Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Kamis, 03 September 2009

Chun Tae-il : Bapak Serikat Buruh Demokratis Korea, Hidup dan Matinya

”A Single Spark” , Riwayat Hidup Pahlawan Buruh Korea Chun Tae-il

Beberapa waktu lalu saya sempat memposting tulisan Aksi-aksi Bunuh Diri dan Militansi Petani Korea. Diantaranya tentang aksi bunuh diri seorang petani Korea Selatan bernama Lee Kyung Hae dalam gelombang demo di Sidang WTO di Cancun tahun 2003. Sesaat sebelum kematiannya dia meneriakkan (ia juga mengalungkan poster) “WTO Membunuh Petani!”. Saya belum berhasil menemukan akar-akar budaya kenapa dari bumi Korea Selatan ini, berulangkali muncul aksi bunuh diri dalam protes-protes rakyat terhadap kebusukan peradaban hari ini.

Namun demikian saya temukan catatan harian dari Chun Tae-il, seorang buruh berusia 22 tahun yang melakukan aksi membakar diri dalam memperjuangkan nasib buruh dalam sistim industrial yang membinatangkan manusia. Tarikhnya 13 Nopember 1970, memang ia tidak langsung meninggal di tempat aksi tapi di RS.







Dimana akhirnya ia sempat bertemu ibu dan sahabat-sahabat terdekatnya. Dari catatan hariannya itu sedikit banyak kita dapat memahami pilihannya untuk melakukan aksi membakar diri.

Pertama tentunya kita harus pahami konteksnya, bahwa periode ini adalah periode ketika momok komunisme begitu menakutkan bagi warga Korea Selatan, sehingga stigmatisasi komunis terhadap kritik, protes dan serikat-serikat rakyat membuat banyak kalangan memilih untuk bungkam. Kalaupun ada kritik atau aksi-aksi protes mereka segera akan dilindas dan ditumpas oleh penguasa.

Sehingga memang menjadi tugas yang teramat berat bagi Chun Tae-il ketika ia mencoba mengajak dan mendidik rekannya sesama buruh untuk sadar dan mau memperjuangkan nasibnya. Dalam biografi diceritakan tentang jatuh bangunnya serikat kerja yang dibangun oleh Chun dan kawan-kawan, demikian jatuh bangunnya atau pergulatan batin yang keras yang dialami Chun untuk tetap setia pada pilihan terus berjuang untuk perbaikan nasib buruh.

Dalam puncak keputusasaannya Chun kemudian memutuskan untuk berhenti dan mengasingkan diri di pegunungan Samgak. Hingga setelah hampir 4 bulan disana ia mengambilkan keputusan tegas untuk kembali ke medan perjuangan sekaligus memutuskan untuk mati demi perjuangan itu. Berikut adalah catatan harian Chun tentang keputusan terbesar dalam hidupnya itu sekitar 3 bulan sebelum aksi membakar diri...

Tekad : Aku Harus Kembali

Sudah lama aku merasa bimbang dan pedih
kali ini aku mengambil keputusan yang mutlak
Aku harus kembali, mendampingi saudara-saudaraku yang miskin,
ke tempat jiwa berlabuh, jiwa-jiwa muda di Pasar Damai
Untuk membaktikan segenap jiwa ragaku
Janji yang ku ucapkan selama berjam-jam dalam perenungan :
Aku harus melindungi jiwa-jiwa yang rapuh itu.
Aku akan mengorbankan diriku, aku akan mati untuk kalian.
Bersabarlah, tunggu sebentar lagi.
Aku akan mengorbankan diriku, tapi bukan meninggalkan kalian
Kalian adalah rumah bagi jiwaku.
Hari ini hari Sabtu. Sabtu yang kedua bulan Agustus.
Hari di mana aku mengambil keputusan.
Tuhan, kasihanilah aku.
Aku sedang berjuang untuk menjadi embun bagi jiwa-jiwa yang hina-dina
tanpa dosa, yang terbilang banyak.







Pada 13 Nopember kemudian Chun membakar diri dalam aksi demo yang direpresi dengan keras oleh aparat keamanan, bahkan sebelum aksi itu berlangsung.... Ditengah medan perang 500 buruh dari Pasar Damai dan aparat keamanan (represi), ia maju ke depan menyiram dirinya dengan bensin dan membakar diri dengan memegang kitab UU Perburuhan. Dari dalam kobaran api ia terus menerus meneriakkan dengan lantang
KAMI BUKAN MESIN! LAKSANAKAN UU PERBURUHAN!

Cho-Yong Rae menulis ”semua akan melihat kemarahan yang tak terbendung dan cinta kasih yang membara dari seorang yang lemah yang bisa menghancurkan setiap benteng perbudakan”.

Kematian Chun itu kemudian segera menggerakkan gelombang protes mahasiswa di kampus-kampus, para buruh hingga kalangan lembaga keagamaan. Memang gelombang protes kemudian sekali lagi dilindas dengan kejam, tapi bara api tetap menyala dan menunggu momentumnya.

Protes dan pengorbanan Chun Tae-il pada akhirnya diakui luas telah mendorong rakyat Korea secara langsung kearah perwujudan sistim perburuhan yang lebih adil dan bahkan mendorong proses demokratisasi pada umumnya di negeri ginseng ini. Chun Tae il kemudian dikenang sebagai bapak serikat buruh demokratis di Korea.

Pesan terakhir Chun kepada sahabat-sahabat menjelang kematiannya adalah ”Jangan Biarkan Kematianku Ini Sia-sia”. Dan ”Doronglah batu itu ke tempat tujuannya, karena aku belum selesai mendorongnya di dunia ini” seperti ia tulis dalam surat wasiat terakhirnya. Wasiat telah ditunaikan dan akan terus ditunaikan oleh para buruh dimana jiwa Chun hendak berlabuh.

Pesan ini adalah pesan untuk kita semua, yang meyakini pembebasan itu akan mewujud.............”Kami bukan mesin!”.






Mook Ik-whan Presiden Chun Tae-il Trust dengan sangat indah menuliskan

Cerita seorang buruh muda Chu Tae-il telah mencucurkan air mata 60 juta rakyat Korea. Air mata itu membentuk sebuah anak sungai yang mengalir sepanjang sejarah kita, sebuah sungai yang menghanyutkan dinding kematian.

Sebagai sebuah anak sungai terus mengalir di bawah tanah

(h. 23 dalam pengantar buku bertajuk Derita, Kebenaran, Kasih)

Hormat saya sedalam-dalamnya...................

NB
Catatan harian ini kini bisa diakses oleh publik atas jerih payah Cho Young-rae yang telah menerbitkan biografi Chun Tae-il. Dalam edisi Inggrisnya buku ini pertama kali terbit tahun 1983 dengan judul A Single Spark : Biografy of Chun Tae-il. Buku ini juga sudah diterbitkan edisi Indonesia bulan Januari 2008 yang diterbitkan oleh PMK HKBP – Jakarta yang bekerjasama dengan Korea Democracy Foundation.


Bookmark and Share

0 komentar: