Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Selasa, 25 Agustus 2009

Nakedness Reveals a Life….. Representasi Diri, Representasi Ibu Pertiwi (bag 2 dari 2)

Dari Pameran Seni Rupa Laksmi Shitaresmi 4-13 Agustus, Bentara Budaya Jakarta

Juga Presiden Animal Farm : Ya Kerbau, Ya Kambing, Ya Anjing, Ya Babi

KONTeSTASI ANIMAL FARM

PRESIDEN KERBAU, PRESIDEN BABI, PRESIDEN ANJING, PRESIDEN KAMBING


Presiden Kerbau


Presiden Babi


Presiden Kambing


Alamak... Polah Tingkahmu Kini






Balancing Pig


baca juga bagian pertama

(andreas iswinarto)

Seiring dengan kehidupan saya yang dikodratkan sebagai seorang wanita, seiring pula dengan keseharian saya sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya, seorang istri, seorang manusia yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan seorang seniman. Walaupun saya merasakan pahit dan manis, sedih dan bahagia, ringan dan berat bahkan rasa hambar, kosong dan ’ngelangut”....semua itu saya terima dengan lapang dada, sepenuhnya saya sadari, saya jalani dengan hati ikhlas sebagai bagian-bagian cerita yang mengisi rentangan hidup dan kehidupan saya..... DIA sudah punya rencana sendiri terhadap kehidupan saya. (Laksmi Shitaresme - Tentang Karya Seni Rupaku)

Jagad kecil, Jagad besar, Mikrokosmos, Makrokosmos, mungkin bukan itu yang diniatkan oleh Laksmi, tetapi hampir pada setiap karya lukisnya kita temukan bak dongeng masa kecil kita, liliput diantara raksasa yang menjadi tokoh utamanya entah itu diri, ibu pertiwi atau presiden kambing, babi, anjing, kerbau (silahkan pilih). Gatut Kaca dan Dewa Ruci. Anda tentu ingat teka-tekinya bagaimana Gatut Kaca harus memasuki tubuh liliput (semut) dewa ruci melalui lubang telinganya.


Masih Merenungi



Bagi saya dunia liliput entah itu makluk hidup atau benda-benda diantara simbolisasi tubuh raksasa adalah rangkaian pengalaman hidup yang membentuk sang raksasa atau jalan hidupnya, lika-liku pengalaman masa lalu dan sekaligus persoalan-persoalan hari ini mungkin juga masa depan yang menggelayutinya.

Utas tali layangan, benang, tali timba, mempertautkan obyek-obyek atau subyek-subyek, atau bisa jadi tali itu merepresentasi keperkasaan waktu dan ruang, rangkaian peristiwa, kejadian, aktor yang membentuk dunia hari ini. Atau barangkali bila dikaitkan dengan aspek religius barangkali inilah titian rambut di belah tujuh itu.


(dari lukisan ukuran raksasa Kunikmati Rentang Hari-hariku)

Ini barangkali juga merepresentasikan dongengan Freud tentang pengalaman masa bayi, kanak-kanak bahkan saat janin di dalam kandungan yang membentuk kepribadian dewasa kita dengan paradoks alam sadar dan bawah sadarnya. Terus terang saya mengalami karya Laksmi melalui bocah di dalam diri saya, dunia fantasi, permainan, warna-warni. Juga segala kepahitannya. Walaupun sebagian kisah Laksmi adalah kisah pahit sebagai seorang perempuan.


(dari lukisan ukuran raksasa Kunikmati Rentang Hari-hariku)

Seperti dituliskan Enin Supriyanto Laksmi pernah dengan yakin menyatakan lukisan-lukisannya adalah media terapi kejiwaan baginya. Penyembuhan dari luka masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa sebagai perempuan Jawa yang serba pahit dan keras.
Enin mencermati bahkan mengalami perkembangan karya-karya Laksmi sejak dini.

Dalam karya-karya awal disebutkan nuansa adalah murung, muram sekaligus penuh amarah. Seperti pada satu karya lamanya yang dipamerkan tahun 2002, Laksmi menampilkan potret wajahnya dalam 10 lembar kanvas kecil. Bagi Enin seolah ini adalah jeritan lantang : ”Aku perempuan yang sudah habis menakar perih kehidupan, dan aku masih ada, berdiri tegak, menjalani hidupku hingga hari ini.”


Mencermati Diri-Berdiri


Dalam catatan Enin lebih lanjut, pada babakan 2004 bisa diduga Laksmi mulai berdamai dengan kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi melawan hingga menyumpahi, mulai hadir dan tumbuh kerelaan. Rupanya ini seiring pula dengan cakrawala Laksmi yang mulai meluas. Melongok ke luar jendela dan mengalami persoalan sosial-politik bangsanya.


Ibu Pertiwi Series : Segala Sesuatunya Sebaiknya Dipertimbangkan Masak-masak

Pada pemeran selain representasi diri, ia hadir dalam kegeramanan atas jalannya kehidupan sosial dan politik, Dalam seri Ibu Pertiwi ia menghadirkan ibu pertiwi dengan gurat-gurat ketuaan, kerut merut kerentaan tangan...........


Ibu Pertiwi Series : Hendak Kemanakah Kalian Berlayar?


Tapi tangan itu masih tetap kukuh menyandang, menggendong persoalan bangsa ini, entah itu kemiskinan, ketidakadilan.......... di tengah kontestasi ”Animal Farm” yang memuakkan itu.......

Dan tepat disana Laksmi mencipta karya ”Kuingin Mampu Luwes-Linuwes” sekaligus ”Aku pun Ingin Berguna di Pangkuan Ibu Pertiwi”. Dengan tangan dan kakiku.............. luar dalam.......

Referensi :

Booklet Pameran : Nakedness Reveals Life (Bentara Budaya 2008)
Tentang Karya Seni Rupaku (Laksmi Shitaresmi)
Ketelanjangan Menguak Kehidupan (Eddy Soetriyono)
Dimensi Baru Laksmi (Enin Supriyanto)
Laksmi Shitaresmi : Diri, Ibu Pertiwi, dan Representasi (Hardiman)

Booklet Pemeran : Komedi Putar (Bentara Budaya 2009)



Baca juga
Pameran Seni Rupa Rai Gedheg : Kontestasi Animal Farm dalam Politik dan Pemilu 2009
bagian pertama, bagian kedua, bagian ketiga


Bookmark and Share

0 komentar: