Sejumlah cendekiawan dan pranata kesarjanaan dengan sadar masuk persekongkolan menyelewengkan ilmu pengetahuan demi tegaknya kekuasaan kolonial. JS Furnivall adalah salah satunya. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1938, terbit karyanya, Netherland India: A Study of Plural Economy. Sebuah opus magnum yang menggetarkan ihwal pentingnya keberlanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia bertirai asap retorika dan diagnosa tajam ihwal plural economy atau ekonomi majemuk.
Dipetik dari artikel JJ Rizal di Kompas Minggu, resensi buku Netherland India: A Study of Plural Economy karangan JS Furnival yang edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Freedom Institute)
Walau demikian JJ Rizal menegaskan bahwa salah jika menuduh Furnival antipati terhadap pribumi. Bahkan Furnival blak-blakan memaparkan eksploitasi kuasa kolonial dan kaum modal yang serakah. Ia juga secara khusus memaparkan pertumbuhan nasionalisme dan gerakan kebangsaan Indonesia.
Soalnya kemudian “Furnivall alergi kepada para nasionalis revolusioner. Simpati besarnya untuk para pribumi jinak, pribumi model Barat yang bertindak dan berpikir persis tuan-tuan putih. Adalah bodoh, menurut Furnivall, kalau pilih cara revolusioner meraih kemerdekaan. Nasionalisme, apalagi yang revolusioner, jangan dijadikan dasar negara. Baginya pilihan terbaik adalah nasionalisme statis yang tidak melihat, bahkan menolak perkembangan masyarakat dan sejarah.”
Furnival memang mengabdikan dirinya menjadi mesin kolonial untuk menanamkan garis “Politik Ethis Konservatif”. Yakni ”kebijakan yang diarahkan untuk meletakkan seluruh kepulauan Hindia di bawah kekuasaan Belanda dan untuk mengembangkan negeri dan bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di bawah asuhan Belanda.”
Lepas dari itu semua menurut JJ Rizal, sebagai buku induk ilmu kolonial karya Furnivall bukan tak berguna. Ia menyarankan membacanya dengan mencontoh cara Soekarno dalam Indonesia Menggugat membaca dan memakai karya para mahaguru ilmu kolonial. Comot data dan analisisnya seraya mengingatkan betapa: ”kolonialisme-imperialisme tidaklah mati… tetapi dipakai mengekalkan apa yang sudah dicapai dengan melalui jalan-jalan yang lebih sunyi, stillere wegen”.
Saya jadi teringat kritik tajam Revrisond Baswir terhadap praktek pendidikan di Indonesia. Ia menilai telah berlangsung dengan nyaman pelembagaan sistem ‘cuci otak’ yang bercorak neoliberal dan anti ekonomi kerakyatan pada hampir semua jenjang pendidikan di Indonesia.
Bahkan ia menilai dari materi ajar dan buku-buku yang disebarluaskan pada berbagai fakultas ekonomi di Indonesia, tanpa disadari, hampir seluruh fakultas ekonomi di Indonesia beralih fungsi menjadi pusat pengkaderan agen-agen kolonial di negeri ini. (Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Pustaka Pelajar 2009.)
Barangakali termasuk buku JS Furnivall ini yang bisa jadi akan menjadi salah satu buku favorit. Pertanyaannya tak adakah mahasiswa ekonomi sekarang yang membaca buku-buku ajar ini dengan mencontoh Soekarno? Ataukah mereka hanya akan membebek saja setelah cuciotak selama 4-5 tahun masa perkuliahan dan tanpa sadar berpikir dan bertindak “Kolonialisme-Liberalisme, Lanjutkan!”
==========================================
simak juga
Film Dokumenter Pendek Tentang Munir "Kiri Hijau Kanan Merah". Sutradara Dandhy Dwi Laksono dengan produser Produser Andhy Panca (WatchdoC)
WAN OJI SUDAH PINDAH RUMAH - Unduh E-Book Kumpulan Tulisan Mengenang Fauzi Abdullah (Wan Oji)
Tinjauan Buku Sejarah Bermutu : Kemunculan Komunisme Indonesia – Ruth T. McVey
==========================================
Timbangan buku oleh JJ Rizal selengkapnya
Jalan Sunyi Kolonialisme-Liberalisme
Kompas Minggu, 24 Januari 2010
JJ RIZAL
Keliru besar menganggap Belanda membangun negara imperialisme modern itu hanya dengan bedil dan meriam yang mengancam serta beratus ”binnenland bestuur” alias pegawai negeri kolonial yang hipokrit.
Sejumlah cendekiawan dan pranata kesarjanaan dengan sadar masuk persekongkolan menyelewengkan ilmu pengetahuan demi tegaknya kekuasaan kolonial. JS Furnivall adalah salah satunya. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1938, terbit karyanya, Netherland India: A Study of Plural Economy. Sebuah opus magnum yang menggetarkan ihwal pentingnya keberlanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia bertirai asap retorika dan diagnosa tajam ihwal plural economy atau ekonomi majemuk.
Tentu saja kalau kini, selang 70 tahun lebih, karya ideologis Furnivall itu diterjemahkan, maka cara pembacaan paling memikat adalah dengan memosisikannya dalam masalah kompleks hubungan ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Menelusuri teks Furnivall sebagai sejarah gagasan dari praktik politik kolonial. Mencermati sejauh mana wacana kolonial itu hidup dalam karya-karyanya. Lantas menempatkannya dalam suatu keluasan dan kebesaran jaringan cendekiawan yang kait-mengait menunjang bangunan hegemoni kolonial agar tetap lestari, mapan, dan hidup dari kurun sejarah ke kurun sejarah lainnya.
Lupa Soekarno, lupa Hatta
Salah jika menuduh Furnivall antipati terhadap pribumi. Blakblakan dipaparkannya eksploitasi kuasa kolonial dan kaum modal yang serakah. Bahkan secara khusus diriwayatkan pertumbuhan nasionalisme dan gerakan kebangsaan Indonesia. Tapi dalam pembahasannya tidak sekalipun disebut Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka.
Jangan bilang Furnivall alpa atau khilaf. Sebab ia menulis dalam masa yang sohor disebut periode perdebatan ideologis. Bukankah saat itulah pers pribumi dan Barat digemparkan oleh pengadilan Soekarno dan pidato pembelaannya tahun 1930? Ada berlimpah catatan ihwal sikap dan sepak terjang revolusioner Soekarno. Begitu juga berita-berita Hatta dan Sjahrir dengan PNI Baru, atau kelompok kiri beserta tokoh-tokohnya, seperti Tan Malaka, Alimin, dan Muso.
Semua itu lantaran Furnivall dalam berkarya telah menjadikan dirinya mesin kolonial untuk menginformasikan, memengaruhi, dan mengelabui persepsi agar sesuai garis ”Politik Ethis Konservatif”. Ini satu saja definisinya: ”kebijakan yang diarahkan untuk meletakkan seluruh kepulauan Hindia di bawah kekuasaan Belanda dan untuk mengembangkan negeri dan bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di bawah asuhan Belanda.”
Furnivall alergi kepada para nasionalis revolusioner. Simpati besarnya untuk para pribumi jinak, pribumi model Barat yang bertindak dan berpikir persis tuan-tuan putih. Adalah bodoh, menurut Furnivall, kalau pilih cara revolusioner meraih kemerdekaan. Nasionalisme, apalagi yang revolusioner, jangan dijadikan dasar negara. Baginya pilihan terbaik adalah nasionalisme statis yang tidak melihat, bahkan menolak perkembangan masyarakat dan sejarah.
Ilmu kolonial
Asal-usul nasionalisme statis Furnivall dapat dilacak ke abad ke-19, ketika pejabat-pejabat kolonial menikmati liburan panjang di Belanda untuk menulis disertasi dalam ilmu hukum, etnologi, dan bahasa. Saat itulah kepentingan administrasi kolonial merasuk dalam penelitian ilmiah. Pada dua dasawarsa terakhir abad ke-19, studi bergaya kolonial itu pun kian kokoh.
Salah satu yang memukau adalah disertasi JH Boeke, Tropisch Koloniale Staathuiskunde (1910) dengan teori dualisme. Di Hindia Belanda, kata Boeke, ada ekonomi Barat, seperti ekonomi perkebunan yang kapitalistik, mengakumulasi modal dan mengeruk keuntungan. Tetapi, ada pula ekonomi pribumi, terutama ekonomi pedesaan berprinsip gotong royong.
Pada tahun 1930-an, ketika Furnivall menulis Netherland India, tesis Boeke sohor sekali. Saat itu pemerintah kolonial menjadikan tesis Boeke acuan langkah yang diambil menghadapi krisis ekonomi tahun 1929 yang menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat. Merujuk pada Boeke, penguasa kolonial percaya masyarakat akan membagi beban sosial-ekonomi yang berat itu berdasarkan prinsip gotong royong, sama rata sama rasa.
Ide Boeke ihwal jalan keselamatan via penyatuan selamanya Hindia dan Belanda pada 1930 oleh de Kadt Angelino dibakukan dalam tiga jilid bukunya, Staatkundig Beleid en Bestuurszorg in Netherlands Indie. De Kadt Angelino mengajukan konsep rijkseenheid, penyatuan Hindia dan Belanda. Seperti de Kadt Angelino, Furnivall pun pengagum Boeke. Teori ekonomi majemuk yang dikampanyekannya jelas kloning idenya Boeke.
Dalam bab ”Ekonomi Majemuk” sebagai penutup bukunya, Furnivall bilang prinsip politik-ekonomi yang pas diterapkan pada masyarakat majemuk adalah mengintegrasikan masyarakat dan mengorganisasikan permintaan sosial yang berbeda itu dalam suatu negara tunggal.
Kalau pecah ketunggalan (Hindia dengan Belanda) terlemparlah masyarakat dan semua golongan yang majemuk itu ke dalam anarki. Lantas Furnivall menawarkan persis penawaran de Kadt Angelino. Ia menyebutnya ”solusi sistem federal Belanda”. Furnivall dan de Kadt Angelino hanyalah murid yang pandai membeo. Sebab itu, mereka segera mengorbit dalam jagat karya ilmu kolonial.
Peliharaan kekuasaan
Jangan kaget kalau Gubernur Jenderal ACD De Graeff (1926-1931) memerlukan diri menulis pengantar penuh puji untuk Furnivall dan bukunya. Bagaimana tidak? Furnivall dengan bukunya adalah bentuk dukungan sekaligus pengabsahan atas kebaikan dan perlunya keberlanjutan sistem kolonial.
Adalah benar de Graeff semula dikenal sebagai gubernur jenderal yang berusaha memahami aspirasi kaum pergerakan Indonesia. Tetapi tak selang lama, de Graeff segera menjadi potret dari rentetan kekuasaan gubernur jenderal konservatif, pengecam keras pergerakan nasional dan pendukung gerakan nasionalisme statis yang percaya bahwa hanya kekacauan saja adanya jika Hindia lepas dari Belanda.
Bukan di masa de Graeff saja terasa kuat ikatan batin Furnivall dengan ideologi kolonial dan kampanyenya ihwal pentingnya keberlanjutan sistem kolonial serta alerginya terhadap gerakan nasionalis. Semua itu masih dan lebih tergambar lagi dalam bukunya, Colonial Policy and Practice yang terbit pada 1947.
Dekolonisasi yang terjadi di hampir seluruh dunia pasca-Perang Dunia II tidak meruntuhkan kepercayaan Furnivall akan kebaikan sistem kolonial. Ia tetap saja bilang nasionalisme bakal menjadi kekuatan kreatif bagi tanah jajahan yang merdeka asalkan sedia menerima kembali penjajahnya untuk memberikan “latihan dan persiapan”. Secara sinis Furnivall mengumpamakan negara jajahan yang baru merdeka sebagai narapidana yang baru bebas dan perlu asuhan-perawatan.
Akhirnya, sebagai buku induk ilmu kolonial karya Furnivall bukan tak berguna. Marilah membacanya dengan mencontoh cara Soekarno dalam Indonesia Menggugat membaca dan memakai karya para mahaguru ilmu kolonial. Mencomot data dan analisisnya seraya mengingatkan betapa: ”kolonialisme-imperialisme tidaklah mati… tetapi dipakai mengekalkan apa yang sudah dicapai dengan melalui jalan-jalan yang lebih sunyi, stillere wegen”.
JJ RIZAL Peneliti Sejarah di Komunitas Bambu, Jakarta
sumber
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/24/02590410/jalan.sunyi.kolonialisme-liberalisme
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)








0 komentar:
Poskan Komentar