Arswendo Atmowiloto mentahbiskan Put On yang berarti ”si gelisah” (sebagai komik strip pertama di Indonesia yang diciptakan oleh seorang Indonesia. Orang itu adalah komikus Kho Wan Gie yang menciptakan Put On pada tanggal 2 Agustus 1930. Komik strip ini kemudian menunaikan masa baktinya bukan saja memotret tokohnya yang selalu gelisah tetapi yang utama adalah menemani kegelisahan pembacanya dalam kemelut zaman atau juga memotret kegelisahan zamannya.

Put On sebagai potret kegelisahan zamannya inilah jejak terpenting yang ditangkap JJ Rizal (Lakon Menjadi Indonesia Put On) dalam timbangan buku kumpulan karya Put On yang diterbitkan Pustaka Klasik setahun yang lalu. Menurut Rizal komik ini lahir di suatu masa di mana masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia sedang mengalami kegelisahan oleh dilema dan pencarian identitas. Kegelisahan ini kemudian ditempa oleh berbagai zaman yang melintas sepanjang 30 tahun (3 dasawarsa) lebih masa bakti Put On. Dari pergolakan nasionalisme, perang kemerdekaan, modernisme dan konflik ideologi-ideologi besar.
Put On adalah ”pohon sejarah” yang tumbuh dengan akar, dahan, ranting dan daun yang kaya warna jejak sejarah.
Rizal kemudian menyimpulkan akhirnya Put On bukan sekadar potret masyarakat Tionghoa di Jakarta. Put On adalah cermin dari pengalaman banyak anak bangsa di masa-masa itu yang numplek di Jakarta dan mengalami yang disebut Lance Castles sebagai proses ”Tuhan menciptakan orang Indonesia!”.
Dalam artikelnya JJ Rizal menyoroti pula tentang nasionalisme yang disebutnya ala Put On di dalam komik strip Kho Wan Gie yang pada akhirnya membawakan Put On menjadi milik semua bukan sekedar milik kalangan peranakan Tionghoa.
Bila Jakarta sebagai etalase Indonesia terdepan Kho Wan Gie melahirkan Put On melalui koran Sinpo yang legendaris dan begitu patriotik untuk menjadi Indonesia pada tahun 1930, maka di Medan 43 tahun kemudian juga lahir komik strip Pak Tuntung dari tangan Basuki alias Hu Wei Tian melalui koran Analisa. Pak Tuntung sebagai kreasi komik strip Hu Wei Tian telah melintasi masabaktinya sepanjang 33 tahun hingga tahun 2006.
Sejak itu Pak Tuntung walau tetap berada di harian Analisa, tetapi diteruskan oleh kartunis lain. Basuki sendiri keluar dari Analisa dan bekerja di Harian Global yang melahirkan komik strip Pak Bas yang segera memikat warga Medan pula.
Menurut saya Medan hampir sama juga dengan Jakarta dimana ”banyak anak bangsa yang numplek dan mengalami yang disebut Lance Castles sebagai proses ”Tuhan menciptakan orang Indonesia!” seperti diungkap JJ Rizal.
Juga mirip dengan Put On penciptanya adalah seorang keturuan Tionghoa dan menerbitkan karyanya di Harian Analisa yang acapkali dianggap sebagai surat kabar masyarakat Cina Medan.
Seperti dilaporkan DEDY ARDIANSYAH Pak Tuntung (Membungkus Senyum, Merengkuh Untung)reporter tabloid Komatkamit di Medan, nama Pak Tuntung sendiri menurut sekretaris redaksi Analisa War Djamil diilhami dari Tuntungan, daerah di pinggiran Medan. Daerah ini pada 1970-an dikenal sebagai arena pacuan kuda yang ramai setiap akhir pekan. Tuntungan kemudian dirasa cukup berarti untuk nama kartun koran itu. Akhiran “an” dibuang, kemudian lahirlah Pak Tuntung. Menariknya dalam bahasa Mandarin, “Tung-tung” juga berarti anak-anak. Pak Tuntung memang dekat dengan masyarakat Cina di Medan karena Analisa, meski secara sosial bukan pembagian yang tepat, dianggap sebagai suratkabar masyarakat Cina-Medan. Iklan kematian orang Tionghoa kebanyakan dimuat oleh Analisa.
Adapun dalam catatan Dedy tema kartun Basuki kebanyakan seputar masalah sosial atau lingkungan, jarang mengusung tema politik. Karakter Pak Tuntung juga diciptakan sangat santun. Humornya jauh dari isu peka macam agama dan ras. Pak Tuntung anti-kejahatan, suka mengkritik, memperhatikan lingkungan hidup tapi takut istri.
“Saya kurang suka politik,” kata Basuki kepada Dedy, "seakan-akan mengacu pada sempitnya ruang gerak orang Indonesia keturunan Tionghoa selama 30 tahun diskriminasi anti-Cina oleh rezim militer Orde Baru".
Namun demikian pada zaman Orde Baru kartun Pak Tuntung bergesekan juga dengan penguasa. Dimana acapkali penguasa pun mengingatkan agar ia tak terlalu keras mengkritik. Basuki mengaku sempat beberapa kali diperingatkan agar tak menyentil penguasa (Andreas Maryoto, Kompas)
Jika Put On menjadi legendaris dengan komik stripnya yang melintasi, memotret dan bergesekan dengan aneka zaman yang bergejolak dengan gaya patriotik nasionalismenya, maka pada Basuki kita bisa menemukan kesetiaan yang luar biasa untuk menghidupkan komik strip untuk menemani pembacanya, belajar bersama dengan pembacanya sekaligus menyentil dan menghibur. Inilah kemudian yang mengesankan Andreas Maryoto, maka muncullah profil komikus/kartunis ini dengan judul ”Basuki, Kesetiaan Seorang Kartunis”.
Sepanjang 33 tahun Basuki menghasilkan karya setiap hari kerja dan tidak mengunjungi pembacanya pada hari libur dan hari minggu saja. Anggaplah setiap tahun terdapat 300 hari kerja maka sepanjang 33 tahun itu paling tidak telah diciptakan 9900 komik strip pak Tuntung.
Bahkan kini seperti dilaporkan Maryoto, Basuki rajin menjaga kesehatan dengan berenang dan jogging. Basuki bercita-cita setidaknya Pak Bas, komik stripnya kini atau barangkali juga alter-egonya berumur sama dengan Pak Tuntung. Meminjam Chairil Anwar, ”Aku (Pak Bas) ingin hidup 30 Tahun Lagi”.
Referensi :
Lakon Menjadi Indonesia Put On, JJ Rizal (Kompas 1 Maret 2009)
Si Put On Tak Sekedar Komik Strip
Komik ”Put On” Diterbitkan Kembali : Komik, Sejarah dan Fenomena Sosial – Sihar Ramses Simatupang
Pak Tuntung, Membungkus Senyum, Merengkuh Untung - DEDY ARDIANSYAH (PANTAU Edisi September 2002, No. 029)
Bag 1, bag 2
Basuki, Kesetiaan Seorang Kartunis – Andreas Maryoto (Kompas, 13 Agustus 2009)
Etalase Karya
Pak Tuntung
Put ON








0 komentar:
Poskan Komentar