Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Senin, 21 Desember 2009

Yohanes Jonga : Menyuarakan yang Tidak Bisa Bersuara dan Doa Anak Telanjang

Dewan Juri akhirnya menganugerahkan Yap Thiem Hien Award 2009 kepada Pastor Yohanes Jonga seorang rohaniwan yang kini bertugas di Kabupaten Keerom, Papua. Pastor kelahiran Manggarai, sempat bertugas di Lembah Baliem dan Timika.

Penugasan di Timika inilah yang membuka jalan perkenalan dan persahabatannya dengan Mama Yosepha penerima Yap Thiam Hien Award tahun 1999. Saat itu ia khusus menulis puisi Doa Anak Telanjang untuk Mama Yosepha. 10 tahun kemudian puisi ini dibacakan kembali oleh Yuliana Langwuyo di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 10 Desember 2009 saat Pastor John juga menerima Yap Thiam Hien Award. (diceritakan oleh Andreas Harsono; John Jonga dan Mama Yosepha)

baca juga :
Mengenang Fauzi Abdullah (Abah Oji) : Penerima Lifetime Achievement 2009 dari Penyelenggara Yap Thiam Hien Award



Yohanes Jonga dipilih oleh Dewan Juri karena komitmen serta rekam jejaknya yang panjang dalam perjuangan hak-hak sipil-politik serta hak-hak ekonomi, sosial dan budaya di Papua. Sebuah wilayah yang penat dan kental dengan pelanggaran HAM

”Pastor Jonga adalah seorang rohaniawan yang bekerja melampaui pastoralnya dengan menjadi sahabat dan pembela bagi masyarakat Papua yang hingga kini masih mengalami pelanggaran hak-haknya," kata Todung saat menyampaikan hasil penilaian Yap Thiam Hien Award 2009 tanggal 7 Desember di Gedung Mahkamah Konstitusi . (liat Pastor Jonga Raih Yap Thiam Hien Award 2009, Jurnal Nasional).


Hal yang sama juga ditegaskan oleh Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muridan Widjoyo yang mengenalnya sejak 1994. Muridan menceritakan sebuah kejadian menarik tahun 1999, saat Pastor Jonga ditahan dan diinterogerasi di Kantor Polisi Mimika.

“Karena mendengar itu, ibu-ibu suku Amungme dan Komoro turun ke jalan dan mengepung Polsek Mimika,” ujar Muridan. (liat Sebuah Peringatan tentang Papua, Sinar Harapan)

Tidak hanya di Mimika, kemudian karena sikap dan komitmennya untuk Menyuarakan yang Tidak Bisa Bersuara, Pastor Jonga juga sempat mengalami intimidasi dari aparat keamanan di Keerom. Catatan ini secara terang berderang dapat dibaca dalam Laporan Situasi HAM di Kabupaten Keerom yang dikeluarkan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Papua Wilayah Keerom Arso Oktober (Kronologi Intimidasi yang Dialami Oleh Pastor John Jonga, Pr)

Oleh karenanya benarlah bila Muridan menegaskan bahwa Yap Thiam Hien Award 2009 bukan hanya sekedar penghargaan tetapi merupakan SUATU PERINGATAN bahwa pelanggaran HAM masih terus terjadi di Bumi Cenderawasih sampai sekarang

Disisi lain ini mestinya juga sebuah pesan tentang panggilan tugas untuk memihak kaum miskin (option to the poor), panggilan iman untuk Menyuarakan yang Tidak Bisa Bersuara. Sekaligus bara api dan semangat juang untuk 'anak-anak' Papua sendiri....

Inilah pesan itu menurut saya, puisi yang ditulis sendiri oleh Pastor Jonga untuk Mama Yosepha dan Rakyat yang Tidak Bisa Bersuara

Doa Anak Telanjang

(disalin dari blog andreas harsono)


Tuhan Allah Bapa dan Ibu Kami

Kau sudah tahu toooh
Saya duduk, berdiri, berjalan, di atas lumuran darah dan serakan tulang belulang tete–nenek leluhur bangsa ini.
Bapa telah meninggal, mama juga telah pergi untuk selama-lamanya setelah diperkosa oleh pasukan penyisir.
Kakakku ditembak ketika anak–anak negeri mencari kebenaran dan keadilan.

Tuhan, Sumber dan Tujuan Hidup Kami

Kami anak telanjang duduk seorang diri.
Kayu perahu sudah ditebang.
Dusun sagu telah dibabat jadi lokasi transmigrasi dan kelapa sawit.
Burung kuning sudah mulai punah.
Laut sungai kini telah tercemar.
Rahim bumi kami dikuras demi segelintir orang rakus.
Tanah adat kami dicaplok oleh pemerintah, militer, pedagang, pengusaha, gereja dan barisan panjang amber-amber dorang.

Tuhan, apakah mereka juga anak-anakMu?
Mengapa mereka begitu biadab?
Ataukah urat hati mereka sudah putus?
Tuhan dimanakah anak negeri ini?
Hanya satu pintaku sebagai anak bangsa bumi Cenderawasih:

Tuhan Embunkan Kami

Semangat juang leluhur tanah Papua.
Biarlah darah mengalir menyinari ibu kami Papua, biarlah tulang belulang yang berserakan di belantara tanah ini menjadi anak cucu masa depan.
Biarlah para pejuang satu persatu kembali pada-Mu agar tumbuh seribu.

Tuhan, Allah bapa dan Ibu kami

Biarlah Yosepha semakin senja agar sejuta Yosepha lahir dari rahim Papua Baru.
Anak telanjang mati terbacok badik.
Tertembak peluru api.
Ditabrak pembunuh professional.
Karena anak telanjang dianggap mabuk.
Ia mati, mati, mati ...

Roh anak telanjang membakar semangat juang anak Papua untuk selama-lamanya.

Amien.

Terinspirasi ujaran Muridan tentang Peringatan, maka berikut ini saya sampaikan fakta-fakta kondisi HAM dan sosok Pastor Jonga (John Jonga, Pastor Papua Peraih Yap Thiam Hien Award 2009)berdasarkan pemberitaan Kompas. Untuk makin menegaskan kenapa penghargaan ini sekaligus juga menjadi sebuah Peringatan.


FOKUS KOMPAS 17 Desember 2009

OTONOMI KHUSUS. Mendengar Kembali Suara Papua; KEARIFAN LOKAL : Menimba dari Kekayaan Tradisional; KESENJANGAN SOSIAL : Mereka Juga Warga Negara ; PELANGGARAN HAM : Papua, HAM, dan Negara yang Merasa Terancam


Nasionalisme di Tapal Batas (9) : Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan (Perbatasan RI - Papua Niugini)
– Agustus 2009

NASIONALISME DI TAPAL BATAS : Lilin Selalu Menyala di Ufuk Timur;
PERBATASAN RI-PAPUA NIUGINI Mengharapkan Investasi yang Berdamai

Nasionalisme di Tapal Batas (10) : Dua Stigma tentang Papua – Agustus 2009

NASIONALISME DI TAPAL BATAS : Dulu Sumber Penghidupan, Kini Sumber Persoalan; KEKERABATAN PAPUA-PAPUA NIUGINI : Membangun Harapan Tanpa Rasa Takut


Fokus Kompas 1 September 2007

Pembangunan Papua yang "Setengah Hati"; Yang Diberkati, yang "Dilupakan"; Ide Lama, Nuansa Baru; Kepercayaan Sudah Luntur; MRP Dicurigai?; Ada Otsus, Perlakuan Masih Generik; Sampai Kapan Jadi Sarang Penyakit Dunia Ketiga?; Tanah Emas, Tanah yang Berdarah; Ketika Rakyat Harus Berpikir Sendiri; Investasi, Solusi atau Masalah ?




Akhir kata Peringatan yang disebutkan Muridin membawa saya mengingat kembali puisi Peringatan-Nya Wiji Thukul.

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Berangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!


Bookmark and Share

0 komentar: