Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Sabtu, 12 Desember 2009

Hikmah Kasus Century : Dominasi Peran Segelintir Teknokrat dalam Pengambilan Kebijakan Publik

Kasus Bank Century adalah contoh gamblang bagaimana sebuah pengambilan keputusan publik yang melibatkan dana yang luar biasa besarnya, hanya dilakukan oleh segelintir elit teknokrat di tingkat atas. Kenapa itu bisa terjadi? Lepas dari apakah itu sebuah skandal korupsi yang melibatkan kepentingan partai politik tertentu, kekuasaan para teknokrat terbentuk oleh ketergantungan penguasa (pemimpin pemerintahan) dalam hal menjaga stabilitas ekonomi. Ketergantungan ini berkonsekuensi pada kepercayaan yang begitu besar kepada teknokrat, karena kepakaran yang mereka miliki. Kepakaran itu sendiri, dari kacamata sosiolog Pierre Bourdieu, adalah sebuah bentuk "symbolic power" yang dapat ditransaksikan dengan kapital jenis lain, apakah itu kapital finansial, kapital kekuasaan, dan lainnya. Dari titik pandang ini, kepakaran sebaiknya tidak dimaknai secara biasa (taken for granted), tetapi harus dicermati secara kritis seperti yang dianjurkan oleh Foucault, karena dalam kepakaran terkandung suatu bentuk "manufaktur fakta" yang dapat menjadi ilusi dalam distribusi kekuasaan. Dengan kata lain, kepakaran adalah sebuah sistem eksklusi yang dibangun untuk memisahkan mereka yang disebut "pakar" dan mereka yang tidak. Batas ini bersifat sangat politis dan jika tidak dikritisi akan berujung pada sebuah bentuk otoriterianisme.

Petikan pernyataan Sulfikar Amir, asisten profesor Sosiologi di Nanyang Technological University (NTU), Singapura dalam dialog dengan Coen Pontoh dari Indoprogress

Selengkapnya


Bookmark and Share

0 komentar: