Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Selasa, 18 Agustus 2009

Nasionalisme di Tapal Batas (8) : Perbatasan NTT-Timor Leste

Mereka Memilih Bertemu di Tapal Batas

Kompas, Selasa, 18 Agustus 2009

Kornelis Kewa Ama dan Fandri Yuniarti

Minggu (2/8) pagi, pagar besi jembatan di gerbang masuk Motaain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur—dari Timor Leste—diduduki sejumlah orang.

Ada porter, penjual jasa angkut barang, sampai warga Timor Leste maupun warga Indonesia, khususnya warga eks Timor Timur, yang menanti kedatangan rekan atau keluarga mereka.

”Saya sudah sembilan tahun lebih tidak bertemu keluarga, sejak Timor Timur berpisah dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) 1999. Dari sepuluh bersaudara (lima di antaranya masih hidup), hanya saya sendiri yang menjadi WNI,” kata Dacosta (53)—sebut saja demikian karena yang bersangkutan tidak bersedia menyebutkan namanya—dengan mata yang terus diarahkan ke kawasan Timor Leste.

Pukul 08.30 itu Dacosta, yang masih aktif di TNI, ditemani iparnya, Gaudens (bukan nama sebenarnya), asal Larantuka, NTT, serta seorang anak laki-laki 16 tahun bernama Ramon Amaral.

Ramon bercerita, pertengahan Agustus 1999, Dacosta berkunjung ke Dili, Timor Leste. Ketika akan kembali ke NTT, Dacosta mengajaknya. ”Saya pun ikut. Tapi, tak lama kemudian (akhir Agustus 1999) Timor Timur merdeka (lepas dari NKRI). Jadi, sejak saat itu saya tak pernah lagi bertemu ibu-bapak serta empat saudara saya,” kata anak lelaki yang kini belajar di salah satu sekolah menengah kejuruan di Atambua, ibu kota Belu, itu datar.

selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/18/03273910/mereka.memilih.bertemu.di.tapal.batas


PERBATASAN RI-TIMOR LESTE

Hidup Kami Ini Keras, Mama...

Kompas, Selasa, 18 Agustus 2009

Kornelis Kewa Ama dan Fandri Yuniarti

Anak-anak sekolah dasar berseragam pramuka terlihat ceria dalam perjalanan pulang dari sekolah, Sabtu, 1 Agustus 2009. Pagi itu, mereka mengobrol, bersenda gurau, dan tertawa lepas di jalan aspal yang di sana-sini sudah terkelupas dan penuh lubang. Saat kamera dijepretkan ke arah mereka, mereka lari pontang-panting, berbalik arah. Air yang diusung beberapa anak di antaranya bahkan tumpah.

Adik, tak usah takut. Selamat... selamat...,” bujuk Kompas melalui kaca jendela mobil yang dibuka.

Anak-anak itu pun akhirnya menghentikan langkah. ”Selamat pagi, Bapak...,” kata mereka.

Anak usia sekolah yang menjinjing jeriken ukuran 5 liter berisi air bersih merupakan pemandangan umum di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT)-Timor Leste.

Oleh karena itu, iklan layanan masyarakat di televisi, ”Sekarang sumber air su dekat, beta tak perlu ambil air lagi”, bisa dibilang tak sesuai kenyataan. Setidaknya, di empat kawasan perbatasan Haumeniana dan Wini (di Kabupaten Timor Tengah Utara), Motaain, serta Turiskain (di Kabupaten Belu).

Di daerah Turiskain dan sekitarnya, pada musim kemarau seperti sekarang, beberapa sungai memang masih mengalirkan air cukup banyak. Tapi, sebagian besar masyarakat tetap saja harus mengambil air ke sumber air yang jauh. ”September sampai Desember, kami harus jalan ke mata air jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah. Air di sini (sekitar rumah mereka) sudah tipis. Sekarang saja kami harus antre tiga jam untuk mengisi 10 jeriken yang kami bawa,” kata beberapa warga Asumanu, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, yang sedang mengantre air. Desa itu letaknya sekitar 1 kilometer dari Turiskain.

selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/18/03413931/hidup.kami.ini.keras.mama...

Baca seluruh artikel terkait

NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa


Laporan Khusus Kompas : Nasionalisme di Tapal Batas
Menerawang Aceh dari Sawang; Siberut Si Cantik yang Terabaikan; Kepulauan Riau : Tak Indonesia Hilang di Hati; Perca di Kalimantan Barat; Keseriusan Masalah di Kalimantan Timur; Perbatasan Miangas dan Marore; Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik; Perbatasan NTT-Timor Leste; Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Dua Stigma tentang Papua.

FOKUS KOMPAS : KEINDONESIAN
Masih Indonesiakah Mereka? ;WILAYAH PERBATASAN Melihat Indonesia yang (Kian) Asing; REALITAS PERBATASAN Indonesia yang Jauh; MASYARAKAT KEPULAUAN. Mereka Makin Teralienasi; PERBATASAN Perlu Pemahaman Transnasional; Di Bawah Dua Bangsa Penjajah

FOKUS KOMPAS (2) : NASIONALISME DI TAPAL BATAS
Nasionalisme "Paripurna" di Tapal Batas, BERSAMA INDONESIA Lampu Kuning dari Ujung Nusantara, KUMPARAN FATAMORGANA Transformasi Sosial Tak Berarah, PERBATASAN NTT-TIMOR LESTE Daftar Masalah di Tapal Batas, KEHADIRAN NEGARA Miangas nun Jauh di Mata

Bookmark and Share

0 komentar: