fall of Suharto – Views from the People’s Organisations
source : http://www.asia-pacific-solidarity.net/
[The following is a translation of a series of 12 interviews with leaders of labour, peasant, fisherpeople, urban and rural poor, environmental, student and social-political organisations in Indonesia around the theme “Ten Years after the Fall of Suharto - Views from the People’s Organisations”, which appeared in the first edition of Jurnal Bersatu (Journal of Unity).]
[Translated by James Balowski.]
Labour organisations
1. Sastro, Chairperson Workers Challenge Alliance (ABM)
2. Iqbal, President of the Indonesian Metal Trade Workers Federation (FSPMI)
Peasant Organisations
1. Donny, National Peasants Union (STN)
2. Iwan, Agrarian Reform Consortium (KPA)
3. Rully, Indonesian Farmers Union (SPI)
Fisherpeople’s organisations
Arbani Nikahi, Chairperson Saijaan Fishers Union (INSAN)
Urban and rural poor organisations
Marlo, General Chairperson Indonesian Poor People’s Union (SRMI)
Student organisations
Ken, Indonesian Student Union (SMI)
Environmental organisations
Andreas, General Secretary Green Indonesia Union (SHI)
Social-political organisations
1. Irwansyah, Secretary General Working People’s Association (PRP)
2. Zely Ariane, Spokesperson People’s Democratic Party-Political Committee of the Poor (KPRM-PRD)
3. Harris Sitorus, Secretary General National Liberation Party of Unity (Papernas)
Hikayat Bulan (1-11)
esoknya setengah hati kurang sedikit
tunggu saat bulan sawah jadi sabit, lalu padam
apakah ini tentang kepenuhan hati yang berkurang?
sesungguhnya tidak
seperti hati kita sering dibiarkan berdebu
bulan tetap dengan kepenuhan hatinya
kita biarkan hati kita berdebu
sehingga pudarkan cahaya hati bulan
Hikayat Bulan
1.
hikayat bulan adalah hikayat yang mengalir
dalam arus waktu yang perlahan, tenang dan teduh
seperti yang hadir dalam getar suara dan getar batin
sesaat mengeja OM….
berulang kali
di kuil Hindu , di kuil hati
2.
hikayat bulan adalah hikayat mimpi
bulan bundar negeri bahagia
ada nynyi sunyi pada jutaan kaum papa
di tanah yang mati
di air yang mati
negeri surga yang mencekik
3.
hikayat bulan adalah hikayat bocah-bocah bahagia
tak hirau berlarian mengejar bayang
di pangkuan bunda bumi
tempat padi menguning dan panen berlimpah
bukan milik sendiri
tempat sawah mati musim bencana
sepi sendiri
4.
hikayat bulan adalah hikayat yang mengalir
di arus waktu yang perlahan, tenang dan teduh
seperti percakapan dan narasi kasih bunda
jelang upik dan buyung tertidur
percakapan dan narasi kasih yang tak henti bertumbuh
dalam jiwa ketika harapan bermekaran atau patah
abadi
walau bunda telah mangkat
dari ruang dan waktu
5.
hikayat bulan adalah hikayat pedih, tangis dan sesal
yang luruh menepi jadi doa
bulan bundar, penuh di bola mata
mengada hati jadi cahaya KASIH
membasuh luka,
menyembuhkan
6.
hikayat bulan adalah hikayat debu
yang kagumi bulan penuh
hanya sebutir debu
hanya debu yang terberkati
hanya debu yang dimuliakan
hanya pemberian berlimpah
untuk sebutir debu
berlipat ganda dari ukuran wadagnya
menenggelamkan
sebutir debu, jadi lautan cahaya
7.
hikayat bulan adalah hikayat denyut lembut sebuah hati
denyut tipis di sudut bibir
denyut tipis
di sudut mata
saat jari menyentuh
merasakan
hati yang tersembunyi
8.
hikayat bulan adalah hikayat pintu-pintu suci
adalah erbang suci
kuil kemuliaanMu
adalah gerbang suci
samudera ampunanMu
adalah gerbang suci
istana kedamaianMu
adalah gerbang suci
mata air kasihMu
tubuh, perasaan, pikiran, jiwa sesungguhnya pintu suci itu
9.
hikayat bulan adalah hikayat mengisi bejana sesuai takarannya
tak ada kesanggupan kita menatap matahari
dalam kepenuhannya
ada kesanggupan kita menetap matahari yang berpendar
pada wajah bulan
tubuh bulan
sesungguhnya kita tak sanggup menetap wajahNya
yang teramat terang membutakan
tapi karena kasihNya
kita diperkenankan menatap wajah manusiawinya
wajah yang teduh itu
10.
hikayat bulan adalah hikayat hati
di keheningan diri
di sebuah hati yang lapang
di sebuah hati yang terbuka
ketika wajah bulan sempurna
di cermin danau yang diam
jadilah keajaiban kasihNya
11.
hikayat bulan dengan cahaya menyemut
hikayat kertas dengan kasara menyemut
hikayat doa dengan pasrah menyemut
hikayat hati dengan rasa menyemut
terima kasih untuk hari-hari lalu
untuk hari ini
untuk hari esok
untuk kelembutan hati,
pemberian hati,
keterbukaan hati,
kelapanga hati
untuk kasih yang menyemut,
yang bertumbuh mendewasakan diri.
12.
kamu memang berwajah santa
kelembutan kelopak tipis tudung matamu
menyimpan mata yang saat jaga
tetap tidak terpisahkan
dari sukacita suci
seperti mata bocah
dimana pernah menitik air mata
dari sumbernya yang teramat dalam
dan tersembunyi
mungkin ada semilir sejuk,
getaran halus yang lolos melalui lipatan di sudur mata
dan bibirmu
aku terpaku, takjub
pada dudukan bibir
cara mengatup yang berbeda dengan saat kau jaga
seperti menekan mimpi atau gejolak yang ribut
mengendalikannya dengan sabar, tenang, seperempat senyuman
tapi dagumu yang ringan
seperti siap menyangga kepenuhan senyum dan tawamu
aku sepi dan dengan tenang mungkin damai
merindukanmu,
menyentuhmu,
mengetuk pintu sucimu
wajahmu adalah ingatan purba
bulan bundar negeri para kekasih
Selasa, 14 Oktober 2008
Pemerintah Amerika : Kaisar Telanjang Pesuruh Korporasi (Bag 2)
It’s mentally sick, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)
(lanjutan gumaman Krisis Ekonomi Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar. It’s the Capitalism, Stupid)
Di dalam perkara krisis keuangan global hari-hari ini……..
Tahukah anda dongeng tentang kaisar telanjang yang jadi ‘olok-olok’ anak-anak kecil yang polos dan lugu, “Kaisar telanjang, Kaisah telanjang, Kaisar kentir (gila)”. Sementara sebagian orang-orang dewasa sibuk memarahi dan membungkam anak-anak ini, sambil saling menipu diantara mereka dengan berlomba mengelu-elukan kaisar seolah berbusana sangat indah, mewah dan akan menciptakan trend mode adihulung. Sebagian lain tersenyum di dalam hati (kecian deh lu katanya) dan sebagian diam-diam mendukung anak-anak kecil itu. Konon orang-orang kepercayaan kaisar yang pandai menjilat sekaligus memanipulasi kaisar berseru-seru sambil mengancam, hanya orang-orang pintar dan bijaksana yang bisa melihat keindahan pakaian kaisar yang dirancang oleh desainer ternama yang lihai mengambil hati sekaligus menipu kaisar. Dan katanya hanya orang-orang bodoh saja yang tidak bisa melihat kehebatan pakaian kaisar.
Dan meminjam Karl Marx dan Engel rupanya “ada hantu komunisme berkeliaran di batok kepala kaisar dan halaman rumah sendiri……”
Seperti disampaikan oleh A Toni Prasetiantono dalam artikelnya Meletusnya Gelembung Hampa (Kompas Rabu, 8 Oktober 2008) salah satu sebab tarik ulurnya atau penentangan dana talangan pemerintah adalah soal momok sosialisme di sebuah negeri yang mengaku dedengkot liberalisme dan kapitalisme. Seperti dikatakan oleh Toni, “jika pemerintah menalangi semua bank yang bangkrut, bank-bank investasi itu akan menjadi milik pemerintah. Perekonomian yang serba pemerintah (etatisme) ini akan menimbulkan kesan, perekonomian AS sudah beralih ke sosialisme”.
Dengan menggunakan logika berpikir yang sama kita bisa temukan fenomena ‘ada hantu komunisme di batok kepala dan halaman rumah sendiri’ ini didalam diri Bill Gates dari Microsoft dan banyak eksekutif, kapten korporasi lainnya. Dalam menghadapi fenomena lahirnya komunitas kolaboratif atau kolaborasi massal di (melalui) web 2 seperti jejaring sosial Flickr, MySpace, You Tube dan Wikipedia juga open sources seperti Linux sebagai ‘komunis’ jenis baru yang terselubung. Sementara banyak korporasi lain dengan perkembangan ini, mulai membayangkan, merancang, membangun dan mendistribusikan produk dan jasa dalam berbagai cara baru yang inovatif. Ini diungkapkan oleh Don Tapscott dan Anthony D. William dalam bukunya Wikinomic yang edisi Indonesianya baru saja diterbitkan Bhuana Ilmu Populer 2008.
Dalam bahasa Hermawan Kertajaya di kompas.com melalui teknologi web 2 ini terjadi proses horisontalisasi baik di lapangan bisnis hingga lapangan politik. Hermawan memaparkan bahwa melalui Web 2 bukan pola hubungan dan komunikasi bukan “cuma bersifat One-to-Many atau One-to-One, tapi sudah bersifat Many-to-Many. Dalam lapangan bisnis tercermin dalam hubungan baru antara marketer dan customer, maupun di langan politik antara politisi dan pemilih. Hermawan misalnya bercerita tentang profil Perdana Menteri Cina Wen Jiabao yang muncul di Facebook pada 14 Mei 2008, yang segera mendapat kawan sekitar 14.000 orang dalam waktu cuma dua minggu serta fenomena pemilu AS yang mendapat darah segar melalui teknologi web 2 (silah kunjung Uploading, Searching dan Wiki (Web 2) untuk Perubahan Sosial
)
(Kok jadi melantur ya, tidak lain karena kebetulan nyambung dengan artikel saya bagian pertama soal dunia datarnya Thomas L Friedman yang diantaranya diakselerasi oleh perkembangan pesat teknologi komputer, informasi dan komunikasi. Friedman menyimpulkan up-loading sebagai factor pendatar diantara 10 faktor lainnya. Mari kita kembali ke kaisar telanjang sebelum kembali lagi ke perkara tak habis-habisnya Paman Sam menciptakan hantu-hantu dan musuh-musuh baru.)
Soal Kaisar telanjang sebenarnya telah saya singgung pada bagian pertama tulisan saya “Krisis Ekonomi Global : Karl Marx Di Aspan Jalan Dunia Datar” menyangkut intervensi pemerintah mengeluarkan dana talangan (bailout) yang sekali lagi menegaskan tentang adanya mitos mekanisme pasar (pasar bebas dan swa koreksi pasar) disatu sisi, disisi lain ketelanjangan pemerintah Bush yang didukung parlemen untuk melindungi kepentingan korporasi dan pemodal besar (baca pula artikel Martin Manurung “Neoliberalisme Kena Batunya” juga tulisan Ahmad Erani Yustika Menelanjangi Liberalisme di Kompas).
Dalam kurun waktu yang berabad kita temukan juga cerita tentang kebohongan soal ide dan gagasan pasar bebas, invisible hand juga pemalsuan sejarah berdasarkan penelusuran dan kajian yang diantaranya dilakukan oleh Noam Chomsky dalam bukunya Year 501. Uniknya kita kembali berjumpa dengan Columbus dan negeri India.
Chomsky dirujuk oleh Wim F Werthim dalam bukunya “Jalan Sosialisme Dunia Ketiga ; Pasar Protektif versus Pasar Agresif” (ISAI-PDAT-De Wertheim Stichting 2008). Menurut Wertheim melalui Year 501 Chomsky mempertontonkan kesinambungan keberhasilan cara “Utara” memaksakan dominasi politik, ekonomi dan militer terhadap “Selatan” yang tidak putus berlangsung sepanjang 5 abad sejak Columbus menemukan Benua Amerika. Ia membuyarkan sejarah palsu bahwa Selatan dikalahkan di sektor ekonomi oleh perdagangan bebas atau perekonomian pasar bebas. Alih-alih dukungan pemerintah negara utaralah yang memenangkannya. Hanya dengan dukungan negara, perekonomian Utara mencapai kedudukan monopoli, di bidang industri juga pertanian, atas dan terhadap perekonomian negara-negara selatan yang agraris.
Satu contoh kecil saja diulas bagaimana akibat protes keras para pengusaha penenunan sutera di Middlesex terhadap impor sutera tenunan India oleh East India Company (EIC), pemerintah kemudian melarang impor sutera India ke Inggris sekaligus mengenakan bea masuk yang semakin tinggi untuk semua produk katun hasil manufaktur India. Chomsky sebenarnya membongkar apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus Indonesia, Cina dan negara-negara jajahan lainnya.
Lepas dari dominasi ekonomi Eropa khususnya Inggris kemudian kita melihat cerita yang sama yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah negara-negara maju yang dipimpin oleh AS melalui organisasi yang mereka kendalikan IMF, World Bank dan WTO (sering dikatakan Unholy Trinity menurut saya lebih tepat Evil Trinity). Sebuah cerita tentang intervensi negara-negara maju dalam melancarkan akses korporasi pada tanah, bahan baku, buruh murah, pasar, segala bentuk insentif fiskal dan moneter hingga segala bentuk kebijakan proteksionis lainnya.
Pembongkaran Pemalsuan Sejarah terkait hampir semua negara maju terutama Inggris dan Amerika juga dilakukan oleh Ha-Joon Chang (seorang ekonom Cambridge yang juga bekerja sebagai konsultan untuk Bank Dunia, ADB, berbagai badan PBB hingga pemerintah Kanada, Jepang, Afrika Selatan, Inggris, hingga Venezuela) dalam bukunya Bad Samaritans (Pustaka Utama Grafiti 2008). Satu hal yang mengesankan adalah testimoninya tentang bagaimana Korea yang dianggap ‘murtad’ dari pakem neolib beranjak dari negara miskin dan hancur lebur pasca perang Korea bisa melejit ke papan atas ekonomi dunia. Juga cerita tentang pemain kuat seperti Jepang, Cina hingga India. Tak lain ini adalah karena otonomi untuk menentukan kebijakan ekonominya serta peran negara yang kuat untuk melindungi dan kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Berikut ini adalah amsal yang digunakan oleh Wertheim dalam bab pertama bukunya “Nomor Satu, Amerika: Monopoli Merkantilis”
Seorang pecatur amatir menyatakan kepada grandmaster Tartakower, bahwa diri sudah secara patuh memainkan pembukaan yang belum lama direkomendasikan grandmaster lainnya Loewenstein dalam sebuah majalah dengan hasil malapetaka. Tartakower menjawab “Jangan kau memainkan yang ditulis Loewenstein. Yang mesti kau mainkan adalah yang ia mainkan”
Pemain catur amatir ini adalah wajah pemerintah lemah seperti di Indonesia dan saudara-saudara Asia Afrikanya, negara-negara Amerika Latin dahulu, juga cerita tentang negara-negara Eropa Timur yang didisiplinkan melalui kebijakan neo-liberal yang akhirnya dengan cepatnya terpuruk jatuh ke wilayah dunia ketiga.
Atau meminjam amsal dari Nietzhe (saya kutip dari satu buku terbitan Marjin Kiri)
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu…….
Lalu apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat khususnya untuk mendisiplinkan pemerintah dan negara-negara lain yang membangkang, murtad dan memilih narasi dan pradigma politik ekonomi yang lain? John Perkins dalam bukunya “The Economic Hit Man” dan juga semakin terang berderang melalui buku Tim Weiner “Membongkar Kegagalan CIA : Spionase Amatiran Sebuah Negara Adi Daya-Gramedia 2008 (yang menjadi perhatian utama saya bukan keamatiran CIA, tetapi fakta telanjang tentang apa yang dilakukan CIA dan pemerintah Amerika…………
bunuh, beli-sogok, danai aksi militer (pemberontakan hingga kudeta), hingga cuci otak intelektual pecinta tipu-tipu kapitalisme neoliberal yang nyatanya diingkari guru-gurunya sendiri.
Dan Paman Sam adalah negri yang terus menerus memusuhi ‘the other’ (memproduksi dan mereproduksi musuh), bermegah diri, membangun benteng-benteng, menciptakan kesetiaan konyol dan semangat chauvinistik warganya.
Malangnya Karl Marx yang menghantui Pam Sam yang dikiranya sudah mati sejak runtuhnya tembok berlin dan runtuhnya pemerintah komunis di Uni Soviet yang dirayakan dengan megah oleh Fukuyama melalui “The End Of History” masih terus hidup dan berkembang sesuai dengan konteks zamannya.
Bahkan ini terjadi di halaman belakang negeri Paman Sam, wilayah yang dalam kurun waktu panjang berada dibawah kendali mereka dan wilayah yang dihisapnya yakni Amerika Latin. Pasang naik pemerintah-pemerintah yang kental dengan élan kerakyatan kita sebut saja sosialisme baru Amerika Latin. Wajah sosialisme yang egaliter sekaligus demokratis, banyak diantaranya bertumbuh melalui persinggungannya dengan ‘teologi pembebasan’, inilah yang lebih menakutkan bagi Paman Sam. Pemerintah kiri yang menang tidak melalui senjata, kekerasan, tetapi menang melalui kotak suara dan kesadaran beriman yang baru ‘option for the poor’
Sementara itu produksi dan reproduksi musuh baru diwakili oleh Huntington ketika dia memangggungkan benturan peradaban masyarakat yang lain (Islam dan Cina) vs Barat.
Kembali meminjam Thomas L Friedman ini kisah tentang dua angka penuh makna 9 dan 11. 11/9 (9 November) yakni tanggal penghancuran tembok Berlin dan 9/11 aksi terorisme yang menghancurkan World Trade Center. Silahkan anda merenungkan tentang kedua tanggal penting dalam sejarah ini, dan meneguhkan tekad kita untuk terciptanya dunia yang adil dan damai. Ingatlah pula ‘the power tend to corrupt’ entah itu disisi kanan atau yang berada di sisi kiri atau disisi manapun.
Dan saya yakin kita harus temukan keseimbangan antara liberte, egalite, fraternite untuk dunia baru itu……….
Inilah yang saya katakan hantu komunisme, reproduksi musuh yang aneh di batok kepala. Hantu itu adalah bagian dari kodrat dirinya yang ditolak dan diingkari. Hantu dalam rupa pengingkaran atas kodrat bahwa ada sisi baik di dalam diri manusia, alih-alih hanya homo economicus atau ekstrimnya binatang ekonomi dengan hukum rimba persaingan bebasnya. Bahwa ada aspek egaliter dan fraternite dalam eksistensi kemanusiaan, panggilan hidup dan fitrah manusia, bukan hanya mengumbar liberte dengan mengabaikan dua lainnya.
Karena dengan mengagung2kan liberte dan monomer-sekiankan egalite dan fraternite akan sampai pada cerita tentang keserakahan dan ketamakan sebagai iman vis a vis dengan keimanan ‘option for the poor’, iman untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
(bersambung)
salam pembebasan
andreas iswinarto
Link artikel :
Krisis Ekonomi Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar dan 10 Artikel Pilihan tentang krisis ekonomi global.
Uploading, Searching dan Wiki (Web 2) untuk Perubahan Sosial
Baca juga :
Krisis Finansial Global : Drama Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala
Penemuan Ideologi adalah Kerja Kolektif
Jujur saja sampe saat saya pun belum yakin mampu menangkap dan memahami binatang apa ideologi itu, memahami nasrasi-narasi besar ideologi yang berkembang dalam sejarah, apalagi berpikir dan bertindak ‘ideologis’ secara utuh, mendalam dan menyeluruh. Baru dalam proses pembelajaran pemula – buktinya masih merasa perlu dan getol membaca marxisme untuk pemula, anti kapitalisme untuk pemula, atau materi pendidikan green student movement : Menjadi Environmentalis Itu Mudah, Perjuangan Hizbullah untuk pemula.
Barangkali masalahnya adalah banyak orang terjebak membayangkan rimba persilatan para pemikir besar dunia, filosof sepanjang abad, atau para teoritisi politik kakap. Sehingga ideologi itu dianggap sesuatu yang sangat berat, rumit, ketat dan melangit. Padahal ada sisi ideologi dalam tataran yang lebih populer, aplikatif , riang dan praktis, bukan semata-mata dalam kemewahan, keruwetan dunia teoritik dan akademik.
Michael Freeden seorang teoritikus politik yang disegani mengawali monograf terakhirnya tentang bagaimana para pakar membicarakan definisi ideology dengan semangat memberat.
“Selama lebih setengah abad ini, konsep ideology muncul sebagai salah satu ide politik yang paling rumit dan mengundang perdebatan. Ide ini mencolok dalam diskusi pada jenjang-jenjang yang tampaknya tidak saling bersinggungan, usaha untuk menyusun fenomena yang tak berkaitan dan mengakibatkan kerancuan di kalangan akademisi dan pengamat politik……….”
Inilah bahkan secara teoritik dan akademik pendefinisian dan pengertian ideologi menjadi ide politik yang paling rumit dan mengundang perdebatan……….
Roger Etwell dalam Ideologi Politik Kontemporer menyatakan bahwa paling tidak didalam suatu ideology terdapat sekumpulan pandangan empiris dan normative tentang tiga hal
1.hakekat manusia
2.proses sejarah
3.struktur sosiopolitik
Dengan demikian menurut saya secara sederhana (dalam tataran praktisnya) paling tidak di dalam sebuah ideologi meliputi :
1.peta bumi dan analisis proses sejarah dan situasi sosial politik kontemporer
2.sekumpulan pandangan dasar, nilai-nilai/norma dan cita-cita (mimpi-imajinasi) sosial politik tentang tatanan ideal atau yang diinginkan
3.peta jalan untuk mewujudkan cita-cita sosial politik tersebut.
Dan ideologi itu sesungguhnya merupakan hasil pemikiran kolektif aktor-aktor pengusung dan pendukungnya. Dalam kata-kata Gramsci ideologi dalam makna kolektifnya merupakan wujud dari pola hidup dan tindakan masyarakat. Semua itu berangkat dari pemikiran awam (common sense) yaitu cara pemahaman seseorang yang seringkali tidak kritis dan seringkali tidak sadar terhadap dunia. Lanjutnya ‘semua orang adalah filosof” (demikian pula ideolog, tambahan saya) karena semua manusia mempunyai konsepsi tentang dunia atau pandangan dunia.
Dalam konteks gerakan lingkungan maka perumusan ideologi mungkin juga penemuan ideologi harus menjadi kerja atau proses kolektif yang tidak pernah berhenti. Tentunya tingkat pemikiran kita sebagai aktivis niscaya lebih kritis, sadar, lengkap dan komprehensif. Meminjam posting kawan saya bahan baku ‘ideologi kolektif’ itu bisa diamati dari apa yang dipikirkan di kepalanya(ucapan, pernyataan dan tulisannya), kelakuannya (bagaimana dia bekerja, interaksinya dengan kawan, rakyat dst), hasil kelakuannya (proyeknya, aktivitasnya dll). Idem dito, kriteria yang sama bisa kita terapkan pada sebuah organisasi.
Bagaimana dengan pergulatan intens dari sisi ideology dalam dimensi yang lebih teoritik, akademik, sisi yang berat, rumit dan ketat. Narasi-narasi besar itu. Saya rasa kita juga harus cukup rendah hati untuk belajar dari para empu yang secara intens menggeluti filsafat dan ideologi sebagai pemikiran politik. Bagaimana pun juga berbagai ide dapat digunakan untuk menyempurnakan pemahaman kita mengenai pengalaman sosial pribadi dan masalah-masalah yang menjadi isu aktual masyarakat termasuk dimensi kesejarahan mileniumnya. Demikian pula berbagai ide besar atau narasi-narasi besar harus didialektikan dengan narasi-narasi kecil dari orang kebanyakan dan konteks jaman, waktu, dan lokus yang berbeda dari wilayah tempat gagasan-gagasan besar itu lahir.
Untuk itu walaupun secara amatiran dan awam, kita semua adalah ‘filosof sekaligus ideolog’ yang harus terus tak henti-henti belajar dari bacaan, menulis, refleksi, diskusi, praktek, tetapi tetap harus ada kawan-kawan yang secara intens bergelut dan mendalami dimensi ideologi yang memberat ini. Jelas hanya sejumlah kecil orang yang bisa mengerjakan ini. Kawan-kawan saya di jaringan gerakan lingkungan region Jawa menegaskan itu bahkan dibutuhkan peran maven, connector dan salesmen untuk mendorong gerak maju yang menggetarkan dari gerakan hijau. Maven si penyandang peran think tank atau si bijak bestari atau si filsuf dan ideolog memang hanya diperankan oleh sekelompok kecil orang. Perbandingan maven, konektor dan salesmen
1 : 10 : 100. Peran pentingnya tidak hanya berpikir kritis tetapi berpikir inovatif dan imajinatif.
Dalam konteks ini kalangan environmentalis atau green agak ketinggalan dari kawan-kawan ‘kiri’/’sosialis’/’marxist’/’komunis’ dalam memproduksi dan mereproduksi bacaan. Sementara kawan-kawan di sisi kiri dan juga kawan-kawan di sisi kanan (Islam Politik) mengalami booming terbitan soal2 teoritik, falsafah, ideologi dan praksis perlawanan mereka pasca Soeharto mundur, kalangan green nampaknya kedodoran. Misal saja yang paling gress penerbitan Das Kapital yang telah masuk buku ketiga yang masing-masing setebal bantal. Perhatian juga booming
terbitan tentang Hugo Chaves, Castro, Mujahidin, Hisbullah dan Ahmadinejad.
Ini juga merupakan kemendesakan gerakan kita. Meminjam Susan George, tokoh ternama penentang neoliberalisme “yang terabaikan oleh sisi ‘malaikat adalah gagasan. Dipihak lawannya mereka mengalokasikan dana yang maha besar untuk memenangkan perang ide, kampanye, melalui riset, produksi dan reproduksi gagasan, filsafat, ideologi, menyusup dan menghegemoni perguruan tinggi dan masyarakat luas, reproduksi intelektual organic untuk mendukung kepentingan modal.
Jadi selain soal kekuatan menghadapi musuh-musuhnya disisi wacana-teoritik, gugatan bisa dialamatkan kearah bagaimana kekuatan kita ketika bersanding dengan kawan-kawan di sisi kiri, nasionalis, islam atau sisi progresif-radikal lainnya apalagi mau memimpin. Ini soal wacana, disamping soal mendesak lainya bagaimana basis massanya.
Mari terus menari…..
salam
Andreas Iswinarto
Artikel terkait
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 1)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 2)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 3)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 4)
Ideologi atau Pasca Ideologis; Kiri VS Kanan Sudah Usangkah?
“kami bukanlah sosialisme, bukan pula komunisme. Gerakan ini bukan di wilayah anti Kapitalisme dan neoliberalisme. Tetapi kami adalah Zapatismo. YA ZAPATISMO”.
Bahkan Marcos dalam akhir suratnya kepada pemberontak Basque ETA menyatakan N.B. Lainnya – Semestinya sudah jelas, tapi aku ingin nyeletuk : kuberaki semua garda depan revolusioner di planet ini. (Pernyataan ini bermula dari simpati EZLN kepada perjuangan kaum pemberontak Basque, yang berakhir perang kata emosional diantara keduanya. Terutama klaim ETA tentang kebenaran absolutnya sebagai Garda Depan Revolusioner di satu sisi dan kritik Marcos disisi lain atas korban masyarakat sipil dalam aksi ETA)
Partai2 Hijau Jerman atau di beberapa tempat-tempat lain juga menyatakan kecenderungan ‘ideologis’nya dengan pernyataan kami tidak berada di kiri dan tidak di kanan, tetapi kami berada di depan.
Dan Ipoel sahabat saya melontarkan gagasan “HIJAU PROGRESSIVE”.
Saya sejalan dengan Ipoel mendapat inspirasi dari kata dan perbuatan Subcomandante Marcos dan Zapatisme. Tetapi…..
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding, sarangnya! Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu… yang seolah-olah menawarkan kebebasan lebih banyak – dan tak ada ‘daratan lagi’.
Pernyataan Nietzsche ini adalah manifestonya untuk pemberontak dan pembebaskan diri secara total dari kekangan, atau membebaskan diri dari rasa aman yang mengKERDILKAN kan dalam perlindungan otoritas negara, iman, ilmu termasuk ‘ideologi’ (yang sedang kita diskusikan ini). Atau bahkan dibelakang nama ‘besar’ organisasi
Tapi apakah mimpi kita atau Hijau Progressive atau “manifestasi dari dunia yang diciptakan sendiri, berkat kekayaan mimpi dan imajinasi”, adalah sebuah pernyataan bahwa jembatan dan daratan sudah kita baker seperti Nietzche, atau seperti Marcos yang ‘memberaki semua garda depan revolusioner’.
Saya rasa tidak.
Coba kita lanjutkan mengenali Marcos (masih petikan surat berak-memberaki tadi) :
Marcos memberaki ETA karena klaim kebenaran absolutnya. EGP (emang gua pikiran) katanya, bahwa Zapatista tidak mendapat/memiliki tempat dalam kesepakatan organisasi-organisasi revolusioner dan garda-garda depan dunia. Marcos menegaskan bahwa senjata kami tidak dipakai untuk memaksakan gagasan atau cara hidup, tapi lebih untuk membela suatu cara berpikir dan cara pandang akan dunia dan dalam berhubungan dengannya, sesuatu yang mestinya kita bisa belajar banyak dari pikiran-pikiran dan cara hidup yang lain, juga banyak hal buat diajarkan.
Bahkan Marcos mengatakan “Kami tidak menganggap serius siapa-siapa, bahkan diri kami sendiri. Sebab siapapun yang menganggap dirinya serius akan berhenti pada pemikiran bahwa kebenaran mereka harus menjadi kebenaran bagi semua orang untuk selamanya”
Dalam konteks keseriusan yang dimaksud Marcos, ternyata hampir pararel dengan Nietzche “Akulah musuh Semangat Memberat” maka ia mengatakan “harus hanya mempercayai seorang Tuhan yang mengerti bagaimana menari”. Bagi Nietzche perjalanan setelah meninggalkan
dan menghanguskan jembatan dan daratan adalah “tarian yang ringan, terbang, bermain bahkan ketawa……..”
Tentu kita bukan Marcos dan bukan pula Nietzche
Disini bukan CHIAPAS atau JERMAN.
Disini adalah CIAMIS dan JEPARA.
Siapa kita? Seperti Apa Mimpi Kita?
Salam hangat,
Andreas Iswinarto
NB.
Sebagai informasi dalam berbagai kajian disebutkan di dalam diri Nietzche (diantaranya) para anarki individualis menemukan inspirasi dan sandaran pemikiran dan praktek politiknya, dan disisi lain Marx bagi anarki kiri/komunis.
Sedangkan Marcos dan Zapatismo disebutkan mereka bukan Marxis, bukan Anarkis, bukan Environmentalisme. Tetapi posisi mereka mungkin gabungan yang tidak terlalu jelas dari ketiganya ataupun diinspirasi ketiganya. Dalam praktiknya Zapatismo terlihat tidak sama dengan ‘liberalisme’ tetapi lebih mirip versi anarkisme, otonomisme dan environmentalisme. Tetapi Zapatismo menolak suprastruktur kepercayaan filsafat politik yang telah dikemukan sejak plato karena itu ia disebut ‘posideologi’. Melepaskan ide bahwa pengetahuan atau pemahaman dapat menjadi superior tentang isu-isu yang berhubungan dengan bagaimana kehidupan seharusnya.
(dalam Simon Tormey)
Artikel terkait
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 1)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 2)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 3)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 4)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bagian 1)
Dari sudut ideologi atau bisa pula kecendrungan pemikiran, warna hitam biasanya digunakan untuk kecendrungan anarko, merah itu untuk kiri , dan hijau konon untuk gerakan environmentalis, ekologi. Setahuku feminis dan gerakan perempuan juga punya warna ungu untuk menunjukkan identitasnya....
Saya ingat dalam beberapa kali obrolan bersama kawan-kawan gerakan lingkungan , buah semangka menjadi pusat perhatian.. Bukan semangka berdaun sirih, tepatnya soal bahaya semangka hasil rekayasa genetik tapi merujuk kepada hal lain. Setahuku semangka berkulit hijau dan buahnya merah (tapi ada juga sih yang berbuah kuning, tapi itu tidak dibahas). Tapi aku bisa tambahkan juga bahwa bijinya berwarna hitam. Sekalian saja mari kita bungkus buah semangka ini dengan kertas kado berwarna ungu. (dari Kata adalah Senjata. Lalu Warna Adalah Senjata Juakah? Andreas)
Kawan-kawan,
Di dalam tubuh gerakan lingkungan sebenarnya diakui atau tidak, atau diakui secara terbuka atau tidak, terdapat ketegangan terus menerus antar berbagai kecenderungan aliran pemikiran. Menurut penilaian cepat dan umum ketegangan ini masih di dalam koridor pengayaan gerakan dan mengarah kepada pencarian formasi ideologi dan gerakan yang lebih kontekstual dan progresif. Dalam konteks ini saya hanya hendak bicara aliran yang berada di garis penentangan imperialisme, kapitalisme, feodalisme, militerisme dan kuasa korporasi.
Dua aliran yang menonjol adalah kecenderungan hijau dan kecenderungan merah di dalam gerakan lingkungan. Namun saya ingin menambahkan adanya kecendrungan ketiga yakni kecendrungan pemikiran anarki di dalam gerakan kita, walaupun saya tidak punya atau belum memperoleh cukup indikasi yang terang benderang tentang kecendrungan ini.
(Saya sarankan kawan-kawan juga membaca buku Simon Tormey Anti Kapitalisme pasca Seattle terbitan Teraju yang berisi peta gerakan antikapitalisme sebagai bahan refleksi. Didalamnya dipetakan ketegangan antara gerakan ideologis dan pasca ideologi, atau tegangan antara hijau, hitam, merah dan ungu (feminis).
Walau demikian saya juga meragukan kalau kecendrungan pemikiran tersebut sepenuhnya didasari kesadaran atau kerangka pemikiran ideologis yang kental. Alih alih bisa jadi ini didasari oleh dialektika yang terjadi di dalam tubuh gerakan lingkungan hidup (hijau) dalam menentukan strategi dan taktik gerakan atau sebagai buah logika, common sense dalam merefleksikan kerja-kerja selama ini. Semisal diskusi tentang anti state atau pro state, kesadaran kelas atau kesadaran identitas budaya dalam advokasi MA, atau apakah organisasi gerakan lingkungan itu harus distrukturkan secara ketat/longgar atau dalam bentuk tanpa struktur Tapi bisa jadi juga karena pengaruh kebijakan funding atau hasil interaksi dengan gerakan sosial global dalam gerakan NGO di Indonesia. Atau berbagai asupan bahan bacaan yang dikonsumsi oleh aktivis gerakan lingkungan yang bersifat kajian praksis bukan teoritik dan ideologis.
Selain itu perlu dicatat apa yang saya lakukan ini jauh dari pretensi ilmiah (mungkin sekedar pengantar kecil untuk studi ideologi), jadi posting ini hanya menangkap berbagai indikasi tentang ketegangan tersebut. Saya hanya ingin mengajak kawan-kawan secara dewasa mengakui dan menyadari fakta-fakta tentang ketegangan tersebut dan menjadi energi pembaruan terus menerus. Atau dari sisi lain jangan sampai kita tak sadar hanya terbawa arus sana sini saja, tanpa suatu dasar berpijak dan bersikap. Atau lebih celaka banyak kasus dimana kemudian NGO tanpa sadar memuluskan jalan neo-liberalisme diantaranya dengan memoderasi perlawanan rakyat.
Dibawah ini saya akan lontarkan beberapa indikasi awal atau irisan tipis dari gejala ketegangan 2 kecendrungan pemikiran hijau dan merah di dalam gerakan lingkungan. Jadi memang belum sepenuhnya masuk ke dalam substansi ketegangan.:Soal substansi ini sedang saya awali mempelajarinya, semoga bisa jadi bahan diskusi di kemudian hari
Pertama, silahkan dicermati dua petikan dari milis gerakan lingkungan.
Petikan pertama :
"gerakan lingkungan memiliki kesempatan sejarah memimpin pembangunan blok hijau ke depan sebagai blok alternatif untuk menggaet 'komunitas urban baru', 'indegenous people', 'nature lover', green student movement', 'serikat masyarakat hijau', 'komunitas lsm', dan 'petani hijau'. Inilah kontribusi gerakan lingkungan yang bisa dipacu menuju perimbangan politik yang lebih
sehat.
Ini terjadi bila gerakan lingkungan teguh berdiri pada sejarah kelahirannya dan tidak dicaplok 'agenda kelompok kiri' yang oportunis. Gerakan lingkungan seharusnya sejajar dengan 'kaum kiri' untuk membangun blok masing-masing secara elegan, bukan saling politiking. Bila terlampau terseret ke kubu kiri, gerakan lingkungan (hijau) bukan menjadi alternative tetapi turut mengubur mimpi kaum hijau di Indonesia............"
Petikan kedua ;
"Bila memang (kelompok hijau/ngo hijau, tambahan saya) tidak memiliki cita-cita politik, saya duga memang kelompok kiri berminat membeli apa yang yang telah dilakukan NGO selama ini (bisa network engine, bisa logistik). Jika hal ini terjadi, memang tak perlu kerja keras, tinggal menanti dilamar kelompok kiri". (komentar saya ini statement yang sungguh miring)
Kedua, ada kecemasan atau kegerahan berbagai kelompok di dalam tubuh gerakan lingkungan dalam mensikapi satu faksi di dalam tubuhnya yang membangun kedekatan dan aliansi dengan gerakan -gerakan kiri.
Ketiga, masih adanya gejala cap "si anu orang kiri" "sianu orang PRD" sebagai komoditi untuk memenangkan posisi politik di dalam tubuh organisasi atau suksesi (menurut saya ini tendensi yang negatif).
Keempat,
Ada satu diskusi tentang gerakan lingkungan. Seingatku yang didiskusikan apakah yang kita bangun adalah gerakan lingkungan yang berwatak perjuangan kelas, ataukah gerakan lingkungan dan isu lingkungan yang kita bangun bersifat lintas kelas. Dengan argumentasi bahwa kerusakan atau bencana lingkungan akan merugikan dan memakan korban semua orang dari berbagai lapisan masyarakat. Ya orang kaya, kelas menengah bahkan presiden RI.
Begitulah mulanya kakatua mendapat warna dan seperti itulah ia jadinya, agar orang-orang lelaki dan perempuan tidak lupa bahwa ada banyak warna dan banyak pikiran di dunia ini, agar dunia gembira saat semua warna dan semua pikiran punya tempatnya sendiri-sendiri (dari Riwayat Warna Subcomandante Marcos)
Petikan dari Marcos ini adalah juga sikap saya.
Atau cermati kata Maestro Pedang dan Kuas Musashi Jumlah nada musik tidak lebih dari lima, tetapi perubahan dari kelima nada itu tak pernah terbatas ketika didengarkan. Jumlah warna utama tidak lebih dari lima, tetapi perubahan-perubahan dari kelima warna itu tak pernah terbatas ketika dipandangi. Jumlah rasa utama tidak lebih dari lima, perubahan-perubahan dari kelima rasa itu tak pernah terbatas ketika dikecap.
Marilah tetap fleksibel sekaligus memiliki prinsip, jangan lupa bergembira dan tetap berpikir merdeka...............
Salam hangat,
Andreas Iswinarto
Artikel terkait
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 1)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 2)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 3)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 4)
Gerakan Sosial : Studi Kasus Gerakan Lingkungan Hidup di Amerika Serikat
'penguasaan' asset2 alam/sumberdaya alam, COP 13 dengan politik dagang sapinya, tidakkah ini potensi pembesaran kesadaran, ledakan protes dan pembesaran gerakan lingkungan hidup.........
------------
Tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut
terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi. Selain
itu TIME melaporkan sekitar 20.000.000 orang turun
kejalan.
(disarikan dari buku Kirpatrick Sale Revolusi Hijau : Sebuah tinjauan historis-kritis gerakan lingkungan hidup di Amerika Serikat, Yayasan Obor Indonesia 1996)
Aliran dan Gelombang Gerakan Protes Baru
Dalam catatan TIME pada momentum Hari Bumi 22 April 1970 diperkirakan 20.000.000 orang turun kejalan. Paling tidak di New York saja diperkirakan ratusan ribu orang memadati jalan Fifth Evenue yang pada hari itu ditutup untuk lalu lintas umum dan puluhan ribu orang memadati Union Square.
Nelson salah satu senator yang menginisiasi peringatan Hari Bumi ini menyebutkan peristiwa ini sebagai : ... ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan. Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyampaikan pesan yang serius dan menatap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu'.
Bahkan harian The New Republic menyebutkan : " bukan saja merupakan saluran bagi semangat anti perang yang frustasi seperti yang kita pikirkan" ... sebelum hari demonstrasi itu, para pemerhati lingkungan hidup telah dihimpun " sebagai pengerahan massa terbesar dari pelbagai aliansi, setelah Perang Salib" - akan tetapi lebih merupakan suatu peristiwa yang "menandai adanya kesadaran tinggi terhadap bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kediktatoran tehnologi,"dan ini merata di seluruh lapisan masyarakat.
Energi yang luar biasa ini merupakan perkawinan antara energi generasi pemrotes 60 an yang terkenal sebagai penentang perang Amerika di Vietnam dan gerakan lingkungan hidup lama yang mulai menemukan momentumnya. Generasi pemrotes ini menjadi basis dukungan yang esensial bagi gerakan lingkungan, yang bergabung dengan organisasi konservasionis model lama, mula-mula bergerak dalam riak-riak kecil, baru kemudian dalam gelombang-gelombang besar "Kami hanya duduk-duduk disini dan tiba-tiba mereka muncul sambil mengadakan kampanye dukungan dari rumah- kerumah', laporan seorang veteran dari National Wildlife Federation.
Para lulusan perguruan tinggi tahun 1960-an tidak saja mendukung dengan pengerahkan massa untuk demonstrasi-demonstrasi politik dan kegiatan-kegiatan anti-perusahaan yang mencemari lingkungan, tapi menyumbang sejumlah besar penulis, ahli hukum, ilmuwan dan pelbagai profesi lain dalam bidang hak-hak sipil, anti-perang, gerakan feminis dan gerakan buruh. Ini menyebabkan meningkatnya pengaruh generasi muda di sebagian besar organisasi, yang membentuk bukan saja gagasan-gagasan baru, demikian pula cara dan taktik baru, mulai dari metode inovasi pengadaan dana serta lobi-lobi di tingkat Konggres. Sampai dengan meruntuhkan papan reklame dan bentuk aksi lain yang disebut 'tindakan langsung' (direct action). Dalam hal pengerahan massa paling tidak tercatat 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah ikut terlibat dalam aksi unjuk rasa pada Hari Bumi.
Generasi pemrotes dasawarsa 60-an merupakan minoritas yang jelas, tetapi generasi ini dapat menggaung dengan sangat kuat menembus masyarakat karena asumsi-asumsinya sendiri begitu menanatang, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dalam beberapa hal merupakan ketakutan dan kecemasan kalangan mayoritas juga.Tidak semua organisasi itu sangat menaruh perhatian pada masalah-masalah lingkungan sampai akhir dekade 60-an, akan tetapi sikap membangkang mereka yang tidak kenal kompromi, tekadnya untuk
menantang secara non-violence kesepakatan-kesepakatan yang ada, sering sangat menjalar baik bagi kelompok-kelompok lingkungan arus utama, maupun untuk pelbagai kelompok aktivis ad-hoc yang bermunculan. Selain itu seluruh cara aksi politik- aksi duduk, demonstrasi, pawai protes pada waktu itu masih merupakan hal baru bagi Amerika.
Perkawinan antara keduanya itu juga mengakibatkan ledakan massa demonstran juga memicu terbentuknya sejumlah organisasi lingkungan baru yang sebagian lebih bersifat lokal bukan bersifat nasional. Selain itu, ketika tidak satu pun organisasi lama memiliki pengalaman dan keahlian -atau bahkan keinginan bersama-untuk bergerak bersama dengan cakupan luas terhadap isu polusi, sehingga gerakan dengan cakupan luas justru diprakarsai oleh sejumlah organisasi yang lebih kecil untuk menyalurkan aspirasi dan keprihatinan masyarakat.
Kepercayaan
Generasi pemrotes ini lahir pada waktu kegagalan-kegagalan masyarakat pertengahan abad ini semakin mendapat soroton, maka kesepakatan-kesepakatan yang tanpa kritik semasa tahun-tahun pemerintahan Eisenhower mulai diragukan dan ditinggalkan. Apapun sifat pelbagai kegagalan yang ada-perang Vietnam yang konyol, kekerasan di daerah perkotaan, pembunuhan dan hura-hara, devaluasi,inflasi- semua itu menunjukkan bahwa banyak dari sistem yang harus digugat. Bagi banyak aktivis lingkungan, ini berarti semakin tingginya kesadaran di kalangan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab- mulai dari salah urus pada tingkat federal sampai pada kurangnya perhatian di tingkat pemerintah lokal- dan sebagai pelayan bisnis yang nyata-nyata
merugikan lingkungan demi keuntungan perusahaan swasta.
Disisi lain di kalangan publik luas setelah memandang dengan kagum munculnya
'masyarakat makmur", mulai berhitung berapa harga yang harus untuk semua itu. Disekeliling masyarakat itu terlihat buah-buah dari apa yang disebut 'revolusi sintetis', plastik, bahan kimia, pestisida, detergen, pusat tenaga nuklir dan juga tampak bertebaran daerah atau kawasan pinggiran kota serta merebaknya gedung-gedung pencakar langit. Sekalipun demikian tidak muncul ketenangan dan kedamaian serta kehidupan harmonis seperti yang dijanjikan.
Yang lebih gawat lagi, bahwa semua kemanfaatan materi itu tampaknya harus dibayar mahal - penuh sesaknya kawasan perkotaan, semakin luasnya kawasan sub-urban, polusi udara dan kabut campur asap, sungai-sungai dibendung, penyakit kanker dan abu radioaktif yang berasal dari peledakan nuklir (suatu harga yang sering masuk dalam tayangan tv) - dan semua itu berlangsung makin gila saja yang nampaknya sudah di luar pengawasan yang efektif baik oleh organisasi bisnis sendiri yang mengambil keuntungan darinya, maupun oleh pemerintah yang semestinya mengaturnya.
Pada saat yang sama, suasana 'boom materi' pasca perang telah menghasilkan semakin tingginya jumlah tamatan universitas, karyawan kelas menengah yang tumbuh cepat menempati kawasan pinggiran kota agar mereka dapat kembali mendengarkan kicau burung di pagi hari dan menatap bintang di malam hari.
Mereka ini menginginkan - dan dapat membiayai- apa yang disebut oleh para ahli sosiologi 'kualitas hidup' bukan 'standar hidup' dalam arti tradisional : tambahan yang membuat hidup lebih nikmat setelah kebutuhan pokok, termasuk waktu senggang, hiburan diluar rumah, air dan udara yang bersih, keamanan dan kesehatan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar akan lingkungan yang alami.
Kebangkitan Opini Massa
Ditengah mulai tumbuhnya kesadaran baru yang mulai matang muncul sebuah buku yang sangat fantantis yang ditulis oleh seorang akademisi yang sedang menjemput maut akibat kanker oleh pestisida yang menjadi bahan observasinya, sekaligus menjadi sumber inspirasi gerakan dan kesadaran tentang bahaya maut yang datang seiring meningkatnya kemakmuran. Akhir 1962 terbitlah Silent Spring dan didaftar sebagai salah satu buku yang paling laris selama 31 minggu dan terjual lebih dari 500.000 eksemplar. Yang menarik adalah fakta bahwa gerakan lingkungan - dalam arti yang aktif, vokal, merakyat dan berpengaruh - tidak ada sebelum Silent Spring terbit.Max Nicholson, kepala British Nature Conservancy dan seorang tokoh internasional menyebut Silent Spring “mungkin merupakan sumbangan paling besar dan paling efektif dalam membangkitkan opini umum dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekologi”.
Kebangkitan opini massa juga dipicu oleh kelompok media utama yang akhirnya menyadari seriusnya masalah lingkungan dan cakupan pemuatan berita serta isunya secara lambat namun pasti semakin mendapat tempat sepanjang dasawarsa itu, dan semakin meningkat lagi di awal tahun 1970-an dengan artikel-artikel halaman depan dan berita-berita utama di majalah Time, Fortune, Newsweek, Life, Look, The New York Times dan The Washington Post, semua itu mengambil model berita utama Newsweek yang berjudul "The Ravaged Environment' (Lingkungan yang Rusak)
Robert Heilbroner dari The New York Riview of Books dalam bulan April 1970 menyebutkan 'isu ekologi telah menjadi keprihatinan masyarakat luas". "Isu soal ekologi bukan saja yang terutama dan selalu penting, tapi. memang telah merupakan tantangan yang paling sukar dan paling berbahaya yang pernah dihadapi umat manusia" Bahwa tantangan itu telah diisolir dan bahkan telah mulai ditanggapi dengan jelas merupakan kinerja yang menjadi bukti bahwa sebuah revolusi sosial memang telah dimulai di Amerika. Titik puncaknya adalah dicanangkannya Hari Bumi dalam tahun 1970".
Kekalahan proyek bendungan Grand Canyon, dan diberlakukan Wilderness Preservation Systems (Sistem Kawasan hutan Lindung) dan kemudian pada akhir tahun 1968 National Wild and Scenic River Systems) yang diliput secara luas oleh media massa menandai suatu titik balik dalam sikap orang Amerika terhadap tanah, alam atau bagiannya yang terpenting bukan hanya untuk di eksploitasi dan dimanipulasi, tapi harus dilestarikan dan dilindungi, serta dicintai sebagai semama makluk hidup.
Kedua hal ini mewarnai perjalanan gerakan lingkungan hidup dan membangun optimisme publik untuk mempengaruhi lembaga sentral dalam hal ini pemerintah. Undang-undang yang terkait dengan upaya pelestarian hutan lindung rancangan telah diajukan oleh Wilderness Society untuk dipertimbangkan konggres pada akhir tahun 1950-an dan proses dengar pendapatnya telah dimulai tahun 1957 dengan mendapat perlawanan keras dari perusahaan-perusahaan swasta. Baru ketika awal tahun 1960 gerakan konservasi mulai menemukan semangat baru dan cara baru untuk menentang pemerintah yang bersikeras. Baru pada tahun 1963 rancangan undang-undang ini harus diputuskan melalui pemilihan suara dan di Senat pada tahun 1964. Ternyata UU ini diterima dengan suar mutlak, ditandatangani dan mulai berlaku 9 September 1964. 25 tahun setelah UU ini diberlakukan, kawasan hutan lindung meningkat dari 9,1 juta acre menjadi lebih dari 90 juta acre.
Selain pada dasawarsa ini muncul resistensi yang sangat kuat atas rencana pembangunan Bendungan grand Canyon. Hal ini tak lepas dari peran David Brower dari Sierra Club yang mulai melakukan strategi baru dan kelompok pendukung baru. Dari jerih payahnya itu perjuangan mencapai kemenangannya. Surat dan telegram protes membanjiri kantor anggota Konggres, dan ribuan orang melakukan percakapan telpon untuk memprotes, dan tidak terhitung artikel yang muncul pada meida massa nasional dengan nada yang sama serta terbentuknya pelbagai kelompok masyarakat (protes) ditingkat akar rumput untuk mempertahanakan kelanjutan tekanan tersebut.
Belum lagi banyak kasus bencana lingkungan (polusi) yang membangkitkan kecemasan publik tercatat pada dasawarsa itu muncul bencana 80 orang meninggal di New York City selama 'pergantian udara" dalam musim panas tahun 1966, kapal Torrey Canyon karam dan menumpahkan 117.000 ton minyak mentah ke selat Inggris pada maret 1967, sebuah anjungan minyak lepas pantai dekat Santa Barbara, california membocorkan berjuta-juta galon minyak mentah ke sepanjang pantai California dalam bulan Januari dan februari 1969, sungai Cuyahoga dekat Cleveland tiba-tiba terbakar dan Danau Erie yang berdekatan dinyatakan sebagai 'sebuah lobang yang mati tenggelam' sebagai akibat sampah dan limbah kimia dalam musim panas tahun 1969
Para aktivis kampus, yang pada saat itu sedang berada di puncak kampanye anti perang, dengan antusias bersatu untuk mencari dan meneliti keterkaitan antara lembaga-lembaga yang mendukung campur tangan militer pada satu pihak dan polusi bahan kimiawi di pihak lain.
Efek
Tentang fenomena gerakan sosial baru ini Kirkpatrick Sale mencatat bahwa jarang sekali ada suatu gerakan yang dalam tempo sesingkat itu memperoleh dukungan luas masyarakat, dan menjadi bagian menentukan dalam kampanye politik sampai agenda rapat legislatif atau memberikan dampak regulatoris dan legislatif yang luar biasa, menghasilkan sedemikian banyak organisasi aktif atau menjadi terpatri dalam suatu kebudayaan ; benar-benar Revolusi Hijau. Namun demikian sebagai catatan setelah periode 60-70-an gerakan lingkungan hidup mendapatkan perlawanan keras dari Presiden Reagan sebagai dedengkot neo-liberalisme.
Dukungan yang ditanam di tahun 60-70 an telah menemukan panenan yang luar biasa. Menurut sebuah Survey 1990 menunjukkan : 74% responden menganggap perlindungan lingkungan adalah mutlak sehingga standar ambang batas tidak boleh ditentukan terlalu longgar (1981 baru 45% persen yang menyatakan demikian) Survey lain menunjukkan bahwa 76% rakyat Amerika menyatakan sebagai pemerhati lingkungan hidup dan lebih dari separuhnya telah menyumbang untuk organisasi lingkungan hidup. Serta 80% rakyat AS mendukung tujuan organisasi lingkungan.
Selain itu Resources Guide to Environmental Organizations menyebutkan 14 juta orang (satu banding tujuh orang dewasa) di Amerika menjadi anggota organisasi lingkungan hidup dibandingkan pada awal 70-an baru mencapai sekitar 300.000 orang. Sedangkan organisasi lingkungan bertumbuh dari beberapa ratus pada awal tahun 70 menjadi 3000 organisasi diakhir tahun 70an
Lepas dari keberhasilan itu pada akhir bukunya Kirkpatrick Sale melontarkan kritik terhadap gerakan lingkungan hidup di AS. Ia mengatakan selain perselisihan dan pertentangan di kalangan sendiri, gerakan lingkungan masih harus mencari cara untuk mempengaruhi inti kepuasan publik Amerika, atau menghindari pemberian tugas yang cuma berada pada tepi-tepi kehidupan politik, sehingga gerakan lingkungan itu sendiri diremehkan, atau bahkan ditekan. Dan semakin gerakan lingkungan itu mempertanyakan nilai-nilai utama dari sistem Amerika dibalik krisis-krisis lingkungan (liberalisme, kapitalisme catatan saya) itu atau mempertanyakan peradaban, diatas mana gerakan lingkungan itu berada, maka gerakan itu akan semakin mendapatkan perlawanan, kalau bukan untuk jangka panjang pasti dalam jangka pendek.
Baca pula SERANG DI TEMPAT YANG MEMATIKAN Strategi-Taktik Untuk Gerakan Lingkungan Hidup Radikal
KERANGKA TEORI SEDERHANA TTG GERAKAN SOSIAL
Jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan kayakinan : engkau akan hancur!
(Wiji Thukul : Tembok dan Bunga)
Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilya hanyalah untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya ofensiflah yang dapat menaklukan musuh. (AH Nasution)
Indikasi awal untuk menangkap gejala gerakan sosial menurut John Lofland (Protes; Insist Press 2003) adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kualitas "aliran" atau "gelombang". Dalam prakteknya suatu gerakan sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, bertambahnya jumlah anggota pada suatu organisasi gerakan dan semakin banyaknya aksi kekerasan atau protes terencana dan tak terencana.
Selain itu menurut Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan adalah, pertama, aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati kurun waktu itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses 'cooled down'. Kedua, banyak organisasi kekerasan atau protes yang berubah menjadi gerakan sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan yang disebut diatas. Organisasi-organisasi ini selalu
berupaya menciptakan gerakan sosial - atau jika organisasinya memiliki teori operasi yang berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalisme) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik dan jahat, atau kedua hal tersebut, serta menunggu kegagalan fungsi lembaga sentral. Kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.
Lebih lanjut dapat dirumuskan bahwa sebuah gerakan sosial terdiri dari
1. Lahirnya kekerasan atau protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara independen
2. Bertambahnya jumlah (dan peserta) aksi kekerasan dan/atau protes terencana dan tak terencana (terutama kumpulan) secara cepat
3. Kebangkitan opini massa
4. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
5. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan pada struktur dari lembaga-lembaga sentral.
Gelombang dan aliran ini analoginya dapat di temukan dalam salah satu petikan puisi Wiji Thukul Tembok dan Bunga pada awal tulisan ini. Gerakan pinggiran, gerakan awalan, embrio gerakan memulai dengan menebarkan biji-biji di tembok (lembaga sentral : pemerintah, militer, polisi atau dalam bentuk sistem-struktur sosial dominan). Hingga kemudian gerakan tersebut menemukan momentum bersama ketika biji-biji itu tumbuh bersama dan menghancurkan tembok tersebut.
Atau meminjam teori gerilyanya AH Nasution bahwa embrio gerakan adalah sekelompok gerilya yang bekerja secara 'hit and run' dengan tujuan memeras tenaga musuh bukan kemenangan yang hakekatnya bergerak dalam front tertutup, terbatas dan sporadis. Dimana kemenangan hanya dapat diraih ketika momentumnya tiba, ketika ofensif dilakukan secara terbuka oleh tentara reguler atau oleh perlawanan semesta rakyat dan tentara.
Selain itu 5 gejala gerakan sosial seperti disebutkan oleh Lofland, pemahaman tentang gerakan sosial dapat diturunkan lebih jauh kedalam tujuh pertanyaan pokok tentang Gerakan Sosial. Ke 7 pertanyaan pokok merupakan indikator yang praktis untuk menganalisis gerakan sosial sekaligus sebagai petunjuk praktis bagi pelaku gerakan sosial untuk 'merancang' atau paling tidak memicu gerakan sosial
1.Kepercayaan : hal-hal yang dianggap benar (ideologi, doktrin,pandangan, harapan, kerangka berpikir, wawasan, perspektif.)
- realitas apa yang mereka tuntut/pertentangkan
- siapa yang dianggap lawan dan siapa yang diteladani
- perubahan secara total atau parsial
- pada tingkatan individual atau 'supra individual' (politik, ekonomi,
budaya)
2. Organisasi : cara bagaimana orang-orang yang mempunyai 'pandangan' yang s
ama,
diatur/diarahkan untuk mencapai tujuan.
- bagaimana orang-orang diorganisir/cara-cara mengorganisir
- bagaimana proses pengambilan keputusan (sentralistik/desentralistik)
- adakah pembagian kerja di organisasi gerakan
- cara memelihara orang-orang tetap melaksanakan tugasnya
- cara-cara memperoleh dana dari gerakan
- organisasi bersifat sementara atau permanen
3. Sebab-sebab : variabel-variabel yang berpengaruh terhadap gerakan sosial
- bagaimana gerakan sosial dimulai/dibentuk
- kapan gerakan itu dibentuk
- mengapa gerakan itu muncul
Secara teoritik ada 17 variabel yang berpengaruh, yaitu:
a. perubahan dan ketimpangan sosial
b. kesempatan politik
c. campurtangan negara terhadapkehidupan warga
d. kemakmuran (yang menimbulkan deprivasi ekonomi)
e. konsentrasi geografis
f. identitas kolektif
g. solidaritas antar kelompok
h. krisis kekuasaan
i. melemahnya kontrol kelompok yang dominan
j. pemfokusan krisis
k. sinergi gelombang warga negara (penduduk)
l. adanya pemimpin
m. jaringan komunikasi
n. integrasi jaringan di antara para pembentuk potensial
o. adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial
p. kemampuan mempersatukan
4. Keikutsertaan : keanggotaan dalam arti yang paling lemah sampai yang paling kuat
- mengapa orang ikut dalam gerakan
- sampai seberapa jauh keterlibatnanya dalam organisasi
- siapa yang menjadi pendukung gerakan
- bagaimana mensosialisasikan gerakan kepada pengikutnya
5. Strategi : cara atau metode untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan
- usaha-usaha apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan gerakan
- apada tujuan utama dari setiap strategi yang digunakan
- dalam mencapai tujuan itu, lebih menekankan pada perubahan
institusi-institusi sosial (societal manipulation) ataukah dengan mengubah
hati dan pemikiran orang-orang (personal transformation)
- strategi yang digunakan bersifat terbuka atau tertutup, terang-terangan
atau tersembunyi
- menggunakan strategi penyerangan frontal atau pengikisan
- 'pendirian' mereka dinayatakan secara halus (polite), melalui aksi protes
atau kekerasan
- mekanisme taktik yang digunakan terhadap kelompok sasaran : persuasi,
negosiasi atau paksaan
6. Efek : tanggapan atau reaksi kalangan luar terhadap gerakan sosial
- reaksi penguasa
- reaksi elit
- reaksi media
- reaksi sesama gerakan sosial
((Dr. Ngadisah, MA; Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial Politik di Papua,
Pustaka Raja 2003)
Tragedi dan Perlawanan Di Wilayah Tambang
Artikel terkait
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 1)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 2)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 3)
Ideologi dan Gerakan Lingkungan (Bag 4)
Kamis, 09 Oktober 2008
190 E-Book Gratis untuk Pendidikan dan Transformasi Sosial
Terima kasih, untuk lembaga-lembaga dan para penulis yang telah memungkinkan penyebaran buku-buku/bacaan secara online dan gratis.
salam pembebasan
andreas iswinarto
kerja.pembebasan@gmail.com
Pendidikan Popular : Membangun Kesadaran Kritis
Penyunting : Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo
Kontributor : Russ Dilts Read Book 2000
Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis
Judul Asli:Stepping Forward
Penulis: Victoria Johnson, Edda Ivan-Smith, Gill Gordon, Pat Pridmore, Patta Scot
Penerjemah:Harry Prabowo dan Nur Cholis, Insist Press
Kampanye Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pendidikan yang Berperspektif HAM
Kampanye Komnas HAM
Modul Pelatihan Analisa Gender dan Anggaran Berkeadilan Gender
OLEH Edriana Noerdin, Dkk.
Pendidikan Pemberdayaan
OLEH Information and Consultations Women's Centers
Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi Sumber : Indoprogress
Land Reform Desa
Penulis: Irwan Nirwana, Boy Frido, Noer Fauzi, Dony Hendro
Dusta Industri Pangan
Judul Asli:Nourrir le Monde ou L'agrobusiness, Enquete Sur Monsanto
Penulis: Isabelle Delforge Penerjemah:Sonya Sondakh Sumber : Insist Press
Bisnis Kehidupan
Disunting oleh: Tim REaD Book
Ekologi, Kapitalisme, Sosialisasi Alam
Walhi
Politik Gerakan Buruh di Asia Tenggara
Naskah ini pernah dipublikasikan di Jurnal SEDANE dan kemudian dimuat kembali untuk IndoProgress, atas ijin penulis
Vedi R Hadiz
Tahun yang Tak Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65
Institut Sejarah Sosial Indonesia bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK)
© John Roosa, Ayu Ratih, Hilmar Farid
Cetakan Pertama: Januari 2004
ISBN 979-8981-26-X
=====================================================================================
Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia
## andreas iswinarto ##
silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua
==================================================================================
Hak Asasi Manusia Minim Dukungan Politik
Penerbit : Elsam
Pemberdayaan Hukum Bagi Masyarakat Miskin
Sumber : YLBHI Editor: Restu Mahyuni
HAK-HAK NORMATIF BURUH/PEKERJA DALAM TIGA PAKET UNDANG-UNDANG PERBURUHAN
OLEH Divisi Buruh Lembaga Bantuan Hukum - Bali
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas
James Petras (indoPROGRESS)
SATU DEKADE REFORMASI: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia
Studi DEMOS
DARI REPRESENTASI ELITIS MENUJU REPRESENTASI POPULAR
Studi DEMOS
Reason in Revolt
Alan Woods dan Ted Grant
Propaganda, Kuasa, Dan Pengetahuan
Genealogi Ilmu Komunikasi di Indonesia, Suatu Penelusuran Awal
Ignatius Haryanto Sumber : Indoprogress
Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial
Yanuar Nugroho
Konflik dan Ide Jurnalisme Perdamaian
OLEH Stanley
Media untuk Pengembangan Komunitas
OLEH Suranto, Hanif
Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Radio Prima dan BMC
OLEH Errol Jonathan dan Tracy Pasaribu
BACAAn LIAR": BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN
oleh Razif
sumber : http://members.fortunecity.com/edicahy/
14 Buku Tan Malaka\
Karya-Karya Che Guevara
Kumpulan Catatan Pinggir Gunawan Muhamad
Dunia Puisi Joko Pinurbo
Kabar Berita-Kumpulan Tulisan tentang Pramoedya Ananta Tour
Semua Bisa Seperti Jembrana: Kisah Sukses sebuah Kabupaten Meningkatkan Kesejahteraan Rakyatnya
Fund Raising ala Media
OLEH Hamid Abidin, PIRAC
Bukan Perempuan Biasa (Majalah Tempo)
100 Tahun Kebangkitan Nasional : Indonesia Yang Kuimpikan dalam 100 Teks (Majalah Tempo)
G 30 S dan Peran Aidit (Majalah Tempo)
Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan : 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan (Kompas)
Buku Online – Terbitan Kontras
Konvensi Ham Internasional
mencakup :
Deklarasi HAM
Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kedua Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik, Untuk Penghapusan Hukuman Mati
Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Protokol Tambahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Protokol Tambahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Konvensi Hak-Hak Anak
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak-Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindak Penghilangan Secara Paksa
Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Orang Penyandang Cacat
Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindakan Penghilangan Paksa
Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi - Pengadilan Hak Asasi Manusia ad hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984
Tawaran Model Penyelesaian Pelanggaran Berat HAM di Aceh
HAM Belum Jadi Etika Politik
Aceh Damai Dengan Keadilan
Menolak Impunitas Serangkaian Prinsip perlindungan dan pemajuan HAK ASASI MANUSIA Melalui Upaya memerangi Impunitas Prinsip-prinsip hak korban
Politik Militer Dalam Transisi Demokrasi Indonesia
Laporan Penelitian Bisnis Militer di Perusahaan Minyak Bojonegoro-Jawa Timur
Ketika Moncong Senjata Ikut Berniaga : "Laporan Penelitian Ketelibatan Bisnis Militer Dalam Bisnis Di Bojoneogro bouven Digoel dan Poso"
MEREKA BILANG DI SINI TIDAK ADA TUHAN; SUARA KORBAN TRAGEDI PRIOK
Buku Online –Terbitan Yayasan Tanah Merdeka
Agama dan Suku:
Kepemilikan dan Penguasaan Usaha Pertanian Di Dataran Tinggi Sulawesi Tengah
Marmer, Migas, dan Militer
Di Ketiak Sulawesi Timur : Antara Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Investor
KETIKA PETANI ANGKAT BICARA, DENGAN SUARA DAN MASSA:
Belajar dari Sejarah Gerakan Petani di Indonesia dan Amerika Selatan
PEREDARAN ILEGAL SENJATA API DI SULAWESI TENGAH
INCO : RAHMAT ATAU PETAKA ?
Buku Online Terbitan JKPP
Buku Seri Panduan Pemetaan Partisipatif Pemetaan dengan Kompas : Terbitan JKPP
Buku Online – Terbitan IRE Jogjakarta
NEOLIBERALISME MENGGOYANG AGAMA
POLITIK PERLAWANAN
KRISIS DEMOKRASI LIBERAL
PRO POOR BUDGETING:
Politik Baru Reformasi Anggaran Daerah untuk Pengurangan Kemiskinan
DAERAH BUDIMAN: Prakarsa dan Inovasi Lokal Membangun Kesejahteraan
BENIH PERUBAHAN DI ATAS FONDASI POLITIK YANG RAPUH
(Studi tentang Politik Anggaran Daerah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara)
Buku Online : Terbitan ELSAM
Laporan Lengkap Komisi Kebenaran dan Penerimaan Timor Leste (CAVR)
Buku Online – Terbitan ICW
Roadmap KPK 2007-2011 : Menuju Pemberantasan Korupsi yang Lebih Efektif
Adnan Topan Husodo- ICW dan Koalisi Pemantau Peradilan, 2008
Utang yang Memiskinkan : Studi Kasus Proyek Bank Dunia di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah
Coen Husain Pontoh, Ade Irawan, Adnan Topan Husodo, Heni Yulianto, Sholihatun Kiptiyah ICW, April 2002
Berkah Proyek Hibah : Studi Kasus Proyek Dombo Sayung Floodway dan Punggur Irrigarion Project
Ade Irawan, Solihatun Kiptiyah, Denda Alamsyah ICW, Januari 2004
Eksaminasi Publik : Partisipasi Masyarakat Mengawasi Peradilan
Susanti Adi Nugroho [et al] ; editor : Emerson Yuntho [et al] ICW, 2003
Bisnis Militer Mencari Legitimasi
Danang Widoyoko, Irfan Muktiono (alm), Adnan Topan Husodo, Barly Haliem Noe, Agung WijayaICW, 2003
Mendagangkan Sekolah : Studi Kebijakan Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) di DKI Jakarta
Ade Irawan, Eriyanto, Luki Djani, Agus Sunaryanto ICW, Mei 2004
Buku Online – Terbitan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK)
Pengujian Undang-Undang dan Proses Legislasi
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Bobot Kurang Janji Masih Terutang
Panduan Hukum Di Indonesia 2006
Catatan Akhir tahun PSHK tentang Kinerja Legislasi tahun 2005
Panduan Praktis Pemantauan Legislasi
Hak Masyarakat di Bidang Identitas, 2002
Diskursus tentang Civil Society
Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia
Manifesto Ekonomi Rakyat Pekerja
Gerakan Serikat Buruh : Dari Jaman Kolonial Hindia Belanda Hingga Orde Baru
Pekalongan Dari 1830-1970 : Transformasi Petani Menjadi Buruh Perkebunan
Mozaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe
Istrumen Kajian Hak-Hak Kesehatan Perempuan
Buku Panduan Perempuan di Parlemen: Bukan Sekedar Jumlah
Dari Desa Ke Desa - Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam
Perjuangan Perempuan Nelayan Morodemak untuk Keluarga dan Masyarakat Nelayan
Pembangunan untuk Siapa? Dampak Reklamasi Pantai terhadap Perempuan Nelayan dan Anak di Pantai Utara Jakarta
Warga Pesisir, Haruskah Tersingkir?
Tokalekaju - Di Bawah Kaki Langit Jantung Sulawesi
Raksasa Dasamuka: Kejahatan Kehutanan, Korupsi dan Ketidakadilan di Indonesia
Tau Taa Wana Bulang : Bergerak Untuk Berdaya
3 Seri Buku : Global Warming
Global Green Charter – Piagam Kaum Hijau Sedunia
3 E-Book Foum Desa (harus mendaftar dulu untuk login)
Modul APBDes Partisipatif, Buku Pintar Alokasi Dana Desa, Studi Alokasi Dana Desa
Buku-buku Prof Jimly Asshiddiqie
Pengantar Ilmu Hukum Tata negara jilid 1
Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang
Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi
Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung
Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional
Menentang Globalisme Imperialis : Pengantar Ekonomi-Politik Perburuhan
Kursus Pemula Untuk Buruh
Ideologi Politik Serikat Buruh
PAKTA SOSIAL BERBASIS BURUH: MUNGKINKAH?
Penguasaan Dan Pendistribusian Lahan Oleh Rakyat
BEKERJA BERSAMA ANGGOTA SERIKAT PETANI PASUNDAN DALAM MEMPENGARUHI KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA1
Perjuangan Federasi Serikat Tani Dunia La Via Campesina
TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAN TRANSFORMASI SOSIAL: SUATU PENDEKATAN BUDAYA
PEMBELAJARAN BUDIDAYA PADI EKOLOGIS BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT
“REVOLUSI BIJI MINYAK” : Dari Konversi Lahan Menuju Konversi Pangan
Ekonomi Politik Pembaruan Desa
PERBEDAAN PERSEPSI MENGENAI PENGUASAAN TANAH DAN AKIBATNYA TERHADAP MASYARAKAT PETANI DI SUMATERA TIMUR
KEMAJUAN EKONOMI, REFORMASI AGRARIA DAN LAND REFORM DI PEDESAAN
Kepemilikan Tanah Di Sumatera Utara Tahun 1950a
Kehidupan Tanpa Minyak: Masa Depan yang Nyata
Indonesia: Kemunduran Sebuah Rejim Karbon (Karbokrasi)1
Reformasi Hutan pasca era Suharto
Menjala Ikan Terakhir
Hukum Lokal Sebagai Media Perlawanan
Penggambaran GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan
KUNTILANAK WANGI: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950
Teori Feminis dan Pekerjaan Sosial
Feminisme Ilmu Pengetahuan
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan
Lekra vs Manikebu
Kebudayaan Kekuasaan atau Sosiologi Kekuasaan
Kekerasan Indonesia dalam Sastra Peristiwa
LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA: 1945-1949
Jurnalisme Patriotis: Solusi atau Kemunduran?!
Rajawali Berlumuran Darah : Karya-karya Eksil Utuy Tatang Sontani
Negara dan Klas di Bawah Kapitalis Pinggiran
Sejarah dan Struktur Sosial Dalam Kajian Indonesia Kontemporer
KRISIS DAN UNDERGROUND ECONOMY DI INDONESIA
Masalah Perdagangan Bebas
Globalisasi dan Perlawanan
Kolonialisme, Tahap-tahap Kolonialisme dan Negara Kolonial
Upah, Harga dan Laba
Negara, Masyarakat dan Ekonomi
Masalah Ekonomi Indonesia
Kapitalisme Serta Produksi Barang Dagangan Di Jawa
Penanaman Modal Asing Berarti Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Indonesia
Negara Kolonial dalam Baju Baru
MILITER DAN KAPITALISME ERSATZ: BISNIS ABRI PADA MASA ORDE BARU
Kebijakan Pemerintah atas Modal Asing Pasca Proklamasi
Kapitalisme, Golongan Menengah dan Negara : Sebuah Catatan Penelitian
Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an
Nomor Satu Amerika : Monopoli Merkantilis
Spektrum Kemerdekaan Indonesia: Sebuah tinjauan selektif
Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
Sosialisme Utopian
Pledoi Sudisman
Indonesiaku, Indonesiamu
Marxisme Ilmu dan Amalnya
Menjelang Seabad NU: Di Tengah Neoliberalisme Masyarakat Nahdliyin Mau ke Mana?
Perdagangan, Globalisasi dan Perjuangan Melawan Kemiskinan
Kerja Upahan dan Kapital
Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi
Dari Kiri Menjadi Kanan : Pergeseran Ideologi Semaoen dalam “Tenaga Manusia”
Demiliterisasi dan Keadilan Transisional dalam Proses Demokratisasi di Indonesia
Penilaian Demokratisasi di Indonesia (276 hal)
Mengkaji Ulang Good Governance
Badan Perwakilan Desa: Arena Baru Kekuasaan dan Demokrasi Desa1
Kewargaan, Partisipasi dan Akuntabilitas: Sebuah Pengantar
Partisipasi Politik Lokal di Sumatera Barat
Pilkada Langsung: Resiko Politik, Biaya Ekonomi, Akuntabilitas Politik & Demokrasi Lokal
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
KERETA APIKU SAYANG, KERETA APIKU MALANG
Reformasi di Indonesia Sebagai Proyek Neoliberal
Politik Minyak Hegemoni Imperialis AS
Pembebasan Nasional atau Nasionalisme
Biografi Sutan Syahrir
Biografi M Natsir
Biografi Muhammad Hatta
Biografi DN Aidit
Bung Karno : 100 Tahun Dalam Sunyi
silah tengok pula url ini
397 Free e-Book dari BUKU-e LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Statistik : 588 penulis dari 397 judul buku di 60 bidang kajian dengan total 83.728 halaman
1,5 juta Buku Online (E-Book) Gratis Dari The Universal Digital Library
| Reaksi: |
Download Buku Bermutu : Bisnis Kehidupan
Tabir Keanekaragaman Hayati: Hancurnya hak-hak rakyat dan keanekaragaman alam oleh Imperialisme Pengetahuan dan Industri
Di dalam konteks perubahan teknologi dan komersialisasi sumber daya hayati yang serba cepat saat ini, pengertian konservasi keanekaragaman hayati menimbulkan berbagai pertentangan, baik dalam tataran ilmiah, ekonomi, sosio-politik, maupun etika.
Sebagian besar keanekaragaman hayati dunia terletak di negara-negara Selatan. Negara Utara beserta industri swastanya kini tengah gencar menggunakan negara-negara selatan sebagai gudang sumber hayati dan genetik untuk mengembangkan produk-produk baru seperti varietas tanaman pertanian, obat-obatan, pestisida, minyak, dan kosmetik. Keanekaragaman dunia kehidupan – atau keanekaragaman hayati, kini menjadi bahan baku bioteknologi baru dan obyek penerapan klaim paten.
Apa kemungkinan dampak kecenderungan di atas terhadap hak masyarakat untuk menentukan nasib mereka sendiri (self determination) terhadap pelestarian keanekaragaman hayati, hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat; pertumbuhan industri bioteknologi, serta model pembangunan di Utara dan Selatan? Dapatkah perspektif yang sedang bertentangan pada berbagai pelaku sosial diselesaikan? Bila dapat, apakah syaratnya dan apa implikasinya bagi konservasi dan pembangunan?
Disunting oleh: Tim REaD Book
Prakata (PDF; 28kb)
Pendahuluan (PDF; 140kb)
Bab 1 Ilmu Pengetahuan: Alat Dominasi dan Alat Kontrol
Ilmu Pengetahuan, Pasar dan Kekuasaan: Perkembangan Industri Gen Dunia (PDF; 52kb)
Rekayasa Genetika Dan Bioteknologi di Tangan Industri (PDF; 84kb)
Akal Licik di Balik Istilah Keanekaragaman Hayati (PDF; 96kb)
Bab 2 Kekuasaan dan Kemegahan
Gen: Benda Aneh yang Sangat Diminati (PDF; 48kb)
Paten Kehidupan: Trend di Negara Utara (PDF; 72kb)
Di Balik Topeng Paten (PDF; 48kb)
Praktek Bioprospeksi atau Penjarahan Hayati (PDF; 40kb)
Adakah Keadilan dalam Bioprospeksi (PDF; 204kb)
Body Shop: Sebuah Model Bioprospeksi (PDF; 36kb)
Bioprospeksi di Mata Masyarakat Asli (PDF; 92kb)
Perspektif Orang-orang yang Dikalahkan (PDF; 112kb)
Bab 3 : Gen Manusia: Sumber Keuntungan Bagi Industri
Proyek Industri Gen Manusia (PDF; 76kb)
Kesaksian Orang-orang yang Dikalahkan (PDF; 28kb)
Determinisasi Genetik dan Rasisme Dalam Ilmu Pengetahuan (PDF; 76kb)
Bab 4 : Apa Yang harus Kita Lakukan Sekarang
Pilihan Strategi Perlawanan (PDF; 64kb)
Membangun Paradigma Baru (PDF; 76kb)
Benih-Benih Harapan (PDF; 60kb)
Glosarium (PDF; 44kb)
dapatkan pula di blog ini link-link 75 E-BOOK lainnya
Download Buku Bermutu : Landreform di Desa
Landreform adalah suatu perubahan tentang siapa yang berhak memiliki tanah dan siapa saja yang bisa memanfaatkannya, serta bagaimana membuat hak-hak tersebut terwujud. Dalam konteks otonomi desa, landreform dapat menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa yang mayoritas hidup dari usaha bertani.
Buku ini adalah bagian dari seri Panduan Pengorganisasian dan Pendidikan Rakyat. Diterbitkan untuk memperkenalkan landreform dan kemudian memberikan semacam panduan bertindak bagi pembaca bagaimana mempraktekkannya di tingkat desa, dan menguatkannya dengan perangkat hukum yang berlaku. Walaupun dimaksudkan sebagai panduan, buku tidak menganggap pembaca buta terhadap persoalan landreform, namun diharapkan dapat memperkaya diskursus dan memberikan lentera bagi upaya penyelesaian masalah ketidakadilan agraria yang telah menyebabkan kemiskinan struktural di Indonesia ini.
Penulis: Irwan Nirwana, Boy Frido, Noer Fauzi, Dony Hendro
Pengantar Penerbit (PDF; 16kb)
Kata Pengantar - Mansour Fakih (PDF; 40kb)
Pendahuluan (PDF; 20kb)
BAB 1 - Niat Landreform (PDF; 76kb)
BAB 2 – Dasar Hukum (PDF; 56kb)
BAB 3 - Pelaksanaan Landreform Desa (PDF; 124kb)
BAB 4 - Mengatur Landreform dengan Peraturan Desa (PDF; 76kb)
BAB 5 - Penutup (PDF; 20kb)
Lampiran UUPA (PDF; 236kb)
dapatkan pula di blog ini link-link 75 E-BOOK lainnya
Rabu, 08 Oktober 2008
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar (bag 1)
It’s the capitalism, stupid! (adapatasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)
Rudolf Mrazek di dalam bukunya yang sangat mengesankan dan ajaib, Enginerss of Happy Land : Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni (edisi Indonesia, Yayasan Obor Indonesia 2006) dan Thomas L Friedman “The World is Flat : Sejarah Ringkas Abad ke-21 (edisi Indonesia, Dian Rakyat 2006) bertemu dalam rujukan yang sama (dari banyak rujukan tentunya) untuk analisis dan argumentasinya. Rujukan itu adalah Manifesto Komunis yang ditulis oleh Karl Marx dan Engels.
Uniknya keduanya merujuk pada bagian yang sama. Bila Friedman mengutip beberapa alinea dari Manifesto Komunis itu, Mrazek hanya mengutip satu alinea.
Friedman mengutip Manifesto Komunis untuk menguatkan argumentasi soal gejala pendataran dunia. Ia menyebutkan bahwa Marx lah orang pertama yang melihat kemungkinan pendataran dunia untuk menjadi pasar global, yang tidak direpotkan oleh batasan negara. Menurutnya lagi meskipun Marx adalah pengkritik paling keras kapitalisme, Marx pula mengagumi kekuatan kapitalisme mendobrak segala identitas feodal, nasional, maupun agama.
Sedangkan Mrazek mengutip Manifesto Komunis untuk memulai bab 1 yang berjudul Bahasa Sebagai Aspal, suatu kajian ajaib untuk melihat fenomena jalan raya bukan semata sebagai fenomena teknologi dan material tetapi juga sebagai fenomena penemuan bahasa dan pertarungan wacana.
Pada pokoknya inilah pesan utama “Kebutuhan akan pasar yang terus meluas bagi produk-produknya mengejar kaum borjuis di seluruh permukaan bumi. Ia harus bersarang di semua tempat, bermukim dimana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana”.
Gagasan Pendataran Dunia disimpulkan oleh Friedman sepanjang dan selepas perjalanannya berkelana di India tepatnya ke kota Bangalore “Lembah Silikon” nya India bersama tim kerjanya dari saluran TV Discovery Times. Pemicunya adalah pernyataan Nilekani CEO Infosys Technology Limited (orang pintar dan pemimpin yang paling disegani di dunia usaha India), “Tom, lapangan permainan kini semakin didatarkan”.
Friedman kemudian dengan gagah mengatakan perjalanan eksplorasinya ke Bangalore mirip dengan perjalanan Columbus setengah abad lalu dalam upayanya menemukan jalan yang lebih singkat menuju India. Perbedaannya bila Columbus walau akhirnya tidak sampai India dan tersasar ke Amerika mendapatkan kesimpulan bahwa dunia itu bulat, Friedman menyimpulkan sebaliknya Dunia itu Datar.
Kita tahu kemudian keberhasilan Columbus memacu para pelaut tangguh dari Eropa berlomba-lomba melakukan pelayaran untuk mencari daerah-daerah yang eksotik dan kaya sumber daya alam. Kita tahu inilah cerita tentang kapitalis negara dalam wujud VOC (Kerajaan Belanda) dan EIC (kerajaan Inggris) dan kemudian juga dalam kata-kata Manifesto Komunis ‘mengejar kaum borjuasi (eropa, catatan saya)…….ia harus bersarang di semua tempat, bermukim dimana-mana, menjalin hubungan dimana-mana”
Tidak saja untuk mengejar kebutuhan akan pasar yang terus meluas bagi produk-produknya, tetapi juga menguasai bahan baku (sumber daya alam), sekaligus mengejar barisan budak dan buruh yang murah.
Ini adalah awal cerita tentang kolonialisme, dan imperialisme sebagai perkembangan lebih lanjut dari kebajikan ‘akumulasi modal sebesar-besarnya” (kapitalisme atau keserakahan sebagai iman) dan kemudian cerita tentang modal yang tidak kenal batas negara. Bahkan tentang modal yang kemudian mengatur negara dan negara yang mbebek saja melindungi korporasi dibalik mitos biarkan ‘mekanisme pasar bekerja’, ‘tangan-tangan ajaib’ (invisible hand) dan ‘efek menetes ke bawah” (trickle down effect) dari kesejahteraan segelintir orang ke tengah-tengah massa.
Dan pagi ini saya kembali bertemu Marx dalam artikel Martin Manurung ‘Neoliberalisme Kena Batunya’ di Kompas, menyoal turun tangannya pemerintah AS dengan dana talangan untuk menyelamatkan korporasi yang mengalami kesulitan karena ulah dan ketololannya sendiri. Hmm dana publik dari pajak tanpa banyak persyaratan digelontorkan kepada korporasi .
Lupakan jargon-jargon mekanisme pasar, tangan-tangan ajaib yang dimitoskan itu, negara dalam hal ini Bush mohon ijin terang-terangan (banyak yang tersembunyi tentunya) untuk melindungi pemilik modal.
Martin kemudian menutup artikelnya “Tesis negara sebagai pelindung modal, sebagaimana pernah dikatakan Karl Marx, menjadi sungguh-sungguh hadir dan nyata dalam krisis AS”. (Disamping kontradiksi sistemik dan struktural kapitalisme yang akan terus menyimpan kerentanan krisis terus menerus, begitu ya Bung Martin?)
Loh kenapa kenek bus butut yang kunaiki teriak lantang BLBI, BLBI, Lapindo, Lapindo tarik mang!
Duh biung, bumi gonjang ganjing, langit bakal runtuh….?
Trak tak tak tak trak tak…..
Zaibul hikayat, gaji CEO Lehman Brothers yang kolaps itu 34.300.000 dollar AS setahun dan terima bonus di bulan Maret lalu sebesar 22 juta dollar AS (Kompas 19 September), lalu Aburizal Bakrie yang belum lama manggung sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia itu.
(34.300.000 dollar AS sama dengan 332.710.000.000 rupiah…………….., memang ini masih kalah dibandingkan CEO sebuah perusahaan hedge fund yang mencapai 2 milyar dollar AS setara Rp 19 trilyun seperti dikatakan A. Tony Prasetiantono)di Kompas.
Dan krisis di AS ini jelas akan menyebar seperti wabah dan pendemi meminjam Marx karena ia bersarang di semua tempat, bermukim dimana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana…
salam hangat
salam pembebasan
Andreas Iswinarto
kerja.pembebasan@gmail.com
Mas Marco di Koran Doenia Bergerak (1914) seperti dikutip Mrazek di bukunya menulis tentang mobil dan luar biasa saya temukan potret yang terang benderang menggambarkan situasi masa kini…..
Mobil di zaman kita adalah kendaraan yang paling disayangi petinggi dan kaum kapitalis… Sekarang ini, tentu saja, apa yang dianggap paling kuasa, dank e arah mana semua kekuatan dan semua waktu dihabiskan, adalah perbaikan jalan. Jalan-jalan besar menjadi lebih baik, lebih indah, lebih lurus, dan lebih licin setiap harinya. Langkah demi langkah sewaktu jalan itu diplester, dilapis beton dan kerikil dengan cara yang paling maju, tumbuh pula bukit-bukit kerikil….Sudah pasti bahwa beginilah masa depan : bahkan jalan desa, dan semua jalan kampong-tak ada jalan yang terlalu kecil untuk itu-akan dibuat menjadi lebih besar, lebih lebar, lebih menarik, dan lebih licin. Gundukan pasirnya akan lebih tinggi. Di hutan kami, kami akan terus menggali kerikil, dan gundukan itu akan masih lebih tinggi lagi, lebih tinggi daripada gunung yang sesungguhnya…Kaum tani menggali pasir, bukan menggali di lading mereka…Sudah pasti bahwa akan selalu kekurangan pasir….dan, pada akhirnya, tak aka nada mobil yang mogok di jalanan yang bagus itu”.
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar (bag 2)
Pemerintah Amerika : Kaisar Telanjang Pesuruh Korporasi
It’s mentally sick, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)
(lanjutan gumaman Krisis Ekonomi Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar. It’s the Capitalism, Stupid)
Di dalam perkara krisis keuangan global hari-hari ini……..
Tahukah anda dongeng tentang kaisar telanjang yang jadi ‘olok-olok’ anak-anak kecil yang polos dan lugu, “Kaisar telanjang, Kaisah telanjang, Kaisar kentir (gila)”. Sementara sebagian orang-orang dewasa sibuk memarahi dan membungkam anak-anak ini, sambil saling menipu diantara mereka dengan berlomba mengelu-elukan kaisar seolah berbusana sangat indah, mewah dan akan menciptakan trend mode adihulung. Sebagian lain tersenyum di dalam hati (kecian deh lu katanya) dan sebagian diam-diam mendukung anak-anak kecil itu. Konon orang-orang kepercayaan kaisar yang pandai menjilat sekaligus memanipulasi kaisar berseru-seru sambil mengancam, hanya orang-orang pintar dan bijaksana yang bisa melihat keindahan pakaian kaisar yang dirancang oleh desainer ternama yang lihai mengambil hati sekaligus menipu kaisar. Dan katanya hanya orang-orang bodoh saja yang tidak bisa melihat kehebatan pakaian kaisar.
Dan meminjam Karl Marx dan Engel rupanya “ada hantu komunisme berkeliaran di batok kepala kaisar dan halaman rumah sendiri……”
Seperti disampaikan oleh A Toni Prasetiantono dalam artikelnya Meletusnya Gelembung Hampa (Kompas Rabu, 8 Oktober 2008) salah satu sebab tarik ulurnya atau penentangan dana talangan pemerintah adalah soal momok sosialisme di sebuah negeri yang mengaku dedengkot liberalisme dan kapitalisme. Seperti dikatakan oleh Toni, “jika pemerintah menalangi semua bank yang bangkrut, bank-bank investasi itu akan menjadi milik pemerintah. Perekonomian yang serba pemerintah (etatisme) ini akan menimbulkan kesan, perekonomian AS sudah beralih ke sosialisme”.
Dengan menggunakan logika berpikir yang sama kita bisa temukan fenomena ‘ada hantu komunisme di batok kepala dan halaman rumah sendiri’ ini didalam diri Bill Gates dari Microsoft dan banyak eksekutif, kapten korporasi lainnya. Dalam menghadapi fenomena lahirnya komunitas kolaboratif atau kolaborasi massal di (melalui) web 2 seperti jejaring sosial Flickr, MySpace, You Tube dan Wikipedia juga open sources seperti Linux sebagai ‘komunis’ jenis baru yang terselubung. Sementara banyak korporasi lain dengan perkembangan ini, mulai membayangkan, merancang, membangun dan mendistribusikan produk dan jasa dalam berbagai cara baru yang inovatif. Ini diungkapkan oleh Don Tapscott dan Anthony D. William dalam bukunya Wikinomic yang edisi Indonesianya baru saja diterbitkan Bhuana Ilmu Populer 2008.
Dalam bahasa Hermawan Kertajaya di kompas.com melalui teknologi web 2 ini terjadi proses horisontalisasi baik di lapangan bisnis hingga lapangan politik. Hermawan memaparkan bahwa melalui Web 2 bukan pola hubungan dan komunikasi bukan “cuma bersifat One-to-Many atau One-to-One, tapi sudah bersifat Many-to-Many. Dalam lapangan bisnis tercermin dalam hubungan baru antara marketer dan customer, maupun di langan politik antara politisi dan pemilih. Hermawan misalnya bercerita tentang profil Perdana Menteri Cina Wen Jiabao yang muncul di Facebook pada 14 Mei 2008, yang segera mendapat kawan sekitar 14.000 orang dalam waktu cuma dua minggu serta fenomena pemilu AS yang mendapat darah segar melalui teknologi web 2 (silah kunjung Uploading, Searching dan Wiki (Web 2) untuk Perubahan Sosial
)
(Kok jadi melantur ya, tidak lain karena kebetulan nyambung dengan artikel saya bagian pertama soal dunia datarnya Thomas L Friedman yang diantaranya diakselerasi oleh perkembangan pesat teknologi komputer, informasi dan komunikasi. Friedman menyimpulkan up-loading sebagai factor pendatar diantara 10 faktor lainnya. Mari kita kembali ke kaisar telanjang sebelum kembali lagi ke perkara tak habis-habisnya Paman Sam menciptakan hantu-hantu dan musuh-musuh baru.)
Soal Kaisar telanjang sebenarnya telah saya singgung pada bagian pertama tulisan saya “Krisis Ekonomi Global : Karl Marx Di Aspan Jalan Dunia Datar” menyangkut intervensi pemerintah mengeluarkan dana talangan (bailout) yang sekali lagi menegaskan tentang adanya mitos mekanisme pasar (pasar bebas dan swa koreksi pasar) disatu sisi, disisi lain ketelanjangan pemerintah Bush yang didukung parlemen untuk melindungi kepentingan korporasi dan pemodal besar (baca pula artikel Martin Manurung “Neoliberalisme Kena Batunya” juga tulisan Ahmad Erani Yustika Menelanjangi Liberalisme di Kompas).
Dalam kurun waktu yang berabad kita temukan juga cerita tentang kebohongan soal ide dan gagasan pasar bebas, invisible hand juga pemalsuan sejarah berdasarkan penelusuran dan kajian yang diantaranya dilakukan oleh Noam Chomsky dalam bukunya Year 501. Uniknya kita kembali berjumpa dengan Columbus dan negeri India.
Chomsky dirujuk oleh Wim F Werthim dalam bukunya “Jalan Sosialisme Dunia Ketiga ; Pasar Protektif versus Pasar Agresif” (ISAI-PDAT-De Wertheim Stichting 2008). Menurut Wertheim melalui Year 501 Chomsky mempertontonkan kesinambungan keberhasilan cara “Utara” memaksakan dominasi politik, ekonomi dan militer terhadap “Selatan” yang tidak putus berlangsung sepanjang 5 abad sejak Columbus menemukan Benua Amerika. Ia membuyarkan sejarah palsu bahwa Selatan dikalahkan di sektor ekonomi oleh perdagangan bebas atau perekonomian pasar bebas. Alih-alih dukungan pemerintah negara utaralah yang memenangkannya. Hanya dengan dukungan negara, perekonomian Utara mencapai kedudukan monopoli, di bidang industri juga pertanian, atas dan terhadap perekonomian negara-negara selatan yang agraris.
Satu contoh kecil saja diulas bagaimana akibat protes keras para pengusaha penenunan sutera di Middlesex terhadap impor sutera tenunan India oleh East India Company (EIC), pemerintah kemudian melarang impor sutera India ke Inggris sekaligus mengenakan bea masuk yang semakin tinggi untuk semua produk katun hasil manufaktur India. Chomsky sebenarnya membongkar apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus Indonesia, Cina dan negara-negara jajahan lainnya.
Lepas dari dominasi ekonomi Eropa khususnya Inggris kemudian kita melihat cerita yang sama yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah negara-negara maju yang dipimpin oleh AS melalui organisasi yang mereka kendalikan IMF, World Bank dan WTO (sering dikatakan Unholy Trinity menurut saya lebih tepat Evil Trinity). Sebuah cerita tentang intervensi negara-negara maju dalam melancarkan akses korporasi pada tanah, bahan baku, buruh murah, pasar, segala bentuk insentif fiskal dan moneter hingga segala bentuk kebijakan proteksionis lainnya.
Pembongkaran Pemalsuan Sejarah terkait hampir semua negara maju terutama Inggris dan Amerika juga dilakukan oleh Ha-Joon Chang (seorang ekonom Cambridge yang juga bekerja sebagai konsultan untuk Bank Dunia, ADB, berbagai badan PBB hingga pemerintah Kanada, Jepang, Afrika Selatan, Inggris, hingga Venezuela) dalam bukunya Bad Samaritans (Pustaka Utama Grafiti 2008). Satu hal yang mengesankan adalah testimoninya tentang bagaimana Korea yang dianggap ‘murtad’ dari pakem neolib beranjak dari negara miskin dan hancur lebur pasca perang Korea bisa melejit ke papan atas ekonomi dunia. Juga cerita tentang pemain kuat seperti Jepang, Cina hingga India. Tak lain ini adalah karena otonomi untuk menentukan kebijakan ekonominya serta peran negara yang kuat untuk melindungi dan kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Berikut ini adalah amsal yang digunakan oleh Wertheim dalam bab pertama bukunya “Nomor Satu, Amerika: Monopoli Merkantilis”
Seorang pecatur amatir menyatakan kepada grandmaster Tartakower, bahwa diri sudah secara patuh memainkan pembukaan yang belum lama direkomendasikan grandmaster lainnya Loewenstein dalam sebuah majalah dengan hasil malapetaka. Tartakower menjawab “Jangan kau memainkan yang ditulis Loewenstein. Yang mesti kau mainkan adalah yang ia mainkan”
Pemain catur amatir ini adalah wajah pemerintah lemah seperti di Indonesia dan saudara-saudara Asia Afrikanya, negara-negara Amerika Latin dahulu, juga cerita tentang negara-negara Eropa Timur yang didisiplinkan melalui kebijakan neo-liberal yang akhirnya dengan cepatnya terpuruk jatuh ke wilayah dunia ketiga.
Atau meminjam amsal dari Nietzhe (saya kutip dari satu buku terbitan Marjin Kiri)
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu…….
Lalu apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat khususnya untuk mendisiplinkan pemerintah dan negara-negara lain yang membangkang, murtad dan memilih narasi dan pradigma politik ekonomi yang lain? John Perkins dalam bukunya “The Economic Hit Man” dan juga semakin terang berderang melalui buku Tim Weiner “Membongkar Kegagalan CIA : Spionase Amatiran Sebuah Negara Adi Daya-Gramedia 2008 (yang menjadi perhatian utama saya bukan keamatiran CIA, tetapi fakta telanjang tentang apa yang dilakukan CIA dan pemerintah Amerika…………
bunuh, beli-sogok, danai aksi militer (pemberontakan hingga kudeta), hingga cuci otak intelektual pecinta tipu-tipu kapitalisme neoliberal yang nyatanya diingkari guru-gurunya sendiri.
Dan Paman Sam adalah negri yang terus menerus memusuhi ‘the other’ (memproduksi dan mereproduksi musuh), bermegah diri, membangun benteng-benteng, menciptakan kesetiaan konyol dan semangat chauvinistik warganya.
Malangnya Karl Marx yang menghantui Pam Sam yang dikiranya sudah mati sejak runtuhnya tembok berlin dan runtuhnya pemerintah komunis di Uni Soviet yang dirayakan dengan megah oleh Fukuyama melalui “The End Of History” masih terus hidup dan berkembang sesuai dengan konteks zamannya.
Bahkan ini terjadi di halaman belakang negeri Paman Sam, wilayah yang dalam kurun waktu panjang berada dibawah kendali mereka dan wilayah yang dihisapnya yakni Amerika Latin. Pasang naik pemerintah-pemerintah yang kental dengan élan kerakyatan kita sebut saja sosialisme baru Amerika Latin. Wajah sosialisme yang egaliter sekaligus demokratis, banyak diantaranya bertumbuh melalui persinggungannya dengan ‘teologi pembebasan’, inilah yang lebih menakutkan bagi Paman Sam. Pemerintah kiri yang menang tidak melalui senjata, kekerasan, tetapi menang melalui kotak suara dan kesadaran beriman yang baru ‘option for the poor’
Sementara itu produksi dan reproduksi musuh baru diwakili oleh Huntington ketika dia memangggungkan benturan peradaban masyarakat yang lain (Islam dan Cina) vs Barat.
Kembali meminjam Thomas L Friedman ini kisah tentang dua angka penuh makna 9 dan 11. 11/9 (9 November) yakni tanggal penghancuran tembok Berlin dan 9/11 aksi terorisme yang menghancurkan World Trade Center. Silahkan anda merenungkan tentang kedua tanggal penting dalam sejarah ini, dan meneguhkan tekad kita untuk terciptanya dunia yang adil dan damai. Ingatlah pula ‘the power tend to corrupt’ entah itu disisi kanan atau yang berada di sisi kiri atau disisi manapun.
Dan saya yakin kita harus temukan keseimbangan antara liberte, egalite, fraternite untuk dunia baru itu……….
Inilah yang saya katakan hantu komunisme, reproduksi musuh yang aneh di batok kepala. Hantu itu adalah bagian dari kodrat dirinya yang ditolak dan diingkari. Hantu dalam rupa pengingkaran atas kodrat bahwa ada sisi baik di dalam diri manusia, alih-alih hanya homo economicus atau ekstrimnya binatang ekonomi dengan hukum rimba persaingan bebasnya. Bahwa ada aspek egaliter dan fraternite dalam eksistensi kemanusiaan, panggilan hidup dan fitrah manusia, bukan hanya mengumbar liberte dengan mengabaikan dua lainnya.
Karena dengan mengagung2kan liberte dan monomer-sekiankan egalite dan fraternite akan sampai pada cerita tentang keserakahan dan ketamakan sebagai iman vis a vis dengan keimanan ‘option for the poor’, iman untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
Krisis Finansial Global : Drama Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala
silah tengok pula
Standar Ganda Soal Bailout dan Krisis : Barack Obama dan Mac Cain Sami Mawon (Sama Saja)?
The End of Laissez-Faire
Oleh Sri-Edi Swasono
Neoliberalisme Kena Batunya
Oleh Martin Manurung
Neoliberalisme Telah Mati
Oleh Akhmad Kusaeni
Lonceng Kematian Era Pasar Bebas
Oleh Joni Murti Mulyo Aji
Menelanjangi Liberalisme
Ahmad Erani Yustika
Kosmologi Krisis Moneter
Oleh Yasraf Amir Piliang
Rakus - Caping Goenawan Muhamad
Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street
oleh Walden Bello
Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia
oleh Reihana Mohideen
Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya
oleh Peter Boyle
Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi
oleh James Suggett
Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya
oleh Irwansyah
Selasa, 07 Oktober 2008
Download Buku Bermutu : Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas
sumber : Indoprogress
Catatan Editor:
Artikel ini beradal dari JILAS: Journal of Iberian and Latin American Studies 4(1). Ditulis oleh James Petras. Diterjemahkan oleh Coen Husain Pontoh. IndoPROGRESS memuatnya menjadi 7 (tujuh) bagian sesuai dengan sub-judul pada artikel aslinya.
Pengantar
Esai ini merujuk pada beberapa debat utama mengenai “transisi,” yang melibatkan para akademisi para politisi terkemuka di Amerika Latin. Kita dapat menggolongkan “debat mengenai transisi” itu ke dalam dua kategori luas yang saling berhubungan: “ekonomi” dan “politik.”
Pengantar
Esai ini merujuk pada beberapa debat utama mengenai “transisi,” yang melibatkan para akademisi para politisi terkemuka di Amerika Latin. Kita dapat menggolongkan “debat mengenai transisi” itu ke dalam dua kategori luas yang saling berhubungan: “ekonomi” dan “politik.”
Satu garis penghubung yang bisa kita tarik dari kebanyakan teoritikus neoliberal, mereka membantah bahwa antara reformasi ekonomi dan demokrasi politik adalah gejala yang saling menunjang. Mereka menganjurkan agar pasar bebas dari regulasi (pengaturan) negara, sehingga mendorong terjadinya kompetisi. Kompetisi pasar yang bebas dari intervensi negara akan menyebabkan terjadinya efisiensi dan produktivitas yang lebih besar, terbentuknya masyarakat yang lebih terdiferensiasi. Kondisi ini dengan demikian mempercepat terwujudnya pluralisme sosial dan pluralisme politik: kebebasan memperoleh kesederajatan ekonomi sama dengan kebebasan memperoleh kesederajatan politik. Garis argumentasi neoliberal lain, yang lebih terbatas berpendapat, reformasi ekonomi akan mendorong ke arah pembangunan ekonomi. Bagi kelompok ini, awal yang menyakitkan dari penyesuaian struktural pada akhirnya menghasilkan kemakmuran di masa depan. Proses ini berkaitan dengan ruang dan waktu.
Akhirnya para penganut neoliberal mengatakan, kita sudah memasuki suatu dunia baru yang telah terglobalisasi. Sebuah dunia di mana kekuatan yang impersonal dari pasar liberal, menuntut liberalisasi pasar negara nasional (jika bukan sebuah anakronisme) untuk merinci kebijakan yang mempersiapkan ekonomi nasional agar siap berkompetisi secara internasional. Sebuah varian “neostruktural” menganjurkan agar negara harus mempertahankan perannya guna mengoreksi ekses-ekses dari pasar, misalnya, melalui program pengentasan kemiskinan untuk memperbaiki dampak dari penyesuaian pasar. Esensinya, kalangan neoliberalis berpendapat, merupakan sesuatu yang tak terbantahkan bahwa transisi ekonomi harus berujung pada pasar bebas; tidak ada alternatif yang mungkin atau realistis. Ignacio Ramonet, editor Le Monde Diplomatique, menyebutknya sebagai “pensamiento ú nico,” yang secara harafiah bermakna “hanya pikiran.”
Kedua, adalah literatur yang berhubungan dengan transisi politik dari otoritarianisme menuju demokrasi. Perdebatan tentang ini sudah berlangsung sejak awal 1980an. Aliran pemikiran dominan (dominant school) berpendapat, sebagian besar negara di Amerika Latin telah sukses dalam transisi menuju rejim politik demokratis (dengan perkecualian barangkali, Peru dan Mexico. Bahkan para penganjur utama transis menuju demokrasi, beberapa di antaranya mengalami perselisihan pendapat).
Tesis dari para penganjur transisi demokrasi berpendapat, kendati masih berada dalam bayang-bayang otoritarianisme, proses konsolidasi telah melalui sebuah pakta politis di antara para elite elektoral, kelas sosial-ekonomi yang berkuasa (socio-economic ruling class), dan para jenderal. Karena itu, sebagian dari para penulis ini, menunjukkan bukti-bukti yang konsisten dimana banyak pemerintah yang terpilih di banyak negara Amerika Latin yang belum pernah terjadi di sepanjang sejarah Amerika Latin. Mereka juga memperlihakan bukti tentang supremasi sipil dalam mengatasi militer. Mereka mengidentifikasi ancaman bagi demokrasi berasal dari angkatan perang di luar rejim, gerakan-gerakan sosial ekstra-parlementer yang bertindak di luar gelanggang pemilu, dan para pejabat militer garis keras yang tidak puas akibat perubahan yang terjadi. Menurut skenario ini, para teoritikus transisi demokrasi mengacu pada peran Washington yang mengubah politik gendarme yang secara informal menjaga imperium, menjadi penjaga nilai-nilai demokrasi dan pasar bebas.
Esai kami ini menantang premis-premis dasar yang dikemukakan oleh para teoritikus neoliberal. Kami berpendapat, reformasi ekonomi tidak mendorong terwujudnya demokrasi politik tetapi, pada terciptanya ketidakadilan yang meluas dan polarisasi sosial yang tinggi akibat represi negara. Kebijakan pasar bebas sesungguhnya telah dimulai sejak berkuasanya diktator militer pada 1970an. Kebijakan itu kemudian semakin meningkat dalam siklus neoliberal dengan reformasi ekonominya yang diikuti oleh pemulihan jangka pendek dan krisis yang berulang, yang kemudian ditangani kembali dengan paket penyesuaian baru; “siklus sakit yang berakhir dengan sakit.” Kebijakan penyesuaian tak lebih dari suatu strategi pembangunan ekonomi (yang di atasnya terdapat sedikit indikator kemajuan dan suatu kelimpahan data yang saling bertentangan). Lebih tepat untuk disebutkan bahwa kebijakan penyesuaian ini lebih sebagai sebuah strategi politik untuk memusatkan kekayaan dan mengumpulkan sumberdaya negara.
selanjutnya
Siklus Politik Neoliberal (bag1)
Siklus Politik Neoliberal (bag 2)
Siklus Politik Neoliberal (bag 3)
Siklus Politik Neoliberal (bag 4)
Siklus Politik Neoliberal (bag 5)
Siklus Politik Neoliberal (bag 6)
Siklus Politik Neoliberal (bag 7)
dapatkan pula di blog ini link-link 75 E-BOOK lainnya
Dowload Buku Bermutu : Politik Gerakan Buruh di Asia Tenggara
Naskah ini pernah dipublikasikan di Jurnal SEDANE Vol.3 No.2, 2005. Dimuat kembali untuk IndoProgress, atas ijin penulis
Vedi R Hadiz
Abstract: The article concerns the tradition of political unionism in Southeast Asia, with reference to the experiences of Indonesia, Malaysia, Thailand and the Philippines. It argues that political unionism was once an important feature of the political landscape of these societies. It also argues that a conjuncture of factors has resulted in the near death of political unionism and that this has been detrimental to the overall strength of organised labour in the region. Specifically, the article discusses the impact of the political defeat of the Left, some of the affects of the timing of industrialisation in these societies, and that of contemporary globalisation. The position of organised labour in the region today is primarily examined in relation to the Asian economic crisis of 1997/1998.
Kata-kata Kunci: Buruh terorganisasi Asia Tenggara, kekuatan buruh, pengorganisasian buruh, tradisi keserikatburuhan politik, industrialisasi, kekalahan politik kelompok Kiri, globalisasi, krisis ekonomi Asia 1997/98.
Tulisan ini mengangkat tema buruh yang terorganisasi di empat negeri Asia Tenggara – Inonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina – dalam konteks globalisasi dan dalam situasi konflik sosial di masing-masing negeri. Bersama dengan negeri-kecil Singapura, negeri-negeri ini mewakili Asia Tenggara pertama yang mengikuti jalan industrialisasi kapitalisme pada puncak Perang Dingin, dan yang secara tidak malu-malu menyekutukan dirinya dengan kepentingan AS dan Barat secara umum. Tulisan ini menyajikan latar belakang sejarah mengenai gerakan buruh di masing-masing negeri dalam menghadapi kancah perjuangan politik, khususnya pada saat atau beberapa saat sebelum periode industrialisasi yang pesat, termasuk dalam konteks zaman kampanye anti-komunis selama Perang Dingin. Selain itu, tulisan ini juga mendiskusikan tanggapan-tanggapan mutakhir atas tekanan-tekanan terhadap buruh dan gerakan buruh skala nasional yang diakibatkan krisis ekonomi Asia tahun 1997/1998.
Inti tulisan ini terutama ingin menentukan posisi buruh Asia Tenggara dalam hubungannya dengan konfigurasi kekuatan dan kepentingan sosial yang lebih luas. Argumen yang dikembangkan ialah bahwa hasil dari perjuangan politik masa lalu yang melibatkan kekuatan buruh dan anti-buruh, serta beberapa aspek globalisasi, menyatu untuk menjaga agar buruh di negeri-negeri kawasan Asia Tenggara relatif tetap tak berdaya. Krisis ekonomi semakin memperlemah posisi tawar buruh terorganisasi di kawasan ini. Dengan kata lain, masih ada hambatan ekonomi dan politik bagi perkembangan gerakan buruh yang kuat dan efektif di masyarakat Asia Tenggara, meski sebagai wilayah industrialisasi kapitalis kawasan ini telah maju dalam beberapa dasawarsa dan menciptakan kondisi bagi perkembangan organisasi kelas buruh yang lebih substansial.
selanjutnya
dapatkan pula di blog ini link-link 75 E-BOOK lainnya
Dowload Buku Bermutu : Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Sumber : Indoprogress
"… pemecahan masalah tanah merupakan suatu syarat untuk perwujudan yang sempurna dari aspirasi-aspirasi kebangsaan negeri-negeri Asia Tenggara; dan bahwa hal itu, untuk sebagian besar, merupakan kunci bagi pembangunan ekonomi dan reorganisasi masyarakat yang berhasil.”
(Eric Jacoby 1961:253)
1. Pengantar
Agenda penguatan akses rakyat pada tanah dan kekayaan alam dengan mengubah struktur agraria biasanya dikenal dengan istilah Reforma Agraria (bahasa Spanyol), atau dikenal juga dengan nama agrarian reform (bahasa Inggris) atau pembaruan agraria (bahasa Indonesia). Agenda Reforma Agraria ini pada mulanya adalah agendanya gerakan rakyat yang berakar pada pengalaman penderitaan petani sebagai mayoritas rakyat (pedesaan) di bawah rezim kolonial dan paska-kolonial. Penderitaan petani yang kronis itu bersumber dari politik agrari penguasa kolonial untuk penguasaan wilayah (negara kolonial), dan perluasan sistem produksi dan ekstraksi komoditas-komoditas baru (untuk perusahaan-perusahaan kapitalis skala dunia). Keresahan agraris hingga berbentuk pemberontakan-pemberontakan lokal dapat dipadamkan dengan operasi-operasi represif singkat, peperangan panjang maupun pengendalian melalui organisasi pemerintahan kolonial yang baru, termasuk dengan bentuk penguasaan tidak langsung (indirect rule) melalui elit-elit feodal pribumi setempat.
Merupakan kenyataan historis di pedesaan Dunia Ketiga dimana saja bahwa sebagian golongan petani mengambil jalan menentang dan menantang hadir dan bekerjanya kuasa-kuasa baru yang menindas mereka. Pada intinya, gerakan-gerakan petani yang hadir baik dahulu maupun saat ini adalah tantangan-tantangan yang relatif berkelanjutan atas kekuasaan yang menindas golongan-golongan tertentu rakyat di pedesaan. Tantangan-tantangan yang mengacaukan dan terus-menerus (disruptive and continuous challanges) itu pada mulanya merupakan suatu tanggapan kolektif atas merosotnya kondisi hidup akibat penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan pihak pemegang kuasa-kuasa ekonomi-politik. Tanggapan itu bukan hanya terhadap masalah lokal, seperti dinyatakan oleh studi Wolf lebih 30 tahun yang lalu dalam buku klasiknya Peasant War in The Twentieth Century (Wolf 1971:273):
… pemberontakan-pemberontakan petani abad kedua puluh tak lagi sederhana merespon masalah-masalah lokal, jika memang benar-benar pernah ada. Tetapi hal itu merupakan reaksi-reaksi yang langsung pada keguncangan sosial yang mengenainya, yang digerakkan oleh perubahan sosial yang lebih besar lagi. Penyebaran pasar telah membongkar manusia dari akarnya, dan mengguncang mereka agar lepas dari hubungan-hubungan sosial dari mana mereka dilahirkan. Industrialisasi dan perluasan komunikasi telah memunculkan tandan sosial baru, sampai sekarang tak percaya pada posisi-posisi dan kepentingan sosial mereka sendiri, tetapi dipaksa oleh ketidakseimbangan kehidupan mereka untuk mencari suatu tambahan baru. Otoritas politik tradisional terkikis atau ambruk; para pesaing baru untuk kekuasaan sedang mencari para pemilih baru untuk dimasukkan ke dalam arena politik yang kosong. Dengan demikian ketika pembela pro-petani menerangi obor pemberontakan, bangunan besar masyarakat telah membara dan siap mengambil api. Ketika perang berakhir, bangunan itu tak akan sama seperti sebelumnya.
selanjutnya…
dapatkan pula di blog ini link-link 75 E-BOOK lainnya
Senin, 06 Oktober 2008
2008 : Tahun Emas Penemuan Sejarah Nusantara dan Sejarah Indonesia
Ini momentumnya………
100 Tahun Kebangkitan Nasional
10 Windu Sumpah Pemuda
1 Dasawarsa Reformasi
Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
Berakhirnya Orde Baru sesungguhnya mengakhiri sekaligus membongkar periode panjang monopoli dan penggelapan sejarah Indonesia. Meminjam judul buku Katharine E McGregor (dosen sejarah Asia Tenggara), inilah berakhirnya monopoli “History in Uniform” (History in Uniform : Military and the Construction of Indonesia). Entah tepat atau tidak kemudian dalam edisi Indonesia yang diterbitkan oleh Syarikat bulan Mei tahun ini diterjemahkan menjadi Ketika Sejarah Berseragam (: Membongkar Ideologi Militer Dalam Menyusun Sejarah Indonesia).
Militerisasi Sejarah Indonesia (meminjam Asvi Marwan Adam) memang belum bisa dibongkar sepenuhnya terutama dari mata ajaran di sekolah-sekolah. Tapi ‘sejarah berseragam’ terus menerus digerogoti legitimasinya dan ditelanjangi.
Terkait dengan studi sejarah Indonesia, Jatuhnya Soeharto membukakan kontak Pandora rekayasa sejarah oleh Orde Baru sekaligus benih yang baik bagi berkembangnya tafsir kritis sejarah dan perspektif baru dan beragam dalam penulisan sejarah Indonesia.
Buku Perspektif Baru : Penulisan Sejarah Indonesia yang disunting oleh Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto dan Ratna Saptari barangkali bisa menjadi gambaran tentang terbukanya kontak Pandora (kotak tempat menyimpan tokoh-tokoh atau peran-peran dalam dunia wayang). Di era inilah muncul ledakan tebitan artikel dan buku yang menyuarakan peristiwa sejarah yang digelapkan, juga kisah pelaku-pelaku sejarah dari sisi kiri maupun kanan dan nasional, yang digelapkan, juga kisah tentang orang-orang kecil dan rakyat yang dihilangkan. Termasuk suara-suara korban pembantaian 1965 dan tindak sewenang-wenang lainnya, juga misalnya tentang etnis Cina dll.
Dalam bab 1 ketiga penyunting memberikan pengantar dan pendahuluan yang komprehensif tentang kritik terhadap historiografi Indonesia serta tinjauan umum tentang perspektif-perfesktif baru di dalam historiografi Indonesia. Bab ini menarik garis batas yang tegas antara historiografi masa Orba dan historiografi pasca Orba.
Melalui hantara dua buku ini (selain buku-buku sejarah yang terbit bagai cendawan pasca turunnya Soeharto yang terutama menjadi tafsir tanding terhadap Sejarah Berseragam atau Sejarah versi Soeharto), bagi saya sudah cukup untuk meletakan tahun 2008 ini sebagai tahun emas pembongkaran sejarah yang digelapkan atau tahun emas penemuan sejarah Indonesia.
Bukan hanya itu tahun 2008 yang bertepatan dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 10 windu Sumpah Pemuda dan 10 tahun reformasi, menempatkan kesadaran sejarah atau kesadaran menyejarah di panggung utama wacana umum di negeri ini
Tak ada satu pun media yang luput dari memberikan porsi khusus dan istimewa bagi pemberitaan dan opini menyoal Kebangkitan Nasional. Dua diantaranya yang sempat saya catat adalah Majalah Tempo dan Koran Kompas.
Di tahun 2008 Tempo menerbitkan dua edisi khusus Kemerdekaan yang mengulas Bapak Republik Yang Dilupakan : Tan Malaka (1897-1949) setebal 66 halaman dan edisi khusus hari Kebangkitan Nasional Indonesia yang Kuimpikan 100 teks/catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri setebal 100 halaman. Patut dicatat pula edisi khusus tentang G 30 S dan peran Aidit pada bulan Oktober 2007.
Sedangkan Kompas menerbitkan seri artikel khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang masih berlangsung hingga saat ini yang dimulai dari bulan Mei 2008. Demikian pula liputan khusus ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer Panaroekan setiap hari selama 1 bulan lebih.
Demikian pula terjadi booming terbitan buku-buku/studi sejarah Nusantara dan Indonesia yang merentang antara abad 5 hingga abad 21 sepanjang 10 tahun terakhir, dan bisa jadi tahun 2008 ini adalah tahun puncaknya. Saya sempat mencatat puluhan buku yang terbit tahun 2008 (diantaranya tersaji di akhir tulisan).Menurut catatan Adrian Vickers Guru Besar Sejarah Asia Tenggara dari Australia sejak 1998 telah terbit 1600 judul baru tentang sejarah.
Ikhtiar tulisan singkat ini adalah sebuah undangan untuk kawan-kawan aktifis pro-dem dan terutama kalangan awam yang mencintai sejarah dan mencintai Indonesia (syukur-syukur juga kawan-kawan sejarahwan) untuk menggunakan momentum ini untuk menumbuhkan perspektif dan kesadaran sejarah yang mengurat akar seluas mungkin dikalangan publik. Untuk itu sudilah kiranya mengirim komentar, tanggapan terhadap proposal ini.
Silahkan pula langsung berbagi pendapat, pandangan, renungan, celoteh tentang segala aspek apapun yang berkaitan dengan sejarah atau pengalaman pembelajaran dari buku-buku sejarah yang and abaca untuk saya muatkan diblog saya dengan tema seri : Dasawarsa Emas Penemuan Sejarah Nusantara dan Sejarah Indonesia. Meminjam Tempo semua ini diarahkan untuk ‘Indonesia Yang Kuimpikan’. Juga Kebangkitan Bangsa, Kebangkitan Rakyat.
Tentang Indonesia meminjam Pram ‘abad kita sekarang adalah abad Rakyat dan Ilmu Pengetahuan”,
Salam Pembebasan,
Andreas Iswinarto
kerja.pembebasan@gmail.com
Nb. Ancaman Bredel Buku John Rossa
Tempo Interaktif 8 September lalu memberitakan Kejaksaan Agung tengah meneliti buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” karya John Roosa. Menurut Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto, buku terbitan Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra pada 2008 itu akan segera dibahas dalam rapat clearing house barang cetakan Kejaksaan Agung. Dalam rapat itu akan dibahas perlu tidaknya buku itu dilarang.
Kita berharap lakon gaya Orba ini tidak berlanjut, dan publik Indonesia tidak dihilangkan aksesnya terhadap karya sejarah yang penting ini. Sesungguhnya apakah yang diungkapkan dan disimpulkan dalam kajian John Rossa ini, dan sejauh mana perannya dalam memperkaya historiografi Indonesia dan sumbangnya untuk melawan hegemoni sejarah versi penguasa dan tentara (rezim). Berikut ini kajian atau tinjauan buku yang ditulis oleh sejarawan Hilmar Farid :
G-30-S dan Pembunuhan Massal 1965-66
Untuk link-link liputan khusus Tempo dan Kompas serta sekedar pengantar dari saya silah kunjung url
Imaji Indonesia Pada 100 Teks
Tan Malaka Bapak Republik
G 30 S dan Peran Aidit
Jejak Langkah Sebuah Bangsa Sebuah Nation
Belajar dari Sejarah Sebuah Jalan : 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan
=
34 buku sejarah (yang sempat saya catat) yang terbit tahun 2008
Perspektif Baru : Penulisan Sejarah Indonesia (editor Henk Schulte Nordholt, bambang Purwanto dan Ratna Saptari, Yayasan Obor Indonesia)
Ketika Sejarah Berseragam : Membongkar Ideologi Militer Dalam Penyusunan Sejarah Indonesia (Katharine E. Mc Gregor, Syarikat)
Indonesia Merdeka Karena Amerika? : Politik Luar Negeri AS dan Nasionalis Indonesia, 1920-1949) Frances Gouda & Thijs Brocades Zaalberg.
Indonesia Melawan Amerika : Konflik Perang Dingin 1953-1963 (Galang Press – Baskara T Wardaya)
Keith Foulcher, Sumpah Pemuda; Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia, September 2008
Boedi Oetomo (Gamal Komandoko, Media Presindo)
Sejarah Perempuan Indonesia (Cobra Vreede-de Stuers komunitas Bambu)
Orang dan Partai Nazi di Indonesia (Wilson – Komunitas Bambu)
Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (John Roosa Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra.
Terbit Ulang
Bung Karno Menggugat : Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal 65 hingga G 30 S.
Bangsa Inlander : Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara (Nasrudin Anshory, LKis)
Dutch Culture Overseas (Praktik Kolonil di Hindia Belanda 1900-1942)
Frances Gouda Serambi
Di Negeri Penjajah : Orang Indonesia di Negeri Belanda ( Harry A Poeze, KPG)
HM Misbach Kisah Haji Merah (Nor Hiqmah Komunitas Bambu)
Cuk Nyak Dien (Szekely Lulofs Komunitas Bambu)
Nio Joe Lan, Dalem Tawanan Djepang (Boekit Doeri-Serang-Tjimahi), September 2008, 300 hlm, Rp. 55.000
Guru Bangsa : Biografi Jenderal Sudirman (Sardiman, Penerbit Ombak)
Mencari Supriyadi (Baskara T Wardaya, Galang Press)
100 Tahun Muhamad Natsir (Republika)
Ignatius Slamet Riyadi (Julius Pour, Gramedia)
Dua Abad Penguasaan Tanah (SMP Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi-Yayasan Obor Indonesia)
Penjelajahan Bahari : Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika
(Robert Dick Read, Mizan)
Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke 16-17
AB Lapian Komunitas Bambu
Kapitalisme Pribumi Awal, Karya Heriyanti Ongkodharma Untoro, Komunitas Bambu
Kota-Kota Prakolonial Indonesia: Pertumbuhan dan Keruntuhan
Supratikno Rahardjo, Komunitas Bambu
Syekh Yusuf : Ulama, Sufi dan Pejuang (Abu Hamid, Yayasan Obor Indonesia)
Sejarah Sumatera (Williams Marsden, Komunitas Bambu)
History of Java (S Rafless, Narasi)
Kesultanan Sumatera dan Negara Kolonial : Hubungan Jambi dan Batavia dan Bangkitnya Imperialisme Belanda (Elisabeth Locher Scholten,)
Islamisasi Goa (Prof Dr Ahmad M Sewang, Yayasan OBor Indonesia)
Gejolak Ekonomi, Kebangkitan islam dan Gerakan Padri (Christine Dobbin, Komunitas Bambu)
Prajurit Perempuan Jawa : Kesaksian Ikwal Istana dan politik Jawa Akhir Abd ke 18 (Ann Kumar, Komunitas Bambu)
Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina : Sejarah Etnis Cina di Indonesia (Onghokham, Komunitas Bambu)
Sabtu, 04 Oktober 2008
Ibu Berkeranjang Belanja, Lokomotif Perubahan
Selain menampilkan profil Laksamana Pertama TNI Angkatan Laut Christina Rantetana, Komisaris Besar Polisi Pengasihan Gaut, Dwi Astuti Soenardi, srikandi pemimpin Tim Ekspedisi Everest Putri Indonesia 2007 dan Rahayu Suhardjono, 56 tahun, peneliti gesit jagoan menelusuri gua karst (kapur), Tempo juga menyuguhkan kisah para perempuan yang berjuang di medan yang sungguh sulit. Seperti Suster Rabi’ah (Suster Apung) juga bidan Adeleda Seba, 53 tahun, yang dijuluki ”Ibu Para Suku”. Sosok yang setia menolong persalinan perempuan suku terpencil di labirin rimba Bangga.
Tempo juga tak lupa menampilkan para pejuang di level bawah. Raida boru Tampubolon menjadi kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Priok. Ada Ponirah, wanita pengayuh becak dari Yogyakarta, Suyanti yang sopir bus malam Wonogiri-Jakarta, juga Datin yang buruh gendong di Pasar Legi, Solo.
Tempo mengatakan bagai lilin, para perempuan dari kelas bawah ini rela membakar diri memberikan terang bagi keluarga dan orang banyak. Dan itu mengingatkan pada sajak Hartojo Andangdjaja :
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
Saya memberikan apresiasi kepada Tempo dan hormat saya kepada para perempuan ini.
Namun saya berterima kasih pula atas sudut pandang Dewi Lestari dalam kolomnya “Ibu Rumah Tangga, Lokomotif Perubahan” di liputan khusus ini yang menyoroti peran domestik perempuan sebagai ibu rumah tangga dan potensi dasyatnya sebagai lokomotif perubahan (peran perempuan-perempuan biasa berbeda dengan Tempo yang menampilkan bukan perempuan biasa, termasuk juga artikel khususnya tentang Para Perempuan di Puncak Zaman).
Dengan merujuk seorang filsuf perempuan Simone de Beauvoir yang mengatakan “yang personal adalah politis” ia sampai pada simpul pendapat “lokomotif berkekuatan besar justru unit rumah tangga yang kecil. Ibu rumah tangga sebagai penentu mekanisme sehari-hari otomatis mendominasi kendali atas produk yang dikonsumsi, anggaran bulanan, jenis informasi yang beredar di rumah, tata cara pengolahan ini-itu, dan seterusnya. Jika kekuatan memilih itu disadari penuh, maka pemberdayaan akan kembali ke tangan masyarakat. Perubahan dapat terjadi dalam hitungan hari, tanpa birokrasi berbelit dengan kecepatan siput”.
Dinyatakannya pula “kita (sebagai ibu rumah tangga) memiliki daftar protes terhadap kondisi dunia, tanpa selalu sadar bahwa kita punya kekuatan untuk mengubahnya.
Inilah momentumnya, Dewi Lestari menyatakan saat masyarakat merasa kehilangan daya, sesungguhnya kekuatan menanti pada perspektif yang berganti, siapakah yang sesungguhnya punya potensi dahsyat untuk menjadi lokomotif perubahan: pemerintah berlembaga atau ibu berkeranjang belanja?
Selamat kepada ibu berkeranjang belanja…….
Dengan anggapan hanya sebagian kecil saja yang punya kesempatan membaca edisi cetak Tempo berikut saya himpun link-link ke 22 artikel tersebut. Selamat membaca.
Salam hangat
Salam pembebasan
Andreas Iswinarto
hikayat bulan adalah hikayat yang mengalir
di arus waktu yang perlahan, tenang dan teduh
seperti percakapan dan narasi kasih bunda
jelang upik dan buyung tertidur
percakapan dan narasi kasih yang tak henti bertumbuh
dalam jiwa ketika harapan bermekaran atau patah
abadi
walau bunda telah mangkat
dari ruang dan waktu
Bukan perempuan biasa
Para Perempuan di Puncak Zaman
Ibu rumah tangga, lokomotif perubahan
Christina Rantetana: Di Laut Ia Jaya
Pengasihan Gaut: Melerai Konflik di Bosnia
Dwi Astuti soenardi: Perjalanan ke Puncak Dunia
Evi Neliwati dan Agung Etti Hendrawati: Dua Pemanjat Dunia
Hilda Djulaida Rolobessy dan Soraya Sultan: Dua Menyemai Damai
Retno Lestari Priansari Marsudi: Diplomacy By SMS
Diza Ali Rasyid: Cinta Seorang Diza
Pingkan Mandagi: Sekali di Udara Tetap di Udara
Rustriningsih: Lompatan Demonstran Mungil
Isma Kania Dwei dan Ida Fiqriah: Dari Curug ke Ujung Dunia
Rahayu Suhardjono: Doktor Penjelajah Gua Kapur
Shinta Damayanti: Berkilau dari Tengah Rig
Zuriati: Akrab Berkutat dengan Pesawat
Swasti Hertian: Emansipasi Bedah Mayat
Mercusuar di pulau Jauh
Di Atas Roda Pergulatan
Raida di Sebuah Pelabuhan
Dalam Jebakan Sistem Maskulin
Perempuan berkiprah di ”dunia laki-laki”
Bedak Debu Itu Luruh
| Reaksi: |
Kamis, 02 Oktober 2008
(Bag 1) Uploading, Searching dan Wiki Networking : Perkakas Pembelajaran dan Perubahan Sosial
Di dalam proses ‘pembelajaran’ ini saya menemukan seri tulisan seorang pakar marketing ternama Hermawann Kertajaya di kompas.com (pada tanggal 1 Oktober tulisan Hermawan telah mencapai bagian ke 33 dari rencana seratus artikel). Seri 100 artikel tersebut bertajuk New Wave Marketing.
Artikel pertama Hermawan berjudul The World is still Round, the Market is already Flat”. Artikel selain sebagai pembuka seri tulisan New Wave Marketing juga merupakan respon penulis terhadap karya Thomas L. Friedman.
Yang saya tangkap dari artikel-artikel Hermawan, New Wave Marketing adalah sebuah antisipasi terhadap fakta pendataran pasar (the market is already flat). Salah satu pendataran itu dilakukan oleh teknologi informasi dan komunikasi.
Seperti yang dipaparkan dalam artikel kedua Hermawan kini adalah eranya web 2. Dimana “Internet menjadi bersifat interaktif dan dinamis. Orang jadi bisa lebih mudah mengekspresikan dirinya, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dan banyak lagi. Teknologi yang ada memungkinkan setiap orang jadi punya kesempatan yang sama, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu”.
Web 2 ini kemudian membuka kemungkinan baru dalam hubungan marketer dan customer. Hermawan memaparkan bahwa melalui Web 2 bukan “cuma bersifat One-to-Many atau One-to-One, tapi sudah bersifat Many-to-Many. Karena itulah, pasar menjadi datar. Artinya, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya”.
Dan sesungguhnya juga punya potensi merubah pola hubungan hirarkis, bersekat-sekat, dikotomis, apapun itu atau dilapangan manapun, menjadi hubungan yang lebih horisontal, partisipatif dan kolektif.
Sebenarnya concern saya yang utama bukanlah pada sisi bisnis, marketing atau komersial tetapi lebih kepada bagaimana era web 2 ini akan membuka kemungkinan perubahan sosial yang lebih luas di arena politik, sosial dan budaya. Atau bagaimana teknologi web 2 ini dapat menjadi perkakas bagi berbagai kelompok gerakan sosial untuk perubahan politik, sosial dan budaya, sekaligus juga sebagai perekat gerakan sosial itu sendiri.
Walaupun hari ini kebanyakan buku-buku dalam bahasa Indonesia yang relevan dengan perkembangan mutahir teknologi informasi dan komunikasi hampir semuanya lebih menitik beratkan pada kepentingan dunia bisnis, marketing dan komersial (maklum saya tidak terlalu menguasai bahasa Inggris). Seperti ke tiga buku yang sedang saya pelajari walaupun ada juga tinjauan pada bidang-bidang lain seperti politik, budaya dan sosial kemasyarakatan.
Namun demikian hal itu tidak menghalangi saya untuk menggeluti ketiga buku tersebut termasuk 100 artikel Hermawan Kertajaya yang sangat menarik, kreatif, inspiratif, kaya dan menyegarkan. Beruntunglah pula saya pernah punya background studi marketing, bergelut di dunia PR dan menjadi reporter sebuah majalah managemen. Tentunya pelajaran dari dunia bisnis ini akan diserap, diolah lebih lanjut dan diaplikasikan untuk bidang yang saya geluti hari ini. Toh juga setiap gagasan untuk perubahan sosial perlu juga memasarkan dan menjual gagasannya. Bahkan kita pun niscaya harus mempelajari ‘musuh-musuh’ kita.
Saya dengan senang hati akan membagikan proses belajar yang saya jalani kepada siapa saja yang tertarik melalui blog saya. Termasuk berharap bisa belajar dari kawan-kawan yang sudah lebih ‘ngeh’ dengan soal-soal ini.
Untuk itu dengan senang hati saya mengundang anda untuk mengikuti pula seri artikel Hermawan Kertajaya di kompas.com, berikut ini link artikel yang telah dipublikasikan hingga tanggal 1 Oktober ini atau bag 1 hingga bag 33. Tak ada salahnya kita mengambil pelajaran dari lapangan bisnis atau marketing, jujur saja ini salah satu bidang kehidupan yang sangat atau bahkan paling dinamis dan juga kreatif. Juga nantinya dari sana proses pembelajaran akan dibangun.
Banyak hal menarik dari esai-esai Hermawan seperti Fakta profil Perdana Menteri Wen Jiabao yang muncul di Facebook pada 14 Mei 2008, dia mendapat kawan sekitar 14.000 orang dalam waktu cuma dua minggu. Sedangkan profil Presiden Hu Jintao cuma punya sekitar 1000 kawan sampai saat ini. Kenapa?, Anda juga bisa memperoleh cerita tentang Fenomena China dengan Olimpiadenya, Ekonomi Roller Coster, Only the Paranoid Survive: The Intel Way, hingga Hubungan Machester dan Para Fans nya, Pertarungan Google dan Yahoo, Sex and the City Meets Desperate Housewives hingga Obama.
Untuk kawan-kawan saya dari kalangan gerakan sosial dan politik untuk juga membaca studi menarik dari Yanuar Nugroho tentang Teknologi Informasi Untuk Perubahan Sosial walaupun studi tersebut belum sampai perkembangan termutakhir Web 2 dengan teknologi interaktif melalui jejaring sosialnya.
salam hangat
andreas iswinarto
Bagian 1 The World is still Round, the Market is already Flat
Bagian 2 It is the Technology, Stupid...!
Bagian 3 Horisontalisasi Politik di Seluruh Dunia
Bagian 4 Ekonomi Horisontal yang Mirip Roller-Coaster
Bagian 5 Marketing Olympics: One Game, One Market
Bagian 6 Borderless World, Seamless Market
Bagian 7 Three Stages of Marketing: Pseudo, Legacy and New Wave
Bagian 8 Learn from Obama: Change We Can Believe In
Bagian 9 Country First vs People's President
Bagian 10 Good Cop, Bad Cop and Ugly Cop
Bagian 11 From Thai Boxing to American Wrestling
Bagian 12 The Naked Truth of Competitor Intelligence
Bagian 13 The Seven Steps to Nirvana
Bagian 14 Battling for Profit: Google vs Yahoo!
Bagian 15 When David Kills Goliath: AirAsia Vs Malaysia Airlines
Bagian 16 The Never-Ending Cola War: Coke vs Pepsi
Bagian 17 Long Live the Customers!
Bagian 18 The Man Who Has Eaten 23.000 Big Macs
Bagian 19 Manchester United: For the Fans, by the Fans
Bagian 20 The Insight Challenge: How Deep Can You Go?
Bagian 21 Customers Are Not Always Right, but They Are Still Important!
Bagian 22 Why Men Lie and Women Cry?
Bagian 23 What Women (Really) Want?
Bagian 24 Evolution of Dance: Have You Seen It?
Bagian 25 Life in the Fast Lane: Are You Into F1?
Bagian 26 Sex and the City Meets Desperate Housewives
Bagian 27 Lessons from Die Hard 4.0: Do Only Evil!
Bagian 28 Star Wars: The Galaxy of New Wave Landscape
Bagian 29 Only the Paranoid Survive: The Intel Way
Bagian 30 Control Your Destiny or Someone Else Will: The GE Way
Bagian 31 When Giants Learns to Dance: The IBM Story
Bagian 32 Mind of Strategist, Sense of Marketer
Bagian 33 The Ark of Noah: Sensing the God
Sajak Perlawanan Kaum Cicak
karya Tulus Wijanarko
Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati
Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling
Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal
Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang
Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot
Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri
Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara
karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti
kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!
28/09
Negeri Para Bedebah
karya Adhie Massardi
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
______
CICAK NGUNTAL BOYO
BY CHEBOLANG*
ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO
INI CERITA NEGERI BEDEBAH
PEMIMPINYA HIDUP MEWAH
TAPI RAKYATNYA MAKAN SUSAH
HASIL DARI MENGAIS SAMPAH
DI NEGERI PARA BEDEBAH
YANG BAIK DAN BERSIH BISA SALAH
KEBOHONGAN ITU LUMRAH
RAKYAT KECIL HANYA BISA PASRAH
BUBRAH! PARAH!
BUBRAH! PARAH! BUBRAH!
ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO
RAKYAT MENCARI PIMPINAN
KETEMUNYA JURAGAN
RAKYAT MENCARI IMAM, YA IMAM
KETEMUNYA TUAN
MAKA JANGAN-LAH JANGAN HERAN
JIKA ADA MAFIA DI PERADILAN
JUAL BELI PASAL DAN HUKUMAN
YANG KUAT BAYAR PASTI MENANG
KATANYA JAMAN SUDAH REFORMASI
TAPI HUKUM MASIH BISA DIBELI
JADI BARANG DAGANGAN, OBYEK KORUPSI
NGGAK PUNYA MALU DAN HARGA DIRI
KALIAN KIRA SELAMANYA RAKYAT KITA BODOH
JIKA RAKYAT MARAH TIRANI PASTI AKAN ROBOH!
ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO
BIBIT ITU TUNAS
CANDRA ITU SINAR
YANG MENJADI SIMBOL
TEGAKNYA KEADILAN
LANGKAH KECIL TELAH DIMULAI
DARI BAYI BERNAMA DEMOKRASI
KEADILAN TAK BISA DITAWAR LAGI
KEPASTIAN HUKUM ADALAH HARGA MATI
MUNGKIN KITA CAPEK REVOLUSI
MUNGKIN KITA BOSAN DEMONSTRASI
TAPI JANGAN PERNAH BERHENTI
PALING TIDAK TUNJUKAN RASA PEDULI
UNTUK INDONESIA YANG KITA CINTAI
ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO
LINK DOWNLOAD
http://www.mediafire.com/file/y2yz5yowm3z/CICAK NGUNTAL BOYO (FINAL RELEASE).mp3
atau bisa juga di MyBand Aplication di facebook yang bersangkutan
http://www.facebook.com/chebolang?v=app_2405167945&ref=profile
serial foto selengkapnya
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI






