posting yang anda cari ada dibawah gallery foto ini, salam

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”

“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.

dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)

Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya

8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia


KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI

























KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!























KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!





























KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!


























































TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!

8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI





































Selasa, 26 Mei 2009

Seri Lawan Neoliberalisme! Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi

Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi

(oleh : Puthut EA)

Mengapa hutan-hutan bakau itu dibabat habis berubah menjadi bangunan manis dipandang lalu cahaya indah menerobos dari rekahan jendela kristal. Mengapa juga pulau-pulau kecil yang kadangkala menjadi tempat peristirahatan kami, menjadi tanda-tanda bagi kami, mulai hilang, lenyap, tenggelam meninggalkan air keruh mengusir ikan-ikan untuk semakin menjauh. Dan kapal-kapal itu? Ratusan kapal-kapal dengan bendera dan wajah asing, kapal-kapal yang rakus dengan alat tangkap ikan yang juga rakus, kenapa dibiarkan berkeliaran mengumbar kehendak? Ikan-ikan semakin menjauh, sementara perjalanan kami juga telah semakin jauh. Bahan bakar semakin mahal. Di darat, harga-harga yang lain juga semakin mahal sementara jaring-jaring kami terlihat semakin ringkih, kapal memucat tanpa muatan yang memberat. Di atas sana, bendera dwi warna memudar karena waktu dan cuaca.



Di darat, anak-anak kami masih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dengan semangat masih juga bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…". Tentu, kami ingin mewariskan ke mereka ilmu perbintangan dan ketajaman mata ketika melihat dalam gelap lanskap dan dalam gelap air laut. Ingin kami bagikan ilmu sederhana agar mta kita tajam dengan cara memakan mata ikan yang masih segar.

Kami ingin mengajarkan bagaimana menyikapi badai dan gelombang, membaca musim, merapal mantra. Ingin kami kabarkan tentang bagaimana mengolah, memanggang dan mengasap ikan dengan sempurna. Tapi dewa-dewa telah pergi, ikan-ikan semakin menjauh dan tanda-tanda sudah tidak lagi cermat. Akankah kami mewariskan sesuatu yang segera menjadi binasa? Akankah kami mewariskan sesuatu yang dulu diwariskan oleh moyang kami, tetapi sebentar lagi hanya akan menjadi dongeng bahkan sederajat dengan omong kosong? Alangkah malangnya ketika rantai pengetahuan yang kukuh itu, yang dibangun dari ratusan tahun pengalaman, tiba-tiba bagi sebuah generasi hanya tak lebih menjadi bualan? Dan mungkin kami hanya akan merintih dalam hati, ketika dengan jujur anak cucu kami bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…"



????????????????????

Selengkapnya

0 komentar: