Berikut adalah artikel menarik dari Siti Maemunah yang secara tajam menyoroti para penyelamat iklim gadungan baik itu pelobi industry hingga 'makelar' bisnis perubahan iklim....
Fulus, fulus, fulus……
Catat juga (seperti disampaikan dalam rilis media aksi kemah pengungsi di depan Keduber AS), betapa menggelikannya (menjijikan) kampanye nasional AS yang bertajuk “Bagaimana kita bisa menjadi kaya dari perubahan iklim?” .
Ini tipikal diantara penumpang gelap dalam upaya global untuk menyelamatkan peradaban dari ancaman bencana perubahan iklim.
WWF & Para “Penyelamat” Iklim (1)
Oleh Siti Maemunah - JATAM/ CSF Indonesia
Sumber : www.jatam.org
Tapi permainan menjadi “Sang Penyelamat” ala WWF dan Lafarge ini bukan hal baru. Jika anda masuk bandara Copenhagen dan berjalan sepanjang lorong menuju jalan keluar, banyak sekali iklan perusahaan skala besar, mulai Shell, Siemens, Bayer dan lainnya. Untuk energi masa depan, Kita butuh mewujudkan pengelolaan karbon, begitu salah satu iklan Shell, perusahaan minyak dan gas bumi raksasa dunia.
Di koran harian untuk COP 15 UNFCCC, the COP 15 Post edisi 9 Desember 2009 tepat di halaman 7 terpampang iklan sehalaman penuh. Tertulis disitu, “bila berbicara tentang perubahan iklim, waktunya bagi kita untuk tidak berbicara tentang diri kita sendiri”, ini pernyataan Mukhtar Kent, CEO Coca Cola, yang memenuhi setengah halaman iklan milik WWF yang berkampanye tentang Climate Saver atau para penyelamat Iklim pada COP 15 Copenhagen.
Dibawah iklan ini ada nama dan lambang dua lusin korporasi, mulai pabrik semen dari Perancis – Lafarge, hingga perusahaan minuman ringan Coca cola. Merekalah yang disebut WWF sebagai penyelamat Iklim.
WWF dan Lafarge baru saja memperpanjang kerjasamanya empat tahun ke depan. Mereka sudah bekerjasama sejak 2000. Dalam websitenya, Lafarge menyebutkan kerjasama ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbonnya (1). Apa saja proyek yang dilakukan, dan berapa dana yang didapat WWF dari Lafarge, sulit diketahui. Tapi yang jelas, Lafarge memiliki pabrik semen di Indonesia, PT Semen Andalas Indonesia di Aceh (PT SAI/Lafarge).
Sekitar 99 persen saham PT SAI dimiliki Lafarge, perusahaan Semen terbesar kedua di dunia dari Perancis. Pabrik mereka sempat terhenti akibat gelombang tsunami akhir 2004 silam (2). Pada 2006, PT.SAI-Lafarge kembali melakukan rekonstruksi dan meningkatkan produksinya dari 1 juta ton menjadi 1,6 juta ton pertahun (3). Mereka lantas memperluas kawasan tambang, membangun pabrik, PLTU dan pelabuhan.
WWF singkatan World Wildlife Fund adalah LSM konservasi internasional yang mendorong upaya pelestarian global, bekerja di 100 negara di dunia (4). Kabarnya, WWF adalah salah satu organisasi lingkungan terbesar di dunia. Ia mempunyai 28 organisasi nasional dan kantor pusatnya di Geneva Swiss. Para tahun 1988, donatur WWF tercatat Chevron dan Exxon, Philip Morris, Mobil, dan Morgan Guaranty Trust(5).
Tapi di sekitar lokasi PT SAI/Lafarge, tak banyak warga tahu bahwa Lafarge sejak lama bekerja dengan WWF. Tapi warga 34 desa di kecamatan Lhok Nga dan Leupung, Aceh Besar, Provinsi Aceh tahu benar bagaimana sepak terjang Lafarge. Pada 1 Desember lalu, perwakilan warga bahkan menggelar konferensi pers mendesak penutupan PT. SAI/Lafarge. Tuntutan itu terkait dengan pelanggaran HAM PT SAI/Lafarge sejak awal operasinya pada 1982(6).
a. Penyelamat Iklim?
Lafarge berkontribusi utama terhadap kerusakan ekosistem dan keragaman hayati di Kawasan Karst Lhok Nga seluas 700 Ha. Ini masuk dalam bagian ekosistem Ulu Masen. Penggalian bahan semen telah merusak daerah tangkapan air. Di musim hujan banjir kerap terjadi di Gua Pucuk Krueng, sejak perusahaan beroperasi. Pencemaran udara juga langganan. Salah satu yang terasa, minimnya jarak pandang pengguna kendaraan yang melintas di pagi atau malam hari sepanjang ruas jalan Banda Aceh hingga Meulaboh dari titik Jembatan Krueng Raba Kecamatan Lhoknga.
Bukti lainnya disebutkan Yulfan, juru bicara organisasi wakil masyarakat Komite Masyarakat Bersatu Kecamatan Lhoknga dan Leupung, PT. SAI/Lafarge menjadi penyebab tingginya angka penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan TBC di sekitar tambang dan pabrik semen(7). Penyakit ISPA juga meningkat 80 persen, peringkat tertinggi di Kecamatan Lhok Nga dibanding sebelum perusahaan beroperasi.
Warga desa Naga Umbang juga mengeluhkan runtuhnya sumber ekonomi utama mereka dari kebun Cengkeh dan buah-buahan, yang tak mau berbunga lagi sejak debu perusahaan mencemari kawasan sekitar. Ini juga menimpa lahan-lahan sawah. Padahal sebagian besar warga menggantungkan hidup pada bertani, berkebun, berdagang, dan nelayan. Air sawah, sumur, sungai, bahkan kebun mereka mengering airnya.
Suara ledakan dinamit yang dilakukan 2 kali sehari membuat perempuan dan anak-anak trauma, karena kawasan itu juga kawasan konflik. Sumur dan rumah penduduk retak akibat blasting, dan longsoran batuan menutup sawah penduduk, yang jaraknya hanya 200 meter dari lokasi perusahaan.
Sebelum bencana Tsunami, PT. SAI/Lafarge memproduksi semen 1 juta ton per tahun, hanya 2 persen yang memenuhi kebutuhan Aceh, selebihnya diekspor. Mereka akan meningkatkan produksinya hingga 1,8 juta ton dan telah membangun PLTU batubara berkekuatan 32 MWatt.
Entah berapa dana kerjasama Lafarge dan WWF sehingga perusahaan bisa jadi bagian Climate Saver. Mengapa dia disebut Penyelamat iklim, padahal menghancurkan kehidupan warga sekitar Lhoknga dan Leupung Aceh besar? Mengapa dipromosikan sebagai penyelamat iklim padahal membangun PLTU baru berbahan bakar batubara, energi yang paling kotor dan berkontribusi utama terhadap pemanasan global dan perubahan iklim? Mengapa ia menyebut diri penyelamat iklim padahal kerusakan lingkungan meluas karena peningkatan produksi semennya yang hampir dua kali lipat tahun depan? Hanya WWF dan Lafarge yang bisa menjawab.
Tapi permainan menjadi “Sang Penyelamat” ala WWF dan Lafarge ini bukan hal baru. Jika anda masuk bandara Copenhagen dan berjalan sepanjang lorong menuju jalan keluar, banyak sekali iklan perusahaan skala besar mulai Shell, Siemens, Bayer dan lainnya. “Untuk energi masa depan, Kita butuh mewujudkan pengelolaan karbon, begitu salah satu iklan Shell, perusahaan minyak dan gas bumi dunia.
Korporasi transnasional lihai mempermak muka perusak bumi menjadi penyelamat iklim. Bahkan terang-terangan - dengan bantuan para pendukungmya, mengarahkan upaya menjawab krisis iklim menjadi putaran bisnis baru, yang berbalik menguntungkan mereka, tanpa mengganggu bisnis lama. Itulah mengapa setiap Conference of Parties (COP) ajang penting, termasuk di Copenhagen.
Tahun lalu, COP 14 UNFCCC di Poznan Polandia, Climate Justice Now! mencatat sedikitnya 1.500 pelobi industri baik datang sebagai lembaga Swadaya masyarakat ataupun delegasi resmi pemerintah. Anggota delegasi Brazil misalnya, adalah pelobi perusahaan minyak Shell, UNICA, Grupo Plantar. Para pelobi industri juga terlihat di delegasi Itali dan Finlandia.
Rombongan LSM terbesar dalam catatan resmi panitia saat itu adalah kelompok Binggo atau kelompok Bisnis NGO’s, yaitu International Emissions Trading Association (IETA) dengan 254 delegasi dkelompok binis, bukan lembaga publik (8). Di Copenhagen, IETA datang dengan 486 orang, termasuk pimpinan eksekutif Henry Derwent dan wakil anggotanya macam Gazprom, EON, CDC dan Shell (9).
COP 14 Poznan telah memberikan kemewahan sistematis yang berlebih pada pelobi industri dibanding lembaga publik, kritik Koalisi Climate Justice Now! “Sektor swasta memiliki pengaruh yang sangat besar dalam negosiasi iklim PBB,” ujar Ricardo Navarro dari CESTA/Friends of the Earth El Salvador. “Kami melihat sendiri jumlah delegasi pelobi industri selalu bertambah, sementara negosiasi yang terjadi semakin melemah. Negosiasi di badan PBB seharusnya fokus pada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan sektor swasta.”
COP 15 Copenhagen dipastikan kepentingan bisnis mengemuka, mengingat COP 15 ajang paling penting untuk memutuskan komitmen negara industri menurunkan emisinya. Pertemuan ini harusnya bisa memutuskan apakah penurunan emisi akan berpengaruh pada produksi perusahaan mereka. Atau bahkan bisa mereka gunakan sebagai ajang bisnis baru lewat bungkus “solusi” menjawab masalah iklim, yang tak ada hubungannya dengan keselamatan warga.
Bertahun-tahun korporasi trans nasional menyiapkan diri untuk ajang Copenhagen, melobi pemerintah, untuk memastikan kepentingan mereka hadir dalam meja perundigan. Pengaruh mereka adalah salah satu alasan mengapa pemerintah sulit mencari jalan keluar menyepakati jumlah pemotongan emisi. Mereka justru mendorong skema Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Develompent Mechanism –CDM) (10), kemudahan akses skema offset melalui perdagangan karbon global, pendanaan untuk teknologi beresiko termasuk Carbon Capture Storage (CCS), nuklir dan agrofuel. bisnis yang dianggap paling menjanjikan, ditengah kesengsaraan warga dunia menghadapai dampak perubahan iklim.
Setidaknya, dua ajang bisnis terbesar tahun ini telah digelar sebelum COP 15. Yang pertama memenuhi keinginan Pemerintah Denmark sebagai tuan rumah UNFCCC. Mereka menginginkan kerjasama dengan bisnis skala besar, demi mencapai kesepakatan iklim global. Akhirnya, 24-26 Mei 2009 lalu digelar World Business Summit on Climate Change di Copenhagen. Selama tiga hari, 1,000 pebisnis kawakan dari perusahaan-perusahaan besar global berdiskusi tentang perubahan iklim dan menghasilkan pernyataan bersama yang mereka sebut ”The Copenhagen Call”. Tujuan mereka memengaruhi negosiasi internasional terkait perubahan iklim, paska 2012.
Menurut penyelenggaranya – Dewan Iklim Copenhagen, bisnis harus cepat tanggap dengan perubahan iklim, seperti terbaca pada undangan tersebut: “Masa depan perusahaan anda sedang ditentukan! Ada masukan?”
Ajang kedua, BUSINESSEUROPE conference yang bertema “Antara Ekonomi dan Krisis Iklim – Apakah ada jalan keluar di Copenhagen?”. Konferensi diadakah 28 Oktober, enam minggu sebelum ajang Copenhagen digelar. Anggota BUSINESSEUROPE diantanya raja baja Arcelor mittal, Lafarge dan Rio Tinto. Mereka meyatakan dukungan terhadap EU Emission Trading Scheme industry dan mendorong adanya kesepakatan global, termasuk kewajiban mengikat untuk menurunkan emisi bagi negara berkembang yang maju (11).
Kelompok Industri, khususnya industri minyak, sudah sejak lama memegang peranan penting dalam keputusan energi di Eropa, berdasar laporan terbaru Corporate Europe Observatory dan PLATFORM: BP - Extracting Influence at the Heart of the EU. Laporan ini membongkar hubungan dekat perusahaan minyak raksasa tersebut dengan para pembuat kebijakan Uni Eropa. Termasuk bagaimana BP bisa meyakinkan para Komisi dan pihak lainnya bahwa kepentingan BP sama dengan kepentingan Eni Eropa. BP tentu tak bermain sendiri. Ia beroperasi melalui kelompok-kelompok industri European Petroleum Industry Association (EUROPIA), atau the European Chemical Industry Council (CEFIC), perusahaan bisa memengaruhi keputusan legislatif dengan tetap menjaga nama baik dari tuduhan campur tangan politik
BP memanfaatkan konsultan politik untuk melobi. Dari dokumen Lobby Disclosure Register Voluntarry milik Komisi yang diluncurkan Juni 2008 menunjukkan BP sudah mendaftar dan menghabiskan hanya 200 ribu hingga 250 ribu EUR di Brussels untuk proses lobi tahun 2008. Angka yang diragukan jumlahnya, terlalu kecil untuk perusahaan sekelas BP, apalagi jika dibanding perusahaan lain. ExxonMobil mengumumkan pengeluaran hingga 950 ribu EUR, sementara Microsoft mengeluarkan 1,3 juta EUR untuk periode sama (12). Angka-angka itu belum termasuk membayar asosiasi dagang, jaringan dan lainnya.
Perusahaan minyak lainnya Shell, tahun ini di COP 15 ia menjadi delegasi untuk European Round Table of Industrialists, International Petroleum Industry Environmental Conservation Association and the World Business Council for Sustainable Development (13).
Di COP 15, pemerintah Denmark bahkan merelakan pajak penduduknya untuk membiayai side event yang diselenggarakan The Zero Emissions Platform (ZEP) – sebuah kelompok industri yang memproduksi bahan bakar fosil fosil berbasis di Eropa Mereka menggelar kegiatan di Musium Nasional Denmark, topiknya “Peran vital Kesepakatan Carbon Capture and Storage (CCS) harus dipastikan dalam Kesepakatan Final Perubahan Iklim” (14).
Baca lanjutannya : Para Pelobi Industri Bisnis
Sumber Pustaka:
1. http://www.lafarge.com/wps/portal/6_2_1-CADet?WCM_GLOBAL_CONTEXT=/wps/wcm/connect/Lafarge.com/AllPR/2009/PR090409/MainEN
2. http://www.jatam.org/content/view/652/35/
3. Dokumen Amdal PT Semen Andalas Indonesia/ Lafarge tahun 2006
4. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/
5. http://id.wikipedia.org/wiki/WWF
6. http://karstaceh.com/chamber/pt-semen-andalas-indonesia-diminta-tutup
7. http://www.theglobejournal.com/detil-berita.php?id=3901
8. http://www.tni.org/archives/act/18993
9. http://www.corporateeurope.org/climate-and-energy/blog/helen/2009/12/12/counting-lobbyists
10.Clean Development Mechanisme atau Mekanisme Pembangunan bersih adalah win-win solution yang diperkenalkan negara industri dan telah sejak lama diterapkan di Amerika Serikat. Dalam skema ini polusi bisa adiperjualbelikan antar negara. Negara industri bisa berinvestasi di negara berkembang dalam proyek yang dapat dianggap megurangi emisi Gas Rumah Kaca , dengan imbalan sertifikat pengurangan emisi (CER) bagi negara industri tersebut.
11. http://212.3.246.117/Common/GetFile.asp?docID=24783&logonname=guest&mfd=off
12. http://climatecrashers.blogspot.com/
13. http://www.corporateeurope.org/climate-and-energy/blog/helen/2009/12/12/counting-lobbyists
14. http://www.corporateeurope.org/climate-and-energy/content/2009/12/eu-money-ccs-lobby-copenhagen
WWF & Para “Penyelamat” Iklim (2)
WWF dan Para "Penyelamat" Iklim (3)
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar