Franky Sahilatua : Hukum Diperjualbelikan
Berikut adalah 15 pertanyaan yang dipilih Kompas (cetak) untuk dijawab oleh Franky Sahilatua dalam rubrik KOMPAS KITA*
*Untuk setiap edisinya Kompas mengundang masyarakat (pembaca kompas) untuk mengajukan pertanyaan kepada tokoh yang dipilih untuk ditampilkan. Beberapa nama seperti Iwan Fals, Slank, Jusuf Kalla pernah muncul di rubrik ini.
Sekarang Anda jarang menjadi penyanyi komersial, kenapa? Saya kangen dengarkan lagu lama Anda yang indah, coba lagi gimana? (Yuli N, Bekasi)
Apakah suara-suara hati seperti Mas Franky cukup mendapat tempat di media-media di Indonesia? Dari kenyataan ya, hanya menjadi highlight saja, kemudian hilang. Jadi perjuangan orang-orang seperti Mas Franky kurang bergaung dan cenderung hilang. (Subiakto, Deltasari Indah, Waru Sidoarjo, Jatim)
Karut-marut negeri tercinta sudah tiba saatnya diperbaiki. Masalah hanya bisa diatasi dengan cara menyelesaikannya, maka sudah saatnya berbuat sesuatu. Battle of Seattle mengisyaratkan adanya hubungan yang sinergis antara pemerintah selaku pemegang kebijakan politik, pengusaha dalam bidang ekonomi, dan masyarakat selaku pemilik kebudayaan. Di samping itu, semangat sastra sufistik/profetik dan gerakan kebudayaan seperti Cultural Studies serta Mazhab Frankfurt sudah saatnya ada dalam tindakan nyata. Sudah saatnya berbuat untuk negeri. Semangat ”Perahu Retak” harus digunakan untuk merenung dan memperbaiki negeri demi cita-cita para pendiri bangsa dan meneruskan perjuangan para pahlawan yang banyak meregang nyawa, juga untuk negeri yang bernama Indonesia. Mejuah-juah. (Asmyta Surbakti, Villa Malina Indah, Medan)
Mas Franky, saya sangat menikmati lagu Anda yang liriknya adalah suara rakyat. Kenapa Anda tidak mau masuk ke ranah politik sehingga Anda bisa mewujudkan ”Suara Rakyat”, seperti lagu-lagu yang Anda dendangkan.... (Ruddy, Yogya)
Apa pendapat Bang Franky terhadap grup musik yang lebih mementingkan selera pasar daripada melahirkan karya yang benar-benar sesuai dengan kehidupan rakyat Indonesia? Penerus aliran musik seperti Bang Franky sepertinya nyaris tidak ada sekarang. (Prama Widayat, Cibodas, Tangerang)
Saya ingin bertanya. Ke mana si Jeanne (adikmu) sekarang? Kenapa dia tidak kau ajak dalam setiap ngamen/pengabdian? ”Kepada angin dan burung-burung...”, kenapa tidak kau nyanyikan terus? Kini saatnya engkau bernyanyi dengan kata-kata yang vulgar dalam setiap kritikan yang kau nyanyikan. Tetap semangat dan Tuhan memberkati hidup, karya, dan kelurgamu. (J Hendro Martono, Bantul, DIY)
Bang Franky selama ini konsisten menyuarakan suara rakyat lewat lagu-lagu. Aku ingin Bang Franky membuat lagu tentang bangsa agraris/tentang tema perjuangan reforma agraria. (Ubaidillah Al Basith, Tlogomas, Malang)
Hal apa sih yang menjadi pemicu ”begitu kacaunya” penegakan hukum dan rasa keadilan di negeri ini? (Gunawan)
Dulu Anda sangat terkenal dengan tembang ”Perahu Negriku” yang sulit dilupakan oleh para penggemar Anda. Namun, sekarang Anda lebih memilih berkarya dengan menyuarakan hak-hak rakyat kecil. Apa yang menyebabkan Anda tertarik melakukannya? (Ardin HS di Medan)
Saya kagum dengan Anda sebagai penyanyi sekaligus aktivis yang menyuarakan nasionalisme, pluralisme, HAM, persatuan bangsa, dan lain-lain. Bagaimana pendapat Anda tentang nasionalisme dan pluralisme yang terdegradasi oleh pemahaman yang sempit, yang bersifat kedaerahan dan primordialisme agama? (Arsa Ketut)
Bung, lagu ”Hari Ini Telah Terbaca” masih sangat relevan dengan kejadian sekarang di mana masih banyak terjadi bencana akibat keserakahan manusia, pertikaian, dan ketidakadilan, padahal lagu itu telah dirilis sejak tahun 1980. Pertanyaan saya, menurut Anda, masih efektifkah menyuarakan pesan-pesan moral lewat lagu untuk perdamaian dan kesejahteraan rakyat? (Asri Masud, Duren Sawit, Jakarta Timur)
Bang Franky, pergerakan mengalami pergeseran luar biasa. Dulu nasionalisme dibawa sampai mati. Sekarang pergerakan hanya sebagai alat. Setelah menduduki jabatan, jangankan nasionalisme, idealisme ikut diduduki. Apa pendapat Bang Franky? (Ely Prihmono Suwarso Putro, Wonogiri, Jateng)
Kepada Kak Franky Sahilatua yang terkasih,
a). Saya terkesan dengan ciptaan lagu Anda tentang Tanah Papua, dalam syair lagunya: Tanah Papua, tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke Bumi. Apa inspirasi Kak Franky S sampai membuat lagu ini?
b). Papua sekarang menjadi daerah yang penuh konflik, terutama masalah HAM, pertanyaan saya, bagaimana saran dan pendapat Kak Franky agar mewujudkan Papua tanah damai? (Fransiskus Xaverius, Jayapura, Papua)
Bagaimanakah proses terciptanya lagu-lagu yang merupakan hasil kolaborasi antara Anda dan Mas Yudhistira ANM Massardi, apakah Anda menciptakan lagunya dulu, kemudian Mas Yudhis menciptakan syairnya, atau sebaliknya? (Agil Setyo, Yogyakarta)
Saya sangat menyukai lagu ”Perjalanan” Bung Franky. Itu lagu diciptakan tahun berapa dan apakah lagu itu diilhami kisah nyata apa bukan? Kalau kita naik kereta api terus dengerin lagu itu, wah menyentuh banget. (Aan P, Garut)
simak jawabannya
Franky Sahilatua : Hukum Diperjualbelikan
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar