Juga Presiden Animal Farm : Ya Kerbau, Ya Kambing, Ya Anjing, Ya Babi
baca juga bagian kedua
(andreas iswinarto)
”Saya tidak bisa pidato, saya hanya bisa momong anak dan melukis……..”
Membuat karya seni bagi saya adalah menumpahkan segenap kejujuran hati apa adanya, sejujur-jujurnya, tanpa rekayasa atau dibuat-buat, bukan mengada-ada, sepenuhnya mengekspresikan hati dan jiwa saya. Tentu saja dengan cara bahasa estetik seni dan simbol-simbol pribadi saya yang senantiasa hadir dan mengalir begitu saja…..
Ide yang terkandung dalam setiap karya lukis dan karya patung saya masih seperti biasanya dan biasa-biasa saja, yakni segala hal, kisah, peristiwa, endapan-endapan memori dan pengalaman pribadi yang saya jumpai dan saya alami baik di masa lalu, kemarin, masa sekarang dan shari-hari, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Termasuk ketidaksengajaan pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar berikut situasi dan kondisinya yang tidak bisa saya pungkiri dan saya hindari sempat mengusik benak dn hati saya, menyentuh jiwa saya.
(Laksmi Shitaresmi dalam booklet pameran)
Perjumpaan pertama saya dengan karya Laksmi Shitaresmi adalah pada pameran Seni Rupa Gasing : Komidi Putar di Bentara Budaya 19-31 Mei 2009 lalu. Pameran ini selain memutar kembali ingatan/sejarah permainan gasing di seantero nusantara, juga mengekspos masalah sosial-politik yakni Pemilu Legislatif 2009.
Kemudian saya memberikan sentuhan dan tafsir yang agak berbeda atau barangkali bisa dikatakan perluasan dari tema tersebut dalam artikel apresiasi saya. Saya mengaitkannya dengan persoalan genting bagi peradaban kita hari ini yakni fenomena pemanasan global (global warming). Artikel itu kemudian menemukan judul Global Warming : Melampaui Sistim Politik dan Ekonomi Yang Usang.
Karya Laksmi Shitaresmi yang disertakan dalam pameran ini adalah Gasing : Hendak Kemana Kalian Berlayar. Saya begitu terkesan dengan karya ini pada pandangan pertama dan karya ini menjadi salah satu karya favorit saya di pameran Seni Rupa Gasing ini. Selain itu tentunya karya Agung Prasetyo (Gasing Global Warming dan lukisan dengan tema yang sama) yang mengantar saya pada tema artikel tersebut. Kedua karya ini paling kuat menggiring saya pada tema tantangan peradaban yang sangat serius ini.
Pada karya Laksmi saya menemukan simbol ikan dan perahu menancap dalam di benak atau ulu hati. Secara khusus selain memotret karya itu secara utuh, karena magnet ikon-ikon di dalam karya itu saya juga memotret detil karya ini. Ikan-ikan dan perahu-perahu. Sedang pada karya Anggar Prasetya saya menemukan bola dunia, dengan menghampar kepulauan atau negeri zamrud khatulistiwa, dan pun perahu kertas berbendera merah putih di samuderanya
Dalam booklet pameran saya menemukan deskripsi konsepsi tema di balik karya ini
Ulah manusia atas eksploitasi alam lingkungan menimbulkan banyak bencana. Bumi tua ini makin padat, panas dan rusak. Bagaimana nasib bumi ini? Mungkin bumi akan berhenti seperti gasing yang berhenti berputar? (pada Anggar Prasetyo)
Gasing : Hendak Kemanakah Kalian Berlayar?
Sekarang ini begitu banyak partai yang saling berlomba-lomba keras-kerasan suara dan lantang-langtangan janji demi mendapat simpati di hati tiap orang dengan menawarkanberbagai mimpi indah dan sekian banyak harapan dengan mengatasnamakan demi kesejahteraan rakyat, kemajuan bangsa, bla,bla, bla. Apakah semua itu bisa dibuktikan nantinya? Mau dibawa kemanakah perahu ibu pertiwi kita? (pada Laksmi Shitaresmi)
Inilah wajah Ibu Bumi! Ibu Pertiwi! kita..........
Tanpa di duga beberapa bulan berselang Laksmi Shitaresmi berpameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta. Hmmm, pucuk dicita ulam tiba, saya punya kesempatan untuk menanyakan ikan-ikan solid-mengkilap dan perahu-perahu Laksmi itu. Sekaligus kemudian saya dapatkan pernyataan polos dan jujurnya, kejengkelannya pada kampanye partai-partai yang menginspirasi karyanya kala itu.
Baru sebulan setelah pameran tunggal ini saya sadar bahwa Anggar dan Laksmi adalah suami istri, hmm saya tidak saja menemukan global warming : melampaui sistim politik dan ekonomi yang usang, tapi juga tautan hati yang dalam).
Tentang ikan Laksmi menjelaskan bahwa ikan yang seluruhnya dilukiskannya di luar habitatnya alias di darat, sebagai simbol keinginan untuk selalu berdialog juga beradaptasi dengan lingkungannya. Walaupun dengan senyum simpul Laksmi segera menambahkan, ”Walau sepertinya tampak tak mungkin ya” (ikan di darat atau udara.cat penulis).
Potret Diri
Harapan Untuk Buah Hatiku
Sedang perahu melambangkan perjalanan ibu pertiwi. Ia kemudian menceritakan kejengkelannya atas kebisingan kampanye pemilu yang setiap hari menggetarkan rumahnya yang berada di tepi jalan raya tempat melintas gerudukan kampanye jalanan para kontestan.
(Bla, bla, bla, menebarkan janji gombal?)
Seolah kedua ikon ini mewakili dua dimensi kehidupan yang berbeda interior dan eksterior, tetapi sebenarnya ini saling bersinggungan, berkelindan. Adaptasi dan dialog dalam konteks ini adalah pergulatan Laksmi sebagai seorang perempuan, yang kemudian menjadi seorang ibu, seorang istri sekaligus ibu dari dua anaknya Anglilasandyakala dan Chalyahayu dengan passion yang dalam sebagai seorang seniman lukis dan patung. Dan pada akhirnya Laksmi sebagai anggota masyarakat warga yang bersinggungan dengan soal sosial-politik negerinya, IBU dan IBU PERTIWI.
Di satu sisi tentang dialog dan adaptasi Laksmi dapat kita temukan dalam karyanya ”Kuingin Mampu Luwes-Linuwes” dan keperdulian pada Ibu Pertiwi dapat ditemukan dalam karya-karya Ibu Pertiwi Series. Salah satunya adalah ”Aku pun Ingin Berguna di Pangkuan Ibu Pertiwi”.
Beginilah Tanganku
Kisah Tentang Kakiku
Kuingin Mampu Luwes-Linuwes
Ibu Pertiwi Series : Aku pun Ingin Berguna di Pangkuan Ibu Pertiwi
Hardiman, seorang kurator, dosen dan penulis senirupa, menyebutnya sebagai pergulatan Laksmi Shitaresmi : Diri, Ibu Pertiwi dan Representasi. Sementara Eddy Soetriyono (kurator lainnyadalam pameran ini) menyebutkan ”dunia Laskmi tetap disini hingga kini : dunia perempuan yang polos telanjang memandang kehidupannya sendiri dan kehidupan yang bersliweran di sekitarnya”. Sedang Enin Supriyanto (kurator lainnya) membidik satu pernyataan seorang pemikir dan aktivis feminis Carol Hanisch hampir empat dasawarsa lalu yang masih terus relevan : yang personal itu (juga) politis, the personal is political.
Inilah benang merah pameran tunggal Laksmi Shitaresmi ”Nakedness Reveals Life”.








0 komentar:
Poskan Komentar