Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Kamis, 31 Desember 2009

Gapai Langit Ber Awan-awan - Bangka

Satu Siang di Pantai Pasir Padi Bangka

bangka penghujung tahun 2009
















Bookmark and Share

Apa Kata Pakar/Akademisi tentang Buku Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa

Buku Dalih Pembunuhan Massal sudah beredar selama satu tahun dan sembilan bulan, dan justru mendapat sambutan baik dari dalam maupun luar negeri. Buku ini masuk nominasi buku terbaik dalam International Convention of Asian Scholars, perhelatan ilmiah terbesar untuk bidang studi Asia pada 2007. Tinjauan terhadap buku ini dimuat dalam berbagai berkala ilmiah internasional.

dipetik dari Pernyataan Sikap Institut Sejarah Sosial Indonesia

Ditulis dengan sangat baik dan mengasyikkan, inilah upaya ilmiah pertama dalam kurun waktu lebih dari dua dasawarsa untuk mengkaji secara serius bukti-bukti yang berkenaan dengan teka-teki paling penting dalam sejarah Indonesia, kudeta 30 September 1965.
Robert Cribb, Australian National University

Tiga pencapaian mengagumkan yang diraih John Roosa adalah menyoroti bukti baru empat puluh tahun setelah peristiwa, memutar balikkan kesimpulan-kesimpulan yang sudah diterima umum, dan melakukan ini semua dalam gaya mencekam ala kisah detektif.
Gerry van Klinken, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

Buku John Roosa yang menggugah dan berdasar pada penelitian menyeluruh menyajikan bukti padu untuk mendukung interpretasi-interpretasi yang sebelumnya didasarkan hanya pada spekulasi. Buku ini merupakan sumbangan yang penting bagi kepustakaan tentang kudeta di Indonesia.
Harold Crouch, Review of Politics

Ini merupakan bahan bacaan penting bagi pelajar sejarah modern Indonesia, dan bagi siapapun yang tertarik pada kekerasan politik, peran militer dalam politik, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Geoffrey Robinson, University of California at Los Angeles

Buku ini merupakan catatan paling detil dan dengan penelitian terbaik tentang kejadian-kejadian 1965 yang pernah ditulis. Siapa pun yang berniat memahami kejadian-kejadian yang masih menebar mendung di atas bumi Indonesia dan sedikit dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia akan memperoleh manfaat sangat besar dengan membaca buku kelas satu ini.
Carmel Budiardjo, Tapol Bulletin

Sumbangan yang luar biasa berharga … ini merupakan masukan akademik pertama yang signifikan tentang masalah yang dibicarakan dalam jangka waktu tertentu, dan cukup memukau dibaca.
Vedi Hadiz, Pacific Affairs

Catatan John Roosa tentang Gerakan 30 September merupakan karya detektif yang mengesankan … ia sudah barang tentu menyumbangkan penelitian yang terbaik sampai saat ini tentang siapa yang mengorganisasikan gerakan ini, mengapa gerakan tersebut gagal, dan bagaimana gerakan ini beranjak ke pembunuhan massal, yang diikuti dengan berpuluh-puluh tahun represi. Buku ini layak dibaca kalangan seluas-luasnya.
Olle Törnquist, International Review of Social History


Copyleft buku ini

Bookmark and Share

Selasa, 29 Desember 2009

Menuju Teluk Uber Sungailiat - Bangka











PANTAI TELUK UBER SUNGAILIAT.............
PANTAI TELUK UBER SUNGAILIAT..............................














selengkapnya


Bookmark and Share

Sabtu, 26 Desember 2009

Sambutan Selamat Datang. Pangkalpinang Bangka di Penghujung Tahun 2009































Bookmark and Share

COPYLEFT : ISSI Melepas Copyright Buku Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto.

Kami percaya bahwa pelarangan buku ini tidak akan menyurutkan kehendak publik untuk mencari kebenaran. Dengan semangat itu dan juga sebagai bentuk konkret perlawanan, dengan pernyataan ini kami melepas copyright atas buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa kepada publik sehingga dapat disebarluaskan melalui berbagai media. ISSI juga akan mengajukan somasi kepada Kejaksaan Agung dan meminta agar larangan itu dicabut. Jika tidak dipenuhi, ISSI akan menempuh jalur hukum dan menggugat keputusan Jaksa Agung tersebut.

Dipetik dari Pernyataan Sikap Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) 23 Desember 2009

Selengkapnya
Pernyataan ISSI Menentang Pelarangan Buku 'Dalih Pembunuhan Massal'

baca juga
Tentang Pembredelan Lima Buku oleh Kejagung – Asep Sambodja (Kompas 24 Desember 2009

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL

* ISSI adalah penerbit buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa


sumber : http://sejarahsosial.blogspot.com/


Bookmark and Share

Jumat, 25 Desember 2009

Jangan Lewatkan, Pameran Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 1

Jakarta Contemporary Ceramic Biennale # 1, yang diselenggarakan di North Art Space (NAS) – Pasar Seni Ancol ( 19 Desember 2009 - 20 Januari 2010), merupakan upaya untuk memetakan praktik seni keramik kontemporer, bukan hanya di Indonesia tapi di negara-negara lain, baik di Asia Tenggara maupun dunia internasional. Karya-karya pada penyelenggaraan pertama , diiniasiasi dan dipilih oleh tim kurator : Asmujo J. Irianto dan Rifky Effendy, diikuti lebih berbagai praktisi seni keramik.



Selain dari Indonesia seperti F. Widayanto, Nurdian Ichsan, Nia Gautama, Lie Fhung, Albert Yonathan, dan lainnya. Juga para perupa dari Belanda seperti Mirjam Veldhuis, Jason Lim dari Singapura, juga perupa keramik Thailand, Malaysia dan Filipina. Karya-karya yang ditampilkan dari keberagaman dan kecenderungan artistik. Karya – karya yang berangkat atau berbasis pottery, patung dan bahkan konseptual. Termasuk pula karya para perupa yang bukan berlatar keramik, seperti pematung muda Wiyoga Muhardanto dan perupa Handiwirman Saputra.

* juga perupa keramik Aries BM, 2 karyanya di dalam pameran ini City on My Head dan Pacul Memorial sebelumnya pernah dipamerkan dalam pameran tunggalnya "Menafsir Wastu" di bentera budaya.

Sumber : teks (http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/) dan foto-foto (lensa lentera)









































Bila anda tertarik mengunjungi pameran ini tapi punya kendala jarak silah kunjung

http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/

* seluruh karya dan profil perupa bisa disimak di blog ini.



Bookmark and Share

Ironi Banjir Untung di Jakarta dan Banjir Lumpur (Buntung) di Sidoarjo

"Pemerintah Tidak Peduli Penderitaan Anak Korban Lapindo".
Pernyataan Romo Sandyawan saat membuka Festival yang mengambil topik "Solidaritas Perjuangan Anak Pinggiran: Mengais Dunia yang Hilang". Festival ini diikuti sekitar 750 peserta dari berbagi komunitas anak di Jawa Timur. Anak-anak se-Jawa Timur itu hendak menunjukkan solidaritas mereka bagi anak korban lumpur Lapindo.

------------------------------------------------

Persoalan semburan lumpur panas Lapindo Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sampai dengan akhir 2009 masih saja terjadi sehingga telah mengakibatkan masalah pelik dari aspek teknis dan sosial. Pemerintah kewalahan menghentikan semburan, merelokasi warga yang tempat tinggalnya tergenang lumpur, dan meminta petanggungjawaban PT Lapindo Brantas Inc, sebagai operator eksplorasi sumur Banjar Panji, Sidoarjo. Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 tentang Pembentukan Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo, warga mendapat ganti rugi secara bertahap. Namun penyelesaian ganti rugi dalam bentuk jual beli itu pun masih berlarut-larut dan korban masih belum juga mendapatkan hak-haknya sebagaimana yang telah dijanjikan. Lambannya sikap Pemerintah, ditambah lagi dengan masih dilakukannya negosiasi ulang untuk pembayaran ganti rugi tersebut memperlihatkan bahwa Pemerintah, tidak saja, abai terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak-korban, namun juga lemah dalam berhadapan dengan korporasi. Selain itu, dari hasil pengkajian yang dilakukan Komnas HAM didapati adanya sejumlah pelanggaran hak asasi manusia dari peristiwa tersebut, akan tetapi pemerintah telah mengabaikan rekomendasi Komnas HAM untuk memulihkan hak-hak para korban yang telah terlanggar.

Dipetik dari
Catatan Akhir Tahun Hak Asasi Manusia 2009 – Komnas HAM

--------------------------------------------------

Bakrieland Development saat ini sedang dalam kerja giat untuk membangun kawasan SuperBlock yang konon terbesar di Jakarta dengan wilayah seluas 53,5 ha (dan akan terus diperluas hingga 60 hektar). Disana sudah dan akan dibangun Gedung konser multi fungsi berkapasitas 2.500 orang, studio TV, retail area, perkantoran, hotel, apartemen dan lain-lain. Seluruhnya menyatu dalam lingkungan perkotaan atau atmosfir perkotaan yang tertata rapi, memadukan kegiatan bisnis komersial dengan gaya hidup dan hiburan yang dilengkapi fasilitas premium.

Bakrie Tower, mal Epicentrum Walk- Creative Entertainment Center dan Strata Office Suites, The Grove Condominium dan The Grove Suites dan gedung konser adalah fasilitas-fasilitas superior yang akan melengkapi Apartemen Taman Rasuna, Pasar Festival, Aston Rasuna Residence, Rasuna Office Park dan Gold’s Gym Elite Rasuna yang sudah beroperasi sebelumnya.

simak Maket Kawasan Superblock Rasuna Epicentrum



Hmm kenapa dipilih nama Epicentrum? Pusat (gempanya) keuntungannya ada di Jakarta, tapi pusat (ledakan) buntungnya berpusat di Sidoarjo?

Tentang proyek Superblock ini Tempo Interaktif menulis judul berita "Meraup Untung di Rasuna Epicentrum".

Tentunya megahnya, hijaunya (eco-friendly) dan manisnya proyek Bakrieland Development di kawasan segitiga emas bisnis Jakarta ini tentunya bertolak belakang dengan wajah bumi dan kehidupan korban yang meraup buntung karena tsunami Lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Dan bila kelak Rasuna Epicentrum menempatkan diri sebagai salah satu pusat kreativitas anak negeri dan industri kreatif, maka di Sidoarjo tanggal 18-20 Desember lalu diadakan hajatan festival "Solidaritas Perjuangan Anak Pinggiran: Mengais Dunia yang Hilang". Hajatan ini diikuti sekitar 750 peserta dari berbagi komunitas anak di Jawa Timur. Anak-anak se-Jawa Timur itu hendak menunjukkan solidaritas mereka bagi anak korban lumpur Lapindo.




Selain menampilkan anak-anak korban Lapindo, pagelaran ini dimeriahkan pula oleh aksi anak-anak pinggiran dari Malang, Lumajang, Jombang, Probolinggo, Surabaya, Mojokerto hingga Tulungagung. Mereka menampilkan teater, tari, musik, dan berbagai pameran karya anak korban Lapindo. Acara ini diadakan di Gelanggang Olah Raga Sidoarjo. Acara ini tidak diadakan di Gedung Konser Canggih seperti yang akan dibangun di Rasuna Epicentrum, tapi cukup di Gedung Gelanggang Olahraga Sidoarjo

------------------------------------------------


Demikianlah ironi itu diwartakan dengan medium gambar berikut ini ........












































































Aku seorang anak kecil yang masih belum cukup umur, untuk bisa merasakan pahitnya penderitaan. Namaku Iswatul, sekarang aku berusia 12 tahun. Aku ingin berbagi cerita tentang kepedihan yang aku rasakan kepada kalian semua para sahabatku yang setia pada suara FM.

Hal pertama yang akan aku ceritakan bahwa aku adalah anak yang periang dan ingin punya banyak teman. Aku juga mempunyai satu harapan yang ingin. Aku gapai untuk meniti masa depanku menjadi seorang yang berguna bagi nusa dan negara. Dan yang paling penting aku ingin membuat orang tuaku bahagia dengan melihat anaknya berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang guru.

Oleh karena itu aku selalu giat berlajar dan tidak mau mengecawakan kedua orang tuaku. Sampai pada saat itu, ketika umurku genap 9 tahun, terjadilah suatu musibah yang tidak pernah terlintas dibenakku. Entah aku masih belum mengerti apakah itu musibah atau mungkin ujian dari Tuhan yang diberikan untuk kami semua para penduduk di desa sirinig, porong dan sekitarnya.

Tapi, kenyataannya musibah itu disebabkan karena ulah manusia yang kurang bertanggung jawab pada pekerjaannya. Saat itu akumasih ingat betul, ketika semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas mulai menenggelamkan sedikit demi sedikit semua rumah – rumah penduduk yang ada disekitarnya. Bukan hanya rumah-rumah saja melainkan seluruh berbagai acam bangunan pabrik-pabrik, gedung sekolahan, tokoh-tokoh bahkan persawahan para penduduk juga ikut di telannya tanpa tersisa. Aku dan keluargaku adalah salah satu diantaran ribuan orang yang menjadi korban bencana itu, hanya bisa meratapi nasib yang sudah menjadi takdir kami.

Aku tetap harus bisa tersenyum di hadapan orang lain, walau dalam hati ini menangis. Apalagi kesedihan ini semakin bertambah di kala aku menyaksikan banyak orang-orang yang masih belum merelakan seluruh harta bendanya raib begitu saja. Mereka bahkan sampai menjadi sakit, ada juga yang menjadi gila, dan yang lebih parah lagi ada yang meninggal dunia akibat tidak kuat menghadapi kenyataan yang pahit ini.

……………..



Dan seiring dengan berjalannya waktu akupun bisa menjadi semakin lebih dewasa dalam menyikapi hidup ini. Aku tidak boleh terpuruk pada keadaan, aku harus tetap semangat dan giat belajar. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa membuat bangga kedua orang tuaku juga bangsa dan negara. Aku akan tetap berjuang untuk menggantungkan cita-citaku setinggi langit.

Aku harus bisa membahagiakan kedua orang tuaku, karena akulah yang menjadi harapan mereka satu-satunya saat ini. Aku juga berharap supaya para pemerintah mau mendengarkan jeritan-jeritan hati kami dan sungguh-sungguh menepati janjinya pada rakyat. Jalan hidupku masih panjang, dan akan aku jadikan sebagai harapanku masa depanku.

Dipetik dari cerpen karya ISWATUN VATIMAH , Juara 1 Lomba Cerpen Tk SD yang diadakan Radio Suara Porong FM dan Sahabat Komunitas Kita.

Untuk link kumpulan cerpen dan puisi silah kunjung

Suara Anak-anak Korban Lapindo di Tengah Dagang Sapi Kursi Kekuasaan



baca juga Ramai Di Century (Rp. 6,7 T), Sepi Di Lapindo (Rp. 33 T)

tentang foto-foto di publikasi ini, seluruh foto-foto kondisi di Sidoarjo di ambil dari Portal Korban Lapindo (foto-foto semburan, bangunan yang ditenggelamkan lumpur dari posting Time - Kehancuran & Times - Semburan Lumpur), sedangkan foto-foto aksi lumpur di depan kantor KPK dan diseberang Gedung Wisma Bakrie 2 serta bangunan di Jakarta oleh redaksi lentera.

Bookmark and Share