Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Jumat, 04 September 2009

Karya Rupa Fotografi "Scenting" : Kesadaran dan Ketidaksadaran Yang Saling Berkelindan.

Menemui Karya Rupa Fotografi Ivana Stojakovic ”Scenting” di Bentara Budaya (19-25 Agustus 2009). Saya Merasa Ngeri dan Terasing!

(andreas iswinarto)

Funfair (Karya Satu)



Sekilas pandang melalui karya Ivana “Funfair” ini saya hendak ingkar dan ngotot bahwa ini adalah keriuhan, kemeriahan komedi putar kampung, yang acap kali berkelana dari satu daerah ke daerah lain, sepanjang tersedia tanah lapang luas, atau tanah kosong dimana pengelana bisnis hiburan rakyat ini kemudian menegakkan tiang-tiang dan menancapkan pasak di kedalaman tanah.

Karena setepatnya ini mestinya mengingatkan pada Dunia Fantasi di Taman Impian Jaya Ancol, bahkan Disneyland.

Yang paling mencemaskan adalah bila kita cermati lebih teliti karya-karya ini ternyata absen menghadirkan manusia dan semata kemeriahan dunia benda-benda. Saya kemudian menemukan rasa asing, sepi, aneh dan pada akhirnya rasa ngeri.





Mengingat juga cekaman dominasi gelap di ruang pamer Bentara Budaya, dimana semata diarahkan pada 3 serial karya rupa fotografi yang dipamerkan peripa dari Serbia ini. Mengingat pula permainan-permainan disana, balon-balon hingga pernak-pernik aneka ragam dan warna, adalah komoditi yang diimpor dari bumi sana, bukan permainan dan mainan anak-anak kampung dari bumi sini. Dari bumi sana rasanya instrumen atau benda-benda menjadi dominan, seolah lebih pokok dari subyek manusianya. Manusia dimainkan oleh instumen atau mainan komedi putarnya.






Paradoks lain saya temukan juga dalam 2 panel karya rupa fotografi Funfair, dimana saya temukan ikon-ikon duniawi (profan) sekaligus ikon-ikon yang surgawi pada panel-panel ”lukisan” kaca yang seringkali menjadi bagian interior-eksterior bangunan gereja.

Apakah ini mencitrakan kisah-kisah dari kitab suci tentang Isa yang sangat bahagia diantara anak-anak, atau kisah tentang anak-anak yang lebih dekat dengan pintu surga.

Sekali lagi gugatannya permainan, mainan dan bermain tidak identik benar dengan anak-anak, sedang soal lainnya adalah manusia ternyata absen dari Dunia Fantasi Ivana ini.

Self Portrait (Karya Dua)

Narsisme, Pesona Seksualitas Ivana, Hidup Sekaligus Kematian yang Begitu Dekat



Diri, dan diriku, kesadaran juga ketidaksadaran, terjaga terlelap, gairah dan vitalitas sekaligus kerentanan tubuh dan tak berartinya usia di tengah lintasan sejarah alam semesta.



Keteduhan mata itu, wajah yang cantik itu seperti denyut lembut sebuah hati juga wajah yang penuh luka, juga ketuaan pada rambut yang memutih dan semakin jarang.







Self Portrait juga mengingatkan saya tentang dongengan Sigmund Freud tentang alam sadar dan tak sadar, ego-superego dan semua yang dipernakannya sublimasi, fantasi, penyangkalan diri, kegelisahan , rasa bersalah, mencinta diri sendiri, penyangkalan, agresifitas, neurotik.......................................

Cage (Karya Tiga)


Dan pada akhirnya kita diundang untuk terus menemukan pembebasan diri dari berlapis-lapis belenggu dan penjara di dalam diri dan berlapis belenggu dan penjara di dalam masyarakat…………








Halaaah, bicara apa aku ini.......................................... juga yang berikut ini membuat saya bingung.

Mohon maaf. Resapi saja foto dokumentasinya , lupakan narasinya.

Karya-karya Ivana adalah hasil dari transkripsi tersusun, hadir dari konstruksi-konstruksi verbal dan nonverbal, mimpi dan keterjagaan, ada dan tiada lalu tereduksi menjadi visual-visual yang bisa ditangkap oleh mata dan jiwa, karena penampakkannya juga membutuhkan inflasi visual dalam wacana (fotografi) kontemporer yang kental akan eksperimentasi budaya yang mendua.

Cahyadi Dewanto, pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung pada booklet Scenting : Experimental Conceptual Photography Ivana Stokalovic.


Bookmark and Share

4 komentar:

Riyanto B. Suwito mengatakan...

Blog yang indah dan hebat..!? salam kenal..

dwiagustriani mengatakan...

jika jeli, kau kan melihatnya. sebuah diksi indah menautkan dua blog.salam kenal mas.

Iftirar mengatakan...

bagus! sangat menarik! :D

agoez mengatakan...

Indah Banget