(posting yang anda cari ada di bawah gallery hot spot ini)

SERUAN AKSI


Dukung Deklarasi Klimaforum 2009 (Forum TandIngan COP 15) Copenhagen



Kami Butuh Perubahan Sistem – Bukan Perubahan iklim

Perundingan COP 15 UNFCCC memasuki detik-detik terakhir, masyarakat sipil mengkhawatirkan COP 15 jauh dari harapan menyelamatkan manisia dari ancaman dampak perubahan iklim. Ratusan organisasi masyarakat sipil menggelar Forum tandingan sejak COP dimulai dalam Klimaforum. Perwakilan sekitar 67 negara datang ke Foum ini. Salah satu yang mereka hasilkan adalah Deklarasi Klimaforum 2009: Kami Butuh Perubahan Sistem Bukan Perubahan Iklim.


Kami membutuhkan dukungan anda menjadi penandatangan deklarasi Klimaforum, cantumkan dukungan anda di


http://spreadsheets.google.com/viewform?hl=da&formkey=dHdJS0dWM2ZoUE1zM0xVM3BRXzlQU0E6MA


selengkapnya Deklarasi Klimaforum 2009 (Edisi Indonesia)



Aksi Kampung Pengungsi Keadilan Iklim di Kedubes AS : US is Carbon Mafia Leader


Cicak-cicak Bersatulah!


Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi


Dokumen Lengkap Kesimpulan dan Rekomendasi Tim Delapan


Pidato Presiden Terkait Kasus Century dan Bibit-Chandra


Laporan Lengkap Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK Atas Kasus PT Bank Century, Tbk


Ringkasan Hasil Audit BPK Atas Bank Century dan Kajian Lengkap ICW (Public Accountability Review – Kasus Bank Century : SKEMA INDIKASI KORUPSI KASUS BANK CENTURY)


Kumpulan Artikel Opini Terkait di Media Massa (Sejak 30 Oktober),


Skandal Century, Disfungsi Presiden & Turbulensi Politik : Menakar Potensi Gerakan Ekstra Parlementer, People’s Power dan Lahirnya Kekuatan Politik Alternatif (Artikel Pilihan)


Politik Pelemahan KPK di Era Presiden SBY (+ Identifikasi 13 Jurus Melumpuhkan KPK)

Laporan Independen Versi Masyarakat tentang Implementasi Konvensi PBB Tentang Pemberantasan Korupsi (UNCAC)




Mahkamah Rakyat : NEGARA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PELANGGARAN HAM DAN PENYELEWENGAN UANG RAKYAT

KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)


KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)

baca juga


BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI

Kumpulan 80 Artikel Opini dan E-Book Tentang (Lawan) Neoliberalisme



Kamis, 22 Januari 2009

Pilih Newmont Sebagai Perusahaan Terburuk Dunia

Berikan Dukungan untuk Memilih NEWMONT sebagai Perusahaan Terburuk di Dunia

Sumber : Jatam

Anda pasti kenal Newmont, perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat yang membuang 5 juta ton lebih limbah tailing ke teluk Buyat, Sulawesi Utara. Dan terus membuang 120 ribu ton tailing tiap hari ke teluk Senunu di Sumbawa NTB, sejak 1999. Jika belum kenal, bukalah http://www.jatam.org/content/view/32/5/ atau http://www.minesandcommunities.org


Tahun ini, The Public Eye Award menominasikan Newmont sebagai Perusahaan Terburuk di Dunia.

Anda diminta memberikan suara hingga 27 Januari 2009. Pilih dan dukung Newmont, sebagai Perusahaan Terburuk di Dunia, melalui http://www.publiceye.ch/en/p63000162.html

Rabu, 21 Januari 2009

Barack Obama bukanlah harapan bagi Perdamaian di Dunia!

Pernyataan Sikap Front Perjuangan Rakyat
Menyambut Pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat
Jakarta, 20 Januari 2009

Buang segala Ilusi!
Barack Obama bukanlah harapan bagi Perdamaian di Dunia!

BARACK OBAMA adalah fenomena! Barack Obama adalah ilusi! Presiden terpilih dari Partai Demokrat yang memenangkan pertarungan dalam pemilu presiden Amerika Serikat 2008 secara meyakinkan atas lawannya, John McCain dari Partai Republik dijejali dengan berbagai atribut-atribut dan harapan-harapan akan perubahan. Sebagai wujud dari besarnya harapan rakyat pekerja Amerika Serikat dan sekaligus manifestasi dari kian tajamnya krisis ekonomi dan sosial yang dialami Rakyat dan Bangsa Amerika Serikat. Tidak salah bila krisis dan harapan besar rakyat dan bangsa Amerika Serikat itulah yang membawa Barack Obama menjadi pemegang kekuasaan politik tertinggi di Amerika Serikat.

Momentum terpilihnya Barack Obama juga terjadi pada saat kaum pekerja Amerika Serikat, telah semakin jenuh dengan politik agresi dan tidak lagi bisa dininabobokan dengan propaganda “perang melawan terror” yang justru kian tidak berkesudahan. Momentum terpilihnya Barack Obama juga terjadi pada saat rakyat dan bangsa Amerika Serikat sesungguhnya telah semakin resah akibat memburuknya dan kian kronisnya krisis ekonomi dan keuangan dunia. Overproduksi yang kian membesar akibat menajamnya kesenjangan ekonomi dunia serta kasino ekonomi yang diputar kencang oleh institusi pasar modal dunia yang dipimpin Wallstreet, telah melenyapkan triliunan dollar Amerika Serikat. Selain itu, nasib jutaan kaum buruh dan pengusaha-pengusaha kecil Amerika Serikat pun terhempas kian dalam di jurang keterpurukan.

Di tengah himpitan hidup yang kian berat inilah, rakyat Amerika Serikat memilih Barack Obama, dengan satu harapan, perubahan menuju perbaikan.

Demikian pula bagi rakyat dan bangsa dari negara-negara terbelakang. Sosok Barack Obama tampil sebagai simbol harapan bagi rakyat yang berasal dari bangsa-bangsa terbelakang yang selama ini diperbudak oleh penindasan dan penghisapan serta kemiskinan dan krisis yang kian kronis dunia ketiga. Pada saat Barack Obama terpilih, krisis ekonomi dalam tubuh kapitalisme monopoli dunia telah menciptakan kerusakan yang sangat dashyat pada sendi-sendi kehidupan ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dan kebudayaan rakyat dan bangsa-bangsa terbelakang di dunia.

Pemaksaan kebijakan-kebijakan neoliberal yang mengandalkan utang luar negeri, pembukaan pasar bagi barang-barang impor, dan blokade ekonomi telah merampas hak rakyat untuk bekerja dengan upah yang layak. Pabrik-pabrik perakitan ringan berorientasi ekspor yang ditanam kapitalis-kapitalis monopoli tidak lagi mampu bertahan dan tergulung oleh kebangkrutan. Sementara tanah-tanah pertanian skala kecil milik rakyat telah digusur dan dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan besar monopoli untuk menjamin kelangsungan pasokan bahan baku dan bahan mentah yang murah bagi negara-negara maju.

Kemiskinan dan krisis yang kian kronis yang dialami rakyat di negara-negara miskin dan terbelakang seperti Indonesia itulah yang melahirkan banyak sekali ilusi dan harapan-harapan yang mustahil pada sosok Barack Obama.

Namun seperti apapun harapan dan ilusi pada sosok Barack Obama, sebagai Presiden Amerika Serikat, negeri imperialis nomor satu di dunia, Barack Obama adalah figur yang tidak pantas untuk diharapkan. Sebagai Presiden Amerika Serikat, sosok Barack Obama tidak lain selain pemimpin dari persekutuan jahat kapitalis-kapitalis monopoli Amerika Serikat yang hanya mampu menghidupi dirinya dengan cara melakukan perampasan atas nilai kerja kaum buruh dan rakyat pekerja di dalam negerinya. Sosok Barack Obama juga tidak lain dari pemimpin dari para perampok yang gemar mengumbar agresi militer, menindas rakyat sipil dan kaum lemah dari negara-negara terbelakang, untuk mengeruk dan merampok kekayaan alam rakyat dunia ketiga.

Sikap Barack Obama yang mendiamkan pembantaian warga sipil Gaza serta diam-diam memberikan dukungan pada agresi biadab Israel kepada rakyat Palestina yang berdiam di Gaza--selama tiga minggu sebelum pelantikannya sebagai presiden—membuktikan bahwa secara hakikat, harapan-harapan pada sosok Barack Obama tidak lebih dari ilusi yang menistakan akal sehat. Di tangan Barack Obama, politik luar negeri Amerika Serikat akan selalu mendua dan tidak pernah memihak pada keadilan sosial dan perdamaian abadi bagi seluruh umat manusia.

Atas dasar pandangan-pandangan di atas dan di tengah keprihatinan yang sangat dalam atas luka-luka sejarah yang dialami rakyat Palestina, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyerukan kepada rakyat di seluruh dunia, khususnya Rakyat Indonesia, untuk segera membuang ilusi atas sosok Barack Obama. Bagaimana pun, sebagai Presiden Amerika Serikat Barack Obama tidaklah layak diharapkan mampu menegakkan keadilan sosial dan perdamaian abadi bagi seluruh umat manusia di dunia. Kemudian, menyambut pelantikkan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, Front Perjuangan Rakyat menuntut;

1. Penghentian segala bentuk perang agresi, termasuk “perang abadi melawan terror” (permanent war against terror) yang selama ini dilancarkan dan dipimpin imperialisme Amerika Serikat karena telah melipatgandakan penderitaan dan kesengsaraan rakyat di Negara-negara Dunia Ketiga.
2. Penarikan pasukan agresi Israel dari Palestina, khususnya Gaza, dan pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya dari Irak dan Afghanistan serta pemberian penggantian atas segala kerusakan-kerusakan yang diakibatkan perang agresi, serta ditutupnya seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh dunia.
3. Menuntut pengakuan penuh atas kedaulatan, khususnya bagi Palestina, untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka dari penjajahan AS-Israel secara bermartabat.
4. Diadilinya Mantan Presiden AS George W. Bush pelaku utama agresi militer ke Afganistan dan Irak serta Perdana Menteri Israel Ehud Olmert (pelaku utama agresi militer Israel ke Gaza) sebagai pelaku kejahatan atas kemanusiaan dan penjahat perang melalui mahkamah internasional.
5. Penghentian seluruh latihan dan kerjasama militer yang dilakukan dengan Amerika Serikat karena selama ini hanyalah dalih untuk membuang overproduksi persenjataan Amerika Serikat ke negara-negara miskin dan terbelakang yang seringkali menyebabkan naiknya eskalasi kekerasan bersenjata di kawasan-kawasan miskin dan terbelakang di dunia.
6. Mengecam sikap politik luar negeri Pemerintah Indonesia pimpinan SBY-JK yang tidak secara tegas menuntut Amerika Serikat dan Israel untuk bertanggungjawab atas kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan Israel (atas dukungan Amerika Serikat) kepada rakyat Palestina di Gaza.
7. Menuntut ditegakkannya perdamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan umat manusia di dunia.


Front Perjuangan Rakyat
Jakarta, 20 Januari 2009


Rudi HB Daman
Koordinator

F R O N T P E R J U A N G A N R A K Y A T
Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong (ATKI-HK), Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Serikat Buruh Aspirasi Pekerja Indonesia (SB-API), Serikat Buruh Koas Eterna Jaya Industries (SBK-EJI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Gerakan Mahasiswa Keristen Indonesia (GMKI), Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), Gerakan Mahasiswa Nasional Kerakyatan (GMNK), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Sarekat Hijau Indonesia (SHI), Liga Pemuda Bekasi (LPB), Arus Pelangi (AP), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Forum Pemuda Kota Bekasi (FORDASI), Gerakan Rakyat Indonesia (GRI), Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP), Serikat Becak Jakarta (SEBAJA), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), International NGO Forum of Indonesia Development (INFID), Institute for National and Democratic Studies (INDIES), LP3ES, MIGRANTCARE, Urban Poor Consortium, UPLINK, PBHI Nasional, Cianjur Peduli Migrant (CPM), Jaringan Advokasi Tambang

E-mail: fpr1mei@yahoo.co.id atau fpr1mei@gmail.com

Krisis Gaza dan Pembebasan Palestina

Syamsul Ardiansyah
Jumat, 16 Januari 2009

Resolusi PBB dan Kecaman dunia internasional atas agresi Israel ke Jalur Gaza tidak sanggup menyurutkan nafsu Israel menggempur Gaza. Sejak agresi dimulai, pada 27 Desember 2008 sampai sekarang, korban jiwa di kalangan sipil telah melebihi 1000 orang. Agresi ini memiliki arti penting tersendiri bagi kelompok-kelompok yang bertikai, baik dari pihak Palestina maupun Israel. Namun sejauh mana peranan agresi ini bagi kemenangan rakyat Palestina untuk membebaskan diri dari penjajahan Israel dan Imperialisme AS?

Pada saat ini, agresi yang dilakukan Israel telah melibatkan seluruh kesatuan dalam ketentaraannya. Israel tidak lagi memuntahkan bom-bom cluster melalui serangan udara dan laut, melainkan telah merangsek jauh ke jalur gaza dengan mengerahkan kekuatan kavaleri dan infantry. Sementara dari pihak Hamas, selain masih meluncurkan roket ke wilayah Selatan Israel, menghadapi serangan darat dengan mengandalkan taktik bertahan dengan menggunakan sniper.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda gempuran Israel ke wilayah Gaza akan berhenti. Sebaliknya, Israel justru menegaskan akan terus melakukan agresi untuk menumpas Hamas sampai ke akar-akarnya. Tidak hanya Israel, Hamas pun cenderung memiliki sikap yang sama. Menurut Hamas, gencatan senjata sesungguhnya hanya mendamaikan pelaku dengan korban kejahatan. Dengan alasan masing-masing, kedua pihak tersebut seolah berkeinginan untuk terus mengobarkan peperangan. Dengan kata lain, masing-masing pihak memiliki kepentingan strategis maupun taktis

selanjutnya

Senin, 12 Januari 2009

Stop the massacre in Gaza! ONLINE PETITION initiated by Ramsey Clark (Winner, 2008 U.N.Human Rights Award)

Sign the Petition Online Now – http://www.iacenter.org/gazapetition

Join the ONLINE PETITION initiated by Ramsey Clark - sign on and send the message to President Bush, President-Elect Obama, VP Cheney, VP-Elect Biden, Secretary of State Rice, Secretary of State designate Clinton, Congressional leaders, the U.N. Secretary General, Security Council, the Israeli President, Prime Minister and cabinet, and members of the world media appealing for Israel to Immediately Cease Its Murderous Bombing, Siege and Threatened Invasion of Palestinian Gaza

Hentikan Pembunuhan di Gaza! (Petisi Kepada Pimpinan Negara dan PBB)

More than 360,000 petitions have been sent!
Please add your voice to the thousands who are demanding: Stop the massacre in Gaza!

Initiated and signed by
Ramsey Clark, winner, 2008 U.N.Human Rights Award and Founder, International Action Center


Sign the Petition Online Now –
http://www.iacenter .org/gazapetition


Join the ONLINE PETITION initiated by Ramsey Clark - sign on and send the message to President Bush, President-Elect Obama, VP Cheney, VP-Elect Biden, Secretary of State Rice, Secretary of State designate Clinton, Congressional leaders, the U.N. Secretary General, Security Council, the Israeli President, Prime Minister and cabinet, and members of the world media appealing for Israel to Immediately Cease Its Murderous Bombing, Siege and Threatened Invasion of Palestinian Gaza
________________________________________


Urgent Appeal for Israel to Immediately Cease Its Murderous Bombing, Siege and Threatened Invasion of Palestinian Gaza!

To: President George W. Bush, President-Elect Barack Obama, Secretary of State Condoleeza Rice, Secretary of State Designate Hillary Clinton, Vice President Richard Cheney, Vice President-elect Joe Biden, Congressional leaders, U.N. Secretary General Ban, U.N. General Assembly President d'Escoto-Brockmann, members of the U.N. Security Council, U.N. member states, the President, Prime Minister, Cabinet and Opposition leader of Israel, and Major media representatives:

For 60 years, Israel has persecuted the Palestinian people with impunity in defiance of United Nations General Assembly and United Nations Security Council Resolutions, orders of the International Court of Justice, International Law and fundamental human rights.

Throughout the years, Israel has proclaimed itself the victim as it grew richer, more powerful and more violent, while
Palestinians were abused, impoverished, divided and demeaned.

A consistent tactic of Israel through all the years has been to divide Palestinians against their most effective organizations. Through most of the recent years Israel has attacked Fatah. Now it is Hamas that Israel attacks. But there is only one Palestinian people and there can be only one Palestinian State. This has been the guiding principle of the PLO. Israel's policy has always been to destroy the possibility of a Palestinian State. Its criminal assault on Hamas is in truth Israel's continuing assault on the possibility of a Palestinian State: divide and conquer.

Now in the waning days of the disastrous Bush Administration, the government of Israel with its Prime Minister under criminal indictment, is testing whether world opinion will permit it to escalate its isolation and impoverishment of Palestine and selective and systematic assassination of Palestinian leadership in Gaza to a genocidal, indiscriminate assault and invasion of Palestinian Gaza, knowing full well its acts will inflame passions throughout the Middle East and Arab and Muslim worlds risking conflict of disastrous magnitude in Lebanon, Syria, Iran, Afghanistan, and elsewhere, even between India and Pakistan.

Beyond crushing Gaza's capacity to resist and imposing its final solution on Palestinians, Israel is seeking confrontation that will lead to war with the U.S., the European Union, and NATO fighting for Israel against Iran, Syria, Lebanon, Pakistan and Afghanistan to impair their ability to prevent expansion of Israel's domination of the region while the "only one President at a time" the U.S. has, George W. Bush, will support Israel, finding all fault with Gaza.

In these dangerous and difficult days and hours the undersigned call upon the United Nations, the United States, the European Union, NATO members, and European countries independently, the governments of Asia, foremost China, India, Indonesia and Pakistan, the nations of Africa, and the Americas to demand an immediate ceasefire throughout Israel and Palestine and the assurance of peace. All borders to Gaza, Israel, Egypt and the Mediterranean Sea, must be opened for humanitarian relief and a complete arms and trade embargo on Israel until it fully complies with all the requirements of permanent peace.

We call upon all the people, the ultimate power in every nation when organized and energized, to take to the streets where they live and demand that their governments do all in their power to cause Israel to stop its war of aggression against Palestine and for all parties to pursue peace and for Israel, the U.S. and other nations who have provided material support for Israel's aggression to be held accountable for the deaths, injuries and damage Israel has inflicted.

We call upon governments and humanitarian agencies to provide all needed emergency relief to Palestine - medical care, food, humanitarian supplies, shelter; and on all the media that truly seeks peace, justice and respect for the equal dignity of every child, woman and man on earth to headline the demand that Israel stop its aggression immediately. All parties must engage in continuous negotiation with all Palestinians until a one state solution is agreed or the state of Palestine as mandated not later than October 1948 in UN General Assembly Resolution 181 (1947) is created, fully implemented, and Palestine thrives.

Sincerely,

Initiated and signed by
Ramsey Clark, winner, 2008 U.N.Human Rights Award and Founder, International Action Center
Add your signature to this letter now - go to

http://www.iacenter.org/gazapetition

Jumat, 09 Januari 2009

"Gaza: Enough is Enough" (Petisi Untuk Perdamaian di Palestina)

Enough is enough: these civilian deaths can't go on, and we can't let Bush and co block a fair, negotiated ceasefire. 250,000 of us have signed the petition, let's make it half a million -- we'll publish it in a hard-hitting ad in the Washington Post and deliver it in meetings with UN Security Council members -- follow the link below to see the ad, sign the petition, and forward this message to all your friends and family:

http://www.avaaz.org/en/gaza_time_for_peace


Dear friends,

Israel's ground offensive has reached the cities of Gaza and more and more civilians are dying: it's way past time to end this war. With 270,000 signatures for a ceasefire already -- including yours -- our momentum is growing, we've contacted many international leaders and ceasefire initiatives are beginning.

But there's still no end to the violence, and outrageously, the US is obstructing a fair ceasefire at the United Nations -- so we need to raise an even bigger outcry, seeking face-to-face meetings with Security Council powers to deliver our petition as well as taking out ads in influential US newspaper the Washington Post before Barack Obama takes office.

The more of us come together to sign the campaign, the more powerful our voices will become. If you haven't already, please take a moment to forward the link and message below to ten people who might be interested in signing the petition. Delivering half a million signatures this week would really make an impact-- http://www.avaaz.org/en/gaza_time_for_peace
---------------
The bloodshed in Gaza is escalating -- the death toll now stands at over 600 people and rising, almost half of them civilians and over 100 children dead.[1] As Israeli tanks, airplanes and artillery bombard thickly populated urban areas, hitting UN schools yesterday, thousands more have been injured and 1.5 million terrified civilians have no escape from this prison-like enclave -- the borders have been sealed. Hamas continues to fight and fire rockets deep into Israel: 11 Israelis have died, including from friendly fire.

Our worldwide call for an internationally-guaranteed ceasefire to protect civilians on all sides has begun to ring out loud and clear, winning the support of leaders in Europe, the Middle East and beyond, with hopeful outlines of a deal emerging from Turkey, Egypt and others.[2] But Israel is rejecting a truce for now and escalating its offensive, while US President Bush is blocking a negotiated UN ceasefire, trying instead to impose a skewed alternative that could legitimize Israel's suffocating isolation of Gaza.[3]

Enough is enough: these civilian deaths can't go on, and we can't let Bush and co block a fair, negotiated ceasefire. 250,000 of us have signed the petition, let's make it half a million -- we'll publish it in a hard-hitting ad in the Washington Post and deliver it in meetings with UN Security Council members -- follow the link below to see the ad, sign the petition, and forward this message to all your friends and family:

http://www.avaaz.org/en/gaza_time_for_peace

Our efforts really can make a difference -- Israel's own foreign minister admits that international pressure, if intense enough, could ensure a ceasefire. As the international community debates and delays, civilians are dying by the day. The top UN official in Gaza says, "There's nowhere safe in Gaza. Everyone here is terrorized and traumatized." Opposing a United Nations resolution, Bush reportedly proposes to exclude Hamas from any ceasefire deal and leave Israel a free hand, something that would guarantee that the violence continues. That's why we're targeting incoming President Obama and US decision-makers, as well as the European Union and other international leaders, to pursue a fair and stable resolution.

To be lasting, a ceasefire must protect civilians and end all attacks -- Israeli bombings and incursions as well as the rockets Palestinian factions fire into southern Israel. International supervision is desperately needed at the borders, to reopen Gaza's borders and crossings for food, fuel, medicine and goods, to prevent weapon-smuggling which has only grown under the blockade, and to monitor and enforce the ceasefire on both sides.[4]

Hamas, which won elections in 2006 and now runs Gaza, suggests it will agree to such a ceasefire.[5] It should be challenged to live up to its word just like Israel. There is no military solution for either side -- it's time for world powers to step in, advancing a fair deal to protect civilians on all sides and let them live their lives in peace and security. Sign the petition now at the link below and send this message to everyone you know -- we'll publish it in The Washington Post and elsewhere, and seek face-to-face meetings to deliver the petition with the Obama team, the UN Security Council and European leaders:

http://www.avaaz.org/en/gaza_time_for_peace

With hope and determination,

Paul, Graziela, Ricken, Luis, Alice, Brett, Ben, Iain, Paula, Veronique, Milena and the whole Avaaz team

P.S. We wrote to European, US and Arab leaders last week about our campaign, and received responses -- now we need to escalate the pressure. For a report on many of Avaaz's other campaigns so far, see: https://secure.avaaz.org/en/report_back_2

Sources:

1. Associated Press: "Israel Shells Near UN School, killing at least 30" (5 January 2009)
http://www.google.com/hostednews/ap/article/ALeqM5ioi_0jtO9RjMwPNRoXNCndRPRq3gD95HTJE00

2. "Gaza: outlines of an endgame", Ghassan Khatib (6 January 2009)
http://www.opendemocracy.net/article/gaza-outlines-of-an-endgame

Al-Jazeera: "Arab ministers hold UN ceasefire talks" (6 January 2009):
http://english.aljazeera.net/news/americas/2009/01/20091522052418539.html

Associated Press: "Diplomats seek truce as civilian toll rises" (5 January 2009):
http://www.google.com/hostednews/ap/article/ALeqM5ioi_0jtO9RjMwPNRoXNCndRPRq3gD95HCD4G3

3. Israel Today: "Israel rejects European, UN efforts for immediate ceasefire" (5 January 2009):
http://www.israeltoday.co.il/default.aspx?tabid=178&nid=17938

Yediot Aharonot: "Israel examining international treaty to isolate Hamas" (5 January 2009)
http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-3650522,00.html

4. These parameters are advocated by a broad range of experts and policymakers. See for example International Crisis Group's Ending the War in Gaza report (5 January 2009):
http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=5838&l=1

5. Reuters: "Hamas seeks truce but says lifting siege a must" (5 January 2009) http://www.alertnet.org/thenews/newsdesk/L5111105.htm

Strikingly, the US Army War College has just released a substantial report supporting the view that Hamas can and must be brought into negotiations and is capable of sustaining a long-term truce, or even peace with Israel. Linked via:
http://ricks.foreignpolicy.com/node/10703

The inside story of the civil strife between Fatah and Hamas and the Bush administration's involvement in this debacle is best-told in The Gaza Bombshell, an investigative article published in the leading US magazine Vanity Fair in April 2008:
http://www.vanityfair.com/politics/features/2008/04/gaza200804

This news item from November 2008 provides more background to the story of how the Israel-Hamas truce collapsed:
http://www.guardian.co.uk/world/2008/nov/05/israelandthepalestinians

-----------------------------------------------------------



ABOUT AVAAZ Avaaz.org is an independent, not-for-profit global campaigning organization that works to ensure that the views and values of the world's people inform global decision-making. (Avaaz means "voice" in many languages.) Avaaz receives no money from governments or corporations, and is staffed by a global team based in Ottawa, London, Rio de Janeiro, New York, Buenos Aires, and Geneva. Call us at: +1 888 922 8229 or +55 21 2509 0368 Click here to learn more about our largest campaigns. Don't forget to check out our Facebook and Myspace and Bebo pages!
You are getting this message because you signed "GAZA: STOP THE BLOODSHED" on 2009-01-03 using the email address kerja.pembebasan@gmail.com. To ensure that Avaaz messages reach your inbox, please add avaaz@avaaz.org to your address book. To change your email address, language settings, or other personal information, https://secure.avaaz.org/act/index.php?r=profile&user=074ee2a2970c399b5f0639bf1005ded6&lang=en, or simply go here to unsubscribe.

To contact Avaaz, please do not reply to this email. Instead, write to info@avaaz.org. You can also call us at +1-888-922-8229 (US) or +55 21 2509 0368 (Brazil) If you have technical problems, please go to http://www.avaaz.org

Selasa, 06 Januari 2009

Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi - Pengadilan Hak Asasi Manusia ad hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984

E-Book Gratis : Studi Watch Indonesia dan KontraS Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ad hoc untuk Kejahatan di Tanjung Priok 1984

Sumber : Email Watch Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/indonesia_damai/message/48155

Pengungkapan dan penghukuman atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama rezim Suharto menjadi dua tuntutan utama yang diajukan gerakan reformasi. Sejak lengsernya Suharto pada tahun 1998 telah diambil berbagai kebijakan untuk menyelesaikan masalah kejahatan di masa lalu. Namun kebijakan tersebut ditandai stagnasi, blokade dan penyalahgunaan pihak para pelaku, sehingga kebijakan tersebut sudah memperkuat impunitas yang berkelanjutan daripada memberi kontribusi demi keadilan. Pengadilan HAM ad hoc untuk kasus kejahatan di Tanjung Priok 1984 adalah salah satu contoh. Dengan kurang diperhatikan oleh publik internasional, sidang pengadilan tersebut menjadi usaha yang satu-satunya untuk menghukum kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi ketika Suharto masih berkuasa.

Studi "Kesempatan yang Hilang, Janji yang tak Terpenuhi" menegaskan gagalnya perkara pengadilan Tanjung Priok karena proses peradilan dilaksanakan di bawah standard negara hukum. Pengadilan tersebut tidak dapat mewujudkan tujuannya, yaitu mengungkap peristiwa pembunuhan massal di Tanjung Priok dan mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Kegagalan tersebut terletak pada kelemahan sistem peradilan, kurangnya semangat pihak kejaksaan dan pemerintah untuk mengusut pejabat-pejabat militer tinggi, dan kurangnya pengawasan sipil terhadap militer. Oleh karena itu, reformasi institusional untuk mendapatkan peradilan yang independen dan pengawasan sipil atas militer adalah dua kebutuhan utama agar bisa mengungkap dan mengadili pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia pada masa lalu. Di sisi lain, penyelesaian kasus-kasus
tersendiri dapat memberikan dorongan kuat bagi reformasi institusional.

Bekerja mengenai satu kasus berarti bekerja pula demi kasus-kasus yang lain, karena dengan menentukan syarat-syarat institusional usaha ini menjadi satu langkah menuju penyelesaian secara menyeluruh masa lalu yang hitam di Indonesia.


Studi dapat anda download gratis di situs

http://www.watchindonesia.org/PriokIDNWeb.pdf

Senin, 05 Januari 2009

Gerak Lawan : Mengutuk Perang Kotor Israel

Siaran Pers Gerak Lawan
Menyerukan Solidaritas untuk Rakyat Palestina

Salam Kemanusian yang Adil dan Beradab

Adalah untuk ke sekian kalinya, Israel melancarkan perang agresi ke wilayah negara tetangganya, Palestina. Kejahatan agresi (crime of aggression) serta pengeboman udara ke area pemukiman sipil adalah kejahatan perang (crime of war) yang keduanya merupakan pelanggaran serius hukum humaniter maupun hukum internasional hak asasi manusia. Di mana kejahatan tersebut merupakan yuridiksi dari International Criminal Court berdasarkan Statuta Roma tahun 1998.

Kami memandang, perjuangan rakyat Palestina hakekatnya merupakan perjuangan mempertahankan sumber-sumber agraria yang berupa tanah yang terdiri dari apa yang ada di atas dan yang terkandung di bawahnya dari aneksasi Israel. Demikian juga perjuangan masyarakat Indonesia mempertahankan tanah-tanah pertaniannya, kawasan perkampungan dan desa dari aneksasi perusahaan transnasional melalui perluasan perkebunan, pertambangan, kehutanan dan kelautan merupakan perjuangan pembaruan agraria.

Sikap kepala batu Israel yang tidak mengindahkan proses perdamaian Palestina-Israel, hukum internasional, dan resolusi PBB, jelas akibat posisi kuatnya yang didukung negara agresor Amerika Serikat sehingga Israel kebal terhadap sanksi internasional. Bagi Amerika, inilah ujian pertama bagi presiden Barrack Obama atas sikapnya terhadap perdamaian di Timur Tengah khususnya di Palestina, terhadap tata dunia baru dan terhadap dunia Islam.

Gerak Lawan (Gerakan Rakyat Melawan Neo Kolonialisme dan Imperialisme) dengan ini menyatakan mengutuk perang kotor Israel. Sekaligus menuntut segera ditariknya serdadu-serdadu Israel dari wilayah Palestina dan menuntut pertanggungjawaban Israel atas korban-korban peluru dan bom-bom Israel.

Seruan-seruan solidaritas kepada rakyat Palestina yang diserukan oleh organisasi-organisasi masyarakat di Indonesia, selayaknya ditanggapi oleh pemerintah untuk disuarakan di level internasional. Mengingat mandat dari Pembukaan UUD 1945 "bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan," serta salah satu tujuan pendirian negara Indonesia adalah "ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial." Selain itu pemerintah Indonesia, dan juga berbagai pemerintahan di dunia lainnya juga memiliki kewajiban internasional HAM – sebagaimana yang diatur dalam berbagai perjanjian internasional bidang HAM- guna melindungi penduduk sipil non combantant terlebih lagi anak-anak.

Pemerintah Indonesia selain karena mandat-mandat tersebut di atas, juga sebagai negara pemrakarsa Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non Blok serta pengalaman Indonesia di Dewan HAM dan Dewan Keamanan PBB, seharusnya bisa melakukan tindakan yang lebih maju guna menciptakan perdamaian di Palestina. Pemerintah dapat berinisiatif mengusulkan pemberian sanksi tegas kepada Israel melalui peranannya di organisasi konferensi Islam (OKI), organisasi negara produsen minyak (OPEC), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan memperluas solidaritas KAA menjadi KA3 (Konferensi Asia-Afrika-Amerika Latin) serta revitalisasi Gerakan Non Blok menjadi gerakan anti perang agresi yang mengatasnamakan perang terhadap teroris atau alasan lainnya. Dan yang lebih penting lagi adalah mendorong persatuan di antara faksi-faksi yang bertikai di Palestina khususnya antara FATAH Dan HAMAS

Dan kami gerakan sosial di Indonesia, akan menggalang solidaritas internasional para pembela HAM, gerakan petani, buruh, nelayan, lingkungan serta anti imperialisme dan anti utang luar negeri melakukan kampanye di dalam mekanisme PBB maupun dukungan kemanusiaan lainnya.

Jakarta, 31 Desember 2008

Kontak lebih lanjut hubungi
Gunawan - (Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif IHCS – Indonesian Human Rights Committee for Social Justice) - Mobile: 0815 847 45 469 - www.ihcs.or.id

Dani Setiawan - (Ketua KAU – Koalisi Anti Utang) - Mobile: 0812 967 1744 - www.kau.or.id

Gerakan Rakyat Melawan Neo Kolonialisme dan Imperialisme (GERAK LAWAN)


Serikat Petani Indonesia, Aliansi Petani Indonesia, Serikat Buruh Indonesia, Serikat Buruh Migran Indonesia, Serikat Nelayan Indonesia, Front Perjuangan Pemuda Indonesia, Solidaritas Perempuan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Indonesian Human Rights Committee for Social Justice, Koalisi Anti Utang, Konsorsium Pembaruan Agraria, Bina Desa, Institute for Global Justice, Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia, Sarekat Hijau Indonesia
Cicak-Cicak Bersatulah!







Sajak Perlawanan Kaum Cicak


karya Tulus Wijanarko

Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati

Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling

Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal

Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang

Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot

Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri

Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara

karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti

kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!

28/09








Negeri Para Bedebah

karya Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan





______

CICAK NGUNTAL BOYO
BY CHEBOLANG*

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

INI CERITA NEGERI BEDEBAH
PEMIMPINYA HIDUP MEWAH
TAPI RAKYATNYA MAKAN SUSAH
HASIL DARI MENGAIS SAMPAH

DI NEGERI PARA BEDEBAH
YANG BAIK DAN BERSIH BISA SALAH
KEBOHONGAN ITU LUMRAH
RAKYAT KECIL HANYA BISA PASRAH

BUBRAH! PARAH!
BUBRAH! PARAH! BUBRAH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

RAKYAT MENCARI PIMPINAN
KETEMUNYA JURAGAN
RAKYAT MENCARI IMAM, YA IMAM
KETEMUNYA TUAN

MAKA JANGAN-LAH JANGAN HERAN
JIKA ADA MAFIA DI PERADILAN
JUAL BELI PASAL DAN HUKUMAN
YANG KUAT BAYAR PASTI MENANG

KATANYA JAMAN SUDAH REFORMASI
TAPI HUKUM MASIH BISA DIBELI
JADI BARANG DAGANGAN, OBYEK KORUPSI
NGGAK PUNYA MALU DAN HARGA DIRI

KALIAN KIRA SELAMANYA RAKYAT KITA BODOH
JIKA RAKYAT MARAH TIRANI PASTI AKAN ROBOH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

BIBIT ITU TUNAS
CANDRA ITU SINAR
YANG MENJADI SIMBOL
TEGAKNYA KEADILAN

LANGKAH KECIL TELAH DIMULAI
DARI BAYI BERNAMA DEMOKRASI
KEADILAN TAK BISA DITAWAR LAGI
KEPASTIAN HUKUM ADALAH HARGA MATI

MUNGKIN KITA CAPEK REVOLUSI
MUNGKIN KITA BOSAN DEMONSTRASI
TAPI JANGAN PERNAH BERHENTI
PALING TIDAK TUNJUKAN RASA PEDULI
UNTUK INDONESIA YANG KITA CINTAI

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO


LINK DOWNLOAD
http://www.mediafire.com/file/y2yz5yowm3z/CICAK NGUNTAL BOYO (FINAL RELEASE).mp3

atau bisa juga di MyBand Aplication di facebook yang bersangkutan
http://www.facebook.com/chebolang?v=app_2405167945&ref=profile







serial foto selengkapnya

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI