posting yang anda cari ada dibawah gallery foto ini, salam

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”

“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.

dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)

Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya

8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia


KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

























KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!























KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!





























KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!


























































TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!

8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI





































Sabtu, 09 Mei 2009

Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini adalah kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain.

Mereka Menunggu Aba-aba!!!!



grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgek atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh ...... alien, mutan, monster...

atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

Mereka Menunggu Aba-aba!!!



insomnia

bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan sayang dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian di sekitarnya, kontradiksi pedih, kemanusiaan abad ini....

berikut adalah karya-karya haris purnomo dan renungan budayawan sindhunata.......


Menunggu Aba-aba




selamat tidur



BENTARA BUDAYA
Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh

Kompas Minggu, 26 April 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/26/02561383/alegori.tubuh-tubuh.yang.patuh

Perupa Haris Purnomo, yang semasa kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSRI) ”Asri” Yogyakarta pernah bergabung dengan Gerakan ”Pipa” (Kepribadian Apa), berpameran di Bentara Budaya Jakarta, 21 April-1 Mei 2009. Berikut ini pidato budayawan Sindhunata pada pembukaan pameran tersebut.





oleh : Sindhunata

Bayi adalah realitas, yang sekaligus simbol, yang dengan paling terang dan jelas mengetengahkan sifat kemakhlukan dan keinsanian yang paling dasariah dan asasi. Yakni, ketakbersalahan, kepolosan, ketelanjangan, dan keapaadaan. Bayi juga realitas dan simbol bagi bakal keindahan, kehidupan dan masa depan manusia. Dalam diri bayi tersimpan keutamaan manusia yang asasi pula, yakni harapan. Tak mungkinlah manusia menjadi manusia jika tak menyimpan harapan. Dan harapan itu benihnya adalah bayi. Dan jangan lupa, bayi juga simbol dan realitas bagi sikap kereligiusan yang terdalam, yakni pasrah dan penyerahan. Karena itu, ada doa mazmur yang indah, Sicut parvulus, lengkapnya, seperti bayi yang menyusu pada ibunya, demikianlah jiwaku menyerahkan diri pada-Mu, ya Tuhan.

Haris mengambil bayi bagi ekspresi rupa dan instalasinya, yang kali ini diberinya judul ”Kaum Bayi: Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh”. Haris mengambil obyek bayi dalam posisi yang paling unik, yakni bayi yang dibedong, atau digedong (dalam bahasa Jawa Timur). Haris bercerita, berulang kali ia melihat dan memotret rupa-rupa bayi yang digedong. Ia berharap bayi-bayi itu ada yang menangis, sekurang-kurangnya memberontak. Ternyata tidak, bayi-bayi yang digedong itu justru diam dan tertidur pulas. Ia penasaran dan mencoba menggoda bayi-bayi yang digedong agar mereka terusik dari ketenangannya. Toh tidak berhasil. Bayi itu tetap tenang dan tertidur pulas. Bedong atau gedong itu adalah khas Jawa, khas Timur. Adakah dalam diri bayi yang digedong itu sudah tertanam penyerahan manusia Jawa atau Timur, yang katanya suka pasrah dan pandai pasrah.

Entahlah, toh Haris dengan amat tega, menaruhkan dan menggantungkan pisau dalam diri bayi-bayi yang sedang berada dalam kepulasan dan ketenangan yang terdalam. Mengapa Haris begitu tega? Apalagi mengapa Haris masih begitu tega lagi dengan menorehkan tato-tato pada kulit bayi yang empuk dan mulus itu. Tatonya bukan main-main lagi, tato-tato naga. Kata Haris, tato yang lain kurang menorehkan kesan. Lain dengan tato naga. Tapi ia seakan tidak sadar bahwa dengan tato naga itu makin ia ”menyayatkan kekejaman” pada makhluk-makhluk yang tak bersalah itu. Maklum, naga adalah binatang mitologis yang identik dengan kekuasaan, kekerasan, dan penaklukan.







Sengajakah Haris melakukan itu? Mungkin! Sedikit sadisme itu mungkin terpendam dalam watak keseniannya maupun kepribadiannya yang lembut. Namun lebih dari itu, ia kiranya hendak menandaskan keprihatinannya selama ini, yakni kekerasan orang dewasa yang dengan sengaja dipaksakan kepada manusia, bahkan ketika manusia itu sama sekali belum mengenal kekerasan sama sekali. Di sinilah instalasi dan karya rupa Haris berbunyi sebagai kritik: sejak lahir manusia sudah menjadi obyek kekerasan.

Itu jika karya Haris kita lihat dari luar, dari dunia manusia dewasa terhadap bayi. Tapi karya Haris juga bisa kita nikmati ”dari dalam”, yakni dari diri bayi sendiri. Haris menggambarkan, seolah sejak lahir, yakni ketika manusia masih bayi, manusia sudah mengandung kekerasan. Diam-diam karya ini bisa dibaca secara teologis, paling tidak dari teologi kristiani, sehubungan dengan konsep dosa asal. Manusia yang memang terlahir dengan dosa, karena itu sebagai bayi pun ia sudah menyandang dan diganduli pisau, sarana yang nanti bakal bisa menjadi sarana untuk melakukan kekerasan, bahkan menghabisi sesamanya. Bayi Haris adalah manusia yang sejak lahir sudah akan menghancurkan sesamanya. Itulah yang, misalnya, dilihat dalam teologi dosa asal oleh pujangga Agustinus.

Haris mungkin lupa akan sesuatu. Seandainya ia pernah mendengar tentang Hannah Arendt dengan konsep natalitasnya. Lain dengan Heidegger, yang bila manusia ini terkodrat sebagai makhluk yang terbuang menuju kematiannya, Arendt menekankan, manusia ditentukan oleh natalitasnya. Dengan natalitasnya, Geburtlichkeit-nya, manusia adalah manusia yang selalu terkodrat untuk dilahirkan, artinya untuk selalu memulai sesuatu yang baru. Arendt bicara hal ini dalam kaitan dengan filsafat politiknya, katanya, tak mungkin manusia mengadakan tindakan politiknya jika ia tidak berkreasi secara baru, lahir dengan ide-ide baru. Betapa pentingnya konsep natalitas ini bagi hidup manusia.

Dan Haris telah menyentuh simbol natalitas itu dengan mengetangahkan bayi-bayinya. Sayang, jika Arendt boleh bicara dengannya, Haris tidak melihat bayi itu dalam natalitasnya sebagai manusia yang selalu lahir baru, yang selalu mulai dan berani bertindak untuk mengambil pilihan-pilihan politiknya. Jika ia melihatnya, tentu ia tidak tega ”mengejami bayi-bayi itu” dengan pisau-pisaunya. Atau jika memakai kritik Arendt, jangan-jangan Haris masih memakai pendekatan yang klasik, yakni melihat dunia bayi, dunia natalitas dengan pesimisme dan kekerasan orang dewasa. Siapa tahu, di kelak kemudian Haris bisa melihat dimensi natalitas itu dengan lebih optimistis dan khas natalitas manusia.





Namun betapapun, pameran Haris kali ini juga membuat kita bertanya, jangan-jangan memang tidaklah mungkin memimpikan dunia dari natalitasnya seperti dilihat Arendt. Betapapun realitas kita adalah firdaus yang hilang: di sanalah kekejaman dan kekerasan terjadi, bahkan seorang bayi pun harus menanggung pisau-pisau kekerasan itu. Realitas ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah, misalnya, anak-anak gelandangan itu, bagaimana mungkin anak-anak yang tak bersalah itu sudah harus hidup dalam kekerasan dan perjuangan hidup yang demikian berat. Bayi-bayi yang berpisau tajam adalah jawaban bagi pertanyaan itu.





foto oleh andreas iswinarto



baca juga catatan lentera berikut ini

Gerakan Kebudayaan : Grafis Melawan Lupa
Dari Pameran Media Kampanye Masyarakat Sipil Tentang Pelanggaran HAM Masa Lalu : Galery Cipta III TIM 3-7 Juli

Menafsir Wastu : Seonggok Binatang Ekonomi / Manusia Seutuhnya
Dari Ruang Pamer Keramik Aries B.M

Pemanasan Global : Melampaui Politik dan Ekonomi Yang Membusuk
Dari Ruang Pamer Seni Rupa Gasing dan Yoyo

Defacement : Deformasi Atas Ekspresi Manusia Beradab

Dari Ruang Pamer Teguh Ostenrik

Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur
Dari Ruang Pamer Haris Purnomo

I See Indonesia : Kitab Rupa Untuk Kebangkitan Indonesia

Dari Ruang Rupa Grafis Ayip

Bookmark and Share

3 komentar:

sawali tuhusetya mengatakan...

review yang mantab, mas andreas. meski saya tak menyaksikan acaranya, saya seperti menyaksikan sebuah tragedi yang terjadi dalam sebuah etalase peradaban yang lagi sakit. sungguh menyentuh dan mengharukan.

Anonim mengatakan...

saya barusan mengunjungi blog anda untuk melihat lebh lengkap tulisan anda.
BAGUS..!! dan menarik.

Terima Kasih sudah membawa pamer karya Harris Purnomo yang juga menarik,
karena saya tidak sempat berjalan keliling nonton pameran.
Gayatri

Anonim mengatakan...

Apresiasi yg menarik, smoga dibiasakan diskusi soal sastra yg bikin pencerahan seperti ini.

Heri Latief