sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Selasa, 31 Maret 2009

Krisis Ekonomi dan Money Politics : Awasi Program Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiskal Untuk Antisipasi Krisis!!

Awasi Money Politics Pogram Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiskal Antisipasi Krisis untuk Kepentingan Pemilu 2009

Dalam satu pernyataan persnya INFID mendesak kepada BAWASLU RI untuk secara serius mengantisipasi potensi pelanggaran Pemilu 2009 dalam pelaksanaan dan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan dan pengalokasian stimulus fiskal untuk antisipasi krisis, serta dana pendidikan yang langsung berkaitan dengan masyarakat tingkat dusun dan Rukun Warga (RW).

INFID menekankan bahwa hal yang juga bisa dikategorikan menjadi potensi pelanggaran Pemilu adalah keberadaan 10 menteri yang partisan, yang memimpin kementerian dan departemen-departemen teknis yang mendapat alokasi anggaran langsung untuk menjalankan program penanggulangan kemiskinan. Siapakah Menteri-menteri itu?

Selengkapnya

Statement INFID Tentang Potensi Pelanggaran Pemilu dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan dan Stimulus Fiscal Antisipasi Krisis Financial

Di ambang pintu menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 (baik Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Presiden), masalah seputar kemiskinan adalah masalah yang paling laku dijual, baik untuk bahan hujatan maupun klaim keberhasilan. Berdasarkan tracking yang dilakukan oleh INFID, seluruh partai politik peserta Pemilu 2009 dan calon-calon presiden yang mulai bernafsu untuk berkompetisi dalam Pilpres 2009 juga mengedepankan masalah kemiskinan sebagai kampanye utama untuk meraih dukungan publik. Tentu saja, hal ini sah untuk dilakukan sepanjang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Yang menjadi persoalan dan sangat berpotensi untuk menjadi ajang “money politics” adalah penyelenggaraan program pemerintah yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan dan penyediaan stimulus fiskal untuk antisipasi krisis finansial. Dana yang digelontorkan Pemerintah untuk stimulus fiskal tahun ini mencapai Rp 71,3 triliun. Menurut rencana, dana ini akan digunakan untuk penghematan pembayaran pajak, tambahan belanja infrastruktur dan termasuk juga untuk penambahan dana PNPM sebesar Rp 0,6 triliun.

Untuk diketahui sejak tahun 2007, Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri (PNPM-Mandiri) sebagai kelanjutan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Untuk tahun 2009 saja, pemerintah berencana meningkatkan dana PNPM menjadi Rp 16 triliun dari sebelumnya Rp 13,8 triliun di tahun 2008. Program yang dibiayai dari utang luar negeri dimaksudkan sebagai upaya penanggulangan kemiskinan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput. Namun, menurut kajian INFID, ternyata program ini tidak terlalu signifikan untuk mengurangi angka kemiskinan. Walau telah bertrilyun-trilyun rupiah diguyurkan namun penurunan angka kemiskinan tidak sebanding dengan biaya besar yang telah dikeluarkan.

Hal ini terjadi karena, pembiayaan program ini ternyata lebih banyak dinikmati oleh aparat birokrasi, fasilitator dan pelaksana program ini ketimbang masyarakat miskin. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau ada penolakan dari beberapa pemerintah kabupaten/kota untuk menjalankan program ini karena juga ditengarai sebagai pembiayaan kampanye politik menjelang Pemilu 2009. Tujuh kabupaten meliputi Kabupaten Muaro, Tanjung Jabung Timur, Malinau, Bulungan, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan dan Sula menyatakan enggan menyediakan Dana Daerah untuk Program Bersama (DDUPB) bagi PNPM Mandiri 2008. Termasuk 10 Kepala Daerah Kabupaten dan Kota yaitu Semarang, Surabaya, Ambon, Mojokerto, Deli Serdang, Medan, Tegal, Sidoarjo, Rokan Hilir dan Kabupaten Seula malah menyatakan menolak dan tidak menyediakan DDUPB bagi PNPM Mandiri 2008.

Kenyataan tersebut harus segera diwaspadai dan menjadi peringatan adanya potensi terjadinya pemboncengan agenda politik menjelang Pemilu 2009 dalam program-program yang mengatasnamakan penanggulangan kemiskinan. Dan ini adalah juga potensi terjadinya pelanggaran pidana Pemilu 2009.

Hal yang juga bisa dikategorikan menjadi potensi pelanggaran Pemilu adalah keberadaan para menteri yang partisan, yang memimpin kementerian dan departemen-departemen teknis yang mendapat alokasi anggaran langsung untuk menjalankan program penanggulangan kemiskinan.

Menteri-menteri partisan tersebut antara lain:
1. Aburizal Bakrie (Menko Kesra): Merupakan Penanggung Jawab/Koordinator Utama PNPM-M. Aburizal Bakrie berasal dari Partai Golkar.
2. Anton Apriantono (Menteri Pertanian): Departemen Pertanian merupakan penanggungjawab pelaksanaan program PNPM di sektor pertanian. Anton Apriantono berasal dari Partai Keadilan Sejahtera.
3. Bachtiar Chamsyah (Menteri Sosial). Departemen Sosial mengelola dana-dana bantuan sosial dan juga dana bantuan untuk bencana alam. Bachtiar Chamsyah berasal dari Partai Persatuan Pembangunan.
4. Bambang Sudibyo (Menteri Pendidikan Nasional): Merupakan Menteri yang menerima dan mengelola anggaran paling besar dari APBN 2009 (20%) untuk Pendidikan. Bambang Sudibyo berasal dari Partai Amanat Nasional. Departemen Pendidikan juga menjalankan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dibiayai utang luar negeri (Bank Dunia) sebesar US$ 127,740,000 termasuk untuk pengadaan gedung dan materi PAUD, honorarium kader-kader PAUD yang potensial menjadi laskar kampanye partai politik dan calon Presiden tertentu.
5. Erman Suparno (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi): Merupakan Menteri yang mengelola dana stimulus fiscal untuk antisipasi PHK dan deportasi buruh migran. Erman Soeparno berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa.
6. Fredy Numberi (Menteri Kelautan dan Perikanan): Merupakan Menteri yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program PNPM di sektor pesisir dan kelautan. Fredy Numberi berasal dari Partai Demokrat.
7. Lukman Edi (Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal) adalah Menteri yang bertanggungjawab mengelola dana untuk penanggulangan kemiskinan di daerah tertinggal. Lukman Edi berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa.
8. Meuthia Hatta Swasono (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk program pemberdayaan perempuan dalam PNPM. Meuthia Hatta Swasono berasal dari Partai Kebangsaan dan Persatuan Indonesia.
9. Suryadharma Ali (Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk program pemberdayaan koperasi dan UKM dalam PNPM. Suryadharma Ali berasal dari Partai Persatuan Pembangunan.
10. Yusuf Asy’ari (Menteri Negara Perumahan Rakyat) adalah Menteri yang bertanggungjawab untuk rehabilitasi perumahan untuk rakyat miskin dan program rumah susun untuk rakyat miskin. Yusuf Asy’ari berasal dari Partai Keadilan Sejahtera

Menurut INFID, keberadaan Menteri-menteri partisan yang berada di kementerian dan departemen yang strategis dalam meraih dukungan dari publik karena program-program penanggulangan kemiskinan harus benar-benar diawasi. Harus dipastikan pula bahwa Menteri-menteri beserta Presiden dan Wakil Presiden, yang saat ini menjabat, tidak menggunakan anggaran negara untuk kunjungan-kunjungan atau konsolidasi partainya dalam rangka kampanye. Selain itu, harus dipastikan bahwa Menteri-menteri beserta Presiden dan Wakil Presiden, yang saat ini menjabat, menjalankan programnya secara adil, tidak partisan dan tidak diskriminatif.

Untuk hal tersebut INFID mendesak kepada BAWASLU RI untuk secara serius mengantisipasi potensi pelanggaran Pemilu 2009 dalam pelaksanaan dan pengelolaan program penanggulangan kemiskinan dan pengalokasian stimulus fiskal untuk antisipasi krisis, serta dana pendidikan yang langsung berkaitan dengan masyarakat tingkat dusun dan Rukun Warga (RW).


Jakarta, 6 Februari 2009


Don K Marut
Direktur Eksekutif

=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia






## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================

Pemilu 2009 : Pandangan Politik Berbagai Organisasi Gerakan Sosial (Ormas)

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union

Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (5-KASBI)

KONGRES ALIANSI SERIKAT BURUH INDONESIA (KASBI)
LEMBAGA BANTUAN HUKUM JAKARTA (LBH JAKARTA)



PEMILU 2009 BUKAN PEMILU RAKYAT

GOLPUT = GERAKAN PERLAWANAN POLITIK RAKYAT !

Golput pada pemilu 2009 menjadi ancaman bagi elit politik! Bayangan ketakutan yang merebak dihampir semua partai politik besar di Indonesia terhadap GOLPUT pada pemilu 2009 nanti. Statemen para petinggi partai dan aparat pemerintah seperti dilansir berbagai media menunjukkan ketertakutan itu. Misalnya saja Megawati menyatakan orang golput tidak boleh jadi warga negara Indonesia. Juga, Ketua KPU Abdul Hafiz: ‘Golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik’ (Detik.com, 17/7/08). Terlihat, para pejabat panik dengat fenomena golput. Mestinya, mereka sadar bahwa kepercayaan rakyat pada proses demokrasi prosedural tersebut terus turun.

Ketua MPR dari PKS Hidayat Nurwahid: ‘Golput akan menjadi sangat kontraproduktif. Sebab, Pemilu menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar’ (Detik.com, 24/7/08). yang menjadi pertimbangan para elit politik adalah anggaran untuk pemilu yang besar, anggaran tersebut lebih besar dari pada untuk membiayai gizi buruk yang menimpa anak-anak balita di seantero republik ini, anggaran tersebut bukannya untuk membantu rakyat miskin mengurangi beban hidupnya. Akan tetapi akan dihamburkan diantara mereka partai politik untuk pamer jargon dan adu mencari simpati rakyat.

Kenapa mereka sangat takut terhadap ancaman golput pada pemilu 2009 nanti, lihatlah hasil pemenang pemilu 2004 dimana golput adalah pemenangnya. Jumlah pendukung golput 34.509.246, terdiri dari pemilih terdaftar yang tidak datang ke TPS 23.551.321, ditambah suara tidak sah 10.957.925. Persentasenya 23,34 persen terhadap total pemilih terdaftar. Jumlah ini lebih besar dari perolehan parpol pemenang pemilu, seperti Partai Golkar 4.480.757 (16,54 persen), PDI-P 21.026.629 (14,21 persen), dan PKB 11.989.564 (8,10 persen). Jumlah pemilih terdaftar untuk pemilu legislatif 5 Juli 2004 adalah 148.000.369, sesuai keputusan KPU No 23/2004. Menurut perhitungan manual yang dilakukan KPU 23 April-4 Mei 2004, jumlah pemilih yang menggunakan haknya 124.449.038 (83 persen), suara yang sah 113.498.755, dan suara tidak sah 10.957.925 (8,81 persen). Golput adalah bentuk nyata dari perlawanan rakyat terhadap model demokrasi yang hanya dikuasai oleh segelintir partai politik, dan golput akan menjadi satu kekuatan rakyat indonesia terhadap mesin politik busuk kaum pemilik modal dan antek kapitalis. Karena rakyat indonesia melihat bahwa pemilu 2009 adalah bukan pemilu rakyat maka golput adalah jawaban dari bentuk perlawanan rakyat indonesia terhadap rezim yang mengaku demokratis dan dihasilkan dari pemilu yang anti rakyat.

Dari tiga kali pemilu setelah tergulingnya rezim otoriter militer suharto. Partai politik menjadi penerus dari kesinambungan agenda neoliberalisme di Indonesia. Mereka elit politik baik eksekutif dan legislatif seperti berlomba menunjukan pada tuannya kapitalis bahwa merekalah antek yang paling hebat, sehingga dengan mudahnya akan mampu mengelabui rakyat Indonesia agar tidak tahu bahwa bangsa ini sedang dijerumuskan kedalam jurang penjajahan bentuk baru. Terbongkarnya anggota DPR yang korup, aparat JAKSA yang menjadi sutradara kasus suap, pemerintah yang menjadi kepanjangan tangan dari para pemilik modal dan terus menggerogoti agar semua aset milik bangsa ini dijual dan menjadi milik swasta. Betapa makin sengsaranya kaum buruh dengan lahirnya kebijakan tentang sistem kerja kontrak dan outsourcing dan dibarengi dengan kebijakan upah murah.

Bagi Kaum Buruh Indonesia, Setidaknya Sikap Golput menemukan momentumnya pada pemilu 2009 nanti ketika pada saat itulah puncak kekecewaan dan kemarahan tertumpah karena semua rezim yang lahir pasca runtuhnya Orde Baru ternyata tidak memberikan jawaban yang lebih baik atas terpuruknya kondisi bangsa. Sistem Kerja Kontrak, Outsourcing, Politik Upah Murah, PHK massal, Undang-undang perburuhan yang lebih tunduk pada pesanan kapitalisme Global bernama IMF, Word Bank dan rentenir internasional lainnya seakan menjadi alasan yang sangat tepat bagi buruh untuk untuk menyatakan bahwa PEMILU 2009 bukan pemilu Rakyat, bukan solusi atas problem rakyat dan hanya merupakan konsolidasi politik kaum borjuasi, elit politik penipu rakyat, maka sikap GOLPUT dalam pemilu 2009 adalah pilihan yang tepat.

Tetapi sebuah pertanyaan kemudian muncul beriringan dengan lahirnya sikap tersebut, Benarkah Golput akan menjadi efektif ketika tidak dilakukan secara terorganisir ? Atau justru munculnya yang gugatan dari banyak pihak yang menuduh Golput sebagai sikap yang tidak bertanggungjawab. Sebagaimana dinyatakan dalam Resolusi Kongres II KASBI di Malang Jawa Timur Januari 2008 silam tentang Sikap KASBI pada pemilu 2009 : Bahwa pemilu 2009 adalah bukan pemilu rakyat karena dari partai politik yang ada adalah partai borjuis atau para pemilik modal, maka rakyat hanya akan dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan oleh pemilik modal. Maka tidak ada KONTRAK POLITIK dan calo / Broker Politik dalam Organisasi Massa serta mengajak gerakan rakyat lainnya untuk membangun front Politik Organisasi Rakyat dalam mengusung Calon Independen yang lahir dari gerakan rakyat dan mengusung program Anti Neoliberalisme. Maka, Sikap Golput teroraginisr sebagai awal membangun kekuatan dan proses de-legitimasi terhadap proses pemilu 2009 menjadi sangat strategis.

Atas hal tersebut diatas, maka KASBI dan LBH Jakarta menyatakan sikap tegas sebagai berikut :

1. Bahwa Pemilu 2009 bukan pemilu Rakyat, maka kami menolak segala tahapan pemilu 2009 dan menyatakan bahwa pada pemilu 2009 kami akan menjadi GOLPUT.

2. Bahwa GOLPUT adalah sikap politik adalah bentuk perlawanan kami terhadap rezim hasil pemilu yang nyata2 menindas rakyat perlawanan terhadap pemilu 2009 yang hanya akan melahirkan pemerintahan yang pro modal.

3. Mengajak seluruh elemen rakyat, Buruh dan Serikat Buruh dan kekuatan pro demokrasi lainnya untuk membangun front politik dan menyatakan perlawanan melalui GOLPUT yang terorganisir sebagai bentuk perlawanan politik rakyat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan sebagai upaya seruan membangun persatuan rakyat untuk melakukan perlawanan politik kepada kekuatan penindas rakyat yang hari ini ada di pemerintahan dan perlemaen.

Hidup Rakyat Tertindas !!!

Jakarta, 29 Juli 2009

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)
Lembaga bantuan Hukum (LBH Jakarta)


KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia)
Congress of Indonesia Unions Alliance
Jl.Gading IX/12, RT 11/10, Pisangan Timur, Jakarta 13230, Indonesia
(dekat Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun)
Telp/Fax: +6221 4788 1632
Mobile: +62 8131 7331 801 or +62 8131 6227 294

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union


Serikat Petani Indonesia


Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (4-Serikat Petani Indonesia)

Pandangan Politik Petani 2009: Jalan Rakyat Sebagai Pedoman

http://www.spi.or.id/?p=882

Pendahuluan

Politik Indonesia yang terkontrol dan tersentralisasi ala Soeharto pada zaman orde baru melalui alat negara dan alat pemerintahannya sudah kita lewati. Secara konseptual seharusnya proses perubahan demokrasi politik yang terjadi menuju pada perbaikan kesejahteraan dan kedaulatan politik rakyat. Sandaran ideologis kebijakan itu sangat jelas yakni Pancasila dan UUD 1945 yaitu mewujudkan sistem politik yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mampu memajukan kesejahteraan umum, sanggup mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sanggup untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Namun harapan dan proses yang kita jalani sekarang ini sebagai era reformasi, melalui ide-ide transisi dan konsolidasi demokrasi justru diisi dengan pelembagaan demokrasi prosedural yang elitis. Sumbatan-sumbatan demokrasi memang sudah terbuka, tetapi tidak memberikan manfaat bagi rakyat. Kondisi demokrasi yang terjadi isinya adalah pembukaan, pengamanan dan kelanjutan bagi akumulasi, ekpansi dan ekploitasi seluas-seluasnya oleh elite politik nasional dan kekuatan Transnasional Nasional korporasi.

Sistem Politik Saat Ini

Ada beberapa catatan yang terjadi dalam sistem politik Indonesia, sejak era reformasi sampai sekarang ini yakni;

Pertama, Desentralisasi melalui otonomi daerah tidak melahirkan distribusi kekuasaan ekonomi politik sebagai bagian dari ide kebhineka-an. Sebab yang muncul adalah pemindahan dari pusat kepada elite-elite daerah. Sementara, ide dan praktek kesejahteraan rakyat menjadi asing. Bahkan hingga sekarang alokasi anggaran dari nasional ke daerah masih menjadi sumber utama dan tidak berkolerasi langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh, kuasa pemerintahan nasional menjadi mandul. Antara Presiden dengan gubernur, gubernur dengan Bupati/walikota dan sebaliknya tidak mempunyai rantai “komando” pemerintahan yang kuat. Yang muncul adalah nasionalisme palsu untuk mengeruk kekayaan alam di daerah untuk kepetingan elite daerah sendiri atau kolaborasi antara kekuatan modal nasional/internasional dengan elit – elit politik daerah dan nasional.

Kedua, Ketidak konsistenan didalam struktur konstitusi dan perundangan. Pendekatannya adalah kompromi modal dan pembagian kekuasaan. UUD 1945 di amandemen, dimana ide negara “gotong royong” menuju kesejahteraan rakyat yang termaktub dalam pasal 24 dan 33, UUD 1945 dikangkangi dengan model ekonomi pasar serta tidak dijalankannya UUPA 1960. Sebagai contoh nyata adalah beberapa kebijakan pemerintah yang dikeluarkan dari kurun waktu 1998-2007 melalui serangkaian peraturan perundangan yang berkaitan dengan sumber-sumber agraria, perburuhan, privatisasi, pencabutan subsidi, energi, bahan bakar nabati, impor benih, impor beras dan penanaman modal. UU maupun regulasi tersebut adalah UU Kehutanan (1999), UU Migas (2001), UU Perkebunan (2004) yang menggusur petani, UU Sumber Daya Air (2004) yang membuka peluang privatisasi air, Perpres No. 36 (2005), Perpres No. 65 (2006) hingga yang terbaru adalah UU Penanaman Modal (2007) yang isinya total mengejawantahkan prinsip-prinsip neokolonialisme-imperialisme.

Ketiga, Terjadinya Pemisahan dan pembagian kekuasaan yang mengarah pada fragmentasi kekuasaan ke dalam institusi-institusi politik baru yang bersifat ad-hoc. Dimana peran dan fungsi lembaga-lembaga negara yang permanen tergeser. Sehingga pada gilirannya mengakibatkan ketidakharmonisan antar lembaga, hal ini dapat mencerminkan bahwa sistem politik dan desain ketatanegaraan kita tidak kuat.
Pemilu dan perubahan sejati melalui jalan rakyat
Pada tahun 2009, demokrasi politik euforia yang liberal mencapai puncaknya. semua elemen bangsa memandang bahwa perubahan akan tercapai melalui pemilu dan partai politik adalah satu-satunya bentuk organisasi yang mampu merubah bangsa. Hipnotis politik pasar secara bebas dengan mengandalkan kekuatan modal begitu mendalam.
Partai politik dan pemilu telah mengambil ruang publik dua tahun terakhir ini. Hal ini mengarah kepada aktivitas politik yang tinggi, dimana sistem multi partai telah melibatkan berbagai kalangan dalam ajang perebutan kekuasaan serta bagaimana “mengamankan” posisi kekuasaannya semata. Pemilihan legsilatif secara langsung dengan suara terbanyak menyebabkan polarisasi politik ditingkat rakyat semakin terpencar. Inisiatif pilihan politik rakyat kali ini tidak mencerminkan atas pilihan ideologi politik atau program tertentu, namun lebih mengarah kepada primordialisme dalam arti lebih luas seperti karena keluarga, tetangga, persaudaraan, suku, agama dan politik uang. Bahkan aktor politik juga semakin terpolarisasi didalam partainnya sendiri. Agenda partai tidak berjalan, kemudian yang muncul adalah individu politik atas partai politik. Juga munculnya individu “badut” politik baru dengan wajah dan cara baru namun isinya sama

Atas keadaan itu, rakyat telah belajar banyak, melalui pengalaman praktek politik sejak reformasi 10 tahun lalu sampai sekarang ini. Pesta demokrasi prosedural ini hanya menguntungkan elite yang mempunyai akses ekonomi dan politik saja dan bukan sebagai hajat rakyat. Individu-individu yang terlibat akan hanyut dalam budaya dan birokrasi politik elite. Kalaupun ada perlawanan sifatnya hanya kasus, minoritas. Keadilan itu tak pernah terjadi, kejadian hari-hari rakyat sama saja siapapun pemimpinnya. Petani tidak berkecukupan tanah, konflik agraria terus terjadi, buruh menghadapi ketidak pastian dalam pekerjaan dan ancaman pemutusan hubungan kerja, pelajar dan mahasiswa terus menghadapi biaya sekolah yang tinggi dengan privatisasi dunia pendidikan, nelayan semakin berkurang hasil tangkapannya, karena wilayah tangkapan mereka yang sudah dikuasai dan terus diekploitasi oleh kapal-kapal milik pengusaha besar. Sehingga mengakibatkan terjadinya sikap apatis yang diikuti dengan kemuakan rakyat terhadap sistem politik dan ekonomi yang ada. Di beberapa pemilihan kepala daerah dan Pemilu sebelumnya, dimana angka rakyat yang tidak menggunakan hak konstitusinya masih cukup besar.

Kita tak bisa diam begitu saja membiarkan proses politik berjalan tanpa keterlibatan gerakan rakyat. Oleh karena itu dibutuhkan suatu jalan rakyat untuk segera bangkit melawan. Dengan memperteguh bahwa perubahan yang sejati, adanya dijalan rakyat melalui ; pertama, harus dibangunnya sebuah organisasi kesatuan rakyat secara nasional, yang dicirikan dengan struktur yang jelas, adanya arah dan panduan kerja konkrit serta dinamis dalam bergerak, terpimpin, cita-cita yang disertai program dan capaian-capaian yang terukur jelas, adanya penghargaan dan sanksi tegas, serta membangkitkan kembali ikatan kelas, budaya dan sosial kaum tani dengan berbagai aktivitas kebudayaan. Membangun mekanisme dari bawah, atas kebutuhan kaum tani, yang radikal, militan dan massif. Kedua, diperlukan suatu kerja-kerja penggalangan sekutu dan persatuan gerakan rakyat yang kuat baik di nasional maupun Internasional.
Sebagai organisasi massa perjuangan kaum tani, Serikat Petani Indonesia (SPI) harus melakukan kerja-kerja politik yang sesuai dengan agenda-agenda perjuangan dan tujuan organisasi yaitu ;

1.
Kami petani Indonesia, menolak sistem politik dan pemilu Indonesia yang meminggirkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri. Sistem politik Indonesia yang berwujud dalam praktek demokrasi liberal hanya menguntungkan segelintir pihak yang berkuasa dan pemilik modal
2.
Kami petani Indonesia menyatakan, bahwa pemilu dan partai politik dalam sistem politik sekarang, tidak mencerminkan kedaulatan rakyat dimana para calon legislatif maupun elite politik yang ada semakin terpolarisasi, yang muncul adalah individu politik atas parpol yang saling menjadi predator. Sehingga tidak mencerminkan kerja kolektif partai untuk kemajuan bangsa.
3.
Kami petani Indonesia, menyatakan pada pemilu 2009 akan menggunakan hak konstitusi kami, yaitu Memilih untuk Tidak Memilih calon legislatif dan elit politik yang melakukan praktek politic uang serta tidak berpihak pada petani dan menegakkan kedaulatan politik rakyat. Hal ini kami lakukan sebagai perjuangan untuk mewujudkan sistem politik yang mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mampu memajukan kesejahteraan umum, sanggup mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sanggup untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.
4.
Kami petani Indonesia, menolak cara pandang ekonomi-politik Indonesia yang berkarakter kolonial, ekonomi-politik yang semakin menihilkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri, dengan karakteristik (i) Memposisikan perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi industri negara-negara maju; (ii) Dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai pasar produk industri negara-negara maju—bahkan produk dumping; dan (iii) Dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai tempat untuk memutar kelebihan kapital yang terdapat di negara-negara industrial.
5.
Kami petani Indonesia, akan terus berada di bagian terdepan perjuangan rakyat melawan penjajahan baru atau neokolonialisme-imperialisme. Neokolonialisme-imperialisme ini berwujud dalam kebijakan dan praktek sehari-hari globalisasi-neoliberal yang terus menihilkan kedaulatan rakyat di negeri kami sendiri.
6.
Kami petani Indonesia, akan bersatu dengan gerakan rakyat yang lain untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan terus mengorganisasikan massa aksi untuk melakukan aksi-aksi massa; baik dalam format gerakan sosial maupun gerakan politik.
Demikian pandangan sikap ini kami nyatakan dengan tegas dan sebenar-benarnya, sehingga seluruh jajaran Dewan Pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI) mulai dari tingkat pusat sampai basis serta kaum tani dan rakyat Indonesia dapat memahami dan melaksanakannya.

Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 13 Maret 2009
Ditetapkan oleh Rapat Pleno Dewan Pengurus Pusat (DPP)
Serikat Petani Indonesia (SPI)

simak juga pandangan


Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union


Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (3- INDONESIAN MIGRANTS WORKER UNION )

Pernyataan Sikap

PEMILU 2009 adalah Ilusi bagi Buruh Migran Indonesia!

http://www.imwuinhk.multiply.com

Hentikan underpayment!
Blacklist agen/PJTKI yang melanggar hukum! Pangkas biaya penempatan menjadi HK$ 9000!
Cabut UU PPTKILN! Ratifikasi Konvensi Buruh Migran Tahun 1990!
Bubarkan terminal khusus TKI/GPK TKI!

Mulai dari rejim orde baru hingga rejim penjual kaum perempuan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, tidak ada perubahan yang sejati dalam kehidupan rakyat Indonesia. Terlebih dalam kehidupan buruh migran Indonesia (BMI) dan keluarganya. Nyatanya proses pemilihan umum yang dilaksanakan setiap 5 tahunan tidak dapat menaikan tingkat penghidupan BMI dan keluarganya, jika tidak boleh dikatakan tidak menghasilkan apa-apa selain pergantian penguasa.

Bagi kami, Indonesian Migrant Workers Union (IMWU), buruh migran Indonesia di Hong Kong, pemilu 2009 merupakan pergantian antek-antek dari kaum pengusaha, yang selama ini menghisap nilai kerja kami. Tidak hanya di rejim SBY-JK, namun di rejim-rejim sebelumnya, hak-hak BMI dan keluarganya tetap tidak menjadi prioritas bagi pemerintah. Satunya-satunya yang berubah adalah tingkat penghisapan, dimana setiap berganti rejim penghisapan semakin dalam. Menurut survey yang kami lakukan di Hong Kong, pada zaman orde baru tidak kurang dari 90% BMI menerima upah di bawah standar atau underpaid, bahkan penghisapan atas kerja kami selama 7 bulan upah kami dipotong (HK$ 21.000) sebagai biaya agen, ditambah biaya perpanjangan kontrak sebesar HK$ 5.500 (sesuai SK Dirjen Binapenta pada tahun 1998). Dan, tidak terlewatkan, pembangunan terminal 3 yang merupakan sarang pemerasan bagi BMI. Pada zaman Gus dur dan Megawati, seluruh penghisapan terhadap BMI semakin dikokohkan, dengan dibuatnya UU no 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (PPTKILN). Melalui UU, PJTKI diberi kewenangan yang demikian besar dalam perihal penempatan BMI, bahkan praktek kebal hukum bagi PTJKI pun di akui dalam UU ini. Lebih jauh lagi komiten untuk meratifikasi Konvensi Buruh Migran Tahun 1990 pun ditanggal kan demi kemulusan praktek penjualan manusia ini. Pada rejim SBY-JK, praktek penghisapan semakin di perhebat. Kebijakan ekspor buruh semakin digalakan, ditargetkan bahwa setiap tahunnya pemerintah harus mengirimkan 1 juta orang pertahun ke luar negeri, guna mencapai target devisa sebesar 125 triliyun per tahunnya. Guna memuluskan hal demikian UU PPTKILN pun dirubah untuk mempermudah pendirian Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Artinya mulai tahun ini diprediksi ada 1-2 juta rumah tangga akan terancam keutuhannya, akibat ketiadaan sumber-sumber penghidupan dan pekerjaan didaerahnya.

Di Hong Kong, 120.000 lebih perempuan Indonesia bekerja layaknya romusa, kalau tidak dapat dikatakan sebagai perbudakan. Kebanyakan dari kami bekerja sebagai pekerja rumah tangga bagi kelas menengah dan atas. Kami bekerja lebih dari 16 jam per hari hanya 1 % dari kami yang bekerja selama 8 jam per hari, 64 % dari kami tidak mendapatkan hari libur nasional, baik Hong Kong maupun Indonesia, bahkan 56 % persen dari kami tidak diberikan libur 1 minggu satu kali, 38 % dari kami dibayar dibawah upah minimum (upah minimum HK$ 3580), dan 61 % dari kami upahnya dipotong upahnya sebesar HK$ 3000 selama tujuh bulan, sebagai biaya agen, sementara biaya agen menurut employment ordinance Hong Kong hanya dijinkan sebesar 10 persen dari satu bulan upah kerja. Fakta inilah yang senantiasa terlewatkan dalam setiap perhelatan nasional bernama Pemilihan Umum (PEMILU)

Berdasarkan hal ini, kami, buruh migran Indonesia yang berhimpun dalam Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) menyatakan:

Tidak akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum 2009, karena pemilu 2009 bukanlah pemilu yang berpihak pada buruh migran Indonesia dan rakyat.

Menuntut kepada pemerintahan SBY-JK untuk:

1. Menghentikan underpayment;

2. Memangkas biaya agen/penempatan ke Hong Kong menjadi HK$ 9000;

3. Blacklist agen/PJTKI dan majikan yang melanggar hukum dan hak BMI;

4. Mencabut UU PPTKILN dan menggantinya dengan UU perlindungan BMI dan keluarganya;

5. Segera ratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Perlindungan Hak Buruh Migran dan Anggota Keluarganya;

6. Bubarkan Terminal Khusus BMI (GPK TKI);

7. Libatkan BMI dalam setiap pembuatan kebijakan mengenai BMI

8. Pelayanan maksimal bagi BMI di Hong Kong pada hari Sabtu dan Minggu

Menyerukan kepada organisasi BMI dan massa BMI di setiap negara penempatan:

1. Tidak menggunakan hak pilihnya pada PEMILU 2009, karena pemilu 2009 bukan untuk kepentingan buruh migran Indonesia dan rakyat;

2. Semakin memperhebat aksi-aksi untuk menuntut hak-hak dasar buruh migran Indonesia;

3. Menyatukan perjuangan BMI di setiap negara penerima dengan gerakan perjuangan rakyat di dalam negeri guna memperjuangkan perubahan yang sejati.

Hong Kong, 28 Maret 2009

Komite Eksekutif IMWU

Sringatin

Ketua

INDONESIAN MIGRANTS WORKER UNION (IMWU)
Serikat Tenaga Kerja Indonesia/PRT HK
4/F, Flat C, Jardine's Mansion, 32 Yee Wo Street, Causeway Bay, Hong Kong.
Phone: (852) 2375 8337,Fax: (852)29920111 Email: imwu@asian-migrants .org
Website: www.imwuinhk. multiply. com, Register of Trade Union No: 958

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Konggres Pejuang HAM

Serikat Petani Indonesia


Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain

Senin, 30 Maret 2009

5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat

Solidaritas untuk perjuangan warga eks Buyat dan Sidoarjo melawan ketamakan pengusaha tambang (Newmont-Lapindo) dan penguasa.

Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok Public Eye Award 1, Public Eye Award 2, Public Eye Award 3


Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat (silah kunjung kisah Andini Lensun dalam Kami Generasi Benjol)

Silahkan menambahkan suara anda langsung pada bagian komentar postingan 30 puisi ini sejak tanggal 26 Maret 2009 atau melalui email pribadi saya (semua hal tentang tambang terutama terkait daya rusak kuasa tambang dan perjuangan melawan keserakahan perusahaan-perusahaan tambang). Semua kiriman ini akan dipostingkan di blog utama lenteradiatasbukit selepas tanggal 3 Juli.

salam hangat
salam pembebasan

andreas iswinarto
pengumpul puisi
kerja.pembebasan@gmail.com


: Andini
Oleh Lanjar

Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Belajar mencinta, tak cuma dengan mata dan telinga tetapi dengan hati
Belajar memberi, tak cuma dengan ratap dan tanya tetapi dengan tindakan peduli

: Andini
Mungkin ini waktu yang tepat buat kami
Meneriakkan rintihan sakitmu, segala deritamu, derita saudara-saudara kami di Buyat sana

Tapi, ...
: Andini
Kau dimana?
Matahari masih malu-malu kala kaok burung Gagak mengabarkan kematianmu
Sontak telingamu menangkap, rebahku terganggu, gamang, galau langsung menyerbu

Kisah-kisah Resah tengah menjadi menu harian di seluruh penjuru
Orang-orang menuju ke Buyatmu dengan terburu-buru
Anak kecil, orang tua, orang sakit, para medis, pembaik, pejabat, penjahat berjejer satu-satu
Melihat lautmu, Mercurimu serta angkuhnya tembok Newmontmu

: Andini
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun, setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelas kami

Langit pecah dalam rintihanmu
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur lara
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun

Jakarta, 17 September 2004 [31]

-----------------------------------------------------------------

Andini: Jiwa yang Terbuang
Oleh Abdul Halim

Demikian mudahkah!
Kejujuran, Kepedulian, dan Kewajiban
Berguguran di reruntuhan Air MaTa
Beriring MuLuT penuh KoToRaN
DusTa……
Racun……
dan KePalSuAn.

Andini, SeBuTaN PuTrI "MaLanG" ItU...
Tak terdengar lagi.

UANG, Tuhan SemesTa MaSa KiNi
BerGeLinTiR maTa PATAH oleh Kilauan-NyA
IroniS, di tengah DENTUMAN protes Anak-Anak Bangsa.

Andini,
PuTrI BANGSA yang Terbuang.
Tapi……
AngiN Semangatmu, SelaLu BerKoBaR dan BerKiBaR.

17 Agustus 2004, MeRdEkA Bangsamu
Di depan MeRaH PuTiH,
Ikrar diriKu, “Perjuanganmu Tiada Pernah Berakhir.”

TeGaRu, 18 Agustus 2004 [30]

Narasi ini kemudian bergulir, perempuan, laki-laki dari berbagai latar belakang
terdorong terakan goresan nurani dan mendengungkan berbareng dalam jurnal Nyayian Duka Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat jadi mantra, jadi doa....

-----------------------------------------------------------------------

In Memoriam: Andini Lensun
[Aug 12, 2004]

Oleh Nur Hidayati

Voice from the grave (1)

here
forty days I've been
in this cold dark hole
as cold as their hearts
as dark as their mind

what rights do they have?

stealing sun from my days
stealing smile from my face

what rights do they have?

hiding facts
spreading lies

what rights do they have?

playing God
cursing people eternal pain
unbearable

what rights do they have?

Voice from the grave (2)

bukan inginku menjemput nirwana
secepat ini
seperih ini

bukan mauku tangisan ibu
menyayat
merintih

belum jua puas
kutatap purnama
kudengar debur ombak
di Buyat

belum jua puas
kurasa hangat dekap

kudengar lirih doa
ibuku

usai sudah derita
kering sudah air mata
abadi aku kini
di pangkuan Ilahi Rabbi [29]

------------------------------------------------

Andini,
menyaksikanmu adalah keperihan rahimku
saat menguak membelah dunia

tangis lirih sakitmu
adalah kepiluan jantungku
yang tak mampu membantu menolongmu

panas dadamu
adalah mengerasnya payudaraku
karena penuhnya susu yang tak kau isap lagi

rintahan ajalmu
adalah teriakanku....
Tuhan.......di mana keadilan....

Anakku,
kematianmu
adalah kematian rasa penguasa-penguasa kita
yang menutup rapat mata hatinya
dan menimbun hati dan jiwanya dengan kerakusan kuasa

Kini, kain kafan telah membungkusmu pulang pada-Nya
dalam luka lara yang tak kuasa bunda gantikan
Tarikan nafas terakhirmu adalah pesan buatku
dalam terjal perjuangan
dalam ketegaran
tuk selamatkan sahabat dan kawanmu
dari nista pertambangan

Selamat jalan, Andini.......

(Medio Agustus, Wening 2004) [28]

-------------------------------------------------------------

Anak Bermain Perahu di Teluk Buyat
Oleh Hasan Aspahani

"Lihat, kapalku terisi sarat, mengangkut
59 ton emas, menjauh dari Teluk Buyat..."

Angin dari langit masih hembus yang dulu,
ombak dari laut masih hempas yang dulu.
Yang mendebur ke dada perahu, mengapung-apungkan
jaring yang tersangkut sejak dulu. Nasib nelayan kakekku.

Jauh, jauh. Kini mengayuh delapan kilo,
ke tengah laut. Sebab di teluk itu tak ada lagi
kerapu, kepiting bahkan juga seekor udang batu.

"Lihat, kapalku berisi kepenuhan,
pulang ke teluk membawa ikan.
Ada pesta, tengah malam disuguhkan.
Kita cuma nelayan, tak dapat undangan."

Empat tahun sudah air raksa menguap
di udara dan air mandi Teluk Buyat.
Mengendap dalam tubuh ikan, terperangkap
juga di darah kami, anak-anak nelayan.
Kelak kami menyebutnya racun yang tak tertawarkan.

Tapi, "Tak ada pencemaran, tak ada pencemaran."
Mereka sudah meneliti, mencocok-cocokkan jawaban, dan
tergesa mengambil kesimpulan. "Tak ada pencemaran!"

Tapi, "Lihat! Ada koreng di kulitmu...."

Cuma perahuku datang kembali membawa
sabun mandi. Ke Teluk Buyat. Mengubah
air tangis jadi gelombang berbuih. Jadi perih.

"Dan, bila luka juga, tak ingin kubagi
perih yang tak kau pernah pahami ini.
Tenggelamkah sudah semua perahu?" [27]

----------------------------------------------------------

Tiada Lagi...

Tangisan kesakitan itu kini tiada lagi...
Berganti nisan batu yang sunyi dan harum bunga...

Kami tak akan pernah melupakanmu..
Kau mencoba bertahan hidup selama lima bulan..
Namun sakit itu tak tertahankan lagi...
Setiap gerak adalah keperihan yang sangat..

Kami antarkan engkau berbaring selamanya...
Senyuman terakhirmu akan menjadi kutukan
Bagi raksasa penghisap emas itu...

Selamat jalan Andini...
Semua penderitaanmu tak akan sia-sia...

Oleh Anonim [26]

-----------------------------------------------

Tragedi Buyat
Oleh Agung Alit

Hatiku tersayat akan derita warga Buyat
Derita yang ditoreh tangan-tangan berkhianat
Buyat dirampok, disihir menjadi tambang tanpa tembang
Kini dari perut Buyat terburai limbah Mercuri laknat

Buyat tertampar
Andini Lensun terkapar,
Entah siapa esok menyusul

Tragedi Buyat, hikayat pejabat pusat
Tragedi Buyat, hikayat tak berakhlak
Tragedi Buyat, hikayat tak bertobat

Denpasar, 9 Agustus 2004 [25]

---------------------------------------------------------

Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]

Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini

Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu

Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??

Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan

Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita

Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm

Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [24]

-----------------------------------------------

Renungan Buyat [Hikayat II]

Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral

Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...

Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?

Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka

Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi

Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm

Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar] [23]

-----------------------------------------------------------------------------

Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai

Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan

Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk

Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat

Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup

Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad

Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am

Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]

--------------------------------------------------------------

Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna

(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)

Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?

Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya

Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"

Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]

-----------------------------------------

Gerutuan dan Mantra Bebas dalam Nyanyian Nurani untuk Andini Lensun dan Warga Buyat
Oleh Ambo Tang

1. Naba’ Duka buat Nurani al-Makarim

Ya…. An-Naba'
Dulu dengan bangga kita bisa
Beritakan dan bernyanyi:

"Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman
Ikan dan udang menghampiri dirimu"

Ya…Al-Makarim
Kini dengan bingung dan mulia
kita hanya menggerutu:

"Bukan lautan hanya kolam busuk
Korupsi dan utang cukup menghidupimu
Tiada aman tiada damai kau temui

Orang bilang tanah kita tanah bangkai
Emas, perak, dan minyak jadi bencana
Minamata dan maut menghampiri dirimu"

2. Mantra Maut buat Pejempol Tambang

Derai airmata mengalir di relung-relung pipi
Berai minamata menyebar di lorong-lorong bahari
Kerai pusara melebar di sudut-sudut wanua
Cerai jasad menjauh dari simpul-simpul nyawa
Lerai pikir merenggang dari pojok-pojok hati

Kemana lagi budak harus bertuan?
Kemana lagi rakyat harus beraja?
Kemana lagi bangsa harus bernegara?
Kemana lagi hamba harus bertuhan?

Kemana lagi ratap akan berharap?
Kemana lagi doa akan berjawab?
Kemana lagi rintih akan bersahut?
Kemana lagi perih akan berbalut?

Jiwa-jiwa kini tak lagi dihargai
Bangsa dan negara pun telah digadai
Oleh bangsat-bangsat pembantai
Yang jempolnya mengundang badai

Duhai Penguasa Bumi
Duhai Pemilik Jiwa
Deritakanlah derita Andini
Pada diri para pembantai
Bi adzamatika yaa Rabbi
Bi nubuwwatika yaa Nabi [20]

-------------------------------------

Matahariku Hilang Tuhan
Oleh Jeanny Suryadi

Matahariku hilang tuhan,
Semua menjadi gelap untukku bisa bermain...bahkan
Mereka juga membawa pergi kawan-kawanku.
atau aku yang sudah tidak ada di sana? kenapa?!

2004
cukup pak!
jangan bilang akan mengadakan subsidi pendidikan!
jangan bilang akan ada sekolah murah?
sedang aku sudah buta untuk membaca, dan sudah terlalu
lumpuh untuk bisa berjalan..

August 2004
apa benar ini naskah untukku?
peran seorang anak tanpa matahari? kemana - mana
menjinjing gumpalan penyakit yang sampai jatuh ke jiwa?
menghancurkan apa-apa yang kata mereka adalah milik
saya, tidak bisa diabadikan bahkan juga di kepala
-selain butiran pengantar jenazah.
untuk Andini.
tidak banyak yang kulihat di sini, karena keriputnya
sudah jatuh mengering menutup kelopak mata,
tapi aku dengar ibu menangis!

Andini

ini bukan tangan, tuhan..tapi mainan yang sudah
rusak,
ini bukan kepala tuhan, tapi batu karang usang,
dan ini bukan jiwa, tapi lapangan untuk berguling
dalam dusta dan uang.
saya bukan manusia tuhan...itu kata mereka...

2004, Manusia di Buyat. [Andini] [19]

--------------------------------------------

Dan semestapun berduka
Oleh WeES

Cukup jauh jarak Buyat hingga Yogya
tapi ratapanmu Andini
sayup terbawa angin: menyusup ke hati

mungkin ini jawaban dari isyarat
kenapa kemarau kali ini
mendung senantiasa menggantung
rupanya mereka berduka buatmu: Andini

dan ketika racun disebar di laut
siapapun dia pelakunya
entah melanggar aturan atau apa namanya
saat itu: pengkhianatan hati nurani tarjadi

Hai....... kamu! Kamu! Kamu!
yang menangguk untung
dengan diam-diam menebar bencana!

untuk membuka matamu, telingamu,
Butuh korban berapa banyak lagi? [18]

--------------------------------------------------

Sekarat Buyat

Sret, lima bulan Andini Lensun bernafas
lalu tiada

Sret, sekarat Buyat
masuk berita

Sret, ancaman menganga
yang ada jadi sekarat

Berapa lembar lagi laporan
Berapa halaman lagi berita
Berapa karat lagi nyawa

Imperialis pertambangan
Adalah tuhan segala setan
Dengan sekarat segala sisa
Enyahkan segera
Enyahkan segera

Oleh Ben Abel [17]

------------------------------------------------

Kami tak pernah melukai orang dewasa
Tapi tangan-tangan mereka
Telah menghancurkan
Tangan-tangan kecil kami

Setiap nafas kami
adalah kesakitan panjang
Setiap tangis kami
adalah hapusan pengharapan
untuk melihat dunia ini
lebih lama lagi

Air susu yang kami minum
menjadi racun
yang tak pernah ada penawarnya
bunda-bunda kami pun
tak berdaya
Dengan sakit yang menyiksa
sepanjang hari-hari kami
semenjak kami bersemayam
dalam rahim bunda

kami ingin hidup panjang
menikmati indahnya Buyat
mengukir cita-cita
untuk Tanah Buyat

Tapi tangan-tangan orang dewasa
telah hancurkan tangan kecil kami
anak-anak Buyat

Oleh Lilie [16]

-------------------------------

Teluk Buyat,O!
: Andini
Oleh Indah IP

Mungkin ini waktu yang tepat
buat kami
Belajar mencinta
Tak cuma dengan mata dan telinga
tapi juga hati

Belajar memberi
Tak cuma dengan ratap dan tanya
tapi juga tindak nyata

Akhirnya, Andini
kepergian selalu jadi waktu yang tepat
untuk belajar mencinta
dengan dewasa

6 Agustus 2004, 15.00 Wib [15]

------------------------------------

Kidung Dukaku
Oleh Bening

Kutatap dunia dengan kedua mata kecilku
Kusapa mentari dengan kedua lengan mungilku
Dengan senyumku
Begitu banyak harapan tersirat
Kulihat mata ayah bundaku
Penuh dengan kegembiraan
Mensyukuri kehadiranku di dunia ini

Kutapaki lapangan bermain
Bermain bersama dengan teman-temanku
Tertawa riang dan lepas tanpa beban
Berlari bebas
Mengejar kesenangan menjadi seorang anak kecil

Tapi kemudian
Aku terbaring di sini
Masih memandang dunia ini
Tapi dengan mata nanar
Tiada lagi kulihat kegembiraan di mata ayah dan bundaku
Semua kegembiraan telah tergantikan dengan kesedihan
Dengan pilu, melihat deritaku

Aku tidak dapat lagi berlari bebas
Tidak dapat lagi tertawa lepas
Kakiku sudah tak mampu menopang tubuh kecilku
Tubuhku sudah tak dapat merasakan apapun lagi
Perlahan kurasakan tubuhku menjadi ringan
Ringan tanpa beban
Kudengar isak tangis bundaku
Sementara ayah berdiri dengan tegar menopang bunda
Aku bingung
Tak tahu apa yang terjadi

Aku hanyalah anak kecil
Yang hanya mengerti bermain, bertingkah lucu, dan
membuat kedua orang tuaku tersenyum
Mengapa kalian jahat padaku
Apa salahku sehingga kalian membunuhku
Dengan racun yang kalian tebarkan di desaku
Tidak pernahkah kalian berpikir kalau aku juga ingin
hidup seperti kalian
Bisa sekolah tinggi
Dan menjadi orang yang berhasil
Menghembuskan nama harum keluargaku, desaku

Kini aku hanya bisa merasakan nisan dingin
Bertuliskan namaku
Tanah basah menjadi selimutku
Harum bunga semerbak sebagai aroma tempat tinggalku
Dan melihat kesedihan teman-teman kecilku yang dulu kerap
bermain bersamaku
Menjalani derita
Tolonglah kami.........
Jangan biarkan mereka seperti aku

Jakarta Terik, 6 Agustus 2004 [15]

---------------------------------------

Adik Andini Lensun
Oleh Run

Kita seharusnya tidak mempertanyakan bagaimana Andini Lensun meninggal
tapi yang harus kita pertanyakan, bagaimana Andini hidup dengan menanggung beban yang begitu berat
Merkuri itu telah merenggut nyawa anak negeri
Dik Andini, kami hanya bisa marah, kami hanya bisa protes
dan kami akan terus melanjutkan perjuangan kamu
kami kirimkan doa-doa suci untukmu semoga Adik Andini hidup tenang di alam sana.
Amin….. [14]

----------------------------------

Buyat
Tragedi menyayat

Buyat
Tangisan rakyat

Buyat
Menyongsong mayat-mayat

Buyat
Siapa hendak melayat?

Oleh Febuana Kusuma [13]

-------------------------------------

Hiiikayat Buyat
Sajak Syam Asinar Radjam

Hiiikayat Buyat I: Andini

Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu
luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap

Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!

Lukanya luka yang tak harus ada

* * *

Hiiikayat Buyat II

Kulihat darah!
Menetes, belum mencurah
Mengalir masih, menuju gumpal

Hei, Lihat bersama!
Ada yang diundang sengaja; BENCANA!

* * *

Hiiikayat Buyat III

Kenapa aku tak menduka?
Meski ikan dan laut telah bernanah!

* * *

Hiiikayat Buyat IV

Mari ambil penggaris,
Bentangkan pula peta.
Berapa jauh bencana dari depan rumah kita?
Penjahatnya tertawa di meja gambar!

* * *

Jakarta, 4 - 5 Agustus 2004 [12]

-----------------------------------------

Catatan Kecil buat Adik: Andini dan kawan-kawan
Oleh Buruli

Dik,
Kalau besok tiba-tiba mengganas gelombang, itu karena
doa para ikan! Air mata yang mengalir lebih asin dari lautan
" Mereka tak hanya membunuh kita! Mereka juga
membunuh sesamanya: manusia!"

Sebenarnya bukan salah racun, mereka juga sedih
"Ini sama sekali bukan tempat kami!" Kata mereka
Tapi sebagian manusia itu memang tak peduli
Bahkan bila yang terbunuh adalah saudara mereka sendiri
"Jadi tolong jangan salahkan kami!" Isak racun malu hati

Para ikan berteriak! Racun berteriak!
Bila nanti kau dengar ada sesuatu yang besar dan
meledak
Itu karena akhirnya seisi samudera berteriak!
"Terbakarlah engkau yang begitu tega membunuhi"

Ah,
Tutuplah telingamu, Dik!

Lebul, 4 Agustus 2004, 1:43 am) [11]

--------------------------------------------

Ratatotok

Ratap Buyat

Jakarta, 4 Agustus 2004

Oleh tJongPaniti [10]

------------------------------------------

Menunggu Kilat Merkuri
Oleh Dwi Muhtaman

Di atas perahu meninggi bintang-bintang pengharapan
Menggantung berabad-abad hingga lapuk buritan kayu
hitam
Layar yang berkobar mengantarkanku pada kaki langit
Berebut gelombang dan debur jantung samudra Teluk Buyat
Bertukar ajal dan gelora napas
Membawa hidup pulang dalam belanga dan tawa anak istri
Menaburkan pasir ke angkasa
dalam riang percikan sinar bulan
dan angin malam
do'a-do'a

Dan berlabuh
Dari jauh
Hingga abad berkarat kini
Dan kau datang tanpa mengetuk pintuku
Menebar kilau dari jaman yang sesak
Kilatan maut melesat dari roda-roda penggilingan
Mengubur dasar samudra
Bagi kemewahan tuan dan nyonya di lingkar jari-jari
Dan lingkar leher jenjang nyalang
Gaya terkini

Lalu
Diam-diam
Diam-diam
Kilau Merkuri mengantarkan semua ini
Tajam mengiris, tajam yang tak kurasakan
Syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
Dari kilauan lautan yang sama,
dari debur ombak Teluk Buyat yang itu juga
yang berabad-abad melapisi kulitku hingga legam
yang berabad-abad anginnya menjadi napasku
yang berabad-abad asinnya menggarami hidupku

Hingga kau datang diam-diam
dan aku-tanpa kutahu-menunggu kilat Merkuri di ujung leherku
tajam siaga mengiris diam-diam hingga ajal
syaraf demi syaraf, sayat demi sayat
mayat demi mayat
Sebentar menanti seperti begitu lama mati

Dan kau sibuk mengeja syaraf demi syaraf
Ayat demi ayat kau taburkan untuk penyangkalan
Di antara mayat yang bergelimpangan
Dari kilauan Merkuri
mata pisau pada ujung leherku

Dan kau ingin menghapus riwayat ini?

Bogor, 4 Agustus 2004 [9]

--------------------------------------------

...Andini...
Kemarin,...
Kala mentari hadir menyapamu kau sambut dengan sejuta
senyum
Seraya berkata kau akan hidup seribu tahun lagi...
Hari ini, ...
saat mentari hadir mengajakmu bercengkrama,
Bercerita tentang hari esok yang penuh cinta
Kau sambut dengan tatapan kosong,
tak berdaya, tak mampu menggerakkan anggota badanmu
dan...
bahkan kau tak mampu lagi mengeluarkan suara
deritamu..
...Andini...
Kau telah beku dalam tidurmu yang damai
Tak ada lagi jerit sakitmu...
...Andini...
Kami akan selalu mengingatmu
Kami akan selalu melanjutkan perjuangan dan
cita-citamu
Kami antar kau ke pembaringan terakhirmu

Selamat jalan Andini...
Tidurlah dalam damai dan kasih-Nya.
...perngorbananmu tak akan pernah sia-sia...

Makassar, Agustus 2004

Oleh Alam Cakke [8]

----------------------------------------

ANDINI
Oleh Sepmiwawalma

ANdai Daku Insaf mulai hari iNI
Maka kisah ANDINI dan ANDINI yang lain
BUYAT dan BUYAT yang lain
hanya sebuah catatan sejarah yang tak perlu terulang
lagi.

Tak akan ada lagi derita ini.
Derita tentang...
Rintihan kesakitan..
Tangis kepiluan..
Air mata kedukaan..
Teriakan penderitaan..
Helaan nafas penuh tekanan..
Langkah tanpa harapan..
Sebuah perjalanan tanpa kepastian..
Dan janji kehidupan yang penuh kesia-siaan..

Dan Andinipun menulis
Ingin kusalahkan Tuhan
Kenapa aku dilahirkan hanya untuk berjumpa dengan
semua derita ini. Bukan bukan Tuhan yang salah..
Kamu..
Kamu.. semua yang salah
Yang tidak berbuat apapun juga.

Palangkaraya, 3 Agustus 2004 [7]

------------------------------------------

Untuk kita semua,
Adakah yang lebih berarti dalam hidup ini selain soal
kemanusiaan? Kepergian seorang Andini dan derita kaum
Buyat hanyalah sebuah potongan episode panjang sejarah
penistaan kemanusiaan...
Bila hidup ini hanya untuk soal siapa yang merasakan
apa maka pernahkan kita semua memikirkan suatu saat
nanti kita juga akan mengalami tragedi kemanusiaan
itu,...
Kita dengan kemampuan nalar dan logika dapat berkelit
dan berdebat, ...... Tapi penderitaan dan kematian itu
bukan soal nalar dan logika rasional serta bukan juga
soal untuk diperdebatkan,...
Tapi dia adalah soal yang harus dirasakan,...
Bila kita belum memiliki kesempatan untuk merasakannya
maka tunggulah saatnya.
Kalaupun tidak di dunia yang hanya sepenggal waktu
ini, dunia abadi akan menanti kita dengan penderitaan
dan kematian yang abadi pula.

Bogor, 3 Agustus 2004

Oleh Rasdi Wangsa [6]

--------------------------------------------

Andai
Oleh Mastuati

Andai aku bisa mengembalikan waktu
dan menata negeri ini sedari awal, Andini

Aku akan menatanya dengan kasih dan kejujuran,
sehingga kau bisa bermain dan bermanja
dialam yang mengucapkan terima kasih,
karena kita telah memeliharanya
dengan cinta.

Andini, aku percaya bahwa
kau telah kembali kerumah Sang Pencipa
dengan selamat dan sejahtera.

Palangkaraya, 2 Agustus 2004 [5]

----------------------------------------------

Masihkah kita bisa nyenyak di atas rintihan kepedihan masyarakat Buyat?
Masihkan kita punya nurani atas tangisan ibu-ibu di Buyat?
dan yang paling penting ...
Masihkah kita punya nyali untuk teriak dengan lantang
...

Oleh Arifin Amril [4]

--------------------------------------

Kalaulah mungkin,
Kudekap nian tubuhmu yang rapuh Andini,
dan nyanyikan perih tubuhmu,
agar si rakus itu, tahu bahwa tubuhmu memang perih

tahukah kamu Andini? duka, tangis, dan jerit bundamu
adalah tangis pilu bagi mereka yang bernasib sama,
lihatlah, pongahnya Newmont,
juga sedang menebar maut di tanah Tapanuli, Sumut
hanya sedikit yang tahu, atau yang peduli
bahwa 5 tahun lagi,
teman kita di Madina juga bernasib sama

Oleh Megianto Sinaga - Medan [3]

-------------------------------------------

Aku Andini
Oleh Marselina

(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...

Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.

(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...

Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....

Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..

Tuhan... apa salahku..???

Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...

Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..

Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya

Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...

Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..

Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati

Dan kini.... aku pun mati...

Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]

------------------------------------

"Langit Mendung Di Teluk Buyat"
Oleh Jpang

Wajah-wajah tertutup jelaga
Tangan-tangan terbalut nestapa
Sebatang tubuh mungil mati ternoda
Ikan-ikan entah ke mana
Ganggan hijau berubah warna
Burung-burung tak lagi bersuara
Andini Lensun mati sia-sia

Segerombolan aura kematian menunggu titik penantian
Ruh malaikat maut semakin mendekati pucuk ubun-ubun
Laskar bencana datang dan nyaris membunuh satu
dasawarsa
Awan gelap menyelimuti langit mendung di Teluk Buyat

Teluk Buyat menyaksikan Andini Lensun mati sia-sia
Bayi kecil nenyerupa paras oma-opa
Dengan bilur keganasan limbah bahan kimia
Terbungkus landir minamata

Langit mendung di Teluk Buyat
Berpuluh manusia meregang nyawa
Bertahan dalam kepedihan benjolan kepala
Atau badan merana menjelang garis penutup usia

Sayap-sayap camar lelah merintihkan kepedihan
Menarikan dansa kesuraman di atas dahan-dahan bakau
Menukik tajam menyayat reruntuhan karang
Lalu patah terhempas gelombang kerakusan

Perak dan emas menyaksikan kepiluan Teluk Buyat
Matanya melelehkan kegelisahan
Yang mencengkeram pedas di tabir kekuasaan adidaya
Kilaunya mewarnai horison benua kebanyakan
Meninggalkan bekas Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat

Juli 2004 [1]

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (1-Sarekat Hijau Indonesia)

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pergerakan Pemilu di Indonesia

Pemilu 1999, merupakan pemilu umum langsung yang pertama dilaksanakan di Indonesia. Pemilu yang sebelumnya diprediksikan akan berlangsung ricuh, sesungguhya merupakan proses politik yang diharapkan dapat merubah kondisi Indonesia yang selama satu dasawarsa dibawah rezim otoriter. Harapan yang begitu besar tentu saja dimiliki sebagian besar rakyat Indonesia yang menghendaki perubahan, dan pemilu langsung merupakan salah satu jalan menuju kesana dalam konteks pembangunan demokrasi yang dilakukan oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Euphoria terhadap pemilu 1999 ini dapat diukur dari banyaknya partai politik yang bertarung untuk memperebutkan kekuasaan, sebanyak 48 partai politik maju ke kancah pertarungan pemilu 1999. Jumlah partai politik yang mengikuti pemilu ini merupakan jumlah yang terbanyak setelah pemilu 1955 yang diikuti lebih dari 30 partai politik dengan kondisi politik Indonesia yang juga memanas. Pemilu 1999, menjadi momentum bagi partai-partai politik yang diberangus pada tahun 1977 oleh Pemerintah Orde Baru, untuk kembali ke kancah politik praktis. Demikian juga dinamika politik aliran yang kembali menguat pada pemilu 1999 ini, antara aliran politik nasionalis dan aliran politik islam.

Dibawah bayang-bayang kekhawatiran akan terjadi kerusuhan massa ditengah situasi politik yang memanas, pemilu 1999 akhirnya bisa terselenggara dengan baik. Sebagai sebuah proses demokrasi yang baru, pemilu 1999 telah melahirkan berbagai pelajaran penting. Sebagai pemenangnya adalah PDI-P yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan 153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 suara atau 22,44 persen sehingga mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding Pemilu 1997. PKB dengan 13.336.982 suara atau 12,61 persen, mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71 persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding Pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen, mendapatkan 34 kursi.2


Selanjutnya


silah simak pula pandanga

Konggres Pejuang HAM

Indonesian Migrants Worker Union

Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain



baca juga

Pemilu dan Depresi Ekonomi

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Pemilu dan Depresi Ekonomi

Dalam pengamatan Martin Manurung ditengah ingar bingar Pemilu 2009 ini berbagai analisis dan tulisan yang telah muncul di berbagai media tak kunjung mengaitkan resesi itu dengan Pemilu di Indonesia. Padahal, solusi atas krisis saat ini adalah satu-satunya sumber legitimasi yang pantas dan patut atas proses pelaksanaan Pemilu, para pemenangnya, maupun presiden yang akan terpilih tahun ini.

Dalam artikelnya Pemilu dan Depresi Ekonomi kemudian Martin dengan lugas menulis “para politisi, baik pimpinan partai, calon anggota badan legislatif dan bahkan calon presiden, memiliki utang pada rakyat pemilihnya, yaitu solusi implementatif dalam bentuk kebijakan-kebijakan alternatif yang kongkret atas krisis yang mulai menyengsarakan rakyat secara besar-besaran ini. Jika tidak, Pemilu hanya akan jadi pengulangan ritual-ritual kebohongan yang satu untuk digantikan dengan kebohongan yang lain”.

Saya cemas karena bisa jadi situasi negeri ini belum jauh berubah dari masa Soeharto dulu, silah cermati petikan puisi Wiji Thukul ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992. Tidakah Ini Masih terus berlanjut?

Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,
Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,
Mengawang jauh dari kami punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal,
Kami ingin tidur pulas,
Utang lunas,
Betul-betul merdeka,
Tidak Tertekan,

Atau yang satu ini

Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
……….
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)


Silah baca artikel Martin Manurung selengkapnya di
http://indoprogress.blogspot.com/2009/03/pemilu-dan-depresi-ekonomi.html

baca pula

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

Pandangan Organisasi Gerakan Sosial Terhadap Pemilu 2009 (2- Pejuang HAM)

IKRAR PEJUANG HAK ASASI MANUSIA

Kami, Para Pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), berasal dari 24 propinsi di Indonesia, berlatar belakang sebagai korban Pelanggaran HAM, baik hak Sipil Politik dan hak Ekonomi, Sosial, Budaya menyatakan:

1.
Prihatin dengan tidak adanya kemauan politik Negara menyelesaikan berbagai masalah pelanggaran berat HAM dan memenuhi hak-hak dasar rakyat.
2.
Prihatin dengan tidak adanya upaya-upaya Negara untuk memberikan perlindungan hak-hak dasar rakyat dari krisis ekonomi, kerusakan lingkungan hidup dan rasaaman.
3.
Prihatin dengan penghilangan makna Pemilu, yang hanya menjadi rutinitas lima tahunan, dan ajang bagi elit politik warisan Orde Baru, serta kelompok pro status quo untuk melanggengkan kekuasaan.
4.
Prihatin dengan calon legislatif, bakal calon presiden dan wakil presiden yang tersedia dalam Pemilu 2009, umumnya memiliki latar belakang sebagai pelaku pelanggar HAM, pelindung pelanggar HAM, atau yang tidak punya agenda HAM.

Berdasarkan keprihatinan di atas, kami para pejuang HAM Indonesia yang telah menggelar Kongres Pejuang HAM bertempat di Wisma MAKARA Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada tanggal 17-20 Maret 2009, menyatakan:

1.
Menyepakati bahwa penguatan dan konsolidasi gerakan rakyat/korban sebagai jalan keluar untuk memperkuat daya kritis, daya kontrol dan daya tawar politik yang sejati.
2.
Menyerukan kepada masyarakat khususnya pemilih, untuk tidak memilih caleg, parpol dan capres/cawapres pelaku pelanggar HAM, pelindung pelanggar HAM, atau yang tidak punya agenda HAM.
3.
Menyerukan kepada masyarakat khususnya pemilih, untuk memilih caleg, parpol,calon presiden dan calon wakil presiden yang pro HAM dan pro rakyat, serta tidak mudah percaya pada janji mereka yang tidak punya jejak rekam keberpihakan terhadap korban/rakyat.
4.
Mengajak kepada rakyat yang memilih golput, untuk menjadi golput yang kritis dan aktif dengan mengorganisir diri, serta melakukan pendidikan politik.

5.
Mendesak Negara untuk memenuhi kewajibannya untuk menuntaskan berbagai masalah pelanggaran berat HAM dan memenuhi hak-hak dasar pada sisa waktu pemerintahannya.

Atas nama kebenaran dan keadilan, Ikrar pejuang HAM ini kami peruntukan bagi perubahan Indonesia yang lebih beradab, berprikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

Depok, 20 Maret 2009

Panitia Kongres Pejuang HAM 2009KontraS, ICTJ, IKOHI, JATAM, JSKK, Sawit Watch, KPNNI, INFID, Kalyanamitra, KontraS, LBH Jakarta, PBHI Jakarta, SHI, Demos, Walhi, YAPPIKA, PRAXIS, Foker LSM Papua, KontraS Aceh, Koalisi NGO HAM Aceh, Federasi KontraS

Media Pendukung : Voice of Human Rights dan Media Bersama

simak pula pandangan

Sarekat Hijau Indonesia

Indonesian Migrants Worker Union


Serikat Petani Indonesia

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia

Aliansi Buruh Menggugat Bersama Organisasi Rakyat Lain




silah baca

Ini Komidi Gombal : Semua Partai Sama Bohongnya

Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat (Puisi 2)

Kumpulan Puisi Dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun (Bagian 2)

(31 puisi ini akan dipublikasikan tiga hari sekali sampai 3 Juli tanggal kematian Andini, sekaligus menyuarakan kepentingan para survivor di Sidoarjo yang terus menggugat kesewenangan pengusaha - lapindo - dan penguasa)


(Aku ketika di dalam kandungan)
Di sini gelap, tempatnya semakin sempit..
karena tubuhku semakin membesar
sementara kapasitas perut Ibuku terbatas sekali...
Aku ingin melihat cahaya di luar sana...
dan menikmati hangatnya pelukan Ibu.

(Aku sesudah dilahirkan..)
Ibuku baiiikkk sekali..
Ayahku juga
Mereka keluargaku
kami keluarga yang sangat sederhana
kami memang tidak berlimpah harta
tapi kami berlimpah cinta...
Pada awal hidupku, semua terlihat baik adanya
Dulu, ketika aku masih di surga, Tuhan bilang,
"sebentar lagi Aku akan mengirimmu ke bumi."
Seketika itu juga tubuhku dipenuhi oleh sukacita
Sudah kubayangkan bagaimana indahnya dunia
penuh tantangan dan harapan....
Kemudian Tuhan berkata "Anak-Ku, bumi tidak seindah
kelihatannya"
Dan aku terdiam....
Kini, kusadari Tuhan benar adanya..
Ragaku tidak senyaman dulu..
Pusing memenuhi kepalaku, sementara mual menyelimuti
perutku..
Dan sekujur tubuhku penuh dengan benjolan
seperti gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya..
Tuhan... apa salahku..???
Belum lama aku di bumi..
Aku bahkan belum mampu melakukan sesuatu untuk
menolong diriku
Aku hanya bisa menangis
Mengharap sedikit bantuan dari keluarga dan manusia
lain...
Lambat laun tubuhku semakin melemah...
aku pasrah...
aku merindukan kembali surga tempat aku dulu tinggal..
Lambat laun kumulai mengetahui masalahnya
karena setiap malam malaikat surga datang menjengukku
dan bercerita tentang yang sesungguhnya terjadi
kami berbincang dengan bahasa yang kami mengerti
Malaikat itu bilang, Tuhan sudah menyiapkan tempat
istimewa untukku di surga...
Dia menungguku... sampai aku siap untuk kembali pada-Nya
Kulihat Ibuku... Kulihat keluargaku...
Kulihat juga raksasa besar siap mencengkeram mereka
siap menghancurkan keluargaku.. dan saudara-saudaraku
di Buyat...
Raksasa itu tidak berbentuk manusia...
Tapi dia sangat besar dan mempunyai tangan besar yang
tidak kelihatan.. Raksasa itu sudah membuang racun di
air kami..
Ikan kami mati... Mata pencaharian kami mati...
dan lambat laun, saudara-saudaraku di Buyat pun akan
mati
Dan kini.... aku pun mati...
Semoga kematianku menjadi pertanda awal kekalahan sang
raksasa di bumi...
Aku, Andini... [2]


Catatan :

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun

Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 31 sahabat yang perduli atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ditimpakan kepada Andini Lensun dan warga buyat oleh perusahaan tambang raksasa dan kompradornya (pemerintah-penguasa). Memang hukum hari ini tidak memihak kepada para korban, peradilan belum lagi menjadi rumah kebenaran dan keadilan. Berbagai upaya hukum yang dilakukan oleh warga dan jejaring NGO, akhirnya kandas. Tetapi biarkan api perlawanan tetap membara dan nurani tetap dihidupkan, karena diam adalah pengkhianatan. Kumpulan puisi biarkan jadi nyanyian nurani dan jadi doa yang menggerakan.

=====

Perusahaan tambang emas Newmont AS akhirnya dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.

selanjutnya silah tengok Public Eye Award 1, Public Eye Award 2, Public Eye Award 3


Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivo (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga Buyat (silah kunjung kisah Andini Lensun dalam Kami Generasi Benjol)

salam hangat
andreas iswinarto
pengumpul puisi

Cahaya Bukan Palu

tidakkah kerangka
bahkan menara itu tlah ada
jauh sebelum kapal-kapal melaut
dan tak ada cemas tentang karam

ya, mercu suar



cahaya bukan palu

Minggu, 29 Maret 2009

Ini Komidi Gombal : Partai-Partai Politik Sama Bohongnya

Berikut ini adalah beberapa petikan puisi Wiji Thukul seperti diulas Wahyu Susilo dalam artikelnya Pemilu dalam Puisi-puisi Wiji Thukul (Kompas 15 Februari 2009).

Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue

(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)

...

Kami tak percaya lagi pada itu, partai politik,

Omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang,

Mengawang jauh dari kami punya persoalan

Bubarkan saja itu komidi gombal,

Kami ingin tidur pulas,

Utang lunas,

Betul-betul merdeka,

Tidak Tertekan,

Dari puisi ”Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis menjelang Pemilu 1992.


Pesta Pora Pemilu dan Kesepian Kaum Miskin di Kolong Jembatan


Ironisnya puisi yang dituliskan menjelang pemilu 1992 (juga mewakili wajah pemilu-pemilu lain sepanjang pemerintahan Soeharto), bagi saya masih tetap relevan hingga hari ini setelah Soeharto dipaksa turun.

Wahyu Susilo mengakhiri artikelnya dengan kalimat “Hingga kini dia belum kembali”.

Sedang edisi khusus Tempo Indonesia yang Kuimpikan : 100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri, mengakhiri ulasannya atas puisi-puisi Wiji Thukul dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, Magelang, 2000) dengan kalimat “ Ia memang hilang, tapi lewat puisinya ia terus berjuang”.

Aku Ingin Menjadi Peluru adalah salah satu dari 100 teks yang dipilih Tempo sebagai teks terpenting dan paling berpengaruh bagi perwujudan proses pencarian terus menerus makna menjadi Indonesia atau dalam kata-kata Tempo menyuarakan imaji kebangsaan. (silah baca Hilang Tapi Terus Berjuang dan juga Kompilasi Edisi Khusus Kebangkitan Nasional).

Lewat puisinya ia terus berjuang, juga menyuarakan kepentingan rakyat hingga di masa pemilu 2009 ini. Silah baca suara Wiji Thukul ini seperti digaungkan kembali oleh Wahyu Susilo.

Pemilu dalam Puisi-puisi Wiji Thukul

Kompas, Minggu, 15 Februari 2009
Wahyu Susilo
Satu dan dua ataupun tiga,
Semua sama sama bohongnya,
Milih boleh, tidak memilih boleh,
Jangan memaksa, itu hak gue
(Satu, dua dan tiga, Wiji Thukul, 1992)

Sepenggal bait puisi tersebut mulai dilantunkan sebagai lagu oleh Wiji Thukul setiap ngamen puisi keliling kota. Tentu sangat benderang pesan yang terkandung dalam bait puisi tersebut: tak boleh siapa pun memaksa untuk memilih. Dalam penelusuran penulis, tampaknya puisi ini dibuat saat terjadi penangkapan-penangkapan terhadap mahasiswa yang aktif berkampanye golput. Salah satu kasus golput yang berujung sampai pengadilan adalah kasus kampanye golput yang diorganisir mahasiswa Semarang (Lukas Luwarso dan Poltak Ike Wibowo). Puisi ini adalah wujud solidaritas Wiji Thukul terhadap keberanian mereka.

selanjutnya


=====================================================================================

Gallery Foto Lentera : Kota Tua Jakarta – Old City Batavia





## andreas iswinarto ##

silah kunjung album foto selengkapnya
Gallery Foto : Red House Kali Besar 11

=====================================================================================



baca pula


Bisnis Politik di Tengah Krisis Ekonomi


Pemilu dan HAM

Pemilu 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal

Pemilu dan Depresi Ekonomi


Pemilu 2009 : The Battle of Mind

kepal-kepal akaran

AIKONISASI ZAPATISTA :

Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas*

(istilah dalam bahasa Spanyol yang kurang lebih bermakna praktik yang cerdas melakukan manuver-manuver dan siasat-siasat untuk membuka, menerobos, membuat dan memanfaatkan peluang politik. Tapi, dalam penggunaan lain bisa juga berarti terperangkap setelah melakukan pembukaan, penerbososan dan pemanfaatan peluang politik)

Pengantar Noer Fauzi untuk Buku Bayang Tak Berwajah (Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) Insist Press 2003

Ketahuilah! Bahwa tanah, hutan, dan air yang telah dirampas oleh para penguasa hacienda, cientifico, atau cacique melalui tirani kekuasaan dan tipuan hukum, akan dikembalikan dengan segera pada rakyat atau warga yang berhak atas kekayaan itu, sebab, se­sungguhnya mereka itu dianiaya oleh kejahatan para penindas. Mereka mesti mempertahankan miliknya itu dengan sepenuh hati melalui kekuatan bersenjata. (Zapata, November 1911)

Setelah ditunda beberapa kali dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista memasuki San Cristobal beberapa menit sesudah tengah malam pada 1 Januari, 1994 ("Seperti biasa kami ter­lambat," jelas Komandante Marcos), mengumumkan 'Deklarasi Hutan Lacondon' dari balkon istana pemerintah, memporak­porandakan balai kota, menempelkan proklamasi perang mereka di dinding‑dinding kota kerajaan lama, menyerang instalasi mili­ter di dekatnya, lalu berjalan ke gunung‑gunung, kembali ke basis mereka di hutan.

Dua puluh lima bulan setelah pernberontakan Zapatista mem­bahana ke seluruh pelosok negeri dari pasar kampung sampai kamar kantor presiden, pada 16 Februari 1996, Tentara Pem­bebasan Nasional Zapatista dan pemerintah Meksiko menanda­tangani kesepakatan substantif pertama menuju perdamaian, yang terkenal dengan nama'Perjanjian‑perjanjian San Andres'. Dalam dokumen perjanjian itu, pemerintah federal menanggapi sebagian tuntutan Zapatista, utamanya hal yang berkaitan dengan hak‑hak dan budaya masyarakat adat, berupa pengakuan masya­rakat Indian sebagai subjek sosial dan historis sebagai prinsip kewarganegaraan. Sesungguhnya, dokumen perjanjian itu baru berisikan 1 dari 6 topik yang dirundingkan. Satu topik itu berasal dari meja runding'hak‑hak budaya'. Selain meja runding 'hak‑hak budaya' (i), meja‑meja runding yang tidak berbasil mengeluarkan perjanjian adalah: (2) demokrasi dan keadilan; (3) pembangunan dan kesejahteraan; (4) masalah perempuan; (5) konflik regional; dan (6) demiliterisasi.

Perjanjian itu adalah hasil yang dimenangkan dengan susah‑payah dari lima ronde pembicaraan pertama antara kedua pihak untuk menyelesaikan akar penyebab pertikaian itu. Butir‑butir perjanjian dari meja 'hak‑hak budaya' itu antara lain:

- Pengakuan terhadap masyarakat Indian di dalam konstitusi, termasuk hak‑hak mereka untuk menentukan nasib sendiri di dalam kerangka otonomi yang konstitusional;

- Perwakilan dan partisipasi politik yang lebih luas;

- Pengakuan hak‑hak ekonomi, politik, sosial, dan budaya mereka sebagai hak‑hak kolektif‑,

- Jaminan akses penuh pada sistern hukum dan pengakuan sistern normatif masyarakat adat;

- Penghormatan atas perbedaan budaya, peningkatan revitalisasi budaya masyarakat Indian;

- Peningkatan dalam pendidikan dan pelatihan dengan menghormati dan mengembangkan pengetahuan tradisi; dan

- Meningkatkan kesempatan produksi dan pekerjaan, termasuk perlindungan kaum migran masyarakat adat.

Setelah penandatanganan Perjanjian‑perjanjian San An­dres, perwakilan masyarakat adat dan organisasinya ber­kumpul dalam Kongres Masyarakat Adat Nasional mulai tanggal 8 hingga 12 Oktober 1996 di Mexico City dengan khidmat memproklamasikan deklarasi itu, yang pada inti­nya ingin mengatakan bahwa "tidak ada lagi Meksiko tanpa kami". Dengan demikian ada upaya untuk menempatkan identitas etnik sebagai bagian dari identitas nasional Meksiko di masa depan

Pesona Zapatista

Gerakan perjuangan memperoleh otonomi masyarakat adat pada tingkat lokal maupun regional, seperti telah disinggung diatas, memang telah berlangsung lama. Bahkan, pada tahun 1974, Kongres Masyarakat Adat pertama diselenggarakan di San Cris­tobal de las Casas. Dihadiri 1230 delegasi, yang terdiri dan 587 kelompok etnik Tzeltales, 330 Tzotiles, 152 Tojolabales, dan 151 Choles yang mewakili 327 komunitas. Tuntutan otonomi ini ber­pokokkan partisipasi masyarakat adat pada berbagai tingkatan dan bidang kehidupan: ekonomi, politik, budaya, dan proses‑pro­ses pengambilan keputusan formal negara.Zapatista, merupakan revitalisasi semangat Emilio Zapata (pahlawan petani Meksiko yang memperjuangkan reforma agraria di Meksiko di sepanjang masa revolusi 1910‑1917‑lihat kotak 'Zapata dan Sepak Terjang Zapatista: Caplikan Kisah').

Ia adalah suatu gerakan bersenjata yang berperang melawan tentara dan pemerintahan federal dengan tujuan membuka ruang politik bagi masyarakat sipil agar mempunyai suatu momentum yang berjuang (1) mewujudkan harga diri masyarakat adat (ber­mula dari daerah‑daerah berbahasa Mayan Jzotzi‑, Tzettal‑, Tojo­labal‑, dan Chol‑ yang tinggal di negara bagian Chiapas) dalam tatanan negara‑bangsa Meksiko yang dinilai rasis; (2) menghenti­kan proyek neoliberal yang dimotori oleh perjanjian kerjasama perdagangan bebas antara pernerintahan Meksiko 'Amerika Seri­kat, dan Kanada melalui perjanjian NAFTA (North American Free Trade Area) yang mengakibatkan penyingkiran petani dan degra­dasi pedesaan; dan (3) membangkitkan inspirasi masyarakat sipil di Meksiko untuk membentuk suatu koalisi nasional menentang otoritarianisme partai yang berkuasa lama sekali, Institutiona­lized Revolutionary Party (PRI) dan mengembangkan demokrasi akar rumput.

Perlawanan masyarakat adat di Chiapas, menurut Luis Her­nandez Navaro, hanya merupakan 'puncak dari sebuah gunung es'. Dalam realitas sosial‑politik Meksiko yang lebih luas perlawa­nan masyarakat adat itu‑ jauh lebih banyak lagi daripada yang telah diketahui publik secara internasional. Bahkan, sebagaimana diinformasikan Dr. Salomon Nahmad, ada gerakan yang sudah tidak mau lagi masuk dan/atau menggunakan saluran perunding­an untuk menyelesaikan masalah‑masalah yang menjadi tuntutan perjuangannya, yakni gerakan Maois di Oaxaca.

Menurut Lynn Stephen, perjuangan hak‑hak masyarakat adat dan penentuan nasib sendiri di Meksiko melibatkan empat arena kunci: (i) pengalaman lapangan pangan dalam hal otonorni baik secara historis maupun yang sekarang ini; (2) penandatanganan Per­janjian San Andres mengenai Hak‑hak dan Budaya Masyarakat Adat dan Implementasinya; (3) penciptaan dan penguatan gerak­an nasional untuk otonorni masyarakat adat di Meksiko dan be­ragarn interpretasi otonomi dan penentuan nasib sendiri; dan (4) pendefinisian kembali hubungan antara masyarakat adat dan ne­gara Meksiko jauh dari fokus sejarah indigenismo, dengan asindigenismo dengan asimi­lasi sebagai fokusnya.

"Masalah masyarakat adat telah menjadi pusat agenda politik negeri ini," demikian tutur Luis Hernandez Navarro". Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa gerakan masyarakat adat pada dasarnya merupakan respon masyarakat adat atas kebijakan pernbangunan pernerintahan Meksiko yang anti desa dan anti pertanian. Asumsi kebijakan itu adalah pertanian rakyat di Meksiko tidak dapat di­andalkan, maka harus diupayakan mengurangi jumlah petani. Karenanya negara Iebih baik melakukan investasi di kota ketimbang di desa. Anggaran negara untuk daerah pedesaan dipotong, dan kelembagaan pemerintahan untuk mendukung desa dimerosot­kan andilnya. Kalaupun ada upaya pengembangan sektor pertani­an, seiring derap liberalisasi ekonomi, maka dukungan diberikan pada usaha‑usaha pertanian skala besar. Biasanya untuk meng­hasilkan komoditi ekspor, seperti bunga, buah‑buahan, dan ter­nak. Padahal inti ekonomi pedesaan adalah jagung. Liberalisasi ekonomi telah menyingkirkan petani jagung, juga petani kacang dan gandum. Petani dan peternak menengah juga bangkrut.

Semula, lanjut Navarro, "Gerakan masyarakat adat lebih se­bagai gerakan etis, sebagai respon atas hilangnya identitas diri masyarakat adat dan dampak liberalisasi ekonorni." Belakangan baru berkernbang menjadi political ethnical movement. Pada ta­hap ini identitas budaya (etnik) menjadi basis perjuangan rakyat yang tertindas itu. Gerakan politik‑etnik masyarakat adat ini mernbuat gerakan petani (yang mulai mernudar daya ubahnya, padahal punya akar sejarah yang panjang) menemukan kembali susunan saraf dan rohnya pada gerakan identitas etnik ini. Demikianlah, andil perlawanan Zapatista, sehingga kelompok‑kelom­pok petani‑petani masyarakat adat di seluruh negeri terus‑ meng­ikuti kepimpinan ide Zapatista. Mereka mengemukakan tuntutan ideologis bahwa Meksiko adalah negeri mestizo dan Indian yang hidup dalam gelimang fakta‑fakta eksploitasi pedesaan dan marginalisasi.

Sebenarnya, gerakan Zapatista, dengan ragam caranya me­nandai kebangkitan (kembali) gerakan rakyat Meksiko bingga gerakan sosial baru di Dunia Ketiga. Gerakan Zapatista adalah pertama‑tama bukan gerakan berbasis partai, tapi gerakan popu­lis untuk menjalankan agenda masyarakat sipil secara eksplisit. Meskipun berangkat dari realitas derita masyarakat adat, namun gerakan Zapatista menyuarakan tuntutan masyarakat sipil umum­nya atas kendali negara. Ia bukan hanya membangkitkan kelom­pok‑kelompok perjuangan hak‑hak masyarakat adat, tapijuga ke­lompok‑kelompok prodemokrasi, pembaruan hukum, kesetaraan gender, pembaruan/reforma agraria, dan hak‑hak asasi manusia. Lebih lanjut, sebagai bentuk organisasi, gerakan Zapatista mem­bawa masuk sejumlah besar pendukung dalam proses‑proses dan/ atau upaya‑upaya perubahan itu: kelas menengah pada umum­nya; partai politik (oposisi); lembaga‑lembaga penelitian dan pen­didikan (termasuk guru‑guru); ilmuwan'independen'; aktivis‑ak­tivis 'individual' (non‑lembaga); LSM (baik nasional, propinsi, maupun lokal/distrik); organisasi massa (termasuk serikat buruh, serikat petani, serikat perempuan, d1l.); lembaga‑lembaga Masya­rakat Adat; komunitas; dan kelompok‑kelompok kepentingan lainnya.

Dengan demikian, suara perlawanan Zapatista melintasi fakta­fakta penderitaan lokal dengan membongkar akar‑akar penyebab­nya: kontradiksi di dalam sistem kapitalisme dunia yang muara­nya di Meksiko ini tidak dapat dibendung dan bahkan diperderas oleh Pemerintah Federal Meksiko. Inilah yang dihadapi langsung oleh dengan gerakan Zapatista. Gerakan Zapatista bukan saja me­nyatakan melakukan kebajikan revolusi ('tanah dan kemerdeka­an') dari nenek moyang republik itu, tetapi juga mereka meng­gunakan retorika pemerintah sendiri mengenai demokrasi, identi­tas budaya, partisipasi, dan hak asasi manusia sebagai senjata melawannya. Lebih lanjut, gerakan Zapatista telah membum­bung‑membahana, seperti banyak gerakan sosial baru (the new social movements) lainnya, melalui penggunakan simbol, media elektronik, bentuk‑bentuk baru dari aksi‑aksi kolektif dan organi­sasi gerakan sosial, dan koalisi masyarakat sipil lokal‑nasional­global yang melampaui kemampuan kendali negara atas gerakan­gerakan setempat. Dalam kalimatnya Gerrit Huizer, globalisasi dari atas ditandingi dengan globalisasi dari bawah dan keduanya adalah suatu proses yang dialektik. 12

Arena Politik, Ekonomi, dan Budaya

Secara nasional, keIompok‑kelompok masyarakat sipil di se­luruh Meksiko biasa mengidentifikasi tiga arena perjuangan yang musti mereka terjuni secara simultan. Pertama adalah tidak ada­nya partisipasi dan demokrasi politik. Partai politik Meksiko yang dominan, Institutionalized Revolutionary Party, sudah berkuasa terus‑menerus selama hampir 70 tahun. Kedua adalah bahwa re­formasi ekonomi yang kompleks menyusul krisis ekonomi di ne­geri itu dan program penjaminan menimbulkan perubahan‑per­ubahan mendasar dan merugikan dalam tatanan sosial negeri itu. Terakhir adalah masalah pengembangan budaya politik demo­krasi di sebuah negeri yang tidak memiliki tradisi dan struktur dasar politik demokratis.

Dominasi PRI (Institutionalized Revolutionary Par­ty).

Cikal‑bakal partai yang kemudian menjadi PRI bermula pada tahun 1929. Sebagai partai politik, sesungguhnya partai ini di awal pendiriannya berjalan bersama dengan pemerintah. Tiga ciri PRI menjadi kuncinya. Pertama adalah bahwa sementara para presi­den hampir memiliki kekuasaan penuh selama periode 6 tahun memerintah, mereka tidak bisa lagi ikut dalam pemilihan presi­den untuk periode kedua dan segera setelah periode mereka ber­akhir, mereka diasingkan secara politik (misalnya Presiden Eche­verria yang sangat berkuasa langsung dijadikan duta besar untuk Guam setelah pemerintahannya berakhir). Jadi, pihak yang me­ngendalikan mesin politik negeri itu adalah partai, bukan orang tertentu.

Ciri kedua, adalah bahwa bagaimanapun semua organisasi Meksiko harus menjadi bagian dan PRI yang merupakanpartai­nya pernerintah. Petani harus menjadi bagian dan persatuan pe­tani yang diatur oleh pemerintah. Para pekerja menjadi bagian dan serikat pekerja yang sangat berkuasa yang dikendalikan pe­merintah. Oposisi terhadap PRI diperbolehkan, sebagian besar dalam bentuk partai sayap kanan yang tidak besar dan mewakili kepentingan orang‑orang kaya pengekspor barang dari Meksiko. Oposisi kecil itu tetap dipertahankan karena membuat PRI tam­pak moderat dan demokratis, yang juga dengan sendirinya mem­berikan alasan resmi untuk meningkatkan kendali negara.

Kendali PRI terhadap politik nasional Meksiko adalah menye­luruh, walaupun begitu. PRI selalu peduli dengan dukungan dari sektor‑sektor sosial yang strategis. Sebagian besar gerakan refor­ma/pembaruan agraria dan nasionalisasi perminyakan tahun 1930‑an telah membuat PRI memiliki basis massa dalam upaya menghadapi elit borjuis yang masih ada serta gereja Katolik. PRI menyelenggarakan upacara besar‑besaran dengan mengadakan pemilihan umum secara berkala yang sebenarnya sangat kotor. Namun, PRI tidak pernah menguasai total pedesaan.

Dalam bidang ekonomi, PRI mempertahankan kendalinya me­lalui politik stick and carrot (ancaman dan hadiah). Sepanjang 193o‑an dan 1940‑an, jutaan hektar tanah diambil alih dari pemi­lik tanah yang kaya dan diberikan kepada masyarakat petani da­lam bentuk'ejido'. Ejido adalah kepemilikan tanah bersama yang tidak bisa dijual. Politik di balik ejido adalah membentuk basis dukungan masyarakat pedesaan untuk pemerintah. Pada saat yang sama, ejido menjadi celaan para pengusaha dan birokrasi pro‑pemilikan pribadi karena dinilainya ejido menghalangi prakarsa individual untuk kemajuan produksi pertanian. Program besar lainnya meneakup program kesehatan dan jaminan sosial, subsidi bagi konsumen, serta pembentukan buruh pada industri­industri badan usaha milik pemerintah. Selain itu, terlihat jelas bahwa sebagian besar oposisi 'kiri' kelas menengah menerima beragam subsidi dari negara untuk memastikan bahwa protes sayap kiri tetap berada di kampus dan di majalah yang tidak ba­nyak dibaca orang.

Ancaman yang nyata juga ditunjukkan (walaupun jelas tampak bahwa PRI selalu memastikan tentaranya tidak besar dan jauh dari politik): para pemrotes pedesaan sering ditembak atau dipenjarakan, organisasi masyarakat disusupi dan dirusak, dan orang‑orang yang tidak setuju di kota dalam gerakan buruh dikendalikan melalui organisasi pekerja pernerintah yang sangat kuat dan kejam. Titik balik dalam sejarah Mek­siko seperti itu adalah kerusuhan mahasiswa dan pembu­nuhan massal tahun 1968, ketika untuk pertama kalinya tentara PRI secara terbuka menembak lebih dan 1000 ma­hasiswa. Meski kerusuhan di Tlatelolco itu tidaklah terlalu besar (lebih kecil dari pernbunuhan pemberontak pedesaan di konflik‑konflik lainnya), tetapi kenyataannya adalah bah­wa negara menyadarkan sebagian besar kelas menengah intelektual perkotaan dengan adanya kekerasan yang demi­kian terbuka itu. Akibatnya, para penggerak mahasiswa pa­da gilirannya sampai pada suatu tahap yang secara tiba­tiba menghentikan 'nyanyian dan tarian resmi' mereka: "love it but join it" (dengan PRI) dan memulai usaha rahasia di seluruh Mexico City dan juga di tempat‑tempat lain.

Muaranya adalah keretakan‑keretakan kendali PRI ter­hadap rakyat Meksiko yang muncul sepuluh tahun kemudi­an, yakni di awal 1980‑an, tidak lama setelah devaluasi be­sar pada akhir 1970‑an. Ketika itu, sebagian gubernur nega­ra bagian Utara jatuh kepada pihak oposisi dan sebagian lagi tetap dikuasai PRI (karena pemilihan yang kotor). Na­mun, tantangan kebanyakan datang dari sayap kanan, dan bukan sayap kiri. Baru ketika AS‑IMF (International Mone­tary Fund) menjadi penyedia paket uang yang memulai penghancuran subsidi negara pada pertanian pedesaan. Pada saat itulah gerakan‑gerakan orang miskin mulai me­lawan PRI. Pada tahun 1988, PRI hampir kalah dalam pe­milihan nasional, sekali lagi menang karena pemilu yang kotor sekali dalam proses pemilihan presiden baru (si kan­didat adalah anak presiden tahun 193o‑an yang telah mem­bagi‑bagikan tanah ejido dan menasionalisasi industri per­minyakan). Namun, kali ini PRI sangat lemah, dan protes besar‑besaran terhadap kebohongan pemilu pecah di se­luruh negeri. Perpaduan antara krisis ekonomi dan protes rakyat menyebabkan terjadinya keterbukaan politik secara terbatas. Di pemilu berikutnya, PRI sebenarnya kehilangan kendali terhadap Mexico City, sejumlah pemerintah negara bagian di utara, dan beberapa kotamadya, dan kota‑kota di seluruh negeri itu. Walaupun sejak saat itu PRI mulai pulih (karena pertengkaran di antara kaum oposisi) mitos PRI yang tak terkalahkan sudah hancur, seiring tumbuhnya organisasi masya­rakat sipil di Meksiko melawan kendali PRI.

Reformasi Ekonomi. Ekonomi Meksiko juga telah meng­alami sejumlah transformasi radikal. Sebelum krisis, sekitar 50% dari seluruh produksi nasional berada di tangan negara atau per­usahaan yang dikendalikan negara. Pasar‑pasar domestik sangat dilindungi di bawah kebijakan 'substitusi impor', dan baik efisien­si produksi maupun angka pertumbuhan ekonomi luar biasa ren­dah. Gagasan ekonomi Meksiko dengan hutang internasional yang luar biasa besar dimulai pada akhir tahun 1970‑an. Harga minyak yang tinggi dan ditemukannya cadangan minyak yang baru dalam jumlah besar ditemukan di bagian tenggara negeri itu, membuat banyak politisi yakin bahwa mereka leluasa dan aman memboros­kan kekayaan publik, memakai hari ini dan membayar kembali besok. Konsumsi meningkat gila‑gilaan, korupsi yang sudah ende­mik meledak, dan transaksi ekonomi tipa‑tipu banyak sekali ter­jadi sementara banjir uang spekulasi tumpah ke dalam negara itu. Ketika harga minyak terjerembab, demikian juga dengan pe­merintahan Meksiko. Kejatuhan Meksiko segera disusul oleh ke­jatuhan serupa di Brasil dan Argentina, yang memicu program restrukturisasi yang dikenal di seluruh Amerika Selatan sebagal 'dekade yang hilang' (sebenarnya seluruh sektor kesehatan, pen­didikan, dan indikator kesejahteraan lainnya jatuh). Baru pada tahun 1998 upah pekerja yang sebenarnya pulih sampai pada ting­kat seperti pada tahun 1974.

Reformasi ekonomi Meksiko diikuti dengan jalur yang sangat dikenal, yang masih ada kelanjutannya. Sebagian besar industri negara dijual atau ditutup; hanya industri perminyakan yang be­lum diprivatisasi yang tetap berdiri (dan sangat tidak efisien). Bursa efek dibuka. Ejidos dihapuskan pada awal 1900‑an. Be­ragam perjanjian, di antaranya NAFTA (North American Free Trade Agreement), dibuat untuk membuat Meksiko menjadi ne­gara dengan ekonomi yang berorientasi pada ekspor.

Presidennya sekarang ini sedang mendorong reformasi‑refor­masi ekonomi ini semaksimal mungkin, dan hal ini diperkuat oleh prestasi bahwa angka pertumbuhan ekonomi Meksiko yang baru itu memang tinggi. Agenda neoliberal untuk Meksiko (paling ti­dak seperti yang dikemukakan) bergantung pada integrasi pasar global, penghapusan subsidi dan proteksi pasar, dan mendorong mobilitas modal baik di dalam negeri maupun antara Meksiko dengan negara‑negara yang maju terutama Amerika dan Kanada. Sebagian besar subsidi pertanian dihapuskan, dan jaminan­jaminan sosial dan kesejahteraan dikurangi.

Hasil‑hasil dari perubahan‑perubahan ini menciptakan pihak yang menang dan pihak yang kalah. Para pemenang adalah indus­trialis bagian Utara dan kelas menengah kota yang jumlahnya te­rus meningkat. Pihak yang kalah adalah para produsen kecil, pe­kerja perusahaan milik negara, dan penduduk pertanian yang sebelumnya bergantung pada harga‑harga yang ditetapkan peme­rintah. Saat ini, Meksiko memiliki hampir 7 juta pekerja di Ameri­ka Serikat, banyak yang berasal dan masyarakat yang sangat mis­kin, yang pengiriman uang dari pekerja di luar itu mampu mem­buat seluruh penduduk desa bertahan.

Kelompok yang kalah lainnya kebanyakan adalah kelas mene­ngah tradisional Meksiko. Menyusul kebangkrutan ekonomi se­telab program paket hutang IMF, kelas menengah profesional dan pengusaha kecil‑yang telah berhutang dan menggadaikan harta­nya dengan keyakinan bahwa program reformasi betul‑betul akan membawa kesejahteraan bagi mereka‑membentuk gerakan unik yang disebut 'El Barzon', suatu kelompok yang diperuntukkan bagi prinsip bahwa mereka seharusnya tidak membayar utang yang meningkat luar biasa tinggi. Gerakan itu menjadi begitu po­puler dan efektif sehingga mengancam banyak bank nasional. Na­mun, hal yang membuat gerakan ini berarti adalah tuntutannya yang luas pada kelas menengah yang secara politik berpengaruh (dan biasanya reaksioner). Sejalan dengan itu, banyak manajer tingkat menengah di industri milik negara yang segera. diprivati­sasi menggencarkan suara politik mereka dan menyamakan pijak­an dengan gerakan pekerja dan petani yang beroposisi.

Dewasa ini, negeri itu semakin terpolarisasi dalam hal program ekonomi. Dukungan kuat untuk reformasi neoliberal tetap men­jadi kebijakan negara (dengan dukungan luas dari dunia inter­nasional) dan para industrialis di bagian Utara. Tetapi dengan semakin banyaknya orang Meksiko yang menyadari bahwa hal itu tidak banyak memajukan mereka sehingga kerjasama antar sektor dan kelas sosial bangkit di dunia politik.

Singkat kata, Meksiko adalah penerap ideologi pembangunan seutuhnya (lihat juga uraian‑uraian dalam bagian lain) yang lam satu dasawarsa terkahir ini dibungkus jargon baru yang disebut globalisasi. Ini semua dilaksanakan melalui domi­nasi partai (dictatorship party) PRI (sebelumnya PRM, dan sebelumnya lagi PNR) selama lebih dari 70 tahun belakang­an ini. Sentralisasi kekuasaan ini tercipta‑tepatnya dicip­takan‑terutama melalui (strategi) pengendalian penye­lenggaraan pemilu (yang kotor). Dalam iklim sistem kekua­saan yang demikian itu praktik‑praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tumbuh subur; baik sebaga alat (men­capai tujuan) maupun sebagai akibat proses‑proses politik itu sendiri. Ini semua, pada akhirnya melahirkan semacam ketidakpercayaan rakyat pada politik, partai, politikus, dan pemerintah sebagai pihak yang akan memperjuangkan ke­sejahteraan rakyat, yang dalam satu dasawarsa terakhir menjadi basis perlawanan kelompok‑kelompok masyarakat sipil lainnya. Baik yang terwujud ke dalam 'perlawanan si­pil' maupun 'perlawanan bersenjata' dan kaitan keduanya.

Budaya Demokratik.

Mungkin aspek yang paling su­lit digambarkan tetapi tidak kurang pentingnya dari per­juangan rakyat Meksiko adalah peran budaya dalam politik. Meksiko adalah wilayah yang ditaklukkan pada abad XVI dengan korban yang terburuk yang pernah disaksikan da­lam sejarah dunia. Populasi keseluruhan diperkirakan un­tuk pra‑penaklukan kerajaan Meksiko pada abad XVI ber­kisar antara 10‑15 juta orang. Seratus tahun kemudian populasi keseluruhan Meksiko jatuh sampai di bawah satu juta! Angka kematian orang lebih dari 90%, yang di dalam­nya adalah para penulis, pastur, filsuf, sejarawan, serta dok­ter‑dokter orang Meksiko. Juga hilang adalah kebanggaan dan identitas bangsa itu. Kolonialisme Spanyol mengubah wilayah kerajaan, dari bentangan pertanian menjadi jajaran tanah dan kota‑kota pertambangan. Hukum Spanyol me­lahirkan perbudakan dan menciptakan orang Indian se­bagai orang dengan sedikit hak dan sangat didiskriminasi.

Kemerdekaan Meksiko tahun 1821 tidak banyak meng­ubah gambaran ini. Abad XIX lebih banyak dikenal sebagai abad menghapus sisa‑sisa Indian Meksiko ketika sedang membentuk negara merdeka. Orang Indian adalah isyarat kemunduran. Hak‑hak orang Indian yang tinggal sedikit itu, masih juga hendak dihapus‑punahkan oleh Ker'ajaan dan Gereja supaya kelas atas Meksiko bisa mendapatkan akses ke tanah dan pekerja mereka. Haciendas (banyak yang dimiliki oleh Gereja) dan pabrik‑pabrik terus‑menerus mendesak orang Indian, melarang baik ekspresi fisik maupun budaya mereka guna menciptakan angkatan kerja yang murah dan modern.

Namun elit meminta terlalu banyak. Revolusi Meksiko mem­bawa banyak kaum miskin Meksiko kembali ke arena politik nasional. Proyek pembangunan negara yang baru memerlukan lambang pemersatu supaya negara yang sedang genting dapat menangkis serangan dari gereja dan orang kaya yang berorientasi Eropa. Meksiko sebenarnya telah menciptakan sejarah pra‑Spa­nyol yang gemilang, sesuatu yang hampir tidak ada kaitannya de­ngan masyarakat Indian miskin yang ditemukan pada saat ini. Adalah suatu cara yang baik untuk mengkonsolidasi kembali iden­titas budaya nasional: patung raja‑raja Aztec yang mati ditempat­kan di sudut‑sudut jalan, museum antropologi Meksiko dibangun untuk menggali kekayaan masa lalu, dan Meksiko menjadi negara Amerika Selatan pertama yang mendirikan lembaga masyarakat adat nasional.

Politik lambang adalah obsesi PRI. Aikon‑aikon revolusi men­jadi bagian dari ideologi negara: nama PRI sendiri adalah lam­bang; jalan‑jalan utama di Meksiko mendapatkan nama seperti 'Revolusioner'dan'Reforma'; Emiliano Zapata dan Pancho Villa, yang berjuang untuk rakyat petani miskin melawan penjajahan negara secara resmi menjadi pahlawan nasional. Gerakan rakyat dewasa ini mengambil keuntungan dari kontradiksi antara lam­bang‑lambang'revolusioner'itu dan praktik‑praktik reaksioner­nya. Banyak dari gerakan masyarakat adat tahun 1980‑an dan 1990‑an terdiri dari organisasi untuk kepentingan masyarakat yang menuntut bahwa negara harus memperlakukan mereka de­ngan rasa hormat dan adil seperti yang dicerminkan oleh lam­bang‑lambang negara itu sendiri.

Lalu Gerakan Masyarakat Sipil

Pilihan paradigma pembangunan yang ditempuh Meksiko te­lah mengantarkan negara itu sebagai negara dengan hutang luar negeri terbesar kedua di dunia. Situasi ini mengakibatkan negara itu dililit krisis ekonomi pada 1986, dan terulang kembali dengan skala dampak yang lebih kecil pada 1990. Upaya‑upaya penanggu­langan dampak krisis ini telah mengundang campur tangan luar negeri yang lebih luas, yang kemudian berpengaruh pula secara langsung pada persoalan‑persoalan yang berkaitan dengan ke­daulatan negara. Privatisasi badan‑badan usaha milik negara se­bagai salah satu upaya untuk keluar dari krisis ekonomi menye­babkan banyak kepemilikan badan‑badan usaha negara itu ber­pindah tangan ke pemodal‑pemodal swasta dan luar negeri.

Situasi tersebut di atas menyulut rasa tidak puas yang makin besar terhadap rezim penguasa negeri ini. Demonstrasi atau ber­bagai bentuk perlawanan lainnya atas kebijakan negara tersebut terus berlangsung hingga hari ini. Salah satu perlawanan anti pri­vatisasi dan anti modal asing yang masih berlangsung hingga hari ini, itu adalah aksi menentang rencana restrukturisasi dan privati­sasi CEMEX, badan usaha milik negara yang mengelola usaha per­tambangan minyak bumi di negeri itu. Salah satu kelompok pe­nentang kebijakan privatisasi yang cukup punya arti bagi peng­hambatan rencana dimaksud justru datang dari serikat pekerja manajemen tingkat menengah perusahaan itu sendiri, yang ber­koalisi dengan serikat‑serikat buruh dan tingkatan manajemen yang lebih rendah.

Pemerintah penguasa yang berdiri atas sistem pemilu yang me­mang telah diragukan rakyat kebenarannya pun makin kehilangan legitimasi politiknya. Untuk memperbaiki citranya, pada tahun iggo, partai penguasa (PRI), dan didukung PAN (NationalAction Party) didirikan tahun 193o‑an dan merupakan partai kanan yang digerakkan oleh para pastur katolik yang konservatif, para banker, dan konglomerat industri di bagian Utara Meksiko. Pada dasarnya mereka hendak membangun suatu sistem politik dua‑partai­mengajukan rancangan undang‑undang pemilu yang baru. Salah satu pembaruan yang kemudian mendorong proses‑proses refor­masi politik di Mexico adalah termuatnya dalam undang‑undang tentang pemilu yang baru itu amanat pembentukan Mexican Electoral Institute. Yaitu lembaga penyelenggara pemilu yang baru, yang secara teoretis independen, namun secara praktik tetap di bawah kendali partai berkuasa (PRI). Ini terjadi karena, meski di dalam lembaga itu duduk pihak‑pihak yang relatif independen sebagai penyelenggara pemilu, namun aspek‑aspek teknis pe­nyelenggaraan pemilu, seperti kegiatan pendaftaran pemilih, pe­ngiriman hasil pemilu di wilayah‑wiiayah pemilihan ke panitia negara bagian dan federal, tetap tergantung, tepatnya dikuasai oleh, birokrasi (yang dikuasa partai pemerintah PRI).

Di samping amanat pembentukan Mexican Electoral Institute yang teoretis independen namun secara teknis masih dikontrol aparat pemerintah, diamanatkan pula pernbentukan apa yang di­sebut sebagai General Council. General Council pada dasarnya adalah lembaga yang dimasudkan untuk mengontrol pelaksanaan pernilu yang bersih. Lembaga ini diisi oleh warga negara yang bu­kan anggota partai dan bukan pula anggota birokrasi pemerintah­an. Dalam praktiknya kebanyakan anggota lernbaga ini berasal dari perguruan tinggi (dosen‑dosen) dan lembaga‑lembaga pe­nelitian (peneliti). Ini terjadi baik untuk tingkat federal maupun di tingkat negara‑negara bagian.

Para anggota General Council ini, yang disebut Citizen Coun­cilor itu, tentunyajuga diharapkan independen. Bebas dari penga­ruh partai politik dan birokrasi pernerintahan. Meski begitu, pe­milihan anggota General Council ini harus pula disetujui oleh par­tai‑partai yang ada. Perangkat hukum pernilu yang baru in juga memandatkan pembentukan General Council dan pengangkatan Citizen Councilor itu di 32 negara bagian dan 300 wilayah pe­milihan.

Undang‑undang pemilu yang baru mendorong partisipasi masyarakat sipil untuk melakukan pengawasan penyelenggaraan pemilu agar menjadi lebih bersih dari masa‑masa sebelumnya. Inisiatif‑inisiatif berbagai kelompok masyarakat sipil untuk ter­libat dalarn memantau penyelenggaraan pemilu yang bersih pun bermunculan. Ini memicu Iahirnya apa yang disebut sebagai Civic Alliance, yaitu suatu organisasi koalisi dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan individual yang sangat independen dan yang sangat aktif mensponsori kegiatan pemantau pemilu. Pada saat pemilu pertama di bawah undang‑undang pemilu yang baru ber­langsung pada tahun 1994 lalu, Civic Alliance marnpu mengkoor­dinasikan pemantau‑pemantau pemilu sebanyak 15000 orang. Pada hari pemilu CA berhasil melakukan pemantauan berdasar­kan teknik stratified sampling pada 2168 tempat pemilihan se­tempat (TPS) dan melalui sampel random pada 500 TPS13. Seperti juga lembaga‑lembaga penyelenggaraan dan pengawasan pernilu yang baru, Civic Alliance juga banyak dimotori oleh dosen‑dosen di perguruan tinggi dan peneliti‑peneliti dari berbagai lembaga penelitian.

Reformasi politik dan hukum, khususnya yang menyangkut penyelenggaraan pemilu yang lebih bersih, telah menghasilkan tatanan politik baru. Khususnya pada tingkat negara bagian dan municipio. Partai oposisi menang di beberapa negara bagian dan/ atau municipio. Ini dimungkinkan karena penyelenggaraan pemi­lu yang berorientasi pada keterbukaan politik dan desentralisasi dan terawasi secara lebih baik itu telah pula membuka ruang koa­lisi dan/atau aliansi‑aliansi antara partai‑partai politik oposisi dengan organisasi‑organisasi masyarakat sipil yang ada, baik yang berupa LSM, ormas, serikat‑serikat rakyat, maupun langsung de­ngan komunitas‑komunitas setempat.

Menguatnya perlawanan‑perlawanan rakyat yang telah ada le­bih dahulu. Dengan perubahan konfigurasi kekuasaan politik, ba­ik partai lama apalagi partai oposisi relatif berpihak pada agenda­agenda perjuangan masyarakat sipil ini, baik karena memang tu­juan partai maupun untuk mengambil hati pemilih bagi kepenti­ngan partai pada pemilu‑pemilu yang akan datang. Dua pelajaran dapat diperoleh dari dua negara bagian: Veracruz dan Oaxaca. Di Veracruz, khususnya di municipio Zaragoza, perubahan politik dan hukum sekitar penyelenggaraan pemilu melahirkan, me­mungkinkan, mendorong terjadinya aliansi taktis antara Comite de Defenza (semacam komite rakyat di tingkat municipio itu) de­ngan partai (oposisi). Ini adalah pilihan sadar organisasi pen­duduk itu untuk masuk (menguasai) organisasi pernerintahan for­mal. Pola ini kemudian menghasilkan sistern pernerintahan for­mal (melalui jalur partai politik) yang terkontrol dan bertang­gungjawab penuh pada Comite de Defenza. Akibat positifnya ada­lah, antara lain, dipahaminya alokasi dana pernbangunan di muni­cipio itu oleh warga. Ini terjadi karena kegiatan‑kegiatan pemba­ngunan memang ditentukan melalui rapat‑rapat yang melibat­kan warga yang diselenggarakan melalui Comite de Defenza.

Di Oaxaca, meski partai lama tetap menang dan berkuasa, na­mun untuk menjaga dukungan pemilih pada masa pernerintahan­nya maupun untuk meredam gejolak gerakan masyarakat adat yang meningkat sebagai hasil resonansi gerakan Zapatista di Chia­pas, pernerintah Oaxaca akhirnya harus merevisi konstitusi nega­ra bagian itu (1995). Momentum pokok yang mendasari per­ubahan politik di negara bagian Oaxaca adalah gerakan bersenjata dan pemberontakan petani masyarakat adat Maya di Chia­pas dengan pendudukan tiga buah kota, dua kota kecil yakni Margarita dan Ocosingo serta sebuah kota kolonial tua San Cristobal de las Casas. Tuntutan utama gerakan ini adalah pemulihan hak konstitusional rakyat untuk mengubah pe­merintahan. Negara bagian Oaxaca yang berbatasan lang­sung dengan Chiapaz segera meresponnya dengan suatu upaya perubahan konstitusi negara bagian yang salah satu­nya berimplikasi besar pada bentuk pemerintahan. Konsti­tusi baru tersebut pada hakikatnya menguntungkan posisi hak‑hak masyarakat di negara bagian bersangkutan. Salah satu keuntungan yang terpenting, berdasarkan konstitusi baru itu, adalah dilegalkannya sistem pemerintahan ber­dasarkan adat (Usos y costumbres) di tingkat municipio, yang memang telah berlangsung secara informal selama ini. Susunan pemerintahan negara bagian Oaxaca terbagi men­jadi dua unit, yaitu Pemerintahan Negara Bagian dan Peme­rintahan Municipio. Di Oaxaca terdapat 570 municipio yang merupakan 23% dari seluruh municipio yang ada di Meksiko.

Selain itu, dukungan pada kegiatan‑kegiatan revitalisasi adat di negara bagian itu juga jadi meningkat. Misalnya ke­giatan revitalisasi musik dan bahasa Mixe‑belakangan ber­kembang juga pada musik dan bahasa etnik lainnya‑yang diselenggarakan CECCAM. CECCAM (Centro de Estudios para Cambio en el Campo Mexicano) adalah suatu komite kerja yang diberi tugas melakukan studi kritis terhadap ke­cenderungan globalisasi. Selain itu dimungkinkan pula re­formasi sistem pendidikan‑baik organisasi maupun kuri­kulum‑yang peduli pada filsafat dan pengetahuan‑penge­tahuan adat di wilayah itu. Mulai dari sistem pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tinggi (belum terlaksana).

Munculnya bentuk‑bentuk dan isu perlawananan baru. Kecuali political‑ethnical movement sebagaimana telah di­jelaskandiatas,pelajarandapatjugadiambildari munculnya dan terlembaganya pembangkangan sipil, seperti yang terjadi dalam kasus 'himpunan pengemplang hutang' El Barzon. El Barzon yang pilihan namanya diambil dari lagu rakyat dari abad lalu yang menceritakan tentang pemilik hacienda yang memerangkap para peones (pekerja hacienda) dengan tanah seadanya dan makanan seadanya yang hanya cukup untuk hidup dan melanjutkan kerjanya di hacienda, semen­tara mereka berhutang pada pemilik hacienda. Seperti diterang­kan oleh pimpinan El Barzon pada tanggal 27 Maret 1998, koalisi ini dimulai dari masalah para kreditur bank yang terancam oleh naiknya persentase bunga hutang hingga 600% akibat reformasi perbankan, yang mendudukkan mereka sama seperti parapeones zaman dahulu. Mereka berhasil mengorganisir petani kreditur dalam suatu organisasi mandiri berskala nasional bernama El Barzon. Organisasi ini memperjuangkan pengemplangan hutang melalul jalur legal dan advokasi. Organisasi yang memiliki akses informasi dan koneksitas politik ke sejumlah lembaga legislatif dan yudikatif. Organisasi seperti El Barzon telah pula membuka kemungkinan bagi pengorganisasian kepentingan kaum profesio­nal dan pengusaha menengah ke bawah dan kecil serta promotor perjuangan hak‑hak sipil untuk kelas menengah kota dan desa. Dalam kegiatannya El Barzon mampu menghimpun anggota yang terikat pada 2 juta kasus perbankan. Dalarn kegiatannya, dengan pendekatan litigasi dan nonlitigasi, El Barzon yang berarti traktor itu mampu menyelesaikan (negosisasi penyelesaian hutang) 15.000 kasus.

Di samping dua pelajaran penting tersebut di atas, krisis eko­nomi yang diikuti dengan reformasi politik, ekonomi, dan hukum itu telah pula memunculkan strategi‑strategi perlawanan baru; alat‑alat kerja baru; serta mendorong terjadinya peningkatan dan reposisi para aktor yang peduli pada berbagai masalah yang telah disebutkan tadi, yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian­bagian berikut. Seperti tampak dalam uraian pada bagian bagian terdahulu, berbagai organisasi masyarakat sipil sudah sejak lama terlibat dalam upaya‑upaya dan gerakan‑gerakan perbaikan kon­disi kehidupan berbagai kelompok masyarakat di Meksiko. Bahkan, sebagaimana diinformasikan Luis Hernandez Navarro'14, sebelum perlawanan Zapatista memuncak, aktivis‑aktivis UNORCA (Union Nacional de Organiciones Regionales Campe­sinas Autonomas)‑yaitu federasi organisasi petani regional yang menjadi tulang punggung suatu koalisi internasional organisasi tani, buruh tani, dan masyarakat adat yang bernama La Via Campesina atau The Peasant Road‑turut serta secara. aktif dalam percepatan proses pengorganisasian rakyat di Chiapas, yang ke­mudian berkembang menjadi suatu gerakan perlawanan yang sa­ngat solid di lapangan. Perubahan‑perubahan politik yang dipicu oleh krisis ekonomi tahun 1986, betapapun, memang telah mendorong partisipasi kelompok‑kelompok masyarakat sipil yang lebih besar. Partisipasi ini boleh dikatakan makin membesar lagi semenjak terjadinya perubahan struktur kekuasaan, betapapun minimnya, sebagai akibat pernilihan umum yang lebih baik. Me­mang, perlu diakui, tidak diperoleh informasi kuantitatif untuk mendukung pernyataan ini. Namun, mengacu pada kasus per­lawanan Zapatista, menurut Luis Hernadez Navarro, San Andres penting bukan saja karena hasilnya, tetapi juga untuk cara yang belum pernah ditemukan sebelumnya tempat masyarakat sipil ikut serta di dalamnya di dalam proses. Negosiasi itu melibatkan sektor‑sektor yang luas dalam masyarakat, yang disebut perhatian nasional dan internasional kepada isu masyarakat adat dan mengenalkan cara‑cara baru dalam berpolitik.

... pada gilirannya, ia menjadi aikon gerakan sosial baru. ***




kepal-kepal akaran

sementara dibawah tanah
kepal-kepal akaran
semakin mengeras
menunggu prosesi bakaran yang lain
gosong yang berikut



gertak ledak amarah bumi
gertak ledak amarah rakyat