Dari Peluncuran Buku Antologi Cerpen Lobakan (Kesenyapan Gemuruh Bali '65) dan Novel Buruan karya Putu Oka Sukanta)

"Menulis adalah Perjuangan untuk Hidup".
Putu Oka Sukanta - Ketua Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan
/////////////////////////////////////////
Jangan Lewatkan yang satu ini!
Agenda Taman Budaya Yogyakarta 19 Desember 2009:
MARI MENONTON SERI DOKUMENTER LEKRAKinoki bekerjasama dengan IVAA dan Institut Sejarah Sosial Indonesia menyelenggarakan MARI MENONTON: SERI DOKUMENTER LEKRA. Termasuk dalam acara ini sesi ngobrol dengan para pembuat film, yaitu Andre Dananjaya, M. Abduh Azis, Lasja F. Susatyo dan Putu Oka Sukanta.
////////////////////////////////////////
BABAK 1
Ketika berbicara tentang Bali, orang pada umumnya tidak menghubungkan pulau itu dengan tragedy, apalagi pembantaian. Bali adalah tempat para dewata bersemayam, perempuan melenggang bak bidadari dari pematang sawah terrasering,pantai menjulur laut biru kehijauan, suaka bagi mereka yang penat dan gelisah.Tak banyak yang pernah mendengar bahwa di balik seluruh keindahan dan keunikan Bali menyimpan sejarah kelam tentang pemberantasan orang-orang yang dianggap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di penghujung 1965. Tak mengherankan. Selama lebih dari 40 tahun kisah-kisah memilukan tentang masa berdarah itu terlibas ketakutan akan berulangnya kekejaman dan kepatuhan pada kebijakan-kebijakan yang mengubah berhektar-hektar tanah pertanian menjadi ranah pelesiran.dipetik dari kata pengantar I Gusti Agung Ayu Ratih untuk Antologi Cerpen Lobakan (Penerbit Koekosan dan Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan 2009)
Babak 1

"Kemana kakakmu?". "Kan sudah di Balaibanjar". "Bapakmu?". "Juga sudah diBalaibanjar". "Ibumu?". "Mengantar makanan ke Balaibanjar." . "Kamu juga seharusnya ditahan"., kata lelaki itu dengan tegas mengejutkan Made Jepun."Kamu kan Gerwani."
garapan teater-tari yang diangkat dari cerpen Putu dalam antologi cerpen Lobakan ini




Petikan cerpen-cerpen dalam antologi Lobakan
Sumber http://baliartetalase.blogdrive.com/archive/77.html
1. Pemburu Buaya / Dyah Merta
.ia seperti melihat ribuan kunang-kunang terbang ke angkasa beserta pekikan dan debam tubuh dijatuhkan ke sungai. Tak berapa lama tubuh-tubuh itu mulai mengalir di sungai...
2. Silsilah Merah / Fati Soewandi
Merelakannya.?Tidak, aku tidak rela. Aku tidak sanggup! Itu berarti aku harus menghapus semua kenangan dan ingatanPadahal hanya kenangan dan ingatan itu yang aku punya untuk melewatkan episode kelam dalam hidupku kini.
3. Bantiran / Gde Aryantha Soethama
Duapuluh tahun kemudian,desa Jampi ramai oleh keluarga orang-orang yang dibantai. Mereka mencari tulang belulang untuk diaben Sesajen diletakkan di tengah sawah yang sebulan lalu panen kedele
4. Kakek Perak / Happy Salma
"Kakek Perak, aku sayang Kakek. Aku bangga menjadi cucumu!" Kakek Perak yang berhati lapang, yang telah memaafkan masa lalunya, dan telah berdamai dengan hal-hal yang tak terduga di dalam hidupnya ini.....
5. Laki laki Tua yang Ingin Mati / Kadek Sonia Piscayanti
..Jantungnya berdegup kencang. Nalurinya mengatakan lari. Lari kemana? Sungai? Pura? Kuburan? Lari!
6. Mangku Mencari Doa di Daerah Jauh / Martin Aleida
Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni di lubang besar iitu, tanpa doa, konon pula airmata.
7. Bocah di Balik Pintu / May Swan
"Tidak, aku tidak akan kembali ke Bali, apa pun alasannya.."Sebuah adegan menjelma di benaknya, kepala manusia lepas dari badan, ketika ditatap, ternyata itu bukan wajah ayahnya. Itu wajahnya sendiri....
8. Cerita Galuh dan Wayan / Ni Komang Ariani
Sudah lama Galuh mendengar suara-suara yang tidak ia ketahui sembernya. Suara-suara itu terdengar begitu lirih, namun Galuh yakin suara-suara itu sungguh ada..
9. Pidato / Putu Fajar Arcana
"Bapak-Bapak salah tangkap" Mulut saya lalu seperti terkunci. Saya tidak mampu mengatakan hal lain...
10 Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu ./ Putu Fajar Arcana,
Di bulan Desember, hujan hampir setiap hari mengguyur kota. Pada malam yang pekat, aku diciduk, tepatnya digiring ke sebuah gudang peninggalan Belanda..
11. Seonggok Daging Beku / Putu Fajar Arcana,
Aku membaca peristiwa itu dalam sebuah catatan tulisan tangan yang dibuat Ayah pada masa-masa akhirnya di penjara.Sayangnya dalam catatan itu sama sekali tidak dituliskan mengapa Ayah sampai dijebloskan ke dalam penjara.
12. Made Jepun / Putu Oka Sukanta
"Kemana kakakmu?". "Kan sudah di Balaibanjar". "Bapakmu?". "Juga sudah diBalaibanjar". "Ibumu?". "Mengantar makanan ke Balaibanjar." . "Kamu juga seharusnya ditahan"., kata lelaki itu dengan tegas mengejutkan Made Jepun."Kamu kan Gerwani."
13. Ia Menangis di Depan Televisi / Putu Oka Sukanta
"Ya. Semua itu keponakan saya. Di PNI banyak keponakan, di PKI juga banyak keponakan. Mereka bergiliran minta tolong kepada saya, membuat tiang bendera,mengangkut barang-barang waktu pindah rumah. Waktu PKI bikin keramaian saya jadi keamanan. Waktu PNI membuat drama saya juga jadi keamanan."..Maka sejak hari itu ia diberi tugas mengangkut mayat-mayat bergeletakan di sebelah timur Taman Pahlawan untuk dikuburkan..
14., Kerbau Bertanduk Emas / Putu Oka Sukanta
Setelah upacara selesai, I Plutut menghampiri tamu yang menyaksikan upacara tersebut. Merinding bulu romanya karena orang-orang yang disebut sebagai algojo oleh iparnya ternyata hadir.
15. Warisan / Putu Satria Kusuma
"Tidak ayah. Aku tidak mau bersembunyi lagi. Biarlah mereka menangkapku, yang penting aku bisa melepas rinduku menggendong Kadek" bantah Wayan Guru.
16., Dadong / Sunaryono Basuki KS
Dalam doanya ia selalu berterimakasih kepada Hyang Widhi sebab telah diberi-Nya hidup. Dia juga memintakan maaf orang-orang yang telah membunuh keluarganya.
17..,Nyanyian yang Melintasi Pesisir sampai ke Bukit / Sunaryono Basuki KS
Sekarang pasanglah telinga baik-baik. Tidakkah kau dengar suara nyanyian itu? Melengking nyaring bagai suara angin, mendayu-dayu bagai suara gesekan biola, kadang meratap bagai dua batang kayu yang bergesekan karena angin. Tidakkah kau dengar suara ratapan di anatara suara nyaring itu?
18. Pedang Samurai di Bawah Tempat Tidur / Sunaryono Basuki KS,
Dan air di pesisir bercampur darah. Beberapa orang dengan pasrah berlutut di pasir pantai dan menyerahkan lehernya. Ada yang jatuh ke air namun belum terbang nyawanya..
19 Jejaring Sreening / Suprijadi Tomodihardjo
"Boarding ke mana kamu?". "Pulang dong. Ke Jerman! Pakai Singapore Airline."
Aneh rasanya, pulang kok ke Jerman, tidak ke Bali. Tapi kami mengerti kesulitan Wayan.
20. Menanti Tantri / Suprijadi Tomodihardjo,
"Berjanjilah datang lagi bersama Rai. Bongkar dan bakar seluruh jasadku. Kau tahu, akar-akar pepohonan di sekitar sini telah membelit tulang-belulangku." Suara itu sudah seribu hari menyelinap di relung hati Tantri, dan baru sekarang
perempuan itu menjawab:.....
21.. Mengapa Cinta / T.Iskandar A.S
Sekarang, Lelaki lalu balik bertanya, "Mengapa kau mencintaiku?"
"Kau masih tampan dalam usiamu yang menua. Kau baik. Kau tahan disiksa militer, tidak membawa-bawa orang lain. Terlebih-lebih kau tidak terlihat ingin memorot hartaku.."
22 Tumbang / T.Iskandar A.S,
Ketika ia hendak lari melalui dinding yang rubuh, beberapa tentera melihat sebuah sosok setengah telanjang hendak melarikan diri. "Tembak! Tembak!" teriak seseorang. Seorang serdadu mengangkat senjatanya, dan satu semburan peluru merubuhkan tubuhnya yang molek. "Oh, Sang Hyang Widhi," Ia kemudian tergolek kaku dalam kubangan merah kesumba darahnya sendiri.
BABAK 2

Buruan adalah Novel Putu yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah minguan "Minggu Pagi" di Jogyakarta tahun 1964. Novel ini diterbitkan kembali oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)dan Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan tahun 2009.
Menurut AJ Susmana dalam pemaparannya (saat launching dan diskusi buku ini di goethe institut 17 Nopember 2009 lalu) novel ini memiliki gaya dan jiwa (semangat) yang hampir sama dengan karya Pram "Sekali Waktu di Banten Selatan (1958). "Keduanya memang tampak ditulis sebagai hasil kunjungan semacam turba : turun ke bawah sebagaimana dianjurkan LEKRA dalam berkarya. Hanya obyek dan tempatnya saja yang berbeda." demikian AJ Susmana.
Buruan berkisah tentang sebuah kampung nelayan, sedang Sekali Waktu Di Banten Selatan berkisah tentang sebuah kampung petani.