Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Selasa, 08 Desember 2009

COP 15 Copenhagen : Delegasi RI Tidak Punya Sikap

Press Release Walhi 8 Desember 2009 - www.walhi.or.id

Delegasi RI Tidak Punya Sikap

Copenhagen Corner 08/12/09, Jakarta - Pertemuan COP 15 di buka dengan semangat optimistik, hal ini tercermin dari statement politik PM Denmark (Mr. Lars Lokke Rasmussen) yang menekankan bahwa semua pihak berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan bumi. sehingga diperlukan aksi dan target yang kuat untuk menyelamatkan bumi.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Yvo de Boer, juga menyatakan hal yang sama, bahwa komitmen Kyoto Protokol post 2012 perlu dilanjutkan karena hanya Kyoto Protokol yang secara internasional dapat mengikat secara hukum tanggungjawab para pihak.

Teguh Surya, delegasi WALHI untuk COP 15 di Copenhagen, mengatakan: “Para delegasi juga terlihat tidak mempersiapkan dengan matang sikap Indonesia terkait dengan beberapa hal yang akan diputuskan dipertemuan ini”. “Sangat disayangkan Delegasi Pemerintah Indonesia malah menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melindungi segenap kepentingan bangsa” ujar Teguh Surya menambahkan.

Bentuk ketidak siapan itu dapat terlihat dari sampai dengan hari ini Delegasi RI belum punya sikap yang tegas atas keputusan-keputusan yang akan diambil alias RI hanya ikut-ikutan kemana angin bertiup. Untuk isu financing misalnya Delegasi RI setuju dengan dana utang dan juga setuju dengan dana hibah.

Sementara itu menurut M. Islah, Pengkampanye Air dan Pangan WALHI, sehubungan dengan program pemerintah tentang mitigasi perubahan iklim pemerintah harus punya komitmen sehingga kordinasi antar departemen dan sektor dapat terjadi. Ia mencontohkan, di saat Departemen Pertanian sibuk membuat perencanaan mengatasi dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan pangan, Departemen kehutanan, ESDM dan Perindustrian sibuk merusak dan mempercepat terjadinya pemanasan global.

Komitmen yang kuat dari Indonesia untuk menurunkan emisi sebesar 26 % yang disampaikan oleh Presiden SBY pada pertemuan G20 ternyata tidak mendapat dukungan penuh dari departemen tekhnis seperti departemen kehutanan dan departemen pertanian.

Karena kedua departemen tersebut telah mematangkan rencana untuk terus membabat sedikitnya 26 juta hektar hutan alam untuk perkebunan sawit dan 23 juta meter kubik untuk mendukung kebutuhan industri bubur kertas. (***)


Kontak:
M.Islah (081808893713)
Manager Kampanye Air dan pangan WALHI


Bookmark and Share

0 komentar: