***
100 hari SBY-Budiono tidak berguna, Rakyat Indonesia Semakin Sengsara
SBY-Budiono Pemerintahan anti Rakyat
Hentikan Perampasan Upah, Tanah, Pendidikan dan Kerja
Salam Demokrasi,..
Tidak lama lagi Pemerintahan Rezim SBY-Budiono genap 100 hari. Dimana setelah memenangkan pemilu yang tidak berarti bagi rakyat, SBY-Budiono menetapkan program kerja 100 hari dengan menetapkan 15 program rencana unggulan prioritas nya selama 100 hari pemerintahannya.
15 program utama yang telah ditetapkan. Dari program-program tersebut prolem-problem pokok rakyat terkait dengan UPAH, TANAH dan PEKERJAAN sangat jelas belum mendapat tempat, Pemerintah mencoba menghibur dengan seolah-olah berikhtiar Meneggakkan hukum dengan memberatas mafia hukum dan korupsi. namun ilusi itu sama sekali tidak berarti samasekali bagi rakyat, karena terbukti rakyat menjawab dengan aksi protes tanpa henti terhadap pemerintahan SBY-Boediono.
Maka dalam momentum 100 hari pemerintahan Rezim SBY-Budiono ini, FPR telah menyusun satu pandangan, analisis atas pelaksanaan 15 program utama dalam100 hari pemerintahan SBY tersebut. Bahan/tulisan ini adalah hasil dari diskusi-diskusi dan pengupulan fakta dan data oleh Front Perjuangan Rakyat. Berikut adalah uraian pandangan dan sikap FPR atas 100 hari pemerintahan SBY-Budiono.
Perkembangan Situasi Internasional dan Krisis Umum Imperialisme
Kondisi ekonomi internasional yang terjadi saat ini tengah berada dalam situasi yang mematikan akibat kerusakan parah yang menimpa sistem kapitalis monopoli dunia. Produksi, perdagangan dan pembiayaan yang dikembangkan oleh sistem ini secara nyata telah memberikan daya rusak yang luar biasa, tidak hanya secara ekonomi akan tetapi juga bagi penghidupan seluruh umat manusia.
Produksi massal barang berteknologi tinggi demi mendapatkan keuntungan yang besar berakibat pada memusatnya kapital hanya disegelintir kapitalis besar monopoli di negeri imperialis. Produksi tidak terbatas inilah yang kemudian melahirkan adanya persaingan diantara kapitalis monopoli. Disisi lain, proses produksi massal ini akan menghadirkan ketimpangan yag tidak akan terpecahkan. Meskipun kaum imperialis mempunyai kesanggupan untuk memperluas pasarnya seluas mungkin dan juga memproduksi barang sebanyak mungkin, namun persaingan, ketimpangan dan krisis tidak akan dapat terhindarkan.
Produksi yang tidak terbatas tentu saja akan berakibat pada melimpahnya barang hasil produksi. Kondisi seperti ini berkebalikan dengan situasi rakyat diseluruh negeri yang sedang menghadapi sulitnya mendapatkan pekerjaan dan kemiskinan yang makin meluas. Angka pengangguran yang tinggi dan kemiskinan berakibat langsung pada rendahnya daya beli masyarakat. Kenyataan ini akan menghentikan secara paksa produksi massal yang dilakukan oleh kaum imperialisme.
Selengkapnya








0 komentar:
Poskan Komentar