(dipetik dari catatan kaki pengantar I Gusti Agung Ayu Ratih untuk antologi cerpen Lobakan : Kesenyapan Gemuruh Bali 65)
hutang sejarah saya kutip sebagai respon atas judul artikel di tempointeraktif FX Harsono dan Tionghoa Gugat.
Pameran FX Harsono; Galeri Nasional Jakarta 1-14 Nopember 2009 (kerjasam Langgeng Gallery dan Galeri Nasional Indonesia
Tempo Interaktif : FX Harsono dan Tionghoa Gugat
Kompas : Nama Saya Oh Hong Bun
FX Harsono
Saat pulang ke Blitar itulah ia menemukan kembali sejumlah foto lama di ruang tamu. Benda itu sudah sering dibolak-balik, brangkali juga dihafal oleh seisi rumah, termasuk Harsono. Tapi, tak ada yang mempertanyakan setumpukan foto aneh di situ.
Diantara tumpukan album foto keluarga, ia menemukan foto-foto yang paling menarik perhatian. Jumlahnya sekitar delapan puluh lembar. Foto-foto hitam putih itu menggambarkan upaya sekelompok orang untuk melakukan penggalian jenasah yang sudah lama tertimbun tanah. Mereka adalah orang-orang Cina yang menjadi korban peristiwa yang agaknya merupakan pembunuhan massal, antara 1946-1948. Itu memang foto-foto bersejarah yang dibuat ayahnya.
....
Di masa tak menentu setelah tumbangnya pemerintah Orde Baru, sejumlah pertanyaan yang selama ini seakan hanya menjadi persoalan pribadi, mulai muncul di kepala Harsono. Ia selalu teringat lagi akan foto-foto lama yang dikerjakan ayahnya. Ini diakuinya sama sekali tak ada kaitan dengan rasa dendam terhadap rezim yang pernah memenjarakan ayahnya.
(dipetik dari pengatar kurator Hendro Wiyanto 'Waktu Terhapus, Jejak Pun Akan Aus"
(ayahanda Harsono adalah juru foto di Blitar pemilik studio foto Atom, studio paling ternama di kota itu. ayahanda Harsono mengabadikan upaya organisasi Chung Hua Tsung Hui yang memperakarsai upaya penggalian dan pendataan kembali para korban pembunuhan massal orang-orang Cina di Jawa)
baca juga
Anggodo! Cina! Harsono! - blogombal.org








0 komentar:
Poskan Komentar