(posting yang anda cari ada di bawah gallery hot spot ini)

SERUAN AKSI


Dukung Deklarasi Klimaforum 2009 (Forum TandIngan COP 15) Copenhagen



Kami Butuh Perubahan Sistem – Bukan Perubahan iklim

Perundingan COP 15 UNFCCC memasuki detik-detik terakhir, masyarakat sipil mengkhawatirkan COP 15 jauh dari harapan menyelamatkan manisia dari ancaman dampak perubahan iklim. Ratusan organisasi masyarakat sipil menggelar Forum tandingan sejak COP dimulai dalam Klimaforum. Perwakilan sekitar 67 negara datang ke Foum ini. Salah satu yang mereka hasilkan adalah Deklarasi Klimaforum 2009: Kami Butuh Perubahan Sistem Bukan Perubahan Iklim.


Kami membutuhkan dukungan anda menjadi penandatangan deklarasi Klimaforum, cantumkan dukungan anda di


http://spreadsheets.google.com/viewform?hl=da&formkey=dHdJS0dWM2ZoUE1zM0xVM3BRXzlQU0E6MA


selengkapnya Deklarasi Klimaforum 2009 (Edisi Indonesia)



Aksi Kampung Pengungsi Keadilan Iklim di Kedubes AS : US is Carbon Mafia Leader


Cicak-cicak Bersatulah!


Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi


Dokumen Lengkap Kesimpulan dan Rekomendasi Tim Delapan


Pidato Presiden Terkait Kasus Century dan Bibit-Chandra


Laporan Lengkap Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK Atas Kasus PT Bank Century, Tbk


Ringkasan Hasil Audit BPK Atas Bank Century dan Kajian Lengkap ICW (Public Accountability Review – Kasus Bank Century : SKEMA INDIKASI KORUPSI KASUS BANK CENTURY)


Kumpulan Artikel Opini Terkait di Media Massa (Sejak 30 Oktober),


Skandal Century, Disfungsi Presiden & Turbulensi Politik : Menakar Potensi Gerakan Ekstra Parlementer, People’s Power dan Lahirnya Kekuatan Politik Alternatif (Artikel Pilihan)


Politik Pelemahan KPK di Era Presiden SBY (+ Identifikasi 13 Jurus Melumpuhkan KPK)

Laporan Independen Versi Masyarakat tentang Implementasi Konvensi PBB Tentang Pemberantasan Korupsi (UNCAC)




Mahkamah Rakyat : NEGARA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PELANGGARAN HAM DAN PENYELEWENGAN UANG RAKYAT

KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)


KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)

baca juga


BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI

Kumpulan 80 Artikel Opini dan E-Book Tentang (Lawan) Neoliberalisme



Sabtu, 28 Februari 2009

Update Informasi Pemilu dari TAPOL

Kawan-kawan,
TAPOL dengan ‘Election Project’ nya setiap akhir bulan telah dan akan terus mempublikasikan update informasi tentang pemilu dan pengaruhnya terhadap transisi demokrasi di Indonesia. Tiap update akan terdiri dari satu artikel (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) terkait isu-isu kunci di seputar pemilu. Beberapa isu akan terkait Aceh, Papua Barat, peran perempuan dalam pemilihan umum, kandidat dan parlemen termasuk pula laporan tentang pemilu dan implikasi terhadap transisi demokrasi di Indonesia.

Tapol adalah lembaga yang bekerja untuk mempromosikan perdamaian, hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Lembaga ini beralamat di 111 Northwood Road, Thornton Heath, Surrey, CR7 8HW. Kontak dapat dilakukan melalui Email: tapol@gn.apc.org.

Semoga ini makin memperkaya informasi tentang hajatan politik ini

salam

a. iswinarto
salah satu kontributor (relawan) foto untuk terbitan ini

selanjutnya silah kunjung

di http://tapol.gn.apc.org/elections.htm

atau langsung kunjung edisi sebelumnya di

Issue 4: Women in Parliament: Quotas and Beyond

Kabar Pemilu III : Perempuan Dalam Parlemen : Tak Sekedar Soal Kuota

Issue 3 : Money Politics at a Time of Financial Crisis

Kabar Pemilu III : Politik Uang di Tengah Krisis Keuangan

Issue 2 : The Multi-Choise Elections

Kabar Pemilu II : Pemilu Dengan Banyak Pilihan


Issue 1 : The Rise and Fall of Military Candidates in the Indonesian Elections


Kabar Pemilu I : Jatuh Bangunnya Calon-Calon Militer dalam Pemilu Indonesia


silah baca pula posting lainnya di lentera

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Jumat, 27 Februari 2009

Pada Awal Mula, Segala Sastra Adalah Religius

Catatan Lepas Dari Diskusi Sastra dan Pemberadaban (bag 1)

hikayat bulan dengan cahaya menyemut
hikayat kertas dengan aksara menyemut
hikayat doa dengan pasrah menyemut
hikayat hati dengan rasa menyemut

baca juga bagian dua dari artikel ini

Dalam diskusi ‘Sastra dan Pemberadaban’ yang diselenggarakan oleh Bale Satra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya, Putu Wijaya menyebutkan bahwa pemberadaban sangat potensial dimainkan oleh sastra tetapi juga agama, pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Menurut saya Putu agak kurang tepat menempatkan pendidikan di dalamnya. Bukan karena pendidikan tidak pokok dan penting untuk pemberadaban, tetapi lebih karena pendidikan adalah salah satu proses atau sarana untuk menjadikan ketiganya sastra, agama, ilmu pengetahuan ‘bekerja’ untuk perberadaban.

Demikian ketimbang menempatkan agama atau religi, menurut saya lebih tepat digunakan religiositas. Karena religiositas lebih dalam dan luas dari pada agama, seperti dikatakan oleh Romo Mangun agama lebih menunjukkan kelembagaan kebaktian kepada Tuhan atau kepada “dunia atas” dalam aspeknya tang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya serta keseluruhan organisasi tafsir Alkitab dan sebagainya yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan. Sedang religiositas menurutnya lebih melihat aspek yang “didalam lubuk hati”, riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa.

Tentunya ini bagi saya penting pula untuk mengakomodir pula sistim kepercayaan (kejawen misalnya), agama bumi atau orang-orang yang tidak mempercayai agama tetapi percaya atas eksistensi keTuhanan, atau bahkan orang-orang ateis yang bisa jadi adalah orang-orang dengan religiositas yang tinggi. Catatan menarik juga diberikan Mangunwijaya ketika mengutip pengarang roman dan cerpen Inggris terkenal Graham Greene, “There is far more religious faith in (communist) Russia than in (Christian) England.

Selanjutnya saya mengusulkan selain religiositas, sains dan sastra, filsafat mestinya adalah hal keempat yang punya potensi terhadap pemberadaban manusia. Saya meminjam ini dari catatan Anton Kurnia (sebagai editor) atas penerbitan buku Gunung Jiwa yang ditulis oleh Gao Xingjian pemenang nobel sastra tahun 2000, walau saya telah menempatkan religiositas sebagai ganti agama.

Dalam catatannya Anton menyebutkan “konon, ada empat jalan menuju ‘kesejatian’ : agama, filsafat, sains dan sastra”. Dan menurutnya melalui Gunung Jiwa, kita bisa menapaki jejak-jejak keempat jalan setapak itu. Baginya Gunung Jiwa adalah sebuah novel yang religius, filosofis, ilmiah sekaligus indah.

Dititik inilah saya melihat keunggulan sastra yang mampu merangkum atau meminjam kembali Putu sastra adalah eksistensi manusia dalam seluruh dimensinya.

Menurutnya banyak bukti bahwa sastra mendahului pencapaian ilmu pengetahuan untuk membuka adab manusia ke depan. Jelas pula bahwa sastra bukanlah risalah ilmiah walaupun memiliki kandungan pengetahuan, lanjutnya.

Juga saya kutip pernyataan Mangunwijaya dalam bab pertama bukunya Sastra dan Religiositas (Kanisius 1988) untuk menunjukan kelapangan dan potensi merangkul sastra, Pada Awal Mula, Segala Sastra Adalah Religius. (barangkali bisa dikatakan juga pada awal mula, segala sastra adalah filosofis, tetapi tentu tidak bisa pada awal mula segala sastra adalah ilmiah).

(bersambung)

Andreas Iswinarto
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com

baca juga
KEGAGALAN SASTRA DALAM PEMBERADABAN - Putu Wijaya

Sastra dan Perberadaban di Indonesia (Jakob Sumardjo)


Sastra dan Pemberadaban: Hasil Survey terhadap Pembaca Sastra

Kamis, 26 Februari 2009

Pemilu 2009 : Politik Uang dan Krisis Keuangan



kibar-kibar bendera, pesta dan kemiskinan
foto : a.iswinarto

Kawan-kawan,
TAPOL dengan ‘Election Project’ nya mulai bulan September setiap akhir bulan akan mempublikasikan update informasi tentang pemilu dan pengaruhnya terhadap transisi demokrasi di Indonesia. Tiap update akan terdiri dari satu artikel (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) terkait isu-isu kunci di seputar pemilu. Beberapa isu akan terkait Aceh, Papua Barat, peran perempuan dalam pemilihan umum, kandidat dan parlemen termasuk pula laporan tentang pemilu dan implikasi terhadap transisi demokrasi di Indonesia.

Menurut saya baiklah pula kita menyimak update Tapol ini untuk memperkaya wacana, analisis kita tentang pemilu, ham dan demokratisasi di Indonesia dari kalangan simpatisan yang relatif berjarak dengan proses pemilu itu sendiri.

TAPOL : Promoting peace, human rights and democracy in Indonesia
111 Northwood Road, Thornton Heath, Surrey, CR7 8HW
Email: tapol@gn.apc.org


Kabar Pemilu No 3
Politik Uang di Saat Krisis Keuangan

Kurang dari dua bulan lagi rakyat Indonesia akan memberikan suara dalam pemilu di bulan April 2009 untuk ketiga kalinya sejak pulihnya demokrasi tahun 1998 sementara kampanye sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Tak kurang dari 38 partai politik turut ambil bagian dan surat kabar sarat dengan pemberitaan tentang kampanye di seluruh negara ini untuk mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Memenangkan kursi DPR itu penting untuk dapat turut menentukan siapa yang akan menjadi presiden RI berikutnya. Pemerintahan Indonesia sekarang berjalan dengan perpaduan sistem presidensial dan sistem multi-partai. Nominasi untuk presiden hanya dapat dilakukan oleh partai yang terwakili dalam DPR.

selanjutnya


Kabar Pemilu I : Jatuh Bangunnya Calon-Calon Militer dalam Pemilu Indonesia


Kabar Pemilu II : Pemilu Dengan Banyak Pilihan



baca pula posting lain di lentera

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Identitas Partai-Partai Politik di Pemilu 2009

TAPOL dengan ‘Election Project’ nya mulai bulan September setiap akhir bulan akan mempublikasikan update informasi tentang pemilu dan pengaruhnya terhadap transisi demokrasi di Indonesia. Tiap update akan terdiri dari satu artikel (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) terkait isu-isu kunci di seputar pemilu. Beberapa isu akan terkait Aceh, Papua Barat, peran perempuan dalam pemilihan umum, kandidat dan parlemen termasuk pula laporan tentang pemilu dan implikasi terhadap transisi demokrasi di Indonesia.

Menurut saya baiklah pula kita menyimak update Tapol ini untuk memperkaya wacana, analisis kita tentang pemilu, ham dan demokratisasi di Indonesia dari kalangan simpatisan yang relatif berjarak dengan proses pemilu itu sendiri.

TAPOL : Promoting peace, human rights and democracy in Indonesia
111 Northwood Road, Thornton Heath, Surrey, CR7 8HW
Email: tapol@gn.apc.org

Kabar Pemilu No 2
PEMILU DENGAN BANYAK PILIHAN

2009 merupakan tahun penting bagi reformasi di Indonesia, yang berawal di tahun 1998 setelah jatuhnya rejim diktaktor Suharto. Pada tanggal 9 April 2009, pemilu akan diadakan bagi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). Tiga bulan kemudian, putaran pertama pemilihan langsung akan diadakan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Tak kurang dari 38 partai politik akan turut serta dalam pemilihan anggota legislatif. Sepuluh tahun yang lalu, barulah Indonesia bangkit dari apa yang pada dasarnya merupakan sistem satu partai.

selanjutnya


Kabar Pemilu I : Jatuh Bangunnya Calon-Calon Militer dalam Pemilu Indonesia

Kabar Pemilu III : Politik Uang di Tengah Krisis Keuangan


silah baca pula posting lainnya di lentera

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Kandidat “Militer” dan Pemilu 2009



sunset atau kebakaran hutan atau api perang?
foto : a. iswinarto

Kawan-kawan,
TAPOL dengan ‘Election Project’ nya mulai bulan September setiap akhir bulan akan mempublikasikan update informasi tentang pemilu dan pengaruhnya terhadap transisi demokrasi di Indonesia. Tiap update akan terdiri dari satu artikel (dalam bahasa Inggris dan Indonesia) terkait isu-isu kunci di seputar pemilu. Beberapa isu akan terkait Aceh, Papua Barat, peran perempuan dalam pemilihan umum, kandidat dan parlemen termasuk pula laporan tentang pemilu dan implikasi terhadap transisi demokrasi di Indonesia.

Menurut saya baiklah pula kita menyimak update Tapol ini untuk memperkaya wacana, analisis kita tentang pemilu, ham dan demokratisasi di Indonesia dari kalangan simpatisan yang relatif berjarak dengan proses pemilu itu sendiri.

TAPOL : Promoting peace, human rights and democracy in Indonesia
111 Northwood Road, Thornton Heath, Surrey, CR7 8HW
Email: tapol@gn.apc.org


Kabar Pemilu No 1
Jatuh Bangunnya Calon-Calon Militer dalam Pemilu Indonesia

Issue 1, September 2008

Pemilu adalah indikasi beberapa hal: popularitas atau terpuruknya pemerintah dan kecenderungan politik lainnya. Dalam negara yang kompleks seperti Indonesia, pemilu juga melibatkan usaha kelompok dalam elit yang berkuasa untuk mempertahankan kemenangannya atau upaya mereka yang telah tenggelam untuk tampil kembali. Sejak jatuhnya Suharto tahun 1998, elit militer telah banyak kehilangan kekuatan politiknya dan sekarang mereka secara resmi disingkirkan dari arena politik. Karena itu bukan suatu kebetulan kalau banyak pensiunan perwira, terutama mantan jenderal angkatan darat, yang ingin kembali ke panggung politik. Banyak yang sudah menjadi calon legislatif dalam pemilu 2009 sementara beberapa kaliber berat telah melangkah menuju pemilihan presiden yang akan diadakan kemudian pada tahun depan.

selanjutnya



Kabar Pemilu II : Pemilu Dengan Banyak Pilihan


Kabar Pemilu III : Politik Uang di Tengah Krisis Keuangan




silah baca pula posting lainnya di lentera

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Jumat, 20 Februari 2009

97 Karya Terjemahan Pemenang Nobel Sastra

Kawan-kawan, dari perburuan saya tertangkap tangan 29 pengarang peraih hadiah nobel kesusastraan yang karya-karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia (dengan total 97 buku).

Saya berniat untuk membaca dan membaca lagi / mempelajari karya-karya sastra ini. Senang sekali bila kawan-kawan tertarik juga untuk mendiskusikannya bersama.

Saya juga terpikir untuk membuat sekedar tinjauan atas karya-karya ini, rangkuman penjelasan/argumentasi panitia nobel, biografi, serta pidato dari para pemenang nobel yang bersangkutan (saya membatasi diri untuk pemenang nobel yang karyanya sudah diterjemahkan)

Pembelajaran ini syukur-syukur nantinya bisa bermanfaat sebagai inspirasi bagi para pengarang muda dan para mahasiswa sastra serta peminat sastra pada umumnya.

Salam hangat,
andreas iswinarto - pembaca karya sastra

kerja.pembebasan@gmail.com

NB :
Saya mohon kesediaan kawan-kawan untuk memberikan informasi bila ada karya terjemahan lainnya yang belum terdata.

Untuk daftar pemenang nobel sastra sejak tahun 1901-2008 silah kunjung
http://almaz.com/nobel/literature/


Karya Terjemahan Pemenang Nobel Kesusastraan

2006 - Orhan Pamuk

Istambul, Serambi 2009
Snow, Serambi 2008
New Life, Serambi 2008
White Castle, Serambi 2007
My Name is Red, Serambi

2004 Elfriede Jelinek

Sang Guru Piano, KPG 2006

2003 - J. M. Coetzee

Aib, Jalasutra 2005
Kisah Hidup Michael K, Jalasutra 2003
Jeritan Hati Nurani, Yayasan Obor Indonesia 1999

2002 Imre Kertesz

Fateless, Bentang 2005

2001 - V. S. Naipaul

Sebuah Rumah Untuk Tuan Biswas, Jalasutra 2003
Mencari Titik Pusat, Sadasiva 2003

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia

## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua






2000 - Gao Xingjian

Gunung Jiwa, Jalasutra 2003

1994 - Kenzaburo Oe

Jeritan Lirih, Jalasutra 2004

1993 - Toni Morrison

Cinta, Serambi 2005

1990 Oktavio Paz

Puisi dan Esai Pilihan, Bentang 2002

1989 - Camilo Jose Cela
Keluarga Pascual Duarte, Gramedia Pustaka Utama, 1996

1988 - Naguib Mahfouz

Pengemis, Grafiti 1996
Lorong Midaq, Yayasan Obor Indonesia, 1996
Awal dan Akhir I dan II, Yayasan Obor Indonesia, 2001
Aku Musa, Engkau Firaun, Tarawang, 2000
Kabar Dari Penjara, Tarawang 2000
Hari Terbunuhnya Presiden, Fajar Pustaka Baru 2000
Di bawah Bayang-bayang Perang, Fajar Pustaka Baru 2000
Zahiya, Tarawang 2000
Hotel Miramar, Fajar Pustaka Baru 2001
Demit, Pustaka Alief 2003
Harafisy, Bentang 2004
Cinta di Kota Terlarang, Bentang
Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, Bentang 2002
Lelaki dalam Pasungan, Jendela 2003
Karnak Cafe, Alvabet 2008

1982 - Gabriel García Márquez

Selamat Jalan Tuan Presiden, Bentang 1999
Seratus Tahun Kesunyian, Bentang 2003
Sang Jenderal dan Labirinnya, Jalasutra 2004
Klandestin di Chile, akubaca 2002
Tumbangnya San Diktator, Yayasan Obor Indonesia 1992
Wanita Yang datang Pukul 6 (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
1971 - Pablo Neruda

Nyanyian Revolusi, Jalasutra Jakarta 2001
Para pemalas dan Putri Duyung, Forum Sastra Bandung 1996

1970 - Alexandr Solzhenitsyn

Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich, Pustaka Jaya 1976
Gulag, Bentang 2005

1969 Samuel Beckett

Menunggu Godot, Bentang 1999

1968 - Yasunari Kawabata

Keindahan dan Kesedihan, Jalasutra 2003
Seribu Burung Bangau, Bentang Budaya 2001.
Rumah Perawan, 1977

1964 - Jean-Paul Sartre

The Age of Reason, Jendela 2002
Kata-kata, Gramedia 2001
Dinding (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
Pintu Tertutup,1979
Pelacur, 1954

1962 - John Steinbeck

Sebuah Impian Lennie, Ufuk Press 2006
Tikus dan Manusia, Lentera 2005
Amarah 1 dan 2, Yayasan Obor Indonesia 2000
Bunga-bunga Krisan (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
Cannery Row, Sumbu
Dataran Tortilla, Pustaka Jaya 1977
Kena Gempur, 1951

1958 - Boris Pasternak

Dr Zhivago, Djambatan 1960
Manusia Sejati, 1959

1957 - Albert Camus

Orang Aneh,Nusa Indah-Matahari 1980
Orang Asing, Penerbit Djambatan 1984
Sampar, Yayasan Obor Indonesia 1985
Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, Gramedia 1999
Pemberontak [The Rebel, Bentang Budaya 2000.
La Chute,Tinta 2004

1954 - Ernest Hemingway

To Have and Have Not, Selasa Publishing 2009
Lelaki Tua dan Laut, Selasar Publishing 2008
Angkatan Kelima, Pedati 2003
Salju Kilimanjaro, Yayasan Obor Indonesia2002
Pertempuran Penghabisan, Yayasan Obor Indonesia 1997

1950 Bertrand Russel

Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar 2006
Pergelokan Pemikian, Yayasan Obor Indonesia 1991

1947 - Andre Gilde

Pendidikan Istri (Yayasan Obor Indonesia 2008)

1946 - Hermann Hesse

Sidharta, Bentang 2002

Perjalan ke Timur, Tirai 2004
Demian, Mata Angin


1938 - Pearl Buck

Angin Timur Angin Barat 2009
Bumi Yang Subur, Gramedia 2008
Wang Si Macan, Gramedia 2008
Runtuhnya Dinasti Wang 2008
Maharani, Gramedia 2007
Mandala, Gramedia 2007
Peony, Gramedia 2006
Madame Wu, Gramedia

1934 - Luigi Pirandello

Cerita-cerita dari Sisilia, Jalasutra 2004
Pidato Nobel dan 3 Cerita Pilihan, Yayasan Akubaca 2001

1825 George Bernard Show

Manusia AdiManusia, Bentang

1920 - Knut Hamsun

Lapar, Yayasan Obor Indonesia 1993

1913 - Rabindranath Tagore

Gitanjali, Pustaka Jaya
Sanyasi, 1979
Anak,1979
Tukang Kebun, Pustaka Jaya, 1996
Bhimala, Jejak 2008
Bulan Sabit, Bentang 2003
Siul Gelombang, Bentang 2003
Batu-batu Lapar, Bentang 2003
Masa Kecilku, Bentang 2003
Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, Bentang 2003

Selasa, 17 Februari 2009

99 wajahNya

garis tipis putih
menapak hingga cakrawala
setiap bumi bisu
setiap langit sunyi
hingga tiba gumam guru tari, silat dan agama
setiap kata persis sama
terpancang pada garis
gumam bergetar pada baris
menegang
meninggi
lalu meledak di cakrawala
kepingannya pecah
dan kita kembali mengenali ke 99 wajahNya

(hanya taman bermain kata-kata)
10.2.2009

puisi-puisi lain....

awal perjamuan

anak sungai budha


hikayat bulan (1-11)

ranting bengkirai

monumen itu tidak sama lagi

Jumat, 13 Februari 2009

Newmont Perusahaan Terburuk 2009 - The Public Eye People"s Award

Perusahaan tambang emas Newmont AS akhirnya dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok

http://www.publiceye.ch/en/p63000203.html

http://www.publiceye.ch/en/p63000162.html (kandidat-nominator)

http://www.youtube.com/watch?v=rHoius6IREE

Kamis, 12 Februari 2009

keramaian di sekitar istana

baca juga
Rekam Jejak pelanggaran Hak Asasi Manusia Capres-cawapres 2009
http://www.prakarsa-rakyat.org/download/HAM/REKAM%20JEJAK%20PELANGGARAN%20HAK%20ASASI%20MANUSIA.doc



JEJAK REKAM PARA CAPRES DI BIDANG LINGKUNGAN & PILIHAN BAGI GERAKAN LINGKUNGAN DI INDONESIA

Oleh George Junus Aditjondro(1)

(dapat dihubungi di email georgejunusaditjondro@gmail.com)

PENGANTAR:
Mana partai yang paling punya jejak rekam peduli lingkungan?
Mana capres & cawapres yang punya jejak rekam peduli lingkungan?
Dari mana para capres & cawapres membiayai kampanye mereka: dari hasil pembalakan liar, konsesi hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan pulp dan kertas, pertambangan batubara, atau mana dan dari siapa?


REKAM JEJAK JUSUF KALLA, SALAH SATU CAPRES PARTAI GOLKAR:

Kepentingan JK tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekspansi bisnis keluarga besarnya, karena Indonesia tidak punya peraturan yang melarang konflik kepentingan jabatan publik dengan kepentingan bisnis pribadi dan keluarga serta sahabatnya.

Ada empat kelompok perusahaan yang dikuasai oleh JK (kelompok Bukaka & Hadji Kalla), iparnya, Aksa Mahmud yang Wakil Ketua MPR-RI (kelompok Bosowa), dan adiknya, Halim Kalla (kelompok Intim). Dengan demikian, ekspansi keempat kelompok itu tidak terlepas dari peranan JK dan Aksa Mahmud di arena ekonomi dan politik.

Salah satu spesialisasi kelompok Bukaka dan Hadji Kalla adalah dalam pembangunan PLTA, namun jejak rekam kelompok Bukaka dan kelompok Hadji Kalla di bidang itu tidak begitu bagus: PLTA Poso (rencana 780 MW) mulai dibangun sebelum ada AMDAL yang memenuhi syarat. Juga jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Eksa Tinggi)nya ke Sulawesi Selatan & Tenggara dibangun tanpa AMDAL.

Di DAS Peusangan di Tanah Gayo, Aceh, “pembebasan” tanah di masa DOM dirasa sangat tidak adil. Tapi ada kemungkinan oposisi rakyat akan dilawan oleh PETA (Pembela Tanah Air), milisi bentukan TNI, yang sekarang membantu TNI melakukan represi terhadap rakyat dan caleg-caleg partai-partai lokal, terutama PA (Partai Aceh) bentukan GAM.

Pembangunan PLTA Peusangan I akan menghancurkan nafkah penduduk yang bertani ikan mas di karamba-karamba di hulu Sungai Peusangan. Mereka sudah dilarang oleh PLN bertani ikan mas di situ, tapi mereka masih bertahan. Belum lagi dampak PLTA Peusangan II nantinya.

Setelah berkunjung ke RRT, JK sangat berambisi mendorong pembangunan 19 PLTU berkapasitas total 10.000 MW di berbagai tempat di Indonesia. Program ini bukan mendorong pengembangan enerji terbarukan yang bersih, tapi justru mendorong pembakaran batubara yang sangat menyumbang pemanasan global. Namun tetap juga program ini didukung oleh JK.

Maklumlah, kelompok-kelompok Bukaka, Bosowa , dan Intim termasuk paket kontraktor pembangunan 19 PLTU itu. Kelompok Bosowa mendapat order pembangunan PLTU Jeneponto di Sulsel, tanpa tender (Rakyat Merdeka, 7 Juni 2006), sedangkan kelompok Intim milik Halim Kalla yang juga salah seorang Komisaris Lion Air akan membangun PLTU berkapasitas 3 x 300 MW di Cilacap, Jateng, dengan bahan baku batubara yang dipasok dari konsesi pertambangan batubara seluas 5.000 ha milik kelompok Intim di Kaltim (GlobeAsia, Sept. 2008, hal. 38).

Setelah 22 DPD Golkar mendukung pencalonan JK sebagai Capres, kita perlu lihat kiprah para pendukung JK di pucuk pimpinan Golkar, seperti Surya Paloh, ketua Dewan Penasehat Golkar. Reputasi Surya Paloh di Aceh di bidang lingkungan sangat buruk, karena Kelompok Media yang dipimpinnya membuka tambang emas, tambang batubaru, dan PLTU di Kabupaten Nagan Raya, Aceh bagian Barat, tanpa AMDAL dan tanpa menghormati pemerintah Gampong dan Mukim, seperti digariskan dalam MoU Helsinki dan UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.


REKAM JEJAK SBY, CAPRES PARTAI DEMOKRAT:

Jejak rekam SBY di bidang lingkungan sangat tersembunyi, sebab SBY ‘hanya’ berperan sebagai pelindung berbagai kelompok bisnis besar, terutama kelompok Artha Graha (AG). T.B. Silalahi, penasehat presiden di bidang pertahanan, juga eksekutif kelompok AG dbp Tomy Winata. Melalui mitra bisnisnya di Sumut, AG mengelola perkebunan kelapa sawit PT First Mujur Plantation di Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu.
Artha Graha juga milik Sugianto Kusuma (‘Aguan’), pemilik PT Agung Sedayu Permai, holding company Agung Sedayu Group.

Artha Graha dan Agung Sedayu Permai banyak membangun gedung perkantoran & perumahan elit, yang tiap hari diiklankan di layar televisi.

Kurang disadari dampak lingkungan properti-properti mewah itu, yaitu:
(a) pembukaan lahannya menggusur rakyat kecil yang terpaksa bermukim di pinggir kali yang sangat tidak sehat;
(b) sangat rakus air tanah (membuat rakyat kecil tergantung pada air kemasan); dan
(c) ikut menyemburkan udara panas yang menaikkan suhu udara kota Jakarta.
Berlindung di balik nama SBY ada dua yayasan, yakni (1) Yayasan Puri Cikeas & (2) Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam.

Orang-orang dekat SBY menjadid pembina atau pengawas yayasan-yayasan itu. Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas = Jero Wacik, Menteri Pariwisata dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ketua Pengawas Yayasan Nurussalam = Brigjen Kurdi Mustofa, Sekpri SBY.

Adik ipar (Hartanto Eddie Wibowo) dan anak bungsu SBY (Eddy Baskoro Yudhoyono) menjadi fungsionaris Yayasan Nurussalam. Hartanto, bendahara, Baskoro, sekretaris.

Sejumlah pengusaha era Orde Baru menjadi fungsionaris kedua yayasan itu, seperti Sukamdhani dan putera mahkotanya, Hariadi Sukamdani (Sahid Group), serta Tanri Abeng dan anaknya, Emil Abeng, serta Aziz Mochdar (Bimantara). Sukamdhani dan Tanri Abeng di Yayasan Cikeas, sedangkan Aziz Mochdar (ipar Yayuk Habibie, adik bungsu BJ Habibie) di Yayasan Nurusalam.

Ada juga pengusaha yang berlindung di balik fungsionaris Yayasan Nurussalam, seperti Gunawan Yusuf (Makindo), kompetitor Salim Group dalam perkebunan tebu di Lampung.

Menteri Lingkungan era SBY-JK, Rachmat Witoelar, memberikan label hijau kepada beberapa konglomerat perusak lingkungan, yakni RGM, Sinar Mas, dan Freeport Indonesia, Inc.

Ekspansi konglomerat- konglomerat yang dekat dengan JK (pernah sama-sama jadi penggalang dana Golkar, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Hartati Murdaya) ikut berekspansi di era SBY-JK, walaupun di tahun-tahun pertama kejatuhan Soeharto mereka masih berhutang besar pada bank-bank negara.

Kelompok Medco yang 60% milik keluarga Arifin Panigoro (40% milik Mitsui & Mitsubishi) berkembang dari migas (Sulteng, Aceh), PLT panas bumi di Sarulla (Sumut), kelapa sawit (Kalteng, Papua), paper dan pulp di Merauke (Papua), s/d rencana PLTN di Jepara (Jateng).

Namun blunder terbesar kroni-kroni JK adalah ekspansi bisnis keluarga Bakrie di bidang energi (Mega Energi Persada, Bumi Resources, Kondur Petroleum) yang mengakibatkan tragedi Lapindo bagi rakyat Jawa Timur, malapetaka lingkungan paling kurang ajar selama rezim SBY-JK!!


REKAM JEJAK MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, CAPRES PDI-P:

Sewaktu masih jadi oposisi di era Soeharto, PDI sekutu gerakan lingkungan dalam menentang pembangunan PLTN. Sesudah jadi Presiden, tidak terdengar suara PDI-P di bidang itu.

Setelah Mega jadi Presiden, keluarga Soekarno-Kiemas, Kiemas bersaudara punya 13 SPBU di wilayah Jabodetabek, di antaranya ada yang menerobos jalur hijau.

Sony Keraf, seorang kader PDI-P yang diangkat menjadi Menteri Lingkungan di era Presiden Gus Dur, bersuara keras terhadap perusahaan-perusaha an perusak lingkungan. Misalnya, terhadap PT TPL (Toba Pulp Lestari) dan PT Freeport Indonesia. Tapi akibat desakan rekan-rekan separtai, Keraf tidak bersuara keras lagi.

Setelah diganti oleh Megawati Soekarnoutri dengan Nabiel Makarim, Sony Keraf yang masih dipilih menjadi anggota Fraksi PDI-P di DPR-RI, ia bahkan tidak bersuara menghadapi rencana tambang emas di P. Lembata, kampung halamannya, walaupun rencana itu ditentang oleh rakyat dan para rohaniwan OFM & SVD.


REKAM JEJAK PRABOWO SUBIANTO, CAPRES GERINDRA:

Dengan mengambilalih konsesi Kiani Group seluas 53 ribu ha dari Bob Hasan, Prabowo ikut melanggengkan penghancuran hutan Kaltim.

Di Aceh, Prabowo & adiknya, Hasyim Djojohadikusumo menguasai hutan seluas 97 ribu ha di Aceh Tengah melalui PT Tusam Hutan Lestari, sumber bahan baku pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh (KKA). Padahal pinus sangat tidak ramah lingkungan.

Di Kaltim, kakak beradik Prabowo & Hashim menguasai lebih dari satu juta hektar konsesi hutan dan tambang batubara, dan masih berencana membuka 700 ribu ha kebun aren (Warta Ekonomi, 9-22 Maret 2009, Laporan Khusus tentang Duet Bisnis & Politik, Hashim Djojohadikusumo & Prabowo Subianto).

Di Papua, Hashim, mengeksplorasi gas dari Blok Rombebai seluas 11.5900 km2 di Kabupaten Yapen , yang diperkirakan memiliki kandungan gas lebih dari 15 trilyun kaki kubik (idem), dan dapat berdampak negatif bagi nelayan di Teluk Sairera.

Masih di Papua, Hashim berencana membuka perkebunan padi (rice estate) seluas 585 ribu ha dan perkebunan aren seluas 800.000 ha di Kabupaten Merauke (idem).

Berarti, bersama adiknya, Hashim Djojohadikusumo, Prabowo Subianto sudah menguasai lebih dari tiga juta hektar perkebunan, konsesi hutan, tambang batubara dan ladang migas dari Aceh sampai ke Papua, dan masih berencana membuka 1,5 juta hektar lagi di Kaltim dan Merauke.


REKAM JEJAK WIRANTO, CAPRES PARTAI HANURA:

Hampir seluruh bisnisnya dijalankan oleh proxies, tanpa menampilkan nama Wiranto. Kalau mau selidiki kekayaannya, sebaiknya selidiki kekayaan pengurus Partai Hanura.
Sejak menjadi Pangdam V Jaya, Wiranto sering mendapat apartemen gratis di berbagai tower (menara pertokoan dan perumahan) mewah. Yang terbaru dan termahal adalah penthouse di Da Vinci Tower di Jl. Jendral Sudirman, milik Antonio (“Tony”) Munafo, Presiden Da Vinci Eropa yang sering datang dari Singapura.

Wirantolah orang yang mendorong pemekaran kembali Kodam yang dulu diciutkan oleh Benny Murdani dari enambelas menjadi sepuluh Kodam. Lewat berbagai pertumpahan darah, Kodam Pattimura dan Kodam Iskandar Muda telah lahir kembali. Setelah konflik Poso, jumlah Batalyon di Sulteng telah dimekarkan dari satu menjadi tiga.

Berbagai bisnis kelabu itu punya dampak lingkungan yang sangat buruk, seperti pembalakan liar di TN Leuser, eksploitasi kayu hitam di Sulteng dan kayu gaharu di Papua Barat, serta perdagangan liar fauna dan flora langka di seluruh Nusantara.


REKAM JEJAK SUTIYOSO:

Sewaktu masih menjadi Gubernur DKI, Sutyoso merintis program Busway (Transjakarta) , dengan alasan untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan lalulintas di DKI. Kenyataannya, pengambilan satu jalur jalan di rute-rute yang ramai, justru memadatkan lalulintas lain di jalur yang tersisa. Masih diragukan apakah itu mengurangi kemacetan lalulintas dan mengurangi polusi udara.

REKAM JEJAK SULTAN HAMENGKU-BUWONO X, CAPRES PARTAI REPUBLIKAN:

Banyak orang tidak mengetahui bahwa berdasarkan warisan Belanda, Sultan Hamengku Buwono (HB) X menjadi penguasa tanah di seluruh wilayah DIY, bersama Paku Alam. Semua tanah yang bukan milik pribadi orang (eigendom), tergolong SG (Sultan’s Gronden) atau PAG (Paku Alam’s Gronden).

Sultan HB X dan isterinya, Ratu Hemas, tidak punya putera mahkota yang dapat ditahbiskan menjadi Sultan HB XI, sepeninggal HB X, sehingga HB X berusaha mewariskan sesuatu yang lain kepada kelima orang puterinya.

Tiga dari lima orang puteri HB X yang telah menikah, termasuk puteri tertua (Gusti Pembayun) dan puteri kedua, menikah dengan pelaku bisnis. Berbekal tanah kesultanan (SG), puteri-puteri HB X mengikuti jejak sebagian paman mereka, menjadi pebisnis, bermitra dengan orang luar DIY.

Gusti Pembayun menjadi mitra Sampoerna Group, yang telah membangun pabrik rokok di Kabupaten Bantul, menjaring konsumen rakyat bawah, dengan merek Kraton Dalem. Kongsi itu mendapatkan alokasi tanah untuk menanam tembakau di Bantul.

PT JMI (Jogja Magasa Iron), anak perusahaan PT JMM (Jogja Magasa Mining) milik Gusti Pembayun dan pamannya, GBPH Joyokusumo (adik HB X), menjadi mitra Indo Mines Ltd, suatu perusahaan pertambangan Australia yang terdaftar di bursa saham Perth, dalam rencana penambangan pasir besi, yang akan memotong areal sepuluh desa di Kabupaten Kulonprogo, DIY. Rencana itu ditentang rakyat setempat anggota Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo (Koran Tempo, 12 Nov. 2008, 12 Febr. 2009; Direct Action, Agustus 2008).

Ketika ribuan petani anggota PPLP melakukan unjuk rasa di depan Mendagri Mardiyanto dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Selasa, 17 Maret yang lalu, Freddy Numberi bukannya membela para petani pesisir tersebut. Ia menghimbau para calon korban gusuran proyek pertambangan pasir besi itu untuk “melihat ke depan”, karena kerjasama antara keluarga keratin dan kapitalis Australia itu “menguntungkan beberapa pihak”. “Penolakan warga itu hal biasa”, begitu ia tambahkan. Tampaknya kedua Menteri Kabinet Indonesia Bersatu itu tidak mau mempertimbangkan pertimbangan para petani pesisir, bahwa tanah mereka adalah tanah bersertifikat. Bukan tanah milik Sultan alias Sultan’s Gronden (Harian Yogya, 18 Maret 2009).


KESIMPULAN:

Dari uraian di atas, tampaklah bahwa tujuh orang calon presiden – SBY, JK, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Wiranto, Sutyoso, dan Sultan HB X -- , tidak dapat diharapkan mengatasi berbagai masalah lingkungan di Indonesia. Apa yang dapat diharapkan dari sudut pemeliharaan kelestarian lingkungan di Nusantara, apabila satu di antara mereka terpilih sebagai Presiden?

Sebaiknya kita mulai perhatikan agenda kampanye para capres dan cawapres alternatif, yang masih aktif dalam gerakan pro-demokrasi di Indonesia, seperti pasangan Rizal Ramli dan Eros Djarot, atau capres yang berasal dari partai-partai mapan, seperti Golkar, tapi berani melawan arus, seperti Marwah Daud Ibrahim dan Judy Chrisnandy.

Namun yang paling penting dan paling baik adalah: pilihlah capres alternatif yang sejak dini berani mengungkapkan siapa calon Menteri Lingkungannya, kemudian pilihlah calon presiden dan calon menteri lingkungan yang punya jejak rekam yang tetap setia pada pelestarian lingkungan, penegakan HAM, dan pemberantasan korupsi di Nusantara.

Yogyakarta, 30 Maret 2009


Catatan Belakang:
(1) Mantan Wakil Ketua Presidium WALHI; mantan Direktur YPMD-Irja; anggota Dewan Penasihat People’s Empowerment Consortium (PEC).

--
http://groups.yahoo.com/group/walhinews/message/12591

ajaib biru setelah api (1-2)




Cahaya Bukan Palu

kau ingin menyusun keping-keping cd
merekam rupa piano dan dentingnya
apakah semua benda selalu
punya denting di daun telinga
kita tahu telinga
dan tidak selalu berdaun
bahkan tak semua telinga
punya warna
tak semua telinga
dibelenggu ruang dan waktu

itu palu bagiku
kau seolah hendak menyelesaikan
sebuah menara
dari kepingan cd

tapi
tidakkah kerangka
bahkan menara itu tlah ada
jauh sebelum kapal-kepal melaut
dan tak ada cemas tentang karam

ya, mercu suar
cahaya bukan palu

api di satu senja yang lain (1-2)


api di satu senja (1-3)



Cicak-Cicak Bersatulah!







Sajak Perlawanan Kaum Cicak


karya Tulus Wijanarko

Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati

Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling

Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal

Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang

Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot

Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri

Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara

karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti

kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!

28/09








Negeri Para Bedebah

karya Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan





______

CICAK NGUNTAL BOYO
BY CHEBOLANG*

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

INI CERITA NEGERI BEDEBAH
PEMIMPINYA HIDUP MEWAH
TAPI RAKYATNYA MAKAN SUSAH
HASIL DARI MENGAIS SAMPAH

DI NEGERI PARA BEDEBAH
YANG BAIK DAN BERSIH BISA SALAH
KEBOHONGAN ITU LUMRAH
RAKYAT KECIL HANYA BISA PASRAH

BUBRAH! PARAH!
BUBRAH! PARAH! BUBRAH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

RAKYAT MENCARI PIMPINAN
KETEMUNYA JURAGAN
RAKYAT MENCARI IMAM, YA IMAM
KETEMUNYA TUAN

MAKA JANGAN-LAH JANGAN HERAN
JIKA ADA MAFIA DI PERADILAN
JUAL BELI PASAL DAN HUKUMAN
YANG KUAT BAYAR PASTI MENANG

KATANYA JAMAN SUDAH REFORMASI
TAPI HUKUM MASIH BISA DIBELI
JADI BARANG DAGANGAN, OBYEK KORUPSI
NGGAK PUNYA MALU DAN HARGA DIRI

KALIAN KIRA SELAMANYA RAKYAT KITA BODOH
JIKA RAKYAT MARAH TIRANI PASTI AKAN ROBOH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

BIBIT ITU TUNAS
CANDRA ITU SINAR
YANG MENJADI SIMBOL
TEGAKNYA KEADILAN

LANGKAH KECIL TELAH DIMULAI
DARI BAYI BERNAMA DEMOKRASI
KEADILAN TAK BISA DITAWAR LAGI
KEPASTIAN HUKUM ADALAH HARGA MATI

MUNGKIN KITA CAPEK REVOLUSI
MUNGKIN KITA BOSAN DEMONSTRASI
TAPI JANGAN PERNAH BERHENTI
PALING TIDAK TUNJUKAN RASA PEDULI
UNTUK INDONESIA YANG KITA CINTAI

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO


LINK DOWNLOAD
http://www.mediafire.com/file/y2yz5yowm3z/CICAK NGUNTAL BOYO (FINAL RELEASE).mp3

atau bisa juga di MyBand Aplication di facebook yang bersangkutan
http://www.facebook.com/chebolang?v=app_2405167945&ref=profile







serial foto selengkapnya

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI