Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, bahwa dewasa ini merupakan era bencana kemanusiaan bagi kaum Tani. Tragedi bencana kemanusiaan yang dihadapi kaum Tani ini terjadi dalam bentuk proses penyingkiran secara sistematik petani kecil sebagai produsen pangan. Proses peminggiran ini merupakan akibat kekalahan petani kecil dan konsumen dalam perebutan kebijakan pangan yang memihak pada Perusahaan Transnasional (TNC) bidang Agribisnis. Kekalahan para petani di arena kebijakan melawan TNCs bidang agribisnis raksasa tersebut segera membawa akibat tergusurnya para petani kecil dari sawah, tempat dimana mereka mencari nafkah dan menggantungkan kehidupan mereka.
Kekalahan petani kecil tersebut terjadi dipelbagai arena dan tingkatan. Sesungguhnya bencana tersebut telah terjadi sejak peradaban manusia menerima keyakinan dan mitos bahwa “Efficiency” sebagai satu satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan lingkungan alam, ekonomi, dan berbangsa. Mitos efisisensi ini berlanjut pada mitos lain, bahwa hanya TNC lah yang paling efisien, dan oleh karenanya, TNC yang dipercaya paling berhak sebagai penyedia pangan. Mitos ini kemudian diturunkan dalam bentuk kebijakan negara seputar siapa yang secara legal berhak sebagai penyedia atau produsen pangan. Kekalahan ideologi dan politik ekonomi ini terjadi dalam berbagai arena kebijakan sekitar hak paten dan pemilikan kehidupan melalui perjanjian internasional mengenai
Dipetik dari artikel Mansour Fakiq Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani yang menjadi pengantar buku Dusta Industri Pangan (Insist Pers)
Selengkapnya
posting yang anda cari ada dibawah gallery foto ini, salam
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”
“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.
dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)
Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya
8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI








KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!







KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!









KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!


















TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI










KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
”......Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan...”
“Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet melalui komunitas-komunitas maya-benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting”.
dari wawancara Umberto Eco tentang Internet dan perubahan sosial (terjemahan oleh Antariksa untuk buletin elektronik KUNCI Cultural Studies)
Internet dan Perubahan Sosial : Kasus Cicak Lawan Buaya
8 Nopember 2009 Bundaran Hotel Indonesia
KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI
KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!
KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!
KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA LAWAN KORUPSI!
TANPA OPOSISI, KORUPSI MERAJALELA!
BANGUN GERAKAN KONTROL RAKYAT PEKERJA!
8 NOPEMBER 2009 AKSI PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI
Minggu, 31 Mei 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)







0 komentar:
Poskan Komentar