Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip, Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian II
Artikel Bagian III
Animal Farm adalah novel George Orwell tentang perjuangan komune binatang di sebuah rumah peternakan melawan kekuasaan manusia yang menindas. Didalam kisah ini kemudian komunitas binatang terbelah antara para binatang yang mereproduksi model penindasan atau kekuasaan manusia yang menjadi musuhnya atau elitisme dalam menjalankan roda pemerintahan, kelompok pendukung suara binatang adalah suara tuhan (juga dari, oleh dan untuk hewan) dan para pengkhianat yang memihak manusia. Animal Farm dalam artikel memang sedikit beda karena ini metafora komune jahat di kancah Politik . Aktor politiknya Rai Gedheg atawa alias si Muka Tembok.
Adakah Animal Farm, adalah negeri antah berantah, atau negeri yang airnya saya minum sekaligus cemari?
Monumen Rai Gedhek - AC Andre Tanama
Pilihlah Aku : Yusmantoro Adi,
ELEK YO BEN..
NDAK PUNYA MALU….
NEKAD.... NARSIS...
NGONGSO
Itu ciri-ciri orang yang Rai Gedhek (tebal Muka) yang akhir-akhir ini banyak terjadi di sekeliling kehidupan kita. Kemarin ada Poster wajah saya terpampang di jalan-jalan
Gini Bung …. Meskipun saya kayak gini dan itu sebenarnya bukan kapasitas saya..
Itu demi eksistensi… dan kerjaan. Meski pun saya, dulu-dulunya ngak pernah eksis. Itu Cuma siapa tau...saya bisa kepilih
Ya .... mau sampean bilang saya itu apa..
Itu ndak jadi soal...
Yang penting inilah saya... Saya ndak mikirkan orang lain.... Yang tak pikir hanya diri saja meskipun saya ndak punya kapasitas (jangan bilang-bilang ya bung) hidup ini harus nekad.. Untung-untungan... zamannya sudah zaman edan.. yang penting saya dapat duluan.
”Testimoni Rai Gedhek” dalam Pengantar Kurasi oleh Ong Hari Wahyu
Apakah memang ini semata soal kapasitas yang tidak memadai atau lebih kepada motif/kepentingan orang-orang yang hanya memikirkan perutnya sendiri? Apakah ini adalah kisah para kandidat yang kelewat pede atau geer, tidak memiliki kapasitas tapi berambisi, tidak bercermin diri, pemimpi yang kemudian gagal dan jadi gila, ataukah ini kisah dengan aktor utama yang lihai dengan siasat licik, manipulasi informasi, money politics. Atawa ((meminjam Alex Luthfi) ”manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain” ?
Animal Farm atawa HEWAN P RWAKILAN RAKY dus komisi PEMILIHAN hewan (pileghe-pilpreshe, begitu ?)
Seturut Alex Luthfi figur babi di dalam jagad pewayangan dikenal dengan sebutan kala srenggi, adalah binatang yang sukanya merusak dan nggawe kisruh lingkungan saja. Tahun 1995 Alex menciptakan karya-karya lukis dengan tema babi berdasi. Kala itu ia melihat kekasaran dan kekerasan sudah menjadi peristiwa lazim di negeri ini. Pemerkosaan, pembunuhan, perampasan hak dan korupsi seperti menjadi kegiatan rutin dan dihalalkan oleh sebagian bangsa ini. Fenomena inilah yang mendorong Alex menciptakan karya yang menurutnya sendiri ”mungkin fulgar cenderung kasar dan terang-terangan”. Manusia atau objek berkepala babi-berdasi adalah metafora dari kapitalis atau manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain.
Coalition at Maternity Ward - Alex Lutfi
Dalam pameran kali ini Alex menyumbangkan karya Coalition at Maternity Ward, dimana metafora babi kembali muncul. Dengan mengolah fenomena kebebasan berekspresi yang muncul di tembok-tembok kota, rumah, gedung dan jalan raya, gambar-gambar liar sebagai wujud jeritan hati. Maka sosok babi hitam dewasa, menggendong babi putih, serta grafiti di tembok rumah bercat merah muncul dalam karyanya.
DI RUMAH
INI LAHI
GENER
PENERU
Bangsa
Juga tertulis Hewan P RWAKILAN RAKY......
Just Kidding – Adi Gunawan
Figur 2 Babi Merah Berciuman muncul juga dalam karya perupa Adi Gunawan Just Kidding. Konsep karyanya adalah fenomena aneh bagaimana dua tokoh yang sebelumnya berbeda pandangan politiknya, sekonyong-konyong (bercumbu) hanya demi kekuasaan. 2 Babi berciuman di depan publik tanpa rasa malu. Seakan-akan melanggar komitmen politik dianggap hal yang wajar saja.
Sementara dalam Lelah, melalui karya rupa alumuniumnya Agapetus Kristiandana menampilkan sosok babi gemuk menjijikan terkapar kelelahan dengan kancing celana terbuka, dan sebotol whisky kosong di tangannya.
Lelah – Agpetus Kristiandana
Kontes – Jefri Guciano
Selain babi konstestasi Animal Farm ini menghadirkan sosok-sosok lain seperti anjing, harimau, gorilla, bunglon hingga manusia berbadan hewan dll. Dalam satu karya instalasi formasi kaleng-kaleng yang tergantung pada seutas tali menghadirkan dua dimensi kehidupan.
Disisi luar kaleng itu tergambar aneka rupa dan tingkah manusia, sementara di dalamnya hadir segala rupa binatang yang saling bercumbuan. Catat, ini tidak terjadi diantara sesama jenisnya, hadir diantaranya jerapah bercumbu dengan beruang, kucing dengan kura-kura, gajah dengan zebra (?).Metafora bagi tingkah polah percumbuan politik para politisi Rai Gedhek.
Kartun binatang-binatang Disney rupanya muncul juga dalam Bilik Asmara ditemani potret wajah-wajah caleg nan rupawan dan sexy. (di dalam booklet pameran instalasi karya ini di gelar di kamar mandi dengan bak kosong dan toiletnya)
Bilik Asmara – Yoyok Sahaja (HITAM PUTIH)
Tiba-tiba bilik suara itu menjadi toilet
Dan aku jongkok di atas kloset
Kukeluarkan hajat pagi
Namun kenapa bilik ini menjadi wangi?
Ternyata dinding-dinding toilet
Kulihat puluhan gambar artis caleg
Cantik-cantik dan sexy-sexy
Pantas bila khayalku terbawa jadi wangi
.......
Mungkin karena politik itu dekat dengan seks
Dan berpolitik itu mirip dengan ngeseks
Sindhunata, Juni 2009
(cat saya. binatang umumnya sembarang bersetubuh tanpa malu)
Undercover #2 - Nurkholis
Sebangun dengan gagasan ini adalah karya Nurkholis Undercover #2 yang menyampaikan kisah tentang kemunafikan akut yang dibungkus dengan wajah yang seolah-olah asli dan menarik sekaligus bersahaja. Nurkholis lebih lanjut menyatakan ”tapi justru dibalik itu tersembunyi yang menakutkan dan berbahaya”. Seorang perempuan nampak membuka topengnya, muncul wajah macan didalamnya, demikian pula seekor gorilla membuka topengnya dalam rupa seorang lelaki berkumis. Tak berhenti disitu sang perupa juga memberikan peringatan. Sebenarnya di balik itu masih tersembunyi karakter lain yang lebih menyeramkan atau lebih menipu.
Ulu Bedu – I Wayan Kun Adnyana
I Wayan Kun Adnyana dalam Ulu Bedu, fragmen manusia binatang berkepala dua dengan hidung pinokio, juga melukiskan fenomena serupa. Kita hanya bisa jadi penonton kebohongan yang makin memanjang, tulisnya. Demikian pula I Made Arya Palguna dalam Air Muka Buaya dan Hermanu dalam Slenco.
Air Muka Buaya - Hermanu
Koalisi - Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH.
Pesan dibalik metafora 2 babi merah berciuman dalam Just Kidding ternyata muncul juga dalam karya instalasi Koalisi hasil kreasi kolaborasi Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH. Dalam karya ini hadir gugatan tentang kepentingan dibalik koalisi politik? Untuk memuliakan rakyat? Apakah Benar? Apakah bukan untuk kepentingan perutnya sendiri, alias kekuasaan dan kursi? Kemudian koalisi ini pada akhirnya juga bercerita tentang tujuan- unsur-unsur koalisi yang tidak kompak atau bahkan saling bersimpang jalan. Melalui karya ini Hitam Manis mencoba urun rembug atau menawarkan visual dengan metafor binatang-binatang (anjing dan macan) yang serius dengan alamnya masing-masing tapi dipaksakan dijadikan satu.
Seperti Chaplin – Hedi Hariyanto
Seperti Chaplin saja sahut Hedi Hariyanto dalam karyanya. Ia mengambil pose legendaris Charlie Chaplin. Hanya saja tongkat diganti dengan kursi, chaplin inipun berkepala bunglon. Caleg dan Capres gambang berubah haluan demi koalisi, seperti pelawak saja!
Hypocrite - Yerry Padang
Munafik, munafik! Hypocrite : Refleksi Kemunafikan ujar Yerry Padang dalam fragmen manusia berhidung babi, bertelinga serigala, dan label nike kah di rambut merah itu?
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)







0 komentar:
Poskan Komentar