Baca juga Pembatalan Pembangunan Pabrik Semen Gresik Sukolilo : Gubernur Jateng Salahkan LSM dan Menolak Mengurusi Persoalan Rakyat di Pati
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/07/gagalnya-pembangunan-pabrik-semen.html
Husain Koordinator Society for Health, Education, Environment and Peace (SHEEP) Jawa Tengah menyatakan dalam jumpa persnya di LBH Semarang menyatakan somasi ini akan diajukan pada pekan ini. Sheep adalah bagian dari Jaringan Advokasi Peduli Pegunungan Kendeng Utara yang beranggotakan Walhi, Kontras, Desantara, LBH, ANBTI, KRUHA, Jatam, ICEL, SHEEP, LBH YAPHI, HUMA, SARI, dan Madya.
Jaringan Kerja Advokasi dikecam oleh Bibit Waluyo mempravokasi rakyat untuk menolak rencana pembangunan pabrik semen Gresik Sukolilo.
Selengkapnya
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/07/28/brk,20090728-189356,id.html
Senin, 27 Juli 2009
Belajar Dari MIYAMOTO MUSASHI : Kesadaran, Intuisi, Kemampuan Observasi dan Perhatian Penuh (bag 2)
Seorang murid bertanya ”Apa itu Kehidupan Sejati? Dalam kebisuan guru Zen yang bijak menulis kata ”perhatian” di pasir. Pasti ada jalan yang lain, kata muridnya. Ya, ada jawab guru itu dan ia lagi-lagi menulis kata ”perhatian” di pasir. Tapi bukankah ada yang lain? Tanya si murid. Guru itu terdiam sejenak sebelum sekali lagi menulis kata ”perhatian”. Kini di pasir tertulis pesan ”Perhatian. Perhatian. Perhatian” (adaptasi dari tiger heart, tiger mind)
silah baca artikel bagian pertama
Sikap Hening dan Perhatian Penuh
Hidup Kembali
Meminum teh
Saya mengangkat cangkir saya
Dengan perhatian penuh
Saya memperhatikan warna keemasan pekatnya
Saya mencium aromanya yang keras
Saya membawanya ke bibir saya
Saya menyadari sentuhan cangkir pada bibir
Saya memiringkan cangkir dan leher
Dan saya meneguknya
Ah, teh yang benar-benar nikmat!
Saya mengetahui rasa dan komposisinya
Saya mengetahui kenikmatannya
Saya menelan
Saya sepenuhnya berada pada saat ini
Teh dan saya menyatu
Dan saya hidup sekali lagi.

Tujuan dari kehidupan adalah untuk menyelaraskan detak jantung anda dengan detak alam semesta, dan untuk mengharmoniskan natur alami anda dengan alam
Melalui disiplin upacara minum teh jepang berarti mempelajari seni kehidupan dengan konsep-konsep seperti keselarasan, rasa hormat, kemurnian, ketenangan dan diatas semua itu seni kehidupan yang yang dibarengi sikap awas dimana hati dan pikiran kita diperbaharui, direfleksikan dan menjadi cara untuk menyatakan pada diri sendiri tentang siapa diri kita yang sebenarnya.
Mendaratkan Gagasan
Heningkan diri anda, izinkan pikiran anda berkelana kemanapun. Riset menunjukkan bahwa kita disibukkan oleh 60.000 pikiran dalam sehari. Dengan memelihara sikap meditatif atau reflektif akan memfasilitasi penerimaan intuisi. Atau semakin hening, semakin keras suara hati anda terdengar. Suara-suara ajaib ini adalah intuisi anda. Pelukis Paul Gaugin berkata, ”Saya menutup mata supaya bisa melihat”. Jadi awas dan sensitif pada nada-nada batin yang terdengar dan membuai anda. Dengarkan. Peganglah erat-erat. Guncang dan lihatlah apa yang muncul. Kemudian, yang sangat penting, cepat tuliskan sebelum sesuatu yang muncul itu hilang, berganti dan saling bertabarakan dan tidak pernah kembali.
Francis Bacon menyarankan, ” Ada baiknya seseorang selalu mengantungi pensil dan mencatat pikirannya.” Karena percikan satu gagasan melahirkan gagasan yang lain, yang pada gilirannya melahirkan gagasan lain yang bisa mendukung, mengembangkan dan memperkuat tindakan yang akan membantu mewujudkan gagasan itu.

Anda harus memberikan ruang bagi gagasan yang sedang berputar-putar untuk mendarat.
Karena gagasan memiliki sayap, gagasan bisa terbang pergi semudah datangnya dan tidak pernah kembali. Sesuatu yang menggairahkan dapat bersifat sementara dan singkat, kecuali ada tindak lanjutnya.
Sesaat setelah Keith Richard (anggota grup band Rolling Stone) terjaga pada tengah malam, ia
Segera menulis not-not gitar untuk lagu Satisfaction. Lucunya saat ia beranjak bangun dari ranjang besok siangnya, ia telah lupa dengan lagu itu. Untunglah ia segera sadar telah menulis lagi itu sampai ia memutar tape recordernya dan mendenagar dirinya menggumamkan nada-nada yang kini menjadi lagu rock abadi.
Ya sungguh Thomas Alfa Edison telah mematenkan lebih dari 1000 penemuan dalam hidupnya. Selain Smithsonian and Rutgers University telah mengarsipkan lebih dari 5 juta halaman gagasan, catatan, dan berbagai dokumen peninggalannya. Anggaplah usianya mencapai 60 tahun, maka itu berarti setiap hari ia mengerjakan 228 halaman dan tiap tahun ia mematenkan 17 temuannya.
Bonus : Mengembangkan Kapasitas Berpikir Sadar dan Bawah Sadar Kita
Intuisi juga bisa dilatih dengan metode berpikir lateral.
Berpikir lateral
Anda tidak bisa menggali sebuah lubang di tempat yang berbeda dengan manggali lubang yang sama semakin dalam
Mencoba lebih keras dengan ide dan pendekatan yang sama mungkin tidak akan menyelesaikan masalah. Anda mungkin perlu bergerak secara lateral untuk mencoba berbagai ide dan pendekaran baru
Berpikir lateral adalah melarikan diri (keluar) dari berbagai ide dan persepsi yang sudah ada untuk menemukan ide-ide baru
Dalam sejarah penciptaan dan ide, banyak kejadian kebetulan yang memicu ide kreatif muncul dari sebuah kejadian acak. Seperti apel yang jatuh menimpa kepala Newton menjadi inspirasi bagi konsep gravitasi sebagai sebuah gaya. Atau konon Archimedes saat bermain-main dengan sabun (atau benda lainnya) dibak mandinya, tiba-tiba mendapat ide cara menguji apakah sebuah mahkota emas murni atau bukan (dengan mengamati perbedaan berat mahkota itu di dalam air dan diluar air). Sebuah kebetulan kemudian memberi kita ’wawasan’ atau ’intuisi’ seketika atau ’efek eureka’. Berita gembiranya kita tidak harus menunggu terjadinya kebetulan untuk mencetuskan ide. Kita tidak perlu menunggu dibawah pohon dan menunggu jatuhnya apel di kepala kita? Tetapi kita juga bisa bangkit dan mengguncang pohon apel itu. Diantaranya dengan latihan menggunakan kata acak. Sebuah kata yang diperoleh secara acak (tanpa pemilihan secara spesifik) dihubungkan ke masalah yang memerlukan berbagai ide baru. Asosiasi, fungsi dan konsep yang ditimbulkan dari kata acak itu bisa mengarahkan kita ke berbagai ide baru.

Contoh : Anda menginginkan berbagai ide baru tentang mesin fotokopi. Kemudian secara acak kita temukan kata hidung, karena saat ini jarum detik jam menunjukkan angka 19 (sudah disediakan sebelumnya sejumlah 60 kata acak). Jadi kita hubungkan mesin fotokopi dan indra penciuman. Pertanyaan adalah nilai apakah yang bisa didapatkan dari bau. Mungkin alat fotokopi bisa memberikan bau yang berbeda, bergantung pada apa yang salah dengannya. Dengan demikian, kita bisa menggunakan bau sebagai indikator kerusakan. Apabila alat fotocopy itu tidak berfungsi, anda tinggal mencium bau yang muncul. Bau itu segera menunjukkan kepada anda apa yang salah dari mesin itu.
Itulah salah satu latihan yang dikembangkan dan diajarkan oleh Edward de Bono sebagai penemu metode berpikir lateral.
LATIHAN :
Baca dan cermati pusisi-puisi ini, perhatian, perhatian penuh, cermati kemampuan penulisnya dalam melakukan observasi, rasakan ketajaman intuisinya dan gerakan intuisi aja, bayangkan rasakan suasana yang digambarkan. Kembankan imajinasi anda untuk menangkap setiap detil.
Petang di Jembatan Liu
Lu You (1125-1210)
terdengar ikan meloncat di air kolam
rimbun hutan menunggu bangau pulang
awan lengang takkan menjadi hujan,
lalu terbang mengitari hijau pegunungan
Pesanggrahan Rusa
Wang Wei (701-761)
Gunung kosong tak terlihat manusia,
hanya terdengar cakap insan bergema.
Pantul sinar memasuki kedalaman hutan,
Kembali menapak di atas hijau lelumutan.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989

Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
Gentong Kosong
Wiji Thukul
parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi
gentong kosong
beras segelas punya
masak apa kita hari ini
pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterima kasih
atas jawabanmu
pada sang lapar hari ini
gentong kosong
airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini
sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak persediaan terakhir kami
gentong kosong
botol kosong
marilah menyanyi
merayakan hidup ini
6 januari 97
Sumber bacaan dan kutipan :
1 The Lone Samurai : Kehidupan Miyamoto Musashi; Gramedia 2006
2 Musashi; Eiji Yoshikawa; Gramedia 2006
3 Sun Zi : The Art of War; Chow-Hou Wee; BIP 2006
4 33 Strategi Perang; Robert Greene; KARISMA 2007
5 Purnama Di Bukit Langit; Antologi Puisi Tiongkok Klasik; Zhou Fuyuan; Gramedia 2007
6 Ulasan Penutup Buku Purnama di Bukit Langit oleh Sapardi Djoko Damono
7 Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono; Grasindo 1994
8 Aku Ingin Jadi Peluru; Wiji Thukul; Indonesiatera 2004
9 Minum Teh : Menjalani Kehidupan; Visuddhacara; Penerbit Karaniya
10Tiger Heart, Tiger Mind; Ron Rubin dan Stuart Avery Gold; BIP 2007-05-10
11Kisah-kisah Kebijakan Zen; Indra Gunawan; Gramedia 2005
12Goal-Free Living; Stephen M Shapiro; Elex Media Komputindo 2006
13Blink : Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir; Gramedia 2006
14Pratical Intuition; Laura Day; Serambi 2006
15Terapi NLP; DR. Ibrahim Elfiky; Hikmah 2007-05-10
16Mind Map; Tony Buzan; Gramedia 2006
silah baca artikel bagian pertama
Sikap Hening dan Perhatian Penuh
Hidup Kembali
Meminum teh
Saya mengangkat cangkir saya
Dengan perhatian penuh
Saya memperhatikan warna keemasan pekatnya
Saya mencium aromanya yang keras
Saya membawanya ke bibir saya
Saya menyadari sentuhan cangkir pada bibir
Saya memiringkan cangkir dan leher
Dan saya meneguknya
Ah, teh yang benar-benar nikmat!
Saya mengetahui rasa dan komposisinya
Saya mengetahui kenikmatannya
Saya menelan
Saya sepenuhnya berada pada saat ini
Teh dan saya menyatu
Dan saya hidup sekali lagi.
Tujuan dari kehidupan adalah untuk menyelaraskan detak jantung anda dengan detak alam semesta, dan untuk mengharmoniskan natur alami anda dengan alam
Melalui disiplin upacara minum teh jepang berarti mempelajari seni kehidupan dengan konsep-konsep seperti keselarasan, rasa hormat, kemurnian, ketenangan dan diatas semua itu seni kehidupan yang yang dibarengi sikap awas dimana hati dan pikiran kita diperbaharui, direfleksikan dan menjadi cara untuk menyatakan pada diri sendiri tentang siapa diri kita yang sebenarnya.
Mendaratkan Gagasan
Heningkan diri anda, izinkan pikiran anda berkelana kemanapun. Riset menunjukkan bahwa kita disibukkan oleh 60.000 pikiran dalam sehari. Dengan memelihara sikap meditatif atau reflektif akan memfasilitasi penerimaan intuisi. Atau semakin hening, semakin keras suara hati anda terdengar. Suara-suara ajaib ini adalah intuisi anda. Pelukis Paul Gaugin berkata, ”Saya menutup mata supaya bisa melihat”. Jadi awas dan sensitif pada nada-nada batin yang terdengar dan membuai anda. Dengarkan. Peganglah erat-erat. Guncang dan lihatlah apa yang muncul. Kemudian, yang sangat penting, cepat tuliskan sebelum sesuatu yang muncul itu hilang, berganti dan saling bertabarakan dan tidak pernah kembali.
Francis Bacon menyarankan, ” Ada baiknya seseorang selalu mengantungi pensil dan mencatat pikirannya.” Karena percikan satu gagasan melahirkan gagasan yang lain, yang pada gilirannya melahirkan gagasan lain yang bisa mendukung, mengembangkan dan memperkuat tindakan yang akan membantu mewujudkan gagasan itu.
Anda harus memberikan ruang bagi gagasan yang sedang berputar-putar untuk mendarat.
Karena gagasan memiliki sayap, gagasan bisa terbang pergi semudah datangnya dan tidak pernah kembali. Sesuatu yang menggairahkan dapat bersifat sementara dan singkat, kecuali ada tindak lanjutnya.
Sesaat setelah Keith Richard (anggota grup band Rolling Stone) terjaga pada tengah malam, ia
Segera menulis not-not gitar untuk lagu Satisfaction. Lucunya saat ia beranjak bangun dari ranjang besok siangnya, ia telah lupa dengan lagu itu. Untunglah ia segera sadar telah menulis lagi itu sampai ia memutar tape recordernya dan mendenagar dirinya menggumamkan nada-nada yang kini menjadi lagu rock abadi.
Ya sungguh Thomas Alfa Edison telah mematenkan lebih dari 1000 penemuan dalam hidupnya. Selain Smithsonian and Rutgers University telah mengarsipkan lebih dari 5 juta halaman gagasan, catatan, dan berbagai dokumen peninggalannya. Anggaplah usianya mencapai 60 tahun, maka itu berarti setiap hari ia mengerjakan 228 halaman dan tiap tahun ia mematenkan 17 temuannya.
Bonus : Mengembangkan Kapasitas Berpikir Sadar dan Bawah Sadar Kita
Intuisi juga bisa dilatih dengan metode berpikir lateral.
Berpikir lateral
Anda tidak bisa menggali sebuah lubang di tempat yang berbeda dengan manggali lubang yang sama semakin dalam
Mencoba lebih keras dengan ide dan pendekatan yang sama mungkin tidak akan menyelesaikan masalah. Anda mungkin perlu bergerak secara lateral untuk mencoba berbagai ide dan pendekaran baru
Berpikir lateral adalah melarikan diri (keluar) dari berbagai ide dan persepsi yang sudah ada untuk menemukan ide-ide baru
Dalam sejarah penciptaan dan ide, banyak kejadian kebetulan yang memicu ide kreatif muncul dari sebuah kejadian acak. Seperti apel yang jatuh menimpa kepala Newton menjadi inspirasi bagi konsep gravitasi sebagai sebuah gaya. Atau konon Archimedes saat bermain-main dengan sabun (atau benda lainnya) dibak mandinya, tiba-tiba mendapat ide cara menguji apakah sebuah mahkota emas murni atau bukan (dengan mengamati perbedaan berat mahkota itu di dalam air dan diluar air). Sebuah kebetulan kemudian memberi kita ’wawasan’ atau ’intuisi’ seketika atau ’efek eureka’. Berita gembiranya kita tidak harus menunggu terjadinya kebetulan untuk mencetuskan ide. Kita tidak perlu menunggu dibawah pohon dan menunggu jatuhnya apel di kepala kita? Tetapi kita juga bisa bangkit dan mengguncang pohon apel itu. Diantaranya dengan latihan menggunakan kata acak. Sebuah kata yang diperoleh secara acak (tanpa pemilihan secara spesifik) dihubungkan ke masalah yang memerlukan berbagai ide baru. Asosiasi, fungsi dan konsep yang ditimbulkan dari kata acak itu bisa mengarahkan kita ke berbagai ide baru.
Contoh : Anda menginginkan berbagai ide baru tentang mesin fotokopi. Kemudian secara acak kita temukan kata hidung, karena saat ini jarum detik jam menunjukkan angka 19 (sudah disediakan sebelumnya sejumlah 60 kata acak). Jadi kita hubungkan mesin fotokopi dan indra penciuman. Pertanyaan adalah nilai apakah yang bisa didapatkan dari bau. Mungkin alat fotokopi bisa memberikan bau yang berbeda, bergantung pada apa yang salah dengannya. Dengan demikian, kita bisa menggunakan bau sebagai indikator kerusakan. Apabila alat fotocopy itu tidak berfungsi, anda tinggal mencium bau yang muncul. Bau itu segera menunjukkan kepada anda apa yang salah dari mesin itu.
Itulah salah satu latihan yang dikembangkan dan diajarkan oleh Edward de Bono sebagai penemu metode berpikir lateral.
LATIHAN :
Baca dan cermati pusisi-puisi ini, perhatian, perhatian penuh, cermati kemampuan penulisnya dalam melakukan observasi, rasakan ketajaman intuisinya dan gerakan intuisi aja, bayangkan rasakan suasana yang digambarkan. Kembankan imajinasi anda untuk menangkap setiap detil.
Petang di Jembatan Liu
Lu You (1125-1210)
terdengar ikan meloncat di air kolam
rimbun hutan menunggu bangau pulang
awan lengang takkan menjadi hujan,
lalu terbang mengitari hijau pegunungan
Pesanggrahan Rusa
Wang Wei (701-761)
Gunung kosong tak terlihat manusia,
hanya terdengar cakap insan bergema.
Pantul sinar memasuki kedalaman hutan,
Kembali menapak di atas hijau lelumutan.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
Gentong Kosong
Wiji Thukul
parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi
gentong kosong
beras segelas punya
masak apa kita hari ini
pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterima kasih
atas jawabanmu
pada sang lapar hari ini
gentong kosong
airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini
sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak persediaan terakhir kami
gentong kosong
botol kosong
marilah menyanyi
merayakan hidup ini
6 januari 97
Sumber bacaan dan kutipan :
1 The Lone Samurai : Kehidupan Miyamoto Musashi; Gramedia 2006
2 Musashi; Eiji Yoshikawa; Gramedia 2006
3 Sun Zi : The Art of War; Chow-Hou Wee; BIP 2006
4 33 Strategi Perang; Robert Greene; KARISMA 2007
5 Purnama Di Bukit Langit; Antologi Puisi Tiongkok Klasik; Zhou Fuyuan; Gramedia 2007
6 Ulasan Penutup Buku Purnama di Bukit Langit oleh Sapardi Djoko Damono
7 Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono; Grasindo 1994
8 Aku Ingin Jadi Peluru; Wiji Thukul; Indonesiatera 2004
9 Minum Teh : Menjalani Kehidupan; Visuddhacara; Penerbit Karaniya
10Tiger Heart, Tiger Mind; Ron Rubin dan Stuart Avery Gold; BIP 2007-05-10
11Kisah-kisah Kebijakan Zen; Indra Gunawan; Gramedia 2005
12Goal-Free Living; Stephen M Shapiro; Elex Media Komputindo 2006
13Blink : Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir; Gramedia 2006
14Pratical Intuition; Laura Day; Serambi 2006
15Terapi NLP; DR. Ibrahim Elfiky; Hikmah 2007-05-10
16Mind Map; Tony Buzan; Gramedia 2006
Belajar Dari MIYAMOTO MUSASHI : Kesadaran, Intuisi, Kemampuan Observasi dan Perhatian Penuh (bag 1)
Pertanyaan Miyamoto Musashi Tentang JALAN-ZEN : Seberapa Tangguh Ujung Pedangmu, Ujung Kuasmu, Ujung Kata-katamu?
Prolog
Seorang murid bertanya ”Apa itu Kehidupan Sejati? Dalam kebisuan guru Zen yang bijak menulis kata ”perhatian” di pasir. Pasti ada jalan yang lain, kata muridnya. Ya, ada jawab guru itu dan ia lagi-lagi menulis kata ”perhatian” di pasir. Tapi bukankah ada yang lain? Tanya si murid. Guru itu terdiam sejenak sebelum sekali lagi menulis kata ”perhatian”. Kini di pasir tertulis pesan ”Perhatian. Perhatian. Perhatian” (adaptasi dari tiger heart, tiger mind)

silah baca artikel bagian kedua
Jalan Pedang Musashi
Musashi ”The Lone Samurai” (begitu William Scott Wilson Penulis Biografi Musashi menjulukinya) yang hidup antara tahun 1584-1645 telah mengalami dan memenangkan 60 kali duel dan terlibat dalam 6 kali pertempuran dalam perang besar antara umur tiga belas sampai dua pulau sembilan tahun. Selain maestro pedang, Musashi juga seorang seniman maestro serba bisa (paling menonjol sebagai pelukis terkemuka). Bagi banyak orang Jepang, Jalan Musashi adalah teladan kisah manusia sejati atau pencarian manusia akan jalan yang benar dan ganjaran yang akhirnya diperoleh dari jalan tersebut.
Popularitas Musashi memang luar biasa. Novel Musashi yang ditulis Eiji Yoshikawa di Jepang saja terjual di angka 120 juta. Ini mengejutkan karena penduduk Jepang saja hanya berjumlah 110 juta orang. Bisa jadi buku ini dan Musashi telah turut membentuk watak Jepang Modern (JB Kristanto dalam pengantar novel Musashi). Novel Musashi yang pernah dimuat di harian Kompas sebagai cerbung dan kemudian diterbitkan Gramedia adalah versi ringkas dari naskah aslinya dengan tebal 26.000 halaman.

Musashi mengasah kekuatan observasi dan intuisi melalui disiplin yang luar biasa– yang ia junjung tinggi jauh melebihi teknik- sampai ketingkat yang luar biasa.
Meskipun ia menghormati pedang, ia tidak terpaku pada kegunaannya dan dengan senang hati menggunakan apapun yang bisa diraih ketika berhadapan dengan lawan. Ia mendorong murid-muridnya untuk tidak terobsesi apapun atau mengandalkan apapun, termasuk pedang yang justru merupakan roh samurai.
Dalam gayaku pedang tidak mengenal pintu masuk atau kerahasiaan dan tidak mengenal adanya kuda-kuda terbaik. Yang penting hanyalah mengamati keutamaannya dengan pikiran. Itulah esensi seni bela diri.
Kekuatan Observasi
Musashi :
Dalam menggunakan mata, lakukanlah dengan cara luas dan menyeluruh. Ada pengamatan dan ada penglihatan. Mata pengamatan itu kuat. Mata penglihatan itu lemah. Melihat yang jauh sebagai dekat, dan yang dekat sebagai jauh, adalah sangat mendasar dari seni bela diri. Mengenali pedang lawanmu, tetapi tanpa melihatnya sama sekali, adalah sangat penting dalam seni bela diri.
Takuan :
Ketika menghadapi sebatang pohon, jika kau mengamati salah satu daunnya yang merah, kau tidak akan melihat semua daun yang lain. Ketika mata tidak diarahkan pada selembar daun manapun, dan kau menghadapi pohon itu tanpa memikirkan apa pun dalam benakmu, berapa pun jumlah daun akan terlihat dimatamu tanpa batas. Tetapi jika selembar daun menguasai mata, maka seakan-akan pohon tidak ada.
Sebuah video yang dikembangkan Universitas Illinois untuk memperlihatkan kemampuan otak, menayangkan enam orang berpakaian kaos. Tiga orang mengenakan kaus putih dan tiga lainnya kaus hitam. Masing-masing tim yang terdiri atas tiga orang itu memegang bola basket. Sebelum memutar video itu instruktur menceritakan kepada audiens bahwa ini adalah tes kemampuan mereka untuk berfokus dan memperhatikan arah. Tugas mereka adalah menghitung berpa kali tim berkaus putih saling melempar bola di antara para anggotanya. Baru setelah itu ditayangkan video berdurasi 45 menit itu. Setelah itu ketika ditanyakan beberapa menghitung 15. Lebih banyak yang menghitung 16 dan yang terbanyak menghitung 17. Ternyata yang benar adalah 18. Namun bukan itu yang benar-benar penting. Oleh karena 95 persen audiens benar-benar tidak melihat kejadian luar biasa janggal dalam tayangan video tersebut, instruktur memutar untuk kedua kalinya. Kali ini, instruktur meminta audiense untuk tidak menghitung, cukup menonton saja. Kira-kira separo jalan penanyangan, penonton tercengang ketika gorila besar berbulu (sebenarnya manusia berkostum gorilla) berjalan lurus melintas lapangan basket, memukul-mukul dadanya, lalu pergi. Kurang dari 5 persen penonton yang melihat kejadian itu pada kesempatan pertama. Kenyataanya mayoritas penonton tidak percaya saat instruktur menayangkan video untuk kedua kalinya. Ini merupakan ilustrasi menarik tentang kekuatan dan bahaya fokus.
Kau mesti menyelidiki hal ini dengan seksama – ungkapan yang paling sering disebut Musashi dalam kitabnya Kitab Lima Lingkaran
Dalam lukisan Zen, segala sesuatu yang tidak penting dibuang dan setiap sapuan kuas yang tak boleh diulang digerakkan dengan intensitas dan energi yang berdisiplin dari sang seniman.

Tujuan taman menjadi suatu katalisator untuk meditasi dan kontemplasi. Fenomena alami mulai dianggap sarat dengan makna yang lebih mendalam tentang alam semesta. Rancangan taman kemudian cenderung sibuk mengetengahkan esensi bukan memamerkan alam dalam segala kekayaannya. Terdapat kapasitas kuat untuk menyuling unsur-unsur alam sampai ke yang paling abstrak dan esensial. Penekanannya sering diberikan kepada ruang atau kehampaan bukan pada aneka dedaunan. Dengan demikian untuk sampai kesana, perancang taman haruslah orang yang memahami konsep-konsep Budha yang terlibat di dalamnya, serta mengenal betul pernik-pernik alam.
Kekuatan Intuisi
Aku tidak dikalahkan oleh musuh karena aku tidak menggubris nyawaku sendiri. Aku hanya masuk dan menyerang.
Dalam buku Lima Lingkaran disebutkan dengan Buku Air, Musashi membeberkan betapa air adalah sumber inspirasi untuk mencapi kemenangan. Fleksibel, bebas dan terbuka serta akal budi berlabuh senantiasa di pusat; tenang tetapi tetap siaga; relaks namun tidak melantur. Sikap itu dipertahankan dalam situasi apapun. Sewaktu bertemu lawan atau kawan.
Air tidak mengalah dan tidak mengalahkan, namun kalau dia terlalu dipojokkan, secara alami dia dapat menjadi sangat berbahaya. Diluar dugaan, tanpa perhitungan, air dapat berubah menjadi gelombang tsunami yang bergelora, yang maha dasyat, yang meluluh lantakan semua, tanpa dia dapat dilawan ataupun dibendung. (Indra Gunawan)
Teori tidak mungkin melengkapi pikiran dengan rumusan untuk memecahkan masalah, juga tidak mungkin menandai jalan sempit di mana terdapat solusi tunggal dengan merencanakan batasan prinsip di kedus sisinya. Akan tetapi mungkin teori memberi pikiran wawasan tentang fenomena dan hubungan-hubungannya, sehingga membebaskan pikiran untuk naik kedunia tindakan yang lebih tinggi. Di sana pikiran dapat menggunakan seluruh talenta hakikinya hingga kapasitas penuh, untuk merebut apa yang benar dan tepat seolah-olah hal itu merupakan respon terhadap tantangan di depan mata dan bukan produk suatu pemikiran.
On War, Carl Von Clausewitz, 1780-1831
Ketika kita bertempur, kita tidak membawa serta buku apa pun
Mao Tse-Tung, 1893-1976

Siapapun sanggup merencanakan operasi militer, namun tidak banyak yang sanggup berperang, sebab hanya jenius militer sejati yang sanggup menangani perkembangan dan keadaan. Napoleon Bonaparte, 1769-1821
Pahami ajaran abadi seputar inspirasi dan penyerapan yang disampaikan para pelukis Cina kepada siswa pemula ”Meditasikan bambu sampai kalian menjadi bambu itu sendiri, kemudian warnai diri kalian sendiri”. Dengan memasuki obyek yang akan mereka lukis hingga titik keduanya melebur, maka kehidupan batin dan keindahan estetik dari obyek lukisan akan terekspresikan dengan mudahnya melalui sapuan kuas yang intuitif serta tangkas. Atau dalam bahasa Amstrong ”Saya tidak memainkannya. Gaya jazz itulah yang memainkan saya”
Blink adalah dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu – dua detik – yang akan memberikan pemahaman dalam sekejap mata, yang terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dari dalam ”komputer internal” kita, alias kemampuan bawah sadar kita. Kemampuan ini oleh Malcolm Gladwell disebut ”kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Blink menyingkapkan bahwa orang-orang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses paling banyak informasi atau yang sangaja menghabiskan waktu paling lama, namun orang-orang yang telah melatih diri mereka untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis-menyaring sesedikit mungkin faktor-faktor terpenting dari sejumlah kemungkinan yang menggunung.
Pandangan baru tentang bawah sadar adaptif, dipahami sebagai semacam komputer raksasaa yang dengan cepat dan secara diam-diam mengolah begitu banyak data yang diperlukan agar kita dapat tetap berfungsi sebagai manusia. Satu-satunya cara yang memungkinkan manusia bertahan hidup sebagai spesies selama ini adalah karena kita telah mengembangkan sebuah alat pembuat keputusan lain yang mampu bekerja cepat sekali berdasarkan informasi sangat sedikit.
Kita sebetulnya bolak-balik antara menggunakan modus pikir sadar dan bawah sadar, sesuai situasi.
Bahwa keputusan Geoerge Soros untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Ia betul-betul mengalami kejang dan baginya ini sebuah peringatan dini.
Kemampuan Otak Manusia
Jumlah sel otak manusia adalah satu triliun (1.000.000.000.000). Dimana sel otak beroperasi dengan membentuk kaitan yang sangat kompleks dengan puluhan ribu tetangga dan temannya, kaitan-kaitan itu terutama dibuat ketika cabang utama dan terbesarnya (akson) membuat ribuan hubungan dengan tombol kecil pada ribuan cabang dari ribuan sel otak lainnya.
Ilmuwan peneliti otak, Dr. Marian Diamond menemukan bahwa sejauh menyangkut otak, ungkapan ’gunakan atau hilangkan saja’ adalah nasihat yang sangat baik. Semakin intens, luas dan terangsang otak anda dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antar sel-sel. Dapat dikatakan kemudian bahwa potensi otak manusia menjadi tak terbatas.
Perlu dicatat pula proses ini dapat dioptimalkan pula dengan mengaktifkan berbagai bentuk penyerapan dan karakteristik pembelajaran yang kita miliki yang biasa disebutkan kapasitas visual, auditorial dan kinestetik. Pencerapan dan pembelajaran melalui mata (penglihatan dan pengamatan), pencerapan dan pembelajaran melalui pendengaran dan pencerapan dan pembelajaran melalui gerak seluruh tubuh. Atau secara umum juga mengaktifkan dan mengoptimalkan semua panca indera, sentuhan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan perasa. Termasuk intuisi yang biasa disebut sebagai indera keenam.
Sebagai perbandingan seekor lebah memiliki 960.000 ribu sel otak. Apa yang bisa dilakukannya dengan jumlah itu, membangun, merawat, mengumpulkan, berkomunikasi, menghitung, menari, membedakan, makan, berkelahi, terbang, mendengar, belajar, hidup dalam komunitas yang teratur, membuat keputusan, menentukan arah, memproduksi madu, mengatur suhu, mengingat, reproduksi, melihat, mencium bau, berkerumun dalam formasi rumit (spt skuadron pesawat tempur), mencicip, berpikir dan menyentuh

Bayangkan apa potensi seorang manusia dengan jumlah sel otak 1.041.666 kali jumlah sel otak lebah!!!!! Mari kita lihat seorang jenius penemu lampu pijar.
Psikolog ternama dari Harvard, George A. Miller, menemukan pula bahwa pikiran sadar manusia mampu menyerap 5-9 informasi dalam suatu waktu. Tetapi pikiran bawah sadar mampu menyerap lebih dari dua juta informasi setiap detiknya. Ia meliputi seluruh memori dan program pikiran yang menyeluruh sampai-sampai menyusuri kembali pengalaman dalam rahim ibu kita.
Ketrampilan otak kiri meliputi kata, logika, angka, urutan, linieritas, analisis, daftar (atau berpikir logis, sekuensial, linear, rasional) dan dengan isitilah populer dipayungi oleh kata akademik, intelektual dan bisnis. Ketrampilan otak kanan meliputi irama, kesadaran, ruang, dimensi, imajinasi, melamun, warna, kesadaran holistik, intuisi (atau berpikir acak, tidak teratur, intuitif, holistik) bisa dipayungi dengan kata-kata artistik, kreatif dan naluriah.
Salah satu metode berpikir yang digunakan untuk mengoptimalkan fungsi dan potensi otak kita adalah dengan metode mind map. Untuk mengetahui sekilas apa itu Mind Map, coba saja anda buka program Mind Manager di komputer anda. Menurut Tony Buzan salah satu pakar yang mempopulerkannya, mind map adalah alat berpikr kreatif yang mencerminkan cara kerja alami otak, Mind Map memungkinkan otak menggunakan semua warna, gambar dan asosiasinya dalam pola radial dan jaringan sebagaimana otak dirancang, seperti yang secara internal selalu digunakan otak, dan terhadap mana anda perlu membiarkannya membiasakan diri kembali.
Sumber bacaan dan kutipan :
1 The Lone Samurai : Kehidupan Miyamoto Musashi; Gramedia 2006
2 Musashi; Eiji Yoshikawa; Gramedia 2006
3 Sun Zi : The Art of War; Chow-Hou Wee; BIP 2006
4 33 Strategi Perang; Robert Greene; KARISMA 2007
5 Purnama Di Bukit Langit; Antologi Puisi Tiongkok Klasik; Zhou Fuyuan; Gramedia 2007
6 Ulasan Penutup Buku Purnama di Bukit Langit oleh Sapardi Djoko Damono
7 Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono; Grasindo 1994
8 Aku Ingin Jadi Peluru; Wiji Thukul; Indonesiatera 2004
9 Minum Teh : Menjalani Kehidupan; Visuddhacara; Penerbit Karaniya
10Tiger Heart, Tiger Mind; Ron Rubin dan Stuart Avery Gold; BIP 2007-05-10
11Kisah-kisah Kebijakan Zen; Indra Gunawan; Gramedia 2005
12Goal-Free Living; Stephen M Shapiro; Elex Media Komputindo 2006
13Blink : Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir; Gramedia 2006
14Pratical Intuition; Laura Day; Serambi 2006
15Terapi NLP; DR. Ibrahim Elfiky; Hikmah 2007-05-10
16Mind Map; Tony Buzan; Gramedia 2006
Prolog
Seorang murid bertanya ”Apa itu Kehidupan Sejati? Dalam kebisuan guru Zen yang bijak menulis kata ”perhatian” di pasir. Pasti ada jalan yang lain, kata muridnya. Ya, ada jawab guru itu dan ia lagi-lagi menulis kata ”perhatian” di pasir. Tapi bukankah ada yang lain? Tanya si murid. Guru itu terdiam sejenak sebelum sekali lagi menulis kata ”perhatian”. Kini di pasir tertulis pesan ”Perhatian. Perhatian. Perhatian” (adaptasi dari tiger heart, tiger mind)
silah baca artikel bagian kedua
Jalan Pedang Musashi
Musashi ”The Lone Samurai” (begitu William Scott Wilson Penulis Biografi Musashi menjulukinya) yang hidup antara tahun 1584-1645 telah mengalami dan memenangkan 60 kali duel dan terlibat dalam 6 kali pertempuran dalam perang besar antara umur tiga belas sampai dua pulau sembilan tahun. Selain maestro pedang, Musashi juga seorang seniman maestro serba bisa (paling menonjol sebagai pelukis terkemuka). Bagi banyak orang Jepang, Jalan Musashi adalah teladan kisah manusia sejati atau pencarian manusia akan jalan yang benar dan ganjaran yang akhirnya diperoleh dari jalan tersebut.
Popularitas Musashi memang luar biasa. Novel Musashi yang ditulis Eiji Yoshikawa di Jepang saja terjual di angka 120 juta. Ini mengejutkan karena penduduk Jepang saja hanya berjumlah 110 juta orang. Bisa jadi buku ini dan Musashi telah turut membentuk watak Jepang Modern (JB Kristanto dalam pengantar novel Musashi). Novel Musashi yang pernah dimuat di harian Kompas sebagai cerbung dan kemudian diterbitkan Gramedia adalah versi ringkas dari naskah aslinya dengan tebal 26.000 halaman.
Musashi mengasah kekuatan observasi dan intuisi melalui disiplin yang luar biasa– yang ia junjung tinggi jauh melebihi teknik- sampai ketingkat yang luar biasa.
Meskipun ia menghormati pedang, ia tidak terpaku pada kegunaannya dan dengan senang hati menggunakan apapun yang bisa diraih ketika berhadapan dengan lawan. Ia mendorong murid-muridnya untuk tidak terobsesi apapun atau mengandalkan apapun, termasuk pedang yang justru merupakan roh samurai.
Dalam gayaku pedang tidak mengenal pintu masuk atau kerahasiaan dan tidak mengenal adanya kuda-kuda terbaik. Yang penting hanyalah mengamati keutamaannya dengan pikiran. Itulah esensi seni bela diri.
Kekuatan Observasi
Musashi :
Dalam menggunakan mata, lakukanlah dengan cara luas dan menyeluruh. Ada pengamatan dan ada penglihatan. Mata pengamatan itu kuat. Mata penglihatan itu lemah. Melihat yang jauh sebagai dekat, dan yang dekat sebagai jauh, adalah sangat mendasar dari seni bela diri. Mengenali pedang lawanmu, tetapi tanpa melihatnya sama sekali, adalah sangat penting dalam seni bela diri.
Takuan :
Ketika menghadapi sebatang pohon, jika kau mengamati salah satu daunnya yang merah, kau tidak akan melihat semua daun yang lain. Ketika mata tidak diarahkan pada selembar daun manapun, dan kau menghadapi pohon itu tanpa memikirkan apa pun dalam benakmu, berapa pun jumlah daun akan terlihat dimatamu tanpa batas. Tetapi jika selembar daun menguasai mata, maka seakan-akan pohon tidak ada.
Sebuah video yang dikembangkan Universitas Illinois untuk memperlihatkan kemampuan otak, menayangkan enam orang berpakaian kaos. Tiga orang mengenakan kaus putih dan tiga lainnya kaus hitam. Masing-masing tim yang terdiri atas tiga orang itu memegang bola basket. Sebelum memutar video itu instruktur menceritakan kepada audiens bahwa ini adalah tes kemampuan mereka untuk berfokus dan memperhatikan arah. Tugas mereka adalah menghitung berpa kali tim berkaus putih saling melempar bola di antara para anggotanya. Baru setelah itu ditayangkan video berdurasi 45 menit itu. Setelah itu ketika ditanyakan beberapa menghitung 15. Lebih banyak yang menghitung 16 dan yang terbanyak menghitung 17. Ternyata yang benar adalah 18. Namun bukan itu yang benar-benar penting. Oleh karena 95 persen audiens benar-benar tidak melihat kejadian luar biasa janggal dalam tayangan video tersebut, instruktur memutar untuk kedua kalinya. Kali ini, instruktur meminta audiense untuk tidak menghitung, cukup menonton saja. Kira-kira separo jalan penanyangan, penonton tercengang ketika gorila besar berbulu (sebenarnya manusia berkostum gorilla) berjalan lurus melintas lapangan basket, memukul-mukul dadanya, lalu pergi. Kurang dari 5 persen penonton yang melihat kejadian itu pada kesempatan pertama. Kenyataanya mayoritas penonton tidak percaya saat instruktur menayangkan video untuk kedua kalinya. Ini merupakan ilustrasi menarik tentang kekuatan dan bahaya fokus.
Kau mesti menyelidiki hal ini dengan seksama – ungkapan yang paling sering disebut Musashi dalam kitabnya Kitab Lima Lingkaran
Dalam lukisan Zen, segala sesuatu yang tidak penting dibuang dan setiap sapuan kuas yang tak boleh diulang digerakkan dengan intensitas dan energi yang berdisiplin dari sang seniman.
Tujuan taman menjadi suatu katalisator untuk meditasi dan kontemplasi. Fenomena alami mulai dianggap sarat dengan makna yang lebih mendalam tentang alam semesta. Rancangan taman kemudian cenderung sibuk mengetengahkan esensi bukan memamerkan alam dalam segala kekayaannya. Terdapat kapasitas kuat untuk menyuling unsur-unsur alam sampai ke yang paling abstrak dan esensial. Penekanannya sering diberikan kepada ruang atau kehampaan bukan pada aneka dedaunan. Dengan demikian untuk sampai kesana, perancang taman haruslah orang yang memahami konsep-konsep Budha yang terlibat di dalamnya, serta mengenal betul pernik-pernik alam.
Kekuatan Intuisi
Aku tidak dikalahkan oleh musuh karena aku tidak menggubris nyawaku sendiri. Aku hanya masuk dan menyerang.
Dalam buku Lima Lingkaran disebutkan dengan Buku Air, Musashi membeberkan betapa air adalah sumber inspirasi untuk mencapi kemenangan. Fleksibel, bebas dan terbuka serta akal budi berlabuh senantiasa di pusat; tenang tetapi tetap siaga; relaks namun tidak melantur. Sikap itu dipertahankan dalam situasi apapun. Sewaktu bertemu lawan atau kawan.
Air tidak mengalah dan tidak mengalahkan, namun kalau dia terlalu dipojokkan, secara alami dia dapat menjadi sangat berbahaya. Diluar dugaan, tanpa perhitungan, air dapat berubah menjadi gelombang tsunami yang bergelora, yang maha dasyat, yang meluluh lantakan semua, tanpa dia dapat dilawan ataupun dibendung. (Indra Gunawan)
Teori tidak mungkin melengkapi pikiran dengan rumusan untuk memecahkan masalah, juga tidak mungkin menandai jalan sempit di mana terdapat solusi tunggal dengan merencanakan batasan prinsip di kedus sisinya. Akan tetapi mungkin teori memberi pikiran wawasan tentang fenomena dan hubungan-hubungannya, sehingga membebaskan pikiran untuk naik kedunia tindakan yang lebih tinggi. Di sana pikiran dapat menggunakan seluruh talenta hakikinya hingga kapasitas penuh, untuk merebut apa yang benar dan tepat seolah-olah hal itu merupakan respon terhadap tantangan di depan mata dan bukan produk suatu pemikiran.
On War, Carl Von Clausewitz, 1780-1831
Ketika kita bertempur, kita tidak membawa serta buku apa pun
Mao Tse-Tung, 1893-1976
Siapapun sanggup merencanakan operasi militer, namun tidak banyak yang sanggup berperang, sebab hanya jenius militer sejati yang sanggup menangani perkembangan dan keadaan. Napoleon Bonaparte, 1769-1821
Pahami ajaran abadi seputar inspirasi dan penyerapan yang disampaikan para pelukis Cina kepada siswa pemula ”Meditasikan bambu sampai kalian menjadi bambu itu sendiri, kemudian warnai diri kalian sendiri”. Dengan memasuki obyek yang akan mereka lukis hingga titik keduanya melebur, maka kehidupan batin dan keindahan estetik dari obyek lukisan akan terekspresikan dengan mudahnya melalui sapuan kuas yang intuitif serta tangkas. Atau dalam bahasa Amstrong ”Saya tidak memainkannya. Gaya jazz itulah yang memainkan saya”
Blink adalah dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu – dua detik – yang akan memberikan pemahaman dalam sekejap mata, yang terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dari dalam ”komputer internal” kita, alias kemampuan bawah sadar kita. Kemampuan ini oleh Malcolm Gladwell disebut ”kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Blink menyingkapkan bahwa orang-orang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses paling banyak informasi atau yang sangaja menghabiskan waktu paling lama, namun orang-orang yang telah melatih diri mereka untuk menyempurnakan seni membuat cuplikan tipis-menyaring sesedikit mungkin faktor-faktor terpenting dari sejumlah kemungkinan yang menggunung.
Pandangan baru tentang bawah sadar adaptif, dipahami sebagai semacam komputer raksasaa yang dengan cepat dan secara diam-diam mengolah begitu banyak data yang diperlukan agar kita dapat tetap berfungsi sebagai manusia. Satu-satunya cara yang memungkinkan manusia bertahan hidup sebagai spesies selama ini adalah karena kita telah mengembangkan sebuah alat pembuat keputusan lain yang mampu bekerja cepat sekali berdasarkan informasi sangat sedikit.
Kita sebetulnya bolak-balik antara menggunakan modus pikir sadar dan bawah sadar, sesuai situasi.
Bahwa keputusan Geoerge Soros untuk menjual atau membeli saham adalah karena punggungnya tiba-tiba nyeri sekali. Ia betul-betul mengalami kejang dan baginya ini sebuah peringatan dini.
Kemampuan Otak Manusia
Jumlah sel otak manusia adalah satu triliun (1.000.000.000.000). Dimana sel otak beroperasi dengan membentuk kaitan yang sangat kompleks dengan puluhan ribu tetangga dan temannya, kaitan-kaitan itu terutama dibuat ketika cabang utama dan terbesarnya (akson) membuat ribuan hubungan dengan tombol kecil pada ribuan cabang dari ribuan sel otak lainnya.
Ilmuwan peneliti otak, Dr. Marian Diamond menemukan bahwa sejauh menyangkut otak, ungkapan ’gunakan atau hilangkan saja’ adalah nasihat yang sangat baik. Semakin intens, luas dan terangsang otak anda dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antar sel-sel. Dapat dikatakan kemudian bahwa potensi otak manusia menjadi tak terbatas.
Perlu dicatat pula proses ini dapat dioptimalkan pula dengan mengaktifkan berbagai bentuk penyerapan dan karakteristik pembelajaran yang kita miliki yang biasa disebutkan kapasitas visual, auditorial dan kinestetik. Pencerapan dan pembelajaran melalui mata (penglihatan dan pengamatan), pencerapan dan pembelajaran melalui pendengaran dan pencerapan dan pembelajaran melalui gerak seluruh tubuh. Atau secara umum juga mengaktifkan dan mengoptimalkan semua panca indera, sentuhan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan perasa. Termasuk intuisi yang biasa disebut sebagai indera keenam.
Sebagai perbandingan seekor lebah memiliki 960.000 ribu sel otak. Apa yang bisa dilakukannya dengan jumlah itu, membangun, merawat, mengumpulkan, berkomunikasi, menghitung, menari, membedakan, makan, berkelahi, terbang, mendengar, belajar, hidup dalam komunitas yang teratur, membuat keputusan, menentukan arah, memproduksi madu, mengatur suhu, mengingat, reproduksi, melihat, mencium bau, berkerumun dalam formasi rumit (spt skuadron pesawat tempur), mencicip, berpikir dan menyentuh
Bayangkan apa potensi seorang manusia dengan jumlah sel otak 1.041.666 kali jumlah sel otak lebah!!!!! Mari kita lihat seorang jenius penemu lampu pijar.
Psikolog ternama dari Harvard, George A. Miller, menemukan pula bahwa pikiran sadar manusia mampu menyerap 5-9 informasi dalam suatu waktu. Tetapi pikiran bawah sadar mampu menyerap lebih dari dua juta informasi setiap detiknya. Ia meliputi seluruh memori dan program pikiran yang menyeluruh sampai-sampai menyusuri kembali pengalaman dalam rahim ibu kita.
Ketrampilan otak kiri meliputi kata, logika, angka, urutan, linieritas, analisis, daftar (atau berpikir logis, sekuensial, linear, rasional) dan dengan isitilah populer dipayungi oleh kata akademik, intelektual dan bisnis. Ketrampilan otak kanan meliputi irama, kesadaran, ruang, dimensi, imajinasi, melamun, warna, kesadaran holistik, intuisi (atau berpikir acak, tidak teratur, intuitif, holistik) bisa dipayungi dengan kata-kata artistik, kreatif dan naluriah.
Salah satu metode berpikir yang digunakan untuk mengoptimalkan fungsi dan potensi otak kita adalah dengan metode mind map. Untuk mengetahui sekilas apa itu Mind Map, coba saja anda buka program Mind Manager di komputer anda. Menurut Tony Buzan salah satu pakar yang mempopulerkannya, mind map adalah alat berpikr kreatif yang mencerminkan cara kerja alami otak, Mind Map memungkinkan otak menggunakan semua warna, gambar dan asosiasinya dalam pola radial dan jaringan sebagaimana otak dirancang, seperti yang secara internal selalu digunakan otak, dan terhadap mana anda perlu membiarkannya membiasakan diri kembali.
Sumber bacaan dan kutipan :
1 The Lone Samurai : Kehidupan Miyamoto Musashi; Gramedia 2006
2 Musashi; Eiji Yoshikawa; Gramedia 2006
3 Sun Zi : The Art of War; Chow-Hou Wee; BIP 2006
4 33 Strategi Perang; Robert Greene; KARISMA 2007
5 Purnama Di Bukit Langit; Antologi Puisi Tiongkok Klasik; Zhou Fuyuan; Gramedia 2007
6 Ulasan Penutup Buku Purnama di Bukit Langit oleh Sapardi Djoko Damono
7 Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono; Grasindo 1994
8 Aku Ingin Jadi Peluru; Wiji Thukul; Indonesiatera 2004
9 Minum Teh : Menjalani Kehidupan; Visuddhacara; Penerbit Karaniya
10Tiger Heart, Tiger Mind; Ron Rubin dan Stuart Avery Gold; BIP 2007-05-10
11Kisah-kisah Kebijakan Zen; Indra Gunawan; Gramedia 2005
12Goal-Free Living; Stephen M Shapiro; Elex Media Komputindo 2006
13Blink : Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir; Gramedia 2006
14Pratical Intuition; Laura Day; Serambi 2006
15Terapi NLP; DR. Ibrahim Elfiky; Hikmah 2007-05-10
16Mind Map; Tony Buzan; Gramedia 2006
Minggu, 26 Juli 2009
Pembatalan Pembangunan Pabrik Semen Gresik Sukolilo : Gubernur Jateng Salahkan LSM dan Menolak Mengurusi Persoalan Rakyat di Pati
Saya terheran-heran, apakah ini sikap yang pantas dilakukan seorang Gubernur sebagai abdi/pelayan masyarakat?
Seperti di laporkan Tempo Interaktif Semarang, disela-sela acara pelantikan Dewan Pengupahan Jawa Tengah, Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengakui dirinya telah gagal membangun pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati. Ia menuduh LSM menggagalkan rencana pembangunan ini dengan memprovokasi masyarakat untuk melakukan penolakan.
“Itu LSM Sontoloyo, edan itu namanya”, ujar mantan Panglima Kodam IV Diponegoro kepada Tempo Interaktif.
Tempo Interaktif juga melaporkan bahwa Bibit menyatakan dalam beberapa waktu ke depan dirinya tak akan datang ke Pati. Rupanya ia merasa sangat kecewa dengan sikap beberapa masyarakat disana yang menolak kehadiran pabrik semen. Bahkan Bibit menambahkan, dirinya tidak akan mau ikut menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di Pati, tidak tahu sampai kapan.
Selengkapnya
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2009/07/25/brk,20090725-188974,id.html
Seperti di laporkan Tempo Interaktif Semarang, disela-sela acara pelantikan Dewan Pengupahan Jawa Tengah, Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengakui dirinya telah gagal membangun pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati. Ia menuduh LSM menggagalkan rencana pembangunan ini dengan memprovokasi masyarakat untuk melakukan penolakan.
“Itu LSM Sontoloyo, edan itu namanya”, ujar mantan Panglima Kodam IV Diponegoro kepada Tempo Interaktif.
Tempo Interaktif juga melaporkan bahwa Bibit menyatakan dalam beberapa waktu ke depan dirinya tak akan datang ke Pati. Rupanya ia merasa sangat kecewa dengan sikap beberapa masyarakat disana yang menolak kehadiran pabrik semen. Bahkan Bibit menambahkan, dirinya tidak akan mau ikut menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di Pati, tidak tahu sampai kapan.
Selengkapnya
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2009/07/25/brk,20090725-188974,id.html
Gallery Foto Lentera : Meditasi Zen (11)
Gallery Foto Lentera : Meditasi Zen (10)
Teater Tari SAHITA : Negeri Agraris Nan Subur, Kok Ngemis Beras
Kosmologi Kaum Tani : Geger, Gaib, Garang, Guyup, Guyon, Gemes.
(andreas iswinarto)

guyup dan guyon
(Juga gerah, weleh weleh para penarinya jadi pancuran keringet, berulang kali penonton gelontorkan tisu untuk melap keringet. Juga beberapa kali nakalan, nyerempet-nyerempet ranjang keringat)
(foto/artikel : andreas iswinarto)
baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini

kelabu - nyanyi sunyi
Inilah senandung tembang, serampak tari, sekitab kisah, senarai hati, sebakul guyonan (kadang ’saru”) dari cah ayu ning batin, wong mereka gemuk-gemuk, setengah baya dan belepotan arang hitam (jadi nampak tua dan kotor) dalam busana kaum tani. Inonk (Wahyu Widayati), Sri Lestari, Sri Setyoasih dan Atik Kenconosari.
Setting panggungnya dunia ndeso (ndesis), dunia wong tani, dengan orang-orangan sawah dan segala properti penghalau burung (tali-tali merentang dengan kantong plastik putih-hitam-biru, gelas air plastik dan kaleng-kaleng), juga pecut yang tergeletak di atas panggung..... Lalu puluhan ikatan padi di panggung, juga pada curahan teras Rumah Kudus (kebanggaan Bentara Budaya dan Kompas-Gramedia Group) yang menjadi latar pementasan, begitu indah. Memanggil-manggil untuk pulang, silahturahmi dengan dunia desa, akar-akaran...

terkapar
Lalu ada pesan lain yang menyelundup, membuat sesek ati. Di latar belakang Rumah Kudus itu (latar dari latar), menjulang bangunan apartemen dengan kerlap-kerlip lampu di kamar-kamar penghuninya, selain langit malam kota metropolitan .......
Adakah julangnya mewartakan sebuah kesombongan?
(pstt jangan bilang-bilang ya Rumah Kudus sekaliber yang di Bentara Budaya yang bisa memilikinya di daerah asalnya pasti orang-orang kaya juga, lurah, aristokrat, tuan-tuan tanah tempat banyak kaum tani memburuh)
Adakah ini komune TIKUS BESAR seperti di syair Pangkur Brujul SAHITA berikut :
Enake dadi wong tani
Tak lakoni wiwit bayi nganti saiki
Lara lapa mbrengkal lemah malik bumi
Ambles Lendhuting bumi kepopok lenthoning sapi

ritual dewi sri
Bahagianya menjadi kaum tani
Saya jalani, hidupi sejak saya masih bocah hingga kini
Banting tulang, kerja keras, keringat di atas tanah sendiri
Dalam kekotoran tanah air becek dan harum taik kerbau
Naliko temen tueuh wiwit ngerembuyung
Katon ledhung-ledhung, sirna ilang rasaning wuyung
Nyawang kembang ambyor awoh gegrandhulan
Senenge ati kalamun angundhuki
Panen gedhe krasa kebak rejekine

kosmologi kawulo gusti
Ketika tanaman mulai tumbuh, bersemi, merimbun
Mereka menjadi tudung, menaungi rasa cinta yang menghilang
Saya melihat bunga bermekaran dan buah-buah bergantungan
Saya senang bisa memetiknya
Panen yang melimpah membawa serta keberuntungan
Nanging apa kang dumadi
Jebul kasunyatan beda lan lamuning ati
Kreta gadhing teka kebak kuli
Sengkut gumregut ngunggahke wiji
Kebak muncu-muncu katut kreta
Nggeblas amblas tab weruh prah kang tinuju
Tetapi apa yang terjadi
Ketika panen berlimbah sungguh tiba, keinginan berbeda dari kenyataan
Kendaraan bagus tiba, penuh kuli
Dengan giat memuat bulir-bulir padi tandas ke atas kendaraan
Kini kendaraan itu penuh sesak biji-bijian
Melaju gegas ke tujuan yang tidak kami ketahui
Ati pepes ambles mripat mbrebes nyawang tumpukan dami
Dami merang anggagang sisane kala gumarang
Patah hati, dan titik air mata bergulir, menatapi tumpukan jerami
Ya, jerami-jerami (ampas padi) yang ditinggalkan para RAJA TIKUS!!!!!!!!!!!!!!!

amarah
Sugih Sawah Sugih Pari tinggal angan-angan. Kerberhasilan yang melahirkan Kesejahtaraan hanyalah mimpi di siang bolong..............
(mohon koreksi dari handai taulan yang berbahasa ibu bahasa jowo, saya menerjemahkan secara bebas dari terjemahan bahasa inggris yang disiapkan panitia bentara budaya)
Malam jumat pementasan Teater Tari SAHITA, sungguh meriah dengan celetuk juga gelak tawa para pengunjung yang nampak bersemangat merespon para penari hebat ini. Mereka master dalam teater (ekspresi dan bangunan watak lakonnya), menembang dan olah vokalnya (dengan berbagai varian bunyi, nada dan birama). Sekaligus secara acapella dalam musik pengiringnya, walau dalam beberapa momen digunakan alat bantu gagang cambuk untuk ketak ketuk, dan lonceng kecil untuk nang nung neng nang ning nongnya. Master tari pula pada lentik jari tangan, gegelengen dan onggak angguk kepala serta lenggak lenggok tubuh nan subur.

kerja, keringat, guyon
Kelompok SAHITA yang didirikan tahuan 2001 telah malang melintang di dunia pementasan melalui produktifitasnya yang relatif subur dan menyegarkan. Mereka mampu mengangkat ke pentas realita kehidupan yang biasa-biasa saja, sederhana, trivia, sehari-hari sebagai perisitiwa yang universal dan aktual. Dari persoalan sehari-hari ke gugatan atau perenungan soal-soal kritik nilai-nilai dan falsafah hidup. Untuk mengikat hati dan perhatian penonton mereka master pula dalam mengemas permainan kata nan jenaka, olok-olok menertawakan diri. Parodi, lelucon pahit hingga lelucon saru.
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini
Memang dalam pentas malam itu mereka menggebrak soal petaka kaum tani, dari panen padi yang untung besarnya dinikmati golongan pemilik truk yang setiap panen mengangkut tandas setiap bulir padi sampai tumpasnya tanah-tanah mereka. Tanpa sisa.
Padahal dahulu mereka selalu menyisihkan hasil panen untuk kebutuhan sendiri persediaan di kala sulit dan juga untuk untuk menyantuni tetangga yang miskin dan kesusahan. Masi beruntung sedikit kalau mereka bisa beli beras kualitas rendah untuk konsumsi sendiri. Yang lebih sial mesti ngemis beras kualitas busuk dan bau jatah dari pemerintah.
Bahkan kini menurut penuturan para penari ini, sawah-sawahpun menghilang, tanah-tanah kini ditanami (ditanduri) gedung-gedung, rumah (real estate) dan pabrik. Sementara rakyat miskin diiming-imingi BLT, janji-janji pendidikan gratis, layanan dan jaminan kesehatan........

guyup guyon
Juga rumah diperhatikan. Kini rakyat bisa pula membeli rumah masa depan tipe 21 alias 2x1 m. RSSS. Pstt, ini saru..... Kata salah satu penari dengan jenaka, dan lirik yang nakal. ”Rumah Sempit Sulit Sengga....”
Weleh-weleh......
(foto-artikel : andreas iswinarto)
(andreas iswinarto)
guyup dan guyon
(Juga gerah, weleh weleh para penarinya jadi pancuran keringet, berulang kali penonton gelontorkan tisu untuk melap keringet. Juga beberapa kali nakalan, nyerempet-nyerempet ranjang keringat)
(foto/artikel : andreas iswinarto)
baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini
kelabu - nyanyi sunyi
Inilah senandung tembang, serampak tari, sekitab kisah, senarai hati, sebakul guyonan (kadang ’saru”) dari cah ayu ning batin, wong mereka gemuk-gemuk, setengah baya dan belepotan arang hitam (jadi nampak tua dan kotor) dalam busana kaum tani. Inonk (Wahyu Widayati), Sri Lestari, Sri Setyoasih dan Atik Kenconosari.
Setting panggungnya dunia ndeso (ndesis), dunia wong tani, dengan orang-orangan sawah dan segala properti penghalau burung (tali-tali merentang dengan kantong plastik putih-hitam-biru, gelas air plastik dan kaleng-kaleng), juga pecut yang tergeletak di atas panggung..... Lalu puluhan ikatan padi di panggung, juga pada curahan teras Rumah Kudus (kebanggaan Bentara Budaya dan Kompas-Gramedia Group) yang menjadi latar pementasan, begitu indah. Memanggil-manggil untuk pulang, silahturahmi dengan dunia desa, akar-akaran...
terkapar
Lalu ada pesan lain yang menyelundup, membuat sesek ati. Di latar belakang Rumah Kudus itu (latar dari latar), menjulang bangunan apartemen dengan kerlap-kerlip lampu di kamar-kamar penghuninya, selain langit malam kota metropolitan .......
Adakah julangnya mewartakan sebuah kesombongan?
(pstt jangan bilang-bilang ya Rumah Kudus sekaliber yang di Bentara Budaya yang bisa memilikinya di daerah asalnya pasti orang-orang kaya juga, lurah, aristokrat, tuan-tuan tanah tempat banyak kaum tani memburuh)
Adakah ini komune TIKUS BESAR seperti di syair Pangkur Brujul SAHITA berikut :
Enake dadi wong tani
Tak lakoni wiwit bayi nganti saiki
Lara lapa mbrengkal lemah malik bumi
Ambles Lendhuting bumi kepopok lenthoning sapi
ritual dewi sri
Bahagianya menjadi kaum tani
Saya jalani, hidupi sejak saya masih bocah hingga kini
Banting tulang, kerja keras, keringat di atas tanah sendiri
Dalam kekotoran tanah air becek dan harum taik kerbau
Naliko temen tueuh wiwit ngerembuyung
Katon ledhung-ledhung, sirna ilang rasaning wuyung
Nyawang kembang ambyor awoh gegrandhulan
Senenge ati kalamun angundhuki
Panen gedhe krasa kebak rejekine
kosmologi kawulo gusti
Ketika tanaman mulai tumbuh, bersemi, merimbun
Mereka menjadi tudung, menaungi rasa cinta yang menghilang
Saya melihat bunga bermekaran dan buah-buah bergantungan
Saya senang bisa memetiknya
Panen yang melimpah membawa serta keberuntungan
Nanging apa kang dumadi
Jebul kasunyatan beda lan lamuning ati
Kreta gadhing teka kebak kuli
Sengkut gumregut ngunggahke wiji
Kebak muncu-muncu katut kreta
Nggeblas amblas tab weruh prah kang tinuju
Tetapi apa yang terjadi
Ketika panen berlimbah sungguh tiba, keinginan berbeda dari kenyataan
Kendaraan bagus tiba, penuh kuli
Dengan giat memuat bulir-bulir padi tandas ke atas kendaraan
Kini kendaraan itu penuh sesak biji-bijian
Melaju gegas ke tujuan yang tidak kami ketahui
Ati pepes ambles mripat mbrebes nyawang tumpukan dami
Dami merang anggagang sisane kala gumarang
Patah hati, dan titik air mata bergulir, menatapi tumpukan jerami
Ya, jerami-jerami (ampas padi) yang ditinggalkan para RAJA TIKUS!!!!!!!!!!!!!!!
amarah
Sugih Sawah Sugih Pari tinggal angan-angan. Kerberhasilan yang melahirkan Kesejahtaraan hanyalah mimpi di siang bolong..............
(mohon koreksi dari handai taulan yang berbahasa ibu bahasa jowo, saya menerjemahkan secara bebas dari terjemahan bahasa inggris yang disiapkan panitia bentara budaya)
Malam jumat pementasan Teater Tari SAHITA, sungguh meriah dengan celetuk juga gelak tawa para pengunjung yang nampak bersemangat merespon para penari hebat ini. Mereka master dalam teater (ekspresi dan bangunan watak lakonnya), menembang dan olah vokalnya (dengan berbagai varian bunyi, nada dan birama). Sekaligus secara acapella dalam musik pengiringnya, walau dalam beberapa momen digunakan alat bantu gagang cambuk untuk ketak ketuk, dan lonceng kecil untuk nang nung neng nang ning nongnya. Master tari pula pada lentik jari tangan, gegelengen dan onggak angguk kepala serta lenggak lenggok tubuh nan subur.
kerja, keringat, guyon
Kelompok SAHITA yang didirikan tahuan 2001 telah malang melintang di dunia pementasan melalui produktifitasnya yang relatif subur dan menyegarkan. Mereka mampu mengangkat ke pentas realita kehidupan yang biasa-biasa saja, sederhana, trivia, sehari-hari sebagai perisitiwa yang universal dan aktual. Dari persoalan sehari-hari ke gugatan atau perenungan soal-soal kritik nilai-nilai dan falsafah hidup. Untuk mengikat hati dan perhatian penonton mereka master pula dalam mengemas permainan kata nan jenaka, olok-olok menertawakan diri. Parodi, lelucon pahit hingga lelucon saru.
Katanya, negeri kita negeri agraris, tapi dapati beras dengan ngemis. Katanya, negeri kita subur makmur, tapi tak bisa bercocok tanam. Katanya negeri kita gemah ripah, tapi semakin banyak orang serakah” begitulah mereka menyentil wajah negeri ini
Memang dalam pentas malam itu mereka menggebrak soal petaka kaum tani, dari panen padi yang untung besarnya dinikmati golongan pemilik truk yang setiap panen mengangkut tandas setiap bulir padi sampai tumpasnya tanah-tanah mereka. Tanpa sisa.
Padahal dahulu mereka selalu menyisihkan hasil panen untuk kebutuhan sendiri persediaan di kala sulit dan juga untuk untuk menyantuni tetangga yang miskin dan kesusahan. Masi beruntung sedikit kalau mereka bisa beli beras kualitas rendah untuk konsumsi sendiri. Yang lebih sial mesti ngemis beras kualitas busuk dan bau jatah dari pemerintah.
Bahkan kini menurut penuturan para penari ini, sawah-sawahpun menghilang, tanah-tanah kini ditanami (ditanduri) gedung-gedung, rumah (real estate) dan pabrik. Sementara rakyat miskin diiming-imingi BLT, janji-janji pendidikan gratis, layanan dan jaminan kesehatan........
guyup guyon
Juga rumah diperhatikan. Kini rakyat bisa pula membeli rumah masa depan tipe 21 alias 2x1 m. RSSS. Pstt, ini saru..... Kata salah satu penari dengan jenaka, dan lirik yang nakal. ”Rumah Sempit Sulit Sengga....”
Weleh-weleh......
(foto-artikel : andreas iswinarto)
Sabtu, 25 Juli 2009
Gallery Foto Lentera : Meditasi Zen (9)
Gallery Foto Lentera : Meditasi Zen (8)
Kamis, 23 Juli 2009
Seni Rupa Rai Gedheg : Kontestasi Animal Farm* Dalam Politik Indonesia? (Bagian 3 dari 3)
Politik Rai Gedheg atawa Hewan Perwakilan dan Hewan Pemerintahan Raky….
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip dan Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian I
Artikel Bagian II
Bolak-balik, saling bertukar, siklus, rampak berbanjar : Refleksi/Kontemplasi, Dialog Rakyat, Tekad dan Kerja Pembebasan
Mewujud suara rakyat, suara tuhan (t besar atau pun kecil).
Mewujud iman, kepercayaan, harapan dalam laku kasih.....
”I Love U Full”, kata Mbah Surip atau (”Tak Gendong” hakikatnya manusia itu selalu hidup bersama.) ”Together...”.
Bahkan.....”Saya jualnya di depan toilet Ancol dan Blok M”*. (fragmen kisah bagaimana ia menjual lagu-lagunya untuk hidup dan membagi cinta)
HAHAHA....
God Save The Queen, Maaf dan Menggapai Terang
Apakah sungguh sesuram inikah wajah negeri ini, masih adakah harapan….
Harapan selalu ada, sepanjang ada orang-orang yang tetap kritis dan terus menerus menyalakan lentera di atas bukit, atau bahkan sekedar lilin di ruang keluarga……..
Mari kita Menggapai Terang ujar perupa Rai Gedheg Hanafi….
Cahaya selalu untuk menerangi semua, tulisnya

Menggapai Terang - Hanafi
Dan Maaf seperti kata Teguh Ostenrik. Bukan sembarang obral maaf, lalu maaf seperti apa?

Maaf - Teguh Ostenrik
Menuju Titik Nol. Kekosongan selalu muncul, di dalam berbagai jeda di antara kesibukan hidup ini. Kebanyakan orang takut akan kekosongan tersebut. Kita sering khawatir hidup sendiri, ditinggalkan kelompoknya, terlepas dari kawanan manusia ataupun rombongannya yang sedang berjalan, melangkah dan melangkah terus menuju ”TUJUAN”. Sehingga kita lupa menginjakkan kaki ke bumi, lupa menikmati kekinian kita, karena benak telah dikuasai oleh ”TUJUAN”.
Kekosongan adalah cermin pada saatnya kita diberi kesempatan untuk istirahat sejenak
, menyendiri atau bahkan kontemplasi. Agar langkah yang akan diayun tidak menjadi suatu tindakan yang sia-sia.
Kekosongan adalah cermin dimana kita bisa melihat keberadaan kita sebenarnya, agar goresan-goresan yang akan kita tarik selanjutnya tidak terlalu panjang, sehingga kita bisa menemukan kekosongan baru.
Kekosongan adalah persimpangan, dimana kita dipaksa untuk membuat keputusan. Belok ke kanan, ke kiri atau lurus. Kalaupun belok, berapa besar sudutnya? 30, 45 atau 60 derajat?
Oleh karena itu kekosongan perlu disambut kehadirannya dengan tempik sorak kegembiraan.(konsep karya Teguh Ostenrik)
Dan pada akhirnya Good Save The Queen, kata bung Sigit Santoso….,
Tulis Sigit “ Saya selalu percaya bahwa Tuhan akan memberi berkah keselamatan pada seorang pemimpin yang baik, apakah itu ratu, raja, atau presiden, bukan karena tampilannya, namun karena kemampuan, kepekaan, serta kepedulian terhadap kondisi rakyat dan bangsanya.”
Setuju dan juga kurang sepakat .......

God Save The Queen – F. Sigit Santoso
Bagi saja wajah perempuan biasa dalam karya ini, dengan gigi tak rapi dan ompong pula (karena tiada mengenal kawat gigi, alias penjara gigi atau memilih merdeka memilih jalan, kata sang gigi), menabalkan kebijakan tua dengan segala kelemahannya, ”Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Sesungguh-sungguhnya kedaulatan di tangan Rakyat
People Save The Leader, People Save The People.......
Kembali kepada superman seperti muncul dalam karya Yuswantoro Adi (Pilihlah Aku, dalam bagian 1), saya ingin meminjam pembendaharaan makna dari grup musik rock-punk asal Bali Superman is Dead …. “mereka menyukai gagasan bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang sempura”. Inilah Proklamasi superman sudah mati.....
Tetapi semoga tak pernah hilang asa, terus mencoba menegakkan benang basah dan menyalakan lentera.............. Dengan menggendong segala rupa luka, kegagalan, cacat, dan kelemahan dengan tabah... Tak gendong kemana-mana! Lagi-lagi Mbah Surip.
PEOPLE SAVE THE PEOPLE!
Lebih kurangnya mohon maaf…………
Lepaskan semua belenggu
Yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang di sana di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan
Ketika tidak ada tempat lagi tuk berlari
Ketika tiada orang yang perduli
Aku dan dia selalu menunggumu disini
Angkat s’kali lagi….
(superman is dead)
selengkapnya
Jika kami Bersama
Song: Bobby Kool & Heru Words: Heru
Jika kami bersama
Nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta
Hening akan terpecah
Aku dia dan mereka
Memang gila memang beda
Tak perlu berpura-pura
Memang begini adanya
Dan kami di sini akan terus bernyanyi
Dan jika kami bersama
Nyalakan tanda bahaya
Musik akan menghentak
Anda akan tersentak
Dan kami tau engkau bosan
Dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu
Muda beda dan berbahaya
Lepaskan semua belenggu
Yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang di sana di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan
Ketika tidak ada tempat lagi tuk berlari
Ketika tiada orang yang perduli
Aku dan dia selalu menunggumu disini
Angkat s’kali lagi….
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip dan Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian I
Artikel Bagian II
Bolak-balik, saling bertukar, siklus, rampak berbanjar : Refleksi/Kontemplasi, Dialog Rakyat, Tekad dan Kerja Pembebasan
Mewujud suara rakyat, suara tuhan (t besar atau pun kecil).
Mewujud iman, kepercayaan, harapan dalam laku kasih.....
”I Love U Full”, kata Mbah Surip atau (”Tak Gendong” hakikatnya manusia itu selalu hidup bersama.) ”Together...”.
Bahkan.....”Saya jualnya di depan toilet Ancol dan Blok M”*. (fragmen kisah bagaimana ia menjual lagu-lagunya untuk hidup dan membagi cinta)
HAHAHA....
God Save The Queen, Maaf dan Menggapai Terang
Apakah sungguh sesuram inikah wajah negeri ini, masih adakah harapan….
Harapan selalu ada, sepanjang ada orang-orang yang tetap kritis dan terus menerus menyalakan lentera di atas bukit, atau bahkan sekedar lilin di ruang keluarga……..
Mari kita Menggapai Terang ujar perupa Rai Gedheg Hanafi….
Cahaya selalu untuk menerangi semua, tulisnya
Menggapai Terang - Hanafi
Dan Maaf seperti kata Teguh Ostenrik. Bukan sembarang obral maaf, lalu maaf seperti apa?
Maaf - Teguh Ostenrik
Menuju Titik Nol. Kekosongan selalu muncul, di dalam berbagai jeda di antara kesibukan hidup ini. Kebanyakan orang takut akan kekosongan tersebut. Kita sering khawatir hidup sendiri, ditinggalkan kelompoknya, terlepas dari kawanan manusia ataupun rombongannya yang sedang berjalan, melangkah dan melangkah terus menuju ”TUJUAN”. Sehingga kita lupa menginjakkan kaki ke bumi, lupa menikmati kekinian kita, karena benak telah dikuasai oleh ”TUJUAN”.
Kekosongan adalah cermin pada saatnya kita diberi kesempatan untuk istirahat sejenak
, menyendiri atau bahkan kontemplasi. Agar langkah yang akan diayun tidak menjadi suatu tindakan yang sia-sia.
Kekosongan adalah cermin dimana kita bisa melihat keberadaan kita sebenarnya, agar goresan-goresan yang akan kita tarik selanjutnya tidak terlalu panjang, sehingga kita bisa menemukan kekosongan baru.
Kekosongan adalah persimpangan, dimana kita dipaksa untuk membuat keputusan. Belok ke kanan, ke kiri atau lurus. Kalaupun belok, berapa besar sudutnya? 30, 45 atau 60 derajat?
Oleh karena itu kekosongan perlu disambut kehadirannya dengan tempik sorak kegembiraan.(konsep karya Teguh Ostenrik)
Dan pada akhirnya Good Save The Queen, kata bung Sigit Santoso….,
Tulis Sigit “ Saya selalu percaya bahwa Tuhan akan memberi berkah keselamatan pada seorang pemimpin yang baik, apakah itu ratu, raja, atau presiden, bukan karena tampilannya, namun karena kemampuan, kepekaan, serta kepedulian terhadap kondisi rakyat dan bangsanya.”
Setuju dan juga kurang sepakat .......
God Save The Queen – F. Sigit Santoso
Bagi saja wajah perempuan biasa dalam karya ini, dengan gigi tak rapi dan ompong pula (karena tiada mengenal kawat gigi, alias penjara gigi atau memilih merdeka memilih jalan, kata sang gigi), menabalkan kebijakan tua dengan segala kelemahannya, ”Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Sesungguh-sungguhnya kedaulatan di tangan Rakyat
People Save The Leader, People Save The People.......
Kembali kepada superman seperti muncul dalam karya Yuswantoro Adi (Pilihlah Aku, dalam bagian 1), saya ingin meminjam pembendaharaan makna dari grup musik rock-punk asal Bali Superman is Dead …. “mereka menyukai gagasan bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang sempura”. Inilah Proklamasi superman sudah mati.....
Tetapi semoga tak pernah hilang asa, terus mencoba menegakkan benang basah dan menyalakan lentera.............. Dengan menggendong segala rupa luka, kegagalan, cacat, dan kelemahan dengan tabah... Tak gendong kemana-mana! Lagi-lagi Mbah Surip.
PEOPLE SAVE THE PEOPLE!
Lebih kurangnya mohon maaf…………
Lepaskan semua belenggu
Yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang di sana di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan
Ketika tidak ada tempat lagi tuk berlari
Ketika tiada orang yang perduli
Aku dan dia selalu menunggumu disini
Angkat s’kali lagi….
(superman is dead)
selengkapnya
Jika kami Bersama
Song: Bobby Kool & Heru Words: Heru
Jika kami bersama
Nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta
Hening akan terpecah
Aku dia dan mereka
Memang gila memang beda
Tak perlu berpura-pura
Memang begini adanya
Dan kami di sini akan terus bernyanyi
Dan jika kami bersama
Nyalakan tanda bahaya
Musik akan menghentak
Anda akan tersentak
Dan kami tau engkau bosan
Dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu
Muda beda dan berbahaya
Lepaskan semua belenggu
Yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang di sana di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan
Ketika tidak ada tempat lagi tuk berlari
Ketika tiada orang yang perduli
Aku dan dia selalu menunggumu disini
Angkat s’kali lagi….
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Label:
apresiasi seni,
ekonomi-politik,
foto,
sosial-budaya
| Reaksi: |
Seni Rupa Rai Gedheg : Kontestasi Animal Farm* Dalam Politik Indonesia? (Bagian 2 dari 3)
Politik Rai Gedheg atawa Hewan Perwakilan dan Hewan Pemerintahan Raky….
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip dan Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian I
Artikel Bagian III
Ngiler, Njilat, Ngentut, Ngebom (bukan bom kuningan, tapi buang air besar) di Republik Mabuk

Republik Mabuk 2 - Ipong Purnomosidhi

nDuwure Klamben, Ngisore Wudo – Entang Wiharso
Rai Gedheg
Mengapa untuk mengabdi harus jadi pejabat dulu?
Mengapa untuk berbakti harus jadi caleg dulu?
Mengapa untuk berkarya harus mengotori lorong-lorong dulu?
Mengapa untuk menyumbang harus janji-janji dulu?
Mengapa untuk peduli harus sok peduli?
(Nasirun dalam konsep karyanya)

Rai Gedheg- Nasirun
Barangkali anda ingat ’hari-hari omong kosong’ di masa Soeharto dulu? Nah, bulan pemilu kemarin berton-ton omong kosong diumbar di televisi, radio, koran, poster-spanduk-brosur di jalan-jalan, podium kampanye. Yang mengherankan kenapa masih saja banyak orang yang menikmati omong kosong itu, bau busuk terasa wangi?
Tiba-tiba bilik suara itu menjadi toilet
Dan aku jongkok di atas kloset
Kukeluarkan hajat pagi
Namun kenapa bilik ini menjadi wangi?
(kata sindhunata)

Kalau Sudah Duduk Lupa Berdiri – Bambang Herras
Sama dengan Sindhunata, Bambang Herras juga membuat metafora buang hajat. Dalam konsep karyanya ia menyebutkan kebanyakan wakil rakyat ketika sudah merasakan nikmatnya berkuasa selanjutnya dengan segala cara ingin tetap mempertahankan kekuasaan. ”Ibaratnya seperti orang buang air besar”. Apa mereka peduli kebijakan yang dia mereka telurkan menebarkan bau kotoran dan tidak berpihak pada rakyat.
Saya melihat apa yang disampaikan oleh Herras mewakili pandangan saya tentang siapakah aktor utama atau Rai Gedhek yang lebih berbahaya. Bukan kontestan yang bloon, geer dan kelewat pede lalu kalah dan gila, atau menang dan bakal banyak bisu di DPR, tapi adalah konstentan dan tak kalah pentingnya juga aktor-aktor intelektual dibelakang kemenangan kontestan (king makernya, bisa orang sini-sini juga, bisa juga kepentingan-kepentingan dari luar negeri entah itu modal, pemerintah AS atau apapun).

Mr. Lollipop dan Para Penjilat – Arisman Adhitama
Barangkali prosedurnya bisa beragam, mereka mendatangi, merayu atau cuci otak sekaligus dan juga membeli atau bisa pula para konstestan ini berlomba menjilat si aktor intelektual ini. Dalam konsep karyanya Ariswan Adhitama (Mr Lollipop dan Para Penjilat) menuliskan bahwa negeri ini ”tak lepas dari fenomena para penjilat yang terang-terangan berlomba mencari Lollipop yang lebih manis, yang merasa kecil mencari obyek yang lebih besar untuk bisa dijilat manisnya. Begitu juga yang besar mencari yang lebih besar lagi...” dst.
[Mohon maklum saya menyalin kembali pembuka tulisan ini...
Apakah memang ini semata soal kapasitas yang tidak memadai atau lebih kepada motif/kepentingan orang-orang yang hanya memikirkan perutnya sendiri? Apakah ini adalah kisah para kandidat yang kelewat pede atau geer, tidak memiliki kapasitas tapi berambisi, tidak bercermin diri, pemimpi yang kemudian gagal dan jadi gila, ataukah ini kisah dengan aktor utama yang lihai dengan siasat licik, manipulasi informasi, money politics. Atawa ((meminjam Alex Luthfi) ”manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain” ?]
Baik lah, mari kita kembali lagi ke karya-karya perupa kita.....
Bila Sindhunata dan Herras bermetafora dengan eek (bom kotoran manusia), Butet sedikit lebih enteng ia merupa Kampanye yang berkisah tentang riwayat kentut. Janji-janji yang dikeraskan melalui mike dan perangkat pendukungnya, ibarat kentut dut atau pret..

Kampanye – Butet Kartaredjasa
Rai Gedhek kita selain tukang eek dan kentut yang tidak tahu malu, mereka ternyata juga suka ngiler seperti muncul dalam karya maestro kita Djoko Pekik (Fatamorgana di Padang Pasir) dan menjilat seperti dalam karya Ariswan Adhitama diatas (Mr. Lollipop dan Para Penjilat).

Fatamorgana di Padang Pasir - Djoko Pekik

Slenco - Hermanu
Dalam karya Hermanus aktor Rai Gedhek ini adalah tokoh berwajah merah sebagai lambang angkara (raksasa) namun berkedok Panji (sang satria). Mereka ingin dilihat rakyat sebagai seorang satria padahal mempunyai sifat buruk seperti yang tergambar dalam selendang pelangi, yaitu suka menggunting dan memotong uang proyek (gunting), suka menindas dan menginjak rakyat kecil (setrika, sepatu), suka mencatut uang rakyat (catut), suka menggertak (pistol, keris, pedang, kampak), suka mabuk (botol), suka berjanji dan menyomngkan diri (ayam berkokok), suka menggeruk uang rakyat (garuk).
Cuek bebek dengan segala aturan dan norma alias terus Nekad, penggigit cabe dalam metafora yang disajikan oleh Bayu Wardhana.

Nekad – Bayu Wardhana
Atau seperti dituliskan Hadi Soesanto dalam Accessory ”Sejak dimulainya era reformasi, masyarakat berharap bahwa norma-norma yang digali oleh para pendahulunya dapat diterapkan kembali. Tetapi kenyataannya, etika dan budi pekerti ditempatkan lebih rendah dari harga diri. Simbol-simbol kenegaraan yang telah diciptakan dengan susah payahh, kini hanya sebagai hiasan belaka. Entah terselip dimana”. Di dalam lukisan Hadi pancasila terselip di saku celaka pendek ketat perempuan sexy itu, Indonesia dalam reformasi sesat itu.

Accessory – Hadi Soesanto
.....................
.....................
Ini mengantar kita pada tanya, mau dibawa kemanakah negeri ini?

Esuk Tempe Sore Dele - Suatmadji
Esuk Tempe Sore Dele. Hari ini Diberi Janji, besok Kere. Dalam karya ini Suatmadji menggambarkan dua sosok pemimpin dan wakil pemimpin dalam satu tubuh berwarna abu-abu. Tangannya, ya tangan itu bersikap mencekik sebuah boneka (penggambaran anak bangsa). Bisa membunuh pula.. Dengan berdarah-darah atau tanpa berdarah-darah. Misalnya karena mati kelaparan, sakit lantas mati karena tak punya akses atas rumah sakit.
Pssst dalam karya I Made Arya Palguna, Air Muka Buaya (di artikel bagian 1), ada baju seragam hijau dengan bertabur bintang ....... , juga pada Fatamorgana di Padang Pasirnya Djoko Pekik.

Limpuk-Petruk Koalisi - Dona Prawira Arissuta
Sementara wakil rakyat berkoor setuju....... mengamini semua keputusan sepanjang mendatangkan fulus - keuntungan bagi dirinya atau menebalkan kantor mereka. Demikian ungkap Dona Prawita Arrissuta (satu-satunya perupa perempuan di pameran ini) melalui karyanya Limpuk-Petruk Koalisi. Dona lebih tegas lagi dalam karyanya Paduan Suara, menggambarkan para Babi dan Serigala berpadu dalam do re mi, do mi re, setuju, ok.

Paduan Suara - Dona Prawira Arissuta
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip dan Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian I
Artikel Bagian III
Ngiler, Njilat, Ngentut, Ngebom (bukan bom kuningan, tapi buang air besar) di Republik Mabuk
Republik Mabuk 2 - Ipong Purnomosidhi
nDuwure Klamben, Ngisore Wudo – Entang Wiharso
Rai Gedheg
Mengapa untuk mengabdi harus jadi pejabat dulu?
Mengapa untuk berbakti harus jadi caleg dulu?
Mengapa untuk berkarya harus mengotori lorong-lorong dulu?
Mengapa untuk menyumbang harus janji-janji dulu?
Mengapa untuk peduli harus sok peduli?
(Nasirun dalam konsep karyanya)
Rai Gedheg- Nasirun
Barangkali anda ingat ’hari-hari omong kosong’ di masa Soeharto dulu? Nah, bulan pemilu kemarin berton-ton omong kosong diumbar di televisi, radio, koran, poster-spanduk-brosur di jalan-jalan, podium kampanye. Yang mengherankan kenapa masih saja banyak orang yang menikmati omong kosong itu, bau busuk terasa wangi?
Tiba-tiba bilik suara itu menjadi toilet
Dan aku jongkok di atas kloset
Kukeluarkan hajat pagi
Namun kenapa bilik ini menjadi wangi?
(kata sindhunata)
Kalau Sudah Duduk Lupa Berdiri – Bambang Herras
Sama dengan Sindhunata, Bambang Herras juga membuat metafora buang hajat. Dalam konsep karyanya ia menyebutkan kebanyakan wakil rakyat ketika sudah merasakan nikmatnya berkuasa selanjutnya dengan segala cara ingin tetap mempertahankan kekuasaan. ”Ibaratnya seperti orang buang air besar”. Apa mereka peduli kebijakan yang dia mereka telurkan menebarkan bau kotoran dan tidak berpihak pada rakyat.
Saya melihat apa yang disampaikan oleh Herras mewakili pandangan saya tentang siapakah aktor utama atau Rai Gedhek yang lebih berbahaya. Bukan kontestan yang bloon, geer dan kelewat pede lalu kalah dan gila, atau menang dan bakal banyak bisu di DPR, tapi adalah konstentan dan tak kalah pentingnya juga aktor-aktor intelektual dibelakang kemenangan kontestan (king makernya, bisa orang sini-sini juga, bisa juga kepentingan-kepentingan dari luar negeri entah itu modal, pemerintah AS atau apapun).
Mr. Lollipop dan Para Penjilat – Arisman Adhitama
Barangkali prosedurnya bisa beragam, mereka mendatangi, merayu atau cuci otak sekaligus dan juga membeli atau bisa pula para konstestan ini berlomba menjilat si aktor intelektual ini. Dalam konsep karyanya Ariswan Adhitama (Mr Lollipop dan Para Penjilat) menuliskan bahwa negeri ini ”tak lepas dari fenomena para penjilat yang terang-terangan berlomba mencari Lollipop yang lebih manis, yang merasa kecil mencari obyek yang lebih besar untuk bisa dijilat manisnya. Begitu juga yang besar mencari yang lebih besar lagi...” dst.
[Mohon maklum saya menyalin kembali pembuka tulisan ini...
Apakah memang ini semata soal kapasitas yang tidak memadai atau lebih kepada motif/kepentingan orang-orang yang hanya memikirkan perutnya sendiri? Apakah ini adalah kisah para kandidat yang kelewat pede atau geer, tidak memiliki kapasitas tapi berambisi, tidak bercermin diri, pemimpi yang kemudian gagal dan jadi gila, ataukah ini kisah dengan aktor utama yang lihai dengan siasat licik, manipulasi informasi, money politics. Atawa ((meminjam Alex Luthfi) ”manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain” ?]
Baik lah, mari kita kembali lagi ke karya-karya perupa kita.....
Bila Sindhunata dan Herras bermetafora dengan eek (bom kotoran manusia), Butet sedikit lebih enteng ia merupa Kampanye yang berkisah tentang riwayat kentut. Janji-janji yang dikeraskan melalui mike dan perangkat pendukungnya, ibarat kentut dut atau pret..
Kampanye – Butet Kartaredjasa
Rai Gedhek kita selain tukang eek dan kentut yang tidak tahu malu, mereka ternyata juga suka ngiler seperti muncul dalam karya maestro kita Djoko Pekik (Fatamorgana di Padang Pasir) dan menjilat seperti dalam karya Ariswan Adhitama diatas (Mr. Lollipop dan Para Penjilat).
Fatamorgana di Padang Pasir - Djoko Pekik
Slenco - Hermanu
Dalam karya Hermanus aktor Rai Gedhek ini adalah tokoh berwajah merah sebagai lambang angkara (raksasa) namun berkedok Panji (sang satria). Mereka ingin dilihat rakyat sebagai seorang satria padahal mempunyai sifat buruk seperti yang tergambar dalam selendang pelangi, yaitu suka menggunting dan memotong uang proyek (gunting), suka menindas dan menginjak rakyat kecil (setrika, sepatu), suka mencatut uang rakyat (catut), suka menggertak (pistol, keris, pedang, kampak), suka mabuk (botol), suka berjanji dan menyomngkan diri (ayam berkokok), suka menggeruk uang rakyat (garuk).
Cuek bebek dengan segala aturan dan norma alias terus Nekad, penggigit cabe dalam metafora yang disajikan oleh Bayu Wardhana.
Nekad – Bayu Wardhana
Atau seperti dituliskan Hadi Soesanto dalam Accessory ”Sejak dimulainya era reformasi, masyarakat berharap bahwa norma-norma yang digali oleh para pendahulunya dapat diterapkan kembali. Tetapi kenyataannya, etika dan budi pekerti ditempatkan lebih rendah dari harga diri. Simbol-simbol kenegaraan yang telah diciptakan dengan susah payahh, kini hanya sebagai hiasan belaka. Entah terselip dimana”. Di dalam lukisan Hadi pancasila terselip di saku celaka pendek ketat perempuan sexy itu, Indonesia dalam reformasi sesat itu.
Accessory – Hadi Soesanto
.....................
.....................
Ini mengantar kita pada tanya, mau dibawa kemanakah negeri ini?
Esuk Tempe Sore Dele - Suatmadji
Esuk Tempe Sore Dele. Hari ini Diberi Janji, besok Kere. Dalam karya ini Suatmadji menggambarkan dua sosok pemimpin dan wakil pemimpin dalam satu tubuh berwarna abu-abu. Tangannya, ya tangan itu bersikap mencekik sebuah boneka (penggambaran anak bangsa). Bisa membunuh pula.. Dengan berdarah-darah atau tanpa berdarah-darah. Misalnya karena mati kelaparan, sakit lantas mati karena tak punya akses atas rumah sakit.
Pssst dalam karya I Made Arya Palguna, Air Muka Buaya (di artikel bagian 1), ada baju seragam hijau dengan bertabur bintang ....... , juga pada Fatamorgana di Padang Pasirnya Djoko Pekik.
Limpuk-Petruk Koalisi - Dona Prawira Arissuta
Sementara wakil rakyat berkoor setuju....... mengamini semua keputusan sepanjang mendatangkan fulus - keuntungan bagi dirinya atau menebalkan kantor mereka. Demikian ungkap Dona Prawita Arrissuta (satu-satunya perupa perempuan di pameran ini) melalui karyanya Limpuk-Petruk Koalisi. Dona lebih tegas lagi dalam karyanya Paduan Suara, menggambarkan para Babi dan Serigala berpadu dalam do re mi, do mi re, setuju, ok.
Paduan Suara - Dona Prawira Arissuta
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Label:
apresiasi seni,
ekonomi-politik,
foto,
sosial-budaya
| Reaksi: |
Seni Rupa Rai Gedheg : Kontestasi Animal Farm* Dalam Politik Indonesia? (Bag 1 dari 3)
Politik Rai Gedheg atawa Hewan Perwakilan dan Hewan Pemerintahan Raky….
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip, Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian II
Artikel Bagian III
Animal Farm adalah novel George Orwell tentang perjuangan komune binatang di sebuah rumah peternakan melawan kekuasaan manusia yang menindas. Didalam kisah ini kemudian komunitas binatang terbelah antara para binatang yang mereproduksi model penindasan atau kekuasaan manusia yang menjadi musuhnya atau elitisme dalam menjalankan roda pemerintahan, kelompok pendukung suara binatang adalah suara tuhan (juga dari, oleh dan untuk hewan) dan para pengkhianat yang memihak manusia. Animal Farm dalam artikel memang sedikit beda karena ini metafora komune jahat di kancah Politik . Aktor politiknya Rai Gedheg atawa alias si Muka Tembok.
Adakah Animal Farm, adalah negeri antah berantah, atau negeri yang airnya saya minum sekaligus cemari?

Monumen Rai Gedhek - AC Andre Tanama

Pilihlah Aku : Yusmantoro Adi,
ELEK YO BEN..
NDAK PUNYA MALU….
NEKAD.... NARSIS...
NGONGSO
Itu ciri-ciri orang yang Rai Gedhek (tebal Muka) yang akhir-akhir ini banyak terjadi di sekeliling kehidupan kita. Kemarin ada Poster wajah saya terpampang di jalan-jalan
Gini Bung …. Meskipun saya kayak gini dan itu sebenarnya bukan kapasitas saya..
Itu demi eksistensi… dan kerjaan. Meski pun saya, dulu-dulunya ngak pernah eksis. Itu Cuma siapa tau...saya bisa kepilih
Ya .... mau sampean bilang saya itu apa..
Itu ndak jadi soal...
Yang penting inilah saya... Saya ndak mikirkan orang lain.... Yang tak pikir hanya diri saja meskipun saya ndak punya kapasitas (jangan bilang-bilang ya bung) hidup ini harus nekad.. Untung-untungan... zamannya sudah zaman edan.. yang penting saya dapat duluan.
”Testimoni Rai Gedhek” dalam Pengantar Kurasi oleh Ong Hari Wahyu
Apakah memang ini semata soal kapasitas yang tidak memadai atau lebih kepada motif/kepentingan orang-orang yang hanya memikirkan perutnya sendiri? Apakah ini adalah kisah para kandidat yang kelewat pede atau geer, tidak memiliki kapasitas tapi berambisi, tidak bercermin diri, pemimpi yang kemudian gagal dan jadi gila, ataukah ini kisah dengan aktor utama yang lihai dengan siasat licik, manipulasi informasi, money politics. Atawa ((meminjam Alex Luthfi) ”manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain” ?
Animal Farm atawa HEWAN P RWAKILAN RAKY dus komisi PEMILIHAN hewan (pileghe-pilpreshe, begitu ?)
Seturut Alex Luthfi figur babi di dalam jagad pewayangan dikenal dengan sebutan kala srenggi, adalah binatang yang sukanya merusak dan nggawe kisruh lingkungan saja. Tahun 1995 Alex menciptakan karya-karya lukis dengan tema babi berdasi. Kala itu ia melihat kekasaran dan kekerasan sudah menjadi peristiwa lazim di negeri ini. Pemerkosaan, pembunuhan, perampasan hak dan korupsi seperti menjadi kegiatan rutin dan dihalalkan oleh sebagian bangsa ini. Fenomena inilah yang mendorong Alex menciptakan karya yang menurutnya sendiri ”mungkin fulgar cenderung kasar dan terang-terangan”. Manusia atau objek berkepala babi-berdasi adalah metafora dari kapitalis atau manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain.

Coalition at Maternity Ward - Alex Lutfi
Dalam pameran kali ini Alex menyumbangkan karya Coalition at Maternity Ward, dimana metafora babi kembali muncul. Dengan mengolah fenomena kebebasan berekspresi yang muncul di tembok-tembok kota, rumah, gedung dan jalan raya, gambar-gambar liar sebagai wujud jeritan hati. Maka sosok babi hitam dewasa, menggendong babi putih, serta grafiti di tembok rumah bercat merah muncul dalam karyanya.
DI RUMAH
INI LAHI
GENER
PENERU
Bangsa
Juga tertulis Hewan P RWAKILAN RAKY......

Just Kidding – Adi Gunawan
Figur 2 Babi Merah Berciuman muncul juga dalam karya perupa Adi Gunawan Just Kidding. Konsep karyanya adalah fenomena aneh bagaimana dua tokoh yang sebelumnya berbeda pandangan politiknya, sekonyong-konyong (bercumbu) hanya demi kekuasaan. 2 Babi berciuman di depan publik tanpa rasa malu. Seakan-akan melanggar komitmen politik dianggap hal yang wajar saja.
Sementara dalam Lelah, melalui karya rupa alumuniumnya Agapetus Kristiandana menampilkan sosok babi gemuk menjijikan terkapar kelelahan dengan kancing celana terbuka, dan sebotol whisky kosong di tangannya.

Lelah – Agpetus Kristiandana

Kontes – Jefri Guciano
Selain babi konstestasi Animal Farm ini menghadirkan sosok-sosok lain seperti anjing, harimau, gorilla, bunglon hingga manusia berbadan hewan dll. Dalam satu karya instalasi formasi kaleng-kaleng yang tergantung pada seutas tali menghadirkan dua dimensi kehidupan.
Disisi luar kaleng itu tergambar aneka rupa dan tingkah manusia, sementara di dalamnya hadir segala rupa binatang yang saling bercumbuan. Catat, ini tidak terjadi diantara sesama jenisnya, hadir diantaranya jerapah bercumbu dengan beruang, kucing dengan kura-kura, gajah dengan zebra (?).Metafora bagi tingkah polah percumbuan politik para politisi Rai Gedhek.


Kartun binatang-binatang Disney rupanya muncul juga dalam Bilik Asmara ditemani potret wajah-wajah caleg nan rupawan dan sexy. (di dalam booklet pameran instalasi karya ini di gelar di kamar mandi dengan bak kosong dan toiletnya)

Bilik Asmara – Yoyok Sahaja (HITAM PUTIH)
Tiba-tiba bilik suara itu menjadi toilet
Dan aku jongkok di atas kloset
Kukeluarkan hajat pagi
Namun kenapa bilik ini menjadi wangi?
Ternyata dinding-dinding toilet
Kulihat puluhan gambar artis caleg
Cantik-cantik dan sexy-sexy
Pantas bila khayalku terbawa jadi wangi
.......
Mungkin karena politik itu dekat dengan seks
Dan berpolitik itu mirip dengan ngeseks
Sindhunata, Juni 2009
(cat saya. binatang umumnya sembarang bersetubuh tanpa malu)

Undercover #2 - Nurkholis
Sebangun dengan gagasan ini adalah karya Nurkholis Undercover #2 yang menyampaikan kisah tentang kemunafikan akut yang dibungkus dengan wajah yang seolah-olah asli dan menarik sekaligus bersahaja. Nurkholis lebih lanjut menyatakan ”tapi justru dibalik itu tersembunyi yang menakutkan dan berbahaya”. Seorang perempuan nampak membuka topengnya, muncul wajah macan didalamnya, demikian pula seekor gorilla membuka topengnya dalam rupa seorang lelaki berkumis. Tak berhenti disitu sang perupa juga memberikan peringatan. Sebenarnya di balik itu masih tersembunyi karakter lain yang lebih menyeramkan atau lebih menipu.

Ulu Bedu – I Wayan Kun Adnyana
I Wayan Kun Adnyana dalam Ulu Bedu, fragmen manusia binatang berkepala dua dengan hidung pinokio, juga melukiskan fenomena serupa. Kita hanya bisa jadi penonton kebohongan yang makin memanjang, tulisnya. Demikian pula I Made Arya Palguna dalam Air Muka Buaya dan Hermanu dalam Slenco.

Air Muka Buaya - Hermanu

Koalisi - Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH.
Pesan dibalik metafora 2 babi merah berciuman dalam Just Kidding ternyata muncul juga dalam karya instalasi Koalisi hasil kreasi kolaborasi Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH. Dalam karya ini hadir gugatan tentang kepentingan dibalik koalisi politik? Untuk memuliakan rakyat? Apakah Benar? Apakah bukan untuk kepentingan perutnya sendiri, alias kekuasaan dan kursi? Kemudian koalisi ini pada akhirnya juga bercerita tentang tujuan- unsur-unsur koalisi yang tidak kompak atau bahkan saling bersimpang jalan. Melalui karya ini Hitam Manis mencoba urun rembug atau menawarkan visual dengan metafor binatang-binatang (anjing dan macan) yang serius dengan alamnya masing-masing tapi dipaksakan dijadikan satu.

Seperti Chaplin – Hedi Hariyanto
Seperti Chaplin saja sahut Hedi Hariyanto dalam karyanya. Ia mengambil pose legendaris Charlie Chaplin. Hanya saja tongkat diganti dengan kursi, chaplin inipun berkepala bunglon. Caleg dan Capres gambang berubah haluan demi koalisi, seperti pelawak saja!

Hypocrite - Yerry Padang
Munafik, munafik! Hypocrite : Refleksi Kemunafikan ujar Yerry Padang dalam fragmen manusia berhidung babi, bertelinga serigala, dan label nike kah di rambut merah itu?
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Sekedar Catatan Dari Ruang Pamer Seni Rupa Rai Gedheg, Bentara Budaya Jakarta 21-30 Juli 2009
(andreas iswinarto)
Bintang tamu di artikel ini : Mbah Surip, Superman is Dead. Para Perupa Pameran ini : AC Andre Tanama, Adi Gunawan, Agapetus Kristiandana, Ariswan Adhitama, Bambang Heras, Byu Wardhana, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik, Dona Prawira Arissuta, Entang Wiharsa, F. Sigit Santosa, Hanafi, Hedi Haryanto, Hermanu, I Made Arya Palguna, Ipong Purnomosidhi, I Wayan Kun Adnyana, Jefri Guciano, Nasirun, Nooe Ibrahim, Nurkholis, Samuel Indratma, Suatmadji, Teguh Ostenrik, Yerry Padang, Yusmantoro Adi, Komunitas Nitiprayan HITAM MANIS ( I Wayan Agus Novianto, I Nyoman Adiana, I Nyoman Agus Wijaya, Maslihar a.k. Panjul, Putu Sutawijaya, Robert Kan, Yoyok Sahaja). Kurator : Ong Hari Wahyu. Penulis Utama Buku Seni Rupa Gedheg - Politik Rai Gedheg : GP Sindhunata, SJ)
Artikel Bagian II
Artikel Bagian III
Animal Farm adalah novel George Orwell tentang perjuangan komune binatang di sebuah rumah peternakan melawan kekuasaan manusia yang menindas. Didalam kisah ini kemudian komunitas binatang terbelah antara para binatang yang mereproduksi model penindasan atau kekuasaan manusia yang menjadi musuhnya atau elitisme dalam menjalankan roda pemerintahan, kelompok pendukung suara binatang adalah suara tuhan (juga dari, oleh dan untuk hewan) dan para pengkhianat yang memihak manusia. Animal Farm dalam artikel memang sedikit beda karena ini metafora komune jahat di kancah Politik . Aktor politiknya Rai Gedheg atawa alias si Muka Tembok.
Adakah Animal Farm, adalah negeri antah berantah, atau negeri yang airnya saya minum sekaligus cemari?
Monumen Rai Gedhek - AC Andre Tanama
Pilihlah Aku : Yusmantoro Adi,
ELEK YO BEN..
NDAK PUNYA MALU….
NEKAD.... NARSIS...
NGONGSO
Itu ciri-ciri orang yang Rai Gedhek (tebal Muka) yang akhir-akhir ini banyak terjadi di sekeliling kehidupan kita. Kemarin ada Poster wajah saya terpampang di jalan-jalan
Gini Bung …. Meskipun saya kayak gini dan itu sebenarnya bukan kapasitas saya..
Itu demi eksistensi… dan kerjaan. Meski pun saya, dulu-dulunya ngak pernah eksis. Itu Cuma siapa tau...saya bisa kepilih
Ya .... mau sampean bilang saya itu apa..
Itu ndak jadi soal...
Yang penting inilah saya... Saya ndak mikirkan orang lain.... Yang tak pikir hanya diri saja meskipun saya ndak punya kapasitas (jangan bilang-bilang ya bung) hidup ini harus nekad.. Untung-untungan... zamannya sudah zaman edan.. yang penting saya dapat duluan.
”Testimoni Rai Gedhek” dalam Pengantar Kurasi oleh Ong Hari Wahyu
Apakah memang ini semata soal kapasitas yang tidak memadai atau lebih kepada motif/kepentingan orang-orang yang hanya memikirkan perutnya sendiri? Apakah ini adalah kisah para kandidat yang kelewat pede atau geer, tidak memiliki kapasitas tapi berambisi, tidak bercermin diri, pemimpi yang kemudian gagal dan jadi gila, ataukah ini kisah dengan aktor utama yang lihai dengan siasat licik, manipulasi informasi, money politics. Atawa ((meminjam Alex Luthfi) ”manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain” ?
Animal Farm atawa HEWAN P RWAKILAN RAKY dus komisi PEMILIHAN hewan (pileghe-pilpreshe, begitu ?)
Seturut Alex Luthfi figur babi di dalam jagad pewayangan dikenal dengan sebutan kala srenggi, adalah binatang yang sukanya merusak dan nggawe kisruh lingkungan saja. Tahun 1995 Alex menciptakan karya-karya lukis dengan tema babi berdasi. Kala itu ia melihat kekasaran dan kekerasan sudah menjadi peristiwa lazim di negeri ini. Pemerkosaan, pembunuhan, perampasan hak dan korupsi seperti menjadi kegiatan rutin dan dihalalkan oleh sebagian bangsa ini. Fenomena inilah yang mendorong Alex menciptakan karya yang menurutnya sendiri ”mungkin fulgar cenderung kasar dan terang-terangan”. Manusia atau objek berkepala babi-berdasi adalah metafora dari kapitalis atau manusia yang membabikan dirinya dan kesukaannya merampas hak orang lain.
Coalition at Maternity Ward - Alex Lutfi
Dalam pameran kali ini Alex menyumbangkan karya Coalition at Maternity Ward, dimana metafora babi kembali muncul. Dengan mengolah fenomena kebebasan berekspresi yang muncul di tembok-tembok kota, rumah, gedung dan jalan raya, gambar-gambar liar sebagai wujud jeritan hati. Maka sosok babi hitam dewasa, menggendong babi putih, serta grafiti di tembok rumah bercat merah muncul dalam karyanya.
DI RUMAH
INI LAHI
GENER
PENERU
Bangsa
Juga tertulis Hewan P RWAKILAN RAKY......
Just Kidding – Adi Gunawan
Figur 2 Babi Merah Berciuman muncul juga dalam karya perupa Adi Gunawan Just Kidding. Konsep karyanya adalah fenomena aneh bagaimana dua tokoh yang sebelumnya berbeda pandangan politiknya, sekonyong-konyong (bercumbu) hanya demi kekuasaan. 2 Babi berciuman di depan publik tanpa rasa malu. Seakan-akan melanggar komitmen politik dianggap hal yang wajar saja.
Sementara dalam Lelah, melalui karya rupa alumuniumnya Agapetus Kristiandana menampilkan sosok babi gemuk menjijikan terkapar kelelahan dengan kancing celana terbuka, dan sebotol whisky kosong di tangannya.
Lelah – Agpetus Kristiandana
Kontes – Jefri Guciano
Selain babi konstestasi Animal Farm ini menghadirkan sosok-sosok lain seperti anjing, harimau, gorilla, bunglon hingga manusia berbadan hewan dll. Dalam satu karya instalasi formasi kaleng-kaleng yang tergantung pada seutas tali menghadirkan dua dimensi kehidupan.
Disisi luar kaleng itu tergambar aneka rupa dan tingkah manusia, sementara di dalamnya hadir segala rupa binatang yang saling bercumbuan. Catat, ini tidak terjadi diantara sesama jenisnya, hadir diantaranya jerapah bercumbu dengan beruang, kucing dengan kura-kura, gajah dengan zebra (?).Metafora bagi tingkah polah percumbuan politik para politisi Rai Gedhek.
Kartun binatang-binatang Disney rupanya muncul juga dalam Bilik Asmara ditemani potret wajah-wajah caleg nan rupawan dan sexy. (di dalam booklet pameran instalasi karya ini di gelar di kamar mandi dengan bak kosong dan toiletnya)
Bilik Asmara – Yoyok Sahaja (HITAM PUTIH)
Tiba-tiba bilik suara itu menjadi toilet
Dan aku jongkok di atas kloset
Kukeluarkan hajat pagi
Namun kenapa bilik ini menjadi wangi?
Ternyata dinding-dinding toilet
Kulihat puluhan gambar artis caleg
Cantik-cantik dan sexy-sexy
Pantas bila khayalku terbawa jadi wangi
.......
Mungkin karena politik itu dekat dengan seks
Dan berpolitik itu mirip dengan ngeseks
Sindhunata, Juni 2009
(cat saya. binatang umumnya sembarang bersetubuh tanpa malu)
Undercover #2 - Nurkholis
Sebangun dengan gagasan ini adalah karya Nurkholis Undercover #2 yang menyampaikan kisah tentang kemunafikan akut yang dibungkus dengan wajah yang seolah-olah asli dan menarik sekaligus bersahaja. Nurkholis lebih lanjut menyatakan ”tapi justru dibalik itu tersembunyi yang menakutkan dan berbahaya”. Seorang perempuan nampak membuka topengnya, muncul wajah macan didalamnya, demikian pula seekor gorilla membuka topengnya dalam rupa seorang lelaki berkumis. Tak berhenti disitu sang perupa juga memberikan peringatan. Sebenarnya di balik itu masih tersembunyi karakter lain yang lebih menyeramkan atau lebih menipu.
Ulu Bedu – I Wayan Kun Adnyana
I Wayan Kun Adnyana dalam Ulu Bedu, fragmen manusia binatang berkepala dua dengan hidung pinokio, juga melukiskan fenomena serupa. Kita hanya bisa jadi penonton kebohongan yang makin memanjang, tulisnya. Demikian pula I Made Arya Palguna dalam Air Muka Buaya dan Hermanu dalam Slenco.
Air Muka Buaya - Hermanu
Koalisi - Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH.
Pesan dibalik metafora 2 babi merah berciuman dalam Just Kidding ternyata muncul juga dalam karya instalasi Koalisi hasil kreasi kolaborasi Komunitas Nitiprayan HITAM PUTIH. Dalam karya ini hadir gugatan tentang kepentingan dibalik koalisi politik? Untuk memuliakan rakyat? Apakah Benar? Apakah bukan untuk kepentingan perutnya sendiri, alias kekuasaan dan kursi? Kemudian koalisi ini pada akhirnya juga bercerita tentang tujuan- unsur-unsur koalisi yang tidak kompak atau bahkan saling bersimpang jalan. Melalui karya ini Hitam Manis mencoba urun rembug atau menawarkan visual dengan metafor binatang-binatang (anjing dan macan) yang serius dengan alamnya masing-masing tapi dipaksakan dijadikan satu.
Seperti Chaplin – Hedi Hariyanto
Seperti Chaplin saja sahut Hedi Hariyanto dalam karyanya. Ia mengambil pose legendaris Charlie Chaplin. Hanya saja tongkat diganti dengan kursi, chaplin inipun berkepala bunglon. Caleg dan Capres gambang berubah haluan demi koalisi, seperti pelawak saja!
Hypocrite - Yerry Padang
Munafik, munafik! Hypocrite : Refleksi Kemunafikan ujar Yerry Padang dalam fragmen manusia berhidung babi, bertelinga serigala, dan label nike kah di rambut merah itu?
(tentang ruang pamer senirupa bersumber booklet Seni Rupa Rai Gedheg – Bentara Budaya 2009)
Label:
apresiasi seni,
ekonomi-politik,
foto,
sosial-budaya
| Reaksi: |
Langgan:
Entri (Atom)







