Baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)



hikayat jerami 1
antara sawah, pabrik dan jalanan
biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang
busung dada yang makin sungsang
mencekik
antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul
atau
hantu-hantu gelandangan kota
yang gentayangan
oleh karena asa yang tiada matinya
tanah, upah, kerja
Hikayat Jerami 2
hikayat bulan adalah hikayat bocah-bocah bahagia
tak hirau berlarian mengejar bayang
di pangkuan bunda bumi
tempat padi menguning dan panen berlimpah
bukan milik sendiri
tempat sawah mati musim bencana
sepi sendiri
hikayat jerami 3
hikayat bulan adalah hikayat mimpi
bulan bundar negeri bahagia
ada nyanyi sunyi pada jutaan kaum papa
di tanah yang mati
di air yang mati
negeri surga yang mencekik
Hikayat Jerami 4
Akan Tiba Panen Padi Pergerakan Rakyat
susi kamil
Padi itu belum menguning kawan,
tapi pasti menguning, pasti panen!
baru saja tangan-tangan kita menyemainya. .
memupuknya, melihat dia perlahan tumbuh dan menampakkan wujudnya..
Ya, mungkin padi kita tak tumbuh semulus padi tetangga
dia sangat lamban kawan..
hama nya banyak..
Namun tak berarti dia mati..
dia lagi berjuang untuk menunjukkan ruas demi ruas batangnya
helai demi helai daunnya, butir demi butir bijinya
dia lagi berjuang untuk mengusir hama laknat itu,
dia lagi berjuang untuk menghancurkannnya sampai hilang tak berbekas
Tangan kita kawan, tangan kita yang menanamnya..
Dikala banyak perut-perut yang menangis..
Dikala banyak perut-perut yang merindukan butira-butiran padi..
Karenanya engkau menggapai tanganku,
Menggapai tangan-tangan yang lain..
Untuk menanam padi di atas bumi kita..
Bumi yang penuh tagisan perut..
Akhirya, kita tidak bisa mengelak kawan..
Walau tangan kita di ikat, walau mata kita di tutup
Walau seribu hama datang meracuni padi kita..
Kita tetap menanamnya!
Dikala bumi dipenuhi oleh padi yang menguning..
Tidak ada tempat lagi buat hama laknat itu..
Dikala itu..
Kita akan panen kawan!








0 komentar:
Poskan Komentar