Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Minggu, 13 Desember 2009

REDD, REDD..... Promosi Dagang Karbon Pemerintah RI

Side event pemerintah RI terkait REDD

Jumat siang pukul 13.00 – 14.30 Waktu Copenhagen Pemerintah Indonesia melaksanakan Side event khusus REDD dengan Judul “How To Make Joint National and International Action on REDD Works – Experience from Indonesia”. Sayangnya acara yang padati oleh peserta yang ingin tahu, seperti apa sebenarnya rencana pemerintah tentang REDD. Ternyata menggandeng WWF, TNC, AUSAid, FCPF (World bank) dan KFCP (Indonesia – Australia). Benar-benar ajang promosi dagang karbon.

Bahkan beberapa pertanyaan dari audiens langsung diberikan Agus Purnomo kepada pendekar karbon tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif REDD, memang di setir oleh kepentingan lembaga konservasi internastional dan IFIs, bukan genuine keinginan pemerintah.

Tidak banyak hal menarik yang muncul dalam side event tersebut karena semua persentase ( REDDI readiness Strategy_side event_11Des09 (741.27 kB)) dan penjelasan pemerintah bersifat normatif. Begitu juga dengan jawaban-jawaban yang diberikannya atas pertanyaan kritis dari audiens.

Pada intinya, pemerintah sangat ngebet agar REDD diputuskan menjadi salah satu skema mitigasi dibawah UNFCC dan tidak peduli kalau naskah nya masih sangat keterlaluan. Di side event tersebut terungkap beberapa fakta dan semakin meyakinkan kita bahwa Indonesia sebenarnya tidak berniat untuk menghentikan deforestasi karena menurut para panelis (Agus Purnomo, Nur Marsipatin dan Wandoyo). Indonesia memang masih berkeinginan untuk melakukan ekspansi sawit dan HTI. Yang kedua, ketika Saya menanyakan tentang bagaimana mungkin Indonesia turunkan emisi jika pada waktu yang sama akan terus mengkonversi hutan untuk sawit, jawabannya adalah itu urusan menteri pertanian dan yang ada disini adalah dari Dephut.

Pernyataan tersebut benar-benar memalukan, mengingat side event itu atas nama Indonesia dan bukan salah satu institusi. Hal memalukan lainnya adalah, Ibu Nur menambahkan jawaban dengan menyaatakan bahwa “A Beauty of Indonesia is Complicity”. Dua statement tersebut jelas menunjukan bahwa sejak awal delegasi Indonesia memang tidak siap untuk bernegosiasi atas nama tim karena di forum internasional tersebut masih muncul ego sektoralnya.


Teguh Surya
Kepala Departemen Kampanye WALHI

disalin dari www.walhi.or.id


Bookmark and Share

0 komentar: