sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Senin, 31 Agustus 2009

Menemukan Wastu Kota, Warga Sebagai Masyarakat Politik

Menafsir Wastu dan Kota (bag 2)

baca juga bagian 1 Culture & Nature Kota Yang Tunggang Langgang dan Linglung

(andreas iswinarto)

Menurut Albertus Rusputranto Ponco Anggoro (pegiat forum pinilih dan pengajar di program studi seni rupa murni ISI Surakarta) yang menjadi salah satu kurator pameran, Istilah Wastu dalam kamus Kawi-Jawa (CF Winter Sr dan R Ng Ranggawarsita) diartikan sebagai masthi, estu, jangkep. Dalam terjemahan bebasnya dapat diartikan sebagai bangunan ruang hidup yang lengkap, menyeluruh, hakiki, sejati dan melingkupi. Manusia mengidentifikasikan dirinya berada dan menjadi ruang itu sendiri bersama dengan ideologi ruang, sejarah ruang, identitas ruang, rasa berkomunitas, kesadaran wilayah, kemanusiawian, beserta unsur-unsur material yang lain.

Bagi Albertus kemudian bahwa manusia memerhatikan keberadaan manusia yang lain di dalam ruang hidup bersama adalah salah satu hal yang terpenting, Namun ia mengingatkan bukan berarti boleh disederhanakan dengan hanya melihat manusia sebagai entitas yang tidak berkait dengan unsur ruang yang lain, sebab dalam konsep wastu semua unsur itu identik, Jadi kalau ada salah satu saja yang terabaikan maka bangunan ruang itu pun sulit untuk disebut sebagai bangunan ruang hidup yang memanusiakan manusia.

Namun demikian dari potert kota yang tunggang langgang dan miseropolis yang dikatakan JJ Rizal pada awal tulisan ini adalah kemanusiaan di caik-cabik oleh keterbelahan dunia (konseptual) sekaligus keterbelahan kota (faktual) seperti disampaikan Karlina. Lebih parah lagi kota dan ruang yang hanya dipacu sebagai alat pertumbuhan spirit kapitalisme dengan akumulasi kekayaaan segelintir orang yang menggenggam kota dengan mengabaikan mayoritas warga. Kota dalam gengaman ketamakan kuasa modal dan penguasa.

Kemudian seperti disampaikan Albertus lebih lanjut kebijakan publik yang lahir tanpa rasa publik pasti tidak akan berpihak kepada kepentingan publik; pembangunan tanpa rasa publik pasti hanya berpikir bagaimana menangguk keuntungan kapital sebesar-besarnya tanpa mempedulikan aspek kemanusiaan; hidup bermasyarakat tanpa rasa publik pasti kehilangan rasa berwilayah dan komunalitasnya.

Oleh karenanya tantangannya kini adalah membangun keadaban kota dengan menumbuhkan rasa meruang secara kolektif sehubungan dengan keberadaan dan kepekaan lingkungan tempat hidup, berkehidupan dan berpenghidupannya. Sehingga kemudian dengan sendirinya tercipta identitas dan ideologi ruang terebut. Begitu juga kesebalikannya, identitas dan ideologi ruang tersebut akhirnya turut menentukan ideologi dan identitas manusia yang ada di dalamnya. Penghormatan terhadap kemanusiaan manusia mutlak, sejalan dengan pertumbuhan teknologi, peradaban dan kebudayaan (yang diantaranya juga disebabkan oleh pertumbuhan teknologi)

Untuk itu Karlina merekomendasikan untuk menumbuhkembangkan Warga Kota sebagai Masyarakat Politik. Karlina menyatkan minimal ada dua syarat untuk menciptakan kota yang beradab atau kebijakan dan hidup bernasyarakat dengan rasa publik....

Pertama, warga kota mau dan mampu membentuk masyarakat politis Inilah masyarakat yang terus menerus mendiskusikan dan menanggapi hal-hal yang hendak dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah dan pemilik modal. Politik adalah pokok hidup sehari-hari persis karena setiap hubungn manusia yang berdampak pada kepentingan warga sebagai keseluruhan, atau ringkasnya kepentingan publik adalah persoalan politis.

Kedua, apa yang secara kultural kita namakan sebagai ketakberadaban, dalam konteks bernegara adalah ketiadaan polity/politeia (tata negara). Sebagai warga seseorang bertindak atas dasar konstitusi. Namun itu juga tidak berarti bahwa hukum qua hukum pun sudah memadai. Sebuah tatanan menjadi beradab bukan karena ada hukum, melainkan terutama karena ada pemahaman mengenai keutamaan yang akan membawa kebaikan bersama.

Kebaikan bersama dapat terus dipertahankan apabila dan hanya jika (dengan syarat) telah tumbuh Warga Kota sebagai Masyarakat Politik. Wastu, wastu, wastu

Tafsir Karya Babak 3


Enai Suku Dani


Honai Suku Dani


Bahtera Nuh


Thinking About Nature

Apa yang dapat kita tangkap pada Enai suku Dani dan Honai Suku Dani adalah contoh tentang wastu dimana kepentingan warganya ditujukan untuk kebaikan bersama dalam kultur paguyuban sekaligus susunan kampung yang menyesuaikan dengan karakter atau kontur alam menunjukan terjadi keselarasan antar manusia dan alam. Juga Bahtera Nuh sebenarnya mengisahkan rasa publik dan rasa politik kewargaan yang kemudian membawa kota untuk kepentingan bersama dan keselamatan bersama. Sekaligus posisinya yang mengambang diatas air barangkali sejalan dengan bagaimana suku Dani membangun pemukimannya sesuai dengan kontur alamnya (tanahnya). Ini bukan romantisme sekedar mengambil hikmah, karena meminjam kembali Karlina kota memang bukan dibentuk menurut budaya orang dusun, tetapi juga bukan oleh budaya kapitalis orang kota. Kota dibentuk berdasarkan keadaban kota.

Referensi :

Kota dan Alam, Karlina Supelli
Wastu Metafora Ruang Hidup yang Memanusiakan Manusia, AR Ponco Anggoro
Benny dan Mice di Jakarta, JJ Rizal

baca juga
Menafsir Wastu : Seonggok Binatang Ekonomi atau Manusia Seutuhnya Dari Pameran Keramik Aries BM, Menafsir Wastu 16-23 Juni 2009 Bentara Budaya Jakarta



Bookmark and Share

0 komentar: