Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Minggu, 29 November 2009

Dari Pameran FX Harsono "The Erased Time" : Darkness

Hutang Sejarah adalah istilah yang digunakan Karmala Chandrakirana, Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, untuk menegaskan pentingnya memenuhi tiga hak paling dasar korban : pengungkapan kebenaran, penegakan keadilan dan pemberian pemulihan sebagai acuan membangun konsensus baru dalam berbangsa dan bernegara.

(dipetik dari catatan kaki pengantar I Gusti Agung Ayu Ratih untuk antologi cerpen Lobakan : Kesenyapan Gemuruh Bali 65)

hutang sejarah saya kutip sebagai respon atas judul artikel di tempointeraktif FX Harsono dan Tionghoa Gugat.

Pameran FX Harsono; Galeri Nasional Jakarta 1-14 Nopember 2009 (kerjasam Langgeng Gallery dan Galeri Nasional Indonesia


Tempo Interaktif : FX Harsono dan Tionghoa Gugat
Kompas : Nama Saya Oh Hong Bun


FX Harsono

Saat pulang ke Blitar itulah ia menemukan kembali sejumlah foto lama di ruang tamu. Benda itu sudah sering dibolak-balik, brangkali juga dihafal oleh seisi rumah, termasuk Harsono. Tapi, tak ada yang mempertanyakan setumpukan foto aneh di situ.

Diantara tumpukan album foto keluarga, ia menemukan foto-foto yang paling menarik perhatian. Jumlahnya sekitar delapan puluh lembar. Foto-foto hitam putih itu menggambarkan upaya sekelompok orang untuk melakukan penggalian jenasah yang sudah lama tertimbun tanah. Mereka adalah orang-orang Cina yang menjadi korban peristiwa yang agaknya merupakan pembunuhan massal, antara 1946-1948. Itu memang foto-foto bersejarah yang dibuat ayahnya.





....

Di masa tak menentu setelah tumbangnya pemerintah Orde Baru, sejumlah pertanyaan yang selama ini seakan hanya menjadi persoalan pribadi, mulai muncul di kepala Harsono. Ia selalu teringat lagi akan foto-foto lama yang dikerjakan ayahnya. Ini diakuinya sama sekali tak ada kaitan dengan rasa dendam terhadap rezim yang pernah memenjarakan ayahnya.

(dipetik dari pengatar kurator Hendro Wiyanto 'Waktu Terhapus, Jejak Pun Akan Aus"

(ayahanda Harsono adalah juru foto di Blitar pemilik studio foto Atom, studio paling ternama di kota itu. ayahanda Harsono mengabadikan upaya organisasi Chung Hua Tsung Hui yang memperakarsai upaya penggalian dan pendataan kembali para korban pembunuhan massal orang-orang Cina di Jawa)


























































































baca juga

Anggodo! Cina! Harsono! - blogombal.org


Bookmark and Share

0 komentar: