Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Senin, 21 September 2009

Memahami Kota Sebagai Suatu Sistem Ekologis

Di manakah tempatku? Di dalam kosmoskah? Ironisnya, untuk menjawab pertanyaan itu, manusia melepaskan diri dari alam sehingga ia tidak bisa lagi mengatakan, ‘Aku adalah bagian dari dunia dan dikelilingi olehnya’ (Max Scheler, 1928: 88-89).

Kota menjadi gambaran kontras antara kebudayaan dan alam. Di satu sisi, kota seolah-olah menjadi cermin bagi keharusan (imperatif) kebudayaan atas alam yang liar dan tidak terkontrol. Di lain sisi, kota dan peradaban urban dipandang sebagai penghancuran atas segala sesuatu yang alami yang pada dirinya dinilai tidak lebih rendah daripada peradaban. Faktanya, kota-kota tumbuh menjadi kawasan ambigu keberadaban sekaligus ketidakberadaban. Tulisan ini secara ringkas menelusuri akar pemikiran yang mendua ini sekaligus menunjukkan tantangan yang tidak mudah dijawab: bagaimana memahami kota sebagai suatu sistem ekologis. Bagaimana memahami kota bukan saja bagian dari lingkungan, tetapi terkendala oleh lingkungan, pembentuk sekaligus penampung proses-proses lingkungan.

Tidak ada kota yang tidak berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa fisik alami, sebagaimana juga tidak ada peristiwa-peristiwa alam di kota yang tidak terlebih dulu melewati penyaringan rumit kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi dan politik. Mungkin tepat apa yang dikatakan Simmel (dalam Frisby, 1984, 131) bahwa kota bukan suatu entitas meruang (spatial) dengan konsekuensi sosiologis, namun entitas sosiologis yang meruang.


dipetik dari paper Karlina Supelli "Kota dan Alam" disampaikan di Goethe Haus, sebagai bagian dari Rangkaian Studium Generale "Philosophy in the City", kerjasama Goethe-Institut Jakarta dan STF Driyarkara Jakarta, Jakarta, 20 Agustus 2009.

selengkapnya


seri lengkap
Kota dan Budaya, Kota dan Kata, Kota dan Alam, Kota dan Harta


Bookmark and Share

0 komentar: