(andreas iswinarto)
guyup dan guyon
(Juga gerah, weleh weleh para penarinya jadi pancuran keringet, berulang kali penonton gelontorkan tisu untuk melap keringet. Juga beberapa kali nakalan, nyerempet-nyerempet ranjang keringat)
(foto/artikel : andreas iswinarto)
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini
kelabu - nyanyi sunyi
Inilah senandung tembang, serampak tari, sekitab kisah, senarai hati, sebakul guyonan (kadang ’saru”) dari cah ayu ning batin, wong mereka gemuk-gemuk, setengah baya dan belepotan arang hitam (jadi nampak tua dan kotor) dalam busana kaum tani. Inonk (Wahyu Widayati), Sri Lestari, Sri Setyoasih dan Atik Kenconosari.
Setting panggungnya dunia ndeso (ndesis), dunia wong tani, dengan orang-orangan sawah dan segala properti penghalau burung (tali-tali merentang dengan kantong plastik putih-hitam-biru, gelas air plastik dan kaleng-kaleng), juga pecut yang tergeletak di atas panggung..... Lalu puluhan ikatan padi di panggung, juga pada curahan teras Rumah Kudus (kebanggaan Bentara Budaya dan Kompas-Gramedia Group) yang menjadi latar pementasan, begitu indah. Memanggil-manggil untuk pulang, silahturahmi dengan dunia desa, akar-akaran...
terkapar
Lalu ada pesan lain yang menyelundup, membuat sesek ati. Di latar belakang Rumah Kudus itu (latar dari latar), menjulang bangunan apartemen dengan kerlap-kerlip lampu di kamar-kamar penghuninya, selain langit malam kota metropolitan .......
Adakah julangnya mewartakan sebuah kesombongan?
(pstt jangan bilang-bilang ya Rumah Kudus sekaliber yang di Bentara Budaya yang bisa memilikinya di daerah asalnya pasti orang-orang kaya juga, lurah, aristokrat, tuan-tuan tanah tempat banyak kaum tani memburuh)
Adakah ini komune TIKUS BESAR seperti di syair Pangkur Brujul SAHITA berikut :
Enake dadi wong tani
Tak lakoni wiwit bayi nganti saiki
Lara lapa mbrengkal lemah malik bumi
Ambles Lendhuting bumi kepopok lenthoning sapi
ritual dewi sri
Bahagianya menjadi kaum tani
Saya jalani, hidupi sejak saya masih bocah hingga kini
Banting tulang, kerja keras, keringat di atas tanah sendiri
Dalam kekotoran tanah air becek dan harum taik kerbau
Naliko temen tueuh wiwit ngerembuyung
Katon ledhung-ledhung, sirna ilang rasaning wuyung
Nyawang kembang ambyor awoh gegrandhulan
Senenge ati kalamun angundhuki
Panen gedhe krasa kebak rejekine
kosmologi kawulo gusti
Ketika tanaman mulai tumbuh, bersemi, merimbun
Mereka menjadi tudung, menaungi rasa cinta yang menghilang
Saya melihat bunga bermekaran dan buah-buah bergantungan
Saya senang bisa memetiknya
Panen yang melimpah membawa serta keberuntungan
Nanging apa kang dumadi
Jebul kasunyatan beda lan lamuning ati
Kreta gadhing teka kebak kuli
Sengkut gumregut ngunggahke wiji
Kebak muncu-muncu katut kreta
Nggeblas amblas tab weruh prah kang tinuju
Tetapi apa yang terjadi
Ketika panen berlimbah sungguh tiba, keinginan berbeda dari kenyataan
Kendaraan bagus tiba, penuh kuli
Dengan giat memuat bulir-bulir padi tandas ke atas kendaraan
Kini kendaraan itu penuh sesak biji-bijian
Melaju gegas ke tujuan yang tidak kami ketahui
Ati pepes ambles mripat mbrebes nyawang tumpukan dami
Dami merang anggagang sisane kala gumarang
Patah hati, dan titik air mata bergulir, menatapi tumpukan jerami
Ya, jerami-jerami (ampas padi) yang ditinggalkan para RAJA TIKUS!!!!!!!!!!!!!!!
amarah
Sugih Sawah Sugih Pari tinggal angan-angan. Kerberhasilan yang melahirkan Kesejahtaraan hanyalah mimpi di siang bolong..............
(mohon koreksi dari handai taulan yang berbahasa ibu bahasa jowo, saya menerjemahkan secara bebas dari terjemahan bahasa inggris yang disiapkan panitia bentara budaya)
Malam jumat pementasan Teater Tari SAHITA, sungguh meriah dengan celetuk juga gelak tawa para pengunjung yang nampak bersemangat merespon para penari hebat ini. Mereka master dalam teater (ekspresi dan bangunan watak lakonnya), menembang dan olah vokalnya (dengan berbagai varian bunyi, nada dan birama). Sekaligus secara acapella dalam musik pengiringnya, walau dalam beberapa momen digunakan alat bantu gagang cambuk untuk ketak ketuk, dan lonceng kecil untuk nang nung neng nang ning nongnya. Master tari pula pada lentik jari tangan, gegelengen dan onggak angguk kepala serta lenggak lenggok tubuh nan subur.
kerja, keringat, guyon
Kelompok SAHITA yang didirikan tahuan 2001 telah malang melintang di dunia pementasan melalui produktifitasnya yang relatif subur dan menyegarkan. Mereka mampu mengangkat ke pentas realita kehidupan yang biasa-biasa saja, sederhana, trivia, sehari-hari sebagai perisitiwa yang universal dan aktual. Dari persoalan sehari-hari ke gugatan atau perenungan soal-soal kritik nilai-nilai dan falsafah hidup. Untuk mengikat hati dan perhatian penonton mereka master pula dalam mengemas permainan kata nan jenaka, olok-olok menertawakan diri. Parodi, lelucon pahit hingga lelucon saru.
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini
Memang dalam pentas malam itu mereka menggebrak soal petaka kaum tani, dari panen padi yang untung besarnya dinikmati golongan pemilik truk yang setiap panen mengangkut tandas setiap bulir padi sampai tumpasnya tanah-tanah mereka. Tanpa sisa.
Padahal dahulu mereka selalu menyisihkan hasil panen untuk kebutuhan sendiri persediaan di kala sulit dan juga untuk untuk menyantuni tetangga yang miskin dan kesusahan. Masi beruntung sedikit kalau mereka bisa beli beras kualitas rendah untuk konsumsi sendiri. Yang lebih sial mesti ngemis beras kualitas busuk dan bau jatah dari pemerintah.
Bahkan kini menurut penuturan para penari ini, sawah-sawahpun menghilang, tanah-tanah kini ditanami (ditanduri) gedung-gedung, rumah (real estate) dan pabrik. Sementara rakyat miskin diiming-imingi BLT, janji-janji pendidikan gratis, layanan dan jaminan kesehatan........
guyup guyon
Juga rumah diperhatikan. Kini rakyat bisa pula membeli rumah masa depan tipe 21 alias 2x1 m. RSSS. Pstt, ini saru..... Kata salah satu penari dengan jenaka, dan lirik yang nakal. ”Rumah Sempit Sulit Sengga....”
Weleh-weleh......
(foto-artikel : andreas iswinarto)







0 komentar:
Poskan Komentar