Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Sabtu, 30 Januari 2010

Kaum Tani Menuju Istana Buto

Kaum Tani Menuju Istana Buto : Suara Rakyat, Suara Tuhan.

Baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)













hikayat jerami 1

antara sawah, pabrik dan jalanan
biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang

busung dada yang makin sungsang
mencekik

antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul

atau
hantu-hantu gelandangan kota
yang gentayangan

oleh karena asa yang tiada matinya
tanah, upah, kerja








Hikayat Jerami 2

hikayat bulan adalah hikayat bocah-bocah bahagia
tak hirau berlarian mengejar bayang
di pangkuan bunda bumi
tempat padi menguning dan panen berlimpah
bukan milik sendiri
tempat sawah mati musim bencana
sepi sendiri






hikayat jerami 3

hikayat bulan adalah hikayat mimpi
bulan bundar negeri bahagia
ada nyanyi sunyi pada jutaan kaum papa
di tanah yang mati
di air yang mati
negeri surga yang mencekik











Hikayat Jerami 4

Akan Tiba Panen Padi Pergerakan Rakyat
susi kamil

Padi itu belum menguning kawan,
tapi pasti menguning, pasti panen!

baru saja tangan-tangan kita menyemainya. .
memupuknya, melihat dia perlahan tumbuh dan menampakkan wujudnya..

Ya, mungkin padi kita tak tumbuh semulus padi tetangga
dia sangat lamban kawan..
hama nya banyak..
Namun tak berarti dia mati..
dia lagi berjuang untuk menunjukkan ruas demi ruas batangnya
helai demi helai daunnya, butir demi butir bijinya
dia lagi berjuang untuk mengusir hama laknat itu,
dia lagi berjuang untuk menghancurkannnya sampai hilang tak berbekas

Tangan kita kawan, tangan kita yang menanamnya..
Dikala banyak perut-perut yang menangis..
Dikala banyak perut-perut yang merindukan butira-butiran padi..
Karenanya engkau menggapai tanganku,
Menggapai tangan-tangan yang lain..
Untuk menanam padi di atas bumi kita..
Bumi yang penuh tagisan perut..

Akhirya, kita tidak bisa mengelak kawan..
Walau tangan kita di ikat, walau mata kita di tutup
Walau seribu hama datang meracuni padi kita..
Kita tetap menanamnya!

Dikala bumi dipenuhi oleh padi yang menguning..
Tidak ada tempat lagi buat hama laknat itu..
Dikala itu..
Kita akan panen kawan!








Bookmark and Share

0 komentar: