Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Sabtu, 05 Desember 2009

Dor Dor Dor. Ogan Ilir Membara : Putusan MA, Warga Adalah Pemilik Lahan yang Sah

Inilah wajah Darurat Keadilan di negeri ini, warga menuntut pengembalian lahan mereka yang dirampas oleh PG Cinta Manis dan PTPN VII berbuah berondongan peluru Brimob yang menyebabkan 13 warga terluka. Padahal menurut Hasani dan Muchlis (keduanya korban penembakan) seperti dilaporkan Kompas Mahkamah Agung dalam putusannya tahun 1996 telah menyatakan warga adalah pemilik lahan yang sah.

Sementara tim investigasi yang terdiri dari LBH Palembang, Walhi Sumsel, Koalisi Advokad, Posbakum, dan Ikadin Palembang menemukan selongsong peluru tajam di lokasi penembakan petani oleh anggota Brimob di perkebunan PT PN VII. Sebelumnya pihak kepolisian mengatakan bahwa penembakan hanya dilakukan dengan peluru karet.

Inikah wajah penegakkan hukum dan aparat negara ini yang penuh borok dan luka?!


Pernyataan Sikap Serikat Petani Indonesia (SPI) atas Kasus Penembakan di Ogan Ilir

Pernyataan Sikap dan Rilis Korsorsium Pembaruan Agraria atas Kasus Penembakan di Ogan Ilir

Berita-berita terkait :

12 Warga Terluka akibat Diberondong Peluru

Disalin dari Kompas Sabtu, 5 Desember 2009

Putusan Mahkamah Agung, Warga Adalah Pemilik Lahan yang Sah

Palembang, Kompas - Dua belas warga Desa Rengas, Payaraman, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, terluka akibat diberondong peluru karet Satuan Brimob Polda Sumatera Selatan, Jumat (4/12). Insiden ini terjadi setelah 300-an warga menyandera dua karyawan Pabrik Gula Cinta Manis sebagai buntut konflik lahan garapan.

Luka yang mereka alami beragam. Ada yang di bagian kaki, paha, perut, leher, dan ada pula yang di bagian dada. Mereka langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Muhammad Hoesin, Kota Palembang.

Ke-12 warga itu bernama Hasani (43), Suhandi (35), Asep (37), Sabili (35), Wawan (29), Sirin (42), Muchlis (29), Aswadi (43), Gunadi (48), Bastoni (47), Fauzi (34), dan Wawan Sugardi (39).
Hasani menceritakan, kemarin sekitar 700-an warga Desa Rengas mendatangi Pabrik Gula (PG) Cinta Manis yang beroperasi di bawah manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII. Warga minta bertemu dengan manajemen PG Cinta Manis untuk membicarakan ganti rugi tanah garapan yang selama ini menjadi sumber konflik—antara warga dan PG Cinta Manis.

Konflik lahan seluas 1.529 hektar tersebut terjadi sejak 1982. Versi warga, lahan itu sah milik mereka karena disertai sertifikat tanah.

”Kasus ini sudah diselesaikan melalui jalur hukum. Tahun 1996, Mahkamah Agung (MA) sudah mengeluarkan putusan yang menyatakan bahwa lahan itu sah milik warga. Namun, pihak PG Cinta Manis dan PTPN VII tetap tidak mau mengakui putusan MA itu,” papar Hasani.

Muchlis menambahkan, meski sudah ada putusan MA, PG Cinta Manis mengambil alih lahan tersebut tanpa kompromi dan kemudian menamainya dengan tebu. Sebelumnya, warga menanam karet, nanas, dan berbagai tanaman buah di lahan itu.

”Tindakan itu membuat kekesalan warga memuncak. Kini semua lahan sudah ditanami tebu. Warga semakin marah ketika nilai ganti rugi yang ditawarkan sangat rendah,” katanya.

Mengenai penembakan kemarin, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan Komisaris Besar Abdul Ghofur mengatakan, hal itu dilakukan sekitar 30 personel Brimob, tetapi sesuai prosedur. ”Sebelum diarahkan langsung ke warga, polisi sudah memberikan tiga kali tembakan peringatan. Akan tetapi, tak digubris. Insiden ini terjadi setelah sekitar 300 dari 700 warga menyandera dua karyawan PG Cinta Manis. Selain itu, mayoritas warga datang membawa berbagai senjata tajam,” katanya.

Warga mengakui adanya penyanderaan. Namun, menurut Hasani, mereka hanya dikepung di tengah-tengah warga dan tidak disakiti. Ketika penyanderaan berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB, saat itulah polisi memberondongkan peluru karet. (ONI)


Walhi Sumsel Siapkan Tim Investigasi Penembakan Petani Ogan Ilir

Detik News Jumat, 04/12/2009 20:29 WIB

11 Petani Ditembak, LBH Palembang akan Laporkan ke Komnas HAM
Detik News Jumat, 04/12/2009 21:19 WIB

SPI Mengutuk Penembakan Petani di Ogan Ilir
Detik News. Sabtu, 05/12/2009 03:21 WIB

Komnas HAM Janji Selidiki Insiden Penembakan Warga Ogan Ilir
Tempo Interaktif Sabtu, 05 Desember 2009 | 12:32 WIB


Penembakan Petani : Tim Investigasi Temukan Selongsong Peluru Tajam

Detik News Sabtu, 05/12/2009 22:23 WIB


Korban Penembakan di Ogan Ilir Jadi 13 Orang


Kronologi Peristiwa Penembakan Warga Ogan Ilir versi Masyarakat (Hasil Investigasi LBH Palembang, Posbakum IKADIN Palembang, Walhi Sumsel,)

Kronologi Peristiwa Penembakan Warga Ogan Ilir Versi Polisi

Warga Korban Penembakan Mengadu ke Polda Sumsel

Liputan Metro TV

Belasan Warga Sumsel Ditembak Polisi
Headline News / Nusantara / Jumat, 4 Desember 2009 19:48 WIB

Jari Telunjuk Mukhlis Putus Diterjang Peluru Tajam
Metro Siang / Hukum & Kriminal / Sabtu, 5 Desember 2009 14:53 WIB

Warga Rengas Serang Kantor PTPN VII
Headline News / Nusantara / Sabtu, 5 Desember 2009 15:06 WIB

Warga Ogan Ilir Mengumpulkan Selongsong Peluru
Headline News / Nusantara / Sabtu, 5 Desember 2009 20:04 WIB



Bookmark and Share

0 komentar: