Pernyataan di bawah ini dipetik dari Catatan Akhir Tahun Hak Asasi Manusia 2009 – Komnas HAM
Komnas HAM mengamati secara serius permasalahan kelaparan di Yahokimo dan gizi buruk serta tingginya kematian ibu dan balita yang seperti fenomena gunung es karena jumlah balita (anak usia di bawah lima tahun) yang mengalami gizi buruk lebih dari asumsi yang sudah diperkirakan berbagai pihak, terutama untuk wilayah-wilayah terpencil. Berbagai kasus kurang gizi/gizi buruk dan berbagai masalah di bidang ekonomi, sosial dan budaya diamati juga meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya. Berbagai upaya penanggulangan kemiskinann telah dilakukan oleh negara, antara lain melalui Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM Mandiri). Komnas HAM mencermati bahwa program BLT yang telah dilakukan, alih-alih mengurangi jumlah orang miskin tapi justru membuat orang miskin semakin tergantung dan berharap pada bantuan. Komnas HAM juga mengamati bahwa upaya pengentasan kemisknan tidak dilakukan dengan memastikan terpenuhinya hak-hak eskonomi, sosial, dan budaya.
Selengkapnya
Catatan Akhir Tahun Hak Asasi Manusia 2009 – Komnas HAM
baca juga
Laporan Investigasi Jurnalistik
BENCANA KELAPARAN & KEHIDUPAN DI YAHUKIMO : "KWANING KUME!" (Tidak Ada Ubi Jalar)
Jumat, 18 Desember 2009
Catatan HAM 2009 : Nyanyi Sunyi Kelaparan di Yahokimo, Rakyat Bukan ’Pengemis’
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme,
Papua
| Reaksi: |
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar