Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Senin, 03 Agustus 2009

Menembus Bukit, Menuju Desa Terpencil Pesanguan Tanggamus

Desa Harapan di Tepian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung)

Ruang Rupa Kapal Api (bag 1), Ruang Rupa Van Oranje (bag 2), Mengejar Matahari (bag 3), Membelah Samudera, Menyisir Cakrawala (bag 4), Senja di Pelabuhan Ikan Rakyat Kalianda (bag 5), Menembus Bukit, Menuju Desa Gunung Pesanguan Tanggamus (bag 6).

Baca juga : Dari Puncak Mercu Suar Cikoneng (bag 1) dan (bag 2).


Dalam perjalanan dinas ke Lampung antara tanggal 26 Juli hingga 2 Agustus 2009 saya mengujungi dan melakukan pendidikan kader rakyat di satu desa terpencil Pesanguan Kecamatan Pematang Sawa di Kabupaten Tanggamus. Desa ini berada tepat di tepian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Saya membahasakan ini adalah desa harapan bagi warga kampung. Dan membahasakan diri saya pada warga desa yang hangat sebagai kampung halaman. Seperti pulang kampung saja.



Selama ini saya merasa tidak bisa mengatakan saya hendak pulang kampung. Secara bermain-main saya sering mengatakan ke Jogja atau Solo sebagai pulang kampong. Atau bahkan sering saya guyon dengan mengatakan saya ke Jogja ingin mencari ari-ari saya yang ditanam atau mungkin dibakar di belakang RS Panti Rapih. Saya lahir memang di Jogjakarta, dan tinggal hanya selama bilangan bulan disana. Selebihnya melanglangbuana sesuai penugasan atau dinas orang tua saya.

Ya, aku terus menerus diganggu pertanyaan ’kembali ke akar’........ menemukan ari-ariku.

Mari kembali ke Desa Harapan itu. Dari batas kota atau dari jalan raya, desa itu dapat ditempuh dengan berjalan kaki menembus hutan dan mendaki bukit lebih kurang selama 2 jam. Tapi di tangan seorang pengendara sepeda motor yang tangguh perjalanan di jalan setapak itu bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Bila tanah basah karena hujan perjalanan sepeda motor dengan dilengkapi rantai pada kedua rodanya bisa molor menjadi 1 jam lebih.






















Untunglah kemarin cuaca cerah dalam seminggu terakhir. Bagi saya inilah pengalaman perjalanan ’petualangan’ yang paling mencekam sekaligus menyenangkan. Hmm, menembus hutan, membelah sungai walau umumnya kali-kali kecil saja, serta mendaki tepian tebing curam dengan bebatuan kapur di beberapa tempatnya.

Walaupun dibonceng pengendara motor yang tangguh, sepeda motor yang kutumpangi sempat nyaris salto. Demikian pula beberapa kali nyaris terjungkal ketika perjalanan pulang. Maklum saya tidak bisa mengendari motor, kalaupun biasa membonceng ojeg di Jakarta tentunya dengan medan yang sangat beda. Jadi canggunglah mencari posisi duduk, lenggang tubuh dan kepala. Sambil menggerutu kapan ini sampai tujuan.













Tapi legalah hati ketika sampai di Desa Pesanguan, seluruh rombongan (saya dan 2 kawan dari Bandar Lampung serta 2 kawan dari Kalianda) disambut dengan keramahan dan ketulusan warga desa. Termasuk anak-anak kecil yang menyambut dengan gembira dan malu-malu. Belum lagi udara sejuk dan segar yang melegakan paru-paru.

(cat. yang sempat terekam kamera adalah awal dan akhir perjalanan saja, saat pendakian mulai mencekam saya konsentrasi sepenuhnya sebagai pembonceng bukan lagi mobile photographer)

0 komentar: