sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Senin, 30 November 2009

antara sawah, pabrik dan jalanan

biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang

busung dada yang makin sungsang
mencekik



antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul

atau
hantu-hantu kota
yang gentayangan

oleh karena asa yang tiada matinya


Bookmark and Share

Tokoh Muda Inspiratif : Kesadaran "Melampaui Indonesia"*

Harian Kompas sejak tanggal 28 Oktober 2009 setiap harinya menampilkan profil (pilihan) tokoh muda inspiratif. Profil tersebut dalam format wawancara oleh wartawan Kompas. Berikut adalah tokoh-tokoh muda tersebut, beserta link-link artikelnya.

* diambil dari judul artikel tentang Anis Baswedan

Anies Baswedan; Anas Urbaningrum; I Gusti Agung Putri Astrid Kartika; Pramono Anung Wibowo ; Yudi Latif; Fadli Zon; Edy Prasetyono; Ester Indahyani Jusuf; Topo Santoso; Eko Prasojo; Saldi Isra; Teten Masduki ; Zannuba Arifah Chafsoh Rahman "; Zuly Qodir; Budiman Sudjatmiko; Yuddy Chrisnandi; Ifdal Kasim; Yusuf Chudlori; Chalid Muhammad; Anis Matta; Nurul Arifin; Usman Hamid; Dradjad Wibowo; M Fadjroel Rachman; Budhy Munawar Rachman ; Masruchah; Bivitri Susanti; Firmanzah

Bisa jadi anda tidak sepakat dengan pilihan Kompas ini, tapi menurut saya tetaplah sesuatu yang berharga untuk menyimak ‘profil’ mereka dan yang terpenting juga membaca apa pandangan-pandangan atas persoalan negeri ini (bagi saya kegentingan negeri ini) dan keperdulian mereka. (Format artikel-artikel adalah dalam bentuk wawancara oleh wartawan Kompas)

Lebih jauh lagi kita pun bisa menilai sejauh mana pandangan-pandangan mereka adalah jawaban atas kegentingan negeri ini. Sekedar reformis atau transformatif serta evolutif/gradual atau revolusi (atau jangan-jangan sekedar reaksioner?) Down to the Earth (membumi) atau Up to the Sky (melangit)………………. Atau mengambang antara langit dan bumi….

salam pembebasan

Baca juga (bacaan ini sengaja di pilih karena menurut saya sangat relevan dengan judul yang saya pilih Kesadaran “Melampaui Indonesia”

Seabad Kebangkitan Nasional : Imaji Indonesia Dalam 100 Teks

80 Tahun Sumpah Pemuda (Membaca Indonesia dan Sejarahnya)

NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa





Bookmark and Share

Perempuan-perempuan yang Membawa Bakul di Pagi Buta



Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

(Sajak Hartojo Andangdjaja)








Bookmark and Share

Kumpulan Artikel/Opini Tentang Anti Korupsi (Cicak Vs Buaya, Cicak vs Godzilla) 28 Nopember 2009

People Power - Budiarto Shambazy; Tajuk Rencana Kompas -Rekayasa Sebuah Perkara; Kekuasaan yang Lupa - Radhar Panca Dahana; Mensyukuri Indonesia - P ARI SUBAGYO; EDITORIAL MI - Langkah Berani Mahkamah Konstitusi; Kapi Joyo Anggodo Mbalelo - Rohmad Hadiwijoyo

* cat : untuk akses artikel dari Seputar Indonesia harus register terlebih dahulu

KOLOM POLITIK-EKONOMI "Peoples Power" - Budiarto Shambazy

TAJUK RENCANA Kompas - Rekayasa Sebuah Perkara

Kekuasaan yang Lupa - Radhar Panca Dahana

Mensyukuri Indonesia - P ARI SUBAGYO

EDITORIAL MI - Langkah Berani Mahkamah Konstitusi

Kapi Joyo Anggodo Mbalelo - Rohmad Hadiwijoyo


silah kunjung

KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......


Bookmark and Share

Minggu, 29 November 2009

Dari Pameran FX Harsono "The Erased Time" : Darkness

Hutang Sejarah adalah istilah yang digunakan Karmala Chandrakirana, Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, untuk menegaskan pentingnya memenuhi tiga hak paling dasar korban : pengungkapan kebenaran, penegakan keadilan dan pemberian pemulihan sebagai acuan membangun konsensus baru dalam berbangsa dan bernegara.

(dipetik dari catatan kaki pengantar I Gusti Agung Ayu Ratih untuk antologi cerpen Lobakan : Kesenyapan Gemuruh Bali 65)

hutang sejarah saya kutip sebagai respon atas judul artikel di tempointeraktif FX Harsono dan Tionghoa Gugat.

Pameran FX Harsono; Galeri Nasional Jakarta 1-14 Nopember 2009 (kerjasam Langgeng Gallery dan Galeri Nasional Indonesia


Tempo Interaktif : FX Harsono dan Tionghoa Gugat
Kompas : Nama Saya Oh Hong Bun


FX Harsono

Saat pulang ke Blitar itulah ia menemukan kembali sejumlah foto lama di ruang tamu. Benda itu sudah sering dibolak-balik, brangkali juga dihafal oleh seisi rumah, termasuk Harsono. Tapi, tak ada yang mempertanyakan setumpukan foto aneh di situ.

Diantara tumpukan album foto keluarga, ia menemukan foto-foto yang paling menarik perhatian. Jumlahnya sekitar delapan puluh lembar. Foto-foto hitam putih itu menggambarkan upaya sekelompok orang untuk melakukan penggalian jenasah yang sudah lama tertimbun tanah. Mereka adalah orang-orang Cina yang menjadi korban peristiwa yang agaknya merupakan pembunuhan massal, antara 1946-1948. Itu memang foto-foto bersejarah yang dibuat ayahnya.





....

Di masa tak menentu setelah tumbangnya pemerintah Orde Baru, sejumlah pertanyaan yang selama ini seakan hanya menjadi persoalan pribadi, mulai muncul di kepala Harsono. Ia selalu teringat lagi akan foto-foto lama yang dikerjakan ayahnya. Ini diakuinya sama sekali tak ada kaitan dengan rasa dendam terhadap rezim yang pernah memenjarakan ayahnya.

(dipetik dari pengatar kurator Hendro Wiyanto 'Waktu Terhapus, Jejak Pun Akan Aus"

(ayahanda Harsono adalah juru foto di Blitar pemilik studio foto Atom, studio paling ternama di kota itu. ayahanda Harsono mengabadikan upaya organisasi Chung Hua Tsung Hui yang memperakarsai upaya penggalian dan pendataan kembali para korban pembunuhan massal orang-orang Cina di Jawa)


























































































baca juga

Anggodo! Cina! Harsono! - blogombal.org


Bookmark and Share

Sabtu, 28 November 2009

Kumpulan Artikel/Opini Tentang Kriminalisasi Chandra-Bibit dan KPK (Cicak Vs Buaya, Cicak vs Godzilla) 25-26 Nopember 2009

Kultur Komunikasi Jawa - NOVEL ALI; Kotak Hitam Demokrasi - Ahmad Nyarwi; Kabinet Retorika & Dongeng Kancil - Djoko Suud Sukahar; Pengkhianatan terhadap Rakyat - Mohamad Sobary; EDITORIAL MI - Misteri Century di Saku PPATK; EDITORIAL TEMPO - Bolong Audit Kasus Century; EDITORIAL TEMPO - Bolong Audit Kasus Century; Legalistik dan Mengambang - Rosihan Anwar; Minah dan Anggodo - Saifur Rohman; Penyelesaian ala Istana- Saldi Isra; Agar Tidak Menjadi Oposisi Pop - Wawan Sobari; EDITORIAL TEMPO - Kontroversi Aturan Penyadapan; EDITORIAL MI - Memburu Duit Century; Republik Koruptor - Umbu TW Pariangu; Mengeksekusi Pidato Presiden SBY - Denny Indrayana; >Editorial Japos : Mengurai Kasus Century; Angket Century : ENDRAWAN SUPRATIKNO; Etos Feodal : Yulius Tandyanto; Kaburnya Etika Kehidupan Berbangsa - Usman Hamid; Effendi Gazali: Seandainya Pidato SBY Seperti ini

* cat : untuk akses artikel dari Seputar Indonesia harus register terlebih dahulu

26 Nopember 2009

Kultur Komunikasi Jawa - NOVEL ALI


Kotak Hitam Demokrasi - Ahmad Nyarwi

Kabinet Retorika & Dongeng Kancil - Djoko Suud Sukahar

Pengkhianatan terhadap Rakyat - Mohamad Sobary

EDITORIAL MI - Misteri Century di Saku PPATK

EDITORIAL TEMPO - Bolong Audit Kasus Century


25 Nopember 2009

Legalistik dan Mengambang - Rosihan Anwar

Minah dan Anggodo - Saifur Rohman

Penyelesaian ala Istana- Saldi Isra

Agar Tidak Menjadi Oposisi Pop - Wawan Sobari

EDITORIAL TEMPO - Kontroversi Aturan Penyadapan

EDITORIAL MI - Memburu Duit Century


Republik Koruptor - Umbu TW Pariangu

Mengeksekusi Pidato Presiden SBY - Denny Indrayana

Editorial Japos : Mengurai Kasus Century

H Angket Century : ENDRAWAN SUPRATIKNO

Etos Feodal : Yulius Tandyanto

Usman Hamid: Kaburnya Etika Kehidupan Berbangsa

Effendi Gazali: Seandainya Pidato SBY Seperti ini

silah kunjung

KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......




Bookmark and Share

Jumat, 27 November 2009

Kumpulan Artikel/Opini Tentang Kriminalisasi Chandra-Bibit dan KPK (Cicak Vs Buaya, Cicak vs Godzilla) 23-24 Nopember 2009

TAJUK RENCANA Kompas - Tidak Dibawa ke Pengadilan!; EDITORIAL TEMPO - Momentum yang Disia-siakan; Hak Angket, Siapa Takut? - Bambang Soesatyo; Perlu Upaya Simultan Berantas Korupsi - Ivan A Hadar; Dampak Politik Perseteruan Hukum - Maswadi Rauf; (Delik) Pers dan Pencemaran Nama Baik - Eddy OS Hiariej; Hukum Tanpa Detak Keadilan - Donny Gahral Adian; Menyelamatkan IPK Indonesia - Adnan Topan Husodo; Fenomena Koruptor Religius - Anita Retno Lestari; Kesepakatan yang Dipertentangkan - Said Zainal Abidin; EDITORIAL MI - Pemimpin dan Krisis; EDITORAIL TEMPO: Presiden Harus Segera Bertindak

* cat : untuk akses artikel dari Seputar Indonesia harus register terlebih dahulu

24 Nopember 2009

TAJUK RENCANA Kompas - Tidak Dibawa ke Pengadilan!

EDITORIAL TEMPO - Momentum yang Disia-siakan


EDITORIAL MI - Pidato Antiklimaks


Hak Angket, Siapa Takut? - Bambang Soesatyo


Perlu Upaya Simultan Berantas Korupsi - Ivan A Hadar

Dampak Politik Perseteruan Hukum - Maswadi Rauf

(Delik) Pers dan Pencemaran Nama Baik - Eddy OS Hiariej

23 Nopember 2009

Hukum Tanpa Detak Keadilan - Donny Gahral Adian

Menyelamatkan IPK Indonesia - Adnan Topan Husodo

Fenomena Koruptor Religius - Anita Retno Lestari

Kesepakatan yang Dipertentangkan - Said Zainal Abidin


EDITORIAL MI - Pemimpin dan Krisis



EDITORAIL TEMPO: Presiden Harus Segera Bertindak


silah kunjung

KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......
KOMPILASI ARTIKEL/OPINI SEJAK 30 OKTOBER 2009 -......


Bookmark and Share

Rabu, 25 November 2009

Tokoh Muda Inspiratif Pilihan Kompas : Membaca Tanda-tanda Jaman?!

Bisa jadi anda tidak sepakat dengan pilihan Kompas ini, tapi menurut saya tetaplah sesuatu yang berharga untuk menyimak ‘profil’ mereka dan yang terpenting juga membaca apa pandangan-pandangan atas persoalan negeri ini (bagi saya kegentingan negeri ini) dan keperdulian mereka. (Format artikel-artikel adalah dalam bentuk wawancara oleh wartawan Kompas)

Lebih jauh lagi kita pun bisa menilai sejauh mana pandangan-pandangan mereka adalah jawaban atas kegentingan negeri ini. Sekedar reformis atau transformatif serta evolutif/gradual atau revolusi (atau jangan-jangan sekedar reaksioner?) Down to the Earth (membumi) atau Up to the Sky (melangit)………………. Atau mengambang antara langit dan bumi….

salam pembebasan

Siapa sajakah mereka?
(nb. setiap harinya saya akan mengupdate tokoh-tokoh muda pilihan kompas ini, karena masih terus bergulir)


TOKOH MUDA INSPIRATIF (1) Anies Baswedan
Kesadaran "Melampaui Indonesia"

TOKOH MUDA INSPIRATIF (2) Anas Urbaningrum
Obsesi Perbaiki Sejarah DPR


TOKOH MUDA INSPIRATIF (3) I Gusti Agung Putri Astrid Kartika
Membangun Aspirasi dari Pedesaan


TOKOH MUDA INSPIRATIF (4) Pramono Anung Wibowo
Berpolitik Setelah Mapan Berbisnis


TOKOH MUDA INSPIRATIF (5) Yudi Latif
Menjaga Modal Demokrasi Indonesia


TOKOH MUDA INSPIRATIF (6) Fadli Zon
Demokrasi yang Perlu Dievaluasi


TOKOH MUDA INSPIRATIF (7) Edy Prasetyono
Menerobos Kebuntuan Penguatan Pertahanan


TOKOH MUDA INSPIRATIF (8) Ester Indahyani Jusuf
Penegakan HAM, Tak Mungkin Mundur Lagi


TOKOH MUDA INSPIRATIF (9) Topo Santoso
Membangun Pelindung Demokrasi


TOKOH MUDA INSPIRATIF (10) – Eko Prasojo
Bebaskan Birokrasi dari Kooptasi Politik

TOKOH MUDA INSPIRATIF (11) Saldi Isra
KPK Ambruk karena Didesain Ambruk


TOKOH MUDA INSPIRATIF (12) Teten Masduki
Perang Panjang Melawan Korupsi


TOKOH MUDA INSPIRATIF (13) Zannuba Arifah Chafsoh Rahman
Ujian Politik "Darah Biru"


TOKOH MUDA INSPIRATIF (14) Zuly Qodir
Mengelola Keberagaman Indonesia


TOKOH MUDA INSPIRATIF (15) Budiman Sudjatmiko
Optimisme untuk Indonesia yang Lebih Baik


TOKOH MUDA INSPIRATIF (16) Yuddy Chrisnandi
Indonesia Perlu Pemimpin Autentik


TOKOH MUDA INSPIRATIF (17) Ifdal Kasim
Generasi Baru Penegakan HAM

TOKOH MUDA INSPIRATIF (18) Yusuf Chudlori
Menjaga Benteng Terakhir


TOKOH MUDA INSPIRATIF (19) Chalid Muhammad
Perjuangan Kritis untuk Lingkungan Hidup

TOKOH MUDA INSPIRATIF (20) Anis Matta
Menjadi Penguasa Belum Tentu Memimpin

TOKOH MUDA INSPIRATIF (21) Nurul Arifin
DPR Jangan Pasang Badan bagi Penguasa


TOKOH MUDA INSPIRATIF (22) Usman Hamid
Mengalir Menuju Muara yang Sama


TOKOH MUDA INSPIRATIF (23) Dradjad Wibowo
Demi Pembangunan yang Berkeadilan

TOKOH MUDA INSPIRATIF (24) M Fadjroel Rachman
Mimpi Negeri Tanpa Korupsi

TOKOH MUDA INSPIRATIF (25) Budhy Munawar Rachman
Menyemai Kebebasan Beragama


TOKOH MUDA INSPIRATIF (26) - Masruchah
Kesetaraan Perempuan dan Kemajuan Bangsa


TOKOH MUDA INSPIRATIF (27) - Bivitri Susanti
Mimpi Dewan yang Transparan

TOKOH MUDA INSPIRATIF (28) - Firmanzah
Pentingnya Konsep Manajemen Politik


nb. setiap harinya saya akan mengupdate tokoh-tokoh muda pilihan kompas ini

baca juga

Seabad Kebangkitan Nasional : Imaji Indonesia Dalam 100 Teks

80 Tahun Sumpah Pemuda (Membaca Indonesia dan Sejarahnya)

NASIONALISME : DI TAPAL BATAS atau DI SIMPANG JALAN
Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Bookmark and Share

Putu Oka Sukanta : Menulis adalah Perjuangan untuk Hidup

Dari Peluncuran Buku Antologi Cerpen Lobakan (Kesenyapan Gemuruh Bali '65) dan Novel Buruan karya Putu Oka Sukanta)



"Menulis adalah Perjuangan untuk Hidup".
Putu Oka Sukanta - Ketua Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan

/////////////////////////////////////////
Jangan Lewatkan yang satu ini!

Agenda Taman Budaya Yogyakarta 19 Desember 2009:
MARI MENONTON SERI DOKUMENTER LEKRA


Kinoki bekerjasama dengan IVAA dan Institut Sejarah Sosial Indonesia menyelenggarakan MARI MENONTON: SERI DOKUMENTER LEKRA. Termasuk dalam acara ini sesi ngobrol dengan para pembuat film, yaitu Andre Dananjaya, M. Abduh Azis, Lasja F. Susatyo dan Putu Oka Sukanta.
////////////////////////////////////////


BABAK 1

Ketika berbicara tentang Bali, orang pada umumnya tidak menghubungkan pulau itu dengan tragedy, apalagi pembantaian. Bali adalah tempat para dewata bersemayam, perempuan melenggang bak bidadari dari pematang sawah terrasering,pantai menjulur laut biru kehijauan, suaka bagi mereka yang penat dan gelisah.Tak banyak yang pernah mendengar bahwa di balik seluruh keindahan dan keunikan Bali menyimpan sejarah kelam tentang pemberantasan orang-orang yang dianggap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di penghujung 1965. Tak mengherankan. Selama lebih dari 40 tahun kisah-kisah memilukan tentang masa berdarah itu terlibas ketakutan akan berulangnya kekejaman dan kepatuhan pada kebijakan-kebijakan yang mengubah berhektar-hektar tanah pertanian menjadi ranah pelesiran.

dipetik dari kata pengantar I Gusti Agung Ayu Ratih untuk Antologi Cerpen Lobakan (Penerbit Koekosan dan Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan 2009)

Babak 1



"Kemana kakakmu?". "Kan sudah di Balaibanjar". "Bapakmu?". "Juga sudah diBalaibanjar". "Ibumu?". "Mengantar makanan ke Balaibanjar." . "Kamu juga seharusnya ditahan"., kata lelaki itu dengan tegas mengejutkan Made Jepun."Kamu kan Gerwani."

garapan teater-tari yang diangkat dari cerpen Putu dalam antologi cerpen Lobakan ini













Petikan cerpen-cerpen dalam antologi Lobakan

Sumber http://baliartetalase.blogdrive.com/archive/77.html

1. Pemburu Buaya / Dyah Merta

.ia seperti melihat ribuan kunang-kunang terbang ke angkasa beserta pekikan dan debam tubuh dijatuhkan ke sungai. Tak berapa lama tubuh-tubuh itu mulai mengalir di sungai...

2. Silsilah Merah / Fati Soewandi

Merelakannya.?Tidak, aku tidak rela. Aku tidak sanggup! Itu berarti aku harus menghapus semua kenangan dan ingatanPadahal hanya kenangan dan ingatan itu yang aku punya untuk melewatkan episode kelam dalam hidupku kini.

3. Bantiran / Gde Aryantha Soethama

Duapuluh tahun kemudian,desa Jampi ramai oleh keluarga orang-orang yang dibantai. Mereka mencari tulang belulang untuk diaben Sesajen diletakkan di tengah sawah yang sebulan lalu panen kedele

4. Kakek Perak / Happy Salma

"Kakek Perak, aku sayang Kakek. Aku bangga menjadi cucumu!" Kakek Perak yang berhati lapang, yang telah memaafkan masa lalunya, dan telah berdamai dengan hal-hal yang tak terduga di dalam hidupnya ini.....

5. Laki laki Tua yang Ingin Mati / Kadek Sonia Piscayanti

..Jantungnya berdegup kencang. Nalurinya mengatakan lari. Lari kemana? Sungai? Pura? Kuburan? Lari!

6. Mangku Mencari Doa di Daerah Jauh / Martin Aleida

Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni di lubang besar iitu, tanpa doa, konon pula airmata.

7. Bocah di Balik Pintu / May Swan

"Tidak, aku tidak akan kembali ke Bali, apa pun alasannya.."Sebuah adegan menjelma di benaknya, kepala manusia lepas dari badan, ketika ditatap, ternyata itu bukan wajah ayahnya. Itu wajahnya sendiri....

8. Cerita Galuh dan Wayan / Ni Komang Ariani

Sudah lama Galuh mendengar suara-suara yang tidak ia ketahui sembernya. Suara-suara itu terdengar begitu lirih, namun Galuh yakin suara-suara itu sungguh ada..

9. Pidato / Putu Fajar Arcana

"Bapak-Bapak salah tangkap" Mulut saya lalu seperti terkunci. Saya tidak mampu mengatakan hal lain...

10 Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu ./ Putu Fajar Arcana,

Di bulan Desember, hujan hampir setiap hari mengguyur kota. Pada malam yang pekat, aku diciduk, tepatnya digiring ke sebuah gudang peninggalan Belanda..

11. Seonggok Daging Beku / Putu Fajar Arcana,

Aku membaca peristiwa itu dalam sebuah catatan tulisan tangan yang dibuat Ayah pada masa-masa akhirnya di penjara.Sayangnya dalam catatan itu sama sekali tidak dituliskan mengapa Ayah sampai dijebloskan ke dalam penjara.

12. Made Jepun / Putu Oka Sukanta

"Kemana kakakmu?". "Kan sudah di Balaibanjar". "Bapakmu?". "Juga sudah diBalaibanjar". "Ibumu?". "Mengantar makanan ke Balaibanjar." . "Kamu juga seharusnya ditahan"., kata lelaki itu dengan tegas mengejutkan Made Jepun."Kamu kan Gerwani."

13. Ia Menangis di Depan Televisi / Putu Oka Sukanta

"Ya. Semua itu keponakan saya. Di PNI banyak keponakan, di PKI juga banyak keponakan. Mereka bergiliran minta tolong kepada saya, membuat tiang bendera,mengangkut barang-barang waktu pindah rumah. Waktu PKI bikin keramaian saya jadi keamanan. Waktu PNI membuat drama saya juga jadi keamanan."..Maka sejak hari itu ia diberi tugas mengangkut mayat-mayat bergeletakan di sebelah timur Taman Pahlawan untuk dikuburkan..

14., Kerbau Bertanduk Emas / Putu Oka Sukanta

Setelah upacara selesai, I Plutut menghampiri tamu yang menyaksikan upacara tersebut. Merinding bulu romanya karena orang-orang yang disebut sebagai algojo oleh iparnya ternyata hadir.

15. Warisan / Putu Satria Kusuma

"Tidak ayah. Aku tidak mau bersembunyi lagi. Biarlah mereka menangkapku, yang penting aku bisa melepas rinduku menggendong Kadek" bantah Wayan Guru.

16., Dadong / Sunaryono Basuki KS

Dalam doanya ia selalu berterimakasih kepada Hyang Widhi sebab telah diberi-Nya hidup. Dia juga memintakan maaf orang-orang yang telah membunuh keluarganya.

17..,Nyanyian yang Melintasi Pesisir sampai ke Bukit / Sunaryono Basuki KS

Sekarang pasanglah telinga baik-baik. Tidakkah kau dengar suara nyanyian itu? Melengking nyaring bagai suara angin, mendayu-dayu bagai suara gesekan biola, kadang meratap bagai dua batang kayu yang bergesekan karena angin. Tidakkah kau dengar suara ratapan di anatara suara nyaring itu?

18. Pedang Samurai di Bawah Tempat Tidur / Sunaryono Basuki KS,

Dan air di pesisir bercampur darah. Beberapa orang dengan pasrah berlutut di pasir pantai dan menyerahkan lehernya. Ada yang jatuh ke air namun belum terbang nyawanya..

19 Jejaring Sreening / Suprijadi Tomodihardjo

"Boarding ke mana kamu?". "Pulang dong. Ke Jerman! Pakai Singapore Airline."

Aneh rasanya, pulang kok ke Jerman, tidak ke Bali. Tapi kami mengerti kesulitan Wayan.

20. Menanti Tantri / Suprijadi Tomodihardjo,

"Berjanjilah datang lagi bersama Rai. Bongkar dan bakar seluruh jasadku. Kau tahu, akar-akar pepohonan di sekitar sini telah membelit tulang-belulangku." Suara itu sudah seribu hari menyelinap di relung hati Tantri, dan baru sekarang

perempuan itu menjawab:.....

21.. Mengapa Cinta / T.Iskandar A.S

Sekarang, Lelaki lalu balik bertanya, "Mengapa kau mencintaiku?"

"Kau masih tampan dalam usiamu yang menua. Kau baik. Kau tahan disiksa militer, tidak membawa-bawa orang lain. Terlebih-lebih kau tidak terlihat ingin memorot hartaku.."

22 Tumbang / T.Iskandar A.S,

Ketika ia hendak lari melalui dinding yang rubuh, beberapa tentera melihat sebuah sosok setengah telanjang hendak melarikan diri. "Tembak! Tembak!" teriak seseorang. Seorang serdadu mengangkat senjatanya, dan satu semburan peluru merubuhkan tubuhnya yang molek. "Oh, Sang Hyang Widhi," Ia kemudian tergolek kaku dalam kubangan merah kesumba darahnya sendiri.


BABAK 2



Buruan adalah Novel Putu yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah minguan "Minggu Pagi" di Jogyakarta tahun 1964. Novel ini diterbitkan kembali oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)dan Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan tahun 2009.

Menurut AJ Susmana dalam pemaparannya (saat launching dan diskusi buku ini di goethe institut 17 Nopember 2009 lalu) novel ini memiliki gaya dan jiwa (semangat) yang hampir sama dengan karya Pram "Sekali Waktu di Banten Selatan (1958). "Keduanya memang tampak ditulis sebagai hasil kunjungan semacam turba : turun ke bawah sebagaimana dianjurkan LEKRA dalam berkarya. Hanya obyek dan tempatnya saja yang berbeda." demikian AJ Susmana.

Buruan berkisah tentang sebuah kampung nelayan, sedang Sekali Waktu Di Banten Selatan berkisah tentang sebuah kampung petani.

Bookmark and Share