Baca juga bagian 2 : Kapitalisme, Kemiskinan dan Krisis Ekologi
Dalam semangat menghidupkan teori, analisis kelas, jender, etnis hingga ekologi adalah cara mengorganisasi pengetahuan. Dengan demikian pisau-pisau analisis ini bukan untuk dihadap-hadapkan, dipertentangkan dengan pendekatan atau analisis yang lainnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana membuat adonannya atau pembobotan dalam pembacaan atau teori yang lebih lengkap dan komprehensif.
Ringkasan
Analisis kelas masih sangat berguna, sebagai titik awal untuk memahami kapitalisme yang kompleks. Karena setuju atau tidak, suka atau tidak, jika hendak menganalisis sesuatu harus di mulai dari satu titik berangkat alih-alih memulai dari chaos-menjelaskan segala hal. Tidak masalah kemudian jika di dalam perjalanan kita melakukan banyak revisi. Itu bukan masalah, karena dengan cara itulah teori berkembang.
Dan di dalam semangat menghidupkan teori, baik dalam analisis dan politiknya sekaligus, analisis kelas tidak ada matinya. Dia akan terus berguna di dalam rangka menghidupkan seluruh perdebatan di dalam (1) politik, yakni bagaimana caranya menghasilkan politik yang efektif; dan (2) di dalam teori, yakni bagaimana kita lebih bisa mengorganisisasi kenyataan di dalam sistem pengetahuan kita—tergantung di mana kita berdiri dan apa yang kita kerjakan.
Analisis kelas, jender, etnis, dan analisis lainnya adalah cara mengorganisasi pengetahuan. Kita lihat suatu masyarakat, dimensi apa yang mau kita perhatikan: bisa
kelas, bisa jender, bisa apapun. Dalam kesempatan yang satu, dimensi kelas sangat menonjol dibanding dimensi yang lain, sementara dalam kesempatan lain tidak. Dengan kata lain, analisis kelas merupakan satu dari sekian banyak cara untuk melihat masyarakat.
Dengan demikian analisis kelas bukan untuk dihadap-hadapkan, dipertentangkan dengan macam-macam pendekatan atau analisis yang lain. Memang, ada kekhususan dari analisis kelas: membayangkan bahwa gerak sejarah dari masa lalu sampai sekarang aspek kelas sangat menonjol. Penting untuk dicatat, aspek tersebut bukan yang paling penting, tetapi sangat menonjol, dan banyak menentukan dimensi kehidupan yang lain.
Marx mungkin bisa dianggap reduksionis karena mengembalikan segala sesuatunya pada masalah kelas. Tapi anggapan ini pun tidak benar. Marx menganggap masalah kelas itu sentral, tapi jauh dari mengatakan bahwa itulah satu-satunya masalah yang dihadapi umat manusia. Dan pentingnya kelas ini tidak lain karena Marx berbicara tentang zaman yang dibedakan dari segi produksi materialnya. Dia tidak berbicara tentang lingkungan hidup misalnya, tidak lain karena memang di zamannya masalah itu belum menonjol.
Memang kita tidak boleh mereduksi segala sesuatu semata-mata menjadi persoalan kelas, tapi kalau bicara tentang perubahan tatanan sosial dan ekonomi seperti feodalisme dan kapitalisme, perjuangan kelas tetap merupakan persoalan sentral.
Disarikan dari artikel Hilmar Farid ”Sekilas tentang Analisis Kelas dan Relevansinya” (1 dan 2) dan serta wawancara Coen Husain Pontoh dari IndoProgress dengan sejarawan dan aktivis gerakan sosial ini.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan akurat silah simak berikut ini :
Sekilas tentang Analisis Kelas dan Relevansinya (Bagian 1)
Sekilas tentang Analisis Kelas dan Relevansinya (Bagian 2)
Hilmar Farid: Perjuangan Kelas Justru Semakin Hebat dari Sebelumnya
baca debat
Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar