Mereka yang Ingin Meraih Kemandirian
Kompas, Kamis, 13 Agustus 2009
C Wahyu Haryo dan Hariadi Saptono
Minggu (1/2) pukul 05.00 menjadi momentum ”kemerdekaan” bagi Juliana (19).
Gadis asal Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, itu bersama Herlina (18), rekannya sesama tenaga kerja Indonesia (TKI), melarikan diri dari rumah Alusni, majikannya di Bintulu, Sarawak, Malaysia.
Juliana dan Herlina hari itu berhasil lolos dan sampai di Kantor Konsulat Indonesia. Namun, usaha Juliana menuntut upah dari majikannya dengan menunggu tujuh bulan di kantor itu tidak memberi hasil. Sebulan terakhir, berkat bantuan lembaga swadaya masyarakat Lembaga Anak Bangsa (LAB), Juliana diambil dan ditampung di shelter milik LAB di Desa Entikong, beberapa ratus meter dari Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong yang berbatasan dengan Kuching, Sarawak.
Selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/13/02575791/mereka.yang.ingin.meraih.kemandirian.
SANGGAU PERBATASAN
Burung-burung Enggang yang Terpanggang
Kamis, 13 Agustus 2009 | 03:03 WIB
C Wahyu Haryo dan Hariadi Saptono
Perikehidupan dan kondisi kampung halaman Panglima Abio (68) dan Panglima Nayau (82) boleh jadi mirip situasi dua patung ”Sandung” yang kami temukan di pedalaman Kecamatan Melengang. Patung di Dusun Melenggang dan Miru tersebut kepanasan di bawah sengatan matahari.
Jalanan desa hancur total dan memicu pusaran debu saat kendaraan lewat.
”Kita berhenti dulu. Minum dululah, terik sekali,” ujar Nimus Mulyadi, Kepala Desa Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, yang memandu kami ke perbatasan Kalimantan Barat (Kalbar)-Serawak di Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Melenggang, Sanggau, Kalbar.
Permintaan untuk berhenti jadi kebutuhan karena sudah tiga jam terguncang-guncang di jalan dengan semburan debu mengganggu pernapasan.
Mamak Nyiam (62), pemilik warung kelontong yang kami singgahi, ternyata adik kandung Panglima Nayau yang kami cari.
Panglima Nayau dan Panglima Abio adalah dua dari lima panglima perang Dayak yang pernah berjasa kepada Republik Indonesia (RI) pada kurun 1965-1972, saat berkonfrontasi dengan Malaysia dan saat Indonesia menghadapi Parako (Partai Komunis China di perbatasan Serawak). Nayau bertugas di front sekitar Balai Karangan, sedangkan Abio bertugas di sekitar Entikong sampai Suruh Tembawang.
Selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/13/03035389/burung-burung..enggang.yang.terpanggang
Baca seluruh artikel terkait
NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa
Laporan Khusus Kompas : Nasionalisme di Tapal Batas
Menerawang Aceh dari Sawang; Siberut Si Cantik yang Terabaikan; Kepulauan Riau : Tak Indonesia Hilang di Hati; Perca di Kalimantan Barat; Keseriusan Masalah di Kalimantan Timur; Perbatasan Miangas dan Marore; Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik; Perbatasan NTT-Timor Leste; Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Dua Stigma tentang Papua.
FOKUS KOMPAS : KEINDONESIAN
Masih Indonesiakah Mereka? ;WILAYAH PERBATASAN Melihat Indonesia yang (Kian) Asing; REALITAS PERBATASAN Indonesia yang Jauh; MASYARAKAT KEPULAUAN. Mereka Makin Teralienasi; PERBATASAN Perlu Pemahaman Transnasional; Di Bawah Dua Bangsa Penjajah
FOKUS KOMPAS (2) : NASIONALISME DI TAPAL BATAS
Nasionalisme "Paripurna" di Tapal Batas, BERSAMA INDONESIA Lampu Kuning dari Ujung Nusantara, KUMPARAN FATAMORGANA Transformasi Sosial Tak Berarah, PERBATASAN NTT-TIMOR LESTE Daftar Masalah di Tapal Batas, KEHADIRAN NEGARA Miangas nun Jauh di Mata
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








1 komentar:
Just to complete Your interesting report, I invite You to see in my site a great collection of views of borders (Perbatasan negara).
http://www.pillandia.blogspot.com
Helping text in Bahasa Indonesia too.
Best wishes from Italy!
Poskan Komentar