Apa yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar belasungkawa semiresmi secara membahana saat kematian Mbah Surip, tetapi nyaris tak terdengar ucapannya saat WS Rendra wafat? Apakah hal itu pertanda derajat kaum ”gelandangan” ditinggikan di atas kaum intelektual-budayawan?
Terpujilah jika negara memiliki empati yang lebih besar kepada orang yang lebih menderita. Masalahnya, biografi Mbah Surip berkata lain. Seseorang yang memilih jalan gelandangan sebagai jalan survival, mewakili jutaan gelandangan lainnya yang hidup tidak tergantung dan tanpa perlindungan negara. Sekali negara hadir, hal itu pertanda bencana.
Dalam situasi ordinary, kehadiran negara justru tidak dikehendaki karena menambah beban hidup, tersirat dari kelakar Mbah Surip yang kerap mengaduh, ”Ampun pemerintah!” Dalam situasi unordinary, negara hanya hadir saat prahara menerjang, musim pemilu tiba, atau demam Cinderella melanda, tatkala orang-orang biasa sontak terkenal. Itu pun bukanlah karena kepedulian kepada orang biasa, melainkan demi citra dan popularitas (pejabat) negara.
dipetik dari artikel Yudi Latif "Dua Kuburan, Dua Tanda" Kompas Selasa, 11 Agustus 2009
selengkapnya
Baca juga
Beda Mbah Surip dan WS Rendra Dengan Elit Politik Pembohong Rakyat
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








1 komentar:
Apakah benar politikus hanya memperalat tokoh yang dekat dgn rakyat untuk menaikkan popularitas? Bisa jadi. Yang pasti adalah, Ws. Rendra dan Mbah Surip dekat karena jujur.
Salam:
http://wisencare.blogspot.com
Link ini sbg tanda saya tlh berkunjung.
Poskan Komentar