Cicak Lawan Buaya : Kebijakan Busuk dan atau Orde (Sosial) Yang Busuk?!
Pada 2009 ini kita sebenarnya perlu merayakan 150 tahun ditulisnya novel Max Havelaar oleh Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker) di sebuah kota kecil di Belgia pada 1859. Novel itu membunuh kolonialisme, kata Pramoedya Ananta Toer. Namun, rezim keadilan pascakolonial ternyata masih mengidap ”rumpang keadilan” dari pendahulunya 150 tahun lalu.
Saijah dan Adinda adalah penduduk Kabupaten Lebak, Banten. Prita Mulyasari juga penduduk Provinsi Banten. Keduanya sama-sama mengalami ”rumpang” antara rasa keadilan masyarakat dan rezim keadilan ”resmi”. Maka, tidak berlebihan bila kita katakan, orang-orang semacam Prita dan Minah ialah Saijah dan Adinda pascakolonial.
(dipetik dari opini Alois A Nugroho (Guru Besar filsafat Unika Atma Jaya, Jakarta; Dosen di Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dan Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara) Rezim Keadilan Pascakolonial di Kompas)
Pada masa kini, sulit diterima bila sebenarnya perbedaan perlakuan pemerintah dapat dilihat dari kekayaan yang dimiliki tiap warga negara.
(dipetik Saifur Rohman Peneliti Filsafat “Minah dan Anggodo” di Kompas)
Nasib Minah berbeda pula dengan para pejabat dan politikus di Senayan yang menerima suap ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Hingga sekarang mereka juga tak dijerat karena Komisi Pemberantasan Korupsi sibuk mempertahankan eksistensinya. Adapun kepolisian dan kejaksaan lebih mencurahkan energinya untuk bertikai dengan KPK. Atau jangan-jangan mereka masih menunggu para pejabat, politikus, dan Anggodo mencuri buah kakao seperti halnya Nenek Minah?
(dipetik dari Editorial Koran Tempo ‘Kejamnya Hukum Bagi Minah’)
Tak hanya Minah (55) dan 3 Kakao, tetapi juga Ny Manise (43) dan Sisa Panen Kapuk, Klijo (76) dan Setandan Pisang, Basar Suyanto (47) dan Buah Semangka, Pak Tukirin (62) dan Bibit Jagung, Parto (51) dan 5 batang jagung, barangkali juga Aguswandi dan Listrik, tentunya juga Prita Mulyasari........
Catat juga bagaimana perusahaan dan penguasa mengabaikan putusan MA tahun 1996 yang menyatakan lahan di desa Rengas Ogan Ilir yang dikuasai oleh PG Cinta Manis dan PTPN VII adalah lahan sah milik petani (seperti dinyatakan oleh warga kepada Kompas). Bahkan rakyat yang terampas tanahnya itu harus berhadapan dengan Dar Der Dor Senapan Brimob .
Tidak terkira pula kasus gugatan pencemaran lingkungan (catat puluhan kasus gugatan Walhi dkk yang tak satu pun pernah dimenangkan), perampasan tanah, penggusuran dan segala bentuk pelanggaran HAM lainnya yang kandas di meja hijau.
Sri Palupi menyebutkan Orde hari ini bak Rimba Raya dengan Hukum Besi Rimbanya (yang kuat memangsa yang lemah). Bagi saya kemudian pertanyaaannya pasang naik perlawanan rakyat yang dipicu oleh kasus kriminalisasi bibit-chandra hingga century adakah hanya menyasar perbaikan-perbaikan parsial dan penggantian orang atau soal kursi (reformasi) ataukah perubahan orde atau tatanan (katakan transformasi bila enggan revolusi). Ya, rimba raya kapitalisme neoliberal dengan rejim antek predatornyaharus dibongkar dan digantikan.
lebih lanjut cermati data-data penistaan si miskin yang dihimpun oleh Palupi dibawah ini :
Di Jakarta dan sekitarnya, setiap bulan rata-rata 3.223 orang miskin ditangkap dan diusir dari kota. Mereka bukan hanya dikejar dan diusir, tetapi rumah dan tempat usaha mereka juga dibakar.
Setiap tahun rata-rata terjadi 700 kasus pembakaran/kebakaran di Jakarta dan sekitarnya, 71 persen mengena pada permukiman miskin dan 21 persen pada pasar tradisional dan bangunan publik. Bahkan, di Mojokerto dan Nganjuk, kota kecil di Jawa Timur, orang-orang miskin yang hidup dari jalanan ditangkap dan dibuang ke hutan layaknya membuang binatang.
Kebijakan yang berpihak kepada konglomerat dan kriminalisasi orang melarat telah melahirkan pemiskinan yang kian dalam. Pada tahun 2006 WHO mencatat, 26 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa dan mayoritas berasal dari kelompok miskin.
Jumlah penderita gangguan jiwa meningkat 10 persen-20 persen setiap tahun. Sepanjang tahun 2005-2007, sedikitnya 50.000 orang bunuh diri karena alasan kemiskinan dan impitan ekonomi. Tidak terhitung berapa ibu membunuh anaknya karena alasan serupa. Kian dalamnya pemiskinan tidak pernah terlihat oleh kacamata pemerintah yang mengukur kemiskinan hanya dengan garis kemiskinan yang sungguh menipu akal sehat.
Dipetik dari artikel Sri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Right, Bank Century dan Hukum Rimba, Kompas 15 September 2009
Psst jangan lupa si miskin juga bukan tanpa masalah (sebagian besar juga mereproduksi orde yang memusuhi orang miskin dan dirinya sendiri), mereka punya bahasa 'penghakiman' yang acapkali tak kalah kejamnya. Betapa seringnya kita dengar maling ayam atau jemuran yang babak belur karena dijadikan sansak tinju bahkan hingga dibakar. Juga perlu diingat, bisa jadi tak sedikit kalangan bukan orang miskin diantaranya kelas menengah kota yang diam-diam merestui penyingkiran orang miskin dari wajah kotanya. Ada beberapa kompleks perumahan mewah atau bukan yang memasang plang pemulung dan pengamen di larang masuk.
Kamu pasti bersalah, karena kamu miskin!!
Kamu pasti bersalah, karena kemiskinan dan kejahatan adalah dua sisi mata uang yang sama!
Ya Gusti,inikah Orde Para Bedebah itu!!!!!!!!!!!!! (meminjam 'Negeri Para Bedebah'nya Adhie Massardi)
Harum Semerbak Ibu-ibu Bakul Kereta Naga
(sekedar catatan tengah malam dari stasiun tanah abang)
derit roda-roda besi kereta naga
mengerek malam makin dalam
derit roda-roda kereta
kebak debu batu bara
tiba membisu
di stasiun tanah abang
ibu-ibu bakul
sigap dan hiruk
labuhkan dagangan hasil bumi
dari gerbong kebak batu bara
jarum jam lekat menunjuk pukul 23.10
stasiun itu temaram sepi
ditingkahi sepuluh, duapuluh, tigapuluh
karyawan dan karyawati
dengan wajah letih
hendak pulang
ditingkahi
gebyar dangdut meriah berebut udara malam
berebut harum rupiah
dari puluhan warung remang-remang sepanjang lintasan kereta
tanah abang
ibu-ibu bakul hasil bumi
menata buntelan hasil bumi di peron
menyongsong tiba waktu pasaran
dua ibu dengan saling celoteh, penuh ria
pipis sambil berdiri di balik peron
dan lintasan kereta mestinya jadi harum semerbak
sejatinya ibu-ibu bakul inilah pemilik negeri
tapi ibu-ibu bakul tak peduli
mereka mengelar tikar dan rebah diri
atau cukup duduk dan tumpaskan kepala di buntelan hasil bumi
menyongsong hari pasaran besok subuh
ibu-ibu bakul
ingin rasanya mencium, memelukmun hingga tumpas
merasakan jiwa dan desah nafas
ibu-ibu pekerja tak hilang asa
bunga kebak wangi yang mestinya dipetik dan disunting jadi lagu
Indonesia Raya
Ibu Pertiwi
Tanah Tumpah Darah Kami
Bukan tanah tumpas darah pekerja keras
Bukan Negeri para bedebah haus darah
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar