......sejak pemaknaan ruang bersama digeser dari bingkai nilai kultural dan fungsi temu bersama merayakan kebersamaan menjadi hanya berbingkai lapangan tempat panggung pameran dagang dengan kepentingan ekonomis dan nilai ekonomis industri menggusurnya menjadi pasar dagang jual beli.
Apakah itu fenomena modernitas, dalam arti, rasionalitas (pola pikir kalkulasi untung-rugi) dalam ekonomi modern mengganti bahkan menggusur ekonomi tradisional yang tukar-menukar kebutuhan hidup lewat bahan-ba-han tanaman, buah yang disaling-tukarkan untuk kehidupan hari demi hari, sebelum uang dengan nilai tukarnya menggantikan ini semua?
Bila itu gejala modernitas, maka akibat-akibat apa yang mengenai peri-laku orang-orang dalam menghayati ruang bersamanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini melanjutkan refleksi kedua dari paparan ini, yaitu soal penghayatan ruang bersama yang bergeser dari makna kultural menjadi ekonomis, serta apa yang berebut dan siapa yang memperebutkan ruang bersama itu: kekuatan-kekuatan manakah hingga orang-orang pemilik awal yang semula aktif kini menjadi penonton pasif?
Atau lebih tandas lagi, kini penonton-penonton ini sudah dijadikan objek konsumsi atau sekedar konsumen oleh dominasinya penguasaan ruang bersama di tangan pemodal?
Dalam buku-buku karya Jürgen Habermas seperti The Structural Trans-formation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois So-ciety (1989), lalu Knowledge and Human Interest (1988), dan The Theory of Communicative Action (1987), kita terbantu untuk mengkonsep-teorikan fe-nomena persoalan ruang bersama dalam benturan antara dunia nilai-nilai dan kepentingan, lalu ruang bersama manakah yang secara modern (bila proyek modernitas mau dikritisi agar dehumanisnya dan instrumentalis-nya yang berciri memperalat dan mengobjekkan) bisa dikurangi.
dipetik dari paper Muji Sutrisno "Kota dan Budaya : Ruang Publik, Titik Temunya?" disampaikan di Goethe Haus, sebagai bagian dari Rangkaian Studium Generale "Philosophy in the City", kerjasama Goethe-Institut Jakarta dan STF Driyarkara Jakarta, Jakarta, 16 April 2009.
selengkapnya
seri lengkap
Kota dan Budaya, Kota dan Kata, Kota dan Alam, Kota dan Harta
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar