(Puisi 25)
Tragedi Buyat
Oleh Agung Alit
Hatiku tersayat akan derita warga Buyat
Derita yang ditoreh tangan-tangan berkhianat
Buyat dirampok, disihir menjadi tambang tanpa tembang
Kini dari perut Buyat terburai limbah Mercuri laknat
Buyat tertampar
Andini Lensun terkapar,
Entah siapa esok menyusul
Tragedi Buyat, hikayat pejabat pusat
Tragedi Buyat, hikayat tak berakhlak
Tragedi Buyat, hikayat tak bertobat
Denpasar, 9 Agustus 2004 [25]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
selengkapnya
Minggu, 31 Mei 2009
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme dan Kedaulatan Pangan
Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, bahwa dewasa ini merupakan era bencana kemanusiaan bagi kaum Tani. Tragedi bencana kemanusiaan yang dihadapi kaum Tani ini terjadi dalam bentuk proses penyingkiran secara sistematik petani kecil sebagai produsen pangan. Proses peminggiran ini merupakan akibat kekalahan petani kecil dan konsumen dalam perebutan kebijakan pangan yang memihak pada Perusahaan Transnasional (TNC) bidang Agribisnis. Kekalahan para petani di arena kebijakan melawan TNCs bidang agribisnis raksasa tersebut segera membawa akibat tergusurnya para petani kecil dari sawah, tempat dimana mereka mencari nafkah dan menggantungkan kehidupan mereka.
Kekalahan petani kecil tersebut terjadi dipelbagai arena dan tingkatan. Sesungguhnya bencana tersebut telah terjadi sejak peradaban manusia menerima keyakinan dan mitos bahwa “Efficiency” sebagai satu satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan lingkungan alam, ekonomi, dan berbangsa. Mitos efisisensi ini berlanjut pada mitos lain, bahwa hanya TNC lah yang paling efisien, dan oleh karenanya, TNC yang dipercaya paling berhak sebagai penyedia pangan. Mitos ini kemudian diturunkan dalam bentuk kebijakan negara seputar siapa yang secara legal berhak sebagai penyedia atau produsen pangan. Kekalahan ideologi dan politik ekonomi ini terjadi dalam berbagai arena kebijakan sekitar hak paten dan pemilikan kehidupan melalui perjanjian internasional mengenai
Dipetik dari artikel Mansour Fakiq Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani yang menjadi pengantar buku Dusta Industri Pangan (Insist Pers)
Selengkapnya
Kekalahan petani kecil tersebut terjadi dipelbagai arena dan tingkatan. Sesungguhnya bencana tersebut telah terjadi sejak peradaban manusia menerima keyakinan dan mitos bahwa “Efficiency” sebagai satu satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan lingkungan alam, ekonomi, dan berbangsa. Mitos efisisensi ini berlanjut pada mitos lain, bahwa hanya TNC lah yang paling efisien, dan oleh karenanya, TNC yang dipercaya paling berhak sebagai penyedia pangan. Mitos ini kemudian diturunkan dalam bentuk kebijakan negara seputar siapa yang secara legal berhak sebagai penyedia atau produsen pangan. Kekalahan ideologi dan politik ekonomi ini terjadi dalam berbagai arena kebijakan sekitar hak paten dan pemilikan kehidupan melalui perjanjian internasional mengenai
Dipetik dari artikel Mansour Fakiq Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani yang menjadi pengantar buku Dusta Industri Pangan (Insist Pers)
Selengkapnya
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Sabtu, 30 Mei 2009
E-Book. Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Saat ini krisis pangan dan finansial, keduanya, menjadi pemicu terjadinya perampasan lahan secara global. Di satu sisi, pemerintahan negara yang rentan pasokan pangannya
dan menggantungkan kebutuhan pangan penduduknya pada impor melakukan perampasan lahan pertanian secara besarbearan di luar negeri untuk kebutuhan produksi mereka sendiri. Sementara di sisi lain, perusahaan pangan dan investor swasta, yang rakus akan keuntungan di saat terjadi krisis bekepanjangan, melihat investasi atas lahan pertanian di luar negeri sebagai sebuah sumber utama keuntungan yang baru. Alhasil, lahan pertanian yang subur sedikit demi sedikit telah menjadi milik swasta dan terpusat. Jika tak dikendalikan, perampasan lahan pertanian yang dilakukan secara global ini akan berdampak pada berakhirnya model pertanian skala kecil dan kehidupan pedesaan di banyak tempat di seluruh dunia.
INDIES bekerjasama dengan GRAIN menerbitkan briefing paper berjudul "Seized; tentang Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008". Publikasi bisa didownload disini.
Terdapat pula dokumentasi tentang kasus-kasus perampasan tanah secara global disini.
kontak :
Syamsul Ardiansyah
Institute for National and Democracy Studies
Jalan Mampang Prapatan XIII RT 03 RW 03 Nomor 03
Kelurahan Tegal Parang, Mampang Prapatan
Jakarta Selatan 12790
Telp/Faks: +62-21-7986468
E-mail: sekretariat.indies@gmail.com, indies_indonesia@yahoo.com
Blog: http://indiesblog.wordpress.com/
Laporan Grain Di Media Cetak Nasional dan Internasional
Negara Maju "Merampas" Lahan
Tanggal : 05 Jan 2009
Sumber : Kompas
Kuala Lumpur, Minggu - Krisis pangan dunia dan krisis finansial global telah mendorong negara-negara maju untuk melakukan ”perampasan” lahan di negara-negara miskin. Perampasan lahan itu akan memperburuk kemiskinan dan kekurangan gizi di negara miskin.
Negara-negara yang lapar akan sumber daya cepat-cepat membeli lahan pertanian yang luas di negara-negara Asia dan Afrika guna memenuhi kebutuhan mereka. Tren global, termasuk tingginya harga minyak dunia, maraknya biofuel, dan perlambatan perekonomian global, memacu negara-negara yang bergantung pada impor untuk mengamankan sumber pangan mereka.
”Krisis pangan dan finansial saat ini telah memicu kecenderungan baru perampasan lahan,” ujar kelompok hak asasi bidang pertanian yang berbasis di Spanyol, Grain, dalam laporan baru-baru ini, seperti dikutip AFP, Minggu (4/1).
”Akibat kecenderungan itu, tanah pertanian yang subur secara perlahan diswastanisasi dan dimiliki perusahaan asing,” ungkap laporan Grain.
Sejumlah kontrak lahan antara negara maju dan negara miskin dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan pangan di negara maju. Perjanjian lainnya diwujudkan dalam bentuk mesin penghasil uang, seperti pabrik kelapa sawit dan karet.
Dibawa keluar
Salah satu perjanjian terbesar dilakukan oleh perusahaan milik Korea Selatan, Daewoo Logistics. Pada November 2008, Daewoo Logistics menyatakan akan menanam modal sebesar 6 miliar dollar AS untuk mengembangkan lahan seluas 1,3 juta hektar di Madagaskar.
Rencananya, Daewoo Logistics akan memproduksi 4 juta ton jagung dan 500.000 ton kelapa sawit per tahun. Sebagian besar hasil produksi akan dibawa keluar Madagaskar, negara yang masih mengandalkan bantuan pangan dari Program Pangan Dunia (WFP).
Di Kamboja, negara kaya minyak, Kuwait, menyediakan dana pinjaman sebesar 546 juta dollar AS sebagai imbalan atas produksi pertanian. Anggota parlemen Kamboja dari kubu oposisi, SonChhay, mengatakan, dia curiga mengapa negara kaya seperti Kuwait memerlukan lahan untuk ditanami padi dan bukannya mengimpor beras.
”Petani Kamboja memerlukan tanah itu,” ujarnya.
Di Filipina, salah satu wilayah panas perjanjian tanah, serangkaian kontrak lahan bertentangan dengan tuntutan reformasi agraria, termasuk distribusi lahan.
”Ini akan meningkatkan persoalan ketiadaan lahan, kurangnya lahan bagi petani Filipina,” kata anggota parlemen, Rafael Mariano.
Namun, pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo menyatakan telah membuka pembicaraan dengan Qatar soal kontrak sedikitnya 100.000 hektar lahan pertanian.
Di Laos, para pakar memperkirakan 2 juta hektar hingga 3 juta hektar lahan pertanian telah ”dihadiahkan” kepada pihak asing secara tidak terkendali.
Korup
Walden Bello dari kelompok Focus on the Global South yang berbasis di Thailand mengatakan, resesi global tampaknya tidak akan menghentikan kecenderungan kontrak lahan oleh negara kaya. ”Kita bicara soal pihak swasta asing yang memanfaatkan kontrak pemerintah untuk memperkaya diri,” katanya.
Kebanyakan perjanjian semacam itu, menurut Walden Bello, banyak terjadi di negara miskin yang korup. Pemerintahan negara itu berdalih bahwa proyek tersebut akan membawa lapangan kerja dan memperbaiki infrastruktur.
Bello memperkirakan perjanjian kontrak lahan oleh negara kaya di negara miskin akan meningkat. Hal itu akan memaksa kaum petani dari daerah pedesaan miskin pergi ke kota dan, dalam kondisi krisis global seperti sekarang, menambah jumlah penganggur.
”Ledakan (kontrak lahan) khususnya terjadi di negara-negara dengan tingkat ketiadaan lahan pertanian tinggi, seperti Filipina, di mana 7 dari 10 warga desa tidak memiliki akses tanah,” kata Bello.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan bahaya hilangnya lahan pertanian yang digantikan dengan tanaman industri. (afp/fro)
dan menggantungkan kebutuhan pangan penduduknya pada impor melakukan perampasan lahan pertanian secara besarbearan di luar negeri untuk kebutuhan produksi mereka sendiri. Sementara di sisi lain, perusahaan pangan dan investor swasta, yang rakus akan keuntungan di saat terjadi krisis bekepanjangan, melihat investasi atas lahan pertanian di luar negeri sebagai sebuah sumber utama keuntungan yang baru. Alhasil, lahan pertanian yang subur sedikit demi sedikit telah menjadi milik swasta dan terpusat. Jika tak dikendalikan, perampasan lahan pertanian yang dilakukan secara global ini akan berdampak pada berakhirnya model pertanian skala kecil dan kehidupan pedesaan di banyak tempat di seluruh dunia.
INDIES bekerjasama dengan GRAIN menerbitkan briefing paper berjudul "Seized; tentang Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008". Publikasi bisa didownload disini.
Terdapat pula dokumentasi tentang kasus-kasus perampasan tanah secara global disini.
kontak :
Syamsul Ardiansyah
Institute for National and Democracy Studies
Jalan Mampang Prapatan XIII RT 03 RW 03 Nomor 03
Kelurahan Tegal Parang, Mampang Prapatan
Jakarta Selatan 12790
Telp/Faks: +62-21-7986468
E-mail: sekretariat.indies@gmail.com, indies_indonesia@yahoo.com
Blog: http://indiesblog.wordpress.com/
Laporan Grain Di Media Cetak Nasional dan Internasional
Negara Maju "Merampas" Lahan
Tanggal : 05 Jan 2009
Sumber : Kompas
Kuala Lumpur, Minggu - Krisis pangan dunia dan krisis finansial global telah mendorong negara-negara maju untuk melakukan ”perampasan” lahan di negara-negara miskin. Perampasan lahan itu akan memperburuk kemiskinan dan kekurangan gizi di negara miskin.
Negara-negara yang lapar akan sumber daya cepat-cepat membeli lahan pertanian yang luas di negara-negara Asia dan Afrika guna memenuhi kebutuhan mereka. Tren global, termasuk tingginya harga minyak dunia, maraknya biofuel, dan perlambatan perekonomian global, memacu negara-negara yang bergantung pada impor untuk mengamankan sumber pangan mereka.
”Krisis pangan dan finansial saat ini telah memicu kecenderungan baru perampasan lahan,” ujar kelompok hak asasi bidang pertanian yang berbasis di Spanyol, Grain, dalam laporan baru-baru ini, seperti dikutip AFP, Minggu (4/1).
”Akibat kecenderungan itu, tanah pertanian yang subur secara perlahan diswastanisasi dan dimiliki perusahaan asing,” ungkap laporan Grain.
Sejumlah kontrak lahan antara negara maju dan negara miskin dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan pangan di negara maju. Perjanjian lainnya diwujudkan dalam bentuk mesin penghasil uang, seperti pabrik kelapa sawit dan karet.
Dibawa keluar
Salah satu perjanjian terbesar dilakukan oleh perusahaan milik Korea Selatan, Daewoo Logistics. Pada November 2008, Daewoo Logistics menyatakan akan menanam modal sebesar 6 miliar dollar AS untuk mengembangkan lahan seluas 1,3 juta hektar di Madagaskar.
Rencananya, Daewoo Logistics akan memproduksi 4 juta ton jagung dan 500.000 ton kelapa sawit per tahun. Sebagian besar hasil produksi akan dibawa keluar Madagaskar, negara yang masih mengandalkan bantuan pangan dari Program Pangan Dunia (WFP).
Di Kamboja, negara kaya minyak, Kuwait, menyediakan dana pinjaman sebesar 546 juta dollar AS sebagai imbalan atas produksi pertanian. Anggota parlemen Kamboja dari kubu oposisi, SonChhay, mengatakan, dia curiga mengapa negara kaya seperti Kuwait memerlukan lahan untuk ditanami padi dan bukannya mengimpor beras.
”Petani Kamboja memerlukan tanah itu,” ujarnya.
Di Filipina, salah satu wilayah panas perjanjian tanah, serangkaian kontrak lahan bertentangan dengan tuntutan reformasi agraria, termasuk distribusi lahan.
”Ini akan meningkatkan persoalan ketiadaan lahan, kurangnya lahan bagi petani Filipina,” kata anggota parlemen, Rafael Mariano.
Namun, pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo menyatakan telah membuka pembicaraan dengan Qatar soal kontrak sedikitnya 100.000 hektar lahan pertanian.
Di Laos, para pakar memperkirakan 2 juta hektar hingga 3 juta hektar lahan pertanian telah ”dihadiahkan” kepada pihak asing secara tidak terkendali.
Korup
Walden Bello dari kelompok Focus on the Global South yang berbasis di Thailand mengatakan, resesi global tampaknya tidak akan menghentikan kecenderungan kontrak lahan oleh negara kaya. ”Kita bicara soal pihak swasta asing yang memanfaatkan kontrak pemerintah untuk memperkaya diri,” katanya.
Kebanyakan perjanjian semacam itu, menurut Walden Bello, banyak terjadi di negara miskin yang korup. Pemerintahan negara itu berdalih bahwa proyek tersebut akan membawa lapangan kerja dan memperbaiki infrastruktur.
Bello memperkirakan perjanjian kontrak lahan oleh negara kaya di negara miskin akan meningkat. Hal itu akan memaksa kaum petani dari daerah pedesaan miskin pergi ke kota dan, dalam kondisi krisis global seperti sekarang, menambah jumlah penganggur.
”Ledakan (kontrak lahan) khususnya terjadi di negara-negara dengan tingkat ketiadaan lahan pertanian tinggi, seperti Filipina, di mana 7 dari 10 warga desa tidak memiliki akses tanah,” kata Bello.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan bahaya hilangnya lahan pertanian yang digantikan dengan tanaman industri. (afp/fro)
Label:
E-Book,
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Jangan jadikan Kasus Lapindo Mainan Kampanye Capres
Ambil Tindakan, Pulihkan Hak-hak Korban Lapindo!
Pernyataan Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo
Hari ini, genap 3 tahun kasus lumpur Lapindo berujung berlanjutnya pelanggaran HAM oleh korporasi bersama pemerintahan SBY-JK. Hasinya, aset keluarga Bakrie – pemilik Lapindo, di bisnis energi, perkebunan, properti, baja, televisi, telekomunikasi, dan infrastruktur, tahun lalu meningkat 83,66%, sekitar Rp 42,9 Trilyun (Warta Ekonomi, 2009). Tapi korbannya, makin menderita, lebih 10 ribu rumah tenggelam lumpur, lahan terdampak meluas hingga lebih 800 ha. Mereka kehilangan tempat tinggal, gangguan kesehatan, krisis air dan putusnya pendidikan.
selengkapnya
Pernyataan Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo
Hari ini, genap 3 tahun kasus lumpur Lapindo berujung berlanjutnya pelanggaran HAM oleh korporasi bersama pemerintahan SBY-JK. Hasinya, aset keluarga Bakrie – pemilik Lapindo, di bisnis energi, perkebunan, properti, baja, televisi, telekomunikasi, dan infrastruktur, tahun lalu meningkat 83,66%, sekitar Rp 42,9 Trilyun (Warta Ekonomi, 2009). Tapi korbannya, makin menderita, lebih 10 ribu rumah tenggelam lumpur, lahan terdampak meluas hingga lebih 800 ha. Mereka kehilangan tempat tinggal, gangguan kesehatan, krisis air dan putusnya pendidikan.
selengkapnya
Jumat, 29 Mei 2009
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme dan Persoalan Agraria
Globalisasi neoliberal tidak bisa menghasilkan pemerataan (equality) tapi justru memperbesar ketimpangan (inequality) itu. Kebijakan-kebijakan neoliberal itu bersenjatakan apa yang sekarang ini diteorisasi oleh Akram-Lodhi (2007) sebagai neoliberal enclosure dengan ragam variasi substansi dan penampakannya. Yang dimaksud dengan neoliberal enclosure dapat dibedakan dengan bentuk-bentuk enclosure yang klasik seperti perampasan tanah dan kekayaan alam para petani untuk badan-badan usaha raksasa milik negara atau swasta, atau proses “paksa” petani menjadi tenaga kerja bebas buruh upahan, yaitu “untuk memperdalam dan memperkokoh hubungan kepemilikan kapitalistik dengan mengurangi secara relatif kekuasaan rakyat miskin pedesaan”. Hal ini dicapai melalui penggunaan proses-proses pasar yang dikombinasi dengan intervensi pemerintah. Dalam arti ini, neoliberal enclosure adalah hasil-samping dari proses akumulasi kekayaan yang menggunakan rasionalitas ekonomi. Namun pada tingkat permulaan, neoliberal enclosure mensyaratkan pengukuhan status kepemilikan pribadi atas tanah dan kekayaan alam, lalu kemudian kekayaan modal yang diperoleh dari usaha-usaha produksi maupun perdagangan. Neoliberal enclosure itu telah menguatkan struktur agraria yang ‘terbelah dua’ (bifurcated agrarian structure): Satu sub-sektor berorientasi ekspor, modal yang lebih intensif dan berhubungan dengan TNC (Transnasional Corporation), namun kurang dalam integrasi hubungan hulu-hilir, dan satu sub-sektor lainnya adalah ragam produksi untuk kebutuhan domestik, lebih padat-karya, hubungan hulu-hilir lebih kuat, namun tidak homogen (Akram-Lodhi, 2007:1446).
Dipetik dari artikel Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21 di Indoprogress
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
sumber :
http://kajian-indoprogress.blogspot.com/2008/07/gelombang-baru-reforma-agraria-di-awal_02.html
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Dipetik dari artikel Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21 di Indoprogress
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
sumber :
http://kajian-indoprogress.blogspot.com/2008/07/gelombang-baru-reforma-agraria-di-awal_02.html
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme = Fundamentalis Pasar
Kalau istilah neoliberalisme membingungkan, mungkin ada baiknya diganti dengan istilah ‘fundamentalisme pasar’, supaya lebih mudah dimengerti dalam konteks ketika fundamentalisme agama juga sedang ganas. Dan, cara paling sederhana untuk memahami fundamentalisme pasar bukan terletak pada apakah paket kebijakan melibatkan peran pemerintah. Itu kurang relevan! Ada dua cara sederhana. Pertama, silahkan cermati apakah semakin banyak bidang kehidupan dalam tata hidup bersama (di luar bidang ekonomi) mengalami komersialisasi, dari bidang pendidikan sampai kesehatan, dari hukum sampai prasarana publik. Kedua, apakah kegiatan ekonomi semakin dikuasai oleh dagang uang, dan bukan oleh transaksi barang/jasa riil.
Seandainya penjelasan sederhana ini berguna, silahkan pakai. Tetapi bila tidak, ada satu hal yang semoga boleh saya haturkan: saya menulis ini bukan karena ingin menjadi menteri, apalagi wakil presiden.
Dipetik dari artikel B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Sesat Neoliberalisme di Kompas 28 Mei 2009
sumber :
http://indoprogress.blogspot.com/2009/05/sesat-neoliberalisme.html
Seandainya penjelasan sederhana ini berguna, silahkan pakai. Tetapi bila tidak, ada satu hal yang semoga boleh saya haturkan: saya menulis ini bukan karena ingin menjadi menteri, apalagi wakil presiden.
Dipetik dari artikel B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Sesat Neoliberalisme di Kompas 28 Mei 2009
sumber :
http://indoprogress.blogspot.com/2009/05/sesat-neoliberalisme.html
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme dan Negara
MUSUH kaum neoliberal adalah negara. Mereka memandang bahwa eksistensi negara itu kontradiktif bagi eksistensi pasar. Negara dipandang merusak mekanisme pasar, sehingga menimbulkan aneka macam distorsi. Milton Friedman, guru kaum neoliberal, memang tidak mau menghapus negara sama sekali. Tapi ia buru-buru mengatakan: “What the market does is to reduce greatly the range of issues that must be decided through political means, and thereby to minimize the extent to which government need participate directly in the game.” (Capitalism and Freedom, 15). Kampanye mereka selalu: negara harus sekecil-kecilnya, dan pasar seluas-luasnya.
Dipetik dari artikel I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003) Neoliberalisme dan Warganegara
Selengkapnya
http://indoprogress.blogspot.com/2009/05/neoliberalisme-dan-warganegara.html
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Dipetik dari artikel I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003) Neoliberalisme dan Warganegara
Selengkapnya
http://indoprogress.blogspot.com/2009/05/neoliberalisme-dan-warganegara.html
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
| Reaksi: |
Surat-surat dari Ladang (Ecosida) Lumpur Lapindo Untuk Calon Presiden
* ecosida : pembunuhan ekologi, penghancuran tatanan sosial dan lingkungan hidup secara massif dan meluas
Dari Astrid Karindra Untuk Calon Presiden RI
Astrid Karindra, 13 tahun, mencurahkan isi hatinya yang selama ini ia pendam. "Jujur saya sebagai korban lumpur, saya merasa sangat dirugikan, sedih dan miris melihat para korban lumpur yang terbengkalai...," tulisnya dalam surat untuk Calon Presiden RI. Astrid juga menulis sajak "Jangan Sakiti Kotaku Lagi."
Kepada Yth.
Calon Presiden RI
Dengan hormat
Bersama surat ini saya bernama Astrid mengeluarkan secuil curahan hati yang selama ini saya pendam yaitu mengenai:
1. Fasilitas jalan antara Porong-Sidoarjo-Surabaya yang kerap kali macet sehingga sangat menyita waktu dan tenaga selain itu juga karena pengaruh cuaca. Bila musim kemarau suhu udara naik sehingga menimbulkan polusi dan debu. Bila musim hujan terdapat lubang- lubang sekitar jalan raya yang membahayakan pengendara dan dapat mereggut nyawa orang lain.
2. Kekhawatiran disebabkan oleh lumpur yang semakin hari semakin membesar, keprofesionalnya tenaga kerja tanggul Porong akan runtuh sedikit demi sedikit, selain itu juga karena cuaca yang tidak menentu yang akan menyebabkan perluasan daerah lumpur.
3. Ekonomi, tempat tinggal, serta pekerjaan. Hal ini pasti dibicarakan dan dirasakan oleh orang lain, tetapi para korban lumpur termasuk saya mengalami masalah ekonomi yang cukup hebat, sehingga meningkatkan pengangguran, selain itu banyak orang yang memilih jalan singkat atau melakukan tindak kejahatan yang sudah pasti merugikan. Hal ini di karenakan usaha yang terbengkalai, krisis ekonomi dunia mengakibatkan harga sembako yang semakin hari semakin meningkat. Sedangkan tentang tempat tinggal rata-rata para korban lumpur hanya memiliki rumah saja dan sanak saudaranya bertempat tinggal jauh. Jadi mereka lebih memilih bertempat tinggal sementara di penampungan. Tetapi di penampungan jaminan kesehatan, kebersihan, dan fasilitas sangat kurang sehingga sangat meresahkan.
4. Kesehatan. Hal ini sangat penting dibicarakan mengingat adanya krisis ekonomi global banyak warga korban lumpur yang sakit karena stress, selain itu juga karena udara yang tercemar karena runtuhan tol, bahan dari tanggul yang berterbangan di udara dan mesin-mesin berat.
Jujur saya sebagai korban lumpur, saya merasa sangat dirugikan, sedih dan miris melihat para korban lumpur yang terbengkalai tetapi mereka menghadapi masalahnya dengan semangat dan tujuan yang kuat serta senyuman.
Demikian curahan hati yang sudah lama mengganjal di hati. atas perhatiannya
Hormat saya
Astrid K.A
Asal Perumtas I, Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo
Puisi Astrid
Jangan Sakiti Kotaku Lagi
Sendiri dihempas keheningan
Terdiam renungi kisah hidup
Berjalan tiada tujuan
Berharap hari cerah kan datang
Terjebak dalam dentingan waktu
Terhanyut dalam emosi jiwa
Gelap mengusik hatiku
Menggoncang pikiranku
Oh Tuhan...
Jangan kau biarkan
Negriku direnggut
Negriku dihempas
Tinggal puing-puing abadi
Tuhan...
Jangan kau biarkan
Kami menatap asa tanpa batas
Hanya mengharap pertolongan-Mu
Hanya meminta kotaku kan
KEMBALI...
Baca surat-surat lainnya di http://korbanlumpur.info/kabar-korban
Dari Astrid Karindra Untuk Calon Presiden RI
Astrid Karindra, 13 tahun, mencurahkan isi hatinya yang selama ini ia pendam. "Jujur saya sebagai korban lumpur, saya merasa sangat dirugikan, sedih dan miris melihat para korban lumpur yang terbengkalai...," tulisnya dalam surat untuk Calon Presiden RI. Astrid juga menulis sajak "Jangan Sakiti Kotaku Lagi."
Kepada Yth.
Calon Presiden RI
Dengan hormat
Bersama surat ini saya bernama Astrid mengeluarkan secuil curahan hati yang selama ini saya pendam yaitu mengenai:
1. Fasilitas jalan antara Porong-Sidoarjo-Surabaya yang kerap kali macet sehingga sangat menyita waktu dan tenaga selain itu juga karena pengaruh cuaca. Bila musim kemarau suhu udara naik sehingga menimbulkan polusi dan debu. Bila musim hujan terdapat lubang- lubang sekitar jalan raya yang membahayakan pengendara dan dapat mereggut nyawa orang lain.
2. Kekhawatiran disebabkan oleh lumpur yang semakin hari semakin membesar, keprofesionalnya tenaga kerja tanggul Porong akan runtuh sedikit demi sedikit, selain itu juga karena cuaca yang tidak menentu yang akan menyebabkan perluasan daerah lumpur.
3. Ekonomi, tempat tinggal, serta pekerjaan. Hal ini pasti dibicarakan dan dirasakan oleh orang lain, tetapi para korban lumpur termasuk saya mengalami masalah ekonomi yang cukup hebat, sehingga meningkatkan pengangguran, selain itu banyak orang yang memilih jalan singkat atau melakukan tindak kejahatan yang sudah pasti merugikan. Hal ini di karenakan usaha yang terbengkalai, krisis ekonomi dunia mengakibatkan harga sembako yang semakin hari semakin meningkat. Sedangkan tentang tempat tinggal rata-rata para korban lumpur hanya memiliki rumah saja dan sanak saudaranya bertempat tinggal jauh. Jadi mereka lebih memilih bertempat tinggal sementara di penampungan. Tetapi di penampungan jaminan kesehatan, kebersihan, dan fasilitas sangat kurang sehingga sangat meresahkan.
4. Kesehatan. Hal ini sangat penting dibicarakan mengingat adanya krisis ekonomi global banyak warga korban lumpur yang sakit karena stress, selain itu juga karena udara yang tercemar karena runtuhan tol, bahan dari tanggul yang berterbangan di udara dan mesin-mesin berat.
Jujur saya sebagai korban lumpur, saya merasa sangat dirugikan, sedih dan miris melihat para korban lumpur yang terbengkalai tetapi mereka menghadapi masalahnya dengan semangat dan tujuan yang kuat serta senyuman.
Demikian curahan hati yang sudah lama mengganjal di hati. atas perhatiannya
Hormat saya
Astrid K.A
Asal Perumtas I, Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo
Puisi Astrid
Jangan Sakiti Kotaku Lagi
Sendiri dihempas keheningan
Terdiam renungi kisah hidup
Berjalan tiada tujuan
Berharap hari cerah kan datang
Terjebak dalam dentingan waktu
Terhanyut dalam emosi jiwa
Gelap mengusik hatiku
Menggoncang pikiranku
Oh Tuhan...
Jangan kau biarkan
Negriku direnggut
Negriku dihempas
Tinggal puing-puing abadi
Tuhan...
Jangan kau biarkan
Kami menatap asa tanpa batas
Hanya mengharap pertolongan-Mu
Hanya meminta kotaku kan
KEMBALI...
Baca surat-surat lainnya di http://korbanlumpur.info/kabar-korban
Renungan Buyat [Hikayat II] : 5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat
(Puisi 24)
Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral
Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...
Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?
Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka
Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi
Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm
Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar]
-----------------------------------------------------------------------------
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
selengkapnya
Di layar kulihat sang pejabat mengabarkan berita gembira
"Teluk Buyat telah steril"
Diiringi meriah tepukan sang penjilat palsu
Dalam rengkuhan moral yang tak bermoral
Di media kubaca juga tentangnya
"Pejabat menolak mencicipi Ikan Teluk Buyat"
Beralas sejuta macam kata yang dikarang secepat kilat
Bermandi keringat kepalsuan akan peduli...
Hai Sang Penguasa....
Lihatlah tangan-tangan kecil mereka
Menggapai yang tak mungkin dapat tergapai
Lihatlah peluh tulus mereka
Haruskah mereka menanggung semua ini?
Haruskah mereka derita semua ini?
Wahai Sang Pejabat....
Ingatlah setiap kata yang engkau ujar
Catatlah setiap momen yang engkau jalani
Sedikit ucapmu begitu besar di hati mereka
Sedikit tindakmu begitu bermakna di hari mereka
Tolong....tolonglah....
Jangan pernah pungkiri apa yang terjadi
Jangan pernah ingkari apa yang terjadi
Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:47 pm
Ayewith
[Untuk sang pejabat yang plin-plan menyakiti hati sang jelata...Allahu Akbar]
-----------------------------------------------------------------------------
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
selengkapnya
Rabu, 27 Mei 2009
Undangan : Jumat Hitam Untuk 3 Tahun (Ecosida) Lapindo
* ecosida : pembunuhan ekologi, penghancuran tatanan sosial dan lingkungan hidup secara massif dan meluas
SatuDunia, Jakarta. Terkait dengan 3 tahun lumpur Lapindo, koalisi LSM menyerukan kepada masyarakat untuk mengenakan baju hitam, tanda berduka, pada hari Jum’at (29/5) bertepatan dengan 3 tahun lumpur Lapindo. Koalisi LSM di Jakarta sendiri akan mengadakan aksi dari jalan Rasuna Said hingga Bundaran HI pada hari tersebut.
29 Mei 2006 lalu lumpur itu keluar dari dalam tanah, akibat aktivitas pengeboran PT. Lapindo Brantas (Bakrie Group) di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur menyisakan lautan lumpur, menenggelamkan tempat tinggal & fasilitas sosial warga (sarana pendidikan, ibadah, kesehatan, transportasi, dll), sumber penghasilan warga (sawah, tambak, dll)...
Warga kehilangan tempat tinggal, mata pencariannya Warga mengalami gangguan mental/psikologis, kesehatan Alam dan lingkungan hancur
Di atas sana mereka yang merupakan sumber masalah terus berkelit dan lempar tanggung jawab Diluar sana mereka yang menjadi sumber masalah terus memupuk kekayaan dari kerajaan bisnisnya Diluar sana mereka yang menjadi sumber masalah terus berkampanye mengatasnamakan kesejahteraan rakyat Menyambut warga dengan moncong senjata dan barikade berseragam Sementara belasan ribu warga yang menjadi korban sampai hari ini terus bertahan dan berupaya merebut hak mereka
Kini, 3 tahun sudah terlewati.Tak bisa lagi bicara pada negara dan korporasi Karena logika berfikir & bertindak mereka adalah logika profit & kekuasaan
Kami yang menolak untuk DIAM, Kami yang menolak untuk MENGALAH, Kami yang menolak untuk LUPA, Kami yang menolak untuk TIDAK PERDULI, Kami yang menolak sekedar bicara & mengeluh...
Kami yang juga menjadi korban dibawah sistem & mekanisme yang sama mengajak teman2 semua untuk melakukan Aksi & Kampanye Solidaritas Peringatan 3 Tahun Lumpur Lapindo pada:
Hari/Tanggal: Jumat, 29 Mei 2009
Waktu : Pukul 14.00 - selesai
Lokasi : Jl. Rasuna Said - Menteng - Bundaran HI
Untuk menunjukan rasa solidaritas dan duka kita diharapkan kepada masyarakat yang ada di Jakarta atau luar Jakarta untuk mengenakan pakaian berwarna hitam selama kegiatan berlangsung
(sumber http://satudunia.net/)
SatuDunia, Jakarta. Terkait dengan 3 tahun lumpur Lapindo, koalisi LSM menyerukan kepada masyarakat untuk mengenakan baju hitam, tanda berduka, pada hari Jum’at (29/5) bertepatan dengan 3 tahun lumpur Lapindo. Koalisi LSM di Jakarta sendiri akan mengadakan aksi dari jalan Rasuna Said hingga Bundaran HI pada hari tersebut.
29 Mei 2006 lalu lumpur itu keluar dari dalam tanah, akibat aktivitas pengeboran PT. Lapindo Brantas (Bakrie Group) di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur menyisakan lautan lumpur, menenggelamkan tempat tinggal & fasilitas sosial warga (sarana pendidikan, ibadah, kesehatan, transportasi, dll), sumber penghasilan warga (sawah, tambak, dll)...
Warga kehilangan tempat tinggal, mata pencariannya Warga mengalami gangguan mental/psikologis, kesehatan Alam dan lingkungan hancur
Di atas sana mereka yang merupakan sumber masalah terus berkelit dan lempar tanggung jawab Diluar sana mereka yang menjadi sumber masalah terus memupuk kekayaan dari kerajaan bisnisnya Diluar sana mereka yang menjadi sumber masalah terus berkampanye mengatasnamakan kesejahteraan rakyat Menyambut warga dengan moncong senjata dan barikade berseragam Sementara belasan ribu warga yang menjadi korban sampai hari ini terus bertahan dan berupaya merebut hak mereka
Kini, 3 tahun sudah terlewati.Tak bisa lagi bicara pada negara dan korporasi Karena logika berfikir & bertindak mereka adalah logika profit & kekuasaan
Kami yang menolak untuk DIAM, Kami yang menolak untuk MENGALAH, Kami yang menolak untuk LUPA, Kami yang menolak untuk TIDAK PERDULI, Kami yang menolak sekedar bicara & mengeluh...
Kami yang juga menjadi korban dibawah sistem & mekanisme yang sama mengajak teman2 semua untuk melakukan Aksi & Kampanye Solidaritas Peringatan 3 Tahun Lumpur Lapindo pada:
Hari/Tanggal: Jumat, 29 Mei 2009
Waktu : Pukul 14.00 - selesai
Lokasi : Jl. Rasuna Said - Menteng - Bundaran HI
Untuk menunjukan rasa solidaritas dan duka kita diharapkan kepada masyarakat yang ada di Jakarta atau luar Jakarta untuk mengenakan pakaian berwarna hitam selama kegiatan berlangsung
(sumber http://satudunia.net/)
Surat-surat dari Ladang (Ecosida) Lumpur Lapindo Untuk Calon Presiden
* ecosida : pembunuhan ekologi, penghancuran tatanan sosial dan lingkungan hidup secara massif dan meluas
'Surat untuk Bulan' - Letter for the Moon
Dulu, ketika desa itu masih ada, anak anak bermain dibawah bulan. Mereka bernyanyi dan berpegang tangan, berkejaran dengan bayang bayang. Kini, desa-desa itu telah tenggelam, semua diam, semua hilang, semua terbenam. Anak anak menulis surat kepada bulan, barangkali ia mendengar, teringat tarian dan dolanan dibawah purnamanya.
3 Tahun Lapindo telah menenggelamkan desa mereka. Dari pengungsian, mereka menuangkan harapannya
Dari Ermawati Untuk Calon Presiden RI
Dari pengungsian, Ermawati, 15 tahun, menulis sepucuk surat untuk calon presiden RI. "Bapak juga tak tahu kan bagaimana keadaan saya dan warga yang terkena bencana Lumpur Lapindo yang lain?" tulis Erma. "Kita semua di sini sangat menderita, kami tidur beralasan lantai, siang dan malam kita rasakan tanpa adanya rumah. Kami mandi harus antri padahal waktu terus berjalan, itu pun sering membuat anak yang sekolah sering telat dan itu pun menghambat jalannya belajar kita semua."
Berikut surat Ermawati selengkapnya:
Porong 22, Mei 2009
Kepada
Yth Bapak Capres
di tempat
Assalamualaikum Wr. Wb
Yang terhormat bapak Capres. Saya salah satu anak warga korban Lumpur Lapindo yang selama ini hidup di pengungsian Pasar Baru Porong. Saya ingin sekali mendapatkan pimpinan bangsa Negara ini dipimpin seorang yang bijaksana, jujur dan tulus dalam melakukan segala hal. Apalagi soal pendidikan, pendidikan di Negaraku ini sangat tertinggal, maka dari itu saya minta agar diberikan tempat pendidikan yang layak, dan anak-anak yang belum sekolah agar mendapatkan bimbingan sekolah atau diberikan sekolah gratis untuk orang yang tak mampu.
Bapak juga tak tahu kan bagaimana keadaan saya dan warga yang terkena bencana Lumpur Lapindo yang lain? Kita semua di sini sangat menderita, kami tidur beralasan lantai, siang dan malam kita rasakan tanpa adanya rumah. Kami mandi harus antri padahal waktu terus berjalan, itu pun sering membuat anak yang sekolah sering telat dan itu pun menghambat jalannya belajar kita semua.
Jika saja kita semua memiliki pemimpin yang baik dan berhati mulia pasti semua ini tidak akan terjadi. Dan kita semua sangat-sangat berharap dengan adanya capres yang baru hidup kita semua bisa berubah lebih baik dan tak ada lagi anak jalanan yang tinggal di bawah jembatan, karena mereka juga berhak untuk hidup layak.
Sekian dulu surat saya. Jika ada yang tidak berkenan di hati Bapak, saya mohon maaf sebesar-besarnya, dan mungkin dengan adanya surat saya ini hati Anda terbuka dan memberikan yang terbaik untuk rakyat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Ermawati (15 tahun)
Desa Renokenongo, kini tinggal di Dusun Kedungkambil
SMPN 2 Porong
Baca surat-surat lainnya di http://korbanlumpur.info/kabar-korban
Simak pula Kumpulan Cerpen dan Puisi Anak Korban Lapindo
Satu Dunia.net melaporkan bahwa pada pertengahan bulan April 2009 yang lalu Radio Suara Porong FM dan Sahabat Komunitas Kita menggelar lomba menulis cerpen bagi korban lumpur Lapindo. Nampaknya anak-anak ini sangat antusias dengan lomba ini hingga tercatat lomba diikuti oleh 93 siswa masing 14 siswa SMU, 30 siswa SMP, 49 siswa SD.
(Kumpulan Cerpen Karya Anak Korban Lapindo (Bagian I)
Kumpulan Cerpen ini dapat diunduh di
http://satudunia.net/?q=system/files/Cerpen+Anak+Korban+Lapindo+1.pdf
dan
http://satudunia.net/?q=system/files/Cerpen+karya+anak+korban+lapindo+2.pdf
Semoga kisah anak-anak ini mampu mengusik hati nurani atau bahkan membuat malu para elit politik yang hanya sibuk memikirkan kursi dan kekuasaan.
'Surat untuk Bulan' - Letter for the Moon
Dulu, ketika desa itu masih ada, anak anak bermain dibawah bulan. Mereka bernyanyi dan berpegang tangan, berkejaran dengan bayang bayang. Kini, desa-desa itu telah tenggelam, semua diam, semua hilang, semua terbenam. Anak anak menulis surat kepada bulan, barangkali ia mendengar, teringat tarian dan dolanan dibawah purnamanya.
3 Tahun Lapindo telah menenggelamkan desa mereka. Dari pengungsian, mereka menuangkan harapannya
Dari Ermawati Untuk Calon Presiden RI
Dari pengungsian, Ermawati, 15 tahun, menulis sepucuk surat untuk calon presiden RI. "Bapak juga tak tahu kan bagaimana keadaan saya dan warga yang terkena bencana Lumpur Lapindo yang lain?" tulis Erma. "Kita semua di sini sangat menderita, kami tidur beralasan lantai, siang dan malam kita rasakan tanpa adanya rumah. Kami mandi harus antri padahal waktu terus berjalan, itu pun sering membuat anak yang sekolah sering telat dan itu pun menghambat jalannya belajar kita semua."
Berikut surat Ermawati selengkapnya:
Porong 22, Mei 2009
Kepada
Yth Bapak Capres
di tempat
Assalamualaikum Wr. Wb
Yang terhormat bapak Capres. Saya salah satu anak warga korban Lumpur Lapindo yang selama ini hidup di pengungsian Pasar Baru Porong. Saya ingin sekali mendapatkan pimpinan bangsa Negara ini dipimpin seorang yang bijaksana, jujur dan tulus dalam melakukan segala hal. Apalagi soal pendidikan, pendidikan di Negaraku ini sangat tertinggal, maka dari itu saya minta agar diberikan tempat pendidikan yang layak, dan anak-anak yang belum sekolah agar mendapatkan bimbingan sekolah atau diberikan sekolah gratis untuk orang yang tak mampu.
Bapak juga tak tahu kan bagaimana keadaan saya dan warga yang terkena bencana Lumpur Lapindo yang lain? Kita semua di sini sangat menderita, kami tidur beralasan lantai, siang dan malam kita rasakan tanpa adanya rumah. Kami mandi harus antri padahal waktu terus berjalan, itu pun sering membuat anak yang sekolah sering telat dan itu pun menghambat jalannya belajar kita semua.
Jika saja kita semua memiliki pemimpin yang baik dan berhati mulia pasti semua ini tidak akan terjadi. Dan kita semua sangat-sangat berharap dengan adanya capres yang baru hidup kita semua bisa berubah lebih baik dan tak ada lagi anak jalanan yang tinggal di bawah jembatan, karena mereka juga berhak untuk hidup layak.
Sekian dulu surat saya. Jika ada yang tidak berkenan di hati Bapak, saya mohon maaf sebesar-besarnya, dan mungkin dengan adanya surat saya ini hati Anda terbuka dan memberikan yang terbaik untuk rakyat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Ermawati (15 tahun)
Desa Renokenongo, kini tinggal di Dusun Kedungkambil
SMPN 2 Porong
Baca surat-surat lainnya di http://korbanlumpur.info/kabar-korban
Simak pula Kumpulan Cerpen dan Puisi Anak Korban Lapindo
Satu Dunia.net melaporkan bahwa pada pertengahan bulan April 2009 yang lalu Radio Suara Porong FM dan Sahabat Komunitas Kita menggelar lomba menulis cerpen bagi korban lumpur Lapindo. Nampaknya anak-anak ini sangat antusias dengan lomba ini hingga tercatat lomba diikuti oleh 93 siswa masing 14 siswa SMU, 30 siswa SMP, 49 siswa SD.
(Kumpulan Cerpen Karya Anak Korban Lapindo (Bagian I)
Kumpulan Cerpen ini dapat diunduh di
http://satudunia.net/?q=system/files/Cerpen+Anak+Korban+Lapindo+1.pdf
dan
http://satudunia.net/?q=system/files/Cerpen+karya+anak+korban+lapindo+2.pdf
Semoga kisah anak-anak ini mampu mengusik hati nurani atau bahkan membuat malu para elit politik yang hanya sibuk memikirkan kursi dan kekuasaan.
Komik Nuklir Greenpeace Bergaya Flash Gordon
Greenpeace dan Muria Institute bulan April lali meluncurkan komik anti-nuklir “Nuclear Meltdown – A Message From the Darkness”, bertepatan dengan hari peringatan Tragedi Chernobyl, bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah yang terjadi pada 1986 lalu.
Peluncuran ini merupakan satu dari serangkaian acara yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok lokal Jepara yang menentang rencana pemerintah Indonesia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jawa Tengah. Komik ini sendiri membidik kaum muda di kawasan Asia Tenggara, dan beberapa waktu sebelumnya sudah diluncurkan di Filipina. (sumber http://www.greenpeace.org/seasia/id/)
selengkapnya
Silah unduh disini Nuclear Meltdown – A Message From the Darkness
Peluncuran ini merupakan satu dari serangkaian acara yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok lokal Jepara yang menentang rencana pemerintah Indonesia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jawa Tengah. Komik ini sendiri membidik kaum muda di kawasan Asia Tenggara, dan beberapa waktu sebelumnya sudah diluncurkan di Filipina. (sumber http://www.greenpeace.org/seasia/id/)
selengkapnya
Silah unduh disini Nuclear Meltdown – A Message From the Darkness
Selasa, 26 Mei 2009
Seri Lawan Neoliberalisme! Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi
Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi
(oleh : Puthut EA)
Mengapa hutan-hutan bakau itu dibabat habis berubah menjadi bangunan manis dipandang lalu cahaya indah menerobos dari rekahan jendela kristal. Mengapa juga pulau-pulau kecil yang kadangkala menjadi tempat peristirahatan kami, menjadi tanda-tanda bagi kami, mulai hilang, lenyap, tenggelam meninggalkan air keruh mengusir ikan-ikan untuk semakin menjauh. Dan kapal-kapal itu? Ratusan kapal-kapal dengan bendera dan wajah asing, kapal-kapal yang rakus dengan alat tangkap ikan yang juga rakus, kenapa dibiarkan berkeliaran mengumbar kehendak? Ikan-ikan semakin menjauh, sementara perjalanan kami juga telah semakin jauh. Bahan bakar semakin mahal. Di darat, harga-harga yang lain juga semakin mahal sementara jaring-jaring kami terlihat semakin ringkih, kapal memucat tanpa muatan yang memberat. Di atas sana, bendera dwi warna memudar karena waktu dan cuaca.

Di darat, anak-anak kami masih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dengan semangat masih juga bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…". Tentu, kami ingin mewariskan ke mereka ilmu perbintangan dan ketajaman mata ketika melihat dalam gelap lanskap dan dalam gelap air laut. Ingin kami bagikan ilmu sederhana agar mta kita tajam dengan cara memakan mata ikan yang masih segar.
Kami ingin mengajarkan bagaimana menyikapi badai dan gelombang, membaca musim, merapal mantra. Ingin kami kabarkan tentang bagaimana mengolah, memanggang dan mengasap ikan dengan sempurna. Tapi dewa-dewa telah pergi, ikan-ikan semakin menjauh dan tanda-tanda sudah tidak lagi cermat. Akankah kami mewariskan sesuatu yang segera menjadi binasa? Akankah kami mewariskan sesuatu yang dulu diwariskan oleh moyang kami, tetapi sebentar lagi hanya akan menjadi dongeng bahkan sederajat dengan omong kosong? Alangkah malangnya ketika rantai pengetahuan yang kukuh itu, yang dibangun dari ratusan tahun pengalaman, tiba-tiba bagi sebuah generasi hanya tak lebih menjadi bualan? Dan mungkin kami hanya akan merintih dalam hati, ketika dengan jujur anak cucu kami bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…"

????????????????????
Selengkapnya
(oleh : Puthut EA)
Mengapa hutan-hutan bakau itu dibabat habis berubah menjadi bangunan manis dipandang lalu cahaya indah menerobos dari rekahan jendela kristal. Mengapa juga pulau-pulau kecil yang kadangkala menjadi tempat peristirahatan kami, menjadi tanda-tanda bagi kami, mulai hilang, lenyap, tenggelam meninggalkan air keruh mengusir ikan-ikan untuk semakin menjauh. Dan kapal-kapal itu? Ratusan kapal-kapal dengan bendera dan wajah asing, kapal-kapal yang rakus dengan alat tangkap ikan yang juga rakus, kenapa dibiarkan berkeliaran mengumbar kehendak? Ikan-ikan semakin menjauh, sementara perjalanan kami juga telah semakin jauh. Bahan bakar semakin mahal. Di darat, harga-harga yang lain juga semakin mahal sementara jaring-jaring kami terlihat semakin ringkih, kapal memucat tanpa muatan yang memberat. Di atas sana, bendera dwi warna memudar karena waktu dan cuaca.
Di darat, anak-anak kami masih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dengan semangat masih juga bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…". Tentu, kami ingin mewariskan ke mereka ilmu perbintangan dan ketajaman mata ketika melihat dalam gelap lanskap dan dalam gelap air laut. Ingin kami bagikan ilmu sederhana agar mta kita tajam dengan cara memakan mata ikan yang masih segar.
Kami ingin mengajarkan bagaimana menyikapi badai dan gelombang, membaca musim, merapal mantra. Ingin kami kabarkan tentang bagaimana mengolah, memanggang dan mengasap ikan dengan sempurna. Tapi dewa-dewa telah pergi, ikan-ikan semakin menjauh dan tanda-tanda sudah tidak lagi cermat. Akankah kami mewariskan sesuatu yang segera menjadi binasa? Akankah kami mewariskan sesuatu yang dulu diwariskan oleh moyang kami, tetapi sebentar lagi hanya akan menjadi dongeng bahkan sederajat dengan omong kosong? Alangkah malangnya ketika rantai pengetahuan yang kukuh itu, yang dibangun dari ratusan tahun pengalaman, tiba-tiba bagi sebuah generasi hanya tak lebih menjadi bualan? Dan mungkin kami hanya akan merintih dalam hati, ketika dengan jujur anak cucu kami bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…"
????????????????????
Selengkapnya
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Fundamentalis Pasar Bebas dan Posisi Perempuan
Saya tidak berbicara tentang satu dua kasus. Kalau BPS mencatat bahwa jumlah total pekerja di bidang industri utama sebesar 102.049.857 juta jiwa dan hampir 50% diantaranya adalah perempuan, kita berurusan dengan jutaan buruh perempuan yang setiap hari berhadapan dengan ketidakpastian. Semakin banyak perusahaan yang menggunakan sistem kerja kontrak karena sistem ini memberi mereka keleluasaan memilih jenis buruh seperti apa yang sesedikit mungkin membebani biaya produksi dan mudah dikendalikan. Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa dampak sistem kerja kontrak terhadap kesehatan perempuan, termasuk kesehatan reproduksinya, sejak perusahaan tidak lagi menanggung biaya perawatan kesehatan, meniadakan cuti haid dan cuti hamil.
Ibu dan pengurus rumah tangga tidak mengalami nasib lebih baik. Pemotongan subsidi terhadap BBM dan layanan publik (istilah yang tidak tepat lagi digunakan di masa privatisasi ini) menambah beban luar biasa bagi pengeluaran rumah tangga sehari-hari. Mi instan dan gorengan dalam jumlah terbatas menjadi menu utama sehari-hari. Slogan 4 Sehat 5 Sempurna sudah lama tak terdengar. Para ibu yang suami-suaminya di PHK menanggung beban berlipat ganda karena harus mencari pekerjaan alternatif sambil tetap menjalankan tugas-tugas kerumahtanggaan. Tak jarang mereka menjadi sasaran keputusasaan suami yang tak kunjung memperoleh pekerjaan dalam bentuk kekerasan verbal pun fisik.
Di tengah suasana kecemasan, pemiskinan dan kekerasan meluas serupa ini kampiun-kampiun pasar bebas menebar ilusi dan mimpi tentang melimpah dan beragamnya komoditi pelengkap gaya hidup modern melalui industri hiburan. Sementara itu institusi finansial yang resmi pun tak resmi berlomba-lomba menawarkan kredit dengan bunga mencekik. Sudah bukan rahasia lagi bahwa masyarakat urban lebih memilih membeli telpon selular atau krim pemutih wajah daripada vitamin C. Ini seperti 'pepatah' lama 'Biar tak ada nasi, asal aksi.' Industri periklanan juga mengkooptasi ide-ide feminis tentang pemberdayaan perempuan dengan mendorong kemandirian dan kebebasan perempuan untuk membeli barang-barang kesenangannya.
Saya tidak akan memperkeruh potret suram yang sudah saya tampilkan agar saya tidak dituduh menyebarkan materi pornografi kemiskinan. Saya hanya ingin menegaskan keterkaitan antara kekacauan yang ditimbulkan kebijakan-kebijakan neoliberal dengan bangkitnya konservatisme agama. Salah satu obat paling manjur bagi epidemi kemasygulan adalah janji adanya surga dan juru selamat. Fenomena ini sudah mendunia dan tidak terbatas pada masyarakat agraris yang dianggap terbelakang. Di Amerika Serikat tumbuhnya gereja-gereja Evangelis berskala raksasa berjalan seiring dengan pemangkasan jaminan sosial bagi kaum miskin. Krisis ekonomi pada akhir 1990an di Korea Selatan mendorong pemerintah menegakkan prinsip-prinsip patriarkal dalam Konfusianisme untuk mencegah keresahan sosial. Dalam skema peredaman keresahan ini perempuan yang sebenarnya terkena dampak paling keras justru diharuskan berperan sebagai perawat dan penghibur para patriark yang galau. Kaum patriark di Indonesia bahkan membutuhkan pasukan perawat dan penghibur dari segala kalangan dan usia. Sampai di situlah batas kemajemukan yang mereka bayangkan!
Dipetik dari Pidato Kebudayaan I Gusti Agung Ayu Ratih Kita, Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan*
sumber :
http://sejarahsosial.blogspot.com/2008/11/kita-sejarah-dan-kebhinekaan-merumuskan.htm
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Ibu dan pengurus rumah tangga tidak mengalami nasib lebih baik. Pemotongan subsidi terhadap BBM dan layanan publik (istilah yang tidak tepat lagi digunakan di masa privatisasi ini) menambah beban luar biasa bagi pengeluaran rumah tangga sehari-hari. Mi instan dan gorengan dalam jumlah terbatas menjadi menu utama sehari-hari. Slogan 4 Sehat 5 Sempurna sudah lama tak terdengar. Para ibu yang suami-suaminya di PHK menanggung beban berlipat ganda karena harus mencari pekerjaan alternatif sambil tetap menjalankan tugas-tugas kerumahtanggaan. Tak jarang mereka menjadi sasaran keputusasaan suami yang tak kunjung memperoleh pekerjaan dalam bentuk kekerasan verbal pun fisik.
Di tengah suasana kecemasan, pemiskinan dan kekerasan meluas serupa ini kampiun-kampiun pasar bebas menebar ilusi dan mimpi tentang melimpah dan beragamnya komoditi pelengkap gaya hidup modern melalui industri hiburan. Sementara itu institusi finansial yang resmi pun tak resmi berlomba-lomba menawarkan kredit dengan bunga mencekik. Sudah bukan rahasia lagi bahwa masyarakat urban lebih memilih membeli telpon selular atau krim pemutih wajah daripada vitamin C. Ini seperti 'pepatah' lama 'Biar tak ada nasi, asal aksi.' Industri periklanan juga mengkooptasi ide-ide feminis tentang pemberdayaan perempuan dengan mendorong kemandirian dan kebebasan perempuan untuk membeli barang-barang kesenangannya.
Saya tidak akan memperkeruh potret suram yang sudah saya tampilkan agar saya tidak dituduh menyebarkan materi pornografi kemiskinan. Saya hanya ingin menegaskan keterkaitan antara kekacauan yang ditimbulkan kebijakan-kebijakan neoliberal dengan bangkitnya konservatisme agama. Salah satu obat paling manjur bagi epidemi kemasygulan adalah janji adanya surga dan juru selamat. Fenomena ini sudah mendunia dan tidak terbatas pada masyarakat agraris yang dianggap terbelakang. Di Amerika Serikat tumbuhnya gereja-gereja Evangelis berskala raksasa berjalan seiring dengan pemangkasan jaminan sosial bagi kaum miskin. Krisis ekonomi pada akhir 1990an di Korea Selatan mendorong pemerintah menegakkan prinsip-prinsip patriarkal dalam Konfusianisme untuk mencegah keresahan sosial. Dalam skema peredaman keresahan ini perempuan yang sebenarnya terkena dampak paling keras justru diharuskan berperan sebagai perawat dan penghibur para patriark yang galau. Kaum patriark di Indonesia bahkan membutuhkan pasukan perawat dan penghibur dari segala kalangan dan usia. Sampai di situlah batas kemajemukan yang mereka bayangkan!
Dipetik dari Pidato Kebudayaan I Gusti Agung Ayu Ratih Kita, Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan*
sumber :
http://sejarahsosial.blogspot.com/2008/11/kita-sejarah-dan-kebhinekaan-merumuskan.htm
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Formasi Negara Neoliberal dan Kebangkitan Komunalisme
Neoliberalisme yang selama ini dibayangkan pro pasar, pro indvidualisme, anti komunal, dan meminggirkan peran negara, pada kenyatannya kini mengalami kontradiksi-kontradiksi. Fenomena sosial politik mutakhir memperlihatkan bagaimana gerakan neoliberalisme justru mendorong kebangkitan komunalisme, sebagaimana diperlihatkan oleh pemimpinpemimpin negara maju. Kampanye anti fundamentalis oleh Bush di Amerika, atau kampanye anti pendatang yang diserukan oleh Howard di Australia, diakui atau tidak, berdampak pada menguatnya ikatan komunal antar sesama sebangsa. Kecurigaan berlebihan, yang bahkan mengarah ada rasisme, menjadi efek lanjutan yang tak terhindarkan. Aspek politis dan etis seringkali terlewatkan.
Dipetik dari dari artikel Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME
di Jurnal Mandatory.
sumber :
http://www.ireyogya.org/mandatory/Mandatory4%20Eric%20Hiariej.pdf
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Dipetik dari dari artikel Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME
di Jurnal Mandatory.
sumber :
http://www.ireyogya.org/mandatory/Mandatory4%20Eric%20Hiariej.pdf
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme dan Mitos Good Governance
Bila secara sistematik dilakukan dengan teknologi perundangan, maka telah terang bahwa good governance yang sangat menekankan proseduralisme melahirkan proses-proses pelanggaran hak asasi manusia yang difasilitasi oleh hukum yang ada atau dibentuknya (legalized violations of human rights). Dengan mitos ketatanegaraan (dan mantramantranya) good governance yang mengusung agenda-agenda pembaruan, menjelaskan pada kita bahwa hukum ditempatkan sekadar alat kekerasan dan sekaligus pelumas menuju mekanisme pasar bebas. Inilah apa yang publik percayai tentang kebaikankebaikan dalam good governance, yakni ‘GOOD for GOVERning Neoliberal performANCE.’
Dipetik dari artikel R. Herlambang Perdana Wiratraman Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal
sumber :
http://jurnalbersatu.wordpress.com/2008/10/10/good-governance-dan-mitos-ketatanegaraan-neo-liberal/
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Dipetik dari artikel R. Herlambang Perdana Wiratraman Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal
sumber :
http://jurnalbersatu.wordpress.com/2008/10/10/good-governance-dan-mitos-ketatanegaraan-neo-liberal/
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberalisme dan Kapitalisme Bencana
Kapitalisme bencana menjadi ekonomi baru dewasa ini. Bencana bisa dalam berbagai bentuk: persenjataan yang menghancurkan pusat tenaga listrik dan rumah sakit, alam yang menghancurkan infrastruktur, badai yang menyapu bersih kota dan desa, konflik ideologis, tsunami, gempa, Lumpur lapindo, dan sebagainya. Naomi Klein mengatakan bahwa “dewasa ini ketidakstabilan global tidak hanya menguntungkan pedagang senjata; juga membawa keuntungan yang luar biasa besarnya bagi sector keamanan yang menggunakan high technology, perusahaan konstruksi besar, perusahaan rumah sakit swasta, perusahaan minyak dan gas, perusahaan produksi pangan, dan tentu saja para kontraktor industri pertahanan.
Rekonstruksi bencana alam dan bencana perang atau konflik dewasa ini menjadi bisnis yang sangat besar dan sangat menguntungkan. Perusahaan-perusahaan besar merasa gembira jika ada bencana (perang atau bencana alam), dan jika tidak ada bencana mereka akan memicu terjadinya bencana. Untuk rekonstruksi Iraq, dana yang digelontorkan sebesar $ 30 milyard, untuk rekonstruksi tsunami di Asia sebesar $ 13 milyar, dan untuk New Orleans dan Gulf Coast sebesar $ 110 milyar.
Pendapatan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rekonstruksi cukup untuk memicu boom ekonomi. Perusahaan-perusahaan gas dan minyak sangat dekat dengan ekonomi bencana, baik sebagai penyebab utama bencana maupun sebagai penerima manfaat utama dari bencana tersebut. Saking besarnya pengaruh perusahaan minyak dan gas dan besarnya keuntungan yang diperoleh dari bencana, Naomi Klein menyebut perusahaan-perusahaan minyak dan gas ini sebagai “honorary adjunct of the disaster-capitalism complex”.
Dipetik dari artikel Don Marut KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME di tikarpandan.org
Selengkapnya
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Rekonstruksi bencana alam dan bencana perang atau konflik dewasa ini menjadi bisnis yang sangat besar dan sangat menguntungkan. Perusahaan-perusahaan besar merasa gembira jika ada bencana (perang atau bencana alam), dan jika tidak ada bencana mereka akan memicu terjadinya bencana. Untuk rekonstruksi Iraq, dana yang digelontorkan sebesar $ 30 milyard, untuk rekonstruksi tsunami di Asia sebesar $ 13 milyar, dan untuk New Orleans dan Gulf Coast sebesar $ 110 milyar.
Pendapatan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rekonstruksi cukup untuk memicu boom ekonomi. Perusahaan-perusahaan gas dan minyak sangat dekat dengan ekonomi bencana, baik sebagai penyebab utama bencana maupun sebagai penerima manfaat utama dari bencana tersebut. Saking besarnya pengaruh perusahaan minyak dan gas dan besarnya keuntungan yang diperoleh dari bencana, Naomi Klein menyebut perusahaan-perusahaan minyak dan gas ini sebagai “honorary adjunct of the disaster-capitalism complex”.
Dipetik dari artikel Don Marut KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME di tikarpandan.org
Selengkapnya
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Seri Lawan Neoliberalisme! Neoliberal dan Kejahatan Multinasional
Untuk memahami Globalisasi dan mekanisme dunia sekarang, orang perlu memahami Neo-Liberalisme. Inilah ideologi mutakhir kapitalisme yang saat ini sedang jaya-jayanya, terutama slogan TINA (There is No Alternatives) dari mulut Margaret Thatcher. Semenjak 1970-an hingga kini, Neo-Liberalisme mulai menanjak naik menjadi kebijakan dan praktek negara-negara kapitalis maju, dan didukung oleh pilar-pilar badan dunia: Bank Dunia, IMF dan WTO. Neo-Liberal tidak lain adalah antitesa welfare state, antitesa neo-klasik, dan antitesa Keynesian. Dengan kata lain antitesa kaum liberal sendiri, yaitu Liberal Baru atau kaum Kanan Baru (New-Rightist).
Dengan memahami Neo-Liberal, maka kita dapat memahami berbagai sepak terjang badan-badan multilateral dunia; kita dapat memahami perubahan kebijakan domestik di negara-negara maju; kita dapat memahami mengapa terjadi krisis moneter dan ekonomi yang tidak berkesudahan; kita dapat memahami mengapa Indonesia didikte dan ditekan terus oleh IMF; kita dapat memahami mengapa Rupiah tidak pernah stabil; kita dapat memahami mengapa BUMN didorong untuk di-privatisasi; kita dapat memahami mengapa listrik, air, BBM, dan pajak naik; kita dapat memahami mengapa impor beras dan bahan pangan lain masuk deras ke Indonesia; kita dapat memahami mengapa ada BPPN, Paris Club, Debt Rescheduling dan lain-lain; dan banyak lagi soal-soal yang membingungkan dan memperdayai publik.
Nama dari program Neo-Liberal yang terkenal dan dipraktekkan dimana-mana adalah SAP (Structural Adjustment Program). Program penyesuaian struktural merupakan program utama dari Bank Dunia dan IMF, termasuk juga WTO dengan nama lain. WTO memakai istilah-istilah seperti fast-track, progressive liberalization, harmonization dan lain-lain. Intinya tetap sama. Di balik nama sopan "penyesuaian struktural", adalah "penghancuran dan pendobrakan radikal" terhadap struktur dan sistem lama yang tidak bersesuaian dengan mekanisme pasar bebas murni. Neo-Liberal adalah ideologinya, dan SAP adalah praktek atau implementasinya. Sementara tujuannya adalah ekspansi sistem kapitalisme global
Dipetik dari artikel Bonnie Setiawan (IGJ) Neoliberal dan Kejahatan Multinasional
Selengkapnya
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Dengan memahami Neo-Liberal, maka kita dapat memahami berbagai sepak terjang badan-badan multilateral dunia; kita dapat memahami perubahan kebijakan domestik di negara-negara maju; kita dapat memahami mengapa terjadi krisis moneter dan ekonomi yang tidak berkesudahan; kita dapat memahami mengapa Indonesia didikte dan ditekan terus oleh IMF; kita dapat memahami mengapa Rupiah tidak pernah stabil; kita dapat memahami mengapa BUMN didorong untuk di-privatisasi; kita dapat memahami mengapa listrik, air, BBM, dan pajak naik; kita dapat memahami mengapa impor beras dan bahan pangan lain masuk deras ke Indonesia; kita dapat memahami mengapa ada BPPN, Paris Club, Debt Rescheduling dan lain-lain; dan banyak lagi soal-soal yang membingungkan dan memperdayai publik.
Nama dari program Neo-Liberal yang terkenal dan dipraktekkan dimana-mana adalah SAP (Structural Adjustment Program). Program penyesuaian struktural merupakan program utama dari Bank Dunia dan IMF, termasuk juga WTO dengan nama lain. WTO memakai istilah-istilah seperti fast-track, progressive liberalization, harmonization dan lain-lain. Intinya tetap sama. Di balik nama sopan "penyesuaian struktural", adalah "penghancuran dan pendobrakan radikal" terhadap struktur dan sistem lama yang tidak bersesuaian dengan mekanisme pasar bebas murni. Neo-Liberal adalah ideologinya, dan SAP adalah praktek atau implementasinya. Sementara tujuannya adalah ekspansi sistem kapitalisme global
Dipetik dari artikel Bonnie Setiawan (IGJ) Neoliberal dan Kejahatan Multinasional
Selengkapnya
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Senin, 25 Mei 2009
Film Dokumenter John Pilger, Globalization: New Rulers of The World (subtitle bahasa indonesia)
Fakta Kekejian Neoliberalisme dan Para Pendukungnya
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
simak juga kompilasi kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gie, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras, I Wibowo, Noer Fauzi dll)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Serial Bacaan Lawan-Neoliberalisme/Nekolim
Kerakyatan vs Neoliberalisme. Masihkah ada harapan?
Republik Indonesia Dalam Perangkap Struktur Ekonomi Kolonial
Hegemoni Neoliberalisme : Penjajahan Kurikulum, Cuci Otak dan Pembodohan di Perguruan Tinggi
Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas?
Empat Tahun Merdeka, Enam Puluh Tahun Dijajah Utang
Resep Neoliberal IMF dan Bank Dunia Terbukti Gagal
Ekonomi Kerakyatan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Fiskalisme Militer di Indonesia: Dari Otorianisme Ke Neoliberal
Konstitusi Dalam Intaian Neoliberalisme; Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas SDA
NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA
Segera Rampas Kembali Diskursus Anti-Neolib Dari Para Elit Penipu Rakyat
Neoliberalisme Biang Kerok Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Indonesia Di bawah Ancaman Fundamentalisme Pasar dan Fundamentalisme Agama
Definisi Singkat Neoliberalisme
UU Migas, Lumpur Lapindo dan Neoliberalisme
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Dari Diskusi Konsolidasi Ekonomi Kerakyatan
Seri Lawan Neoliberalisme! Washington Consensus vs Jakarta Concencus
Neoliberalisme dan Kedaulatan Pangan
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Neoliberalisme - Revrisond Baswir
Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisme (Revrisond Baswir – Tim Ahli Pusat Ekonomi Kerakyatan)
Jalan Neoliberal Pak Bud - Revrisond Baswir
Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya Dibentuk dengan Sengaja - Herry Priyono
Sesat Neoliberalisme - B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis - B Herry-Priyono
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan - B Herry-Priyono :
The End of Laissez-Faire - Sri-Edi Swasono
Mewaspadai Neoliberalisme - Sri Edi Swasono
Apa Neoliberalisme Itu?- Kwik Kian Gie
Kerakyatan vs Neoliberal - Ichsanudin Noorsy
Washington Concencus vs Jakarta Concencus - Prof Nizam Jim Wiryawan PhD Guru Besar dalam bidang Ilmu Bisnis Internasional,
Reformasi Ekonomi, Konsensus Washington, dan Rintangan Politik - Ahmad Erani Yustika Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Kandidat Doktor di University of Göttingen, Jerman
Neoliberalisme dan Warganegara - I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003)
Neoliberalisme Kena Batunya - Martin Manurung
Neoliberalisme Telah Mati - Akhmad Kusaeni
Lonceng Kematian Era Pasar Bebas - Joni Murti Mulyo Aji
Menelanjangi Liberalisme - Ahmad Erani Yustika
Kosmologi Krisis Moneter - Yasraf Amir Piliang
Rakus – Caping Gunawan Muhammad
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Yayasan Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins)
Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan - I Gusti Agung Ayu Ratih Kita,
FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME - Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal - R. Herlambang Perdana Wiratraman
KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME – Don Marut
Neoliberal dan Kejahatan Multinasional - Bonnie Setiawan (IGJ)
Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba - Yanuar Nugroho
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar
Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Penghapusan Utang - Dani Setiawan – Ketua KAU
Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya - Irwansyah
Memang, tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis - Ken Budha Kusumandaru
Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono - Fahmy Radhy (Dosen FEB UGM dan Direktur Eksekutif Mubyarto Institute) Analisis : Pasangan Yudhoyono – Boediono
Track Record : Bisnis Capres Cawapres - Dr George Aditjondro
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Lumpur Lapindo dan Praktek Neoliberal - Firdaus Cahyadi
Negosiasi Pertanian WTO Dirancang Untuk Memperparah Kelaparan Di Dunia - Aileen Kwa
Tidak Ada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Reforma Agraria - Henry Saragih -vKetua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) dan General Coordinator La Via
Campesina, organisasi gerakan buruh tani, petani kecil dan masyarakat adat internasional.
Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan Pembaruan Agraria
Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani - Mansour Fakiq
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
PLN Korban Neolib - Ir A Daryoko – Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN Strategis
Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi - Puthut EA
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas - James Petras
Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street - Walden Bello
Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia - Reihana Mohideen
Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya - Peter Boyle
Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi - James Suggett
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
simak juga kompilasi kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gie, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras, I Wibowo, Noer Fauzi dll)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Serial Bacaan Lawan-Neoliberalisme/Nekolim
Kerakyatan vs Neoliberalisme. Masihkah ada harapan?
Republik Indonesia Dalam Perangkap Struktur Ekonomi Kolonial
Hegemoni Neoliberalisme : Penjajahan Kurikulum, Cuci Otak dan Pembodohan di Perguruan Tinggi
Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas?
Empat Tahun Merdeka, Enam Puluh Tahun Dijajah Utang
Resep Neoliberal IMF dan Bank Dunia Terbukti Gagal
Ekonomi Kerakyatan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Fiskalisme Militer di Indonesia: Dari Otorianisme Ke Neoliberal
Konstitusi Dalam Intaian Neoliberalisme; Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas SDA
NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA
Segera Rampas Kembali Diskursus Anti-Neolib Dari Para Elit Penipu Rakyat
Neoliberalisme Biang Kerok Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Indonesia Di bawah Ancaman Fundamentalisme Pasar dan Fundamentalisme Agama
Definisi Singkat Neoliberalisme
UU Migas, Lumpur Lapindo dan Neoliberalisme
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Dari Diskusi Konsolidasi Ekonomi Kerakyatan
Seri Lawan Neoliberalisme! Washington Consensus vs Jakarta Concencus
Neoliberalisme dan Kedaulatan Pangan
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Neoliberalisme - Revrisond Baswir
Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisme (Revrisond Baswir – Tim Ahli Pusat Ekonomi Kerakyatan)
Jalan Neoliberal Pak Bud - Revrisond Baswir
Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya Dibentuk dengan Sengaja - Herry Priyono
Sesat Neoliberalisme - B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis - B Herry-Priyono
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan - B Herry-Priyono :
The End of Laissez-Faire - Sri-Edi Swasono
Mewaspadai Neoliberalisme - Sri Edi Swasono
Apa Neoliberalisme Itu?- Kwik Kian Gie
Kerakyatan vs Neoliberal - Ichsanudin Noorsy
Washington Concencus vs Jakarta Concencus - Prof Nizam Jim Wiryawan PhD Guru Besar dalam bidang Ilmu Bisnis Internasional,
Reformasi Ekonomi, Konsensus Washington, dan Rintangan Politik - Ahmad Erani Yustika Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Kandidat Doktor di University of Göttingen, Jerman
Neoliberalisme dan Warganegara - I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003)
Neoliberalisme Kena Batunya - Martin Manurung
Neoliberalisme Telah Mati - Akhmad Kusaeni
Lonceng Kematian Era Pasar Bebas - Joni Murti Mulyo Aji
Menelanjangi Liberalisme - Ahmad Erani Yustika
Kosmologi Krisis Moneter - Yasraf Amir Piliang
Rakus – Caping Gunawan Muhammad
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Yayasan Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins)
Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan - I Gusti Agung Ayu Ratih Kita,
FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME - Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal - R. Herlambang Perdana Wiratraman
KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME – Don Marut
Neoliberal dan Kejahatan Multinasional - Bonnie Setiawan (IGJ)
Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba - Yanuar Nugroho
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar
Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Penghapusan Utang - Dani Setiawan – Ketua KAU
Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya - Irwansyah
Memang, tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis - Ken Budha Kusumandaru
Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono - Fahmy Radhy (Dosen FEB UGM dan Direktur Eksekutif Mubyarto Institute) Analisis : Pasangan Yudhoyono – Boediono
Track Record : Bisnis Capres Cawapres - Dr George Aditjondro
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Lumpur Lapindo dan Praktek Neoliberal - Firdaus Cahyadi
Negosiasi Pertanian WTO Dirancang Untuk Memperparah Kelaparan Di Dunia - Aileen Kwa
Tidak Ada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Reforma Agraria - Henry Saragih -vKetua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) dan General Coordinator La Via
Campesina, organisasi gerakan buruh tani, petani kecil dan masyarakat adat internasional.
Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan Pembaruan Agraria
Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani - Mansour Fakiq
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
PLN Korban Neolib - Ir A Daryoko – Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN Strategis
Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi - Puthut EA
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas - James Petras
Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street - Walden Bello
Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia - Reihana Mohideen
Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya - Peter Boyle
Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi - James Suggett
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Neoliberalisme : Pengertian dan Perkembangannya di Indonesia
Terbaru dari Detik Finance
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
Serial Bacaan Lawan-Neoliberalisme/Nekolim
Kerakyatan vs Neoliberalisme. Masihkah ada harapan?
Republik Indonesia Dalam Perangkap Struktur Ekonomi Kolonial
Hegemoni Neoliberalisme : Penjajahan Kurikulum, Cuci Otak dan Pembodohan di Perguruan Tinggi
Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas?
Empat Tahun Merdeka, Enam Puluh Tahun Dijajah Utang
Resep Neoliberal IMF dan Bank Dunia Terbukti Gagal
Ekonomi Kerakyatan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Fiskalisme Militer di Indonesia: Dari Otorianisme Ke Neoliberal
Konstitusi Dalam Intaian Neoliberalisme; Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas SDA
NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA
Segera Rampas Kembali Diskursus Anti-Neolib Dari Para Elit Penipu Rakyat
Neoliberalisme Biang Kerok Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Indonesia Di bawah Ancaman Fundamentalisme Pasar dan Fundamentalisme Agama
Definisi Singkat Neoliberalisme
UU Migas, Lumpur Lapindo dan Neoliberalisme
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Dari Diskusi Konsolidasi Ekonomi Kerakyatan
Seri Lawan Neoliberalisme! Washington Consensus vs Jakarta Concencus
Neoliberalisme dan Kedaulatan Pangan
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Neoliberalisme - Revrisond Baswir
Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisme (Revrisond Baswir – Tim Ahli Pusat Ekonomi Kerakyatan)
Jalan Neoliberal Pak Bud - Revrisond Baswir
Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya Dibentuk dengan Sengaja - Herry Priyono
Sesat Neoliberalisme - B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis - B Herry-Priyono
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan - B Herry-Priyono :
The End of Laissez-Faire - Sri-Edi Swasono
Mewaspadai Neoliberalisme - Sri Edi Swasono
Apa Neoliberalisme Itu?- Kwik Kian Gie
Kerakyatan vs Neoliberal - Ichsanudin Noorsy
Washington Concencus vs Jakarta Concencus - Prof Nizam Jim Wiryawan PhD Guru Besar dalam bidang Ilmu Bisnis Internasional,
Reformasi Ekonomi, Konsensus Washington, dan Rintangan Politik - Ahmad Erani Yustika Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Kandidat Doktor di University of Göttingen, Jerman
Neoliberalisme dan Warganegara - I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003)
Neoliberalisme Kena Batunya - Martin Manurung
Neoliberalisme Telah Mati - Akhmad Kusaeni
Lonceng Kematian Era Pasar Bebas - Joni Murti Mulyo Aji
Menelanjangi Liberalisme - Ahmad Erani Yustika
Kosmologi Krisis Moneter - Yasraf Amir Piliang
Rakus – Caping Gunawan Muhammad
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Yayasan Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins)
Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan - I Gusti Agung Ayu Ratih Kita,
FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME - Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal - R. Herlambang Perdana Wiratraman
KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME – Don Marut
Neoliberal dan Kejahatan Multinasional - Bonnie Setiawan (IGJ)
Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba - Yanuar Nugroho
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar
Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Penghapusan Utang - Dani Setiawan – Ketua KAU
Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya - Irwansyah
Memang, tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis - Ken Budha Kusumandaru
Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono - Fahmy Radhy (Dosen FEB UGM dan Direktur Eksekutif Mubyarto Institute) Analisis : Pasangan Yudhoyono – Boediono
Track Record : Bisnis Capres Cawapres - Dr George Aditjondro
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Lumpur Lapindo dan Praktek Neoliberal - Firdaus Cahyadi
Negosiasi Pertanian WTO Dirancang Untuk Memperparah Kelaparan Di Dunia - Aileen Kwa
Tidak Ada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Reforma Agraria - Henry Saragih -vKetua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) dan General Coordinator La Via
Campesina, organisasi gerakan buruh tani, petani kecil dan masyarakat adat internasional.
Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan Pembaruan Agraria
Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani - Mansour Fakiq
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
PLN Korban Neolib - Ir A Daryoko – Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN Strategis
Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi - Puthut EA
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas - James Petras
Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street - Walden Bello
Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia - Reihana Mohideen
Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya - Peter Boyle
Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi - James Suggett
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
Serial Bacaan Lawan-Neoliberalisme/Nekolim
Kerakyatan vs Neoliberalisme. Masihkah ada harapan?
Republik Indonesia Dalam Perangkap Struktur Ekonomi Kolonial
Hegemoni Neoliberalisme : Penjajahan Kurikulum, Cuci Otak dan Pembodohan di Perguruan Tinggi
Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas?
Empat Tahun Merdeka, Enam Puluh Tahun Dijajah Utang
Resep Neoliberal IMF dan Bank Dunia Terbukti Gagal
Ekonomi Kerakyatan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Fiskalisme Militer di Indonesia: Dari Otorianisme Ke Neoliberal
Konstitusi Dalam Intaian Neoliberalisme; Konstitusionalitas Penguasaan Negara Atas SDA
NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA
Segera Rampas Kembali Diskursus Anti-Neolib Dari Para Elit Penipu Rakyat
Neoliberalisme Biang Kerok Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Indonesia Di bawah Ancaman Fundamentalisme Pasar dan Fundamentalisme Agama
Definisi Singkat Neoliberalisme
UU Migas, Lumpur Lapindo dan Neoliberalisme
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Dari Diskusi Konsolidasi Ekonomi Kerakyatan
Seri Lawan Neoliberalisme! Washington Consensus vs Jakarta Concencus
Neoliberalisme dan Kedaulatan Pangan
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Neoliberalisme - Revrisond Baswir
Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisme (Revrisond Baswir – Tim Ahli Pusat Ekonomi Kerakyatan)
Jalan Neoliberal Pak Bud - Revrisond Baswir
Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya Dibentuk dengan Sengaja - Herry Priyono
Sesat Neoliberalisme - B. Herry-Priyono, Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis - B Herry-Priyono
Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan - B Herry-Priyono :
The End of Laissez-Faire - Sri-Edi Swasono
Mewaspadai Neoliberalisme - Sri Edi Swasono
Apa Neoliberalisme Itu?- Kwik Kian Gie
Kerakyatan vs Neoliberal - Ichsanudin Noorsy
Washington Concencus vs Jakarta Concencus - Prof Nizam Jim Wiryawan PhD Guru Besar dalam bidang Ilmu Bisnis Internasional,
Reformasi Ekonomi, Konsensus Washington, dan Rintangan Politik - Ahmad Erani Yustika Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Kandidat Doktor di University of Göttingen, Jerman
Neoliberalisme dan Warganegara - I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme” (Yogyakarta, Cindelaras: 2003)
Neoliberalisme Kena Batunya - Martin Manurung
Neoliberalisme Telah Mati - Akhmad Kusaeni
Lonceng Kematian Era Pasar Bebas - Joni Murti Mulyo Aji
Menelanjangi Liberalisme - Ahmad Erani Yustika
Kosmologi Krisis Moneter - Yasraf Amir Piliang
Rakus – Caping Gunawan Muhammad
Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?
Yayasan Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins)
Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan - I Gusti Agung Ayu Ratih Kita,
FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME - Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal - R. Herlambang Perdana Wiratraman
KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME – Don Marut
Neoliberal dan Kejahatan Multinasional - Bonnie Setiawan (IGJ)
Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba - Yanuar Nugroho
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar
Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Penghapusan Utang - Dani Setiawan – Ketua KAU
Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya - Irwansyah
Memang, tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis - Ken Budha Kusumandaru
Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono - Fahmy Radhy (Dosen FEB UGM dan Direktur Eksekutif Mubyarto Institute) Analisis : Pasangan Yudhoyono – Boediono
Track Record : Bisnis Capres Cawapres - Dr George Aditjondro
Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik Modal
Lumpur Lapindo dan Praktek Neoliberal - Firdaus Cahyadi
Negosiasi Pertanian WTO Dirancang Untuk Memperparah Kelaparan Di Dunia - Aileen Kwa
Tidak Ada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Reforma Agraria - Henry Saragih -vKetua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) dan General Coordinator La Via
Campesina, organisasi gerakan buruh tani, petani kecil dan masyarakat adat internasional.
Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan Pembaruan Agraria
Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani - Mansour Fakiq
Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008
Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21
Noer Fauzi, Ph.D. Candidate di University of California – Berkeley, Department Environmental Science, Policy and Management (ESPM), Ketua Badan Pelaksana Konsorsium Pembaruan Agraria 1995-2002, dan Koordinator Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria 2002-2005.
PLN Korban Neolib - Ir A Daryoko – Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN Strategis
Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi - Puthut EA
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas - James Petras
Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street - Walden Bello
Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia - Reihana Mohideen
Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya - Peter Boyle
Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi - James Suggett
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Definisi Ringkas Neoliberalisme (8 Seri Artikel)
Terbaru dari Detik Finance
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, seri 9 ,Seri Khusus
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, seri 9 ,Seri Khusus
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Minggu, 24 Mei 2009
Harapan Yang Hampir Musnah (Suara Nurani Anak Korban Lapindo)
Cici Dwi Indayani (MAN Bangil)
Pengantar
Pertengahan April lalu diselenggarakan lomba menulis dan mewarnai di Radio Suara Porong, radio komunitas korban lumpur Lapindo, untuk memperingati hari bumi dan 3 tahun bencana Lapindo. Nampaknya tanggapan anak-anak, pesertanya mencapai lebih dari 100 anak. Untuk lomba menulis dibagi menjadi tiga kelompok, yakni; SD, SMP dan SMU. Sedang Lomba mewarnai dikhususkan untuk anak-anak TK. Dari masing-masing kelompok dipilih 4 karya terbaik.
Setiap Harinya Redaksi lenteradiatasbukit akan memuat cerpen-cerpen dan puisi ini (dimulai dari karya-karya terbaik), sebagai upaya menggugah terus menerus hati nurani bahkan membuat malu elit politik dan penguasa negeri ini , serta untuk terus menerus membangun solidaritas publik untuk warga korban Lapindo dan para korban pembangunan di negeri ini.
Untuk informasi terkait dinamika dan geliat warga korban Lapindo simak terushttp://www.korbanlumpur.info/
Untuk seluruh karya anak korban lapindo silah kunjung
Suara Nurani Anak-anak Korban Lumpur Lapindo
(saya telah memohon ijin pemuatannya melalui Bung Iman Sofwan voluenteer editor di info.korbanlumpur. Terima kasih)
Harapan Yang Hampir Musnah
Cici Dwi Indayani (MAN Bangil)
Sebuah ledakan hebat merusak keheningan. Riuh suara gemuruh datang. Teriakan-teriakan penuh panik berlomba dengan suara gemuruh entah darimana datangnya. Dengan sekejap saja air bah bercampur lumpur panas menghantam rumah-rumah kami. Masih kuingat suara minta tolong dari para tetanggaku.
“Ayo cepat San, Kita harus pergi dari sini. Berbahaya. Bawa yang perlu-perlu saja. Jangan pentingkan hartamu, urus nyawamu!” Teriak ayah.
Sedangkan aku hanya dapat berdiri mematung. Gelisah. Sebenarnya aku merasa penting akan semuanya. Tapi apa boleh buat. Yang kucari hanyalah ijazah S1-ku. Setelah itu segera kami pergi meninggalkan rumah, puing-puing kayu menghantam tubuhku. Ayah segera menolong dan menyeretku dari genang lumpur bercampur gas yang sudah selutut itu. Aku bergidik. Setelah kusadari, ah, ijazahku hanyut setelah terkena benda tadi. Aku menoleh ke belakang, sudah tidak mungkin mencarinya lagi, , kini nasibku hanya impian semata.
Beberapa bulan yang lalu, aku menyelesaikan studiku di salah satu fakultas swasta di Sidoarjo. Aku nyambi sambil mencari nafkah untuk biaya kuliahku. Ayah, aah, ayah sudah tidak seperti dulu lagi, gaji ayah tidak mungkin cuukp untuk makan sehari-hari di tambah biaya kuliahku yang tidak sedikit.
“Hasan kerja nggak apa-apa. Tapi jangan lupa sholat dan jaga kesehatan. Rajinlah kamu nak,” begitu kira-kira petuah ibuku.
Aku sebagai anak sulung wajib bekerja keras untuk masa depanku, juga keluargaku. Setiap hari, aku bolak-balik ke kampus dan ke bengkel tempatku bekerja sambilan. Dan aku bertekad akan membantu orang tuaku dengan cara apapun.
Sedangkan adik-adikku masih berumur 12 tahun dan yang bungsu berumur 7 tahun. Mereka masih kecil. Kondisi ayah yang sakit-sakitan menyulitkan perekonomian keluarga kami.
Masih kuingat saat pertama aku masuk kuliah jurusan otomotif. Ayah meminjam uang sana-sini hanya demi memasukkanku ke Universitas itu. Sungguh kerja keras yang tidak sia-sia karena aku sudah menyelesaikan S1-ku.
Namun setelah lumpur Lapindo memporak-porandakan harta kami yang cuma sedikit itu. Hidup kami hanya tinggal impian. Dalam tempat pengungsian padat dan sempit itu, aku temenung. Tak dapat kubayangkan apa yang akan aku perbuat setelah ini. Bagaimana nasib ayah, ibu, dan adik-adikku? Bagaimana dengan usaha dan kerja keras ayah demi kuliahku itu? Apakah hanya tinggal kenangan yang tak ada manfaatnya kini. Oh, ayah maafkan Hasan?
Beberapa minggu sudah kami tinggal ditempat pengungsian. Amin, teman seusiaku, mengajakku berbuat sesuatu untuk perubahan. Ya! Kami mencari kerja. Kesana-kemari kami mondar-mandir. Aku sudah pasrah akan nasibku. Kuserahkan semuanya pada Allah.
“Akhirnya kita bisa bekerja, mekipun hanya sebagai tukang pemecah batu ya.”
Suara Amin tak terdengar semangat sedikitpun. Meskipun kata-katanya mengandung syukur yang amat sangat. Aku tersenyum getir mendengar kata-kata Amin.
Sehari, dua hari, satu bulan sudah aku dan Amin bekerja sebagai kuli pemecah batu, kulitku yang dulu bersih, kini hitam legam.
Otot-ototku juga mulai tampak bermunculan. Tak jarang sesekali aku menangis. Menangisi nasibku sendiri.
“Apa ijazah S1 ku yang berjuta-juta itu hanya dihargai dengan pekerjaan berat ini? Pantaskah?” Aku bergumam dalam hati, lirih.
“San, mau melihat rumah kita? Sudah bersih lo. Tapi belum layak dihuni. Kita lihat yuk!” Pinta Amin. Aku hanya mengangguk.
Kulihat puing–puing berserakan disana-sini. Lumpur sudah mulai surut. Tinggal satu jengkal saja. Aku berdiri pilu memandang rumah tercintaku. Rumah mungil yang damai. Namun kini menjadi, ah aku tak tahu lagi apa namanya. Kuputuskan untuk melihat ke dalam. Sangat tak karuan. Memang sangat tidak layak di huni.
Kupandangi disetiap kertas berlaminating. Tak ada. Hanya kertas-kertas biasa. Setelah capek mencari, kuputuskan untuk pergi menemui Amin. Tapi tiba-tiba, kutoleh di kolong kursi di ruang tamuku. Kudekti benda itu, dan air mataku meleleh.’ Benda itu Ijazah S1-ku yang sekian hari ku pikirkan. Ingin aku berteriak tak henti-henti kuucapkan hamdalah. Kutemui Amin dengan mata basah dan suara parau. Kuusap air mata di pipiku dan ku tersenyum menatap langit.
Pengantar
Pertengahan April lalu diselenggarakan lomba menulis dan mewarnai di Radio Suara Porong, radio komunitas korban lumpur Lapindo, untuk memperingati hari bumi dan 3 tahun bencana Lapindo. Nampaknya tanggapan anak-anak, pesertanya mencapai lebih dari 100 anak. Untuk lomba menulis dibagi menjadi tiga kelompok, yakni; SD, SMP dan SMU. Sedang Lomba mewarnai dikhususkan untuk anak-anak TK. Dari masing-masing kelompok dipilih 4 karya terbaik.
Setiap Harinya Redaksi lenteradiatasbukit akan memuat cerpen-cerpen dan puisi ini (dimulai dari karya-karya terbaik), sebagai upaya menggugah terus menerus hati nurani bahkan membuat malu elit politik dan penguasa negeri ini , serta untuk terus menerus membangun solidaritas publik untuk warga korban Lapindo dan para korban pembangunan di negeri ini.
Untuk informasi terkait dinamika dan geliat warga korban Lapindo simak terushttp://www.korbanlumpur.info/
Untuk seluruh karya anak korban lapindo silah kunjung
Suara Nurani Anak-anak Korban Lumpur Lapindo
(saya telah memohon ijin pemuatannya melalui Bung Iman Sofwan voluenteer editor di info.korbanlumpur. Terima kasih)
Harapan Yang Hampir Musnah
Cici Dwi Indayani (MAN Bangil)
Sebuah ledakan hebat merusak keheningan. Riuh suara gemuruh datang. Teriakan-teriakan penuh panik berlomba dengan suara gemuruh entah darimana datangnya. Dengan sekejap saja air bah bercampur lumpur panas menghantam rumah-rumah kami. Masih kuingat suara minta tolong dari para tetanggaku.
“Ayo cepat San, Kita harus pergi dari sini. Berbahaya. Bawa yang perlu-perlu saja. Jangan pentingkan hartamu, urus nyawamu!” Teriak ayah.
Sedangkan aku hanya dapat berdiri mematung. Gelisah. Sebenarnya aku merasa penting akan semuanya. Tapi apa boleh buat. Yang kucari hanyalah ijazah S1-ku. Setelah itu segera kami pergi meninggalkan rumah, puing-puing kayu menghantam tubuhku. Ayah segera menolong dan menyeretku dari genang lumpur bercampur gas yang sudah selutut itu. Aku bergidik. Setelah kusadari, ah, ijazahku hanyut setelah terkena benda tadi. Aku menoleh ke belakang, sudah tidak mungkin mencarinya lagi, , kini nasibku hanya impian semata.
Beberapa bulan yang lalu, aku menyelesaikan studiku di salah satu fakultas swasta di Sidoarjo. Aku nyambi sambil mencari nafkah untuk biaya kuliahku. Ayah, aah, ayah sudah tidak seperti dulu lagi, gaji ayah tidak mungkin cuukp untuk makan sehari-hari di tambah biaya kuliahku yang tidak sedikit.
“Hasan kerja nggak apa-apa. Tapi jangan lupa sholat dan jaga kesehatan. Rajinlah kamu nak,” begitu kira-kira petuah ibuku.
Aku sebagai anak sulung wajib bekerja keras untuk masa depanku, juga keluargaku. Setiap hari, aku bolak-balik ke kampus dan ke bengkel tempatku bekerja sambilan. Dan aku bertekad akan membantu orang tuaku dengan cara apapun.
Sedangkan adik-adikku masih berumur 12 tahun dan yang bungsu berumur 7 tahun. Mereka masih kecil. Kondisi ayah yang sakit-sakitan menyulitkan perekonomian keluarga kami.
Masih kuingat saat pertama aku masuk kuliah jurusan otomotif. Ayah meminjam uang sana-sini hanya demi memasukkanku ke Universitas itu. Sungguh kerja keras yang tidak sia-sia karena aku sudah menyelesaikan S1-ku.
Namun setelah lumpur Lapindo memporak-porandakan harta kami yang cuma sedikit itu. Hidup kami hanya tinggal impian. Dalam tempat pengungsian padat dan sempit itu, aku temenung. Tak dapat kubayangkan apa yang akan aku perbuat setelah ini. Bagaimana nasib ayah, ibu, dan adik-adikku? Bagaimana dengan usaha dan kerja keras ayah demi kuliahku itu? Apakah hanya tinggal kenangan yang tak ada manfaatnya kini. Oh, ayah maafkan Hasan?
Beberapa minggu sudah kami tinggal ditempat pengungsian. Amin, teman seusiaku, mengajakku berbuat sesuatu untuk perubahan. Ya! Kami mencari kerja. Kesana-kemari kami mondar-mandir. Aku sudah pasrah akan nasibku. Kuserahkan semuanya pada Allah.
“Akhirnya kita bisa bekerja, mekipun hanya sebagai tukang pemecah batu ya.”
Suara Amin tak terdengar semangat sedikitpun. Meskipun kata-katanya mengandung syukur yang amat sangat. Aku tersenyum getir mendengar kata-kata Amin.
Sehari, dua hari, satu bulan sudah aku dan Amin bekerja sebagai kuli pemecah batu, kulitku yang dulu bersih, kini hitam legam.
Otot-ototku juga mulai tampak bermunculan. Tak jarang sesekali aku menangis. Menangisi nasibku sendiri.
“Apa ijazah S1 ku yang berjuta-juta itu hanya dihargai dengan pekerjaan berat ini? Pantaskah?” Aku bergumam dalam hati, lirih.
“San, mau melihat rumah kita? Sudah bersih lo. Tapi belum layak dihuni. Kita lihat yuk!” Pinta Amin. Aku hanya mengangguk.
Kulihat puing–puing berserakan disana-sini. Lumpur sudah mulai surut. Tinggal satu jengkal saja. Aku berdiri pilu memandang rumah tercintaku. Rumah mungil yang damai. Namun kini menjadi, ah aku tak tahu lagi apa namanya. Kuputuskan untuk melihat ke dalam. Sangat tak karuan. Memang sangat tidak layak di huni.
Kupandangi disetiap kertas berlaminating. Tak ada. Hanya kertas-kertas biasa. Setelah capek mencari, kuputuskan untuk pergi menemui Amin. Tapi tiba-tiba, kutoleh di kolong kursi di ruang tamuku. Kudekti benda itu, dan air mataku meleleh.’ Benda itu Ijazah S1-ku yang sekian hari ku pikirkan. Ingin aku berteriak tak henti-henti kuucapkan hamdalah. Kutemui Amin dengan mata basah dan suara parau. Kuusap air mata di pipiku dan ku tersenyum menatap langit.
Elegi Teluk Buyat (1)
5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat (Puisi 23)
Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]
Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini
Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu
Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??
Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan
Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita
Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang
Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm
Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [23]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
selengkapnya
Elegi Teluk Buyat [Hikayat I]
Kita saksikan bersama, kawan !
Deburan sang samudera nan begitu menggairahkan
Mencerca tiap detik pada hempasan pasir pantai
Merobek kesunyian yang menyelubungi saat ini
Kita lihat bersama, sahabat !
Beronggok perahu nan menunggu sang nahkoda menerjang
Mengharap sentuhan mesra sang kemudi di kelam malam
Merindukan kepulan tembakau sang anak buah nan meredu
Merindukan siraman asinnya Buyat masa lalu
Mari kita lihat bersama...
Salahkan siapa, dan bela siapa
Ataukah kita hanya berdiam di sini saja ??
Tidak kawan....
Mereka tidak salah.....tidak.....
Mereka hanya mengais karunia Allah dalam lautan
Mereka hanya memenuhi kewajiban seorang ayah
Mereka hanya mengisi perut-perut yang keroncongan
Tidak benar sahabat.....
Bila mereka harus terima semua ini...
Mereka tidak mengalirkan darah yang harus mereka bayar
Mereka tidak mengundang kutukan yang mereka derita
Lalu........
Kepada siapa kita harus bertanya ?
Kepada siapa kita harus menagih ?
yang pasti jangan tanya kepada rumput yang bergoyang
Jakarta, 9 Agustus 2004, 13:36 pm
Ayewith
[Terinpirasi dan terbuat untuk saudara-saudaraku di Teluk Buyat, sabar saudaraku, dan kami akan berusaha membantu dengan segala upaya kami] [23]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
selengkapnya
Sabtu, 23 Mei 2009
Karena Lumpur Aku Kehilangan Semuanya (Suara Nurani Anak Korban Lapindo)
Mu’aifah (Kelas VII B SMPN 2 Porong)
Pengantar
Pertengahan April lalu diselenggarakan lomba menulis dan mewarnai di Radio Suara Porong, radio komunitas korban lumpur Lapindo, untuk memperingati hari bumi dan 3 tahun bencana Lapindo. Nampaknya tanggapan anak-anak, pesertanya mencapai lebih dari 100 anak. Untuk lomba menulis dibagi menjadi tiga kelompok, yakni; SD, SMP dan SMU. Sedang Lomba mewarnai dikhususkan untuk anak-anak TK. Dari masing-masing kelompok dipilih 4 karya terbaik.
Setiap Harinya Redaksi lenteradiatasbukit akan memuat cerpen-cerpen dan puisi ini (dimulai dari karya-karya terbaik), sebagai upaya menggugah terus menerus hati nurani bahkan membuat malu elit politik dan penguasa negeri ini , serta untuk terus menerus membangun solidaritas publik untuk warga korban Lapindo dan para korban pembangunan di negeri ini.
Untuk informasi terkait dinamika dan geliat warga korban Lapindo simak terushttp://www.korbanlumpur.info/
Untuk seluruh karya anak krban lapindo silah kunjung
Suara Nurani Anak-anak Korban Lumpur Lapindo
(saya telah memohon ijin pemuatannya melalui Bung Iman Sofwan voluenteer editor di info.korbanlumpur. Terima kasih)
Karena Lumpur Aku Kehilangan Semuanya
Mu’aifah (Kelas VII B SMPN 2 Porong)
Waktu itu aku dan keluargaku terkena musibah dan tak hanya keluargaku tapi semua orang dan teman yang telah tinggal di desaku, desa kami. Waktu itu, aku dan keuargaku panik setelah aku berkemas barangku, aku mengungsi di Pasar Baru, Porong sampai sekarang.
Sekarang aku masih teringat kejadian waktu itu semua tampak jelas di ingatanku tapi aku masih bersyukur karena keluargaku telah selamat, luberan lumpur itu telah menghancurkan semua yang kupunya rumah satu-satunya telah hancur karena luberan lumpur itu. Ketika aku mengungsi aku belum terbiasa dengan semua ini, apalagi ketika malam setelah kejadian waktu itu aku melihat ayah dan ibuku yang tidak bisa tidur karena terbebani dengan kesedihan hati mereka.
Tak tampak lagi senyum di wajah kedua orang tuaku bagaimana tidak! Semua telah hilang dalam sekejap dan kini hanya kesedihan yang kurasakan.
Kalau saja waktu dapat berputar kembali dan aku boleh memilih aku tidak ingin semua itu terjadi dan aku selalu berdo’a agar lumpur itu dapat teratasi. Dan aku akan mengenang semua yang terjadi dan tak akan melupakannya. Dan sampai sekarang aku mengungsi di Pasar Baru Porong, di sinilah tempat berteduhku dan tempat tidurku tempat keluargaku berkumpul dan melewati hari-hari.
Dan sudah 2 tahun ini aku hidup di Pasar Baru, Porong bersama keluargaku dan akupun juga terbiasa dengan keadaan di sini yang ramai apalagi pasar ini akan di tempati pedagang. Aku sedih dimana nanti aku tinggal. Aku berharap masalah ini segera teratasi dan aku juga berharap bisa mempunyai rumah sendiri seperti dulu lagi dan hidup bahagia bersama keluargaku, amin.
Pengantar
Pertengahan April lalu diselenggarakan lomba menulis dan mewarnai di Radio Suara Porong, radio komunitas korban lumpur Lapindo, untuk memperingati hari bumi dan 3 tahun bencana Lapindo. Nampaknya tanggapan anak-anak, pesertanya mencapai lebih dari 100 anak. Untuk lomba menulis dibagi menjadi tiga kelompok, yakni; SD, SMP dan SMU. Sedang Lomba mewarnai dikhususkan untuk anak-anak TK. Dari masing-masing kelompok dipilih 4 karya terbaik.
Setiap Harinya Redaksi lenteradiatasbukit akan memuat cerpen-cerpen dan puisi ini (dimulai dari karya-karya terbaik), sebagai upaya menggugah terus menerus hati nurani bahkan membuat malu elit politik dan penguasa negeri ini , serta untuk terus menerus membangun solidaritas publik untuk warga korban Lapindo dan para korban pembangunan di negeri ini.
Untuk informasi terkait dinamika dan geliat warga korban Lapindo simak terushttp://www.korbanlumpur.info/
Untuk seluruh karya anak krban lapindo silah kunjung
Suara Nurani Anak-anak Korban Lumpur Lapindo
(saya telah memohon ijin pemuatannya melalui Bung Iman Sofwan voluenteer editor di info.korbanlumpur. Terima kasih)
Karena Lumpur Aku Kehilangan Semuanya
Mu’aifah (Kelas VII B SMPN 2 Porong)
Waktu itu aku dan keluargaku terkena musibah dan tak hanya keluargaku tapi semua orang dan teman yang telah tinggal di desaku, desa kami. Waktu itu, aku dan keuargaku panik setelah aku berkemas barangku, aku mengungsi di Pasar Baru, Porong sampai sekarang.
Sekarang aku masih teringat kejadian waktu itu semua tampak jelas di ingatanku tapi aku masih bersyukur karena keluargaku telah selamat, luberan lumpur itu telah menghancurkan semua yang kupunya rumah satu-satunya telah hancur karena luberan lumpur itu. Ketika aku mengungsi aku belum terbiasa dengan semua ini, apalagi ketika malam setelah kejadian waktu itu aku melihat ayah dan ibuku yang tidak bisa tidur karena terbebani dengan kesedihan hati mereka.
Tak tampak lagi senyum di wajah kedua orang tuaku bagaimana tidak! Semua telah hilang dalam sekejap dan kini hanya kesedihan yang kurasakan.
Kalau saja waktu dapat berputar kembali dan aku boleh memilih aku tidak ingin semua itu terjadi dan aku selalu berdo’a agar lumpur itu dapat teratasi. Dan aku akan mengenang semua yang terjadi dan tak akan melupakannya. Dan sampai sekarang aku mengungsi di Pasar Baru Porong, di sinilah tempat berteduhku dan tempat tidurku tempat keluargaku berkumpul dan melewati hari-hari.
Dan sudah 2 tahun ini aku hidup di Pasar Baru, Porong bersama keluargaku dan akupun juga terbiasa dengan keadaan di sini yang ramai apalagi pasar ini akan di tempati pedagang. Aku sedih dimana nanti aku tinggal. Aku berharap masalah ini segera teratasi dan aku juga berharap bisa mempunyai rumah sendiri seperti dulu lagi dan hidup bahagia bersama keluargaku, amin.
Jumat, 22 Mei 2009
SBY-Boediono Memang Penganut Pandangan Neoliberal
Terbaru dari Detik Finance
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Pengamat ekonomi Hendri Saparini dari ECONIT memiliki pendapat serupa. Tiga pilar neoliberal, yaitu stabilitas makro, agenda liberalisasi, dan agenda privatisasi, yang dicetuskan dalam Washington Consensus menjiwai tindakan-tindakan Boediono.
Menurut Hendri, seorang penganut neoliberal tak akan meninggalkannya sedikit pun. Dalam pilar pertama, seorang neoliberal akan membuat kebijakan hanya demi stabilitas makro. Hendri menilai pernyataan-pernyataan SBY menunjukkan ciri ini. Pilihan kebijakannya pun demikian. Mazhab ini mengharuskan pengambilan kebijakan pengurangan atau pemotongan subsidi.
"Tidak salah jika dalam pidato, SBY mengatakan akan menekan inflasi dan ukuran stabilitas makro. Itu hanya akan menguntungkan kelompok kapital," tutur Hendri.
Dipetik dari laporan Caroline Damanik Boediono Memang Penganut Neoliberal? di kompas.com 22 Mei 2009
Selengkapnya
baca juga Neoliberalisme dan Para Jenderal Di Panggung Politik, Kasihan Indonesia
simak serial ini selengkapnya
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
silah kunjung serial kumpulan artikel/opini dan film dokumenter
Lawan Neoliberalisme!
Pengamat ekonomi Hendri Saparini dari ECONIT memiliki pendapat serupa. Tiga pilar neoliberal, yaitu stabilitas makro, agenda liberalisasi, dan agenda privatisasi, yang dicetuskan dalam Washington Consensus menjiwai tindakan-tindakan Boediono.
Menurut Hendri, seorang penganut neoliberal tak akan meninggalkannya sedikit pun. Dalam pilar pertama, seorang neoliberal akan membuat kebijakan hanya demi stabilitas makro. Hendri menilai pernyataan-pernyataan SBY menunjukkan ciri ini. Pilihan kebijakannya pun demikian. Mazhab ini mengharuskan pengambilan kebijakan pengurangan atau pemotongan subsidi.
"Tidak salah jika dalam pidato, SBY mengatakan akan menekan inflasi dan ukuran stabilitas makro. Itu hanya akan menguntungkan kelompok kapital," tutur Hendri.
Dipetik dari laporan Caroline Damanik Boediono Memang Penganut Neoliberal? di kompas.com 22 Mei 2009
Selengkapnya
baca juga Neoliberalisme dan Para Jenderal Di Panggung Politik, Kasihan Indonesia
simak serial ini selengkapnya
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Wahai Sang Legam : Mengenang 5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat
Puisi ke 22
Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai
Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan
Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk
Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat
Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup
Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad
Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am
Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
Selengkapnya
Berjalan menatap biru langit antara kaki langit
Beriring dengan camar-camar nan molek meliuk menarikan syair
Bersama mengarungi antara biru langit dan biru laut
Bersama kemilau deburan ombak di tepian pantai
Engkau yang berkulit legam dalam ombak yang menderu
Menggantung harap bersama perahu kayu yang telah lapuk
Menyambut mentari pagi dengan sumringah indah senyuman banggamu
Membayang indah istri dan anak menanti di tepian buritan kapal berlabuh
Seraya melambai dalam senyum kemenangan
Mentari telah mengintip di penghujung pandangan Tapanuli hari ini
Kemilau ombak tiada lagi semuram kilau kemarin
Ombak kini lebih kinclong berteman kilat Mercuri yang indah
Ombak kini lebih cerah bersama kilat Mercuri yang melenakan
Ombak kini penuh dengan amarah dan kepalsuan
Ombak yang memburu dalam nadi dan darahmu, sang legam
Ombak menggerogoti dalam nafasmu, sang raja teluk
Mentari terus menggantung dalam biru langit Tapanuli
Mengiringi langkah-langkah yang tanpa harapan, kini
Mengiringi derita tentang rintihan kepiluan, saat ini
Menyertai maut yang terus menjalar dalam indah Teluk Buyat
Wahai sang legam....
Tangisan kepedihanmu adalah perjuanganmu
Rintihan kepiluanmu adalah dosa sang penebar maut
Perih dan pedih gerakmu adalah pengikis pengisap emas itu
Derita nestapamu adalah layar bagi kami dunia luas
Jeritan sanak keluargamu adalah bom sang penguasa negri
Rapuhnya kepak sang camar adalah SK sang penguasa hidup
Wahai sang legam...
Engkau adalah mata pena sang jurnalis dunia
Engkau adalah kanvas sang pelukis fana
Engkau adalah kamera sang pemotret kehidupan
Engkau adalah mobil sang sopir jalur duniawi
Teruskan perjuangan bersama...
Tunjukkan kepada dunia apa adanya
Lihatkan kepada dunia apa yang tertera
Tanpa kurang atau lebih dari Sang Penguasa Jagad
Jakarta, 10 Agustus 2004, 10:51 am
Ayewith
[Teruntuk saudaraku di Teluk Buyat.. Deritamu adalah deritaku dan pedihmu adalah pedihku] [22]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
Selengkapnya
Online-Kumpulan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad
Membaca Caping adalah membaca Goenawan Mohamad yang konsisten dengan produktivitasnya.
Membaca Caping adalah membaca vitalitas yang tak kunjung padam.
Membaca Caping adalah membaca ide dan kejenakaan yang tak lekang oleh panas.
Membaca Caping adalah membaca sejarah sekaligus aktualitas berlatar sejarah.
Membaca Caping adalah membaca lompatan.
Membaca Caping adalah membaca diksi yang penuh dan kata yang padat.
Membaca Caping adalah membaca kesederhanaan dan efektivitas, sekaligus kerumitan bahasa.
Membaca Caping adalah membaca makna.
Membaca Caping adalah membaca semangat dan gairah.
Membaca Caping adalah membaca ketidaktahuan dan kenaifan kita.
Membaca Caping adalah membaca Indonesia.
(dari Catatan Editor Blog Caping)
Silah kunjung Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di Majalah Tempo sejak tahun 1984
CATATAN PINGGIR – BAHASA-RASA-MAKNA
Membaca Caping adalah membaca vitalitas yang tak kunjung padam.
Membaca Caping adalah membaca ide dan kejenakaan yang tak lekang oleh panas.
Membaca Caping adalah membaca sejarah sekaligus aktualitas berlatar sejarah.
Membaca Caping adalah membaca lompatan.
Membaca Caping adalah membaca diksi yang penuh dan kata yang padat.
Membaca Caping adalah membaca kesederhanaan dan efektivitas, sekaligus kerumitan bahasa.
Membaca Caping adalah membaca makna.
Membaca Caping adalah membaca semangat dan gairah.
Membaca Caping adalah membaca ketidaktahuan dan kenaifan kita.
Membaca Caping adalah membaca Indonesia.
(dari Catatan Editor Blog Caping)
Silah kunjung Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di Majalah Tempo sejak tahun 1984
CATATAN PINGGIR – BAHASA-RASA-MAKNA
Buku-buku Online (E-Book) Prof Jimly Asshiddiqie
Pengantar Ilmu Hukum Tata negara jilid 1
Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang
Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi
Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung
Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional
Selengkapnya
http://jimly.com/
Pengantar Hukum Tata Negara Jilid II
Perihal Undang-Undang
Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi
Hukum Acara Pengujian Undang-undang
Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara
Teori Hans Kelsen Tentang Hukum
Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi
Gagasan Amandemen UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Secara Langsung
Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap Pembangunan Hukum Nasional
Selengkapnya
http://jimly.com/
Semesta Memejam : Seisak Sajak Untuk Teluk Buyat
5 Tahun Kematian Andini Lensun di Buyat (Puisi 21)
Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna
(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)
Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?
Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya
Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"
Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
Selengkapnya
Semesta Memejam
Oleh Nurman Priatna
(Seisak sajak untuk Teluk Buyat)
Cahaya apa yang bisa ampuni
Kegelapan yang kita ciptakan sendiri?
Kala air yang menyembuhkan
Dikawin-paksakan dengan Merkuri
Hingga jadi bumerang yang melibas
Jiwa-jiwa tak berdosa
Dan inilah gelap yang redupkan segala cahaya;
Gelap mata-mata manusia
Yang bereinkarnasi
Jadikan gelap semesta
Terkutuklah penghulu-penghulunya!
Semoga semua isak tangis di Buyat
Hantui jiwa mereka selamanya
Semesta memejam,
Kembali kutanya langit muram,
"Cahaya apa yang bisa terangi
Kegelapan yang kita ciptakan,
Selagi kita nyata bersemayam di dalamnya?"
Belantara Jakarta, 9 Agustus 2004
(Teriring doa dan duka cita mendalam untuk Andini Lensun dan semua di Teluk Buyat) [21]
Perusahaan tambang emas Newmont AS telah dinobatkan sebagai "Perusahaan Terburuk" oleh penghargaan publik "Public Eye Award". Award ini digalang The Bern Declaration dan Green Peace setiap tahun.
Untuk menguatkan gaung suara publik dunia ini dan juga survivor (warga) buyat yang akhirnya terpaksa bedol desa dari Buyat (tempat beroperasi Newmont Minahasa yang sudah berakhir operasinya) menuju desa Dumiaga, Bolang Mengondow, juga sebagai peringatan tentang kinerja buruk perusahaan tambang di Indonesia dan sikap pemerintah yang lembek (dalam tanda seru catat Lumpur Lapindo), kami sepanjang 3 bulan kedepan yakni sampai 3 Juli tanggal meninggalnya Andini Lensun (bayi 5 bulan warga buyat dan kini kematiannya akan genap 5 tahun) akan mempublikasikan kembali 31 puisi dalam Nyanyian Nurani Untuk Andini Lensun dan Warga.
Selengkapnya
Kamis, 21 Mei 2009
Neoliberalisme dan Militer Di Panggung Politik, Kasihan Indonesia!
Terbaru dari Detik Finance
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
Terkait dengan semakin mendekatnya pemilu presiden, semakin memanas pula perdebatan dan perang wacana di media massa. Diantaranya yang paling seru adalah hiruk pikuk Boediono neoliberal hingga terus bergulir sampai kehulunya. SBY Neoliberal, sesungguhnya lengkapnya duet SBY-JK yang masih berkuasa hari ini. Padahal ada soal yang juga sama pentingnya dan kritis (tapi hampir tenggelam) yakni soal ramainya para jenderal di kancah kompetisi politik negeri ini.
Rene L Pattiradjawane dalam artikelnya Politik Jenderal : Militer Dalam Politik Kartel Demokrasi di Kompas (20 Mei 2009) menulis dengan sangat baik dan lugas soal ini.
Rene melihat politik demokrasi di negeri ini ibarat sebuah labirin…..
Rene mencatat, menggugah, menggugat, tulisnya…..
Ada jenderal calon wapres yang masih dituduh melakukan pelanggaran HAM berat sehingga kita pun harus siap-siap dan waswas jangan smpai setelah menjadi wapres terpilih, jenderal ini ditankap polisi di luar negeri, seperti yang terjadi pada Jendearal Spinoza ketika berkunjung ke Lomdon.”
Ada jenderal dituduh melakukan penculikan menyebabkan sekitar belasan orang tidak jelas rimbanya sampai sekarang. Atau, jenderal yang mengendalikan negara selama lima tahun terakhir ini yang condong mengulangi perilaku pemimpin Orde Baru dalam versi 2.0. Belum lagi jenderal-jenderal lain pendukung para capres dan cawapres, menjadi semacam kartel kekuasaan dan kekuatan politik pasca-Orde Baru
Khusus untuk partai pemenang pemilu legislatif (Demokrat) saya mencatat bertaburan bintang di tim sukses atau pemenangan Partai Demokrat. Paling tidak pada 6 tim, mantan militer (jenderal purnawirawan) menjadi pendiri, pengurus atau pembinanya. Tim Echo, Gerakan Pro SBY, Tim Delta, Tim Romeo, Barisan Indonesia dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam. (silah lihat lebih lanjut di http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/mantan-militer-purnawirwan-dominasi-tim.html)
Selanjutnya Rene menulis bagi rakyat kebanyakan, kehadiran para jenderal ini menjadi dilema tersendiri, karena kehadiran para jenderal selama 32 tahun Orde Baru sebenarnya tidak memberikan arti dan makna yang luas dalam meningkatkan kehidupan demokrasi. Disisi lain politisi sipil seperti terjebak dalam labirin politik kartel yang menganggap seolah-olah para jenderal ini mampu memperbaiki kehidupan kita semua.
Kasihan Indonesia! Begitu Rene menutup artikelnya.
Saya jadi teringat juga pernyataan Imparsial dalam satu siaran persnya yang menyebut politik Indonesia hari ini sebagai Politik yang Tuna Sejarah. Imparsial menyatakan Politik Indonesia adalah politik yang “Tuna Sejarah”. Politik ini tidak mengkoreksi kesalahan masa lalu, dan bahkan sebaliknya melupakannya. Di sini, bukannya keadilan korban yang terpenuhi, tetapi kemenangan pelaku pelanggaran HAM yang terlihatkan.
Imparsial juga menyatakan “…….oleh karenanya, disisa akhir pemerintahannya adalah benar apabila pemerintahan SBY-JK untuk berani mengungkap semua kejahatan yang terjadi, termasuk kasus pembunuhan aktifis HAM Munir. Jika tidak, SBY- JK tidak hanya telah menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri dengan membiarkannya, tetapi juga telah menjadi bagian dari politik yang tuna sejarah”.
(Silah tengok Politik yang Tuna Sejarah)
Alkisah dibanyak negeri miskin dan berkembang militer dan pendukung neoliberalisme (sebuah jalan ekonomi sekaligus politik, sosial, budaya dan tentu saja ideologi) adalah pasangan ideal (mutualis simbiosis) untuk terus memerkaya segelintir orang di satu sisi dan melanggengkan kekuasaan yang menindas dan menghisap di sisi lain.
Kasihan Sekali Indonesia! Begitu saya menutup catatan kecil ini
salam pembebasan
andreas iswinarto
simak serial ini selengkapnya
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Ketiga Capres Penganut Neoliberlisme (Pendapat Revrisond Baswir dan Ichsanuddin Noorsy)
Terkait dengan semakin mendekatnya pemilu presiden, semakin memanas pula perdebatan dan perang wacana di media massa. Diantaranya yang paling seru adalah hiruk pikuk Boediono neoliberal hingga terus bergulir sampai kehulunya. SBY Neoliberal, sesungguhnya lengkapnya duet SBY-JK yang masih berkuasa hari ini. Padahal ada soal yang juga sama pentingnya dan kritis (tapi hampir tenggelam) yakni soal ramainya para jenderal di kancah kompetisi politik negeri ini.
Rene L Pattiradjawane dalam artikelnya Politik Jenderal : Militer Dalam Politik Kartel Demokrasi di Kompas (20 Mei 2009) menulis dengan sangat baik dan lugas soal ini.
Rene melihat politik demokrasi di negeri ini ibarat sebuah labirin…..
Rene mencatat, menggugah, menggugat, tulisnya…..
Ada jenderal calon wapres yang masih dituduh melakukan pelanggaran HAM berat sehingga kita pun harus siap-siap dan waswas jangan smpai setelah menjadi wapres terpilih, jenderal ini ditankap polisi di luar negeri, seperti yang terjadi pada Jendearal Spinoza ketika berkunjung ke Lomdon.”
Ada jenderal dituduh melakukan penculikan menyebabkan sekitar belasan orang tidak jelas rimbanya sampai sekarang. Atau, jenderal yang mengendalikan negara selama lima tahun terakhir ini yang condong mengulangi perilaku pemimpin Orde Baru dalam versi 2.0. Belum lagi jenderal-jenderal lain pendukung para capres dan cawapres, menjadi semacam kartel kekuasaan dan kekuatan politik pasca-Orde Baru
Khusus untuk partai pemenang pemilu legislatif (Demokrat) saya mencatat bertaburan bintang di tim sukses atau pemenangan Partai Demokrat. Paling tidak pada 6 tim, mantan militer (jenderal purnawirawan) menjadi pendiri, pengurus atau pembinanya. Tim Echo, Gerakan Pro SBY, Tim Delta, Tim Romeo, Barisan Indonesia dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam. (silah lihat lebih lanjut di http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/mantan-militer-purnawirwan-dominasi-tim.html)
Selanjutnya Rene menulis bagi rakyat kebanyakan, kehadiran para jenderal ini menjadi dilema tersendiri, karena kehadiran para jenderal selama 32 tahun Orde Baru sebenarnya tidak memberikan arti dan makna yang luas dalam meningkatkan kehidupan demokrasi. Disisi lain politisi sipil seperti terjebak dalam labirin politik kartel yang menganggap seolah-olah para jenderal ini mampu memperbaiki kehidupan kita semua.
Kasihan Indonesia! Begitu Rene menutup artikelnya.
Saya jadi teringat juga pernyataan Imparsial dalam satu siaran persnya yang menyebut politik Indonesia hari ini sebagai Politik yang Tuna Sejarah. Imparsial menyatakan Politik Indonesia adalah politik yang “Tuna Sejarah”. Politik ini tidak mengkoreksi kesalahan masa lalu, dan bahkan sebaliknya melupakannya. Di sini, bukannya keadilan korban yang terpenuhi, tetapi kemenangan pelaku pelanggaran HAM yang terlihatkan.
Imparsial juga menyatakan “…….oleh karenanya, disisa akhir pemerintahannya adalah benar apabila pemerintahan SBY-JK untuk berani mengungkap semua kejahatan yang terjadi, termasuk kasus pembunuhan aktifis HAM Munir. Jika tidak, SBY- JK tidak hanya telah menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri dengan membiarkannya, tetapi juga telah menjadi bagian dari politik yang tuna sejarah”.
(Silah tengok Politik yang Tuna Sejarah)
Alkisah dibanyak negeri miskin dan berkembang militer dan pendukung neoliberalisme (sebuah jalan ekonomi sekaligus politik, sosial, budaya dan tentu saja ideologi) adalah pasangan ideal (mutualis simbiosis) untuk terus memerkaya segelintir orang di satu sisi dan melanggengkan kekuasaan yang menindas dan menghisap di sisi lain.
Kasihan Sekali Indonesia! Begitu saya menutup catatan kecil ini
salam pembebasan
andreas iswinarto
simak serial ini selengkapnya
Kompilasi artikel Neoliberalisme : Pengertian, Asa Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gi, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras)
Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme; Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres
Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)
Silahkan saksikan juga film dokumenter tentang keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme
John Pilger – The New rulers of The World
dengan subtitle bahasa indonesia
Globalization: New Rulers of The World (Part 1)
Globalization: New Rulers of The World (Part 2)
Globalization: New Rulers of The World (Part 3))
Globalization: New Rulers of The World (Part 4)
Globalization: New Rulers of The World (Part 5)
Globalization: New Rulers of The World (Part 6-Final)
selengkapnya
Seri 1, Seri 2, Seri 3, Seri 4, Seri 5, Seri 6, Seri 7, Seri 8, Seri 9 ,Seri Khusus
Label:
ekonomi-politik,
lawan-neoliberalisme
| Reaksi: |
Langgan:
Entri (Atom)







