Lalu apa yang sebenarnya kini terjadi di negeri ini? Lihatlah dari rekaman terdekat yang rasanya baru saja kita lalui melalui sebuah “pesta” bernama pemilu. Dari mulai persiapannya, penyusunan undang-undangnya dan proses pembentukan partai-partai, penyusunan daftar calon legislatif hingga kisruh pemilihan presiden.. Sungguh sebuah potret yang “katanya” untuk kemakmuran rakyat dan demi masa depan yang lebih baik untuk rakyat namun sejatinya menempatkan rakyat pada sebuah posisi tersudut yang kian sempit saja. Karena, para pemimpin itu, ketika telah selesai merayu rakyat untuk berbondong-bondong datang ke TPS mencontrengnya, kini telah lupa pada janji sebenarnya karena mereka sejatinya hanya peduli dengan kursi dan kekuasaan semata dan rakyat akan menjadi tumbal pertama atas kebijakan-kebijakannya.
Maka, ketika kondisi itu terjadi, semakin buruk karena diperburuk oleh para pemimpin negeri ini yang lebih tunduk pada pesan tuan modal dan keingian cukong tuan tanah, maka kini saatnya kita yang harus bergerak untuk menentukan nasib kita sendiri karena sejatinya para pemimpin itu tak pernah peduli dengan kita, rakyat yang menjadi pewaris sah republik ini. Simaklah bagaimana para pemimpin itu tidak peduli melalui sajak Rendra yang lain: Revolusi para pemimpin, adalah revolusi para dewa-dewa / mereka berjuang untuk surga dan tidak untuk bumi / revolusi dewa-dewa tak pernah menghasilkan lebih banyak lapangan kerja bagi rakyatnya/ kalian adalah sebagian kaum penganggur yang mereka ciptakan (Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta).
Dipetik dari artikel Sarwo Raras “Mengenang Rendra, Memaknai Kemerdekaan” SADAR Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi Edisi: 231 Tahun V - 2009
(Sumber: www.prakarsa-rakyat.org)
Selengkapnya
baca juga
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – WS Rendra
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar