Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Minggu, 16 Agustus 2009

Nasionalisme di Tapal Batas (7) : Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik

NASIONALISME DI TAPAL BATAS

Warga Kepulauan yang Dibiarkan Berjalan Sendiri

Minggu, 16 Agustus 2009 | 04:06 WIB

Iwan Santosa dan Agung Setyahadi

Ratusan warga Daruba, kota teramai di Pulau Morotai, berjejal memadati jembatan sandar Pelabuhan HMS Lastory. Mereka menanti kedatangan kapal penumpang dari Tobelo yang sudah berada di depan mata. Saat kapal sandar, para buruh angkut dan ojek berebutan naik ke kapal menjajakan jasa.

Mirod Bane (34) dengan sigap melompat ke atas dek Kapal Motor Galang Samudra. Pria tinggi kurus itu lincah menembus kerumunan orang di atas dek sambil menawarkan jasa ojek. Jika memperoleh penumpang yang minta diantar ke Berebere, sekitar 90 kilometer arah utara Daruba, ia bakal mengantongi minimal Rp 250.000.

Kedatangan kapal selalu menggairahkan masyarakat Pulau Morotai di Kabupaten Morotai, Provinsi Maluku Utara, yang berbatasan laut dengan Republik Palau. Kapal pelayaran rakyat selalu membawa rezeki bagi buruh angkut, ojek, dan pelaku ekonomi mikro lainnya.

Transportasi laut yang dibangun oleh masyarakat inilah yang selama ini menghubungkan Morotai di bibir Samudra Pasifik dengan pusat perekonomian di Maluku Utara, seperti Tobelo dan Ternate, serta Bitung di Sulawesi Utara. Lalu lintas barang dan penumpang serta geliat perekonomian sangat bergantung pada pelayaran rakyat.

Selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/04065362/warga.kepulauan.yang.dibiarkan.berjalan.sendiri


AS Membangun Jalan, RI Kasih Aspal Saja...

Minggu, 16 Agustus 2009 | 03:44 WIB

Jalan berlapis koral peninggalan Korps Zeni Angkatan Laut Amerika Serikat (Seabees) masih kukuh dan menjadi tumpuan utama transportasi di Pulau Morotai. Sejak dibangun saat Perang Dunia II, jalan warisan Jenderal Douglas Mac Arthur itu baru sekali diguyur aspal oleh Pemerintah Indonesia.

Seluruh jalan di sini yang membangun tentara Amerika. Orang Jakarta hanya sekali kasih aspal, itu pun sepanggal (sepotong) saja dan sekarang sudah rusak,” kata Yahya Baba (51), warga Desa Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Morotai, Provinsi Maluku Utara, 3 Agustus lalu.

Jalanan berlapis aspal tipis itu sudah berlubang di sana-sini menyingkap tatanan koral di bawahnya. Jika ada mobil atau motor yang melaju, debu putih mengepul memerihkan mata dan menyesakkan napas. Kendaraan pun sering harus zig-zag menghindari lubang-lubang menganga.

Kondisi lebih parah saat menyusuri jalan Daruba-Berebere di Morotai Utara sepanjang 90 kilometer. Jalan beraspal hanya sampai di Daeyo, sekitar 20 kilometer dari Daruba. Seterusnya jalan tanah dan perkerasan koral.

Di sepanjang perjalanan terungkap wajah kemiskinan Morotai. Ibu-ibu berjalan beriringan menggendong saloi, keranjang bambu berbentuk kerucut, berisi kayu bakar. Di atasnya ada dua-tiga sisir pisang atau ubi kayu untuk makan keluarga.

”Seperti inilah Morotai tidak banyak berubah sejak Indonesia merdeka, tetap miskin. Kami sering berpikir, kenapa dulu tidak ikut Amerika saja,” ujar Mirod Bane (34), warga Morotai.

Selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03444043/as.membangun.jalan.ri.kasih.aspal.saja...


Baca seluruh artikel terkait

NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa


Laporan Khusus Kompas : Nasionalisme di Tapal Batas
Menerawang Aceh dari Sawang; Siberut Si Cantik yang Terabaikan; Kepulauan Riau : Tak Indonesia Hilang di Hati; Perca di Kalimantan Barat; Keseriusan Masalah di Kalimantan Timur; Perbatasan Miangas dan Marore; Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik; Perbatasan NTT-Timor Leste; Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Dua Stigma tentang Papua.

FOKUS KOMPAS : KEINDONESIAN
Masih Indonesiakah Mereka? ;WILAYAH PERBATASAN Melihat Indonesia yang (Kian) Asing; REALITAS PERBATASAN Indonesia yang Jauh; MASYARAKAT KEPULAUAN. Mereka Makin Teralienasi; PERBATASAN Perlu Pemahaman Transnasional; Di Bawah Dua Bangsa Penjajah

FOKUS KOMPAS (2) : NASIONALISME DI TAPAL BATAS
Nasionalisme "Paripurna" di Tapal Batas, BERSAMA INDONESIA Lampu Kuning dari Ujung Nusantara, KUMPARAN FATAMORGANA Transformasi Sosial Tak Berarah, PERBATASAN NTT-TIMOR LESTE Daftar Masalah di Tapal Batas, KEHADIRAN NEGARA Miangas nun Jauh di Mata

Bookmark and Share

0 komentar: