(posting yang anda cari ada di bawah gallery hot spot ini)

SERUAN AKSI


Dukung Deklarasi Klimaforum 2009 (Forum TandIngan COP 15) Copenhagen



Kami Butuh Perubahan Sistem – Bukan Perubahan iklim

Perundingan COP 15 UNFCCC memasuki detik-detik terakhir, masyarakat sipil mengkhawatirkan COP 15 jauh dari harapan menyelamatkan manisia dari ancaman dampak perubahan iklim. Ratusan organisasi masyarakat sipil menggelar Forum tandingan sejak COP dimulai dalam Klimaforum. Perwakilan sekitar 67 negara datang ke Foum ini. Salah satu yang mereka hasilkan adalah Deklarasi Klimaforum 2009: Kami Butuh Perubahan Sistem Bukan Perubahan Iklim.


Kami membutuhkan dukungan anda menjadi penandatangan deklarasi Klimaforum, cantumkan dukungan anda di


http://spreadsheets.google.com/viewform?hl=da&formkey=dHdJS0dWM2ZoUE1zM0xVM3BRXzlQU0E6MA


selengkapnya Deklarasi Klimaforum 2009 (Edisi Indonesia)



Aksi Kampung Pengungsi Keadilan Iklim di Kedubes AS : US is Carbon Mafia Leader


Cicak-cicak Bersatulah!


Rekaman Audio Skenario Kriminalisasi Chandra-Bibit di Mahkamah Konstitusi


Dokumen Lengkap Kesimpulan dan Rekomendasi Tim Delapan


Pidato Presiden Terkait Kasus Century dan Bibit-Chandra


Laporan Lengkap Hasil Pemeriksaan Investigasi BPK Atas Kasus PT Bank Century, Tbk


Ringkasan Hasil Audit BPK Atas Bank Century dan Kajian Lengkap ICW (Public Accountability Review – Kasus Bank Century : SKEMA INDIKASI KORUPSI KASUS BANK CENTURY)


Kumpulan Artikel Opini Terkait di Media Massa (Sejak 30 Oktober),


Skandal Century, Disfungsi Presiden & Turbulensi Politik : Menakar Potensi Gerakan Ekstra Parlementer, People’s Power dan Lahirnya Kekuatan Politik Alternatif (Artikel Pilihan)


Politik Pelemahan KPK di Era Presiden SBY (+ Identifikasi 13 Jurus Melumpuhkan KPK)

Laporan Independen Versi Masyarakat tentang Implementasi Konvensi PBB Tentang Pemberantasan Korupsi (UNCAC)




Mahkamah Rakyat : NEGARA HARUS BERTANGGUNGJAWAB ATAS PELANGGARAN HAM DAN PENYELEWENGAN UANG RAKYAT

KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)


KPK dan Komnas HAM , Didesak Usut Tuntas Kasus Lumpur Lapindo - Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp.33 T)

baca juga


BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI

Kumpulan 80 Artikel Opini dan E-Book Tentang (Lawan) Neoliberalisme



Selasa, 31 Maret 2009

Krisis Ekonomi dan Money Politics : Awasi Program Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiskal Untuk Antisipasi Krisis!!

Awasi Money Politics Pogram Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiskal Antisipasi Krisis untuk Kepentingan Pemilu 2009

Dalam satu pernyataan persnya INFID mendesak kepada BAWASLU RI untuk secara serius mengantisipasi potensi pelanggaran Pemilu 2009 dalam pelaksanaan dan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan dan pengalokasian stimulus fiskal untuk antisipasi krisis, serta dana pendidikan yang langsung berkaitan dengan masyarakat tingkat dusun dan Rukun Warga (RW).

INFID menekankan bahwa hal yang juga bisa dikategorikan menjadi potensi pelanggaran Pemilu adalah keberadaan 10 menteri yang partisan, yang memimpin kementerian dan departemen-departemen teknis yang mendapat alokasi anggaran langsung untuk menjalankan program penanggulangan kemiskinan. Siapakah Menteri-menteri itu?

Selengkapnya

Statement INFID Tentang Potensi Pelanggaran Pemilu dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiscal Antisipasi Krisis Financial

Di ambang pintu menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 (baik Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Presiden), masalah seputar kemiskinan adalah masalah yang paling laku dijual, baik untuk bahan hujatan maupun klaim keberhasilan. Berdasarkan tracking yang dilakukan oleh INFID, seluruh partai politik peserta Pemilu 2009 dan calon-calon presiden yang mulai bernafsu untuk berkompetisi dalam Pilpres 2009 juga mengedepankan masalah kemiskinan sebagai kampanye utama untuk meraih dukungan publik. Tentu saja, hal ini sah untuk dilakukan sepanjang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Yang menjadi persoalan dan sangat berpotensi untuk menjadi ajang “money politics” adalah penyelenggaraan program pemerintah yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan dan penyediaan stimulus fiskal untuk antisipasi krisis finansial. Dana yang digelontorkan Pemerintah untuk stimulus fiskal tahun ini mencapai Rp 71,3 triliun. Menurut rencana, dana ini akan digunakan untuk penghematan pembayaran pajak, tambahan belanja infrastruktur dan termasuk juga untuk penambahan dana PNPM sebesar Rp 0,6 triliun.

Untuk diketahui sejak tahun 2007, Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri (PNPM-Mandiri) sebagai kelanjutan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Untuk tahun 2009 saja, pemerintah berencana meningkatkan dana PNPM menjadi Rp 16 triliun dari sebelumnya Rp 13,8 triliun di tahun 2008. Program yang dibiayai dari utang luar negeri dimaksudkan sebagai upaya penanggulangan kemiskinan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput. Namun, menurut kajian INFID, ternyata program ini tidak terlalu signifikan untuk mengurangi angka kemiskinan. Walau telah bertrilyun-trilyun rupiah diguyurkan namun penurunan angka kemiskinan tidak sebanding dengan biaya besar yang telah dikeluarkan.

Hal ini terjadi karena, pembiayaan program ini ternyata lebih banyak dinikmati oleh aparat birokrasi, fasilitator dan pelaksana program ini ketimbang masyarakat miskin. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau ada penolakan dari beberapa pemerintah kabupaten/kota untuk menjalankan program ini karena juga ditengarai sebagai pembiayaan kampanye politik menjelang Pemilu 2009. Tujuh kabupaten meliputi Kabupaten Muaro, Tanjung Jabung Timur, Malinau, Bulungan, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan dan Sula menyatakan enggan menyediakan Dana Daerah untuk Program Bersama (DDUPB) bagi PNPM Mandiri 2008. Termasuk 10 Kepala Daerah Kabupaten dan Kota yaitu Semarang, Surabaya, Ambon, Mojokerto, Deli Serdang, Medan, Tegal, Sidoarjo, Rokan Hilir dan Kabupaten Seula malah menyatakan menolak dan tidak menyediakan DDUPB bagi PNPM Mandiri 2008.

Kenyataan tersebut harus segera diwaspadai dan menjadi peringatan adanya potensi terjadinya pemboncengan agenda politik menjelang Pemilu 2009 dalam program-program yang mengatasnamakan penanggulangan kemiskinan. Dan ini adalah juga potensi terjadinya pelanggaran pidana Pemilu 2009.

Hal yang juga bisa dikategorikan menjadi potensi pelanggaran Pemilu adalah keberadaan para menteri yang partisan, yang memimpin kementerian dan departemen-departemen teknis yang mendapat alokasi anggaran langsung untuk menjalankan program penanggulangan kemiskinan.

Menteri-menteri partisan tersebut antara lain:
1. Aburizal Bakrie (Menko Kesra): Merupakan Penanggung Jawab/Koordinator Utama PNPM-M. Aburizal Bakrie berasal dari Partai Golkar.
2. Anton Apriantono (Menteri Pertanian): Departemen Pertanian merupakan penanggungjawab pelaksanaan program PNPM di sektor pertanian. Anton Apriantono berasal dari Partai Keadilan Sejahtera.
3. Bachtiar Chamsyah (Menteri Sosial). Departemen Sosial mengelola dana-dana bantuan sosial dan juga dana bantuan untuk bencana alam. Bachtiar Chamsyah berasal dari Partai Persatuan Pembangunan.
4. Bambang Sudibyo (Menteri Pendidikan Nasional): Merupakan Menteri yang menerima dan mengelola anggaran paling besar dari APBN 2009 (20%) untuk Pendidikan. Bambang Sudibyo berasal dari Partai Amanat Nasional. Departemen Pendidikan juga menjalankan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dibiayai utang luar negeri (Bank Dunia) sebesar US$ 127,740,000 termasuk untuk pengadaan gedung dan materi PAUD, honorarium kader-kader PAUD yang potensial menjadi laskar kampanye partai politik dan calon Presiden tertentu.
5. Erman Suparno (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi): Merupakan Menteri yang mengelola dana stimulus fiscal untuk antisipasi PHK dan deportasi buruh migran. Erman Soeparno berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa.
6. Fredy Numberi (Menteri Kelautan dan Perikanan): Merupakan Menteri yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program PNPM di sektor pesisir dan kelautan. Fredy Numberi berasal dari Partai Demokrat.
7. Lukman Edi (Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal) adalah Menteri yang bertanggungjawab mengelola dana untuk penanggulangan kemiskinan di daerah tertinggal. Lukman Edi berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa.
8. Meuthia Hatta Swasono (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk program pemberdayaan perempuan dalam PNPM. Meuthia Hatta Swasono berasal dari Partai Kebangsaan dan Persatuan Indonesia.
9. Suryadharma Ali (Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk program pemberdayaan koperasi dan UKM dalam PNPM. Suryadharma Ali berasal dari Partai Persatuan Pembangunan.
10. Yusuf Asy’ari (Menteri Negara Perumahan Rakyat) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk rehabilitasi perumahan untuk rakyat miskin dan program rumah susun untuk rakyat miskin. Yusuf Asy’ari berasal dari Partai Keadilan Sejahtera

Menurut INFID, keberadaan Menteri-menteri partisan yang berada di kementerian dan departemen yang strategis dalam meraih dukungan dari publik karena program-program penanggulangan kemiskinan harus benar-benar diawasi. Harus dipastikan pula bahwa Menteri-menteri beserta Presiden dan Wakil Presiden, yang saat ini menjabat, tidak menggunakan anggaran negara untuk kunjungan-kunjungan atau konsolidasi partainya dalam rangka kampanye. Selain itu, harus dipastikan bahwa Menteri-menteri beserta Presiden dan Wakil Presiden, yang saat ini menjabat, menjalankan programnya secara adil, tidak partisan dan tidak diskriminatif.

Untuk hal tersebut INFID mendesak kepada BAWASLU RI untuk secara serius mengantisipasi potensi pelanggaran Pemilu 2009 dalam pelaksanaan dan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan dan pengalokasian stimulus fiskal untuk antisipasi krisis, serta dana pendidikan yang langsung berkaitan dengan masyarakat tingkat dusun dan Rukun Warga (RW).


Jakarta, 6 Februari 2009


Don K Marut
Direktur Eksekutif

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================

Pemilu 2009 : Pandangan Politik Berbagai Organisasi Gerakan Sosial (Ormas)

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union

Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (5-KASBI)

KONGRES ALIANSI SERIKAT BURUH INDONESIA (KASBI)
LEMBAGA BANTUAN HUKUM JAKARTA (LBH JAKARTA)



PEMILU 2009 BUKAN PEMILU RAKYAT

GOLPUT = GERAKAN PERLAWANAN POLITIK RAKYAT !

Golput pada pemilu 2009 menjadi ancaman bagi elit politik! Bayangan ketakutan yang merebak dihampir semua partai politik besar di Indonesia terhadap GOLPUT pada pemilu 2009 nanti. Statemen para petinggi partai dan aparat pemerintah seperti dilansir berbagai media menunjukkan ketertakutan itu. Misalnya saja Megawati menyatakan orang golput tidak boleh jadi warga negara Indonesia. Juga, Ketua KPU Abdul Hafiz: ‘Golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik’ (Detik.com, 17/7/08). Terlihat, para pejabat panik dengat fenomena golput. Mestinya, mereka sadar bahwa kepercayaan rakyat pada proses demokrasi prosedural tersebut terus turun.

Ketua MPR dari PKS Hidayat Nurwahid: ‘Golput akan menjadi sangat kontraproduktif. Sebab, Pemilu menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar’ (Detik.com, 24/7/08). yang menjadi pertimbangan para elit politik adalah anggaran untuk pemilu yang besar, anggaran tersebut lebih besar dari pada untuk membiayai gizi buruk yang menimpa anak-anak balita di seantero republik ini, anggaran tersebut bukannya untuk membantu rakyat miskin mengurangi beban hidupnya. Akan tetapi akan dihamburkan diantara mereka partai politik untuk pamer jargon dan adu mencari simpati rakyat.

Kenapa mereka sangat takut terhadap ancaman golput pada pemilu 2009 nanti, lihatlah hasil pemenang pemilu 2004 dimana golput adalah pemenangnya. Jumlah pendukung golput 34.509.246, terdiri dari pemilih terdaftar yang tidak datang ke TPS 23.551.321, ditambah suara tidak sah 10.957.925. Persentasenya 23,34 persen terhadap total pemilih terdaftar. Jumlah ini lebih besar dari perolehan parpol pemenang pemilu, seperti Partai Golkar 4.480.757 (16,54 persen), PDI-P 21.026.629 (14,21 persen), dan PKB 11.989.564 (8,10 persen). Jumlah pemilih terdaftar untuk pemilu legislatif 5 Juli 2004 adalah 148.000.369, sesuai keputusan KPU No 23/2004. Menurut perhitungan manual yang dilakukan KPU 23 April-4 Mei 2004, jumlah pemilih yang menggunakan haknya 124.449.038 (83 persen), suara yang sah 113.498.755, dan suara tidak sah 10.957.925 (8,81 persen). Golput adalah bentuk nyata dari perlawanan rakyat terhadap model demokrasi yang hanya dikuasai oleh segelintir partai politik, dan golput akan menjadi satu kekuatan rakyat indonesia terhadap mesin politik busuk kaum pemilik modal dan antek kapitalis. Karena rakyat indonesia melihat bahwa pemilu 2009 adalah bukan pemilu rakyat maka golput adalah jawaban dari bentuk perlawanan rakyat indonesia terhadap rezim yang mengaku demokratis dan dihasilkan dari pemilu yang anti rakyat.

Dari tiga kali pemilu setelah tergulingnya rezim otoriter militer suharto. Partai politik menjadi penerus dari kesinambungan agenda neoliberalisme di Indonesia. Mereka elit politik baik eksekutif dan legislatif seperti berlomba menunjukan pada tuannya kapitalis bahwa merekalah antek yang paling hebat, sehingga dengan mudahnya akan mampu mengelabui rakyat Indonesia agar tidak tahu bahwa bangsa ini sedang dijerumuskan kedalam jurang penjajahan bentuk baru. Terbongkarnya anggota DPR yang korup, aparat JAKSA yang menjadi sutradara kasus suap, pemerintah yang menjadi kepanjangan tangan dari para pemilik modal dan terus menggerogoti agar semua aset milik bangsa ini dijual dan menjadi milik swasta. Betapa makin sengsaranya kaum buruh dengan lahirnya kebijakan tentang sistem kerja kontrak dan outsourcing dan dibarengi dengan kebijakan upah murah.

Bagi Kaum Buruh Indonesia, Setidaknya Sikap Golput menemukan momentumnya pada pemilu 2009 nanti ketika pada saat itulah puncak kekecewaan dan kemarahan tertumpah karena semua rezim yang lahir pasca runtuhnya Orde Baru ternyata tidak memberikan jawaban yang lebih baik atas terpuruknya kondisi bangsa. Sistem Kerja Kontrak, Outsourcing, Politik Upah Murah, PHK massal, Undang-undang perburuhan yang lebih tunduk pada pesanan kapitalisme Global bernama IMF, Word Bank dan rentenir internasional lainnya seakan menjadi alasan yang sangat tepat bagi buruh untuk untuk menyatakan bahwa PEMILU 2009 bukan pemilu Rakyat, bukan solusi atas problem rakyat dan hanya merupakan konsolidasi politik kaum borjuasi, elit politik penipu rakyat, maka sikap GOLPUT dalam pemilu 2009 adalah pilihan yang tepat.

Tetapi sebuah pertanyaan kemudian muncul beriringan dengan lahirnya sikap tersebut, Benarkah Golput akan menjadi efektif ketika tidak dilakukan secara terorganisir ? Atau justru munculnya yang gugatan dari banyak pihak yang menuduh Golput sebagai sikap yang tidak bertanggungjawab. Sebagaimana dinyatakan dalam Resolusi Kongres II KASBI di Malang Jawa Timur Januari 2008 silam tentang Sikap KASBI pada pemilu 2009 : Bahwa pemilu 2009 adalah bukan pemilu rakyat karena dari partai politik yang ada adalah partai borjuis atau para pemilik modal, maka rakyat hanya akan dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan oleh pemilik modal. Maka tidak ada KONTRAK POLITIK dan calo / Broker Politik dalam Organisasi Massa serta mengajak gerakan rakyat lainnya untuk membangun front Politik Organisasi Rakyat dalam mengusung Calon Independen yang lahir dari gerakan rakyat dan mengusung program Anti Neoliberalisme. Maka, Sikap Golput teroraginisr sebagai awal membangun kekuatan dan proses de-legitimasi terhadap proses pemilu 2009 menjadi sangat strategis.

Atas hal tersebut diatas, maka KASBI dan LBH Jakarta menyatakan sikap tegas sebagai berikut :

1. Bahwa Pemilu 2009 bukan pemilu Rakyat, maka kami menolak segala tahapan pemilu 2009 dan menyatakan bahwa pada pemilu 2009 kami akan menjadi GOLPUT.

2. Bahwa GOLPUT adalah sikap politik adalah bentuk perlawanan kami terhadap rezim hasil pemilu yang nyata2 menindas rakyat perlawanan terhadap pemilu 2009 yang hanya akan melahirkan pemerintahan yang pro modal.

3. Mengajak seluruh elemen rakyat, Buruh dan Serikat Buruh dan kekuatan pro demokrasi lainnya untuk membangun front politik dan menyatakan perlawanan melalui GOLPUT yang terorganisir sebagai bentuk perlawanan politik rakyat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan sebagai upaya seruan membangun persatuan rakyat untuk melakukan perlawanan politik kepada kekuatan penindas rakyat yang hari ini ada di pemerintahan dan perlemaen.

Hidup Rakyat Tertindas !!!

Jakarta, 29 Juli 2009

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)
Lembaga bantuan Hukum (LBH Jakarta)


KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia)
Congress of Indonesia Unions Alliance
Jl.Gading IX/12, RT 11/10, Pisangan Timur, Jakarta 13230, Indonesia
(dekat Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun)
Telp/Fax: +6221 4788 1632
Mobile: +62 8131 7331 801 or +62 8131 6227 294

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union


Serikat Petani Indonesia


Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (4-Serikat Petani Indonesia)

Pandangan Politik Petani 2009: Jalan Rakyat Sebagai Pedoman

http://www.spi.or.id/?p=882

Pendahuluan

Politik Indonesia yang terkontrol dan tersentralisasi ala Soeharto pada zaman orde baru melalui alat negara dan alat pemerintahannya sudah kita lewati. Secara konseptual seharusnya proses perubahan demokrasi politik yang terjadi menuju pada perbaikan kesejahteraan dan kedaulatan politik rakyat. Sandaran ideologis kebijakan itu sangat jelas yakni Pancasila dan UUD 1945 yaitu mewujudkan sistem politik yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mampu memajukan kesejahteraan umum, sanggup mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sanggup untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Namun harapan dan proses yang kita jalani sekarang ini sebagai era reformasi, melalui ide-ide transisi dan konsolidasi demokrasi justru diisi dengan pelembagaan demokrasi prosedural yang elitis. Sumbatan-sumbatan demokrasi memang sudah terbuka, tetapi tidak memberikan manfaat bagi rakyat. Kondisi demokrasi yang terjadi isinya adalah pembukaan, pengamanan dan kelanjutan bagi akumulasi, ekpansi dan ekploitasi seluas-seluasnya oleh elite politik nasional dan kekuatan Transnasional Nasional korporasi.

Sistem Politik Saat Ini

Ada beberapa catatan yang terjadi dalam sistem politik Indonesia, sejak era reformasi sampai sekarang ini yakni;

Pertama, Desentralisasi melalui otonomi daerah tidak melahirkan distribusi kekuasaan ekonomi politik sebagai bagian dari ide kebhineka-an. Sebab yang muncul adalah pemindahan dari pusat kepada elite-elite daerah. Sementara, ide dan praktek kesejahteraan rakyat menjadi asing. Bahkan hingga sekarang alokasi anggaran dari nasional ke daerah masih menjadi sumber utama dan tidak berkolerasi langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh, kuasa pemerintahan nasional menjadi mandul. Antara Presiden dengan gubernur, gubernur dengan Bupati/walikota dan sebaliknya tidak mempunyai rantai “komando” pemerintahan yang kuat. Yang muncul adalah nasionalisme palsu untuk mengeruk kekayaan alam di daerah untuk kepetingan elite daerah sendiri atau kolaborasi antara kekuatan modal nasional/internasional dengan elit – elit politik daerah dan nasional.

Kedua, Ketidak konsistenan didalam struktur konstitusi dan perundangan. Pendekatannya adalah kompromi modal dan pembagian kekuasaan. UUD 1945 di amandemen, dimana ide negara “gotong royong” menuju kesejahteraan rakyat yang termaktub dalam pasal 24 dan 33, UUD 1945 dikangkangi dengan model ekonomi pasar serta tidak dijalankannya UUPA 1960. Sebagai contoh nyata adalah beberapa kebijakan pemerintah yang dikeluarkan dari kurun waktu 1998-2007 melalui serangkaian peraturan perundangan yang berkaitan dengan sumber-sumber agraria, perburuhan, privatisasi, pencabutan subsidi, energi, bahan bakar nabati, impor benih, impor beras dan penanaman modal. UU maupun regulasi tersebut adalah UU Kehutanan (1999), UU Migas (2001), UU Perkebunan (2004) yang menggusur petani, UU Sumber Daya Air (2004) yang membuka peluang privatisasi air, Perpres No. 36 (2005), Perpres No. 65 (2006) hingga yang terbaru adalah UU Penanaman Modal (2007) yang isinya total mengejawantahkan prinsip-prinsip neokolonialisme-imperialisme.

Ketiga, Terjadinya Pemisahan dan pembagian kekuasaan yang mengarah pada fragmentasi kekuasaan ke dalam institusi-institusi politik baru yang bersifat ad-hoc. Dimana peran dan fungsi lembaga-lembaga negara yang permanen tergeser. Sehingga pada gilirannya mengakibatkan ketidakharmonisan antar lembaga, hal ini dapat mencerminkan bahwa sistem politik dan desain ketatanegaraan kita tidak kuat.
Pemilu dan perubahan sejati melalui jalan rakyat
Pada tahun 2009, demokrasi politik euforia yang liberal mencapai puncaknya. semua elemen bangsa memandang bahwa perubahan akan tercapai melalui pemilu dan partai politik adalah satu-satunya bentuk organisasi yang mampu merubah bangsa. Hipnotis politik pasar secara bebas dengan mengandalkan kekuatan modal begitu mendalam.
Partai politik dan pemilu telah mengambil ruang publik dua tahun terakhir ini. Hal ini mengarah kepada aktivitas politik yang tinggi, dimana sistem multi partai telah melibatkan berbagai kalangan dalam ajang perebutan kekuasaan serta bagaimana “mengamankan” posisi kekuasaannya semata. Pemilihan legsilatif secara langsung dengan suara terbanyak menyebabkan polarisasi politik ditingkat rakyat semakin terpencar. Inisiatif pilihan politik rakyat kali ini tidak mencerminkan atas pilihan ideologi politik atau program tertentu, namun lebih mengarah kepada primordialisme dalam arti lebih luas seperti karena keluarga, tetangga, persaudaraan, suku, agama dan politik uang. Bahkan aktor politik juga semakin terpolarisasi didalam partainnya sendiri. Agenda partai tidak berjalan, kemudian yang muncul adalah individu politik atas partai politik. Juga munculnya individu “badut” politik baru dengan wajah dan cara baru namun isinya sama

Atas keadaan itu, rakyat telah belajar banyak, melalui pengalaman praktek politik sejak reformasi 10 tahun lalu sampai sekarang ini. Pesta demokrasi prosedural ini hanya menguntungkan elite yang mempunyai akses ekonomi dan politik saja dan bukan sebagai hajat rakyat. Individu-individu yang terlibat akan hanyut dalam budaya dan birokrasi politik elite. Kalaupun ada perlawanan sifatnya hanya kasus, minoritas. Keadilan itu tak pernah terjadi, kejadian hari-hari rakyat sama saja siapapun pemimpinnya. Petani tidak berkecukupan tanah, konflik agraria terus terjadi, buruh menghadapi ketidak pastian dalam pekerjaan dan ancaman pemutusan hubungan kerja, pelajar dan mahasiswa terus menghadapi biaya sekolah yang tinggi dengan privatisasi dunia pendidikan, nelayan semakin berkurang hasil tangkapannya, karena wilayah tangkapan mereka yang sudah dikuasai dan terus diekploitasi oleh kapal-kapal milik pengusaha besar. Sehingga mengakibatkan terjadinya sikap apatis yang diikuti dengan kemuakan rakyat terhadap sistem politik dan ekonomi yang ada. Di beberapa pemilihan kepala daerah dan Pemilu sebelumnya, dimana angka rakyat yang tidak menggunakan hak konstitusinya masih cukup besar.

Kita tak bisa diam begitu saja membiarkan proses politik berjalan tanpa keterlibatan gerakan rakyat. Oleh karena itu dibutuhkan suatu jalan rakyat untuk segera bangkit melawan. Dengan memperteguh bahwa perubahan yang sejati, adanya dijalan rakyat melalui ; pertama, harus dibangunnya sebuah organisasi kesatuan rakyat secara nasional, yang dicirikan dengan struktur yang jelas, adanya arah dan panduan kerja konkrit serta dinamis dalam bergerak, terpimpin, cita-cita yang disertai program dan capaian-capaian yang terukur jelas, adanya penghargaan dan sanksi tegas, serta membangkitkan kembali ikatan kelas, budaya dan sosial kaum tani dengan berbagai aktivitas kebudayaan. Membangun mekanisme dari bawah, atas kebutuhan kaum tani, yang radikal, militan dan massif. Kedua, diperlukan suatu kerja-kerja penggalangan sekutu dan persatuan gerakan rakyat yang kuat baik di nasional maupun Internasional.
Sebagai organisasi massa perjuangan kaum tani, Serikat Petani Indonesia (SPI) harus melakukan kerja-kerja politik yang sesuai dengan agenda-agenda perjuangan dan tujuan organisasi yaitu ;

1.
Kami petani Indonesia, menolak sistem politik dan pemilu Indonesia yang meminggirkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri. Sistem politik Indonesia yang berwujud dalam praktek demokrasi liberal hanya menguntungkan segelintir pihak yang berkuasa dan pemilik modal
2.
Kami petani Indonesia menyatakan, bahwa pemilu dan partai politik dalam sistem politik sekarang, tidak mencerminkan kedaulatan rakyat dimana para calon legislatif maupun elite politik yang ada semakin terpolarisasi, yang muncul adalah individu politik atas parpol yang saling menjadi predator. Sehingga tidak mencerminkan kerja kolektif partai untuk kemajuan bangsa.
3.
Kami petani Indonesia, menyatakan pada pemilu 2009 akan menggunakan hak konstitusi kami, yaitu Memilih untuk Tidak Memilih calon legislatif dan elit politik yang melakukan praktek politic uang serta tidak berpihak pada petani dan menegakkan kedaulatan politik rakyat. Hal ini kami lakukan sebagai perjuangan untuk mewujudkan sistem politik yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mampu memajukan kesejahteraan umum, sanggup mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sanggup untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.
4.
Kami petani Indonesia, menolak cara pandang ekonomi-politik Indonesia yang berkarakter kolonial, ekonomi-politik yang semakin menihilkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri, dengan karakteristik (i) Memposisikan perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi industri negara-negara maju; (ii) Dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai pasar produk industri negara-negara maju—bahkan produk dumping; dan (iii) Dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai tempat untuk memutar kelebihan kapital yang terdapat di negara-negara industrial.
5.
Kami petani Indonesia, akan terus berada di bagian terdepan perjuangan rakyat melawan penjajahan baru atau neokolonialisme-imperialisme. Neokolonialisme-imperialisme ini berwujud dalam kebijakan dan praktek sehari-hari globalisasi-neoliberal yang terus menihilkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri.
6.
Kami petani Indonesia, akan bersatu dengan gerakan rakyat yang lain untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan terus mengorganisasikan massa aksi untuk melakukan aksi-aksi massa; baik dalam format gerakan sosial maupun gerakan politik.
Demikian pandangan sikap ini kami nyatakan dengan tegas dan sebenar-benarnya, sehingga seluruh jajaran Dewan Pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI) mulai dari tingkat pusat sampai basis serta kaum tani dan rakyat Indonesia dapat memahami dan melaksanakannya.

Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 13 Maret 2009
Ditetapkan oleh Rapat Pleno Dewan Pengurus Pusat (DPP)
Serikat Petani Indonesia (SPI)

simak juga pandangan


Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union


Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (3- INDONESIAN MIGRANTS WORKER UNION )

Pernyataan Sikap

PEMILU 2009 adalah Ilusi bagi Buruh Migran Indonesia!

http://www.imwuinhk.multiply.com

Hentikan underpayment!
Blacklist agen/PJTKI yang melanggar hukum! Pangkas biaya penempatan menjadi HK$ 9000!
Cabut UU PPTKILN! Ratifikasi Konvensi Buruh Migran Tahun 1990!
Bubarkan terminal khusus TKI/GPK TKI!

Mulai dari rejim orde baru hingga rejim penjual kaum perempuan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, tidak ada perubahan yang sejati dalam kehidupan rakyat Indonesia. Terlebih dalam kehidupan buruh migran Indonesia (BMI) dan keluarganya. Nyatanya proses pemilihan umum yang dilaksanakan setiap 5 tahunan tidak dapat menaikan tingkat penghidupan BMI dan keluarganya, jika tidak boleh dikatakan tidak menghasilkan apa-apa selain pergantian penguasa.

Bagi kami, Indonesian Migrant Workers Union (IMWU), buruh migran Indonesia di Hong Kong, pemilu 2009 merupakan pergantian antek-antek dari kaum pengusaha, yang selama ini menghisap nilai kerja kami. Tidak hanya di rejim SBY-JK, namun di rejim-rejim sebelumnya, hak-hak BMI dan keluarganya tetap tidak menjadi prioritas bagi pemerintah. Satunya-satunya yang berubah adalah tingkat penghisapan, dimana setiap berganti rejim penghisapan semakin dalam. Menurut survey yang kami lakukan di Hong Kong, pada zaman orde baru tidak kurang dari 90% BMI menerima upah di bawah standar atau underpaid, bahkan penghisapan atas kerja kami selama 7 bulan upah kami dipotong (HK$ 21.000) sebagai biaya agen, ditambah biaya perpanjangan kontrak sebesar HK$ 5.500 (sesuai SK Dirjen Binapenta pada tahun 1998). Dan, tidak terlewatkan, pembangunan terminal 3 yang merupakan sarang pemerasan bagi BMI. Pada zaman Gus dur dan Megawati, seluruh penghisapan terhadap BMI semakin dikokohkan, dengan dibuatnya UU no 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (PPTKILN). Melalui UU, PJTKI diberi kewenangan yang demikian besar dalam perihal penempatan BMI, bahkan praktek kebal hukum bagi PTJKI pun di akui dalam UU ini. Lebih jauh lagi komiten untuk meratifikasi Konvensi Buruh Migran Tahun 1990 pun ditanggal kan demi kemulusan praktek penjualan manusia ini. Pada rejim SBY-JK, praktek penghisapan semakin di perhebat. Kebijakan ekspor buruh semakin digalakan, ditargetkan bahwa setiap tahunnya pemerintah harus mengirimkan 1 juta orang pertahun ke luar negeri, guna mencapai target devisa sebesar 125 triliyun per tahunnya. Guna memuluskan hal demikian UU PPTKILN pun dirubah untuk mempermudah pendirian Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Artinya mulai tahun ini diprediksi ada 1-2 juta rumah tangga akan terancam keutuhannya, akibat ketiadaan sumber-sumber penghidupan dan pekerjaan didaerahnya.

Di Hong Kong, 120.000 lebih perempuan Indonesia bekerja layaknya romusa, kalau tidak dapat dikatakan sebagai perbudakan. Kebanyakan dari kami bekerja sebagai pekerja rumah tangga bagi kelas menengah dan atas. Kami bekerja lebih dari 16 jam per hari hanya 1 % dari kami yang bekerja selama 8 jam per hari, 64 % dari kami tidak mendapatkan hari libur nasional, baik Hong Kong maupun Indonesia, bahkan 56 % persen dari kami tidak diberikan libur 1 minggu satu kali, 38 % dari kami dibayar dibawah upah minimum (upah minimum HK$ 3580), dan 61 % dari kami upahnya dipotong upahnya sebesar HK$ 3000 selama tujuh bulan, sebagai biaya agen, sementara biaya agen menurut employment ordinance Hong Kong hanya dijinkan sebesar 10 persen dari satu bulan upah kerja. Fakta inilah yang senantiasa terlewatkan dalam setiap perhelatan nasional bernama Pemilihan Umum (PEMILU)

Berdasarkan hal ini, kami, buruh migran Indonesia yang berhimpun dalam Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) menyatakan:

Tidak akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum 2009, karena pemilu 2009 bukanlah pemilu yang berpihak pada buruh migran Indonesia dan rakyat.

Menuntut kepada pemerintahan SBY-JK untuk:

1. Menghentikan underpayment;

2. Memangkas biaya agen/penempatan ke Hong Kong menjadi HK$ 9000;

3. Blacklist agen/PJTKI dan majikan yang melanggar hukum dan hak BMI;

4. Mencabut UU PPTKILN dan menggantinya dengan UU perlindungan BMI dan keluarganya;

5. Segera ratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Perlindungan Hak Buruh Migran dan Anggota Keluarganya;

6. Bubarkan Terminal Khusus BMI (GPK TKI);

7. Libatkan BMI dalam setiap pembuatan kebijakan mengenai BMI

8. Pelayanan maksimal bagi BMI di Hong Kong pada hari Sabtu dan Minggu

Menyerukan kepada organisasi BMI dan massa BMI di setiap negara penempatan:

1. Tidak menggunakan hak pilihnya pada PEMILU 2009, karena pemilu 2009 bukan untuk kepentingan buruh migran Indonesia dan rakyat;

2. Semakin memperhebat aksi-aksi untuk menuntut hak-hak dasar buruh migran Indonesia;

3. Menyatukan perjuangan BMI di setiap negara penerima dengan gerakan perjuangan rakyat di dalam negeri guna memperjuangkan perubahan yang sejati.

Hong Kong, 28 Maret 2009

Komite Eksekutif IMWU

Sringatin

Ketua

INDONESIAN MIGRANTS WORKER UNION (IMWU)
Serikat Tenaga Kerja Indonesia/PRT HK
4/F, Flat C, Jardine's Mansion, 32 Yee Wo Street, Causeway Bay, Hong Kong.
Phone: (852) 2375 8337,Fax: (852)29920111 Email: imwu@asian-migrants .org
Website: www.imwuinhk. multiply. com, Register of Trade Union No: 958

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Serikat Petani Indonesia


Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Senin, 30 Maret 2009

5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat

Solidaritas untuk perjuangan warga eks Buyat dan Sidoarjo melawan ketamakan pengusaha tambang (Newmont-Lapindo) dan penguasa.

Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok Public Eye Award 1, Public Eye Award 2, Public Eye Award 3


Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat (silah kunjung kisah Andini Lensun dalam Kami Generasi Benjol)

Silahkan menambahkan suara anda langsung pada bagian komentar postingan 30 puisi ini sejak tanggal 26 Maret 2009 atau melalui email pribadi saya (semua hal tentang tambang terutama terkait daya rusak kuasa tambang dan perjuangan melawan keserakahan perusahaan-perusahaan tambang). Semua kiriman ini akan dipostingkan di blog utama lenteradiatasbukit selepas tanggal 3 Juli.

salam hangat
salam pembebasan

andreas iswinarto
pengumpul puisi
kerja.pembebasan@gmail.com


: Andini
Oleh Lanjar

Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Belajar mencinta, tak cuma dengan mata dan telinga tetapi dengan hati
Belajar memberi, tak cuma dengan ratap dan tanya tetapi dengan tindakan peduli

: Andini
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Meneriakkan rintihan sakitmu, segala deritamu, derita saudara-saudara kami di Buyat sana

Tapi, ...
: Andini
Kau dimana?
Matahari masih malu-malu kala kaok burung Gagak mengabarkan kematianmu
Sontak telingamu menangkap, rebahku terganggu, gamang, galau langsung menyerbu

Kisah-kisah Resah tengah menjadi menu harian di seluruh penjuru
Orang-orang menuju ke Buyatmu dengan terburu-buru
Anak kecil, orang tua, orang sakit, para medis, pembaik, pejabat, penjahat berjejer satu-satu
Melihat lautmu, Mercurimu serta angkuhnya tembok Newmontmu

: Andini
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun, setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelas kami

Langit pecah dalam rintihanmu
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun

Jakarta, 17 September 2004 [31]

-----------------------------------------------------------------

Andini: Jiwa yang Terbuang
Oleh Abdul Halim

Demikian mudahkah!
Kejujuran, Kepedulian, dan Kewajiban
Berguguran di reruntuhan Air MaTa
Beriring MuLuT penuh KoToRaN
DusTa……
Racun……
dan KePalSuAn.

Andini, SeBuTaN PuTrI "MaLanG" ItU...
Tak terdengar lagi.

UANG, Tuhan SemesTa MaSa KiNi
BerGeLinTiR maTa PATAH oleh Kilauan-NyA
IroniS, di tengah DENTUMAN protes Anak-Anak Bangsa.

Andini,
PuTrI BANGSA yang Terbuang.
Tapi……
AngiN Semangatmu, SelaLu BerKoBaR dan BerKiBaR.

17 Agustus 2004, MeRdEkA Bangsamu
Di depan MeRaH PuTiH,
Ikrar diriKu, “Perjuanganmu Tiada Pernah Berakhir.”

TeGaRu, 18 Agustus 2004 [30]

Narasi ini kemudian bergulir, perempuan, laki-laki dari berbagai latar belakang
terdorong terakan goresan nurani dan mendengungkan berbareng dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat jadi mantra, jadi doa....

-----------------------------------------------------------------------

In Memoriam: Andini Lensun
[Aug 12, 2004]

Oleh Nur Hidayati

Voice from the grave (1)

here
forty days I've been
in this cold dark hole
as cold as their hearts
as dark as their mind

what rights do they have?

stealing sun from my days
stealing smile from my face

what rights do they have?

hiding facts
spreading lies

what rights do they have?

playing God
cursing people eternal pain
unbearable

what rights do they have?

Voice from the grave (2)

bukan inginku menjemput nirwana
secepat ini
seperih ini

bukan mauku tangisan ibu
menyayat
merintih

belum jua puas
kutatap purnama
kudengar debur ombak
di Buyat

belum jua puas
kurasa hangat dekap

kudengar lirih doa
ibuku

usai sudah derita
kering sudah air mata
abadi aku kini
di pangkuan Ilahi Rabbi [29]

------------------------------------------------

Andini,
menyaksikanmu adalah keperihan rahimku
saat menguak membelah dunia

tangis lirih sakitmu
adalah kepiluan jantungku
yang tak mampu membantu menolongmu

panas dadamu
adalah mengerasnya payudaraku
karena penuhnya susu yang tak kau isap lagi

rintahan ajalmu
adalah teriakanku....
Tuhan.......di mana keadilan....

Anakku,
kematianmu
adalah kematian rasa penguasa-penguasa kita
yang menutup rapat mata hatinya
dan menimbun hati dan jiwanya dengan kerakusan kuasa

Kini, kain kafan telah membungkusmu pulang pada-Nya
dalam luka lara yang tak kuasa bunda gantikan
Tarikan nafas terakhirmu adalah pesan buatku
dalam terjal perjuangan
dalam ketegaran
tuk selamatkan sahabat dan kawanmu
dari nista pertambangan

Selamat jalan, Andini.......

(Medio Agustus, Wening 2004) [28]

-------------------------------------------------------------

Anak Bermain Perahu di Teluk Buyat
Oleh Hasan Aspahani

"Lihat, kapalku terisi sarat, mengangkut
59 ton emas, menjauh dari Teluk Buyat..."

Angin dari langit masih hembus yang dulu,
ombak dari laut masih hempas yang dulu.
Yang mendebur ke dada perahu, mengapung-apungkan
jaring yang tersangkut sejak dulu. Nasib nelayan kakekku.

Jauh, jauh. Kini mengayuh delapan kilo,
ke tengah laut. Sebab di teluk itu tak ada lagi
kerapu, kepiting bahkan juga seekor udang batu.

"Lihat, kapalku berisi kepenuhan,
pulang ke teluk membawa ikan.
Ada pesta, tengah malam disuguhkan.
Kita cuma nelayan, tak dapat undangan."

Empat tahun sudah air raksa menguap
di udara dan air mandi Teluk Buyat.
Mengendap dalam tubuh ikan, terperangkap
juga di darah kami, anak-anak nelayan.
Kelak kami menyebutnya racun yang tak tertawarkan.

Tapi, "Tak ada pencemaran, tak ada pencemaran."
Mereka sudah meneliti, mencocok-cocokkan jawaban, dan
tergesa mengambil kesimpulan. "Tak ada pencemaran!"

Tapi, "Lihat! Ada koreng di kulitmu...."

Cuma perahuku datang kembali membawa
sabun mandi. Ke Teluk Buyat. Mengubah
air tangis jadi gelombang berbuih. Jadi perih.

"Dan, bila luka juga, tak ingin kubagi
perih yang tak kau pernah pahami ini.
Tenggelamkah sudah semua perahu?" [27]

----------------------------------------------------------

Tiada Lagi...

Tangisan kesakitan itu kini tiada lagi...
Berganti nisan batu yang sunyi dan harum bunga...

Kami tak akan pernah melupakanmu..
Kau mencoba bertahan hidup selama lima bulan..
Namun sakit itu tak tertahankan lagi...
Setiap gerak adalah keperihan yang sangat..

Kami antarkan engkau berbaring selamanya...
Senyuman terakhirmu akan menjadi kutukan
Bagi raksasa penghisap emas itu...

Selamat jalan Andini...
Semua penderitaanmu tak akan sia-sia...

Oleh Anonim [26]

-----------------------------------------------

Tragedi Buyat
Oleh Agung Alit

Hatiku tersayat akan derita warga Buyat
Derita yang ditoreh tangan-tangan berkhianat
Buyat dirampok, disihir menjadi tambang tanpa tembang
Kini dari perut Buyat terburai limbah Mercuri laknat

Buyat tertampar
Andini Lensun terkapar,
Entah siapa esok menyusul

Tragedi Buyat, hikayat pejabat pusat
Tragedi Buyat, hikayat tak berakhlak
Tragedi Buyat, hikayat tak bertobat

Denpasar, 9 Agustus 2004 [25]

---------------------------------------------------------

Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]

Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini

Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu

Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??

Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan

Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita

Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm

Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [24]

-----------------------------------------------

Renungan Buyat [Hikayat II]

Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral

Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...

Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?

Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka

Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm

Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar] [23]

-----------------------------------------------------------------------------

Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai

Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan

Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk

Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat

Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup

Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad

Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am

Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]

--------------------------------------------------------------

Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna

(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)

Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?

Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya

Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"

Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]

-----------------------------------------

Gerutuan dan Mantra Bebas dalam Nyanyian Nurani untuk Andini Lensun dan Warga Buyat
Oleh Ambo Tang

1. Naba’ Duka buat Nurani al-Makarim

Ya…. An-Naba'
Dulu dengan bangga kita bisa
Beritakan dan bernyanyi:

"Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman
Ikan dan udang menghampiri dirimu"

Ya…Al-Makarim
Kini dengan bingung dan mulia
kita hanya menggerutu:

"Bukan lautan hanya kolam busuk
Korupsi dan utang cukup menghidupimu
Tiada aman tiada damai kau temui

Orang bilang tanah kita tanah bangkai
Emas, perak, dan minyak jadi bencana
Minamata dan maut menghampiri dirimu"

2. Mantra Maut buat Pejempol Tambang

Derai airmata mengalir di relung-relung pipi
Berai minamata menyebar di lorong-lorong bahari
Kerai pusara melebar di sudut-sudut wanua
Cerai jasad menjauh dari simpul-simpul nyawa
Lerai pikir merenggang dari pojok-pojok hati

Kemana lagi budak harus bertuan?
Kemana lagi rakyat harus beraja?
Kemana lagi bangsa harus bernegara?
Kemana lagi hamba harus bertuhan?

Kemana lagi ratap akan berharap?
Kemana lagi doa akan berjawab?
Kemana lagi rintih akan bersahut?
Kemana lagi perih akan berbalut?

Jiwa-jiwa kini tak lagi dihargai
Bangsa dan negara pun telah digadai
Oleh bangsat-bangsat pembantai
Yang jempolnya mengundang badai

Duhai Penguasa Bumi
Duhai Pemilik Jiwa
Deritakanlah derita Andini
Pada diri para pembantai
Bi adzamatika yaa Rabbi
Bi nubuwwatika yaa Nabi [20]

-------------------------------------

Matahariku Hilang Tuhan
Oleh Jeanny Suryadi

Matahariku hilang tuhan,
Semua menjadi gelap untukku bisa bermain...bahkan
Mereka juga membawa pergi kawan-kawanku.
atau aku yang sudah tidak ada di sana? kenapa?!

2004
cukup pak!
jangan bilang akan mengadakan subsidi pendidikan!
jangan bilang akan ada sekolah murah?
sedang aku sudah buta untuk membaca, dan sudah terlalu
lumpuh untuk bisa berjalan..

August 2004
apa benar ini naskah untukku?
peran seorang anak tanpa matahari? kemana - mana
menjinjing gumpalan penyakit yang sampai jatuh ke jiwa?
menghancurkan apa-apa yang kata mereka adalah milik
saya, tidak bisa diabadikan bahkan juga di kepala
-selain butiran pengantar jenazah.
untuk Andini.
tidak banyak yang kulihat di sini, karena keriputnya
sudah jatuh mengering menutup kelopak mata,
tapi aku dengar ibu menangis!

Andini

ini bukan tangan, tuhan..tapi mainan yang sudah
rusak,
ini bukan kepala tuhan, tapi batu karang usang,
dan ini bukan jiwa, tapi lapangan untuk berguling
dalam dusta dan uang.
saya bukan manusia tuhan...itu kata mereka...

2004, Manusia di Buyat. [Andini] [19]

--------------------------------------------

Dan semestapun berduka
Oleh WeES

Cukup jauh jarak Buyat hingga Yogya
tapi ratapanmu Andini
sayup terbawa angin: menyusup ke hati

mungkin ini jawaban dari isyarat
kenapa kemarau kali ini
mendung senantiasa menggantung
rupanya mereka berduka buatmu: Andini

dan ketika racun disebar di laut
siapapun dia pelakunya
entah melanggar aturan atau apa namanya
saat itu: pengkhianatan hati nurani tarjadi

Hai....... kamu! Kamu! Kamu!
yang menangguk untung
dengan diam-diam menebar bencana!

untuk membuka matamu, telingamu,
Butuh korban berapa banyak lagi? [18]

--------------------------------------------------

Sekarat Buyat

Sret, lima bulan Andini Lensun bernafas
lalu tiada

Sret, sekarat Buyat
masuk berita

Sret, ancaman menganga
yang ada jadi sekarat

Berapa lembar lagi laporan
Berapa halaman lagi berita
Berapa karat lagi nyawa

Imperialis pertambangan
Adalah tuhan segala setan
Dengan sekarat segala sisa
Enyahkan segera
Enyahkan segera

Oleh Ben Abel [17]

------------------------------------------------

Kami tak pernah melukai orang dewasa
Tapi tangan-tangan mereka
Telah menghancurkan
Tangan-tangan kecil kami

Setiap nafas kami
adalah kesakitan panjang
Setiap tangis kami
adalah hapusan pengharapan
untuk melihat dunia ini
lebih lama lagi

Air susu yang kami minum
menjadi racun
yang tak pernah ada penawarnya
bunda-bunda kami pun
tak berdaya
Dengan sakit yang menyiksa
sepanjang hari-hari kami
semenjak kami bersemayam
dalam rahim bunda

kami ingin hidup panjang
menikmati indahnya Buyat
mengukir cita-cita
untuk Tanah Buyat

Tapi tangan-tangan orang dewasa
telah hancurkan tangan kecil kami
anak-anak Buyat

Oleh Lilie [16]

-------------------------------

Teluk Buyat,O!
: Andini
Oleh Indah IP

Mungkin ini waktu yang tepat
buat kami
Belajar mencinta
Tak cuma dengan mata dan telinga
tapi juga hati

Belajar memberi
Tak cuma dengan ratap dan tanya
tapi juga tindak nyata

Akhirnya, Andini
kepergian selalu jadi waktu yang tepat
untuk belajar mencinta
dengan dewasa

6 Agustus 2004, 15.00 Wib [15]

------------------------------------

Kidung Dukaku
Oleh Bening

Kutatap dunia dengan kedua mata kecilku
Kusapa mentari dengan kedua lengan mungilku
Dengan senyumku
Begitu banyak harapan tersirat
Kulihat mata ayah bundaku
Penuh dengan kegembiraan
Mensyukuri kehadiranku di dunia ini

Kutapaki lapangan bermain
Bermain bersama dengan teman-temanku
Tertawa riang dan lepas tanpa beban
Berlari bebas
Mengejar kesenangan menjadi seorang anak kecil

Tapi kemudian
Aku terbaring di sini
Masih memandang dunia ini
Tapi dengan mata nanar
Tiada lagi kulihat kegembiraan di mata ayah dan bundaku
Semua kegembiraan telah tergantikan dengan kesedihan
Dengan pilu, melihat deritaku

Aku tidak dapat lagi berlari bebas
Tidak dapat lagi tertawa lepas
Kakiku sudah tak mampu menopang tubuh kecilku
Tubuhku sudah tak dapat merasakan apapun lagi
Perlahan kurasakan tubuhku menjadi ringan
Ringan tanpa beban
Kudengar isak tangis bundaku
Sementara ayah berdiri dengan tegar menopang bunda
Aku bingung
Tak tahu apa yang terjadi

Aku hanyalah anak kecil
Yang hanya mengerti bermain, bertingkah lucu, dan
membuat kedua orang tuaku tersenyum
Mengapa kalian jahat padaku
Apa salahku sehingga kalian membunuhku
Dengan racun yang kalian tebarkan di desaku
Tidak pernahkah kalian berpikir kalau aku juga ingin
hidup seperti kalian
Bisa sekolah tinggi
Dan menjadi orang yang berhasil
Menghembuskan nama harum keluargaku, desaku

Kini aku hanya bisa merasakan nisan dingin
Bertuliskan namaku
Tanah basah menjadi selimutku
Harum bunga semerbak sebagai aroma tempat tinggalku
Dan melihat kesedihan teman-teman kecilku yang dulu kerap
bermain bersamaku
Menjalani derita
Tolonglah kami.........
Jangan biarkan mereka seperti aku

Jakarta Terik, 6 Agustus 2004 [15]

---------------------------------------

Adik Andini Lensun
Oleh Run

Kita seharusnya tidak mempertanyakan bagaimana Andini Lensun meninggal
tapi yang harus kita pertanyakan, bagaimana Andini hidup dengan menanggung beban yang begitu berat
Merkuri itu telah merenggut nyawa anak negeri
Dik Andini, kami hanya bisa marah, kami hanya bisa protes
dan kami akan terus melanjutkan perjuangan kamu
kami kirimkan doa-doa suci untukmu semoga Adik Andini hidup tenang di alam sana.
Amin….. [14]

----------------------------------

Buyat
Tragedi menyayat

Buyat
Tangisan rakyat

Buyat
Menyongsong mayat-mayat

Buyat
Siapa hendak melayat?

Oleh Febuana Kusuma [13]

-------------------------------------

Hiiikayat Buyat
Sajak Syam Asinar Radjam

Hiiikayat Buyat I: Andini

Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu
luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap

Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!

Lukanya luka yang tak harus ada

* * *

Hiiikayat Buyat II

Kulihat darah!
Menetes, belum mencurah
Mengalir masih, menuju gumpal

Hei, Lihat bersama!
Ada yang diundang sengaja; BENCANA!

* * *

Hiiikayat Buyat III

Kenapa aku tak menduka?
Meski ikan dan laut telah bernanah!

* * *

Hiiikayat Buyat IV

Mari ambil penggaris,
Bentangkan pula peta.
Berapa jauh bencana dari depan rumah kita?
Penjahatnya tertawa di meja gambar!

* * *

Jakarta, 4 - 5 Agustus 2004 [12]

-----------------------------------------

Catatan Kecil buat Adik: Andini dan kawan-kawan
Oleh Buruli

Dik,
Kalau besok tiba-tiba mengganas gelombang, itu karena
doa para ikan! Air mata yang mengalir lebih asin dari lautan
" Mereka tak hanya membunuh kita! Mereka juga
membunuh sesamanya: manusia!"

Sebenarnya bukan salah racun, mereka juga sedih
"Ini sama sekali bukan tempat kami!" Kata mereka
Tapi sebagian manusia itu memang tak peduli
Bahkan bila yang terbunuh adalah saudara mereka sendiri
"Jadi tolong jangan salahkan kami!" Isak racun malu hati

Para ikan berteriak! Racun berteriak!
Bila nanti kau dengar ada sesuatu yang besar dan
meledak
Itu karena akhirnya seisi samudera berteriak!
"Terbakarlah engkau yang begitu tega membunuhi"

Ah,
Tutuplah telingamu, Dik!

Lebul, 4 Agustus 2004, 1:43 am) [11]

--------------------------------------------

Ratatotok

Ratap Buyat

Jakarta, 4 Agustus 2004

Oleh tJongPaniti [10]

------------------------------------------

Menunggu Kilat Merkuri
Oleh Dwi Muhtaman

Di atas perahu meninggi bintang-bintang pengharapan
Menggantung berabad-abad hingga lapuk buritan kayu
hitam
Layar yang berkobar mengantarkanku pada kaki langit
Berebut gelombang dan debur jantung samudra Teluk Buyat
Bertukar ajal dan gelora napas
Membawa hidup pulang dalam belanga dan tawa anak istri
Menaburkan pasir ke angkasa
dalam riang percikan sinar bulan
dan angin malam
do'a-do'a

Dan berlabuh
Dari jauh
Hingga abad berkarat kini
Dan kau datang tanpa mengetuk pintuku
Menebar kilau dari jaman yang sesak
Kilatan maut melesat dari roda-roda penggilingan
Mengubur dasar samudra
Bagi kemewahan tuan dan nyonya di lingkar jari-jari
Dan lingkar leher jenjang nyalang
Gaya terkini

Lalu
Diam-diam
Diam-diam
Kilau Merkuri mengantarkan semua ini
Tajam mengiris, tajam yang tak kurasakan
Syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
Dari kilauan lautan yang sama,
dari debur ombak Teluk Buyat yang itu juga
yang berabad-abad melapisi kulitku hingga legam
yang berabad-abad anginnya menjadi napasku
yang berabad-abad asinnya menggarami hidupku

Hingga kau datang diam-diam
dan aku-tanpa kutahu-menunggu kilat Merkuri di ujung leherku
tajam siaga mengiris diam-diam hingga ajal
syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
mayat demi mayat
Sebentar menanti seperti begitu lama mati

Dan kau sibuk mengeja syaraf demi syaraf
Ayat demi ayat kau taburkan untuk penyangkalan
Di antara mayat yang bergelimpangan
Dari kilauan Merkuri
mata pisau pada ujung leherku

Dan kau ingin menghapus riwayat ini?

Bogor, 4 Agustus 2004 [9]

--------------------------------------------

...Andini...
Kemarin,...
Kala mentari hadir menyapamu kau sambut dengan sejuta
senyum
Seraya berkata kau akan hidup seribu tahun lagi...
Hari ini, ...
saat mentari hadir mengajakmu bercengkrama,
Bercerita tentang hari esok yang penuh cinta
Kau sambut dengan tatapan kosong,
tak berdaya, tak mampu menggerakkan anggota badanmu
dan...
bahkan kau tak mampu lagi mengeluarkan suara
deritamu..
...Andini...
Kau telah beku dalam tidurmu yang damai
Tak ada lagi jerit sakitmu...
...Andini...
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu melanjutkan perjuangan dan
cita-citamu
Kami antar kau ke pembaringan terakhirmu

Selamat jalan Andini...
Tidurlah dalam damai dan kasih-Nya.
...perngorbananmu tak akan pernah sia-sia...

Makassar, Agustus 2004

Oleh Alam Cakke [8]

----------------------------------------

ANDINI
Oleh Sepmiwawalma

ANdai Daku Insaf mulai hari iNI
Maka kisah ANDINI dan ANDINI yang lain
BUYAT dan BUYAT yang lain
hanya sebuah catatan sejarah yang tak perlu terulang
lagi.

Tak akan ada lagi derita ini.
Derita tentang...
Rintihan kesakitan..
Tangis kepiluan..
Air mata kedukaan..
Teriakan penderitaan..
Helaan nafas penuh tekanan..
Langkah tanpa harapan..
Sebuah perjalanan tanpa kepastian..
Dan janji kehidupan yang penuh kesia-siaan..

Dan Andinipun menulis
Ingin kusalahkan Tuhan
Kenapa aku dilahirkan hanya untuk berjumpa dengan
semua derita ini. Bukan bukan Tuhan yang salah..
Kamu..
Kamu.. semua yang salah
Yang tidak berbuat apapun juga.

Palangkaraya, 3 Agustus 2004 [7]

------------------------------------------

Untuk kita semua,
Adakah yang lebih berarti dalam hidup ini selain soal
kemanusiaan? Kepergian seorang Andini dan derita kaum
Buyat hanyalah sebuah potongan episode panjang sejarah
penistaan kemanusiaan...
Bila hidup ini hanya untuk soal siapa yang merasakan
apa maka pernahkan kita semua memikirkan suatu saat
nanti kita juga akan mengalami tragedi kemanusiaan
itu,...
Kita dengan kemampuan nalar dan logika dapat berkelit
dan berdebat, ...... Tapi penderitaan dan kematian itu
bukan soal nalar dan logika rasional serta bukan juga
soal untuk diperdebatkan,...
Tapi dia adalah soal yang harus dirasakan,...
Bila kita belum memiliki kesempatan untuk merasakannya
maka tunggulah saatnya.
Kalaupun tidak di dunia yang hanya sepenggal waktu
ini, dunia abadi akan menanti kita dengan penderitaan
dan kematian yang abadi pula.

Bogor, 3 Agustus 2004

Oleh Rasdi Wangsa [6]

--------------------------------------------

Andai
Oleh Mastuati

Andai aku bisa mengembalikan waktu
dan menata negeri ini sedari awal, Andini

Aku akan menatanya dengan kasih dan kejujuran,
sehingga kau bisa bermain dan bermanja
dialam yang mengucapkan terima kasih,
karena kita telah memeliharanya
dengan cinta.

Andini, aku percaya bahwa
kau telah kembali kerumah Sang Pencipa
dengan selamat dan sejahtera.

Palangkaraya, 2 Agustus 2004 [5]

----------------------------------------------

Masihkah kita bisa nyenyak di atas rintihan kepedihan masyarakat Buyat?
Masihkan kita punya nurani atas tangisan ibu-ibu di Buyat?
dan yang paling penting ...
Masihkah kita punya nyali untuk teriak dengan lantang
...

Oleh Arifin Amril [4]

--------------------------------------

Kalaulah mungkin,
Kudekap nian tubuhmu yang rapuh Andini,
dan nyanyikan perih tubuhmu,
agar si rakus itu, tahu bahwa tubuhmu memang perih

tahukah kamu Andini? duka, tangis, dan jerit bundamu
adalah tangis pilu bagi mereka yang bernasib sama,
lihatlah, pongahnya Newmont,
juga sedang menebar maut di tanah Tapanuli, Sumut
hanya sedikit yang tahu, atau yang peduli
bahwa 5 tahun lagi,
teman kita di Madina juga bernasib sama

Oleh Megianto Sinaga - Medan [3]

-------------------------------------------

Aku Andini
Oleh Marselina

(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...

Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.

(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...

Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....

Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..

Tuhan... apa salahku..???

Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...

Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..

Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya

Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...

Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..

Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati

Dan kini.... aku pun mati...

Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]

------------------------------------

"Langit Mendung Di Teluk Buyat"
Oleh Jpang

Wajah-wajah tertutup jelaga
Tangan-tangan terbalut nestapa
Sebatang tubuh mungil mati ternoda
Ikan-ikan entah ke mana
Ganggan hijau berubah warna
Burung-burung tak lagi bersuara
Andini Lensun mati sia-sia

Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian
Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun
Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu
dasawarsa
Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat

Teluk Buyat menyaksikan Andini Lensun mati sia-sia
Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa
Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia
Terbungkus landir minamata

Langit mendung di Teluk Buyat
Berpuluh manusia meregang nyawa
Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala
Atau badan merana menjelang garis penutup usia

Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan
Menarikan dansa kesuraman di atas dahan-dahan bakau
Menukik tajam menyayat reruntuhan karang
Lalu patah terhempas gelombang kerakusan

Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat
Matanya melelehkan kegelisahan
Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adidaya
Kilaunya mewarnai horison benua kebanyakan
Meninggalkan bekas Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat

Juli 2004 [1]

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (1-Sarekat Hijau Indonesia)

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pergerakan Pemilu di Indonesia

Pemilu 1999, merupakan pemilu umum langsung yang pertama dilaksanakan di Indonesia. Pemilu yang sebelumnya diprediksikan akan berlangsung ricuh, sesungguhya merupakan proses politik yang diharapkan dapat merubah kondisi Indonesia yang selama satu dasawarsa dibawah rezim otoriter. Harapan yang begitu besar tentu saja dimiliki sebagian besar rakyat Indonesia yang menghendaki perubahan, dan pemilu langsung merupakan salah satu jalan menuju kesana dalam konteks pembangunan demokrasi yang dilakukan oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Euphoria terhadap pemilu 1999 ini dapat diukur dari banyaknya partai politik yang bertarung untuk memperebutkan kekuasaan, sebanyak 48 partai politik maju ke kancah pertarungan pemilu 1999. Jumlah partai politik yang mengikuti pemilu ini merupakan jumlah yang terbanyak setelah pemilu 1955 yang diikuti lebih dari 30 partai politik dengan kondisi politik Indonesia yang juga memanas. Pemilu 1999, menjadi momentum bagi partai-partai politik yang diberangus pada tahun 1977 oleh Pemerintah Orde Baru, untuk kembali ke kancah politik praktis. Demikian juga dinamika politik aliran yang kembali menguat pada pemilu 1999 ini, antara aliran politik nasionalis dan aliran politik islam.

Dibawah bayang-bayang kekhawatiran akan terjadi kerusuhan massa ditengah situasi politik yang memanas, pemilu 1999 akhirnya bisa terselenggara dengan baik. Sebagai sebuah proses demokrasi yang baru, pemilu 1999 telah melahirkan berbagai pelajaran penting. Sebagai pemenangnya adalah PDI-P yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan 153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 suara atau 22,44 persen sehingga mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding Pemilu 1997. PKB dengan 13.336.982 suara atau 12,61 persen, mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71 persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding Pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen, mendapatkan 34 kursi.2


Selanjutnya


silah simak pula pandanga

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union

Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain



baca juga

Pemilu dan Depresi Ekonomi

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Pemilu dan Depresi Ekonomi

Dalam pengamatan Martin Manurung ditengah ingar bingar Pemilu 2009 ini berbagai analisis dan tulisan yang telah muncul di berbagai media tak kunjung mengaitkan resesi itu dengan Pemilu di Indonesia. Padahal, solusi atas krisis saat ini adalah satu-satunya sumber legitimasi yang pantas dan patut atas proses pelaksanaan Pemilu, para pemenangnya, maupun presiden yang akan terpilih tahun ini.

Dalam artikelnya Pemilu dan Depresi Ekonomi kemudian Martin dengan lugas menulis “para politisi, baik pimpinan partai, calon anggota badan legislatif dan bahkan calon presiden, memiliki utang pada rakyat pemilihnya, yaitu solusi implementatif dalam bentuk kebijakan-kebijakan alternatif yang kongkret atas krisis yang mulai menyengsarakan rakyat secara besar-besaran ini. Jika tidak, Pemilu hanya akan jadi pengulangan ritual-ritual kebohongan yang satu untuk digantikan dengan kebohongan yang lain”.

Saya cemas karena bisa jadi situasi negeri ini belum jauh berubah dari masa Soeharto dulu, silah cermati petikan puisi Wiji Thukul ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992. Tidakah Ini Masih terus berlanjut?

Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak Tertekan,

Atau yang satu ini

Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
……….
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)


Silah baca artikel Martin Manurung selengkapnya di
http://indoprogress.blogspot.com/2009/03/pemilu-dan-depresi-ekonomi.html

baca pula

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (2- Pejuang HAM)

IKRAR PEJUANG HAK ASASI MANUSIA

Kami, Para Pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), berasal dari 24 propinsi di Indonesia, berlatar belakang sebagai korban Pelanggaran HAM, baik hak Sipil Politik dan hak Ekonomi, Sosial, Budaya menyatakan:

1.
Prihatin dengan tidak adanya kemauan politik Negara menyelesaikan berbagai masalah pelanggaran berat HAM dan memenuhi hak-hak dasar rakyat.
2.
Prihatin dengan tidak adanya upaya-upaya Negara untuk memberikan perlindungan hak-hak dasar rakyat dari krisis ekonomi, kerusakan lingkungan hidup dan rasaaman.
3.
Prihatin dengan penghilangan makna Pemilu, yang hanya menjadi rutinitas lima tahunan, dan ajang bagi elit politik warisan Orde Baru, serta kelompok pro status quo untuk melanggengkan kekuasaan.
4.
Prihatin dengan calon legislatif, bakal calon presiden dan wakil presiden yang tersedia dalam Pemilu 2009, umumnya memiliki latar belakang sebagai pelaku pelanggar HAM, pelindung pelanggar HAM, atau yang tidak punya agenda HAM.

Berdasarkan keprihatinan di atas, kami para pejuang HAM Indonesia yang telah menggelar Kongres Pejuang HAM bertempat di Wisma MAKARA Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada tanggal 17-20 Maret 2009, menyatakan:

1.
Menyepakati bahwa penguatan dan konsolidasi gerakan rakyat/korban sebagai jalan keluar untuk memperkuat daya kritis, daya kontrol dan daya tawar politik yang sejati.
2.
Menyerukan kepada masyarakat khususnya pemilih, untuk tidak memilih caleg, parpol dan capres/cawapres pelaku pelanggar HAM, pelindung pelanggar HAM, atau yang tidak punya agenda HAM.
3.
Menyerukan kepada masyarakat khususnya pemilih, untuk memilih caleg, parpol,calon presiden dan calon wakil presiden yang pro HAM dan pro rakyat, serta tidak mudah percaya pada janji mereka yang tidak punya jejak rekam keberpihakan terhadap korban/rakyat.
4.
Mengajak kepada rakyat yang memilih golput, untuk menjadi golput yang kritis dan aktif dengan mengorganisir diri, serta melakukan pendidikan politik.

5.
Mendesak Negara untuk memenuhi kewajibannya untuk menuntaskan berbagai masalah pelanggaran berat HAM dan memenuhi hak-hak dasar pada sisa waktu pemerintahannya.

Atas nama kebenaran dan keadilan, Ikrar pejuang HAM ini kami peruntukan bagi perubahan Indonesia yang lebih beradab, berprikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

Depok, 20 Maret 2009

Panitia Kongres Pejuang HAM 2009KontraS, ICTJ, IKOHI, JATAM, JSKK, Sawit Watch, KPNNI, INFID, Kalyanamitra, KontraS, LBH Jakarta, PBHI Jakarta, SHI, Demos, Walhi, YAPPIKA, PRAXIS, Foker LSM Papua, KontraS Aceh, Koalisi NGO HAM Aceh, Federasi KontraS

Media Pendukung : Voice of Human Rights dan Media Bersama

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Indonesian Migrants Worker Union


Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain




silah baca

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat (Puisi 2)

Kumpulan Puisi Dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun (Bagian 2)

(31 puisi ini akan dipublikasikan tiga hari sekali sampai 3 Juli tanggal kematian Andini, sekaligus menyuarakan kepentingan para survivor di Sidoarjo yang terus menggugat kesewenangan pengusaha - lapindo - dan penguasa)


(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...
Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.

(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...
Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....
Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..
Tuhan... apa salahku..???
Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...
Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..
Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya
Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...
Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..
Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati
Dan kini.... aku pun mati...
Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]


Catatan :

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 31 sahabat yang perduli atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada Andini Lensun dan warga buyat oleh perusahaan tambang raksasa dan kompradornya (pemerintah-penguasa). Memang hukum hari ini tidak memihak kepada para korban, peradilan belum lagi menjadi rumah kebenaran dan keadilan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan oleh warga dan jejaring NGO, akhirnya kandas. Tetapi biarkan api perlawanan tetap membara dan nurani tetap dihidupkan, karena diam adalah pengkhianatan. Kumpulan puisi biarkan jadi nyanyian nurani dan jadi doa yang menggerakan.

=====

Perusahaan tambang emas Newmont AS akhirnya dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok Public Eye Award 1, Public Eye Award 2, Public Eye Award 3


Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivo (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat (silah kunjung kisah Andini Lensun dalam Kami Generasi Benjol)

salam hangat
andreas iswinarto
pengumpul puisi

Cahaya Bukan Palu

tidakkah kerangka
bahkan menara itu tlah ada
jauh sebelum kapal-kapal melaut
dan tak ada cemas tentang karam

ya, mercu suar



cahaya bukan palu

Minggu, 29 Maret 2009

Ini Komidi Gombal : Partai-Partai Politik Sama Bohongnya

Berikut ini adalah beberapa petikan puisi Wiji Thukul seperti diulas Wahyu Susilo dalam artikelnya Pemilu dalam Puisi-puisi Wiji Thukul (Kompas 15 Februari 2009).

Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue

(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)

...

Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,

Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,

Mengawang jauh dari kami punya persoalan

Bubarkan saja itu komidi gombal,

Kami ingin tidur pulas,

Utang lunas,

Betul-betul merdeka,

Tidak Tertekan,

Dari puisi ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992.


Pesta Pora Pemilu dan Kesepian Kaum Miskin di Kolong Jembatan


Ironisnya puisi yang dituliskan menjelang pemilu 1992 (juga mewakili wajah pemilu-pemilu lain sepanjang pemerintahan Soeharto), bagi saya masih tetap relevan hingga hari ini setelah Soeharto dipaksa turun.

Wahyu Susilo mengakhiri artikelnya dengan kalimat “Hingga kini dia belum kembali”.

Sedang edisi khusus Tempo Indonesia yang Kuimpikan : 100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri, mengakhiri ulasannya atas puisi-puisi Wiji Thukul dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, Magelang, 2000) dengan kalimat “ Ia memang hilang, tapi lewat puisinya ia terus berjuang”.

Aku Ingin Menjadi Peluru adalah salah satu dari 100 teks yang dipilih Tempo sebagai teks terpenting dan paling berpengaruh bagi perwujudan proses pencarian terus menerus makna menjadi Indonesia atau dalam kata-kata Tempo menyuarakan imaji kebangsaan. (silah baca Hilang Tapi Terus Berjuang dan juga Kompilasi Edisi Khusus Kebangkitan Nasional).

Lewat puisinya ia terus berjuang, juga menyuarakan kepentingan rakyat hingga di masa pemilu 2009 ini. Silah baca suara Wiji Thukul ini seperti digaungkan kembali oleh Wahyu Susilo.

Pemilu dalam Puisi-puisi Wiji Thukul

Kompas, Minggu, 15 Februari 2009
Wahyu Susilo
Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)

Sepenggal bait puisi tersebut mulai dilantunkan sebagai lagu oleh Wiji Thukul setiap ngamen puisi keliling kota. Tentu sangat benderang pesan yang terkandung dalam bait puisi tersebut: tak boleh siapa pun memaksa untuk memilih. Dalam penelusuran penulis, tampaknya puisi ini dibuat saat terjadi penangkapan-penangkapan terhadap mahasiswa yang aktif berkampanye golput. Salah satu kasus golput yang berujung sampai pengadilan adalah kasus kampanye golput yang diorganisir mahasiswa Semarang (Lukas Luwarso dan Poltak Ike Wibowo). Puisi ini adalah wujud solidaritas Wiji Thukul terhadap keberanian mereka.

selanjutnya


=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia





## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================



baca pula


Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

kepal-kepal akaran

AIKONISASI ZAPATISTA :

Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas*

(istilah dalam bahasa Spanyol yang kurang lebih bermakna praktik yang cerdas melakukan manuver-manuver dan siasat-siasat untuk membuka, menerobos, membuat dan memanfaatkan peluang politik. Tapi, dalam penggunaan lain bisa juga berarti terperangkap setelah melakukan pembukaan, penerbososan dan pemanfaatan peluang politik)

Pengantar Noer Fauzi untuk Buku Bayang Tak Berwajah (Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) Insist Press 2003

Ketahuilah! Bahwa tanah, hutan, dan air yang telah dirampas oleh para penguasa hacienda, cientifico, atau cacique melalui tirani kekuasaan dan tipuan hukum, akan dikembalikan dengan segera pada rakyat atau warga yang berhak atas kekayaan itu, sebab, se­sungguhnya mereka itu dianiaya oleh kejahatan para penindas. Mereka mesti mempertahankan miliknya itu dengan sepenuh hati melalui kekuatan bersenjata. (Zapata, November 1911)

Setelah ditunda beberapa kali dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista memasuki San Cristobal beberapa menit sesudah tengah malam pada 1 Januari, 1994 ("Seperti biasa kami ter­lambat," jelas Komandante Marcos), mengumumkan 'Deklarasi Hutan Lacondon' dari balkon istana pemerintah, memporak­porandakan balai kota, menempelkan proklamasi perang mereka di dinding‑dinding kota kerajaan lama, menyerang instalasi mili­ter di dekatnya, lalu berjalan ke gunung‑gunung, kembali ke basis mereka di hutan.

Dua puluh lima bulan setelah pernberontakan Zapatista mem­bahana ke seluruh pelosok negeri dari pasar kampung sampai kamar kantor presiden, pada 16 Februari 1996, Tentara Pem­bebasan Nasional Zapatista dan pemerintah Meksiko menanda­tangani kesepakatan substantif pertama menuju perdamaian, yang terkenal dengan nama'Perjanjian‑perjanjian San Andres'. Dalam dokumen perjanjian itu, pemerintah federal menanggapi sebagian tuntutan Zapatista, utamanya hal yang berkaitan dengan hak‑hak dan budaya masyarakat adat, berupa pengakuan masya­rakat Indian sebagai subjek sosial dan historis sebagai prinsip kewarganegaraan. Sesungguhnya, dokumen perjanjian itu baru berisikan 1 dari 6 topik yang dirundingkan. Satu topik itu berasal dari meja runding'hak‑hak budaya'. Selain meja runding 'hak‑hak budaya' (i), meja‑meja runding yang tidak berbasil mengeluarkan perjanjian adalah: (2) demokrasi dan keadilan; (3) pembangunan dan kesejahteraan; (4) masalah perempuan; (5) konflik regional; dan (6) demiliterisasi.

Perjanjian itu adalah hasil yang dimenangkan dengan susah‑payah dari lima ronde pembicaraan pertama antara kedua pihak untuk menyelesaikan akar penyebab pertikaian itu. Butir‑butir perjanjian dari meja 'hak‑hak budaya' itu antara lain:

- Pengakuan terhadap masyarakat Indian di dalam konstitusi, termasuk hak‑hak mereka untuk menentukan nasib sendiri di dalam kerangka otonomi yang konstitusional;

- Perwakilan dan partisipasi politik yang lebih luas;

- Pengakuan hak‑hak ekonomi, politik, sosial, dan budaya mereka sebagai hak‑hak kolektif‑,

- Jaminan akses penuh pada sistern hukum dan pengakuan sistern normatif masyarakat adat;

- Penghormatan atas perbedaan budaya, peningkatan revitalisasi budaya masyarakat Indian;

- Peningkatan dalam pendidikan dan pelatihan dengan menghormati dan mengembangkan pengetahuan tradisi; dan

- Meningkatkan kesempatan produksi dan pekerjaan, termasuk perlindungan kaum migran masyarakat adat.

Setelah penandatanganan Perjanjian‑perjanjian San An­dres, perwakilan masyarakat adat dan organisasinya ber­kumpul dalam Kongres Masyarakat Adat Nasional mulai tanggal 8 hingga 12 Oktober 1996 di Mexico City dengan khidmat memproklamasikan deklarasi itu, yang pada inti­nya ingin mengatakan bahwa "tidak ada lagi Meksiko tanpa kami". Dengan demikian ada upaya untuk menempatkan identitas etnik sebagai bagian dari identitas nasional Meksiko di masa depan

Pesona Zapatista

Gerakan perjuangan memperoleh otonomi masyarakat adat pada tingkat lokal maupun regional, seperti telah disinggung diatas, memang telah berlangsung lama. Bahkan, pada tahun 1974, Kongres Masyarakat Adat pertama diselenggarakan di San Cris­tobal de las Casas. Dihadiri 1230 delegasi, yang terdiri dan 587 kelompok etnik Tzeltales, 330 Tzotiles, 152 Tojolabales, dan 151 Choles yang mewakili 327 komunitas. Tuntutan otonomi ini ber­pokokkan partisipasi masyarakat adat pada berbagai tingkatan dan bidang kehidupan: ekonomi, politik, budaya, dan proses‑pro­ses pengambilan keputusan formal negara.Zapatista, merupakan revitalisasi semangat Emilio Zapata (pahlawan petani Meksiko yang memperjuangkan reforma agraria di Meksiko di sepanjang masa revolusi 1910‑1917‑lihat kotak 'Zapata dan Sepak Terjang Zapatista: Caplikan Kisah').

Ia adalah suatu gerakan bersenjata yang berperang melawan tentara dan pemerintahan federal dengan tujuan membuka ruang politik bagi masyarakat sipil agar mempunyai suatu momentum yang berjuang (1) mewujudkan harga diri masyarakat adat (ber­mula dari daerah‑daerah berbahasa Mayan Jzotzi‑, Tzettal‑, Tojo­labal‑, dan Chol‑ yang tinggal di negara bagian Chiapas) dalam tatanan negara‑bangsa Meksiko yang dinilai rasis; (2) menghenti­kan proyek neoliberal yang dimotori oleh perjanjian kerjasama perdagangan bebas antara pernerintahan Meksiko 'Amerika Seri­kat, dan Kanada melalui perjanjian NAFTA (North American Free Trade Area) yang mengakibatkan penyingkiran petani dan degra­dasi pedesaan; dan (3) membangkitkan inspirasi masyarakat sipil di Meksiko untuk membentuk suatu koalisi nasional menentang otoritarianisme partai yang berkuasa lama sekali, Institutiona­lized Revolutionary Party (PRI) dan mengembangkan demokrasi akar rumput.

Perlawanan masyarakat adat di Chiapas, menurut Luis Her­nandez Navaro, hanya merupakan 'puncak dari sebuah gunung es'. Dalam realitas sosial‑politik Meksiko yang lebih luas perlawa­nan masyarakat adat itu‑ jauh lebih banyak lagi daripada yang telah diketahui publik secara internasional. Bahkan, sebagaimana diinformasikan Dr. Salomon Nahmad, ada gerakan yang sudah tidak mau lagi masuk dan/atau menggunakan saluran perunding­an untuk menyelesaikan masalah‑masalah yang menjadi tuntutan perjuangannya, yakni gerakan Maois di Oaxaca.

Menurut Lynn Stephen, perjuangan hak‑hak masyarakat adat dan penentuan nasib sendiri di Meksiko melibatkan empat arena kunci: (i) pengalaman lapangan pangan dalam hal otonorni baik secara historis maupun yang sekarang ini; (2) penandatanganan Per­janjian San Andres mengenai Hak‑hak dan Budaya Masyarakat Adat dan Implementasinya; (3) penciptaan dan penguatan gerak­an nasional untuk otonorni masyarakat adat di Meksiko dan be­ragarn interpretasi otonomi dan penentuan nasib sendiri; dan (4) pendefinisian kembali hubungan antara masyarakat adat dan ne­gara Meksiko jauh dari fokus sejarah indigenismo, dengan asindigenismo dengan asimi­lasi sebagai fokusnya.

"Masalah masyarakat adat telah menjadi pusat agenda politik negeri ini," demikian tutur Luis Hernandez Navarro". Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa gerakan masyarakat adat pada dasarnya merupakan respon masyarakat adat atas kebijakan pernbangunan pernerintahan Meksiko yang anti desa dan anti pertanian. Asumsi kebijakan itu adalah pertanian rakyat di Meksiko tidak dapat di­andalkan, maka harus diupayakan mengurangi jumlah petani. Karenanya negara Iebih baik melakukan investasi di kota ketimbang di desa. Anggaran negara untuk daerah pedesaan dipotong, dan kelembagaan pemerintahan untuk mendukung desa dimerosot­kan andilnya. Kalaupun ada upaya pengembangan sektor pertani­an, seiring derap liberalisasi ekonomi, maka dukungan diberikan pada usaha‑usaha pertanian skala besar. Biasanya untuk meng­hasilkan komoditi ekspor, seperti bunga, buah‑buahan, dan ter­nak. Padahal inti ekonomi pedesaan adalah jagung. Liberalisasi ekonomi telah menyingkirkan petani jagung, juga petani kacang dan gandum. Petani dan peternak menengah juga bangkrut.

Semula, lanjut Navarro, "Gerakan masyarakat adat lebih se­bagai gerakan etis, sebagai respon atas hilangnya identitas diri masyarakat adat dan dampak liberalisasi ekonorni." Belakangan baru berkernbang menjadi political ethnical movement. Pada ta­hap ini identitas budaya (etnik) menjadi basis perjuangan rakyat yang tertindas itu. Gerakan politik‑etnik masyarakat adat ini mernbuat gerakan petani (yang mulai mernudar daya ubahnya, padahal punya akar sejarah yang panjang) menemukan kembali susunan saraf dan rohnya pada gerakan identitas etnik ini. Demikianlah, andil perlawanan Zapatista, sehingga kelompok‑kelom­pok petani‑petani masyarakat adat di seluruh negeri terus‑ meng­ikuti kepimpinan ide Zapatista. Mereka mengemukakan tuntutan ideologis bahwa Meksiko adalah negeri mestizo dan Indian yang hidup dalam gelimang fakta‑fakta eksploitasi pedesaan dan marginalisasi.

Sebenarnya, gerakan Zapatista, dengan ragam caranya me­nandai kebangkitan (kembali) gerakan rakyat Meksiko bingga gerakan sosial baru di Dunia Ketiga. Gerakan Zapatista adalah pertama‑tama bukan gerakan berbasis partai, tapi gerakan popu­lis untuk menjalankan agenda masyarakat sipil secara eksplisit. Meskipun berangkat dari realitas derita masyarakat adat, namun gerakan Zapatista menyuarakan tuntutan masyarakat sipil umum­nya atas kendali negara. Ia bukan hanya membangkitkan kelom­pok‑kelompok perjuangan hak‑hak masyarakat adat, tapijuga ke­lompok‑kelompok prodemokrasi, pembaruan hukum, kesetaraan gender, pembaruan/reforma agraria, dan hak‑hak asasi manusia. Lebih lanjut, sebagai bentuk organisasi, gerakan Zapatista mem­bawa masuk sejumlah besar pendukung dalam proses‑proses dan/ atau upaya‑upaya perubahan itu: kelas menengah pada umum­nya; partai politik (oposisi); lembaga‑lembaga penelitian dan pen­didikan (termasuk guru‑guru); ilmuwan'independen'; aktivis‑ak­tivis 'individual' (non‑lembaga); LSM (baik nasional, propinsi, maupun lokal/distrik); organisasi massa (termasuk serikat buruh, serikat petani, serikat perempuan, d1l.); lembaga‑lembaga Masya­rakat Adat; komunitas; dan kelompok‑kelompok kepentingan lainnya.

Dengan demikian, suara perlawanan Zapatista melintasi fakta­fakta penderitaan lokal dengan membongkar akar‑akar penyebab­nya: kontradiksi di dalam sistem kapitalisme dunia yang muara­nya di Meksiko ini tidak dapat dibendung dan bahkan diperderas oleh Pemerintah Federal Meksiko. Inilah yang dihadapi langsung oleh dengan gerakan Zapatista. Gerakan Zapatista bukan saja me­nyatakan melakukan kebajikan revolusi ('tanah dan kemerdeka­an') dari nenek moyang republik itu, tetapi juga mereka meng­gunakan retorika pemerintah sendiri mengenai demokrasi, identi­tas budaya, partisipasi, dan hak asasi manusia sebagai senjata melawannya. Lebih lanjut, gerakan Zapatista telah membum­bung‑membahana, seperti banyak gerakan sosial baru (the new social movements) lainnya, melalui penggunakan simbol, media elektronik, bentuk‑bentuk baru dari aksi‑aksi kolektif dan organi­sasi gerakan sosial, dan koalisi masyarakat sipil lokal‑nasional­global yang melampaui kemampuan kendali negara atas gerakan­gerakan setempat. Dalam kalimatnya Gerrit Huizer, globalisasi dari atas ditandingi dengan globalisasi dari bawah dan keduanya adalah suatu proses yang dialektik. 12

Arena Politik, Ekonomi, dan Budaya

Secara nasional, keIompok‑kelompok masyarakat sipil di se­luruh Meksiko biasa mengidentifikasi tiga arena perjuangan yang musti mereka terjuni secara simultan. Pertama adalah tidak ada­nya partisipasi dan demokrasi politik. Partai politik Meksiko yang dominan, Institutionalized Revolutionary Party, sudah berkuasa terus‑menerus selama hampir 70 tahun. Kedua adalah bahwa re­formasi ekonomi yang kompleks menyusul krisis ekonomi di ne­geri itu dan program penjaminan menimbulkan perubahan‑per­ubahan mendasar dan merugikan dalam tatanan sosial negeri itu. Terakhir adalah masalah pengembangan budaya politik demo­krasi di sebuah negeri yang tidak memiliki tradisi dan struktur dasar politik demokratis.

Dominasi PRI (Institutionalized Revolutionary Par­ty).

Cikal‑bakal partai yang kemudian menjadi PRI bermula pada tahun 1929. Sebagai partai politik, sesungguhnya partai ini di awal pendiriannya berjalan bersama dengan pemerintah. Tiga ciri PRI menjadi kuncinya. Pertama adalah bahwa sementara para presi­den hampir memiliki kekuasaan penuh selama periode 6 tahun memerintah, mereka tidak bisa lagi ikut dalam pemilihan presi­den untuk periode kedua dan segera setelah periode mereka ber­akhir, mereka diasingkan secara politik (misalnya Presiden Eche­verria yang sangat berkuasa langsung dijadikan duta besar untuk Guam setelah pemerintahannya berakhir). Jadi, pihak yang me­ngendalikan mesin politik negeri itu adalah partai, bukan orang tertentu.

Ciri kedua, adalah bahwa bagaimanapun semua organisasi Meksiko harus menjadi bagian dan PRI yang merupakanpartai­nya pernerintah. Petani harus menjadi bagian dan persatuan pe­tani yang diatur oleh pemerintah. Para pekerja menjadi bagian dan serikat pekerja yang sangat berkuasa yang dikendalikan pe­merintah. Oposisi terhadap PRI diperbolehkan, sebagian besar dalam bentuk partai sayap kanan yang tidak besar dan mewakili kepentingan orang‑orang kaya pengekspor barang dari Meksiko. Oposisi kecil itu tetap dipertahankan karena membuat PRI tam­pak moderat dan demokratis, yang juga dengan sendirinya mem­berikan alasan resmi untuk meningkatkan kendali negara.

Kendali PRI terhadap politik nasional Meksiko adalah menye­luruh, walaupun begitu. PRI selalu peduli dengan dukungan dari sektor‑sektor sosial yang strategis. Sebagian besar gerakan refor­ma/pembaruan agraria dan nasionalisasi perminyakan tahun 1930‑an telah membuat PRI memiliki basis massa dalam upaya menghadapi elit borjuis yang masih ada serta gereja Katolik. PRI menyelenggarakan upacara besar‑besaran dengan mengadakan pemilihan umum secara berkala yang sebenarnya sangat kotor. Namun, PRI tidak pernah menguasai total pedesaan.

Dalam bidang ekonomi, PRI mempertahankan kendalinya me­lalui politik stick and carrot (ancaman dan hadiah). Sepanjang 193o‑an dan 1940‑an, jutaan hektar tanah diambil alih dari pemi­lik tanah yang kaya dan diberikan kepada masyarakat petani da­lam bentuk'ejido'. Ejido adalah kepemilikan tanah bersama yang tidak bisa dijual. Politik di balik ejido adalah membentuk basis dukungan masyarakat pedesaan untuk pemerintah. Pada saat yang sama, ejido menjadi celaan para pengusaha dan birokrasi pro‑pemilikan pribadi karena dinilainya ejido menghalangi prakarsa individual untuk kemajuan produksi pertanian. Program besar lainnya meneakup program kesehatan dan jaminan sosial, subsidi bagi konsumen, serta pembentukan buruh pada industri­industri badan usaha milik pemerintah. Selain itu, terlihat jelas bahwa sebagian besar oposisi 'kiri' kelas menengah menerima beragam subsidi dari negara untuk memastikan bahwa protes sayap kiri tetap berada di kampus dan di majalah yang tidak ba­nyak dibaca orang.

Ancaman yang nyata juga ditunjukkan (walaupun jelas tampak bahwa PRI selalu memastikan tentaranya tidak besar dan jauh dari politik): para pemrotes pedesaan sering ditembak atau dipenjarakan, organisasi masyarakat disusupi dan dirusak, dan orang‑orang yang tidak setuju di kota dalam gerakan buruh dikendalikan melalui organisasi pekerja pernerintah yang sangat kuat dan kejam. Titik balik dalam sejarah Mek­siko seperti itu adalah kerusuhan mahasiswa dan pembu­nuhan massal tahun 1968, ketika untuk pertama kalinya tentara PRI secara terbuka menembak lebih dan 1000 ma­hasiswa. Meski kerusuhan di Tlatelolco itu tidaklah terlalu besar (lebih kecil dari pernbunuhan pemberontak pedesaan di konflik‑konflik lainnya), tetapi kenyataannya adalah bah­wa negara menyadarkan sebagian besar kelas menengah intelektual perkotaan dengan adanya kekerasan yang demi­kian terbuka itu. Akibatnya, para penggerak mahasiswa pa­da gilirannya sampai pada suatu tahap yang secara tiba­tiba menghentikan 'nyanyian dan tarian resmi' mereka: "love it but join it" (dengan PRI) dan memulai usaha rahasia di seluruh Mexico City dan juga di tempat‑tempat lain.

Muaranya adalah keretakan‑keretakan kendali PRI ter­hadap rakyat Meksiko yang muncul sepuluh tahun kemudi­an, yakni di awal 1980‑an, tidak lama setelah devaluasi be­sar pada akhir 1970‑an. Ketika itu, sebagian gubernur nega­ra bagian Utara jatuh kepada pihak oposisi dan sebagian lagi tetap dikuasai PRI (karena pemilihan yang kotor). Na­mun, tantangan kebanyakan datang dari sayap kanan, dan bukan sayap kiri. Baru ketika AS‑IMF (International Mone­tary Fund) menjadi penyedia paket uang yang memulai penghancuran subsidi negara pada pertanian pedesaan. Pada saat itulah gerakan‑gerakan orang miskin mulai me­lawan PRI. Pada tahun 1988, PRI hampir kalah dalam pe­milihan nasional, sekali lagi menang karena pemilu yang kotor sekali dalam proses pemilihan presiden baru (si kan­didat adalah anak presiden tahun 193o‑an yang telah mem­bagi‑bagikan tanah ejido dan menasionalisasi industri per­minyakan). Namun, kali ini PRI sangat lemah, dan protes besar‑besaran terhadap kebohongan pemilu pecah di se­luruh negeri. Perpaduan antara krisis ekonomi dan protes rakyat menyebabkan terjadinya keterbukaan politik secara terbatas. Di pemilu berikutnya, PRI sebenarnya kehilangan kendali terhadap Mexico City, sejumlah pemerintah negara bagian di utara, dan beberapa kotamadya, dan kota‑kota di seluruh negeri itu. Walaupun sejak saat itu PRI mulai pulih (karena pertengkaran di antara kaum oposisi) mitos PRI yang tak terkalahkan sudah hancur, seiring tumbuhnya organisasi masya­rakat sipil di Meksiko melawan kendali PRI.

Reformasi Ekonomi. Ekonomi Meksiko juga telah meng­alami sejumlah transformasi radikal. Sebelum krisis, sekitar 50% dari seluruh produksi nasional berada di tangan negara atau per­usahaan yang dikendalikan negara. Pasar‑pasar domestik sangat dilindungi di bawah kebijakan 'substitusi impor', dan baik efisien­si produksi maupun angka pertumbuhan ekonomi luar biasa ren­dah. Gagasan ekonomi Meksiko dengan hutang internasional yang luar biasa besar dimulai pada akhir tahun 1970‑an. Harga minyak yang tinggi dan ditemukannya cadangan minyak yang baru dalam jumlah besar ditemukan di bagian tenggara negeri itu, membuat banyak politisi yakin bahwa mereka leluasa dan aman memboros­kan kekayaan publik, memakai hari ini dan membayar kembali besok. Konsumsi meningkat gila‑gilaan, korupsi yang sudah ende­mik meledak, dan transaksi ekonomi tipa‑tipu banyak sekali ter­jadi sementara banjir uang spekulasi tumpah ke dalam negara itu. Ketika harga minyak terjerembab, demikian juga dengan pe­merintahan Meksiko. Kejatuhan Meksiko segera disusul oleh ke­jatuhan serupa di Brasil dan Argentina, yang memicu program restrukturisasi yang dikenal di seluruh Amerika Selatan sebagal 'dekade yang hilang' (sebenarnya seluruh sektor kesehatan, pen­didikan, dan indikator kesejahteraan lainnya jatuh). Baru pada tahun 1998 upah pekerja yang sebenarnya pulih sampai pada ting­kat seperti pada tahun 1974.

Reformasi ekonomi Meksiko diikuti dengan jalur yang sangat dikenal, yang masih ada kelanjutannya. Sebagian besar industri negara dijual atau ditutup; hanya industri perminyakan yang be­lum diprivatisasi yang tetap berdiri (dan sangat tidak efisien). Bursa efek dibuka. Ejidos dihapuskan pada awal 1900‑an. Be­ragam perjanjian, di antaranya NAFTA (North American Free Trade Agreement), dibuat untuk membuat Meksiko menjadi ne­gara dengan ekonomi yang berorientasi pada ekspor.

Presidennya sekarang ini sedang mendorong reformasi‑refor­masi ekonomi ini semaksimal mungkin, dan hal ini diperkuat oleh prestasi bahwa angka pertumbuhan ekonomi Meksiko yang baru itu memang tinggi. Agenda neoliberal untuk Meksiko (paling ti­dak seperti yang dikemukakan) bergantung pada integrasi pasar global, penghapusan subsidi dan proteksi pasar, dan mendorong mobilitas modal baik di dalam negeri maupun antara Meksiko dengan negara‑negara yang maju terutama Amerika dan Kanada. Sebagian besar subsidi pertanian dihapuskan, dan jaminan­jaminan sosial dan kesejahteraan dikurangi.

Hasil‑hasil dari perubahan‑perubahan ini menciptakan pihak yang menang dan pihak yang kalah. Para pemenang adalah indus­trialis bagian Utara dan kelas menengah kota yang jumlahnya te­rus meningkat. Pihak yang kalah adalah para produsen kecil, pe­kerja perusahaan milik negara, dan penduduk pertanian yang sebelumnya bergantung pada harga‑harga yang ditetapkan peme­rintah. Saat ini, Meksiko memiliki hampir 7 juta pekerja di Ameri­ka Serikat, banyak yang berasal dan masyarakat yang sangat mis­kin, yang pengiriman uang dari pekerja di luar itu mampu mem­buat seluruh penduduk desa bertahan.

Kelompok yang kalah lainnya kebanyakan adalah kelas mene­ngah tradisional Meksiko. Menyusul kebangkrutan ekonomi se­telab program paket hutang IMF, kelas menengah profesional dan pengusaha kecil‑yang telah berhutang dan menggadaikan harta­nya dengan keyakinan bahwa program reformasi betul‑betul akan membawa kesejahteraan bagi mereka‑membentuk gerakan unik yang disebut 'El Barzon', suatu kelompok yang diperuntukkan bagi prinsip bahwa mereka seharusnya tidak membayar utang yang meningkat luar biasa tinggi. Gerakan itu menjadi begitu po­puler dan efektif sehingga mengancam banyak bank nasional. Na­mun, hal yang membuat gerakan ini berarti adalah tuntutannya yang luas pada kelas menengah yang secara politik berpengaruh (dan biasanya reaksioner). Sejalan dengan itu, banyak manajer tingkat menengah di industri milik negara yang segera. diprivati­sasi menggencarkan suara politik mereka dan menyamakan pijak­an dengan gerakan pekerja dan petani yang beroposisi.

Dewasa ini, negeri itu semakin terpolarisasi dalam hal program ekonomi. Dukungan kuat untuk reformasi neoliberal tetap men­jadi kebijakan negara (dengan dukungan luas dari dunia inter­nasional) dan para industrialis di bagian Utara. Tetapi dengan semakin banyaknya orang Meksiko yang menyadari bahwa hal itu tidak banyak memajukan mereka sehingga kerjasama antar sektor dan kelas sosial bangkit di dunia politik.

Singkat kata, Meksiko adalah penerap ideologi pembangunan seutuhnya (lihat juga uraian‑uraian dalam bagian lain) yang lam satu dasawarsa terkahir ini dibungkus jargon baru yang disebut globalisasi. Ini semua dilaksanakan melalui domi­nasi partai (dictatorship party) PRI (sebelumnya PRM, dan sebelumnya lagi PNR) selama lebih dari 70 tahun belakang­an ini. Sentralisasi kekuasaan ini tercipta‑tepatnya dicip­takan‑terutama melalui (strategi) pengendalian penye­lenggaraan pemilu (yang kotor). Dalam iklim sistem kekua­saan yang demikian itu praktik‑praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tumbuh subur; baik sebaga alat (men­capai tujuan) maupun sebagai akibat proses‑proses politik itu sendiri. Ini semua, pada akhirnya melahirkan semacam ketidakpercayaan rakyat pada politik, partai, politikus, dan pemerintah sebagai pihak yang akan memperjuangkan ke­sejahteraan rakyat, yang dalam satu dasawarsa terakhir menjadi basis perlawanan kelompok‑kelompok masyarakat sipil lainnya. Baik yang terwujud ke dalam 'perlawanan si­pil' maupun 'perlawanan bersenjata' dan kaitan keduanya.

Budaya Demokratik.

Mungkin aspek yang paling su­lit digambarkan tetapi tidak kurang pentingnya dari per­juangan rakyat Meksiko adalah peran budaya dalam politik. Meksiko adalah wilayah yang ditaklukkan pada abad XVI dengan korban yang terburuk yang pernah disaksikan da­lam sejarah dunia. Populasi keseluruhan diperkirakan un­tuk pra‑penaklukan kerajaan Meksiko pada abad XVI ber­kisar antara 10‑15 juta orang. Seratus tahun kemudian populasi keseluruhan Meksiko jatuh sampai di bawah satu juta! Angka kematian orang lebih dari 90%, yang di dalam­nya adalah para penulis, pastur, filsuf, sejarawan, serta dok­ter‑dokter orang Meksiko. Juga hilang adalah kebanggaan dan identitas bangsa itu. Kolonialisme Spanyol mengubah wilayah kerajaan, dari bentangan pertanian menjadi jajaran tanah dan kota‑kota pertambangan. Hukum Spanyol me­lahirkan perbudakan dan menciptakan orang Indian se­bagai orang dengan sedikit hak dan sangat didiskriminasi.

Kemerdekaan Meksiko tahun 1821 tidak banyak meng­ubah gambaran ini. Abad XIX lebih banyak dikenal sebagai abad menghapus sisa‑sisa Indian Meksiko ketika sedang membentuk negara merdeka. Orang Indian adalah isyarat kemunduran. Hak‑hak orang Indian yang tinggal sedikit itu, masih juga hendak dihapus‑punahkan oleh Ker'ajaan dan Gereja supaya kelas atas Meksiko bisa mendapatkan akses ke tanah dan pekerja mereka. Haciendas (banyak yang dimiliki oleh Gereja) dan pabrik‑pabrik terus‑menerus mendesak orang Indian, melarang baik ekspresi fisik maupun budaya mereka guna menciptakan angkatan kerja yang murah dan modern.

Namun elit meminta terlalu banyak. Revolusi Meksiko mem­bawa banyak kaum miskin Meksiko kembali ke arena politik nasional. Proyek pembangunan negara yang baru memerlukan lambang pemersatu supaya negara yang sedang genting dapat menangkis serangan dari gereja dan orang kaya yang berorientasi Eropa. Meksiko sebenarnya telah menciptakan sejarah pra‑Spa­nyol yang gemilang, sesuatu yang hampir tidak ada kaitannya de­ngan masyarakat Indian miskin yang ditemukan pada saat ini. Adalah suatu cara yang baik untuk mengkonsolidasi kembali iden­titas budaya nasional: patung raja‑raja Aztec yang mati ditempat­kan di sudut‑sudut jalan, museum antropologi Meksiko dibangun untuk menggali kekayaan masa lalu, dan Meksiko menjadi negara Amerika Selatan pertama yang mendirikan lembaga masyarakat adat nasional.

Politik lambang adalah obsesi PRI. Aikon‑aikon revolusi men­jadi bagian dari ideologi negara: nama PRI sendiri adalah lam­bang; jalan‑jalan utama di Meksiko mendapatkan nama seperti 'Revolusioner'dan'Reforma'; Emiliano Zapata dan Pancho Villa, yang berjuang untuk rakyat petani miskin melawan penjajahan negara secara resmi menjadi pahlawan nasional. Gerakan rakyat dewasa ini mengambil keuntungan dari kontradiksi antara lam­bang‑lambang'revolusioner'itu dan praktik‑praktik reaksioner­nya. Banyak dari gerakan masyarakat adat tahun 1980‑an dan 1990‑an terdiri dari organisasi untuk kepentingan masyarakat yang menuntut bahwa negara harus memperlakukan mereka de­ngan rasa hormat dan adil seperti yang dicerminkan oleh lam­bang‑lambang negara itu sendiri.

Lalu Gerakan Masyarakat Sipil

Pilihan paradigma pembangunan yang ditempuh Meksiko te­lah mengantarkan negara itu sebagai negara dengan hutang luar negeri terbesar kedua di dunia. Situasi ini mengakibatkan negara itu dililit krisis ekonomi pada 1986, dan terulang kembali dengan skala dampak yang lebih kecil pada 1990. Upaya‑upaya penanggu­langan dampak krisis ini telah mengundang campur tangan luar negeri yang lebih luas, yang kemudian berpengaruh pula secara langsung pada persoalan‑persoalan yang berkaitan dengan ke­daulatan negara. Privatisasi badan‑badan usaha milik negara se­bagai salah satu upaya untuk keluar dari krisis ekonomi menye­babkan banyak kepemilikan badan‑badan usaha negara itu ber­pindah tangan ke pemodal‑pemodal swasta dan luar negeri.

Situasi tersebut di atas menyulut rasa tidak puas yang makin besar terhadap rezim penguasa negeri ini. Demonstrasi atau ber­bagai bentuk perlawanan lainnya atas kebijakan negara tersebut terus berlangsung hingga hari ini. Salah satu perlawanan anti pri­vatisasi dan anti modal asing yang masih berlangsung hingga hari ini, itu adalah aksi menentang rencana restrukturisasi dan privati­sasi CEMEX, badan usaha milik negara yang mengelola usaha per­tambangan minyak bumi di negeri itu. Salah satu kelompok pe­nentang kebijakan privatisasi yang cukup punya arti bagi peng­hambatan rencana dimaksud justru datang dari serikat pekerja manajemen tingkat menengah perusahaan itu sendiri, yang ber­koalisi dengan serikat‑serikat buruh dan tingkatan manajemen yang lebih rendah.

Pemerintah penguasa yang berdiri atas sistem pemilu yang me­mang telah diragukan rakyat kebenarannya pun makin kehilangan legitimasi politiknya. Untuk memperbaiki citranya, pada tahun iggo, partai penguasa (PRI), dan didukung PAN (NationalAction Party) didirikan tahun 193o‑an dan merupakan partai kanan yang digerakkan oleh para pastur katolik yang konservatif, para banker, dan konglomerat industri di bagian Utara Meksiko. Pada dasarnya mereka hendak membangun suatu sistem politik dua‑partai­mengajukan rancangan undang‑undang pemilu yang baru. Salah satu pembaruan yang kemudian mendorong proses‑proses refor­masi politik di Mexico adalah termuatnya dalam undang‑undang tentang pemilu yang baru itu amanat pembentukan Mexican Electoral Institute. Yaitu lembaga penyelenggara pemilu yang baru, yang secara teoretis independen, namun secara praktik tetap di bawah kendali partai berkuasa (PRI). Ini terjadi karena, meski di dalam lembaga itu duduk pihak‑pihak yang relatif independen sebagai penyelenggara pemilu, namun aspek‑aspek teknis pe­nyelenggaraan pemilu, seperti kegiatan pendaftaran pemilih, pe­ngiriman hasil pemilu di wilayah‑wiiayah pemilihan ke panitia negara bagian dan federal, tetap tergantung, tepatnya dikuasai oleh, birokrasi (yang dikuasa partai pemerintah PRI).

Di samping amanat pembentukan Mexican Electoral Institute yang teoretis independen namun secara teknis masih dikontrol aparat pemerintah, diamanatkan pula pernbentukan apa yang di­sebut sebagai General Council. General Council pada dasarnya adalah lembaga yang dimasudkan untuk mengontrol pelaksanaan pernilu yang bersih. Lembaga ini diisi oleh warga negara yang bu­kan anggota partai dan bukan pula anggota birokrasi pemerintah­an. Dalam praktiknya kebanyakan anggota lernbaga ini berasal dari perguruan tinggi (dosen‑dosen) dan lembaga‑lembaga pe­nelitian (peneliti). Ini terjadi baik untuk tingkat federal maupun di tingkat negara‑negara bagian.

Para anggota General Council ini, yang disebut Citizen Coun­cilor itu, tentunyajuga diharapkan independen. Bebas dari penga­ruh partai politik dan birokrasi pernerintahan. Meski begitu, pe­milihan anggota General Council ini harus pula disetujui oleh par­tai‑partai yang ada. Perangkat hukum pernilu yang baru in juga memandatkan pembentukan General Council dan pengangkatan Citizen Councilor itu di 32 negara bagian dan 300 wilayah pe­milihan.

Undang‑undang pemilu yang baru mendorong partisipasi masyarakat sipil untuk melakukan pengawasan penyelenggaraan pemilu agar menjadi lebih bersih dari masa‑masa sebelumnya. Inisiatif‑inisiatif berbagai kelompok masyarakat sipil untuk ter­libat dalarn memantau penyelenggaraan pemilu yang bersih pun bermunculan. Ini memicu Iahirnya apa yang disebut sebagai Civic Alliance, yaitu suatu organisasi koalisi dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan individual yang sangat independen dan yang sangat aktif mensponsori kegiatan pemantau pemilu. Pada saat pemilu pertama di bawah undang‑undang pemilu yang baru ber­langsung pada tahun 1994 lalu, Civic Alliance marnpu mengkoor­dinasikan pemantau‑pemantau pemilu sebanyak 15000 orang. Pada hari pemilu CA berhasil melakukan pemantauan berdasar­kan teknik stratified sampling pada 2168 tempat pemilihan se­tempat (TPS) dan melalui sampel random pada 500 TPS13. Seperti juga lembaga‑lembaga penyelenggaraan dan pengawasan pernilu yang baru, Civic Alliance juga banyak dimotori oleh dosen‑dosen di perguruan tinggi dan peneliti‑peneliti dari berbagai lembaga penelitian.

Reformasi politik dan hukum, khususnya yang menyangkut penyelenggaraan pemilu yang lebih bersih, telah menghasilkan tatanan politik baru. Khususnya pada tingkat negara bagian dan municipio. Partai oposisi menang di beberapa negara bagian dan/ atau municipio. Ini dimungkinkan karena penyelenggaraan pemi­lu yang berorientasi pada keterbukaan politik dan desentralisasi dan terawasi secara lebih baik itu telah pula membuka ruang koa­lisi dan/atau aliansi‑aliansi antara partai‑partai politik oposisi dengan organisasi‑organisasi masyarakat sipil yang ada, baik yang berupa LSM, ormas, serikat‑serikat rakyat, maupun langsung de­ngan komunitas‑komunitas setempat.

Menguatnya perlawanan‑perlawanan rakyat yang telah ada le­bih dahulu. Dengan perubahan konfigurasi kekuasaan politik, ba­ik partai lama apalagi partai oposisi relatif berpihak pada agenda­agenda perjuangan masyarakat sipil ini, baik karena memang tu­juan partai maupun untuk mengambil hati pemilih bagi kepenti­ngan partai pada pemilu‑pemilu yang akan datang. Dua pelajaran dapat diperoleh dari dua negara bagian: Veracruz dan Oaxaca. Di Veracruz, khususnya di municipio Zaragoza, perubahan politik dan hukum sekitar penyelenggaraan pemilu melahirkan, me­mungkinkan, mendorong terjadinya aliansi taktis antara Comite de Defenza (semacam komite rakyat di tingkat municipio itu) de­ngan partai (oposisi). Ini adalah pilihan sadar organisasi pen­duduk itu untuk masuk (menguasai) organisasi pernerintahan for­mal. Pola ini kemudian menghasilkan sistern pernerintahan for­mal (melalui jalur partai politik) yang terkontrol dan bertang­gungjawab penuh pada Comite de Defenza. Akibat positifnya ada­lah, antara lain, dipahaminya alokasi dana pernbangunan di muni­cipio itu oleh warga. Ini terjadi karena kegiatan‑kegiatan pemba­ngunan memang ditentukan melalui rapat‑rapat yang melibat­kan warga yang diselenggarakan melalui Comite de Defenza.

Di Oaxaca, meski partai lama tetap menang dan berkuasa, na­mun untuk menjaga dukungan pemilih pada masa pernerintahan­nya maupun untuk meredam gejolak gerakan masyarakat adat yang meningkat sebagai hasil resonansi gerakan Zapatista di Chia­pas, pernerintah Oaxaca akhirnya harus merevisi konstitusi nega­ra bagian itu (1995). Momentum pokok yang mendasari per­ubahan politik di negara bagian Oaxaca adalah gerakan bersenjata dan pemberontakan petani masyarakat adat Maya di Chia­pas dengan pendudukan tiga buah kota, dua kota kecil yakni Margarita dan Ocosingo serta sebuah kota kolonial tua San Cristobal de las Casas. Tuntutan utama gerakan ini adalah pemulihan hak konstitusional rakyat untuk mengubah pe­merintahan. Negara bagian Oaxaca yang berbatasan lang­sung dengan Chiapaz segera meresponnya dengan suatu upaya perubahan konstitusi negara bagian yang salah satu­nya berimplikasi besar pada bentuk pemerintahan. Konsti­tusi baru tersebut pada hakikatnya menguntungkan posisi hak‑hak masyarakat di negara bagian bersangkutan. Salah satu keuntungan yang terpenting, berdasarkan konstitusi baru itu, adalah dilegalkannya sistem pemerintahan ber­dasarkan adat (Usos y costumbres) di tingkat municipio, yang memang telah berlangsung secara informal selama ini. Susunan pemerintahan negara bagian Oaxaca terbagi men­jadi dua unit, yaitu Pemerintahan Negara Bagian dan Peme­rintahan Municipio. Di Oaxaca terdapat 570 municipio yang merupakan 23% dari seluruh municipio yang ada di Meksiko.

Selain itu, dukungan pada kegiatan‑kegiatan revitalisasi adat di negara bagian itu juga jadi meningkat. Misalnya ke­giatan revitalisasi musik dan bahasa Mixe‑belakangan ber­kembang juga pada musik dan bahasa etnik lainnya‑yang diselenggarakan CECCAM. CECCAM (Centro de Estudios para Cambio en el Campo Mexicano) adalah suatu komite kerja yang diberi tugas melakukan studi kritis terhadap ke­cenderungan globalisasi. Selain itu dimungkinkan pula re­formasi sistem pendidikan‑baik organisasi maupun kuri­kulum‑yang peduli pada filsafat dan pengetahuan‑penge­tahuan adat di wilayah itu. Mulai dari sistem pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tinggi (belum terlaksana).

Munculnya bentuk‑bentuk dan isu perlawananan baru. Kecuali political‑ethnical movement sebagaimana telah di­jelaskandiatas,pelajarandapatjugadiambildari munculnya dan terlembaganya pembangkangan sipil, seperti yang terjadi dalam kasus 'himpunan pengemplang hutang' El Barzon. El Barzon yang pilihan namanya diambil dari lagu rakyat dari abad lalu yang menceritakan tentang pemilik hacienda yang memerangkap para peones (pekerja hacienda) dengan tanah seadanya dan makanan seadanya yang hanya cukup untuk hidup dan melanjutkan kerjanya di hacienda, semen­tara mereka berhutang pada pemilik hacienda. Seperti diterang­kan oleh pimpinan El Barzon pada tanggal 27 Maret 1998, koalisi ini dimulai dari masalah para kreditur bank yang terancam oleh naiknya persentase bunga hutang hingga 600% akibat reformasi perbankan, yang mendudukkan mereka sama seperti parapeones zaman dahulu. Mereka berhasil mengorganisir petani kreditur dalam suatu organisasi mandiri berskala nasional bernama El Barzon. Organisasi ini memperjuangkan pengemplangan hutang melalul jalur legal dan advokasi. Organisasi yang memiliki akses informasi dan koneksitas politik ke sejumlah lembaga legislatif dan yudikatif. Organisasi seperti El Barzon telah pula membuka kemungkinan bagi pengorganisasian kepentingan kaum profesio­nal dan pengusaha menengah ke bawah dan kecil serta promotor perjuangan hak‑hak sipil untuk kelas menengah kota dan desa. Dalam kegiatannya El Barzon mampu menghimpun anggota yang terikat pada 2 juta kasus perbankan. Dalarn kegiatannya, dengan pendekatan litigasi dan nonlitigasi, El Barzon yang berarti traktor itu mampu menyelesaikan (negosisasi penyelesaian hutang) 15.000 kasus.

Di samping dua pelajaran penting tersebut di atas, krisis eko­nomi yang diikuti dengan reformasi politik, ekonomi, dan hukum itu telah pula memunculkan strategi‑strategi perlawanan baru; alat‑alat kerja baru; serta mendorong terjadinya peningkatan dan reposisi para aktor yang peduli pada berbagai masalah yang telah disebutkan tadi, yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian­bagian berikut. Seperti tampak dalam uraian pada bagian bagian terdahulu, berbagai organisasi masyarakat sipil sudah sejak lama terlibat dalam upaya‑upaya dan gerakan‑gerakan perbaikan kon­disi kehidupan berbagai kelompok masyarakat di Meksiko. Bahkan, sebagaimana diinformasikan Luis Hernandez Navarro'14, sebelum perlawanan Zapatista memuncak, aktivis‑aktivis UNORCA (Union Nacional de Organiciones Regionales Campe­sinas Autonomas)‑yaitu federasi organisasi petani regional yang menjadi tulang punggung suatu koalisi internasional organisasi tani, buruh tani, dan masyarakat adat yang bernama La Via Campesina atau The Peasant Road‑turut serta secara. aktif dalam percepatan proses pengorganisasian rakyat di Chiapas, yang ke­mudian berkembang menjadi suatu gerakan perlawanan yang sa­ngat solid di lapangan. Perubahan‑perubahan politik yang dipicu oleh krisis ekonomi tahun 1986, betapapun, memang telah mendorong partisipasi kelompok‑kelompok masyarakat sipil yang lebih besar. Partisipasi ini boleh dikatakan makin membesar lagi semenjak terjadinya perubahan struktur kekuasaan, betapapun minimnya, sebagai akibat pernilihan umum yang lebih baik. Me­mang, perlu diakui, tidak diperoleh informasi kuantitatif untuk mendukung pernyataan ini. Namun, mengacu pada kasus per­lawanan Zapatista, menurut Luis Hernadez Navarro, San Andres penting bukan saja karena hasilnya, tetapi juga untuk cara yang belum pernah ditemukan sebelumnya tempat masyarakat sipil ikut serta di dalamnya di dalam proses. Negosiasi itu melibatkan sektor‑sektor yang luas dalam masyarakat, yang disebut perhatian nasional dan internasional kepada isu masyarakat adat dan mengenalkan cara‑cara baru dalam berpolitik.

... pada gilirannya, ia menjadi aikon gerakan sosial baru. ***




kepal-kepal akaran

sementara dibawah tanah
kepal-kepal akaran
semakin mengeras
menunggu prosesi bakaran yang lain
gosong yang berikut



gertak ledak amarah bumi
gertak ledak amarah rakyat

Sabtu, 28 Maret 2009

Survey Tapol : Elections Project (Pemilu 2009)

TAPOL menyebarkan berita dan komentar mengenai Pemilu Indonesia mendatang melalui jaringan informasi elektronik ini. Artikel dan sari berita dapat dilihat di http://tapol.gn.apc.org/elections.htm

Jika Anda pembaca publikasi tentang Pemilu yang kami terbitkan, kami ingin mengajak Anda untuk berperan serta dalam survei singkat yang bertujuan untuk meningkatkan hasil kerja kami.

Hanya dibutuhkan waktu 10 menit untuk mengisi survei ini. Semua pertanyaan bersifat pilihan yang tidak wajib diisi, tetapi kami akan sangat terbantu jika Anda dapat mengisinya selengkap mungkin. Kami sangat menghargai masukan Anda. Terima kasih.

Survei pemilu
http://www.surveymonkey.com/s.aspx?sm=f7YC_2bxLXSxlQqLbT3nSoqw_3d_3d

Almanak 2

cungkup-cungkup jiwa
membuncah rengkah
getar
gemetar
gelisah

di
bilah-bilah perasaan

di
bilur-bilur pikiran

kematian
kehidupan

desir di
runtuk pasir

ngendap di
dasar gelas

di detik, di masa
lalu. kini. Engkau

25.3.09

Almanak 1

kamboja
belanga

melati
cupuk

keroncong
palu

empedu
pandan wangi

rama-rama
guntur

memetakan mistar
menggariskan peta

menemukan batas-batas
menghempas tembok-tembok
cakrawala
perspektif

kematian, kehidupan

20.3.09

Jumat, 27 Maret 2009

5 tahun Kematian Andini Lensun di Buyat (puisi 1)

Langit Mendung Di Teluk Buyat oleh Jpang

Kumpulan Puisi Dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun (Bagian 1)

(31 puisi ini akan dipublikasikan tiga hari sekali sampai 3 Juli tanggal kematian Andini, sekaligus menyuarakan kepentingan para survivor di Sidoarjo yang terus menggugat kesewenangan pengusaha - lapindo - dan penguasa)



Wajah-wajah tertutup jelaga

Tangan-tangan terbalut nestapa

Sebatang tubuh mungil mati ternoda

Ikan-ikan entah ke mana

Ganggan hijau berubah warna

Burung-burung tak lagi bersuara

Andini Lensun mati sia-sia

Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian

Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun

Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu dasawarsa

Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat

Teluk Buyat menyaksikan Andini Lensun mati sia-sia

Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa

Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia

Terbungkus landir minamata

Langit mendung di Teluk Buyat

Berpuluh manusia meregang nyawa

Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala

Atau badan merana menjelang garis penutup usia

Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan

Menarikan dansa kesuraman di atas dahan-dahan bakau

Menukik tajam menyayat reruntuhan karang

Lalu patah terhempas gelombang kerakusan

Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat

Matanya melelehkan kegelisahan

Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adidaya

Kilaunya mewarnai horison benua kebanyakan

Meninggalkan bekas Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat

Juli 2004 [1]


Catatan :

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 31 sahabat yang perduli atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada Andini Lensun dan warga buyat oleh perusahaan tambang raksasa dan kompradornya (pemerintah-penguasa). Memang hukum hari ini tidak memihak kepada para korban, peradilan belum lagi menjadi rumah kebenaran dan keadilan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan oleh warga dan jejaring NGO, akhirnya kandas. Tetapi biarkan api perlawanan tetap membara dan nurani tetap dihidupkan, karena diam adalah pengkhianatan. Kumpulan puisi biarkan jadi nyanyian nurani dan jadi doa yang menggerakan.

=====

Perusahaan tambang emas Newmont AS akhirnya dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok Public Eye Award 1, Public Eye Award 2, Public Eye Award 3


Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivo (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat (silah kunjung kisah Andini Lensun dalam Kami Generasi Benjol)

salam hangat
andreas iswinarto
pengumpul puisi

Kamis, 26 Maret 2009

Taman Bermain : Alam dan Imajinasi Anak-Anak

Ya Allah, Ya Gusti
kubaca berita di koran
ada jerit tangis orok
masih merah
di onggokan sampah....

Diam
Dan hanya diam

Tapi kudengar pula di tempat lain sorak sorai ceria,
imajinasi yang terbang jauh, senyum tulus,
persaudaraan, mereka itu agus, kartini, sartika, tan,
karno, hatta, cut dan kanak-kanak lain dari taman
bermain dan belajar di kolong jembatan tol..........

Terbang melayang ke negeri impian
dalam kepak sayap burung garuda

Menyisir pelangi
menyapu awan
meniup api matahari
mencicipi titik hujan pertama................

Mengetuk pintu surga,
tok tok tok lalu sembunyi

Sambil memecahkan teka-teki
dari mana datangnya tawa.........

Lalu mengapa tawa dan tangis,
bisa lahirkan air mata....

Lucu ya kak

Ayo cicipi keduanya

Apakah rasanya beda ya?

Mari menjadi ’kanak-kanak’ kembali

Buku adalah Jiwa dan Anak Kehidupan


Elizabet D. Inandiak
“mendengarkan selama berjam-jam syair-syair centhini yang ditembangkan teman, hingga raga dan bahasanya kerasukan dan tertanda olehnya. Lalu pada suatu hari, kenyataan yang begitu jelas dan begitu sederhana muncul : serat centhini, kehidupan inandiak, dan kehidupan para penyair jawa sejak berabad-abad semua menyatu. Segala yang pernah inandiak alami di jawa dan di tempat lain di bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib dan raksasa itu, yang keliatannya begitu bercerai berai, tetapi intinya begitu sempurna. Ia seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah tiada, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia”.

Ayu Utami “….terima kasih saya kepada gunung gede pangrango yang memberi zat asam, kejernihan dan ilham. Dan Erick Prasetya, partner mendaki gunung yang merupakan ayah dari novel ini. Ia memberi saya benih bagi kisah roman ini, dan merawat saya selama mengandung novel ini (usaha pembuahannya yang berkali-kali gagal makan waktu empat tahun, proses mengandung –menuliskannya menghabiskan sembilan bulan). Melalui dia saya mencoba mengenang, dengan cara saya sendiri, kekasih dan sahabatnya di masa muda, LS dan almarhum SF yang meninggal dunia dari kecelakaan ganjil di bukit kapur citatah”.

Aku terpesona dengan cara Inandiak dalam saduran Centhini (Centhini : Kekasih yang Tersembunyi) dan Utami dalam Bilangan Fu mengambarkan proses kreatifnya sekaligus proses kreatifnya sendiri (terutama inandiak). Proses melahirkan jiwa dan anak kehidupan……

------------------------------

“Ia memeriksa keempat unsur di hatinya. Ia berbicara kepada sang putri mengenai mawar, ibu keharuman, ratu taman, yang zatnya berdiam pada bunga, seperti watak sempurna manusia berdiam pada tubuh” (Inandiak)

Mawar! Merah! Langsung teringat The Name of The Rose – Umberto Eco dan My Name is Red - Orhan Pamuk.

Apakah mawar – eco memiliki kesejajaran makna dengan mawarnya centini-inandiak?
Mawar – eco lah pangkal kerumitan untuk menjawab pertanyaan ini. Karena menurut yasraf amir pialang yang mengkaji buku ini, “akan tetapi, kebebasan tafsiran yang terbuka itu, yang hingga kalimat terakhir novel ini tidak dapat kita temukan sekuntum mawar pun, yang hanya mungkin dapat kita temukan lewat pembacaan semiotik yang terbuka”…..

Tapi mawar-mawar, kurasa ada di salah satu atau di novel-novelnya Paulo Coelho.

Seperti hal the name of roses yang belum aku tuntaskan dan juga bilangan fu (walau akhirnya sebulan lalu tuntas), menyadarkan aku bahwa cara membacaku yang tidak tuntas ini menunjukkan kepribadianku. Dan bukan hanya satu dua ternyata cukup banyak buku yang tidak tuntas, dan umumnya itu karena ada godaan pesona lain, buku-buku lain, minat lain yang menggoda.

Walau kupikir-pikir kemudian tidak harus semuanya tuntas dalam satu gebukan, tetapi paling tidak ada komitmen untuk menuntaskannya sebagai wujud respek dan penghormatan. Untuk menemukan jiwa dari setiap ‘anak kehidupan’ (sebuah buku) ini, kalau tidak bersatu jiwa seperti Inandiak dan Centhininya.

Seperti dikatakan seorang gipsi di Seratus Tahun Kesunyian - Gabriel Garcia Marques ‘benda-benda memang memiliki hidupnya sendiri. persoalannya sederhana saja, yaitu bagaimana membangkitkan jiwanya”…………………..

“aku belajar bahwa dunia ini memiliki jiwa, dan siapapun yang memahami jiwa ini juga bisa memahami bahasa benda-benda” kata orang inggris di Alchemist-Paulo Coelho.

Menemukan jiwa mawar-eco, merah-pamuk…..

Jadi ingat, karena pesona benda-benda hebat yang diperkenalkan kaum gipsy jose arcadio buendi semakin asyik dengan dirinya dan eksprimen-eksprimennya………

Ia “menghabiskan waktu berbulan-bulan selama musim penghujan itu dengan menutup diri di ruang kecil yang dibuat dekat rumahnya, sehingga tak seorang pun bisa menganggu dia dalam percobaan-percobaanya. ……Malam-malam dihabiskannya di halaman dengan mengamati pergerakan bintang………………..(Seribu Tahun Kesunyian)

ya jengis khan, 1491, inca, maya, pelaut nusantara, pangeran anom amengkunegara III yang mati digondol rajasinga (salah satu penulis asli serat centhini), Santiago (alchemist), ki manyar (bilangan fu) menghabiskan malam-malam dengan mengamati pergerakan bintang..........

dan bilangan fu….

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================

Riwayat Kosmik Pada Tarian Syiwa

Ternyata aku tiba di pucuk ceto lebih gegas dari kabut, yang terasa gigih mengejarku ketika ngebut dengan ojek. Setibanya disana aku mendaki anak-anak tangga dan menatap-natap dari pelataran terdepan hingga pelataran teratas dan terakhir.

Saat itu tak satu pun pengunjung ada disana, karena itu aku merasa nyaman untuk hening dan bermeditasi sejenak. Selepas itu aku sejenak menikmati suara-suara alam dan sesuatu yang terus menari di benakku.

Aku rasakan ada sesuatu yang tiba menyergap, beberapa menit setelah kuhirup bau lembab dan dingin. Kabut seperti menari, berkejaran, tiba menyergap melalui sela-sela batu, dari selasar jalan setapak diantara dinding-dinding candi. Lalu segegas itu pula kabut menyelinap pergi entah kemana.

Ternyata belakangan aku sadar, aku salah. Kabut itu tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, menenggelamkanku, mengendap di tubuhku.

Bukan tanpa motif yang kuat arca kuno kusam menari itu memikat hatiku. Siapakah sesungguhnya. sejatinya, yang dicitrakan arca itu. Sesungguhnya dengan mata dunia arca itu buruk rupa, jauh dari keindahan, kecantikan patung putih dewi Saraswati yang dibangun kemudian beberapa tahun lalu di teras samping belakang candi .

Tapi dengan mata jiwa arca kuno itu jauh melampaui patung Saraswati

Menari dan menarilah……… bisikan itu berulang mengusik dalam waktu yang panjang.

Menari pada gilang gemilang langit berbintang Gunung Lawu dalam galaksi Bimasakti, atau menari di dalam pikiran dan hati.

Dan secara mengejutkan sang master lingga yoni muncul kemudian dalam tarian kosmik yang ditulis Capra dalam buku The Tao of Physics : Menyingkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistisisme Timur (penerbit Jalasutra), memuaskan dahagaku.

Kata Capra, perumpamaan tarian kosmik mendapatkan ekspresinya yang paling dalam dan indah pada Hinduisme melalui gambaran dewa Syiwa, yang tampil sebagai Raja
Para Penari.

Tentang Syiwa si raja penari, Zimmer dalam Capra bilang "Gerakannya liar namun penuh keanggunan, memencarkan ilusi-ilusi kosmik; juntaian lengan dan kaki serta
ayunan tubuhnya menghasilkan-sungguh-penciptaan-pemusnahan kontinu alam semesta, kematian persis menyeimbangkan kelahiran, pemusnahan adalah akhir bagi setiap
penciptaan".

Rabu, 25 Maret 2009

103 Pidato Politik Bung Karno Pasca-Peristiwa G30S

Bung Karno: 100 Tahun dalam Sunyi

TANPA banyak diketahui orang, pasca-peristiwa Gerakan 30 September, Bung Karno telah 103 kali menyampaikan pidato politik. Pada Agustus lalu, sebagian pidato itu diterbitkan dalam dua jilid buku berjudul Revolusi Belum Selesai.

Lebih dari sekadar menggambarkan pembelaan Bung Karno atas berbagai tudingan, pidato itu juga melukiskan kesunyian seorang Bung Besar. Perintahnya tak dituruti, pidatonya hanya menjadi kembang api: membuncah lalu hilang bersama malam.

Hampir dua tahun suara Bung Karno nyaris tak terdengar. Ia seperti tokoh dalam novel Gabriel Garcia Marquez: lelaki yang melewati waktunya dalam 100 tahun kesendirian.

Sumber Iqra, TEMPO, No. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003


Selanjutnya

walau tidak berhubungan langsung, silah dibaca juga artikel menarik
Penyair yang Menulis Naskah Pidato Politik Presiden Soekarno dari Asep Sambodja

http://asepsambodja.blogspot.com/2008/12/penyair-yang-menulis-naskah-pidato.html

Selintas Perjalanan Eksistensial dan Spiritual

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.... seperti dunia dalam pasar malam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi"

(Novel Bukan Pasar Malam-Pramoedya Ananta Tour).

(selintas satu)

Sigit, pemandu wisata turis eropa berbahasa jerman di bali, menikah dengan Claudia Beck asal swiss yang pernah dipandunya, lalu mereka bersepakat bermukim di swiss dan di masa tuanya akan kembali ke tanah air sigit.

Meminjam Brouwer ‘orang yang meninggalkan kota bandung untuk mengelilingi dunia, akhirnya kembali di kota Bandung juga. Hal itu didasarkan bahwa dunia kita memang bulat. Yang berangkat ke arah barat kembali dari arah timur”.

Dalam satu kesempatan claudia bertanya apa yang hendak sigit bawa ke tanah airnya nanti, uang banyak atau pengalaman yang banyak. “Aku lebih baik membawa pulang banyak pengalaman, sebab pengalaman itu tak akan pernah habis” kata sigit. Dari sana mereka berikrar memulai petualangan ke berbagai negara..
.
Sigit memiliki rumah di bali di tengah sawah dan tepian sungai kecil di daerah batubulan, tiap tahun ia pulang kesana. Selalu pula ia kumpulkan anak-anak kampung untuk belajar menulis dan melukis.

Aku membacai pengantar darinya dan perjalanannya dengan claudia ke kuba.
Mereka sempat mengunjungi rumah hemingway, perpustakaan, makam kucing-kucingnya, resto tempat nongkrongnya. kampung nelayan inilah dengan lomba tangkap ikannya mengantar hemingmay meraih nobel sastra. Lelaki tua dan laut adalah kisah tentang lelaki tua yang bersahaja, sabar, penuh kekuatan hati. Ia begitu paham jiwa laut dan dengan kesabaran dan sejenis perasaan kasihnya menaklukan ikan raksasa di mata pancingnya selama berhari-hari (Menyusuri Lorong-Lorong Kehidupan : Kumpulan Catatan Perjalanan.

Sahabat Fidel Castro ini kemudian kembali ke Amerika akibat penyakit stroke dan bunuh diri.

Dan aku bertemu kembali hemingway dengan lelaki tua dan lautnya. Buku ini adalah novel kaliber nobel yang pertama aku baca, baru setelah itu disusul dokter Zhivago. Buku yang pertama sudah hilang sedang yang kedua ternyata masih ada di lemari bukuku. Rasanya waktu itu aku masih duduk di sma.

Fidel Castro rupanya bersahabat pula dengan Gabriel Garcia Marquez (pemenang nobel sastra dari kolombia dengan novel hebatnya seratus tahun kesunyian). Castro pernah bilang padanya, bila reinkarnasi berikutnya tiba, Castro ingin menjadi sastrawan.

Nama tuhan yang keseratus dan itu adalah seratus nama (tahun) kesunyian.

.....................

Kubaca di pengantar yang ditulis st sularto, dalam kenangan myra, brouwer ini adalah sosok yang problematis. Kata-kata kunci filsuf jerman martin heidegger yang dikaguminya selain tokoh fenomemenologi lainnya Marleau Ponti ‘kematian sebagai tujuan hidup’ seolah-olah menghantuinya, begitu disebutkan. Kepada sahabat-sahabatnya ia sering mengatakan : “saya paling takut dengan kematian”. Aku kutip lagi dari st sularto ‘ternyata brouwer tidak mampu sendirian mengatasi persoalan dengan badannya yang didera sakit sejak kecil (asma) sampai akhir hidupnya. Pada beberapa tahun sebelum kematiannya, dia merasa dikejar-kejar oleh sakitnya, dia merasa ditinggalkan banyak orang.”

Tentang ini saya teringat petikan kata bijak Pram pada Novelnya Bukan Pasar Malam

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.... seperti dunia dalam pasar malam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi"


(selintas dua)

“Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”

mengutip dari bab empat puluh malam dan satunya hujan, terjemahan saduran perancis edisi serat centhini, yang baru saja kubaca kembali tadi malam (elizabeth inandiak, babat alas 2008). kebetulan menyinggung soal kembara, soal yang hendak aku kisahkan…..

“Istambul! Istambul! Bagi mereka yang bermata akan sulit mengatakan betapa dunia ini tak memiliki apa pun yang bisa dipertontonkan. Meski hal itu benar adanya, percayalah padaku. Jika kau ingin mengetahui dunia ini, yang kaubutuhkan hanyalah mendengarkan. Yang dilihat orang ketika mereka bepergian tak lebih dari sebuah ilusi. Bayangan mengejar bayangan lain. Jalan-jalan dan negeri-negeri tak mengajarkan apa pun yang tak kita ketahui sebelumnya, tiada yang tak bisa kita dengar dalam diri kita sendiri di kedamaian malam.”

pesan Abdel-Bassit, lelaki saleh yang buta sejak lahir kepada Balthasar ketika telah memutuskan untuk memulai kembaranya ke Istambul untuk menemukan kembali kitab Nama Tuhan Yang Keseratus (serambi 2006)

Melihat, mendengar, mengecap, mencium, merasa...... sight, hearing, taste, smell, touch

Lelaki saleh ini, berbicara tentang mendengar dan melihat…. Apakah soal ini bisa diperbandingkan, karena lelaki ini bicara tentang melihat keluar dan mendengar kedalam . Dua soal dengan jurusan yang tidak sama. Selain itu mendengar yang dimaksudkan lelaki saleh ini agaknya simbolis, dan melihat adalah gejala fisik sekaligus psikis. Tapi bukan itu soalnya…..

Aku jadi mulai memikirkan tentang panca indera yang aku miliki. Kesemua ini mestinya punya potensi yang hebat kalau semuanya dioptimalkan penggunaannya dan ditumbuhkembangkan dengan baik. Sebagai tanda fisik sekaligus psikis. Sekali waktu perlu juga mengukur diri, diantara kelima indera kita mana yang paling kuat, indera mana yang paling disadari keberadaannya, dan seterusnya. Baik pula sekali waktu kita membutakan diri untuk mempertajam pendengaran kita, menulikan diri untuk mempertajam penglihatan, atau mungkin mencium untuk mengenali rasanya…………………

Dan ternyata kisah utamaku bukan soal panca indera…

Beberapa karya Amin Maalouf seperti Nama Yang Keseratus dan Leo The African adalah tentang kisah perjalanan, kelana dan kembara. Sekaligus merekamnya dalam gaya tutur buku harian atau jurnal….

Pesannya sederhana, aku akan teruskan belajar menulis, menulis dan menulis. Kedua, walau keinginan tentang perjalanan ke dunia sana dan sini, kembara, kelana masih terus menggangguku dan menggodaku……

Tapi kali ini, aku katakan akan teruskan atau memperhebat seperti yang disampaikan lelaki saleh untuk kelana mendengarkan yang ada di dalam diri………..

Selain meneruskan kelana, kembara dan perjalanan di dunia rekaan sekaligus dunia nyata yang dikisahkan di dalam kitab-kitab fiksi maupun non-fiksi. Hal yang belum intens dan mendalam aku lakoni….

Kurang pendalaman atau intensitas, baangkali ini merupakan cermin kelana mendengarkan yang ada di dalam diri…….

Contoh saja baru aku sadar ternyata aku sangat kesulitan memvisualisasikan/ mengimajinasikan deskripsi yang kaya baik itu tentang diri, alam, motif kimono dan suasana dalam kitab-kita sastra oleh para penulis. Misal saja aku kesulitan untuk memvisualisasikan deskripisi Yukio Mishima tentang Kuil Kencana. Yukio Mishima sastrawan hebat, yang mati bunuh diri secara dramatis di tengah keramaian kota karena kekecewaanya akibat jiwa samurai yang telah mampus dari jepang kontemporer.

Padahal aku punya latar pengalaman mengalami suasana kuil-kuil di Yokohama , Kyoto , Osaka , dengan taman-taman yang asri. Termasuk air segar dalam wadah-wadah kayu atau batu untuk kita hirup dan sesap dalam tubuh dikuil-kuil itu, termasuk menarik sejumput kertas, menuliskan pesan, dan menggantungkannya di ranting-ranting pohon tentang sebuah permohonan……

Genta raksasa, patung budha, dewa-dewa, langit-langit keemasan, lukisan-lukisan, pendeta budha atau zen gundul yang lalu lalang atau sedang menyapu dedaunan yang gugur, putih salju di atap-atap kuil, senandung dan puja-puji doa yang rampak di tengah keheningan perbukitan dan pepohonan raksasa,……………….

Suasana hening, moksa, khusuk, takzim ternyata lebih kudapatkan di Jepang sana daripada di Bali . Dan Zen masih saja menggoda dengan kesederhanaannya, misterinya dan pesonanya………

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Selasa, 24 Maret 2009

Surat Sejarah dan Kebenaran (2) (Dari Selku, 8 April 1969)

lentera dari jaman kegelapan itu……

Sebuah tulisan luar biasa dari pena Khalisah Khalid, seorang sahabat

Sya IV

silah baca artikel sebelumnya Sya III

Sejarah, akan dibuat oleh siapa yang sedang dan atau ingin berkuasa di belahan bumi manapun. tapi jangan pernah ingin melupakan sejarah, meskipun ada yang kelam disana. dan aku kembali mengingat-ingat apa yang kau ucapkan padaku Jingga, disaat alunan maghrib menyapa kita dalam sebuah geliat asa, yang mengintip malu-malu sambil sesekali tangannya mengusap wajahku. "ibu sudah memaafkan, namun tidak untuk dilupakan, karena kebenaran akan sejarah tidak boleh dihapus dan dihilangkan dalam memori otak dan hati anak bangsa".

ya... tentu aku ingat kata-katamu dan sambil menembus malam aku menelusuri jalan ini yang dirangkai dari berbagai peristiwa.

selanjutnya

Menulis dan Menulis adalah Salah Satu Strategi Belajar Cepat dan Efektif

Latarbelakang pendidikan saya adalah manajemen, walau akhirnya saya gagal menyelesaikan studi S1 saya. Namun demikian pelajaran terpenting yang saya dapat melalui masa kuliah yang cukup panjang itu (8 tahun) adalah pengalaman berorganisasi dan pengalaman mengelola media kampus atau berkecimpung dalam dunia tulis menulis dan jurnalistik.

Pengalaman inilah yang kemudian mengantar karier atau pekerjaan sebagai reporter di Majalah Usahawan, bekerja di Public Relations Company, mengelola beberapa media perusahaan serta seminar-workshop organizer.

Rupanya panggilan hidup saya bukan disana. Sejak masih pelajar SMA saya menyimpan kekaguman pada gagasan dan praktek pembebasan Romo Mangun. Sepanjang masa kuliah saya walaupun saya mulai giat berorganisasi di lingkungan kampus dan berkerja di lembaga kemahasiswaan yang menggarap bidang penelitian, jurnalistik dan penerbitan, sesungguhnya saya terasing dari gagasan dan praktek pembebasan yang dilakukan Romo Mangun. Kemudian masa panjang bekerja di dunia usaha atau bisnis, membuat panggilan-panggilan semakin redup dan pupus.

Sampai suatu saat saya tertarik kiprah gerakan sosial terutama yang bergerak di lapangan perjuangan/advokasi lingkungan hidup. Terutama kegiatan organisasi-organisasi pecinta lingkungan yang saat itu menentang ambisi Soeharto dengan Habibie sebagai Menristeknya untuk membangun PLTN.

Awal mulanya saya tidak berupaya membangun komunikasi dengan kawan-kawan yang menolak PLTN ini. Alih-alih saya memutuskan untuk secepatnya memperlajari isu nuklir ini dan lingkungan hidup pada umumnya. Isu PLTN ini bagi kebanyakan orang adalah isu yang tidak terlalu dipahami karena kecanggihannya.

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku-buku dan mencari referensi soal isu ini. Terinspirasi pengalaman saya menulis beberapa surat pembaca menolak kebijakan pemda DKI menggusur becak (ini juga karena tergerak oleh sikap penolakan Romo Mangun), saya memutuskan untuk belajar cepat dengan cara menuliskannya. Dengan menulis saya mengalami proses belajar yang lebih cepat dan nyangkut di otak sekaligus dengan tulisan saya bisa berkontribusi untuk mengkampanyekan penolakan terhadap ambisi PLTN ini. Dari siasat itu kemudian saya sempat menuliskan puluhan artikel opini/artikel kampanye dalam format surat pembaca, dan gilanya lagi setiap surat pembaca saya kirimkan ke lebih dari 20 surat kabar dan majalah.

Setelah itu saya belajar, menulis sekaligus berkampanye atas isu-isu masyarakat adapt dan kemudian isu perempuan atau keadilan jender. Saya gagal mengingat kembali dasar ketertarikan saya kala itu.

Melalui proses belajar dan berkampanye dengan bersolo karir akhirnya saya terlibat dalam berbagai organisasi pertama Masyakarat Anti Nuklir dan akhirnya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Proses belajar yang sama kemudian saya lakukan pula saat saya bekerja di Walhi mengelola bagian penerbitan untuk soal-soal yang terakait isu globalisasi, neoliberal, hutang luar negeri, WTO , juga isu-isu gerakan sosial dan idelogi gerakan. Bila sebelumnya ruang surat pembaca menjadi outlet tulisan dan berbagi proses belajar, maka kini berbagai mailing list menjadi outletnya.

Belakangan ini, paling tidak satu tahun terakhir saya mulai mempelajari bidang studi yang sebenarnya menjadi minat saya yakni sejarah. Kemudian 2 bulan ini saya pun mulai menggeluti soal-soal sastra dan kebudayaan pada umumnya. Entah muncul semacam wangsit atau instuisi saya mengatakan bahwa inilah bidang yang cocok dengan saya sekaligus keyakinan yang masih samar bahwa perlawanan dan strategi kebudayaan yang harus dikuatkan untuk mencapai perubahan sosial dan transformasi sosial. Tentu juga tanpa melupakan gerakan-gerakan structural.

Nah kini outlet tidak saja mailing list tetapi juga media online dalam hal ini blog.

Lepas dari itu semua pengalaman ini agaknya belum mampu membuat saya mahir menulis. Proses menulis masih terasa berat seperti beban. Mimpinya menulis mestinya semudah bernafas. Tingkat inilah yang hendak saya capai, untuk itu saya memaksakan diri untuk bisa memproduksi tulisan setiap hari. Ini adalah satu jalan untuk terus menggerakan proses belajar efektif, sekaligus berbagi proses belajar.

Catatan lain adalah saya merasa masih belum terlalu menukik dan mendalam dalam memahami isu-isu atau bidang-bidang studi yang saya minati. Barangkali ini tak lepas dari tabiat kutu loncat, loncat dari satu isu ke isu lain, bidang ke bidang lain.

Nb. Berapa tulisan-tulisan surat pembaca tentang PLTN sekitar 12-13 tahun lalu dapat dilihat di sini, PLTN NO Way

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Logika dan Rasa Bahasa : Selamat Tinggal Keindahan?

Sastra dan Peradaban (3)

Catatan Lepas Dari Diskusi Sastra dan Pemberadaban yang diselenggarakan Bale Sastra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya

Silah kunjung Sastra dan Peradaban 1 : Pada Awal Mula Segala Sastra adalah Religius dan Sastra dan Peradaban 2 : Adab Bukan Adab?, Sastra Bukan Sastra?

Pada artikel sebelumnya Adab bukan Adab, Sastra Bukan Sastra (Sastra dan Peradaban 2) telah dipaparkan satu kriteria untuk menilai bobot susastra sebuah karya fiksi. Kontekstual, mendasar/mendalam, visioner dan indah.

Menarik untuk coba meneropong lebih jauh tentang kriteria ini. Misal saja tentang relativitas atau ambigu dari makna keindahan. Demikian pula perlu juga diperhatikan bagaimana penilaian/apresiasi karya sastra terkait kriteria-kriteria diatas

Kekaburan Konsep Keindahan

Chairil Anwar misalnya punya pandangan bahwa di dalam apresiasi karya sastra khususnya sajak kita harus terlebih dulu mengerti ‘pokok’ sambil mengingatkan jangan kita melakukan analisa dengan perkakas ‘bahasa’ saja. Menurutnya kita harus menangkap ‘pokok’nya dulu kemudian kita melihat bagian-bagian dalam hubungannya dengan ‘pokok’ ini. Menurutnya lebih lanjut dengan mengerti pokok kita bisa menghargai karya seni, meskipun ‘pokok’ tersebut tidak menentukan nilai karya tersebut. (dalam Membuat Sajak, Melihat Lukisan seperti di kutip Arif Budiman –Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, Wacana Bangsa ).

Saya juga ingin mencatat pandangan Arif Budiman di dalam buku yang sama tentang makna keindahan. Dari pengakuannya Arif nampaknya tidak percaya lagi kepada konsepsi-konsepsi tentang indah dan apa yang tidak. Ia bahkan memilih tidak menggunakan kata tersebut, karena kekaburan artinya.

“Saya melihat bahwa sebuah karya seni menjadi ‘indah’ buat seseorang karena sudah terjadinya pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang diungkapkan oleh karya seni tersebut”, katanya lebih jauh.

Berdasarkan pandangan Chairil Anwar saya menarik kesimpulan bahwa nilai karya sastra ditentukan oleh sejauh mana ekspresi bahasanya sebagai bagiannya mampu mendukung ‘pokok’nya dalam hal ini gagasan yang mau disampaikan dalam suatu karya sastra.

Setelah mengerti ‘pokok’nya, kemudian kita bisa menilai sejauh mana substansi sebuah karya sastra menjangkau persoalan kemanusiaan yang mendalam atau apakah gagasan yang disampaikan menyangkut hakekat kemanusiaan yang mendasar. Baru kemudian kita menilai sejauh mana ungkapan bahasa, logika dan rasa bahasanya mampu mendukung gagasan tersebut.

Logika dan Rasa Berbahasa

Putu menyebutkan bahwa sastra adalah semua bentuk ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya. Dengan demikian menurut saya pada akhirnya kita harus memasuki wilayah analisa dengan ‘perkakas’ bahasa seperti dikatakan oleh Chairil Anwar. Walau demikian saya bersepakat dengan Arif tentang kekaburan konsep keindahan juga relatifitas dari konsep estetika bahasa. Saya tidak percaya bahwa ada konsep estetika yang universal, berlaku di segala tempat dan jaman. Saya percaya pluralisme, keragaman, lokalitas dalam logika dan rasa berbahasa.

Selain itu saya curiga alih-alih menanggap bahasa semata-mata sebagai penyampai gagasan dan gincu (memoles keindahan), bisa jadi logika dan rasa berbahasa dalam karya sastra sendiri bisa menyimpan ‘pokok’ itu sendiri atau penyampai pesan-pesan di dalam dirinya.

Persoalan relatifitas logika dan rasa bahasa, serta kemampuan bahasa menyimpan ‘pokok’ gagasan ini sekaligus. Mohon dicermati catatan kritis Ayu Utami sebagai penyunting terjemahan karya Elfride Jelinek (Sang Guru Piano, KPG 2006) pemenang nobel 2004.

Tentu saja (Jelinek) ia tidak bercerita tentang keindahan. Maka estetika bukan menjadi ketertarikannya. Pembaca sastra berbahasa Indonesia dan Melayu yang termanjakan oleh puitisasi bahasa dan haru biru isi akan mendapati novel ini keras bahkan menyakitkan. Dan ini tantangan utama penerjemahannya, yaitu menghadirkan kembali sebuah bahasa yang ‘keras’ dan intruktif ke dalam tradisi sastra yang liris dan persuasive (misalnya, Budi Darma begitu halus bahkan dalam cerita-cerita paling gelapnya)

Bagi saya, hilangnya rasa justru membuat kita sadar betapa rasa itu penting. Dalam esai-esainya Jelinek kerap menuliskan strategi untuk melihat sesuatu yang justru tidak dihadirkan. Dalam Sang Guru Piano ketidakhadiran rasa, atau penghadiran rasa sebagai turunan pengetahuan kognitif, merupakan konsistensi bentuk dan isinya yan paling dasyat.


Atau dalam kalimat panitia Nobel disebutkan
….yang dengan semangat penjelajahan bahasanya yang luar biasa menyingkap kehampaan tata-krama masyarakat beserta daya cengkeramnya

Di dalam bagian sebelumnya saya telah mencoba membaca relasi antara pokok dan bagiannya yang bisa jadi menyimpan gagasan di dalam dirinya, atau kesatuan utuh ekspresi/pengungkapan di dalam karya sastra. Sebagai penutup saya coba memberi tafsir dan perluasan pengertian tentang pertemuan otentik dimana kita akan menemui keindahan.

Dengan keutuhan pokok dan bagian, keutuhan kerja perkakas ide dan perkakas bahasa
pertemuan otentik seperti disampaikan Arif Budiman dapat terjadi secara lebih kuat ketika seluruh ‘gagasan’ (isi dan bahasa) ini relevan dan kontekstual dengan persoalan yang dihadapi pembacanya, masyarakatnya. Sekaligus apakah gagasan tersebut adalah strategis dan krusial dalam pemberadaban (visioner), walaupun ini tidaklah mutlak. Tidak mutlak karena karya sastra tidak harus mengambil peran untuk secara langsung dan tersurat memberikan jawaban strategis dan praktis, jawaban siap pakai untuk persoalan kemasyarakatan. Dengan demikian saya sekaligus menyampaikan pandangan saya atas pertanyaan soal ‘sastra bukan sastra’ dan nilai karya sastra dalam perannya sebagai sarana pemberadaban.

(bersambung)

Bagian selanjutnya yang sedang dalam penyiapan
Musashi vs Mishima : Idealisasi Moral Bangsa Jepang (Sebuah Studi Kasus Sastra dan Peradaban). Sedang 3 bagian lagi tentang kasus umum Indonesia, ‘Buta Huruf’ Sastra dan Sepinya Kritik Sastra lalu terakhir adalah bagian penutup

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Senin, 23 Maret 2009

Sihir Konsumsi dan Infantilitas Masyarakat Kontemporer

Cengkeraman Kapitalisme Global dan Potensi Perlawanannya

Bre Redhana di Kompas 22 Maret 2009 menulis artikel pendek dengan judul Masyarakat Kontemporer : Dunia Layang-layang Putus. Dalam artikel ini Bre menyoroti merebaknya etos infatilisme atau etos kekanak-kanakan yang diperkenalkan oleh Benjamin R Barber dalam pembuka bukunya berjudul Consumed (Norton, 2007). Etos infatilisme ini kini menjadi semacam ideologi untuk memelihara kegairahan dunia konsumsi untuk keberlangsungan kapitalisme global masa kini.


bercermin diri, bercermin diri

Oleh Robert J Samuelson seperti dikutip Benjamin R Barber gejala ini di gambarkan sebagai “Kita hidup pada zaman dimana orang makin menolak untuk berperilaku (sesuai) umurnya. Kalangan muda rindu menjadi lebih tua, yang lebih tua rindu menjadi muda, Secara progresif kita memusnahkan tingkatan-tingkatan tradisional dalam siklus kehidupan”.

Dari Pakaian Anak-anak Hingga Sihir Teknologi Informasi

Di dalam artikel Kompas ini dicontohkan gejala infatilisme ini bisa dibaca dari selera berpakaian masyarakat saat ini (Artikel pendek Bre ini adalah bagian dari liputan Kompas di rubrik Kehidupan yang mengangkat dunia pakaian anak masa kini). Dimana dalam industri mode saat ini, produsen menyasar target ibu yang ingin terlihat seperti masih berumur 15 tahun, pada saat yang sama anak-anak TK ingin didandani seperti sudah berumur 40.

Bre menilai anak-anak yang tampak di televisi dalam pakaian seperti hendak jadi pengantin hanyalah gejala permukaan dari sebuah proses pendangkalan horizon hidup yang kian rendah dari zaman serba bergegas. Lebih jauh infalisasi atau kekanak-kanakan adalah juga antitesis sekaligus delegitimasi pada pemikiran kritis serta tanggungjawab sipil sebagai orang dewasa.

Contoh lain yang diangkat adalah maraknya produk teknologi terutama “…….. teknologi informasi yang membuat orang bisa meloncat dari satu orang ke orang yang lain dalam seketika, entah lewat email atau handphone dengan perangkat canggih Black Berrynya yang membuat orang autis – melulu berkomunikasi dengan orang lain, tetapi tidak dengan manusia hidup berdarah daging yang berada didepan hidungnya. Menurut Bre ini adalah salah satu sisi lain lagi dari infatilisme : kekurangseriusan pada hubungan personal satu lawan satu, yang membutuhkan waktu, fokus perhatian dan komitmen.

Bre kemudian menulis dunia masa kini adalah dunia dari manusia-manusia yang seperti layang-layang putus.

(terlepas bahwa saya setuju dengan gambaran umum yang disoroti artikel, saya merasa agak ‘terganggu’ dengan penggunaan kata autis dalam artikelnya ini. Terutama bukan pada tepat tidaknya analogi, tetapi terutama dari sisi kepentingan para penyandang autis. Penjelasan tentang autis ini kebetulan saya temukan di dalam edisi Kompas yang sama (walaupun benar-benar artikel yang lepas dari laporan di rubrik Kehidupan ini). Lusiana Indrisari dalam artikelnya Ketika Anak Autis Menginjak Remaja, disebutkan bahwa : autis diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan otak yang menyebabkan hambatan interaksi sosial, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap yang tidak biasa, seperti tindakan yang sama yang berulang-ulang dan ketertarikan berlebihan pada benda dan obyek tertentu. Mohon pendapat pembaca)

Kuasa Kapital

Membaca artikel pendek dan semangat di dalamnya saya teringat satu tulisan lain Bre Redana yang menjadi bab pengantar buku Rudolf Mrazek : Engineers og Happy Land (Yayasan Obor Indonesia, 2006). Melalui artikel dengan judul menarik “Merayakan Hal-hal Kecil” ini, Bre memuji sikap intelektual dan kesungguhan Mrazek, dimana di dalam studi ini Mrazek memperlakukan hal-hal kecil secara serius. Bre menulis “Merayakan hal-hal kecil, memperlakukan teks dengan cermat, menempatkan bahasa dalam substansi kehidupan, yang disini dibangun berdasarkan sikap hati-hati, cermat, sungguh-sungguh, mampu melihat, bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia dari kehidupan, betapapun kecilnya”.

Baginya ini berlawanan dengan sikap umum di negeri ini yakni memperlakukan hal-hal serius secara kurang sungguh-sungguh. Bagi saya ini juga soal infantilitas masyarakat Indonesia hari ini dan ini jauh lebih berbahaya.

Mrazek di dalam buku ini mengkaji masuknya teknologi, infrastruktur baru, arsitektur rumah, perubahan gaya hidup termasuk mode, pemakaian sepatu, transistor, peci hingga klub kendaraan bermotor. Hal kecil-kecil yang ikut menyumbang terbentuknya bangsa dan nasionalisme di awal abad 21 di negeri koloni Hindia Belanda.

Lalu apa yang paling berharga dari studi Mrazek ini?

Menurut saya bagian paling berharga dari kajian Mrazek ini cerita tentang kejelian, kecerdasan, siasat kebudayaan dari kalangan pergerakan dan masyarakat pada umumnya untuk mengambil berkah dari teknologi, ilmu pengetahun, budaya dan gaya hidup yang dicangkok pemerintah kolonial untuk memperdalam penetrasi dan jangkauan penguasaannya atas koloninya. Untuk membangun wacana tanding dan stategi kebudayaan melawan kekuasaan capital (kekuasaan kolonial). Bukan malah semakin dalam terpuruk dalam kebangkrutan.

Sementara itu kini etos infatilisme seperti kata Barber, menjadi semacam ideologi untuk memelihara kegairahan dunia konsumsi untuk keberlangsungan kapitalisme global masa kini. Dan masyarakat ‘konsumen’ Indonesia sadar atau tidak sadar telah dikendalikan dan dicekoki untuk mengkonsumsi komoditi-komoditi, gaya hidup, selera yang semakin memerosotkan kemanusiaan dan menghancurkan karakter.

Sementara itu wilayah-wilayah inti yang membentuk kebudayaan kita telah pula secara dalam di obok-obok oleh Kapital. Joost Smiers melalui bukunya “Art Under Pressure” (insist press 2009) memaparkan bagaimana segelitir korporasi budaya (perusahan transnasional, konglomerasi budaya dan korporasi-korporasi raksasa lainnya) telah memaksa kita untuk hanya menyukai (mengkonsumsi) karya-karya seni tertentu, dari mulai film, buku, tari, kerajinan, patung hingga seni pertunjukkan. Sekali lagi semata-mata untuk memelihara kegairahan dunia konsumsi untuk keberlangsungan kapitalisme global

Untuk dunia pendidikan sebagai satu contoh saja, saya petik pernyataan keras Revrisond Baswir dalam launching buku Ekonomi Konstitusi bahwa fakultas ekonomi di negeri ini adalah pusat kaderisasi agen-agen kolonial.

Akhir kata, dengan mengambil pengalaman dari sejarah negeri ini dari sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah kolonial melalui politik etisnya (sesungguhnya hanya di bangun untuk memasok operator-operator mesin kolonial), telah lahir generasi yang tercerahkan. Kalangan pergerakan yang menghantar bangsa ini pada kemerdekaannya.

Untuk itu kita harus tidak memandang remeh dan memulai juga dari soal yang kecil-kecil seperti juga selera berpakaian, tidak hanya gembar-gembor pada gagasan besar dan hebat-hebat (yang kosong dalam prakteknya, seperti yang diobral caleg dan partai-partai) seperti diingatkan oleh pengalaman kesejarahan negeri koloni pada awal abad 21 (seperti dikaji Rudolf Mrazek).

Silah baca liputan Kompas

Masyarakat Kontemporer : Dunia Layang-layang Putus


Baju Anak Selera Orang Tua

Untuk Anak Orangtua Tetap Belanja


baca juga

Internet dan Teknologi Informasi Untuk Perubahan Sosial

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia

## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua


Buku-buku Hukum Online Prof Jimly Asshiddiqie

Pengantar Ilmu Hukum Tata negara jilid 1; Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang; Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang; Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia;
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara; Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi; Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung; Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional

untuk download/unduh silah kunjung Buku Hukum

E-Book Konvensi Internasional Hak Asasi Manusia

Untuk dokumen-dokumen konvensi internasional hak asasi manusia silah kunjung HAK ASASI MANUSIA

Deklarasi HAM
Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik
Protokol Tambahan Kedua Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik, Untuk Penghapusan Hukuman Mati
Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Protokol Tambahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Protokol Tambahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam,Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Konvensi Hak-Hak Anak
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata
Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak Tentang Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak-Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindak Penghilangan Secara Paksa
Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Orang Penyandang Cacat
Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Terhadap Semua Orang Dari Tindakan Penghilangan Paksa

Sabtu, 21 Maret 2009

Surat Sejarah dan Kebenaran (1) (Dari Selku,8 April 1969)

lentera dari jaman kegelapan itu

“Sekilas saya menyatakan kebenaran saya namun kalau sudah semua orang menyatakan itu tidak benar, maka yang tidak benar itu menjadi kebenaran……”

“Malam ini, saya akan lalui tidur di selku ini, sebagai malam pertama tanggal 8 April 1969” demikian lelaki itu mengakhiri suratnya.

Sebuah tulisan luar biasa dari pena Khalisah Khalid (sebenar-benarnya ia seorang sahabat) di http://www.sangperempuan.blogspot.com/

===============

baca juga bagian berikutnya Sya 4

Sya ... (III)

Sya…
Kamu pernah lihat jingga diatas mendung? Aku menemukan itu disini, diwaktu rasa rinduku memuncak pada sebuah asa yang dikemas dalam balutan nilai kesetiaan. Pun sakit dan menyesakkan, tapi jingga itu tetap menyemburat dengan penuh kedamaian. Disini, dikamarku yang paling luas dibandingkan dengan kamar lainnya yang dimiliki oleh kampus yang berada di Oudemoulstrat. Ketika aku menengok gerimis diantara tirai jendela, aku seperti melihat jingga itu menyemburat dengan sempurna.

Tatapannya yang masih kuingat dalam-dalam, sembari membayangkan alangkah kuatnya nilai itu bersemayam dalam hatinya. Nilai kesetiaan pada sebuah kebenaran akan sejarah, sejarah hidupnya, sejarah keibuannya, sejarah keistriannya, sejarah kewarganegaraannya, dan seluruh sejarah yang pernah coba dipangkas untuk diingat oleh anak cucunya karena dia tidak pernah bermimpi sejarah itu melukai masa depan anak cucunya. Rasanya,berapa banyak orang yang ingin melupakan sejarah hidupnya dengan berbagai cara.


mata hati

Tapi jingga itu lain Sya, dia menampakkan hal yang lain, meskipun memiliki rasa yang kuat untuk melupakan sejarah. Aku melihat, disanalah nilai keabadian jingga itu meski dia berada diatas mendung. Dia begitu kuat, dia begitu sempurna, dia begitu percaya bahwa inilah cara dalam hidupnya untuk melalui sejarah. Tenggorokanku juga rasanya begitu kering, ketika sepucuk surat ditanganku yang diberikannya membuat aku semakin percaya bahwa alur hidup memang niscaya adanya, dan sesungguhnya itulah hakikatnya pembentukan jingga. Dalam genggaman tangannya yang begitu kuat, diantara kecilnya kepalan tanganku sambil meradang senja dan berharap agar butiran air mata tak menganggu apapun dan siapapun. Bukan hanya dia, tapi juga aku dan atau bahkan kebanyakan orang yang masih percaya bahwa kebenaran itu masih ada, paling tidak itu yang ada dalam hatiku.

Sya…
Sepucuk surat itu kini kupegang dalam genggaman tanganku, semilir angin yang merasuk perlahan-lahan di kamar ini semakin membuatku takut menghadapi jingga. Tapi puji Tuhan, diapun berdoa untukk agar Tuhan tidak menarikku dalam alur hidup yang sama. Tidak dinistakan oleh orang-orang disekelilingku, apalagi oleh negara yang dalam jiwa dan ragaku sudah tertanam itu sejak lama, paling tidak sejak aku mengenal pelajaran PMP di sekolah. Perlahan-lahan, aku kembali membukanya. Maaf jingga, aku selalu membuka surat ini, membacanya berulang-ulang. Mungkin itu tidak cukup membuat sakitmu terobati, tapi paling tidak aku ingin mengerti bahwa betapa kebenaran itu begitu mahal dan kuat menampung semua dalam pundakmu, menyimpannya rapat-rapat dalam hatimu.

Catatan bagi mereka yang mau mendengarnya
Pertama diterima kebenarannya
Sekilas saya menyatakan kebenaran saya namun kalau sudah semua orang menyatakan itu tidak benar, maka yang tidak benar itu menjadi kebenaran.
Saya berpesan kepada anakku, semoga menjadi pedoman hidupmu
Saya tetap merasa dipihak yang benar, tetap merasa apa yang dikatakan orang itu semuanya adalah hal tidak benar, semua meruapakan fitnahan bagi diri saya, dimana fitnahan itu dianggap sebuah kebenaran.
Kenapa orang menyatakan yang tidak benar ? mungkin ini adalah sekedar mencari keselamatan dirinya, padahal dia lupa kehidupan yang lain akan timbul dengan kebenaran yang kita buat.
Belum lagi kalau pembalasan ataukah hukum karma, tapi hal ini tidak begitu dipikirkan oleh karena kebenaran itu biasanya (selalu) terlambat datangnya. Menyebabkan banyak orang mau memilih kebenaran yang sebenarnya bukan kebenaran.

Anak-anakku, hati-hatilah dalam hidup ini, tetap berbanggalah bahwa bagaimanapun bapakmu tidak pernah merasa berbuat sebagaimana yang dikatakan oleh semua orang itu.
Saya tidak mempersalahkan mereka itu, karena saya tau mereka mau mencari keselamatan dirinya, sekalipun orang lain dikorbankan.

Hadapilah hidup ini dengan penuh kesatrya, sekalipun banyak orang tidak senang dengan kamu. Biarlah mereka itu mneyatakan bahwa saya tidak benar karena itu adalah haknya untuk menyatakan itu.

Saya tetap berbangga sampai dimanapun, bahwa apa yang dikatakan oleh saya itulah yang benar, dan yang lain itu adalah fitnahan yang penuh dengki.
Apa sebab banyak dari mereka itu dengki pada saya? Itu saya sendiri tidak tau.

Anakku, (putraku) mudah-mudahan saja doaku, engkau menjadi manusia yang bahagia. Bahagiakanlah ibumu yang nanti tetap mengasuh dirimu. Sayangilah ibumu yang tetap berkorban mau menderita untukmu. Melihat cobaan ini, mungkin saya tidak bisa lebih lama lagi memberikan kebahagiaan pada ibumu.

Kepada istriku, tabahlah hadapi hidupmu. Kau trepaksa akan melayarkan bahteramu sendiri dengan kesanggupanmu sendiri dan pemikiranmu sendiri.
Jangan gentar menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah penuh dengan tantangan dan cobaan. Kita tidak boleh mengeluh, karena mengelu adalah meruapakan usaha yang sia-sia.

Aku tak bisa lagi melanjutkan, air mataku tiba-tiba saja mengalir dan hampir jatuh di lembaran surat berikutnya. Tenggorokanku terasa kering dan teramat kering. Ya Tuhan, begitu beratnya cobaan ini untuk seorang perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya, bukan karena tangan Tuhan yang menghendakinya. Tapi kerakusan manusia oleh kursi kekuasaan. Tapi ketika kulihat, mata ibu kasim yang menatapku teguh, menguatkan lagi hatiku untuk melanjutkan alur cerita ini.

Isteriku,
Entah berapa lama nanti engkau sendiriran menghadapi hidup ini, ditengah-tengah gelombangnya hidup ini. Mudah-mudahan saya akan tahan dalam ujian, pada prinsipnya semua terserah padamu. Bagaimana kau akan menanggulangi hidup ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih, akan saya jadikan azimat dalam pengembaraan saya ini. Saya kira itu sudah cukup banyak. Sekarang, aturlah hidupmu untuk anak-anakmu, agar mereka itu dapat bertumbuh menjadi manusia yang baik dan berguna untuk kemanusiaan. Do’akan jangan putus-putus, beri pada saya agar dapat memberi keselamatan diri saya. Maaf, dan ampunkanlah segala dosa-dosaku padamu, sebagai istriku kalau ada dosa padamu agar soal menyesalnya dan harapanku dimaafkan.

Hanya kepadamu manusia satu-satunya yang benar-benar saya telah banyak berbuat dosa, mungkin inilah pembalasannya pada diriku, tapi mengapa akibatnya menimpa kau juga istriku. Padahal kau tetap orang bersih, orang yang saya tau tidak berdosa.

Saya rasa ini tidak layak, tidak adil, karena dosaku kalian ikut memikulnya. Terlepas saya salah atau tidak dalam persoalan ini, tapi ini sudah meruapakan takdir Illahi pada diriku ini. Dalam selku sekarang, saya tidak dapat melihat alam lagi, hanya cahaya yang masuk melalui lobang 20 x 30 cm, itulah yang memberi saya petunjuk bahwa hari sudah siang ataupun sudah malam. Malam ini, saya akan lalui tidur di selku ini, sebagai malam pertama tanggal 8 April 1969.

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Jumat, 20 Maret 2009

Burung-burung Manyar, Mangunwijaya Dalam Ke-bermainan-nya

Mangunwijaya dalam Wajah Kanak-kanak dan Perempuannya………..
Mengenang 80 Tahun YB Mangunwijaya dan 10 Tahun Wafatnya).

Kedungombo, Penggusuran Becak, Girli (anak pinggir kali), Kali Code…… ia mendidik kita tentang panggilan hidup dan pemihakan kepada kaum yang termiskinkan, termajinalkan, tertindas, terabaikan…..

Pastor, arsitek, novelis, akitivis NGO, pendidik………. ia mendidik kita tentang citra manusia, talenta, potensi diri , kemajemukan dan eksistensi kemanusiaan kita……



Dari banyak segi dan aneka warna manusia Mangunwijaya, kerjanya dan panggilan hidupnya, barangkali agak kurang tajam disoroti Mangunwijaya dalam ‘Kebermainannya’, Sang Homo Ludens ini. Padahal sejatinya dari ‘kebermainan’ inilah kualitas dan citra kemanusiaan, kemerdekaan dan kesejatian dapat ditelusuri jejaknya.

Romo Mangun menulis di Kedung Ombo 6 Mei 1990 sebagai berikut :
“…. kebermainan manusia sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentisitas, aktualisasi dirinya secara asli menjadi manusia yang seutuh mungkin. Oleh karena itu ia menyangkut dunia dan iklim kemerdekaan manusia, pendewasaan dan penemuan sesuatu yang dihayati sebagai sejati. Bermain mengandung aspek kegembiraan, kelegaan, penikmatan yang intensif, bebas dari kekangan atau kedukaan, berporses emansipatorik; dan itu hanya tercapai dalam alam dan suasana kemerdekaan.
Manusia yang tidak merdeka tidak dapat bermain spontan, lepas, gembira, puas”.

Menurut Mangunwijaya Nabi Isa telah memberi hikmah tentang manusia dan kebermainannya, dalam metafora anak-anak dan Kerajaan Surga……

“Bila orang tidak mau kembali seperti anak-anak (spontan, merdeka, tanpa pamrih, tanpa muslihat politik alias bermain dalam arti luas), dia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.

(dari pengantar Mangunwijaya untuk buku Johan Huizinga Homo Ludens : Fungsi dan Hakekat Permainan Dalam Budaya, LP3ES 1990)

Mangun melalui Atik dalam novel Burung-burung Manyar mengungkapkan lebih jauh tentang penghayatan jati diri dan dimensi kualitas kemanusiaan ini yang menurut saya berangkat dari kebermainan sang homo ludens ini…

“Pertanyaan terakhir saudari Promovenda, apakah yang akan anda sarankan dari segi biologi untuk manusia masa kini, khususnya bangsa ini?”
“Semoga kita belajar menghayati dimensi kualitas. Sebab Bapak Prof Latumahina, segala innerlichkeit, jati diri kita, sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa dan demi apa kita saling bergandengan, namun juga berkreasi aktif dalam sendratari agung yang disebut kehidupan. Semoga dialog kita membahasakan diri, tidak hanya dalam niat mau pun itikad belaka yang terkurung, melainkan berekspresi dalam suatu tingkat kebudayaan yang tahu, ke mana Sang Pelita menuntun. Hadirin-hadirat yang saya muliakan, jika judul yang saya pilih untuk disertasi ini memanfaatkan kata-kata jati diri dan bahasa citra, maka memang itulah sebenarnya seluruh arti ungkapan kita, dari bermain kelereng yang kita pertaruhkan atau laying-layang yang kita gelorakan atau main boneka semasa kita kanak-kanak, sampai pada saat senja membelai dan menidurkan cucu yang mengntuk. Dari gerak badan sport sampai pementasan musi, dari dambaan dua kekasih yang saling mencari sampai rasa bakti kepada Tuhan Yang MahaEsa. Semogalah antara jati di dalam maupun bahasa citra ke luar selalu tekat kita menari dalam gerak harmoni. Dan jika toh ada sesuatu luka-luka dalam batin kita dalam batin kita, entah karena kesalahan diri kita sendiri mau pun kesalahan keadaan di luar kita, semoga kita juga mampu memahami bahasa citranya….

Misal saja citra wanita. Organ vital wanita dalam bentuk citra namun sekaligus pengejewantahan jatidiri kita manusia. Dan jika itu disebut kemaluan, hal itu karena kita tidak mengenal wanita. Bukan kemaluan, melainkan kemuliaan suci wanita dan pria sekaligus. Dalam situasi kejatidirian yang benar berarti, wanita tidak pernah malu, tetapi bangga dan bahagia mendialogkan organ kewanitaannya dengan tawaran partner hidupnya. Namun itu hanya dapat terlaksana dalam kebenaran jati diri, dalam kebenaran citra bahasa yang jujur. Luka-luka DAN bunga.

Maka, jika kita pernah mengalami kegagalan, semogalah mahluk-mahluk burung mungil yang bernama Ploceus manyar yang sekarang, saying, namun juga untung bagi pak tani,sudah semakin hilang dari persada bumi Nusantara kita, semogalah burung-burung nakal namun pewarta hikmah yang indah itu, memberi kekuatan jiwa. Sebab memanglah kita dapat sedih dan marah membongkar segala yang kita anggap gagal, namun semogalah kita memiliki keberanian juga untuk memulai lagi penuh harapan. Terima Kasih
(petikan dari jawaban Atik saat mempertahankan tesisnya Jatidiri dan bahasa citra dalam struktur komunikasi varietas burung Ploceus Manyar, di dalam novel Burung-burung Manyar); (Djambatan, telah masuk cetakan ke 15, 2007)


Sampai titik ini kita telah menyinggung barang sedikit tentang dimensi/wajah kanak-kanak sekaligus wajah perempuan kemanusiaan Mangunwijaya. Sekaligus juga menemukan diri di dalam alam di dalam diri burung-burung manyar …..

Mari kita tutup dengan 2 kalimat terakhir Novel Burung-burung Manyar.
Ataukah karena aku masih belum berani mengorbankan citra terakhir yang paling indah dari sejarah hidupku, citra Atik? Ingin itu kutanyakan pada burung-burung manyar. Tetapi sekarang sudah jarang kulihat mereka.

Wajah Kanak-kanak, Perempuan dan Alam Semesta pada Burung-burung Manyar (yang semakin langka itu), saya kira adalah jawaban kita, jalan kita untuk keluar dari kutuk peradaban yang bernama Indonesia ………………

Semoga kita segera sampai pada berkah, dan itu bernama Indonesia juga

Salam hangat,
Andreas Iswinarto

Silah simak artikel dari Forum Mangunwijaya IV kerjasama Kompas dan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar

Humanisme Mangunwijaya : Buku Yang Terbuka

Mangunwijaya Dalam Novel
Pedagogi Humanisme Mangunwijaya

Memihak Yang Tersingkir
(Pertautan Mangunwijaya dan Sutan Sjahrir-catatan saya-, karena itu silah baca juga Biografi Sutan Sjahrir)

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia
## andreas iswinarto ##




silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua

=====================================================================================

Kamis, 19 Maret 2009

Mohon Dukungan Ratifikasi Konvensi Perlindungan Buruh Migran

Mari sama-sama mendesak Presiden dan DPR RI untuk Segera Meratifikasi Konvensi Migran 1990, dengan mendukung petisi melalui

http://www.Petition Online.com/ BMI/

Petisi ini merupakan hasil/tindaklanjut dari Dialog "Ratifikasi Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya sebagai Pelaksanaan CEDAW", yang diinisiasi oleh Solidaritas Perempuan bekerjasama dengan Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan atas dukungan UNIFEM pada tanggal 11-12 Maret 2009 di Jakarta.

Terima Kasih.

Tabik,

Benhard Nababan (nababan.jr@telkom.net)
Andreas Iswinarto


To: Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Petisi Bersama
Buruh Migran, Masyarakat Sipil dan Pemerhati Buruh Migran Indonesia

Segera Ratifikasi Konvensi Migran 1990
(Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak-Hak semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya)


Berbagai situasi pelanggaran hak BMI antara lain disebabkan karena Indonesia belum meratifikasi Konvensi Migran 1990 sehingga belum ada kewajiban hukum bagi pemerintah untuk memenuhi hak-hak buruh migran sebagaimana tercantum dalam konvensi tersebut. Konvensi Migran 1990 telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia pada 22 September 2004. Penandatanganan ini seharusnya segera ditindaklanjuti dengan meratifikasi agar nilai-nilai dalam konvensi ini menjadi instrumen hukum di tingkat nasional. Ada empat alasan pentingnya meratifikasi Konvensi tersebut, yaitu:

Pertama, dari sisi substansi:
a) Konvensi Migran 1990 memandang buruh migran tidak hanya sebagai buruh atau entitas ekonomi semata, tetapi juga sebagai mahluk sosial yang mempunyai keluarga dan hak-haknya sebagai manusia secara utuh
b) Definisi dan kategori yang terdapat dalam konvensi ini menyediakan standar perlakuan standar perlakuan internasional melalui elaborasi pekerja migran dan anggota keluarganya
c) Dasar-dasar mengenai HAM diterapkan pada seluruh kategori buruh migran baik yang bekerja secara legal maupun yang berada dalam situasi irregular
d) Konvensi ini menciptakan standar minimum bagi perlindungan buruh migran dan anggota keluarganya yang bersifat universal dan diketahui oleh masyarakat internasional. Konvensi ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong negara-negara yang belum memiliki standar mengenai hal ini agar dapat melaksanakannya
e) Pemenuhan hak buruh migran yang dijamin konvensi ini antara lain; Hak atas informasi mengenai seluruh persyaratan bekerja ke luar negeri, Hak atas informasi yang diberikan oleh negara tujuan bekerja mengenai persyaratan dan hak-hak buruh migran, Hak bermobilitas dan hak bertempat tinggal, Hak untuk membentuk perkumpulan atau perserikatan, Hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu negara asal, Hak untuk turut serta dalam pengambilan keputusan politik, Hak yang sama untuk mengakses institusi layanan publik, pendidikan, perumahan, kesehatan dan partisipasi dalam aktivitas kebudayaan, Hak untuk menikmati perlakuan yang sama dalam hukum perburuhan untuk perlindungan dari pemecatan, memperoleh tunjangan pengangguran, aktivitas penanggulangan pengangguran dan akses untuk pekerjaan alternatif jika terjadi PHK. Konvensi juga memastikan terpenuhi hak bagi keluarga buruh migran kecuali hak yang berkaitan tentang kerja (pengupahan)
f) Konvensi memastikan negara melayani masalah-masalah migrasi internasional dengan pendekatan rights base approach melalui kerjasama bilateral maupun multilateral, penyediaan informasi dan fasilitasi layanan konsuler dan diplomatik. Memastikan bahwa institusi yang berwenang dalam perekrutan buruh migran mengacu pada operasional migrasi yang rights base approach. Memastikan jika ada proses pemulangan/deportasi berlangsung dalam koridor penegakan HAM.

Kedua, dari sisi mekanisme:
a) Konvensi Migran 1990 akan menjadi acuan perbaikan peraturan perundang-undangan terkait buruh migran dengan berbasiskan standar HAM internasional yang terdapat dalam konvensi
b) Pemerintah Indonesia akan memiliki posisi tawar yang kuat untuk bekerjasama dengan pemerintah negara tujuan BMI dengan standar HAM internasional.

Ketiga, dari sisi agenda nasional, rekomendasi Internasional, dan janji pemerintah RI di forum Internasional, yaitu:
a) TAP MPR No. V/2002 yang mengamanatkan Pemerintah RI meratifikasi Konvensi Migran 1990
b) Agenda meratifikasi Konvensi Migran 1990 dalam RAN HAM 1998-2003 dan 2004-2009. Berdasarkan RAN HAM 2004-2009, Konvensi Migran diagendakan akan diratifikasi pada tahun 2005
c) Agenda meratifikasi Konvensi migran 1990 telah masuk dalam Daftar RUU Prolegnas 2005-2009
d) Rekomendasi umum CEDAW No. 26 on Women Migrant Workers poin 29 (Tahun 2008) : ”Negara Pihak didorong untuk meratifikasi semua intrumen internasional yang relevan dengan perlindungan HAM perempuan pekerja migran, khususnya Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya”
e) Rekomendasi Pelapor Khusus PBB bagi Pekerja Migran tahun 2006 (A/HRC/4/24/Add.3) poin 66: ”Pemerintah harus meningkatkan usahanya untuk segera meratifikasi Konvensi Internasional mengenai Perlindungan Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya”
f) Concluding Comment CEDAW tahun 2007 (Point 44) : “Komite mendesak Pemerintah Indonesia untuk meratifikasi traktat yang belum diratifikasi Indonesia sebagai Negara Pihak, yaitu Konvensi mengenai Perlindungan Hak Semua Tenaga Kerja Migran dan Anggota Keluarganya”

Keempat, dari aspek kedaulatan negara: Bahwa kedaulatan negara diukur dari kemampuan negara untuk menegakkan norma-norma HAM. Ratifikasi Konvensi Migran 1990 merupakan langkah negara untuk menjadi bagian dalam sebuah mekanisme pemajuan dan perlindungan HAM. Artinya, ratifikasi Konvensi Migran 1990 yang dilakukan secara demokratis merupakan penerapan prinsip kedaulatan rakyat dan bukan proses kehilangan kedaulatan negara.

Berdasarkan hal tersebut, kami buruh migran, masyarakat sipil dan pemerhati buruh migran Indonesia mendesak Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia segera meratifikasi Konvensi Migran 1990 sebagai upaya nyata dalam melindungi dan menegakkan hak-hak buruh migran Indonesia.

Jakarta, 17 Maret 2009

Buruh Migran, Masyarakat Sipil dan Pemerhati Buruh Migran Indonesia

Ekonomi Konstitusi vs Ekonomi Neoliberal

Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Dari Peluncuran buku Ekonomi Konstitusi : Haluan Baru Kebangkitan Ekonomi Indonesia. (Jakarta 18 Maret 2009)

Penulis : Hendri Saparini, Iman Sugema, Revrisond Baswir, Nunung Nuyartono, Ichsanuddin Noorsy, Triana Anggraenie, Adi Setiyanto, M Iqbal Irfany, Tony Irawan

Editor : Soegeng Sarjadi, Iman Sugema

Penerbit : Soegeng Sarjadi Syndicate



Setelah 63 tahun merdeka saat ini Indonesia menderita penyakit 5 K. Kesengsaraan, Kemunduran ekonomi (deindustrialisasi) , Ketergantungan ekonomi (diantaranya kecanduan hutang luar negeri-beban utang public perkapita saat ini adalah Rp 11,8 juta artinya setiap warga negara menanggung beban utang sebesa Rp. 11,8 juta), Kerentanan (kerentanan energi dan keuangan) dan kerusakan lingkungan hidup.

Ini adalah akibat produk kebijakan TEH BOTOL (teknokrat bodoh dan tolol). Siapa pun Presidennya, Teh Botol Tim Ekonominya.

(dipetik secara bebas dari iman sugema)

* siapapun presidennya, neoliberal tim ekonominya

Yang sedang dan telah kita alami bukan semata-mata battle of mind. Lebih daripada itu, ini adalah perang kedaulatan, the battle of sovereignity.

Harus ada garis tegas antara ekonomi kolonial dan ekonomi merdeka. Ekonomi merdeka bukan kesinambungan ekonomi kolonial. Founding father telah merumuskan demokrasi ekonomi seperti tertera dalam pasal 33 sebagai koreksi total ekonomi kolonial.

Rakyat menjadi tuan di negeri sendiri. Bukan lagi bangsa budak di negeri sendiri dan budak diantara bangsa-bangsa.

Lebih dari TEH BOTOL, keberhasilan kolonial adalah pada penguasaan produksi, birokrasi juga state of mind. Fakultas Ekonomi pada umumnya adalah pusat pengkaderan AGEN-AGEN KOLONIAL.

Demokrasi politik saja tidak dapat melaksanakan persamaan dan persaudaraan. Di sebelah demokrasi politik harus pula belaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada. Sebab itu cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi soial, melingkupi seluruh lingkungan hidup yang menentukan nasib manusia (Hatta, 1960)

Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi…………..

(dipetik secara bebas dari revrisond baswir)


simak pula yang berikut ini

Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)

Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres

Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)

selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus


Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme

John Pilger – The New rulers of The World

dengan subtitle bahasa indonesia

Globalization: New Rulers of The World (Part 1)

Globalization: New Rulers of The World (Part 2)

Globalization: New Rulers of The World (Part 3))


Globalization: New Rulers of The World (Part 4)

Globalization: New Rulers of The World (Part 5)

Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)



HUMOR PEMILU 2009
Bisnis Menggiurkan Di Tengah Krisis Ekonomi Global

oleh : Andreas Iswinarto


Krisis Keuangan yang dipicu kolapsnya beberapa perusahaan keuangan global yang bermarkas di Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa telah menyeret perekonomian dunia kedalam krisis ekonomi. Di seluruh dunia terjadi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi hingga ancaman resesi dan depresi ekonomi berkepanjangan. Dalam sekejab indeks bursa saham di berbagai negara meluncur turun dengan cepat, perusahaan-perusahaan bangkrut dan terancam kebangkrutan, pengangguran meluas, hingga ledakan obral/jual murah asset-aset perusahaan dan perorangan.

Bagi negara-negara berkembang yang sangat tergantung pertumbuhan ekonominya pada komoditi ekspor ke negara-negara maju (seperti Amerika Serikat, Eropa dll) akan paling merasakan dampak krisis ini. Pertumbuhan ekonomi yang melambat (resesi) di negara-negara utama tujuan ekspor ini secara drastis akan melemahkan daya beli atau menurunkan permintaan akan produk-produk ekspor ini.

Seorang ekonom menyebutkan beruntung Indonesia walaupun terus menggenjot ekspor, porsi ekspor belumlah terlalu dominan sebagai sumber pendapatan negara sehingga dampak mematikan dari krisis ini tidak terjadi di Indonesia.

Ditengah kelesuan ekonomi dunia dan Indonesia pada khususnya setahun terakhir ini ada fenomena menarik di dunia bisnis. Tumbuh dan berkembang dengan luar biasa satu sektor bisnis yang sangat menggiurkan. Dengan kecepatan yang luar biasa perusahaan-perusahaan di bisnis ini mampu memperluas dan mempertahankan jaringan bisnis dan pemasarannya atau cabang-cabangnya hingga seluruh Indonesia. Tidak hanya di ibukota propinsi, mereka pun telah merambah hingga kota-kota kabupaten, kecamatan hingga pedesaan.

Tidak hanya itu bisnis ini nampak menggiurkan karena dengan cepat mengambil pangsa pasar besar di dunia promosi dan periklanan. Kita bisa melihat iklan jor-joran mereka di media massa dari TV, Radio, Surat Kabar, hingga media online seperti website, blog, hingga facebook. Demikian pula mereka giat berpromosi melalui berbagai event seperti dari pertandingan sepakbola, lomba lukis, dan sekedar bagi-bagi souvenir di ruang-ruang publik. Juga media iklan kakilima pun mereka rambah, seperti marka-marka jalan, antena pemancar telpon selular, pohon-pohon, jembatan penyeberangan, kios-kios rokok hingga kendaraan pribadi dan angkot.

Pertumbuhan yang luar biasa ini barangkali pula dipicu oleh pendekatan ‘franchising’ dan MLM (Multi Level Marketing) dalam operasi bisnis dan pemasarannya.

Tetapi yang terutama adalah karena bisnis ini berorientasi kepada pasar dalam negeri.

Geliat bisnis partikelir ini pada akhirnya juga mendapat dukungan anggaran negara anggaran pemerintah yang cukup besar.

Patut diingat pula bahwa bisnis menggiurkan yang meledak dalam jangka waktu singkat juga adalah bisnis yang sangat keras dan beresiko. Bisa jadi dalam waktu yang tidak lama lagi banyak perusahaan di bisnis ini yang akan tumbang dan bangkrut, juga investor-investor dan pengusaha kecil yang berada dalam jaringan franchise dan MLMnya.

Partai Politik = Perseroan, Caleg = Komoditi?

Seribu maaf, bisnis menggiurkan ini adalah politik dan pemilu 2009. Unit usahanya adalah KPU (cc Pemerintah) dan Perseroan Partai Politik, komoditi sekaligus jaringan Franchise dan MLMnya adalah perseroan itu sendiri para caleg dan capres.

Jelas bisnis ini berorientasinya pasar dalam negeri dimana jaringan bisnis perusahaan-perusahaannya tersebar ke seluruh Indonesia dengan jaringan operasi hingga desa-desa. Tidak mengherankan karena SIUPnya (Surat Ijin Usaha Partai) baru bisa dikeluarkan apabila partai memiliki jaringan usaha di 2/3 propinsi dengan kantor hingga tingkat desa.

Tercatat dukungan Anggaran Pemerintah untuk bisnis ini nilainya mencapai Rp. 13.5 triliun rupiah.

Lantas bagaimanakah saya harus mengakhiri cerita ini? Saya putuskan tidak akan menanyakan pada pakar kelirumologi (jaya suprana) atau ‘diva’ pelawak kita (mas tukul). Saya akan menemui seorang pakar business administration, seorang bergelar MBA sekaligus kandidat dokor ekonomi dari perguruan tinggi ternama di negeri Efouria Obama itu (kalau tidak salah namanya barkeley, hehe jadi ingat mafia Berkeley. Berkeley, berkely atau ….., o iya ingat universitas brekele) .

Kalau memang mereka benar-benar pengusaha dan pedagang (tentunya tamak) maka perseroan partai dan caleg-caleg yang menang akan berpikir tentang ROI. ROI adalah return on investment. Ya logis toh pengusaha dan pedagang berpikir tentang keuntungan paling tidak balik modal. Beberapa cara bisa dilakukan, pertama dengan melakukan tindakan tidak terpuji yang akan makin memusingkan KPK dan ICW. Ini namanya KORUPSI. Kedua, obral kekayaan alam/sumberdaya alam, memuluskan kebijakan yang di sponsori lembaga-lembaga keuangan neo-liberal, investor asing maupun dalam negeri. Yang berikutnya ya surat sakti dan akses seluas-luasnya untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan kredit usaha, investasi atau dana likuiditas.

Lalu bagaimana perseroan partai yang terjungkal dari persaingan? Entah ya, mungkin mereka akan merger dengan perseroan partai besar, atau barangkali minta bailout atau dana talangan pemerintah. Seperti para eksekutif dan perusahaan Amerika brengsek yang bikin ekonomi dunia porak-poranda atau seperti pengusaha kita dulu yang ngebon dana BLBI. Namanya juga ngebon. Umumnya preman ekonomi tidak balikin utangnya

Nah itu semua memang hanya berandai-andai. Seandainya benar umumnya mereka punya mental 'pengusaha' dan 'pedagang' yang tamak, culas memang celaka. Dimana ‘Ketamakan adalah Kebajikan Utama’ . Ketamakanlah sebagai nilai-nilai atau prinsip-prinsip atau agama utamanya. Maka akan segera tergenapilah peribahasa ‘segelintir orang mendulang untung, mayoritas rakyat mendulang buntung’

Elit Untung, Rakyat Buntung

baca pula

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi

Biografi Sutan Sjahrir (Edisi Khusus 100 Tahun Sjahrir-Tempo)

Peran Besar Bung Kecil : Edisi Khusus 100 Tahun Sjahrir

Simak pula : Tan Malaka, M. Natsir, Mohammad Hatta, DN Aidit, Amir Sjarifudin, Sutan Sjahrir, Njoto, Untung, Sjam Kamaruzaman

simak pula : 80 Tahun Sumpah Pemuda, Seabad Kebangkitan Nasional : Imaji Indonesia Dalam 100 Teks, Pergulatan Demokrasi Liberal


Peran Besar Bung Kecil

Sutan Sjahrir adalah satu dari tujuh ”Bapak Revolusi Indonesia ”. Dia mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah. Yakni melalui diplomasi: cara yang ditentang ”Bapak Revolusi” lain. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Maka dia dituduh elitis. Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia . Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil—begitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian.

TIM EDISI KHUSUS TEMPO
Penanggung Jawab: Nugroho Dewanto dan Seno Joko Suyono
Kepala Proyek: Bagja Hidayat dan Philipus Parera
Penyunting: Seno Joko Suyono, Nugroho Dewanto, Arif Zulkifli, Wahyu Muryadi, Amarzan Loebis, M. Taufiqurohman, Toriq Hadad, Hermien Y. Kleden, Leila S. Chudori, Idrus F. Shahab, L.R. Baskoro, Budi Setyarso, Bina Bektiati, Mardiyah Chamim, Yosrizal Suriaji, Yosep Suprayogi, Putu Setia
Penulis: Bagja Hidayat, Nugroho Dewanto, Seno Joko Suyono, Sapto Pradityo, Adek Media Roza, Yandi M. Rofiyandi, Kurie Suditomo, Yandhrie Arvian, Philipus Parera, Sunudyantoro, Wahyu Dhyatmika, Anne L. Handayani, Padjar Iswara, Firman Atmakusuma, Arif A. Kuswardono, Ramidi, Retno Sulistyowati, Ahmad Taufik, Irfan Budiman, Angela Dewi, Andari Karina Anom, M. Nafi, Budi Riza, Agus Supriyanto, Yuliawati, Harun Mahbub, Nunuy Nurhayati, Sita Planasari Aquadini, R.R. Ariyani, Anton Aprianto, Rini Kustiani, Martha Warta Silaban
Penyumbang Bahan: Akbar Tri Kurniawan, Cornila Desyana, Iqbal Muhtarom, Febrianti (Padang), Sutana Monang Hasibuan (Medan), Asmayani Kusrini (Belanda), Ahmad Fikri dan Alwan Ridha Ramdani (Bandung), Nanang Sutisna (Karawang), Ivansyah (Kuningan), Bibin Bintariadi (Malang), Hari Triwarsono (Madiun)
Bahasa: Uu Suhardi, Sapto Nugroho
Riset: Dina Andriani, Endang Ishak
Foto: Bismo Agung (Kepala), Mazmur Andilala Sembiring, Aryus P. Soekarno, Nickmatulhuda, Aditya Herlambang, Rully Kesuma
Desain: Gilang Rahadian (Kepala), Fitra Moerat Sitompul, Kendra H. Paramita, Kiagus Auliansyah, Danendro Adi, Hendri Prakasa, Aji Yuliarto, Agus Darmawan, Tri Watno Widodo


Anak Minang Jago Menyerang

Rumah di Kaki Singgalang


Antara Tuschinski dan Stadsschouwburg

Berkembang di Iklim Barat

Misi Rahasia dari De Socialist


Berbagi Peran dari Bawah Tanah


Kader Hingga Ujung Usia

Proklamasi tanpa Bung Kecil

Cirebon Merdeka lebih Dahulu

Kudeta Sunyi Triumvirat

Jalan Terjal Perdana Menteri


Berkawan Lewat Diplomasi Beras

Linggarjati, Sebuah Jalan


Paspor Pertama Indonesia


Kemenangan di Lake Success

Kolaborasi Dua Pejuang Sayap Kiri

Sang Atom dan Dua Ideologi

Akhir Sang Meteor

Patah Arang Kawan Seiring


Kerikil Para Revolusioner

Tiga Serangkai Ahli Waris Revolusi

Sosok Penyendiri dalam Tahanan

Perseteruan Para Kolaborator

Jalan Bersimpang Setelah Proklamasi

Tak Ada Patung Bung Kecil

Manifesto Seorang Antifasis

Surat Pengagum Faust

Asmara Sang Flamboyan


Kasih yang Tak Sampai



Kees Snoek: Maria Ingin Membakar Surat-surat itu



Sang Pemuja dan Tuan Perdana Menteri


Sekilas Cinta di Lereng Ceremai

Zurich, Detik-detik Terakhir


Wajah Sjahrir dalam Kotak


Setelah Sibi Tiada

Pintu Tertutup untuk PSI

Foto Tua di Garasi Mursia

Sjahrir Adalah ...
Pandangan ROSIHAN ANWAR, HAPPY SALMA, ROBERTUS ROBERT, DITA INDAH SARI, RIEKE DYAH PITALOKA, ANIS MATTA, BUDIMAN SUDJATMIKO


Kolom

Sjahrir di Pantai - GOENAWAN MOHAMAD

Kerja Sama Singkat Tan Malaka dan Sjahrir-HARRY POEZE

Sjarir Dalam Renungan Dua Jilid - DANIEL DHAKIDAE

Sutan Sjahrir : Titian Sosialisme ke Demokrasi - IGNAS KLEDEN

Mencari Ahli Waris Ideologis Sjahrir - VEDI R. HADIZ

Sutan Sjahrir: Sebuah Kekecualian Zaman - MUHAMMAD CHATIB BASRI


Bookmark and Share

Selasa, 17 Maret 2009

Iklan Partai Golkar dan Pagar Kuning di TPU Tanah Kusir

Sejak beberapa tahun lalu Pemda DKI Jakarta melakukan pembenahan di lingkungan Tempat Pemakaman Umum di ibukota ini, diantaranya pada tampilan fisiknya. Sehingga TPU jadi taman-taman kota yang asri dan apik, taman pemakaman umum.

Namun ada yang unik di TPU Tanah Kusir belakangan ini. Mungkin sejak sebulan lalu seluruh pagar tembok TPU di sepanjang Jalan Tanah Kusir Raya dipoles cat warna kuning mencolok.

Sehingga bila melintas di Jalan Tanah Kusir Raya kita akan dikepung pagar kuning mencolok, tepatnya sepanjang TPU Tanah Kusir. Memang TPU Tanah Kusir berada di sisi kanan dan kiri Jalan Raya Tanah Kusir.



Bagi saya warna kuning mencolok ini agak aneh untuk sebuah TPU. Walaupun bisa jadi hal ini karena saya tidak bisa mengikuti trend zaman.

Kemudian ceritanya bisa agak lebih panjang, ketika ditemukan Billboard Raksasa Partai Beringin di lingkungan TPU yang tentunya bernuansa kuning pula. Setelah diperiksa Billboard ini adalah satu-satunya media iklan sejenis di lingkungan TPU Tanah Kusir.

Saya jadi usil dan tersenyum simpul, jangan-jangan…………?



Senin, 16 Maret 2009

Bisnis Menggiurkan Di Tengah Krisis Ekonomi Global

Krisis Keuangan yang dipicu kolapsnya beberapa perusahaan keuangan global yang bermarkas di Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa telah menyeret perekonomian dunia kedalam krisis ekonomi. Di seluruh dunia terjadi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi hingga ancaman resesi dan depresi ekonomi berkepanjangan. Dalam sekejab indeks bursa saham di berbagai negara meluncur turun dengan cepat, perusahaan-perusahaan bangkrut dan terancam kebangkrutan, pengangguran meluas, hingga ledakan obral/jual murah asset-aset perusahaan dan perorangan.

Bagi negara-negara berkembang yang sangat tergantung pertumbuhan ekonominya pada komoditi ekspor ke negara-negara maju (seperti Amerika Serikat, Eropa dll) akan paling merasakan dampak krisis ini. Pertumbuhan ekonomi yang melambat (resesi) di negara-negara utama tujuan ekspor ini secara drastis akan melemahkan daya beli atau menurunkan permintaan akan produk-produk ekspor ini.

Seorang ekonom menyebutkan beruntung Indonesia walaupun terus menggenjot ekspor, porsi ekspor belumlah terlalu dominan sebagai sumber pendapatan negara sehingga dampak mematikan dari krisis ini tidak terjadi di Indonesia.

Ditengah kelesuan ekonomi dunia dan Indonesia pada khususnya setahun terakhir ini ada fenomena menarik di dunia bisnis. Tumbuh dan berkembang dengan luar biasa satu sektor bisnis yang sangat menggiurkan. Dengan kecepatan yang luar biasa perusahaan-perusahaan di bisnis ini mampu memperluas dan mempertahankan jaringan bisnis dan pemasarannya atau cabang-cabangnya hingga seluruh Indonesia. Tidak hanya di ibukota propinsi, mereka pun telah merambah hingga kota-kota kabupaten, kecamatan hingga pedesaan.

Tidak hanya itu bisnis ini nampak menggiurkan karena dengan cepat mengambil pangsa pasar besar di dunia promosi dan periklanan. Kita bisa melihat iklan jor-joran mereka di media massa dari TV, Radio, Surat Kabar, hingga media online seperti website, blog, hingga facebook. Demikian pula mereka giat berpromosi melalui berbagai event seperti dari pertandingan sepakbola, lomba lukis, dan sekedar bagi-bagi souvenir di ruang-ruang publik. Juga media iklan kakilima pun mereka rambah, seperti marka-marka jalan, antena pemancar telpon selular, pohon-pohon, jembatan penyeberangan, kios-kios rokok hingga kendaraan pribadi dan angkot.

Pertumbuhan yang luar biasa ini barangkali pula dipicu oleh pendekatan ‘franchising’ dan MLM (Multi Level Marketing) dalam operasi bisnis dan pemasarannya.

Tetapi yang terutama adalah karena bisnis ini berorientasi kepada pasar dalam negeri.

Geliat bisnis partikelir ini pada akhirnya juga mendapat dukungan anggaran negara anggaran pemerintah yang cukup besar.

Patut diingat pula bahwa bisnis menggiurkan yang meledak dalam jangka waktu singkat juga adalah bisnis yang sangat keras dan beresiko. Bisa jadi dalam waktu yang tidak lama lagi banyak perusahaan di bisnis ini yang akan tumbang dan bangkrut, juga investor-investor dan pengusaha kecil yang berada dalam jaringan franchise dan MLMnya.

Partai Politik = Perseroan, Caleg = Komoditi?

Seribu maaf, bisnis menggiurkan ini adalah politik dan pemilu 2009. Unit usahanya adalah KPU (cc Pemerintah) dan Perseroan Partai Politik, komoditi sekaligus jaringan Franchise dan MLMnya adalah perseroan itu sendiri para caleg dan capres.

Jelas bisnis ini berorientasinya pasar dalam negeri dimana jaringan bisnis perusahaan-perusahaannya tersebar ke seluruh Indonesia dengan jaringan operasi hingga desa-desa. Tidak mengherankan karena SIUPnya (Surat Ijin Usaha Partai) baru bisa dikeluarkan apabila partai memiliki jaringan usaha di 2/3 propinsi dengan kantor hingga tingkat desa.

Tercatat dukungan Anggaran Pemerintah untuk bisnis ini nilainya mencapai Rp. 13.5 triliun rupiah.

Lantas bagaimanakah saya harus mengakhiri cerita ini? Saya putuskan tidak akan menanyakan pada pakar kelirumologi (jaya suprana) atau ‘diva’ pelawak kita (mas tukul). Saya akan menemui seorang pakar business administration, seorang bergelar MBA sekaligus kandidat dokor ekonomi dari perguruan tinggi ternama di negeri Efouria Obama itu (kalau tidak salah namanya barkeley, hehe jadi ingat mafia Berkeley. Berkeley, berkely atau ….., o iya ingat universitas brekele) .

Kalau memang mereka benar-benar pengusaha dan pedagang (tentunya tamak) maka perseroan partai dan caleg-caleg yang menang akan berpikir tentang ROI. ROI adalah return on investment. Ya logis toh pengusaha dan pedagang berpikir tentang keuntungan paling tidak balik modal. Beberapa cara bisa dilakukan, pertama dengan melakukan tindakan tidak terpuji yang akan makin memusingkan KPK dan ICW. Ini namanya KORUPSI. Kedua, obral kekayaan alam/sumberdaya alam, memuluskan kebijakan yang di sponsori lembaga-lembaga keuangan neo-liberal, investor asing maupun dalam negeri. Yang berikutnya ya surat sakti dan akses seluas-luasnya untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan kredit usaha, investasi atau dana likuiditas.

Lalu bagaimana perseroan partai yang terjungkal dari persaingan? Entah ya, mungkin mereka akan merger dengan perseroan partai besar, atau barangkali minta bailout atau dana talangan pemerintah. Seperti para eksekutif dan perusahaan Amerika brengsek yang bikin ekonomi dunia porak-poranda atau seperti pengusaha kita dulu yang ngebon dana BLBI. Namanya juga ngebon. Umumnya preman ekonomi tidak balikin utangnya

Nah itu semua memang hanya berandai-andai. Seandainya benar umumnya mereka punya mental 'pengusaha' dan 'pedagang' yang tamak, culas memang celaka. Dimana ‘Ketamakan adalah Kebajikan Utama’ . Ketamakanlah sebagai nilai-nilai atau prinsip-prinsip atau agama utamanya. Maka akan segera tergenapilah peribahasa ‘segelintir orang mendulang untung, mayoritas rakyat mendulang buntung’

Elit Untung, Rakyat Buntung


Silahkan kunjungi link ini untuk bacaan yang lebih serius

Pemimpin Atau Penjual (Budiarto Shambazy)


Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal


Siapa Sudi Kena Kibul (Seno Gumira Ajidarma)


Politik Uang di Saat Krisis Keuangan

Dana Kampanye Naik 10 Kali Lipat

Anggaran Pemilu 2009 Terindikasi Penyimpangan

baca pula

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind


=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Global Day of Action on Climate (Demo Sekitar Istana)

Bumi cukup untuk kita semua tetapi tidak untuk ketamakan segelintir orang- Gandhi

“Jangan membebek, jangan mau dikambinghitamkan”








foto-foto = Sarekat Hijau Indonesia

"Global Day of Action on Climate" atau "Hari Aksi Global untuk isu perubahan iklim" berlangsung sejak tahun 2005 dan telah menjadi kegiatan tahunan. Diadakan setiap kali pada hari Sabtu (biasanya pada bulan desember) yang jatuh ditengah-tengah berlangsungnya pertemuan tahunan PBB mengenai perubahan iklim (Conference of Parties to the UNFCCC). Disebut sebagai hari aksi global karena pada tanggal tersebut masyarakat sipil dari berbagai kota dunia akan beraksi kurang lebih secara serentak menuntut keadilan iklim.

sebuah artikel lama yang semoga masih relevan.........

Ironi Pemanasan Global: Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala?

Vandhana Shiva, cendekiawan terkemuka India dan seorang aktivis sosial tingkat dunia menyatakan, “dengan menolak menandatangani Protokol Kyoto, Presiden Bush telah melakukan tindak terorisme ekologis pada sejumlah besar komunitas yang barangkali akan lenyap dari muka bumi karena pemanasan global. Sedangkan di Seattle, WTO dijuluki World Terorist Organisations (Organisasi Teroris Dunia) oleh para demostran, sebab kebijakan yang menyangkal hak kelangsungan hidup jutaan orang”..

Sabtu, 14 Maret 2009

Makanan Favorit Presiden Soekarno

“Jagung ini melambangkan dunia tani, jerih payah kaum tani. Dibandingkan beras, jagung ini lebih menunjukkan kekuatan”.

Kira-kira itulah jawaban presiden RI pertama ini yang diingat oleh Mbah Putri Nawiyo, saat ia menanyakan “Pak Karno, kenapa sarapan jagung?”. Selain itu menurut cerita Mbah Putri sayur lodeh, rawon dan peyek adalah masakan Mbah Putri yang menjadi favorit Pak Karno.

Dahulu mbah putri ini sering ikut di dalam rombongan besar keseniannya Mbah Mardusari, dengan peran sebagai juru masak. Mardusari adalah seniman kesayangan presiden RI pertama ini. Pak Karno kerap mengundang rombongan Mardusari untuk macopotan di istana. Pak Karno tidak segan-segan untuk bersantap bersama dengan rombongan kesenian ini, menyantap masakan mbah putri.

Mbah Putri masih mengingat dengan wajah gembira dan bersinar, ketika Pak Karno menghampirinya di wisma tamu. Saat itu Mbah nunut Mardusari dalam kunjungan presiden ke Blitar. Tutur Mbah Putri, kala itu Pak Karno menyapanya dan menyarankan untuk menyelimuti si kecil (putri mbah) karena udara Blitar yang dingin malam itu.

* Pak Karno adalah penyebutan oleh Mbah Putri

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Beringin yang Merobohkan

=====================================================================================

Anak Kecil dan Ganesha

Sastra dan Peradaban (2)

Catatan Lepas Dari Diskusi Sastra dan Pemberadaban yang diselenggarakan Bale Sastra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya

Baca artikel SASTRA DAN PERADABAN (1) : Pada Awal Segala Sastra Adalah Religius

Baca artikel SASTRA DAN PERADABAN 3 Logika dan Rasa Berbahasa : Selamat Tinggal Keindahan?

Adab Bukan ‘Adab”?, Sastra Bukan ‘Sastra”?



Dalam diskusi di Bentara Budaya ini Thamrin sempat berbagi kehadirannya pada satu seminar mengenai Pancasila, dimana ia mengusulkan untuk menjawab tantangan jaman dan menjadikannya lebih kontekstual maka bisa saja urutan sila-sila di rubah. Ia mengusulkan urutan sila-sila terkait sebagai berikut : kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, baru persatuan dan terakhir keTuhanan. Ia mengingatkan soal kekejaman di Aceh, Timor Leste, Papua yang berpangkal pada tafsir persatuan yang ngawur, juga tafsir agama yang menghasilkan kekerasan-kekerasan dan konflik-konflik keras bermotif agama.

Bagi saya inilah penjelasan yang paling tepat tentang pilihan pada religiositas bukan agama. Sebagai gerak akal, budi, rasa, nurani untuk mewujudkan kemanusiaan dan sekaligus keadilan sosial. Persoalan religiositas sebagai gerak vertikal manusia dan Penciptanya bukan semata-mata atau bahkan tidak berarti apa-apa tanpa peluberan ke bumi, tanpa wujud sebagai kasih kepada sesama. Demikian esensi dari agama manapun, sebagai sebuah perjalanan sebuah misi menuju pembebasan, kemanusiaan dan keadilan.

Karena itu saya masih melihat relevansi simpulan “Pada Awal Mula Segala Sastra adalah Religius”. Dengan demikian saya meyakini religiositas sebagai sebuah karya sastra yang baik atau dalam konteks diskusi ini sebagai jalan pemberadaban, Religiositas bisa bekerja tanpa keyakinan agama apapun, bahkan bisa jadi tanpa tuhan manapun, sepanjang manusia mewujudkan panggilan nuraninya untuk kemanusiaan dan keadilan.

Bila diskusi ini membahas Sastra dan Peradaban maka pemberadaban yang dimaksud menyasar masyarakatt atau tatanan masyarakat dimana kemanusiaan dan keadilan menjadi wujud.

Dalam diskusi ini Thamrin Tamagola menyoroti lebih jauh dan sekaligus melakukan klarifikasi pengertian adab dan perberadaban. Dengan meninjau asal-asul kata adab yang diambil dari bahasa Arab, dalam konteks tema sastra dan pemberadaban maka menurutnya kata yang lebih tepat sebenarnya adalah Tamadun. Adab pararel dengan konsep Civilized Society sedangkan Tamadun pararel dengan konsepsi Decent Society.
Pembedanya adalah yang pertama memiliki bekerja dalam lingkup pribadi, hubungan antara individu, sedangkan yang kedua memiliki lingkup institusi atau sistim dan struktur kemasyarakatan.

Secara khusus ini juga sebagai tanggapan atas presentasi Putu Wijaya "Kegagalan Sastra Dalam Pemberadaban", terkait pernyataannya tentang ketidakadaban bangsa ini dengan contoh-contoh perilaku menyimpang seperti mutilasi, kekerasan, korupsi dll. Tanpa memberikan sorotan terhadap persoalan yang lebih bersifat struktural dan sistemik. Sementara Thamrin Tamagola tegas melihat misalnya sistim kapitalisme neoliberal ugal-ugalan yang menjadi ancaman kemanusiaan dan penyebab ketidakadilan.

Menurut saya kalau kita kembali ke Pancasila diatas maka ketika kita bicara tentang pemberadaban adalah bicara pada tingkat perjuangan mewujudkan stuktur dan sistim kemasyarakatan yang mengacu kepada ke 5 nilai Pancasila tersebut.

Sastra Bukan “Sastra”

Lantas apa yang disebut dengan sastra itu sendiri, apakah semua karya-karya fiksi dapat disebut sastra.

Bagi Putu Wijaya sastra adalah semua bentuk ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya. Sehingga terangkum pulalah yang tidak tertulis (sastra lisan) yang memiliki bobot ekspresi lewat bahasa. Hanya memang menurutnya ada perbedaan kualifikasi sastra yang hanya menghibur sebagai klangenan ada sastra yang serius. Sastra serius inilah yang dapat berperan dalam pemberadaban. Sementara Jakob Sumarjo menganggap tidak semua karya non fiksi seperti novel dapat disebut karya sastra.

Penilaian Jakob Sumarjo bahwa Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta tidak masuk dalam kategori sastra sempat dipertanyakan oleh beberapa orang peserta diskusi. Sementara Putu Wijaya menilai bahwa kedua novel ini adalah juga karya sastra, tetapi ujarnya jelas karya-karya sejenis novel tersebut tidak akan pernah menembus kriteria nobel sastra. Menurutnya ada kualifikasi khusus yang disyaratkan untuk karya-karya sastra yang lebih serius ini.

Jakob Sumarjo dan Putu Wijaya nampaknya tidak dapat dengan lugas dan sistimatis menjelaskan argumennya serta kualifikasi ‘sastra’ ini.

Malahan Tamagola yang sosiolog itu lebih mampu merumuskan kriteria dan kualifikasi ini. Kriteria pada akhirnya juga menjelaskan tentang karya sastra macam apakah yang mampu memainkan peran perberadaban.

Menurutnya ada 4 kriteria yakni kontekstual dengan keadaaan atau situasi masyarakatnya. Kedua, menjangkau persoalan kemanusiaan yang mendalam atau menyangkut hakekat kemanusiaan yang mendasar . Ketiga, menyangkut soal strategis dan krusial untuk peradaban dan kemanusiaan. Dan terakhir, diungkapkan secara indah atau memiliki kadar estetika yang bermutu.

Dengan demikian menurut saya sang seniman punya cara pandang, sudut pandang yang berbeda dengan umumnya masyarakat kebanyakan. Atau mereka mampu menangkap esensi persoalan secara mendalam, melihat dan menangkap persoalan kemanusiaan secara holistik dengan pandanga kritis sekaligus visioner.

Meminjam Henry de Pene yang dikutip dalam buku Max Havelaar, “hampir semua cucu Homeros…. mereka melihat apa yang tidak kita lihat; pandangan mereka menembus lebih tinggi dan lebih dalam dari penglihatan kita”. Atau dalam penjelasan Jakob Sumardjo, mencuplik Dead Poet Society, dimana sang guru sastra naik keatas meja dan memandang dari ketinggian suasana kelas dan menemukan perspektif yang berbeda. Itulah mata dan dunia penciptaaan para penyair atau sastrawan pada umunya.

(bersambung)

baca juga
KEGAGALAN SASTRA DALAM PEMBERADABAN - Putu Wijaya

Sastra dan Perberadaban di Indonesia (Jakob Sumardjo)

Sastra dan Pemberadaban: Hasil Survey terhadap Pembaca Sastra

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================

Sastra dan Peradaban (1)

Catatan Lepas Dari Diskusi Sastra dan Pemberadaban yang diselenggarakan Bale Sastra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya


Pada Awal Mula Segala Sastra adalah Religius.

Baca Sastra dan Peradaban (2) Adab bukan Adab? Sastra Bukan Sastra?

Baca artikel SASTRA DAN PERADABAN 3 Logika dan Rasa Berbahasa : Selamat Tinggal Keindahan?


Dalam diskusi ‘Sastra dan Pemberadaban’ yang diselenggarakan oleh Bale Satra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya, Putu Wijaya menyebutkan bahwa pemberadaban sangat potensial dimainkan oleh sastra tetapi juga agama, pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Menurut saya Putu agak kurang tepat menempatkan pendidikan di dalamnya. Bukan karena pendidikan tidak pokok dan penting untuk pemberadaban, tetapi lebih karena pendidikan adalah salah satu proses atau sarana untuk menjadikan ketiganya sastra, agama, ilmu pengetahuan ‘bekerja’ untuk perberadaban.

Demikian ketimbang menempatkan agama atau religi, menurut saya lebih tepat digunakan religiositas. Karena religiositas lebih dalam dan luas dari pada agama, seperti dikatakan oleh Romo Mangun (Sastra dan Religiositas, Kanisius 1988) agama lebih menunjukkan kelembagaan kebaktian kepada Tuhan atau kepada “dunia atas” dalam aspeknya tang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya serta keseluruhan organisasi tafsir Alkitab dan sebagainya yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan. Sedang religiositas menurutnya lebih melihat aspek yang “didalam lubuk hati”, riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa.

Tentunya ini bagi saya penting pula untuk mengakomodir pula sistim kepercayaan (kejawen misalnya), agama bumi atau orang-orang yang tidak mempercayai agama tetapi percaya atas eksistensi keTuhanan, atau bahkan orang-orang ateis yang bisa jadi adalah orang-orang dengan religiositas yang tinggi. Catatan menarik juga diberikan Mangunwijaya ketika mengutip pengarang roman dan cerpen Inggris terkenal Graham Greene, “There is far more religious faith in (communist) Russia than in (Christian) England.

Selanjutnya saya mengusulkan selain religiositas, sains dan sastra, filsafat mestinya adalah hal keempat yang punya potensi terhadap pemberadaban manusia. Saya meminjam ini dari catatan Anton Kurnia (sebagai editor) atas penerbitan buku Gunung Jiwa yang ditulis oleh Gao Xingjian pemenang nobel sastra tahun 2000, walau saya telah menempatkan religiositas sebagai ganti agama.

Dalam catatannya Anton menyebutkan “konon, ada empat jalan menuju ‘kesejatian’ : agama, filsafat, sains dan sastra”. Dan menurutnya melalui Gunung Jiwa, kita bisa menapaki jejak-jejak keempat jalan setapak itu. Baginya Gunung Jiwa adalah sebuah novel yang religius, filosofis, ilmiah sekaligus indah.

Dititik inilah saya melihat keunggulan sastra yang mampu merangkum atau meminjam kembali Putu sastra adalah eksistensi manusia dalam seluruh dimensinya.

Menurutnya banyak bukti bahwa sastra mendahului pencapaian ilmu pengetahuan untuk membuka adab manusia ke depan. Jelas pula bahwa sastra bukanlah risalah ilmiah walaupun memiliki kandungan pengetahuan, lanjutnya.

Juga saya kutip pernyataan Mangunwijaya dalam bab pertama bukunya Sastra dan Religiositas (Kanisius 1988) untuk menunjukan kelapangan dan potensi merangkul sastra, Pada Awal Mula, Segala Sastra Adalah Religius. (barangkali bisa dikatakan juga pada awal mula, segala sastra adalah filosofis, tetapi tentu tidak bisa pada awal mula segala sastra adalah ilmiah).

(bersambung)

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia

## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Kota Tua : Pintu dan Jendela Sejarah Kota Tua






baca juga
KEGAGALAN SASTRA DALAM PEMBERADABAN - Putu Wijaya

Sastra dan Perberadaban di Indonesia (Jakob Sumardjo)


Sastra dan Pemberadaban: Hasil Survey terhadap Pembaca Sastra

Jumat, 13 Maret 2009

Pergerakan Kita : Kesadaran Massa Melawan Ketakutannya (Mas Marco)

Kesadaran Massa : Bukalah Gembok Ketakutan Itu


sungguh mati,
selama kamu, rakyat Hindia,
tidak punya keberanian
kau pasti akan selalu diinjak
dan disebut seperempat manusia
(Marco Kartodikromo)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum,
ehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri
(QS Ar-Ra’d [I3] : II)

Pergerakan Kita : Hidup adalah Pergerakan (Mas Marco, Wiji Thukul)

dimana ada hidup,
disitulah ada pergerakan
tiap-tiap pergerakan mesti membawa korban
tiap-tiap korban mesti membawa kebaikan
(Marco Kartodikromo)

jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau akan hancur
(Wiji Thukul)

Pergerakan Kita : Merdeka 100 Persen (Soekarno)

Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup lebih layak dan sempurna.

Kita bergerak tidak karena ’ideal’saja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup meminum seni...-pendek kata kitabergerak karena ingin perbaikan nasib didalam seluruh bagian-bagiannya dan cabang-cabangnya.

Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus persen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab sistem inilah yang sebagai kanker tumbuh diatas tubuh kita, hidup dan subur dari tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita.

Oleh karena itu, maka pergerakan kita janganlah pergerakan kecil-kecilan. Pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan yang ingin merubah samasekali sifatnya masyarakat.

---------------------------------

Rakyat dimana-mana dibawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain, tidak mau dieksploitir oleh golongan-golonganapapun, meskipun golongan itu adalah bangsanya sendiri.

Dari Pidato Soekarno

Prosesi Bakaran Hutan





Ranting Bengkirai

secarik kertas, tempayan dan jendela,
nyangkut di delapan ranting bengkirai* gosong
sisa bakaran tempo hari

ada wajah bertemu kertas
ada wajah bertemu tempayan
ada jendela pada wajah hutan yang sepi

ada hutan sepi pada
parut-parutan luka
wajah-wajah
orang-orangan adat
ada hutan menyanyi pedih
diujung suling-sulingan
bocah-bocahan adat

juru kunci hutan-hutanan
tertawa getir
kamu bocah-bocahan
yang meniup perutnya
sendiri-sendiri

KARENA KEJI ORANG-ORANG KUASA

lalu waktu.....

eja detik satu-satu
yang TIBA
dari delapan penjuru mata angin

berpeluh......
berpeluh sangat

sibuk mendamaikan
titik hujan dan air mata
yang berisik berebut ranting bengkirai gosong

sementara dibawah tanah kepal-kepal akaran
semakin mengeras
menunggu prosesi bakaran yang laen
gosong yang laen

gertak ledak amarah bumi
gertak ledak amarah rakyat

Kamis, 12 Maret 2009

Kembara 2

Sepintas Bertemu Menyusuri Lorong-lorong Dunia (Sigit Susanto), dan Perjalanan Spiritual (MAW Brouwer)

Juga “Bertemu” 2 Pemenang Nobel Sastra Sahabat Fidel Castro


Biru Setelah Api

Sigit, pemandu wisata turis eropa berbahasa jerman di bali, menikah dengan claudia beck asal swiss yang pernah dipandunya, lalu mereka bersepakat bermukim di swiss dan di masa tuanya akan kembali ke tanah air sigit.

Meminjam Brouwer ‘orang yang meninggalkan kota bandung untuk mengelilingi dunia, akhirnya kembali di kota Bandung juga. Hal itu didasarkan bahwa dunia kita memang bulat. Yang berangkat ke arah barat kembali dari arah timur”.

Dalam satu kesempatan claudia bertanya apa yang hendak sigit bawa ke tanah airnya nanti, uang banyak atau pengalaman yang banyak. “Aku lebih baik membawa pulang banyak pengalaman, sebab pengalaman itu tak akan pernah habis” kata sigit. Dari sana mereka berikrar memulai petualangan ke berbagai negara..
.
Sigit memiliki rumah di bali di tengah sawah dan tepian sungai kecil di daerah batubulan, tiap tahun ia pulang kesana. Selalu pula ia kumpulkan anak-anak kampung untuk belajar menulis dan melukis.

Aku membacai pengantar darinya dan perjalanannya dengan claudia ke kuba.
Mereka sempat mengunjungi rumah hemingway, perpustakaan, makam kucing-kucingnya, resto tempat nongkrongnya. kampung nelayan inilah dengan lomba tangkap ikannya mengantar hemingmay meraih nobel sastra. Lelaki tua dan laut adalah kisah tentang lelaki tua yang bersahaja, sabar, penuh kekuatan hati. Ia begitu paham jiwa laut dan dengan kesabaran dan sejenis perasaan kasihnya menaklukan ikan raksasa di mata pancingnya selama berhari-hari.

Sahabat Fidel Castro ini kemudian kembali ke Amerika akibat penyakit stroke dan bunuh diri.

Dan aku bertemu kembali hemingway dengan lelaki tua dan lautnya. Buku ini adalah novel kaliber nobel yang pertama aku baca, baru setelah itu disusul dokter Zhivago. Buku yang pertama sudah hilang sedang yang kedua ternyata masih ada di lemari bukuku. Rasanya waktu itu aku masih duduk di sma.

Fidel Castro rupanya bersahabat pula dengan Gabriel Garcia Marquez (pemenang nobel sastra dari kolombia dengan novel hebatnya seratus tahun kesunyian). Castro pernah bilang padanya, bila reinkarnasi berikutnya tiba, Castro ingin menjadi sastrawan.

Nama tuhan yang keseratus dan itu adalah seratus nama (tahun) kesunyian.

.....................

Kubaca di pengantar yang ditulis st sularto, dalam kenangan myra, brouwer ini adalah sosok yang problematis. Kata-kata kunci filsuf jerman martin heidegger yang dikaguminya selain tokoh fenomemenologi lainnya Marleau Ponti ‘kematian sebagai tujuan hidup’ seolah-olah menghantuinya, begitu disebutkan. Kepada sahabat-sahabatnya ia sering mengatakan : “saya paling takut dengan kematian”. Aku kutip lagi dari st sularto ‘ternyata brouwer tidak mampu sendirian mengatasi persoalan dengan badannya yang didera sakit sejak kecil (asma) sampai akhir hidupnya. Pada beberapa tahun sebelum kematiannya, dia merasa dikejar-kejar oleh sakitnya, dia merasa ditinggalkan banyak orang.”

Tentang ini saya teringat petikan kata bijak Pram pada Novelnya Bukan Pasar Malam



Kembara 1 ada disini

Kembara 1

Sepintas Jumpa Centhini (Kekasih Yang Tersembunyi) dan Balthasar’s Odyessey (Nama Tuhan Yang Keseratus)




“Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”

mengutip dari bab empat puluh malam dan satunya hujan, terjemahan saduran perancis edisi serat centhini, yang baru saja kubaca kembali tadi malam (elizabeth inandiak, babat alas 2008). kebetulan menyinggung soal kembara, soal yang hendak aku kisahkan…..

“Istambul! Istambul! Bagi mereka yang bermata akan sulit mengatakan betapa dunia ini tak memiliki apa pun yang bisa dipertontonkan. Meski hal itu benar adanya, percayalah padaku. Jika kau ingin mengetahui dunia ini, yang kaubutuhkan hanyalah mendengarkan. Yang dilihat orang ketika mereka bepergian tak lebih dari sebuah ilusi. Bayangan mengejar bayangan lain. Jalan-jalan dan negeri-negeri tak mengajarkan apa pun yang tak kita ketahui sebelumnya, tiada yang tak bisa kita dengar dalam diri kita sendiri di kedamaian malam.”

pesan Abdel-Bassit, lelaki saleh yang buta sejak lahir kepada Balthasar ketika telah memutuskan untuk memulai kembaranya ke Istambul untuk menemukan kembali kitab Nama Tuhan Yang Keseratus (serambi 2006)

Melihat, mendengar, mengecap, mencium, merasa...... sight, hearing, taste, smell, touch

Lelaki saleh ini, berbicara tentang mendengar dan melihat…. Apakah soal ini bisa diperbandingkan, karena lelaki ini bicara tentang melihat keluar dan mendengar kedalam . Dua soal dengan jurusan yang tidak sama. Selain itu mendengar yang dimaksudkan lelaki saleh ini agaknya simbolis, dan melihat adalah gejala fisik sekaligus psikis. Tapi bukan itu soalnya…..

Aku jadi mulai memikirkan tentang panca indera yang aku miliki. Kesemua ini mestinya punya potensi yang hebat kalau semuanya dioptimalkan penggunaannya dan ditumbuhkembangkan dengan baik. Sebagai tanda fisik sekaligus psikis. Sekali waktu perlu juga mengukur diri, diantara kelima indera kita mana yang paling kuat, indera mana yang paling disadari keberadaannya, dan seterusnya. Baik pula sekali waktu kita membutakan diri untuk mempertajam pendengaran kita, menulikan diri untuk mempertajam penglihatan, atau mungkin mencium untuk mengenali rasanya…………………

Dan ternyata kisah utamaku bukan soal panca indera…

Beberapa karya Amin Maalouf seperti Nama Yang Keseratus dan Leo The African adalah tentang kisah perjalanan, kelana dan kembara. Sekaligus merekamnya dalam gaya tutur buku harian atau jurnal….

Pesannya sederhana, aku akan teruskan belajar menulis, menulis dan menulis. Kedua, walau keinginan tentang perjalanan ke dunia sana dan sini, kembara, kelana masih terus menggangguku dan menggodaku……

Tapi kali ini, aku katakan akan teruskan atau memperhebat seperti yang disampaikan lelaki saleh untuk kelana mendengarkan yang ada di dalam diri………..

Selain meneruskan kelana, kembara dan perjalanan di dunia rekaan sekaligus dunia nyata yang dikisahkan di dalam kitab-kitab fiksi maupun non-fiksi. Hal yang belum intens dan mendalam aku lakoni….

Sungguh kurang pendalaman.....

Contoh saja baru aku sadar ternyata aku sangat kesulitan memvisualisasikan/ mengimajinasikan deskripsi yang kaya baik itu tentang diri, alam, motif kimono dan suasana dalam kitab-kita sastra oleh para penulis. Misal saja aku kesulitan untuk memvisualisasikan deskripisi Yukio Mishima tentang Kuil Kencana. Yukio Mishima sastrawan hebat, yang mati bunuh diri secara dramatis di tengah keramaian kota karena kekecewaanya akibat jiwa samurai yang telah mampus dari jepang kontemporer.

Padahal aku punya latar pengalaman mengalami suasana kuil-kuil di Yokohama , Kyoto , Osaka , dengan taman-taman yang asri. Termasuk air segar dalam wadah-wadah kayu atau batu untuk kita hirup dan sesap dalam tubuh dikuil-kuil itu, termasuk menarik sejumput kertas, menuliskan pesan, dan menggantungkannya di ranting-ranting pohon tentang sebuah permohonan……

Genta raksasa, patung budha, dewa-dewa, langit-langit keemasan, lukisan-lukisan, pendeta budha atau zen gundul yang lalu lalang atau sedang menyapu dedaunan yang gugur, putih salju di atap-atap kuil, senandung dan puja-puji doa yang rampak di tengah keheningan perbukitan dan pepohonan raksasa,……………….

Oho barangkali juga karena aku pernah merasakan Jepang maka ada semacam hubungan yang khusus dengan karya-karya sastra dari pujangga negeri sakura ini.

Suasana hening, moksa, khusuk, takzim ternyata lebih kudapatkan di Jepang sana daripada di Bali . Dan Zen masih saja menggoda dengan kesederhanaannya, misterinya dan pesonanya………

silahkan tengok Puisi-puisi Spiritual

Kembara 2 ada disini

Euforia Obama

Barack Obama bukanlah harapan bagi Perdamaian di Dunia?

punya harapan? tentu ya, harus dan selalu.

tapi tidakkah lebih baik menaruh harapan pada perubahan yang bisa dilakukan orang-orang yang tertindas dan terpinggirkan, orang-orang yang yakin dapat merubah nasibnya sendiri, bukan oleh seorang bernama obama sehebat apapun dia.

alternatif? walau dianggap sudah usang, di alam kubur, sosialisme masih tetap sebagai alternatif. sosialisme bukan sebagai dogma, pusaka tapi sosialisme sebagai 'on going process'. seperti berbagai varian yang sekarang berkembang di amerika latin.

tentang obama, masih ditunggu apakah pemerintahnya tetap membiarkan jor-joran jual senjata ke israel (senjata adalah komoditi yang laris manis untuk akumulai kekayaan). senjata adalah cerita tentang pelanggengan kekerasan dan bercokolnya kapitalisme. dan juga seperti ajaran lama persoalan ketidakadilan dunia bersifat sistemik, struktural. berharap obama membuat perubahan mendasar tanpa memberi gambar tegas tentang jerat sistim dan struktural, penjara sistem dan struktural kapitalisme? ditingkat praktis penjara yang bernama lobi-lobi jahat di dunia politik dan ekonomi amerika.

kebajikan pasar bebas adalah nilai, paham yang dipeluk erat dan sangat dipercaya oleh obama.(baca Mengapa Obama setuju Bailout dan Pemerintah Amerika : Sang Kaisar Telanjang)

Lalu soal gaza? larut dalam urusan palestina-israel-amerika?

kurasa tidak, persoalan negeri ini tetap prioritas. apakah ada soal yang akarnya atau paling tidak terbebas (steril) dari imperialisme dan kapitalisme AS?

tidakkah kemenangan kiri di amerika latin adalah juga karena kemampuan gerakan politik disana mengangkat borok imperialisme dan kapitalisme AS di negaranya dan tentunya juga borok negerinya....

bagiku biarlah ada suara-suara yang berharap perubahan dari seorang obama, biarkan pula orang tidak berharap padanya.....

yang terakhir bagiku belajar lebih banyak dari sejarah...............

pilihan-pilihan yang ada bisa jadi sama melelahkan.......

Selasa, 10 Maret 2009

Maestro Piano Cilik - Konser Musik Piano Anak Kontemporer



foto diatas bukan diambil saat konser musik anak di Salihara, tapi foto salah satu keponakanku.....


Konser Musik Piano Anak Kontemporer - Konservatorium Musik Jakarta.


Konser di Teater Salihara pada 23 Januari 2009 ini menampilkan karya-karya musik piano untuk anak yang ditulis oleh sejumlah komponis kontemporer terkemuka dunia seperti Sofia Gubaidulina, Gyorgy Kurtag, Helmut Lachenmann, Witold Lutoslawski, Toru Takemitsu, dan Anton von Webern.


Aku dan Sandra (istriku) tak bisa menjawab dengan gamblang dan yakin pertanyaan Sonia, apa arti musik piano kontemporer.

Lalu ketika aku tanyakan Dito kakaknya kesannya setelah acara usai, jawabnya pendek saja ‘pusing’. Aku tidak puas mendengar jawabnya dan kemudian jadi tendensius. “Tapi suka atau ndak?”, Suka sih katanya, sementara Sonia mulai malas mendiskusikannya. Dia sudah ngantuk.

Dalam pencarianku, untuk sementara waktu salah satu penanda kontemporer adalah bikin pusing. Barangkali Dito yang dididik piano klasik pusing dibenturkan dengan ketidaklaziman dan ketidakharmonian, dugaku.

Karena sonia mengusik dengan pertanyaan arti kontemporer sebelum acara dimulai maka sepanjang pagelaran, pertanyaan itu mencoba mencari jawabnya di kepalaku. Memang tak ada jawaban final, yang kutemukan hanya sejumlah penanda.

Salah satu penampilan yang paling mengesankan adalah penampil yang kulihat sungguh-sungguh menari saat memainkan musiknya. Seorang perempuan cilik, manis, lugu yang memainkan musiknya dengan partitur. Dari 31 penampil antara usia 8 hingga 18 tahun hanya 4 yang menggunakan partitur.

Pada penampil lainnya aku mendapat kesan tarian, gerak kepala, tubuh, hanyalah sekunder, instrumental. Tetapi untuk penampil berbaju merah ini aku menilai bermusiknya dan menarinya saling memiliki otonomi. Ini adalah penampilan musik dan tari sekaligus.

Seusai acara Sandra bilang bahwa acara ini diakhiri dengan anti klimaks, sambil mengusik kenapa pula untuk lagu semacam itu penampil perlu menggunakan partitur. Lagu yang terakhir memang sangat tidak lazim, hanya 3-4 tuts saja yang dimainkan, dan pada akhirnya terkonsentrasi pada satu tuts saja. Sekilas pandang, wajar pertanyaan apa perlunya menggunakan partitur. Aku bilang, walau nampaknya sederhana tapi aku pikir karena bertumpu pada satu nada (tuts) inilah, kekuatannya kemudian ada pada permainan tempo, dan alun keras-lembut. Karena itulah barangkali partitur digunakan untuk menjaga presisi tempo dan tekanan.

Bagiku ini bukan anti klimaks walau juga bukan klimaksnya.

…………….

Ada kebiasaanku untuk mencari yang tidak biasa atau tidak lazim, sesuatu yang berbeda dari keumuman. Ini yang pertama kali menjadi salah satu alasan kenapa aku sangat menikmati acara ini.

Tetapi bukan sekedar mencari yang berbeda dan tidak umum (terutama dalam konteks pengalamanku sendiri), aku suka juga suka dengan keragaman bunyi, nada-nada minor, perbenturan nada-nada, eksplorasi bunyi, harmoni dalam ‘ketidakharmonian’, artinya keluar dari sekat-sekat, pakem-pakem.

Aku sempat tertegun dengan satu penampil yang mengeksplorasi (atau eksploitasi) pedal dengan luar biasa. Aku menangkap kekuatan utama tampilan ini ada pada gaung dari tekanan tuts tuts nada yang dimainkan. Pada efek pedalnya, hasilkan efek bunyi seperti orgen listrik.

Saat kemarin itu aku sempat merenung-renung, tersadarkan dan timbul hormat yang dalam pada alat musik yang bernama piano ini. Kenapa piano terdiri dari 52 tuts putih dan 36 tut hitam (jumlah baru kemudian kuhitung dirumah). Ternyata dimulai dari nada la dan diakhiri dengan do. Kenapa dimulai dari la ya?. Kemudian kenapa ada lengkungan yang khas di grand piano. Lebih jauh lagi siapa pula yang menemukan nada atau notasi doremi iwak kebo, mifasol iwak tongkol……

Aku dengan bercanda sempat bisik-bisik ke Sandra, walau pun menurutku ada benarnya juga untuk beberapa lagu. Kalo mereka salah-salah pencet tuts (main), kita juga kagak tahu.

Demikian pula aku berpandangan tidak bisa menilai mana yang paling bagus diantara semua itu, menurutku semua sama bagusnya. Kemampuan ber pianonya prima, semua lagu relative. Mungkin yang bisa adalah soal mana yang paling disukai. Ini kusampaikan saat Sandra dan anak-anak mendiskusikan mana penampil yang paling bagus.

………………………

Pada satu momen dalam pagelaran, menyentil-nyentil petikan pidato Gunawan Muhamad pada saat pembukaan komunitas salihara, yang kubaca saat menunggu acara dimulai. ‘tiap kali ada yang berbeda’ ‘seni bukan sekedar berindah-indah, nonsens’ ‘seni adalah kebebasan’.

Aku menikmati, sebagai eksplorasi yang hebat terhadap nada dan instrument yang bernama piano, penjelajahan, petualangan, kebebasan imajinasi dan kreatifitas, keindahan. Tapi anehnya sama sekali tidak menghadirkan asosiasi dengan apapun. Alam, manusia, interaksi dan relasi-relasi, perasaan-perasaan…. Kecuali satu saja aku mengasosiasikan bunyi yang muncul dengan derap kereta api. Ini soal keindahan dan permainan bunyi, dan kebebasan ekspresi tanpa batas.

Mungkin harus dikatakan ini soal melangit bukan membumi.

Eksplorasi, penjelajahan, petualangan, kebebasan imajinasi dan kreatifitas, keindahan.

Segera pula aku terhubung dengan buku kota-kota imajiner (Italo Calvino), mimpi-mimpi Einstein (Alan Lightman) dan the last window giraffz (Peter Zilahy).

Yang pertama tentang keajiban 55 kota-kota imajiner, yang kedua tentang keajaiban mimpi-mimpi, dan waktu-waktu imajiner dan terakhir novel-kamus, novel yang diceritakan secara alpabetis. Diawali dengan Ablak (jendela) dan diakhiri dengan Zsiraf (jerapah).

silah tengok laporan dari kompas tv Musik Piano Anak Kontemporer

baca juga laporan koran tempo Mantra Pianis Cilik

Aku dan Putriku Sonia

Lawan Penjajahan Baru (Foto)





keramaian di sekitar istana

Minggu, 08 Maret 2009

Perempuan dalam Parlemen: Tak Sekedar Soal Kuota

Kabar Pemilu IV dari TAPOL

Pemilihan umum di Indonesia saat ini sering dianggap sebagai ‘pesta demokrasi’ yang sebenarnya, peristiwa yang perlu dirayakan setelah tiga puluh tahun lebih selama masa kediktatoran pemilu dimanipulasi dan hasilnya selalu dapat ditebak. Pemilu 2009 sudah dekat dan hiruk pikuknya pun semakin terasa, dan pertanyaan yang muncul di benak banyak orang adalah: Akankah perempuan memenangkan lebih banyak kursi di dewan perwakilan dibandingkan dengan dua pemilu sebelumnya setelah jatuhnya Suharto?

selanjutnya


baca pula posting lainnya di lentera

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Bening (Karya Asli Sketsa Sonia Devina Andaningtyas)


Api Amarah (Suara Petani-Rahmat Jabaril)







Karya fotografi ini adalah hasil pemotretan (dan manipulasi dengan software Nero PhotoSnap) karya lukis Rahmat Jabaril (Suara Petani). Bulatan cahaya di tengah gambar adalah pantulan pencahayaan pada saat pemotretan. Efek yang tidak disengaja ini menghadirkan lingkaran putih yang mengesankan matahari pada puncak silaunya (jam 12.00). Maka Suara Petani memuncak menjadi API AMARAH.
Cicak-Cicak Bersatulah!







Sajak Perlawanan Kaum Cicak


karya Tulus Wijanarko

Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati

Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling

Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal

Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang

Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot

Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri

Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara

karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti

kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!

28/09








Negeri Para Bedebah

karya Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan





______

CICAK NGUNTAL BOYO
BY CHEBOLANG*

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

INI CERITA NEGERI BEDEBAH
PEMIMPINYA HIDUP MEWAH
TAPI RAKYATNYA MAKAN SUSAH
HASIL DARI MENGAIS SAMPAH

DI NEGERI PARA BEDEBAH
YANG BAIK DAN BERSIH BISA SALAH
KEBOHONGAN ITU LUMRAH
RAKYAT KECIL HANYA BISA PASRAH

BUBRAH! PARAH!
BUBRAH! PARAH! BUBRAH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

RAKYAT MENCARI PIMPINAN
KETEMUNYA JURAGAN
RAKYAT MENCARI IMAM, YA IMAM
KETEMUNYA TUAN

MAKA JANGAN-LAH JANGAN HERAN
JIKA ADA MAFIA DI PERADILAN
JUAL BELI PASAL DAN HUKUMAN
YANG KUAT BAYAR PASTI MENANG

KATANYA JAMAN SUDAH REFORMASI
TAPI HUKUM MASIH BISA DIBELI
JADI BARANG DAGANGAN, OBYEK KORUPSI
NGGAK PUNYA MALU DAN HARGA DIRI

KALIAN KIRA SELAMANYA RAKYAT KITA BODOH
JIKA RAKYAT MARAH TIRANI PASTI AKAN ROBOH!

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO

BIBIT ITU TUNAS
CANDRA ITU SINAR
YANG MENJADI SIMBOL
TEGAKNYA KEADILAN

LANGKAH KECIL TELAH DIMULAI
DARI BAYI BERNAMA DEMOKRASI
KEADILAN TAK BISA DITAWAR LAGI
KEPASTIAN HUKUM ADALAH HARGA MATI

MUNGKIN KITA CAPEK REVOLUSI
MUNGKIN KITA BOSAN DEMONSTRASI
TAPI JANGAN PERNAH BERHENTI
PALING TIDAK TUNJUKAN RASA PEDULI
UNTUK INDONESIA YANG KITA CINTAI

ANA CICAK NGUNTAL BOYO
BOYO COKLAT NYEKEL GODO
OJO SENENG NGUNTAL NEGORO
MUNDAK RAKYATMU DADI SENGSORO


LINK DOWNLOAD
http://www.mediafire.com/file/y2yz5yowm3z/CICAK NGUNTAL BOYO (FINAL RELEASE).mp3

atau bisa juga di MyBand Aplication di facebook yang bersangkutan
http://www.facebook.com/chebolang?v=app_2405167945&ref=profile







serial foto selengkapnya

KAMI ADA! KAMI TIDAK TAKUT! INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! MASSA AKSI INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! ANAK INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, KAMI ADA! LINTAS WARGA INDONESIA SEHAT LAWAN KORUPSI!, RAKYAT PEKERJA LAWAN KORUPSI