Dari Peluncuran buku Ekonomi Konstitusi : Haluan Baru Kebangkitan Ekonomi Indonesia. (Jakarta 18 Maret 2009)
Penulis : Hendri Saparini, Iman Sugema, Revrisond Baswir, Nunung Nuyartono, Ichsanuddin Noorsy, Triana Anggraenie, Adi Setiyanto, M Iqbal Irfany, Tony Irawan
Editor : Soegeng Sarjadi, Iman Sugema
Penerbit : Soegeng Sarjadi Syndicate
Setelah 63 tahun merdeka saat ini Indonesia menderita penyakit 5 K. Kesengsaraan, Kemunduran ekonomi (deindustrialisasi) , Ketergantungan ekonomi (diantaranya kecanduan hutang luar negeri-beban utang public perkapita saat ini adalah Rp 11,8 juta artinya setiap warga negara menanggung beban utang sebesa Rp. 11,8 juta), Kerentanan (kerentanan energi dan keuangan) dan kerusakan lingkungan hidup.
Ini adalah akibat produk kebijakan TEH BOTOL (teknokrat bodoh dan tolol). Siapa pun Presidennya, Teh Botol Tim Ekonominya.
(dipetik secara bebas dari iman sugema)
* siapapun presidennya, neoliberal tim ekonominya
Yang sedang dan telah kita alami bukan semata-mata battle of mind. Lebih daripada itu, ini adalah perang kedaulatan, the battle of sovereignity.
Harus ada garis tegas antara ekonomi kolonial dan ekonomi merdeka. Ekonomi merdeka bukan kesinambungan ekonomi kolonial. Founding father telah merumuskan demokrasi ekonomi seperti tertera dalam pasal 33 sebagai koreksi total ekonomi kolonial.
Rakyat menjadi tuan di negeri sendiri. Bukan lagi bangsa budak di negeri sendiri dan budak diantara bangsa-bangsa.
Lebih dari TEH BOTOL, keberhasilan kolonial adalah pada penguasaan produksi, birokrasi juga state of mind. Fakultas Ekonomi pada umumnya adalah pusat pengkaderan AGEN-AGEN KOLONIAL.
Demokrasi politik saja tidak dapat melaksanakan persamaan dan persaudaraan. Di sebelah demokrasi politik harus pula belaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada. Sebab itu cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi soial, melingkupi seluruh lingkungan hidup yang menentukan nasib manusia (Hatta, 1960)
Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi…………..
(dipetik secara bebas dari revrisond baswir)
simak pula yang berikut ini
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
HUMOR PEMILU 2009
Bisnis Menggiurkan Di Tengah Krisis Ekonomi Global
oleh : Andreas Iswinarto
Krisis Keuangan yang dipicu kolapsnya beberapa perusahaan keuangan global yang bermarkas di Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa telah menyeret perekonomian dunia kedalam krisis ekonomi. Di seluruh dunia terjadi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi hingga ancaman resesi dan depresi ekonomi berkepanjangan. Dalam sekejab indeks bursa saham di berbagai negara meluncur turun dengan cepat, perusahaan-perusahaan bangkrut dan terancam kebangkrutan, pengangguran meluas, hingga ledakan obral/jual murah asset-aset perusahaan dan perorangan.
Bagi negara-negara berkembang yang sangat tergantung pertumbuhan ekonominya pada komoditi ekspor ke negara-negara maju (seperti Amerika Serikat, Eropa dll) akan paling merasakan dampak krisis ini. Pertumbuhan ekonomi yang melambat (resesi) di negara-negara utama tujuan ekspor ini secara drastis akan melemahkan daya beli atau menurunkan permintaan akan produk-produk ekspor ini.
Seorang ekonom menyebutkan beruntung Indonesia walaupun terus menggenjot ekspor, porsi ekspor belumlah terlalu dominan sebagai sumber pendapatan negara sehingga dampak mematikan dari krisis ini tidak terjadi di Indonesia.
Ditengah kelesuan ekonomi dunia dan Indonesia pada khususnya setahun terakhir ini ada fenomena menarik di dunia bisnis. Tumbuh dan berkembang dengan luar biasa satu sektor bisnis yang sangat menggiurkan. Dengan kecepatan yang luar biasa perusahaan-perusahaan di bisnis ini mampu memperluas dan mempertahankan jaringan bisnis dan pemasarannya atau cabang-cabangnya hingga seluruh Indonesia. Tidak hanya di ibukota propinsi, mereka pun telah merambah hingga kota-kota kabupaten, kecamatan hingga pedesaan.
Tidak hanya itu bisnis ini nampak menggiurkan karena dengan cepat mengambil pangsa pasar besar di dunia promosi dan periklanan. Kita bisa melihat iklan jor-joran mereka di media massa dari TV, Radio, Surat Kabar, hingga media online seperti website, blog, hingga facebook. Demikian pula mereka giat berpromosi melalui berbagai event seperti dari pertandingan sepakbola, lomba lukis, dan sekedar bagi-bagi souvenir di ruang-ruang publik. Juga media iklan kakilima pun mereka rambah, seperti marka-marka jalan, antena pemancar telpon selular, pohon-pohon, jembatan penyeberangan, kios-kios rokok hingga kendaraan pribadi dan angkot.
Pertumbuhan yang luar biasa ini barangkali pula dipicu oleh pendekatan ‘franchising’ dan MLM (Multi Level Marketing) dalam operasi bisnis dan pemasarannya.
Tetapi yang terutama adalah karena bisnis ini berorientasi kepada pasar dalam negeri.
Geliat bisnis partikelir ini pada akhirnya juga mendapat dukungan anggaran negara anggaran pemerintah yang cukup besar.
Patut diingat pula bahwa bisnis menggiurkan yang meledak dalam jangka waktu singkat juga adalah bisnis yang sangat keras dan beresiko. Bisa jadi dalam waktu yang tidak lama lagi banyak perusahaan di bisnis ini yang akan tumbang dan bangkrut, juga investor-investor dan pengusaha kecil yang berada dalam jaringan franchise dan MLMnya.
Partai Politik = Perseroan, Caleg = Komoditi?
Seribu maaf, bisnis menggiurkan ini adalah politik dan pemilu 2009. Unit usahanya adalah KPU (cc Pemerintah) dan Perseroan Partai Politik, komoditi sekaligus jaringan Franchise dan MLMnya adalah perseroan itu sendiri para caleg dan capres.
Jelas bisnis ini berorientasinya pasar dalam negeri dimana jaringan bisnis perusahaan-perusahaannya tersebar ke seluruh Indonesia dengan jaringan operasi hingga desa-desa. Tidak mengherankan karena SIUPnya (Surat Ijin Usaha Partai) baru bisa dikeluarkan apabila partai memiliki jaringan usaha di 2/3 propinsi dengan kantor hingga tingkat desa.
Tercatat dukungan Anggaran Pemerintah untuk bisnis ini nilainya mencapai Rp. 13.5 triliun rupiah.
Lantas bagaimanakah saya harus mengakhiri cerita ini? Saya putuskan tidak akan menanyakan pada pakar kelirumologi (jaya suprana) atau ‘diva’ pelawak kita (mas tukul). Saya akan menemui seorang pakar business administration, seorang bergelar MBA sekaligus kandidat dokor ekonomi dari perguruan tinggi ternama di negeri Efouria Obama itu (kalau tidak salah namanya barkeley, hehe jadi ingat mafia Berkeley. Berkeley, berkely atau ….., o iya ingat universitas brekele) .
Kalau memang mereka benar-benar pengusaha dan pedagang (tentunya tamak) maka perseroan partai dan caleg-caleg yang menang akan berpikir tentang ROI. ROI adalah return on investment. Ya logis toh pengusaha dan pedagang berpikir tentang keuntungan paling tidak balik modal. Beberapa cara bisa dilakukan, pertama dengan melakukan tindakan tidak terpuji yang akan makin memusingkan KPK dan ICW. Ini namanya KORUPSI. Kedua, obral kekayaan alam/sumberdaya alam, memuluskan kebijakan yang di sponsori lembaga-lembaga keuangan neo-liberal, investor asing maupun dalam negeri. Yang berikutnya ya surat sakti dan akses seluas-luasnya untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan kredit usaha, investasi atau dana likuiditas.
Lalu bagaimana perseroan partai yang terjungkal dari persaingan? Entah ya, mungkin mereka akan merger dengan perseroan partai besar, atau barangkali minta bailout atau dana talangan pemerintah. Seperti para eksekutif dan perusahaan Amerika brengsek yang bikin ekonomi dunia porak-poranda atau seperti pengusaha kita dulu yang ngebon dana BLBI. Namanya juga ngebon. Umumnya preman ekonomi tidak balikin utangnya
Nah itu semua memang hanya berandai-andai. Seandainya benar umumnya mereka punya mental 'pengusaha' dan 'pedagang' yang tamak, culas memang celaka. Dimana ‘Ketamakan adalah Kebajikan Utama’ . Ketamakanlah sebagai nilai-nilai atau prinsip-prinsip atau agama utamanya. Maka akan segera tergenapilah peribahasa ‘segelintir orang mendulang untung, mayoritas rakyat mendulang buntung’
Elit Untung, Rakyat Buntung
baca pula
Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya
Pemilu dan HAM
Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Pemilu dan Depresi Ekonomi








0 komentar:
Poskan Komentar