Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Selasa, 11 Agustus 2009

Nasionalisme di Tapal Batas (1) : Menerawang Aceh Dari Sawang (1)

KEINDONESIAAN DI ACEH : Menerawang Aceh dari Sawang

Tidak mudah memasuki Sawang, Aceh Utara. Kecamatan yang berada sekitar 30 kilometer sebelah tenggara Kota Lhokseumawe tersebut memiliki banyak pintu masuk. Dari tepi jalan raya yang menghubungkan Kota Lhokseumawe-Kabupaten Bireuen setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari 30 menit.


oleh : Muhammad dan Sidik Pramono

Kompas, 10 Agustus 2009

Jalan berdebu menjadi pemandangan yang mewarnai sepanjang perjalanan menuju ke pedalaman Sawang. Lapisan jalan yang hanya terdiri dari pasir dan batu membuat debu beterbangan ketika kendaraan melintas akibat rencana pengaspalan yang tak kunjung tuntas.

Musawwir (29), warga Lamdingin, Banda Aceh, tidak pernah membayangkan bisa memasuki wilayah Sawang. Menyebut Sawang berarti menunjuk wilayah paling hitam dalam sejarah konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia lebih dari 30 tahun.

Pada masa lalu, Sawang dikenal sebagai basis pejuang GAM. Sebagian orang mengenalnya sebagai ”Pentagon GAM”. Saat konflik memuncak, seiring dengan operasi pemantapan penyelenggaraan pemerintahan, Sawang lumpuh. Sebagai daerah berkategori hitam, Sawang mesti dipimpin oleh camat dari kalangan militer—sekalipun tetap saja pemerintahan tidak bisa berjalan efektif.

Stigma itu masih melekat hingga kini meski konflik bersenjata sudah berakhir hampir empat tahun lalu, sejalan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) Damai Helsinki, Agustus 2005. Pendatang baru yang memasuki Sawang butuh ”izin khusus” dari berbagai pihak yang kenal kondisi wilayah itu.

selengkapnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/10/0307512/menerawang.aceh.dari.sawang


Menguji "Kreativitas" di Aceh

Kompas 10 Agustus 2009

oleh : Mahdi Muhammad dan Sidik Pramono

Ketua Badan Pengembangan Perkebunan Aceh (BPPA) Rustam Effendi pusing. Dana hibah Rp 1 triliun dari salah satu lembaga swasta dari Malaysia, untuk pengembangan kelapa sawit di Aceh, tidak kunjung cair. Nota kesepahaman yang akan dibuat antara pemerintah Aceh dan lembaga asal Malaysia itu tidak bisa ditandatangani hingga saat ini.

Alhasil, lembaga ini belum bisa melaksanakan program kerjanya untuk membangun perkebunan, terutama kelapa sawit. Padahal, rencananya, lembaga itu akan mengelola 150.000 hektar kebun sawit yang akan dibagikan kepada ribuan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka.

Setali tiga uang yang dialami Iwan Gayo, mantan motor pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara yang kini Ketua Komite Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Aceh (KP2DTA). Dana operasional lembaga yang dibentuk dengan peraturan gubernur ini nol. Juga tak punya kewenangan untuk mengajukan program kerja. Kerja pertamanya mendata kembali daerah-daerah yang tertinggal dan keluarga berkategori miskin.

Menurut Iwan Gayo, pendataan ulang penting karena selama ini data demografi masyarakat dari lembaga lain, seperti Badan Pusat Statistik Aceh atau Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NAD, sulit dipercaya.

Namun, tiga tahun setelah masyarakat Aceh memiliki pemerintahan sendiri, dipilih langsung pada pemilihan kepala daerah tahun 2006, kerja lembaga-lembaga itu tak terdengar.

Selanjutnya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/10/03004858/menguji.kreativitas.di.aceh


Baca seluruh artikel terkait

NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa


Laporan Khusus Kompas : Nasionalisme di Tapal Batas
Menerawang Aceh dari Sawang; Siberut Si Cantik yang Terabaikan; Kepulauan Riau : Tak Indonesia Hilang di Hati; Perca di Kalimantan Barat; Keseriusan Masalah di Kalimantan Timur; Perbatasan Miangas dan Marore; Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik; Perbatasan NTT-Timor Leste; Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan, Dua Stigma tentang Papua.

FOKUS KOMPAS : KEINDONESIAN
Masih Indonesiakah Mereka? ;WILAYAH PERBATASAN Melihat Indonesia yang (Kian) Asing; REALITAS PERBATASAN Indonesia yang Jauh; MASYARAKAT KEPULAUAN. Mereka Makin Teralienasi; PERBATASAN Perlu Pemahaman Transnasional; Di Bawah Dua Bangsa Penjajah

FOKUS KOMPAS (2) : NASIONALISME DI TAPAL BATAS
Nasionalisme "Paripurna" di Tapal Batas, BERSAMA INDONESIA Lampu Kuning dari Ujung Nusantara, KUMPARAN FATAMORGANA Transformasi Sosial Tak Berarah, PERBATASAN NTT-TIMOR LESTE Daftar Masalah di Tapal Batas, KEHADIRAN NEGARA Miangas nun Jauh di Mata

Bookmark and Share

0 komentar: