Penghargaan ini merupakan kali pertama dalam 14 kali penyelenggaraan Yap Thiam Hien Award sejak 1992
Yap Thiam Hien Award 2009 juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement kepada aktivis buruh Fauzi Abdullah. Pemberian penghargaan ini merupakan yang pertama dalam 14 kali penyelenggaraan Yap Thiam Hien Award sejak 1992.
Dewan juri menilai almarhum Fauzi Abdullah yang tutup usia pada 27 November 2009 lalu, sebagai sosok yang setia memberikan hidupnya untuk membela kaum buruh sejak 1980-an. Meski berperan1 banyak dalam perjuangan kaum buruh, namun dia merupakan tipe pekerja HAM yang jauh dari publisitas (sumber : sinar harapan)
silah juga unduh buku
E-Book WAN OJI SUDAH PINDAH RUMAH - Kumpulan Tulisan Mengenang Fauzi Abdullah
Indonesian labour activists are mourning the passing of a great man
Fauzi made many personal sacrifices over a lifetime of activismab
Michele Ford and Fahmi Panimbang dalam Fauzi Abdullah (1949-2009)- Buletin Inside Indonesia
beberapa pemberitaan di media massa
Fauzi Abdullah Pejuang yang Bersahaja; Aktivis Buruh Fauzi Abdullah Wafat; Fauzi Abdullah: Reminiscing the laborers' hero, Mengenang Fauzi Abdullah (1949-2009) : Beberapa Pikirannya tentang Gerakan Buruh
Kenangan para sahabat :
Yang Setia Membangun Gerakan Buruh Hingga Akhir
Fauzi "OJI" Abdullah dalam kenangan
Indrasari Tjandraningsih
JUMAT, 27 November 2009. Jarum jam menunjuk pukul 19.55. Malam itu, malam yang kudus. Umat muslim tengah merayakan hari raya Idul Qurban. Tetapi bagi kaum buruh dan kelas pekerja Indonesia, malam yang kudus itu adalah juga malam yang diliputi kesedihan. Mereka kehilangan seorang pemikirnya yang paling konsisten.
Fauzi Abdullah, akrab dipanggil Oji oleh rekan sebaya atau abah atau bang Oji oleh yunior-yuniornya, pergi memenuhi panggilan sayang penciptaNYA. Tunai sudah seluruh kewajiban hidupnya, yang selalu dipenuhinya tanpa kenal lelah, tanpa kenal pamrih.
Oji pergi di tengah situasi yang sangat sulit bagi buruh dan kelas pekerja. Hantaman arus besar fleksibilitas kerja, membuat gerakan buruh dan gerakan kelas pekerja terpukul kekuatannya. Oji pergi, justru ketika pemikiran-pemikirannya sangat dibutuhkan untuk mencari cara bagaimana membangun kembali kekuatan buruh dan kelas pekerja dalam menghadapi arus besar tersebut.
Saya mengenal Oji sejak paruh 80an. Sama seperti yang lain yang mengenalnya, laku hidup sederhana, periang, senang bergurau, tetapi berpemikiran amat dalam mengenai persoalan perburuhan di Indonesia, adalah kesan pertama dan selamanya terhadapnya.
Melibati persoalan perburuhan sejak muda, melalui LBH Jakarta, Oji tak berhenti memikirkan dan membangun strategi memperkuat kelompok buruh di masa yang amat represif ketika itu. Rangkaian diskusi tentang hak-hak buruh dilakukannya dengan cara-cara yang amat efektif dan menghasilkan banyak sekali aktivis buruh yang kelak menjadi pimpinan-pimpinan buruh di masa Orde Baru. Capaiannya yang paling mengagumkan adalah keberhasilannya mencetak aktivis-aktivis pejuang nasib buruh justru dari SPSI, satu-satunya serikat pekerja di masa itu yang sangat tunduk pada Negara. Tak terbilang jumlah aktivis buruh yang lahir karena upayanya itu, langsung maupun tak langsung.
Selain bekerja melalui serikat, Oji juga bergerak melalui organisasi non pemerintah (ornop). Bersama para aktivis perburuhan lainnya, seperti Teten Masduki, Hemasari, Johnson Panjaitan, Arist Sirait, alm Bambang Harry, dan lain-lain, ia memobilisasi dan menularkan virus keperdulian terhadap kondisi buruh kepada aktivis-aktivis muda di berbagai kota di Jawa dan Sumatera Utara, di jantung pusat-pusat kegiatan industri. Tak kenal lelah, ia berupaya membangun konsolidasi kekuatan aktivis dan ornop untuk membela buruh melalui rangkaian pertemuan dan diskusi, dan berupaya mempertemukan aktivis buruh dengan aktivis ornop agar bahu-membahu dalam melakukan perjuangan.
Ketika di penghujung 90an para aktivis buruh satu-persatu mulai meninggalkan isu perburuhan dan memilih perjuangan di jalur-jalur masing-masing, Oji tetap teguh melibati dan memikirkan persoalan perburuhan. Digabungkan dengan profesinya sebagai konsultan perburuhan di REMDEC, sebuah konsultan manajemen dan pembangunan yang penting bagi komunitas ornop Indonesia, ia memiliki jaringan dan kesempatan yang luas untuk mempertajam analisisnya mengenai masalah perburuhan di Indonesia dan membagikan ilmunya kepada kaum buruh dan ornop di berbagai tempat di seluruh negeri.
Pemahaman dan analisisnya mengenai kondisi buruh di Indonesia, serta pengetahuannya tentang anatomi para aktor di lingkaran persoalan perburuhan, membuahkan sikap kritis dan penuh prinsip dalam menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain, baik itu para donor, serikat dan ornop. Kemampuannya membaca agenda tersembunyi dari para aktor perburuhan, membuatnya tak sembarang menjalin kerjasama atau tawaran kegiatan yang datang kepadanya. Bersandar teguh pada prinsip-prinsipnya, ia sangat selektif dalam memasuki sebuah kerjasama untuk mengangkat isu perburuhan. Baginya, persoalan buruh bukan barang dagangan yang mudah dibungkus sebagai proyek. Baginya, setiap kegiatan yang disebutkan untuk perbaikan kondisi buruh Indonesia, adalah sebenarnya untuk memperbaiki kondisi buruh. Tidak untuk yang lain.
Satu hal penting yang menjadi titik tolak sikap Oji dalam perjuangannya adalah kejelian dan kekritisannya dalam melihat berbagai konsep dan strategi gerakan buruh yang ditawarkan dari luar untuk gerakan buruh Indonesia. Oji sangat percaya, setiap konsep dan strategi itu mutlak harus dicocokkan dengan karakter dan lingkup kehidupan buruh dan gerakan buruh di Indonesia. Konsep itu tak dapat diterapkan begitu saja tanpa upaya verifikasi terlebih dahulu. Sebuah sikap yang langka kita miliki, ketika impor berbagai gagasan terkait dengan pembangunan, demokratisasi, ekonomi pasar, Labour Market Flexibility dan sebagainya, dianggap bisa diadopsi mentah-mentah tanpa melihat keseluruhan konteks, modal dan ciri bangsa Indonesia.
Perjalanannya mengamati dan melibati persoalan perburuhan di tingkat praksis, mengantarnya pada kesimpulan akan pentingnya kekuatan informasi sebagai basis dalam membangun strategi gerakan buruh. Untuk membangun kekuatan informasi, Oji kemudian mendirikan LIPS – Lembaga Informasi Perburuhan Sedane, di Bogor, yang dijalankannya bersama orang-orang muda yang tertular dedikasinya. Melalui lembaganya itu ia menyusun rangkaian agenda penelitian yang diyakininya sangat berguna untuk disumbangkan bagi upaya memperkuat gerakan buruh.
Di masa reformasi, seiring dengan iklim kebebasan berserikat di tengah praktek pasar Kerja Fleksibel yang menghasilkan fragmentasi dan pelemahan kolektivitas buruh, ia semakin meyakini pentingnya pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arena baru tersebut agar dapat menyiasatinya dengan tepat. Dan pemahaman arena baru itu akan dapat dikuasai antara lain melalui kegiatan penelitian.
Ketika menengoknya di rumah sakit sebulan lalu, begitu bertemu dan di saat akan berpisah, Oji berpesan agar segera setelah dia sembuh, kami harus mulai bicara serius untuk memperdalam pengetahuan mengenai praktek Pasar Kerja Fleksibel dan dampaknya bagi buruh, melalui penelitian bersama. Oji, saya berjanji akan menunaik pesanmu dan semoga diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Ijinkan kami melanjutkan perjuanganmu, dengan meniru konsistensi dan persistensi yang kau miliki.
Terimakasih banyak untuk semangat yang terus kau pancarkan bagi kehidupan buruh dan kelas pekerja Indonesia.***
Bandung, 28 November 2009
Indrasari Tjandraningsih, adalah Peneliti Perburuhan AKATIGA – Pusat Analisis Sosial, Bandung.
disalin dari : http://indoprogress.blogspot.com/2009/12/yang-setia-membangun-gerakan-buruh.html
Yang Mendahului Kita Sejak Dulu
Mengenang Kawan Fauzi "Oji" Abdullah
Sylvia Tiwon
SEBELUM subuh di Berkeley, aku terjaga — di luar, hanya terlihat gulita dan gerimis musim dingin. HP Jakartaku bunyi: ada SMS masuk, membawa berita yang ternyata sudah kutunggu, entah bagaimana. Antara alam hidup dan mati kadang batasannya tak sejelas yang kita bayangkan dengan rasio ketat. Kawanku—kawan kita—telah berangkat lebih dulu. Mungkin sesuai dengan naluri dan sifatnya, karena dalam berbagai hal yang penting, ternyata Oji berangkat lebih dulu: dalam nurani, dalam pikiran, dalam upaya.
Tahun 1974, ketika kampus UI Salemba sedang diobrak-abrik, Oji mendapat tugas membawa setumpuk stensilan kepada anggota dewan yang masih bertahan di dalam gedung. Tak lama kemudian, ia kembali ke tempat kami berkumpul, melapor bahwa tugasnya tak berhasil: begitu melihat orang datang membawa setumpuk stensilan, massa—entah dari mana—datang menyerbu. “Gue dudukin aja,” tuturnya dengan suara agak gemetar antara tegang dan tawa (pada Oji keduanya sangat akrab), “tapi massa semakin banyak — akhirnya gue tinggalin aja. Daripada babak belur, mending gue pergi duluan, gue lari.” Tawa meletus di ruang sempit, membayangkan Oji—yang ketika itu masih langsing dan lincah—lari tunggang-langgang. Tetapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang mencekam: keputusan Oji untuk “pergi dulu” itu menjadi tanda bahwa keadaan semakin membahayakan, bahwa suara mahasiswa dibungkam tidak hanya melalui ancaman kekerasan aparat, tetapi melalui mobilisasi massa besar-besaran, mencipta kondisi untuk pecahnya kekerasan horisontal.
Dunia kampus kemudian mengalami perubahan mendasar. Oji masih bertahan di Fakultas Sastra. Memang, walau pikirannya mengenai karya-karya sastra cemerlang dan imajinatif, dalam hal menyelesaikan skripsinya Oji memang tidak “duluan”, alias terlambat dan hampir terancam status hangus. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena suasana intelektual di kampus tidak menunjang orang yang “duluan” dalam pikiran. Oji begitu mencintai puisi. Di antara penyair kesayangannya: William Blake, penyair Inggris dalam kancah revolusi industri yang menggabungkan visi mistis-religius dengan realitas pemiskinan yang merebak di sekitarnya dalam puisi. Membaca Blake, Oji mendapatkan kawan komunikasi bagi sebuah dialog yang tak menemukan kata yang “pas” untuk memenuhi persyaratan birokrasi akademis.
Akhirnya, dengan dorongan berbagai kawan, selesai juga skripsi tersebut. Dan walau ia berhasil menggondol predikat Sarjana Sastra, pikiran Oji sudah jauh melangkah lebih dulu meninggalkan kampus yang steril baginya. Jalan baru ia rintis dengan menapaki lorong-lorong di pinggiran kota Jakarta, yang hampir tak terjangkau oleh peta imajinasi intelektual kampus: Kawasan-kawasan industri baru, eksploitasi lama dengan wajah dan kata-kata baru. Dari dalam Lembaga Bantuan Hukum (LBH), ia mendorong perubahan yang kemudian menjadi semangat LBH: bantuan hukum yang tidak sekedar membungkus hukum dan keadilan sebagai jasa sekelompok pengacara dan ahli hukum untuk dihibahkan kepada kaum miskin. Bagi Oji, keadilan bukan hadiah melainkan hak yang senantiasa harus diperjuangkan. Dan bagi Oji, bagian inti dari perjuangan itu adalah belajar bersama antara “praktisi” hukum, aktivis dan buruh menuju kesadaran bersama mengenai hukum, mengenai hak, mengenai keadilan. Perubahan itu membawa berbagai risiko baginya, tetapi ia juga lebih dulu tidak peduli dengan risiko yang ternyata hadir bahkan di dalam tubuh lembaga non-pemerintah.
Oji yang lebih dulu menapaki jalan yang—secara harafiah dan simbolik—sulit dan berlumpur, menenteng kantong kresek berisi obat-obatan sederhana, bahan pangan, kue dan buku tulis untuk anak-anak pekerja pabrik. Sekaligus membawa hati dan perasaan yang diilhami tekad untuk belajar dari mereka yang paling tahu karena mengalami eksploitasi di pinggiran imajinasi. Berapa banyak sandal Oji yang putus atau hilang ditelan lumpur, betapa banyak celananya yang sobek kena paku, duri atau pintu angkot? Entah… yang pasti, cukup banyak, walau antara sandal butut, celana sobek dan Oji ada relasi romantis yang tak kan pudar… Itu juga bagian dari puisi Oji. Karena Oji—pada akhirnya—adalah penyair mistik yang terjun ke dalam kancah perjuangan, dengan utuh. Memang, ia mendahului kita. Sejak dulu.***
Berkeley, 27 November 2009.
Sylvia Tiwon, Associate Profesor di University of California, Berkeley, AS.
disalin dari : http://indoprogress.blogspot.com/2009/11/yang-mendahului-kita-sejak-dulu.html
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar