posting yang anda cari ada dibawah gallery foto ini, salam

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”

“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.

dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)

Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya

8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia


KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

























KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!























KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!





























KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!


























































TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!

8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI





































Selasa, 12 Mei 2009

deFACEment teguh ostenrik : deformasi atas ekspresi manusia beradab

puluhan wajah-wajah manusia, topeng-topeng di panggung sandiwara?
(bagian pertama dari 5)


seribu wajah

bumi, air, udara, kesuburan, bebatuan, bahan tambang, sungai, ngarai, debur ombak, puluhan ribu pulau di hampar sabang merauke, lahar, gunung api, krakatau 1883, homo erectus, homo soloensis, asin laut, asam, basa, hutan gambut, hutan bakau, savanna, tanah liat, bakau, batu gamping, kapur, khatulistiwa, panas menggigit kering kerontang, kubur kajang, dingin mengigit atap langit bersalju di papua, geologi, ekologi, biologi, kekayaan alam, perjumpaan peradaban, migrasi bangsa-bangsa,

negeri ini tergeletak kalah atau menang diantara dua benua dan dua samudera?

melahirkan seribu neka suku bangsa, bahasa, ekspresi budaya, kalah atau menang?

sesungguhnya negeri ini tanah tumbuh, bahan baku, ekpresi kesenian dan kebudayaan tak habis-habisnya, teramat kaya dan menakjubkan.

orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat batu dan kayu jadi tanaman……..

koesplus bicara tentang suburnya tanah di negeri ini, teguh ostenrik melalui pameran tunggalnya “defacement” (yang disiapkan oleh ide global art, gedung arsip nasional 25-29 arpil lalu) bicara tentang ragam ekspresi wajah manusia yang sama kayanya.

demikian pula kayu, batu, besi bekas, ban bekas, plastik bekas, kulit kayu, beling, perca atau bahkan sisa potongan rambut tukang cukur melalui olah pikir, rasa dan tangan-tangan terampil semua itu bisa menjadi bahan baku karya seni yang hebat.

pada pameran ‘deFACEment” ini teguh memulung besi bekas, dan mengolah di bengkelnya menjadi puluhan instalasi rupa wajah-wajah . Kemudian untuk menampilkan kesan lebih kuat atas keusangan, ia torehkan zat kimia untuk menambah karat…..


tercium kehadiranmu

dalam booklet pameran teguh onsentrik menjelaskan apa yang sesungguhnya ingin ia ekspresikan..

mengapa tema wajah manusia? alasannya sederhana saja kata teguh, bahwa ekspresi muka mengungkapkan kepribadian seseorang. “setiap kali saya melihatnya, timbul pertanyaan dalam benak saya apakah arti semuanya? jika seseorang tersenyum, maka muncul pertanyaan ada apa di balik senyumnya, bisa jadi senyum bukan lagi sebuah cermin kegembiraan, tapi mungkin ada rasa getir yang tertahan”


selalu kupantau


kutunggu mawarmu

kemudian teguh bertanya secara kritis terkait teknologi dan jiwa manusia. teknologi terus saja berkembang, apakah demikian pula jiwa manusia? apakah sejalan dengan perkembangan waktu, manusia semakin bahagia? sebaliknya kata teguh, fakta saat ini menunjukkan bahwa banyak orang yang semakin menderita.

lantas bagaimana kisah dunia ini panggung sandiwara, seperti dinyanyikan godbless?
teguh tegas mengatakan apa yang dipancarkan wajah bukan lagi manifestasi jujur atas perasaan jiwa tetapi seringkali hanya sekeping topeng yang sedang menghadapi kenyataan. “inilah dasar pemilihan judul deFACEment, karena manusia telah mengalami deformasi. harapannya adalah, bagaimana kita bisa membaca yang tersirat, bukan yang tersurat.”


koenigindermacht


belon disasak

opss surut sejenak dulu, sebenarnya saya merasa terganggu dengan satu pernyataan teguh, yakni apa yang ingin ia sampaikan dengan menyandingkan perkembangan teknologi dan perkembangan jiwa manusia.

saya langsung teringat soal ancaman kiamat dari berton-ton limbah nuklir, senjata-senjata nuklir, kimia dan biologi, rekayasa genetik, teknologi energi yang menghasilkan lubang ozon, hujan asam, lelehan salju di atap langit papua dan ancaman lenyapnya ribuan pulau di nusantara akibat naiknya permukaan air laut. belum lagi aneka flu, dari flu burung, flu singapura, flu babi yang bisa jadi karena rusaknya keseimbangan alam dan limbah yang tidak terurus dengan baik. juga teknologi yang memperbudak manusia, teknologi rekayasa wajah dan tubuh yang lahirlah bonek-boneka, manekin malahan mutan, teknologi yang terus berkembang menghasilkan perubahan tiap bulan fitur-fitur teknologi komunikasi dan informasi dengan limpahan sampah handphone, tv misalnya, teknologi (psikologi) rekayasa kesadaran manusia, dan konsumerisme sebagai salah satu produknya. juga memoles wajah bersimbah darah atau wajah abdi modal dan menghina korban lumpur lapindo (sepanjang 3 tahun ini) menjadi calon pemimpin masa depan yang bersih, peduli, berwibawa.


self indulgence


not only that one

tentu saja teguh tidak bicara teknologi dari sisi negatif ini yang berjalan seiring dengan perkembangan jiwa manusia, dari keadaban menuju kebiadaban. barangkali topeng-topeng wajah adalah topeng-topeng kekalahan jiwa manusia. walau saya yakin wajah-wajah yang jujur dari adab dan kemanusiaan akan tetap hidup, bertahan, bekerja dan memanen hasil. baca juga kontradiksi antara wajah-wajah kalah dan wajah-wajah harapan pada pameran herri purnomo yang uniknya berlangsung hampir berbareng dengan pameran teguh (menunggu aba-aba : bayi bertato, kepompong dan pisau sangkur)

kembali kepada pesan teguh, deformasi ekspresi manusia itu tentunya hanyalah satu tawaran penghayatan, sebenarnya teguh juga menawarkan soal lain lagi yang agaknya luput dari sorotan media paling tidak begitu yang terbaca dari laporan kompas ‘wajah kita pada besi tua (ilham khoiri 26 april 2009)

memang ilham menyoroti proses kreatif teguh dan soal-soal teknis pengolahan besi tua dalam proses penciptaan teguh, tetapi luput menyoroti kenapa dipilih medium besi tua. Di titik ini omelan saya soal teknologi pembunuh dan memperbudak bertemu lagi dengan gagasan teguh

soal ini adalah bagian dua dari artikel saya defacement : teguh ostenrik pada raya bumi, ini terkait juga dengan kenapa saya begitu bawel pada awal tulisan ini bicara bumi dan air di hamparan khatulistiwa ini. demikian pula saya menemukan penghayatan lain saat menjejaki ruang pamer gedung arsip nasional. pertama, saya terpaku pada inagatan kepedihan dan nasib korban lumpur di porong sidoarjo (defacement : teguh ostenrik pada korban lapindo). dan kedua saya menemukan wajah krisis kapitalisme hari ini (defacement : karya teguh ostenrik pada krisis kapitalisme). dan terakhir perkawinan yang sedap pada ketuaan bangunan gedung arsip nasional dan karya rupa teguh (defacement : teguh ostenrik pada batu dan besi tua)(foto dan teks andreas iswinarto)


wajah bulan



(bersambung)


baca juga catatan lentera berikut ini

Gerakan Kebudayaan : Grafis Melawan Lupa
Dari Pameran Media Kampanye Masyarakat Sipil Tentang Pelanggaran HAM Masa Lalu : Galery Cipta III TIM 3-7 Juli

Menafsir Wastu : Seonggok Binatang Ekonomi / Manusia Seutuhnya
Dari Ruang Pamer Keramik Aries B.M

Pemanasan Global : Melampaui Politik dan Ekonomi Yang Membusuk
Dari Ruang Pamer Seni Rupa Gasing dan Yoyo

Defacement : Deformasi Atas Ekspresi Manusia Beradab

Dari Ruang Pamer Teguh Ostenrik

Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur
Dari Ruang Pamer Haris Purnomo

I See Indonesia : Kitab Rupa Untuk Kebangkitan Indonesia

Dari Ruang Rupa Grafis Ayip

0 komentar: