Sejak zaman Gutenberg (penemu mesin cetak), buku, surat kabar, majalah, radio, televisi, hingga saat ini dengan meluasnya jaringan internet, media-media tersebut selalu dikendalikan oleh pemilik modal. Seperti yang diungkap oleh Benedict Anderson, bahwa kapitalisme percetakan sudah pasti ada. Artinya, penguasaan media atas kepentingan komoditi hasil produksi atau atas kepentingan kekuasaan pada masa-masa kerajaan telah diciptakan demi kelangsungan kekuasaan. Kepentingan-kepentingan tersebut, khusus dalam konteks kekinian yang telah dikuasai oleh pemilik modal tanpa kontrol dari negera, telah terjadi distorsi esensi. Pesan-pesan yang seharusnya merupakan fakta sosial telah mengalami perubahan akibat orientasi dalam marketing-media. Pemilik modal, baik penguasaan media ataupun relasi media terhadap perusahaan merupakan titik pondasi keberlangsungan atas kehidupan media tersebut.
Contoh yang nyata, beberapa kali ditemukan penggunaan bahasa “Miskin itu seksi” dalam media masa. Bahasa merupakan cerminan paradigma. Dari hal inilah dapat dinyatakan bahwa penggunaan kata “Miskin itu seksi” merupakan paradigma pemilik modal. Dan, kata-kata ini sering digunakan oleh kalangan mahasiswa dan kemungkinan besar juga digunakan masyarakat umum. Pada tahap ini, konstruksi melalui bahasa terhadap masyarakat telah dilakukan media masa........
Dipetik dari artikel Fredy Wansyah ”Media dan Konstruksi Bahasa oleh Pemilik Modal”, di buletin SADAR Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi Edisi: 236 Tahun V – 2009 (Sumber: www.prakarsa-rakyat.org)
Selengkapnya
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar