baca juga bagian 2 : Menemukan Wastu Kota, Warga Sebagai Masyarakat Politik
(andreas iswinarto)
Jakarta rupanya dipacu lari tunggang-langgang ke arah yang salah. Kota dan ruang hanya menjadi alat pertumbuhan. Akibatnya, masyarakat Jakarta kecolongan kesempatan untuk menikmati kota yang tujuan sejatinya adalah sebuah permukiman manusia.......
Jakarta tidak mengarah ke metropolis yang diimpikan, melainkan ke arah miseropolis, kota yang bergelimang kesengsaraan, semrawut tak terkendali, tanpa identitas dan keanggunan serta kemesraan, miskin akan fasilitas dan utilitas kota, yang mengakibatkan penderitaan bagi masyarakatnya
JJ Rizal dalam Benny dan Mice di Jakarta
http://www.karbonjournal.org/id/home/detail.php?ID_focus=27
Tafsir Karya Babak I
City and Iron Shoes
Jangan Tumpang
Nest
City on My Head
Consumerism
City on May Hand
Inilah kota tunggang langgang itu, kota yang dibangun di dalam kubangan kekerasan sepatu lars atau sepatu besi (City and Iron Shoes) juga dalam paradoks atas nama pengadaban kota berlangsung tindakan-tindakan tidak beradab. Di satu sisi muncul enklaf pemukiman kaum berpunya yang bersih, asri, dengan fasilitas dan utilitas yang lengkap, disisi lain warga miskin jadi korban gusuran atas nama prasarana umum hingga keindahan kota. Juga warga kota di kawasan kumuh yang dibiarkan menjadi arena pertarungan yang sengit dan ketiadaan fasilitas dan utilitas kota hingga rusaknya lingkungan hidup (alam).
Kota yang tunggang langgang itu nampak dari tumbukan moda trasportasi yang sejatinya ditujukan untuk mempercepat menempuh jarak, tapi bertumbukan di silang sengkarut jalan-jalan kota. Hingga mobil pribadi secepat selambat kura-kura (Jangan Tumpang) dan kota kini tinggal menjadi penjara waktu (Nest).
Sementara dalam City on My Head seperti ditafsir oleh Albertus mencerminkan kegelisahan tentang kondisi kota yang membusuk, yang hanya mengedepankan hitungan-hitungan statistic sebagai indikasi keberhasilan pembangunan, usaha mendesain dan mengestetika ruang public yang akhirnya hanya sekedar hiasan kota tanpa bisa diakses sebagai ruang public yang semestinya, fasilitas public yang teabaikan, kota yang semakin renta dan terbeban berat (juga pada City on Iron Shoes menurut penulis) oleh arus urbanisasi sebagai dampak pembangunan yang masih berorientasi pada kawasan perkotaan.
Kemudian disisi lain ruang publik adalah ruang-ruang yang dikontrol oleh kapital, sehingga kota menjadi etalase konsumerisme dengan ideologi yang kemudian menghegemoni warga kota ’I buy therefore I Exist” atau ”I consume therefore I exist” (Muji Sutrisno dalam Kota dan Budaya). Konsumerisme memang menggiurkan dan kaum modallah yang menggengam kota (Consumerism, City on My Hand)
Tanggal 20 Agustus saya menghadiri salah satu rangkaian Kuliah Umum “Philosophy in The City” yang diselenggarakan oeh Goethe-Insitut Jakarta dan STF Driyarkara. Kali ini tema khususnya adalah “Kota dan Alam” dengan dosen Karlina Supelli, setelah sebelumnya dibahas Kota dan Kerja, Kota dan Budaya, serta Kota dan Kata.
Saaat mengikuti kuliah umum Karlina Supelli saya segera terhubung seperti nyambung chemistry nya dengan karya-karya keramik Aries BM “Menafsir Wastu” (Bentara Budaya, , khususnya karya-karyanya yang terkait kota. Oleh karena itu saya coba membaca “Menafsir Wastu” melalui beberapa petikan kuliah Karlina ini.
Selalu yang menarik dari studi filsafat adalah penelusuran makna dari asal usul atau akar
katanya. Makin menawan ketika juga disampaikan kilas sejarah petikan-petikan pembicaraan dan pegulatan para filsuf, cendekiawan masa lalu termasuk sastrawan tentang pokok masalah itu untuk memperdalam pemahaman kita.
Tentang kota ini Karlina memetik dari khasanah empat abad lalu, tepatnya pada Shakespeare yang mengulang satu dialog antara Sinicius dan warga kota Roma
“Apalah kota kalau bukan ‘the people”, uar Sinicius kepada warga kota Roma.
“Benar, “the people” adalah kota”, jawab warga
Demikian disampaikan Karlina, kota adalah ruang geografis dan bentuk-bentuk fisis (latin : urbs) sekaligus civitas –kewargaan. Kemudian warga kota atau civis menurunkan pengertian civilitas, yang diterjemahkan sebagai keadaban. Dengan pemahaman ini maka , city, cite,citta, atau kota adalah situs dari civilitas (keberadaban).
Apa yang sangat khas dari pengertian kota dalam artinya yang paling asali adalah keberadaban. Dan bahwa seluruh infrastruktur kota adalah demi menciptakan keberadaban termasuk di dalamnya adalah mendefinisikan kembali ’alam’ dan yang ’alami’ dalam konteks keberadaban itu. Dengan pemahaman ini, alam dan budaya atau lingkungan alami dan lingkungan termanufaktur yang terdapat di kota, tidak mungkin dimengerti dan ditangani sendiri-sendiri. Alam di kota bukan sempalan dari kota maupun keberadadaban dan ketidakberadabannya.
Dikhotomi nature and culture bukan hanya mengalami inflasi sehingga tidak lagi memadai untuk memahami kota, tetapi sebagai konsep pun sudah kadaluarsa. Demikian halnya dengan pemilahan kota dan desa (Karlina hal 16 dan 17).
Keterbelahan pemahaman tentang kota sesungguhnya juga cermin dari keterbelahan iptek sekaligus ketidaktepatan memahami dunia semisal pandangan-pandangan reduksionis yang menempatkan manusia dan dunianya kedalam representasi matematis abad pnecerahan seperti dikemukan Karlina pada bagian lainnya. Pada kasus kota ini tercermin dalam pandangan yang sangat optimistik bahwa pembangunan kota-kota modern, bersembunyi ideal Pencerahan dan seluruh asumsinya mengenai rasionalitas, efisiensi dan universalisasi ruang sehingga kota dapat dibangun dimana saja tanpa mempertimbangkan lingkungan dan daya tampung alam.
Barangkali gagasan tradisi Wastu yang dipopulerkan oleh Romo Mangunwijaya, Rohaniwan, Sastrawan, Pekerja Sosial dan Arsitek, dan kini disajikan seniman keramik yang hebat Aries BM dalam ”Menafsir Wastu” adalah jawab atas keterbelahan dunia dan keterbelahan kota seperti dipaparkan oleh Karlina.
Tafsir Karya Babak 2
Orang Bajo
Paripurna
Lapi..ndok
Pacul Memorial
Alienasi/kerterasingan yang tercipta dari strukturisasi dan budaya kota baik terhadap diri, sesama dan lingkungan alam bisa kita baca dari nasib orang Bajo. Akibat tafsir elit atas pemaknaan ruang yang beradab maka orang-orang Bajo orang-orang perahu itu dipaksa untuk mukim di darat yang hakekatnya sudah menghancurkan ke-Bajo-annya.
Sekaligus cerita tentang warga yang linglung dalam dinamika lingkungan barunya. Purna dalam karya Aries BM menggambarkan tumpasnya bola dunia, kesadaran eksistensial orang Bajo yang kita saksikan kemudian terlihat hanya tersisa adalah gelojotan unsur-unsur pembentuknya (Suku Bajo dan Purna).
Demikian pula bolak-balik antara kota dan desa adalah bolak-balik cerita tentang tungganglanggangnya jagat desa dan kota, patahan dalam aliran dan relasi desa kota yang sebabkan kelinglungan (Pacul Memorial).
Dua cerita tentang dunia pacul dan orang bajo adalah sekaligus cermin tumpasnya satu tradisi hidup, satu kultur dalam hal ini petani dan orang perahu, tanpa menemukan pijakan apapun di kota. Juga tumpasnya keselarasan relasi manusia dan alam.
Referensi :
Kota dan Alam, Karlina Supelli
Wastu : Metafora Ruang Hidup yang Memanusiakan Manusia, AR Ponco Anggoro
Benny dan Mice di Jakarta, JJ Rizal
baca juga
Menafsir Wastu : Seonggok Binatang Ekonomi atau Manusia Seutuhnya Dari Pameran Keramik Aries BM, Menafsir Wastu 16-23 Juni 2009 Bentara Budaya Jakarta
baca juga
Paper Karlina Supelli “Kota dan Alam”.








0 komentar:
Poskan Komentar