Pilihan rakyat Timor Timur untuk memisahkan diri dari Indonesia pada 30 Agustus 1998 sudah final. Mereka memilih merdeka dan berdaulat
Sebagian analisis sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan yang mereka raih adalah buah dari perjuangan bersenjata dan diplomasi elit politik. Xanana Gusmao menjadi simbol dari perjuangan bersenjata (klandestein), sedangkan Ramos Horta dicata sebagai pelobi dukungan masyarakat internasional. Militer dan aktivitas politik dianggap sebagai jalan utama meraih kemerdekaan.
Penulis buku ini sangat kritis. Ia secara cekatan menangkap celah kelemahan analisis itu. Pasti ada elemen lain yang punya andil besar perjuangan kemerdekaan rakyat Timor Timur. Dan, lewat penelusuran canggih lagi cermat, ia menemukan ’pejuang lain itu : hacker activist-hacktivist! Mereka berjuang di dunia maya, lewat jalur internet yang lintas batas itu. Mereka memobilisasi teknologi sedemikian rupa sehingga, seperti bola salju bergulirlah semangat luar biasa untuk melawan kesewenangpwenangan pemerintah Indonesia. Teknologi telah memungkinkan lahirnya revolusi baru!
(disalin sepenuhnya dari cover buku)
Perpustakaan Nasional RI : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Marpaung, Hendracaroko
Ulah Hacker Politik Membebaskan Timor Lorosae,
Timor Timur Menyerang Indonesia
Penerbit Galangpress Yogyakarta;
Cet I, 2009; 150x230mm; 189 halaman
ISBN: 978-602-8174-01-5
I. Politik
II. Judul
Penerbit Galangpress (Anggota IKAPI)
Jln. Anggres 3/34 Baciro Baru Yogyakarta 55225
Telp (0274) 554985, 554986
www.galangpress.com
Dnia informasi dunia maya dan internet di jama Orde Baru telah menjadi medan peperangan yang seru. Isu Timor Timur merdeka telah jauh melampaui masa kejatuhan Soeharto. Dalam sistem keamanan informasi, ternyata Indonesia masih lemah. Ini ironi dari kekuasaan teritorial pemerintah Orba yang dulu sangat perkasa/
Yosef Adi Prasetyo, anggota Komnas HAM
Studi ini merombak persepsi bahwa kerja hacker hanya menjebol situs-situs internet untuk menipu atau menghancurkan email lawan dengan ribuan bom email pengacau. Ternyata, hacker juga dapat memainkan peranan positif, seperti memperjuangakan kemerdekaan Timor Leste. Buku ini ditutup dengan kritik terhadap para hacktivist yang sudah berhenti ’berperang’ melawan penguasa, setelah Timor Leste merdeka. Akhirnya, Marpaung mengangkat beberapa pertanyaan tentang interaksi antara hacktivism, penguasa dan perjuangan individu atau kelompok tertentu dalam masyarakat multikultural,s ebagai ’pekerjaan rumah’ bagi peneliti berikutnya
George Junus Aditjondro, peneliti perjuangan kemerdekaan Timor Leste.
[perpustakaan lentera 0001]
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar