Mereka yang tiba di Thekla hanya dapat melihat sebagian kecil kota itu, di balik pagar-pagar papan, layar-layar goni, perancah-perancah, perkakas metal, titian kayu bergantungan di tali atau ditopang dengan kuda-kuda, tangga-tangga, rangka-rangka papan. Jika kau bertanya, “Mengapa pembangunan Thekla memakan waktu demikian lama?,” para penduduk, sambil melanjutkan menaikkan kantung-kantung, merendahkan dawai-dawai, menggerakkan sikat panjang ke atas dan ke bawah, menjawab, “ Agar penghancurannya tidak dapat dimulai.” Dan jika ditanya apakah mereka mencemaskan bila sekali waktu perancah-perancah itu dipindahkan, sehingga kota itu akan jatuh berserpihan dan pecah menjadi potongan-potongan, mereka cepat-cepat menjawab dalam bisikan, “Tak hanya kota ini.”.
Jika tak puas dengan jawaban-jawaban itu, seseorang mengintip di antara celah pagar, melihat mobil derek menarik mobil derek lainnya, perancah-perancah lainnya, balok-balok yang memagut perancah-perancah lainnya, balok-balok yang menyangga balok-balok lainnya. “Makna apakah yang ada di balik konstruksi yang kau mimilki ini?,” ia bertanya. “Apa tujuan membangun sebuah kota bila nantinya ia tidak menjadi sebuah kota? Apa rencana yang kau gariskan, dimanakah cetak birunya?”
(Kota-kota Imajiner, Italo Calvino, Fresh Book 2006, hal 42)
Untuk karya rupa foto silah klik
Magic Fly Paula's Photostream - Invisible Cities
silah baca
Pengantar Meditasi Kota-kota Imajiner
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar